Menjadi umat pilihan Allah bukan hanya sekedar diselamatkan, mendapatkan berkat, mujizat, kesembuhan saja, tetapi lebih dari itu yaitu mengampuni sesama. Dalam kehidupan kita berinteraksi dengan keluarga, suami, istri, anak-anak, mertua, ipar, dll, sehingga bisa terjadi miskomunikasi, salah mengerti, terucap kata-kata keras yang mungkin tidak disengaja tetapi menyakiti salah satu pihak. Hal ini bisa terjadi didunia kerja, lingkungan bahkan gereja, gesekan antara sesama terjadi karena kita mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Sebagai anak-anak Tuhan yang telah menerima pengampunan yang amat besar, Allah mengharapkan kita untuk saling mengampuni. Pengampunan bukan soal benar atau salah siapa, sebagaimana Tuhan Yesus selalu mengampuni kita, begitu juga kita harus mengampuni sesama. Jika kita tidak atau belum bisa mengampuni, tentu ada masalah pribadi yang harus kita selesaikan, agar kita mampu menjadi seorang pribadi yang utuh dan dapat melakukan firman Tuhan. Orang pendendam, kepahitan, pemarah, merugikan diri sendiri, ia menyimpan bibit penyakit dalam dirinya yang akan menjadi masalah besar.
Jangan meremehkan hal pengampunan karena jika kita tidak bisa mengampuni dengan tulus dan tuntas, kita tidak akan masuk kerajaan Allah.
Tuhan Yesus mengajarkan cara untuk mengampuni sampai tuntas tanpa ada sisa dendam dalam hati yaitu :
1. Mewarisi Kesabaran Allah
Matius 18 : 22
Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Yesus berkata kita harus mengampuni lebih dari tujuh kali bahkan sampai 490 kali, yaitu kita harus mengampuni tanpa batas, mengapa? karena kejahatan hanya bisa dikalahkan dengan kebaikan. Jangan terprovokasi/terpancing oleh kejahatan seseorang, yang membuat kita ingin selalu membalasnya sampai tuntas, agar dia kapok. Jika seseorang berbuat jahat terhadap kita sengaja ataupun tidak sengaja, ampuni dia. Seorang yang kuat adalah ia yang tetap berdiri walau selalu ada orang yang ingin menjatuhkannya. Apakah kita sanggup? Kita sanggup jika kita mewarisi kesabaran Allah dan melakukan teladan Kristus. Sakit hati sama seperti sakit fisik dan ada tingkatannya, sebab itu hendaklah kita hidup dengan bijaksana, jaga perilaku dan perkataan agar tidak menyakiti sesama. Mungkin kita merasa tersakiti oleh sesama saudara, mari kita mengampuni mereka agar kita hidup bebas, merdeka dan sehat karena tidak menyimpan sakit hati. Kita harus menjadi orang yang sabar seperti Tuhan Yesus.
2. Menunjukkan Kasih Tuhan Yesus
Matius 18 : 23-27
Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Kita harus mengampuni sama seperti Allah mengampuni kita tanpa syarat, ampuni saja dengan tulus seperti Tuhan mengampuni seluruh dosa kita yang besar itu. Mungkin mereka ingin minta maaf kepada kita tetapi malu, tidak berani, sebab itu Tuhan Yesus atas nama mereka, minta kita mengampuni mereka. Kalau Tuhan minta kita mengampuni mereka, masakan kita tidak mau mengampuni? Siapakah kita yang tidak mau mengampuni? Jika kita tetap tidak mau mengampuni, maka itulah kesombongan, kita sombong karena tidak memberi ampun. Dan Allah sendiri akan menjadi lawan kita! Sebab itu hiduplah dengan rendah hati, jika kita mengaku orang kristen yaitu pengikut Kristus, lakukan firman Tuhan sepenuhnya bukan hanya yang kita suka atau mau.
Daud menjadi target kebencian raja Saul yang memburunya tanpa henti, dendam Saul menyusahkan Daud tetapi Daud tidak pernah membenci Saul bahkan sampai raja mangkat, Daud tidak pernah membalasnya dengan kejahatan malah membalas kebaikan.
2 Samuel 9:3
Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” Lalu berkatalah Ziba kepada raja: “Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.”
