animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Selasa, 22 Maret 2016

JANGAN JADI ORANG KIKIR!



4 Alasan Kenapa Kita Seharusnya Tidak Pelit



Hidup manusia seharusnya tidak dikuasai oleh uang. Tuhan memberikan kemampuan kepada kita untuk bekerja dan menghasilkan uang agar uang tersebut digunakan untuk menggenapi misi-Nya dan memuliakan Kerajaan Allah.

Bagaimana dengan membelanjakan uang? Apakah itu selalu berarti pemborosan dan sikap berfoya-foya? Tidak selalu—bergantung dari tujuan dan alasan yang mendasari pembelanjaan tersebut.

Alkitab memberikan beberapa ayat kunci sebelum kita mengupas 4 (empat) alasan mengapa kita tidak seharusnya pelit.

"Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan." –Ulangan 23:19

"Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah."-Amsal 28:8

"Demikian kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: … Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas…siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita… Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan… Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang… jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum… Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (potongan ayat dari Roma 12:6-21)

"Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semunya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu." -Imamat 23:22

"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." -2 Tesalonika 3:10

Dari beberapa ayat di atas kita dapat menarik kesimpulan:

Membelanjakan uang adalah cara membantu pengangguran

Kita sering mendengar bahwa pengangguran sebaiknya tidak diberi uang, tetapi diberikan lapangan pekerjaan atau kursus keahlian supaya kelak mereka bisa bekerja dan hidup mandiri. Mengapa demikian? Kita tentu tidak ingin uang kita dipakai begitu saja oleh orang yang malas. Bukan berarti semua pengangguran adalah orang yang malas, tetapi memberikan uang begitu saja kepada mereka berpotensi membahayakan ketimbang membantu. Sebaliknya, jika kita membelanjakan uang untuk membeli barang dan layanan, maka secara tidak langsung kita sedang memperkuat ekonomi dan menyediakan lapangan kerja bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berkarya.

Membelanjakan uang adalah cara membantu pemerintah

Bagaimanapun kecewa kita pada pemerintah, mereka adalah pihak yang telah menyediakan berbagai layanan untuk kaum miskin, pengangguran, pekerja, dan orang kaya. Seperti apapun pemerintahan kita, Alkitab memerintahkan agar kita "memberikan Kaisar apa yang menjadi haknya". Orang Kristen yang tidak membayar pajak telah menjadi warganegara yang tidak baik, dan itu menghambat kita untuk "hidup damai dengan semua orang".

Membelanjakan uang adalah cara mengungkapkan kasih kepada sesama

Dengan membeli produk atau layanan di area sekitar, kita sedang membantu orang-orang dan menunjukkan kasih kepada mereka. Tunjukkan bahwa Anda peduli dengan sesama Anda dengan menghargai produk atau jasa yang mereka tawarkan.

Membelanjakan uang akan membuat kantong Anda terisi uang

Apakah kita seringkali khawatir kalau-kalau mengeluarkan uang akan membuat kekurangan? Menurut prinsip Alkitabiah, hal itu tidaklah tepat. Tuhan ingin kita tidak pelit dan enggan berbagi dengan sesama hanya karena takut kekurangan. Karena "siapa yang memberi minum, dia sendiri akan diberi minum."



Tuhan tidak membiarkan anak-anak-Nya sengsara dalam kekurangan uang. Kecuali jika gaya hidup kita boros dan sekedar memenuhi keinginan—bukan kebutuhan, maka kita bisa dengan murah hati memberi dan membelanjakan uang kita, dengan tujuan yang bijaksana tentunya!


*********************************************************************************


Baca: Amsal 28

"Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui ia akan mengalami kekurangan." Amsal 28:22

Ada kisah tentang seorang yang kaya raya tapi selalu jadi perbincangan di antara tetangga kanan kiri. Bukan karena dia orang kaya yang murah hati atau suka menolong, sebaliknya ia dikenal sebagai orang kaya yang sangat kikir; tidak peduli terhadap orang lain, tidak pernah beramal atau bersedekah.

Kikir dan hemat itu berbeda. Kikir sama artinya dengan pelit. Sedangkan hemat memiliki sinonim: ekonomis atau irit. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah jadi pelit, karena terlalu hemat. Kata kikir berarti terlalu hemat memakai harta bendanya. Berhati-hatilah! Dalam Amsal 11:24 dikatakan: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Alkitab juga dengan tegas menyatakan bahwa orang yang kikir tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6:10). Bahkan Rasul Paulus secara terang-terangan melarang orang percaya untuk bergaul dengan orang yang kikir (baca 1 Korintus 5:11).