Bagaimana mungkin kita bisa membalas kebaikan kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita? Kita sanggup dengan kasih yang dari Allah, kita tak bisa mengampuni dari diri kita sendiri. Kisah 10.000 talenta menyatakan besarnya akumulasi dosa yang sudah kita lakukan.
Sekalipun dosa tidak bisa dihitung dengan tepat, ada cara menghitung dosa, melalui cara pendekatan yaitu:
a.Tempo/usia. Semakin tua usia seseorang makin lihai melakukan dosa, anak-anak masih polos, lugu, tidak/belum pengaalaman. Makin tua seseorang makin banyak pelanggaran/dosa yang telah dilakukannya.
Kejadian 8:21
Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
b.Teks. Bukalah semua lembar Alkitab dan teliti satu persatu berapa banyak perintah/nasehat/ peringatan Allah yang pernah kita langgar dan hitunglah!
Mazmur 103: 8-10
TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.
Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,
c. Sepuluh Perintah Allah. Lihat dari 10 Perintah Allah/Hukum Taurat, berapa hukum yang telah kita langgar dan berapa kali?
Keluaran 20 :1-26
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”
Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.
Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.”
Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: “Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa.”
Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah menyaksikan, bahwa Aku berbicara dengan kamu dari langit.
Janganlah kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu.
Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.
Tetapi jika engkau membuat bagi-Ku mezbah dari batu, maka jangan engkau mendirikannya dari batu pahat, sebab apabila engkau mengerjakannya dengan beliung, maka engkau melanggar kekudusannya.
Juga jangan engkau naik tangga ke atas ke mezbah-Ku, supaya auratmu jangan kelihatan di atasnya.”
d. Tokoh. Kumpulkan teman-teman, keluarga dan kenalan, tanyakan kepada mereka apakah kita pernah menyakiti hati mereka?
Mari Nyatakan kasih Tuhan yang memberi pengampunan tanpa syarat. Ingatlah selalu kebaikan orang lain bukan kesalahannya.
3. Mengamalkan Keadilan Allah
Matius 18 : 26-30
Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Pada Matius 18:26, 29 tersebut terdapat permohonan yang sama, yaitu minta waktu untuk membayar hutang. Seharusnya ia yang telah dikabulkan permohonannya juga melakukan hal yang sama, namun ia melakukan kebalikannya sehingga menimbulkan murka raja. Begitu juga kita yang telah diampuni dosa harus mengampuni sesama. Bersikap adil adalah kewajiban anak-anak Tuhan, sama seperti Bapa, anak-anak salah orang tuapun bisa salah. Ketika ada sesuatu yang salah, tidak sesuai kebenaran firman Tuhan, koreksi diri sendiri jangan selalu menganggap diri benar atau membenarkan diri sendiri.
4. Mengantisipasi kemarahan Allah
Matius 18 : 31-35
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Kita semua telah mengetahui kebenaran mutlak Allah tidak bisa berkelit jika kita mengabaikan atau tidak melakukan perintah Tuhan.Betapa teganya kita yang sudah tahu kebenaran tetapi tak melakukannya dan tidak membagikan kebenaran kepada sesama?Kepada ahli Taurat dan orang Farisi, Tuhan Yesus menetapkan standar khusus sebab mereka tahu dan mengerti hukum Allah, begitu juga kita sudah tahu kebenaran maka lakukan dengan setia, sebab Allah akan mengadakan perhitungan dengan kita.
Yakobus 3:1
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.
Hal pengampunan adalah perintah Allah, jika kita tidak melakukan maka kita berurusan dengan Allah. Sebab itu hindari kemarahan Allah dengan melakukan perintahnya dengan kasih, taat, dan setia. Jika ada orang berbuat jahat kepada kita jangan membalas karena itu adalah hak Allah, jangan kita mengambil hak Allah.
Roma 12:19
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Sebagaimana kita telah diberikan pengampunan tanpa batas marilah kita mengampuni sesama tanpa batas, tulus dan tak bersyarat, lakukan dengan taat dan setia. Jangan pernah berpikir membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi balaslah kejahatan dengan kebaikan. Hendaklah kita menjadi sama seperti Bapa yang baik dan sempurna yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar.
Matius 5:45
Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.