Kikir adalah sifat buruk yang tidak boleh dimiliki oleh orang Kristen, karena kikir justru akan membawa seseorang kepada kekurangan, bahkan kemiskinan. Tuhan menghendaki agar kita memiliki sifat murah hati. Orang yang murah hati, yang suka menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan atau kesusahan akan mengalami kelimpahan berkat dari Tuhan. Tertulis: "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan," (Amsal 11:25a). Kunci mengalami kelimpahan bukanlah dengan menghemat begitu rupa, tapi bermurah hati, sebab kapasitas untuk menerima dari Tuhan bergantung penuh dari kapasitas untuk memberi. Jadi kita baru dapat mengalami kelimpahan apabila kita bermurah hati. Orang yang murah hati akan menuai banyak (baca 2 Korintus 9:6), sebab tidak mungkin ada tuaian apabila tidak ada benih yang ditabur. Orang yang murah hati menabur banyak. Itulah sebabnya ia akan menuai banyak juga.

Jangan kikir! Jadilah seorang yang murah hati, karena "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri," Amsal 11:7a

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah?Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga. (1 Korintus 6:9-10)





*********************************************************************************


Jemaat dan keuangan



KURANG-PEMASUKAN ATAU SALAH-PENGELUARAN ? (Amsal 21:20; Filipi 4:11)

Kebanyakan orang (termasuk orang Kristen) “mengeluh” tidak punya uang, bahkan benar-benar sering kekurangan atau kehabisan uang. Ini kontras sekali dengan apa yang Rasul Paulus katakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”. Padahal sewaktu melayani Tuhan memberitakan Injil, Paulus tidak lebih kaya atau, lebih enak dari kita. Bahkan barangkali ia lebih menderita secara jasmani dari pada kebanyakan kita di sini sekarang (I Korintus 9:18; II Korintus 4:16,17; 6:4,5; 11:23-28).

Kalau begitu, apa artinya perkataan Paulus tadi? Artinya, pada umumnya persoalan kita dalam masalah keuangan bukan terletak pada kurangnya pemasukan uang, tetapi terletak pada kurang bijaksananya pengeluaran uang !

Bagaimana menggambarkan orang yang tidak bijak dalam memakai uang? Alkitab menggunakan istilah “pemboros” terhadap orang semacam ini. “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal (bodoh=foolish) memboroskannya” (Amsal 21:20).

Seorang pemboros sama dengan orang “bodoh” yang tidak menghargai berkat Tuhan dan menyia-nyiakan setiap rupiah yang diterimanya dengan jalan menghambur-hamburkan uangnya secara tidak sehat, tidak efisien, dan tidak efektif. Pemboros tidak usah bermimpi akan pernah memiliki uang cukup. Sebaliknya, pemboros akan menghadapi kenyataan sehari-hari bahwa ia selalu kekurangan & kehabisan uang!

Seorang pemboros tidak memikirkan bahwa (mungkin) masih ada hari esok yang masih membutuhkan biaya. Dalam konteks dengan pemakaian uang, konsepnya sangat dangkal dan penuh resiko karena ia selalu berpendapat bahwa, “Hidup ini hanya 24 jam, jadi apa yang ada di tangan pada hari ini ya nikmati saja”. Maksudnya nikmati di sini tidak lain ialah habiskan saja!

Orang semacam ini tidak “senang” kalau di tangannya masih menggenggam duit atau kalau di dompetnya masih terselip uang. Itu sebabnya ia selalu “gelisah” dan selalu “mencari jalan” bagaimana bisa menghabiskan semua uangnya secepat-cepatnya. Hari ini terima gaji, besok sudah ludes semua. Ia lupa bahwa kemungkinan sangat besar besok ia masih akan hidup, dan kalau masih hidup berarti pasti ia masih akan memerlukan uang untuk beli beras, beli minyak, bayar listrik, bayar air, bayar lain-lain; sedangkan uang belum tentu akan datang lagi! Hidup macam ini bukan hidup beriman. Allah menyebut hidup semacam ini sebagai bodoh (=foolish, NASB).

Kalau ada orang Kristen yang sewaktu hidup di dunia harus menderita karena Tuhan menghendaki, itu memang untuk kemuliaan Tuhan. Tetapi kalau ia menderita karena “kebodohan” nya, itu jelas tidak benar & tidak baik.

Charles Ryrie memberikan komentar pada ayat Amsal 21:20 sebagai berikut: “The foolish person squanders what he has, but the wise man plans and saves for the future”, artinya,

orang bodoh membuang-buang / memboroskan apa yang dimilikinya, tetapi orang bijak membuat rencana dan menabung / menyimpan untuk hari depan.

Ada sebuah formula sederhana yg sudah terbukti berhasil kalau benar-benar diterapkan dengan penuh disiplin untuk mengatur keuangan kita. Formula itu namanya “formula 10-20-70”. Pada prinsipnya, setiap kita menerima berkat dari Tuhan (gaji, bonus, keuntungan, hadiah, dsb.) maka yang 10% harus segera kita sisihkan untuk dikembalikan kepada Tuhan dalam bentuk perpuluhan. Perpuluhan ini bukan milik kita melainkan punya Tuhan, jadi harus diberikan kepada (pekerjaan) Tuhan. Selanjutnya, yang 20% harus ditabung (disimpan di bank, dsb.); ini untuk jaminan persediaan di masa depan atau kalau ada keperluan yang benar-benar penting di kemudian hari. Terakhir, sisa 70% barulah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk makan, listrik, air, biaya anak, dll. yang benar-benar kebutuhan (bukan keinginan belaka!). Bahkan, kalau dari yang 70% ini setelah dipakai untuk kebutuhan ini dan itu ternyata masih ada sisanya, maka berapapun sisanya ---sedikit atau banyak--- sebaiknya dimasukkan juga ke dalam tabungan kita, jangan malah dihabiskan !!!

Bila kita benar-benar disiplin mengatur keuangan kita dengan formula 10-20-70 ini, maka setelah beberapa tahun kita akan tercengang heran melihat berapa banyak uang yang ada di tabungan kita. Ingat, kebanyakan persoalan keuangan kita bukan karena kurang-pemasukan, tetapi karena salah-pengeluaran. Ibarat rumah, bukan karena kurang tiangnya, tetapi karena terlalu besar pasaknya; akibatnya kalau besar pasak dari pada tiang, ya rumahnya roboh !

Lain kali akan kami bahas bagaimana membedakan “kebutuhan” dari “keinginan”. Tidak bisa membedakan ---atau, tidak mau membedakan--- antara kebutuhan & keinginan inilah yang pada umumnya merupakan “biang-kerok” ambruknya keuangan kita. Formula di atas hanya akan jalan baik kalau diterapkan pada pemakaian uang untuk kebutuhan, bukan keinginan. Kami kira, di dunia ini tidak ada satu formula seajaib apapun yang akan dapat menyelamatkan uang saudara dari kebangkrutan kalau itu diterapkan untuk keinginan !!!

KATA-KATA BIJAK: “UANG ADALAH KEPERCAYAAN RAHASIA DARI TUHAN KEPADA KITA, DAN SETIAP HARI IA MENGUJI KITA DENGAN MELIHAT BAGAIMANA KITA MENGGUNAKANNYA.”

DOA: “Bapa di sorga, sungguh benar bahwa kami sangat perlu belajar bagaimana menata keuangan kami dengan baik, dan menggunakan dengan bijaksana setiap sen yang Bapa percayakan kepada kami. Tolonglah kami melakukan kehendakMu dalam hal ini supaya Engkau tetap dapat memberkati kami & memenuhi segala keperluan (kebutuhan) kami menurut kekayaan dan kemuliaanMu di dalam Kristus. Amen!”

KEBUTUHAN ATAU KEINGINAN ?
(Matius 6:25-34; I Yohanes 2:16,17; I Timotius 6:6-9)

Disadari atau tidak, cepat atau lambat setiap pengeluaran uang yang bersifat “pemborosan + besar pasak daripada tiang + banyak kebocoran + tidak dikelola dengan baik” akan menyebabkan defisit, kekurangan, kemiskinan, utang-utang tak terbayar, tak pernah punya duit, tak pernah punya tabungan, hidup morat-marit alias berantakan, dan penderitaan yang mengenaskan di masa tua seseorang.

Banyak orang secara jenius mengelola perusahaannya, rajin mengurus pekerjaannya, mampu menghasilkan banyak duit --- tetapi anehnya, setelah itu mereka sama sekali tidak becus mengelola uang yang diperolehnya dengan susah payah itu sehingga seumur hidupnya kantong & dompetnya hampir selalu kosong! Apalagi tabungan, tidak punya!

Hasil studi ahli-ahli ekonomi seperti Steven Venti dan David Wisesimak mengatakan, “Orang dengan sedikit tabungan (uang) di masa pensiun, apalagi tidak punya tabungan, hanya memiliki satu pilihan yakni hidup morat-marit alias berantakan!”

Banyak orang yang “lupa” bahwa bukan hanya pekerjaan, usaha, atau karir mereka saja yang perlu dikelola dengan baik, tetapi justru uang yang sudah berada di tangan mereka itulah yang paling memerlukan pengelolaan terbaik! Siapapun tidak terkecuali seseorang, sebuah keluarga, suatu lembaga atau badan, perusahaan kecil atau besar, suatu negara atau pemerintah sekalipun akan mengalami krisis besar atau bahkan ambruk apabila pengeluaran keuangannya tidak diurus dengan baik!

Kecenderungan umum ialah, semakin banyak uang yang diterima semakin banyak pula uang yang dikeluarkan. Semakin merasa “punya” uang, maka orang akan semakin bebas membelanjakannya tanpa mempertimbangkan apakah pengeluaran itu benar-benar untukkebutuhan , atau sebaliknya hanya untuk memuaskan hawa nafsukeinginan ! (Baca: I Yoh. 2:16-17).

Kebanyakan orang lebih banyak menghabiskan uangnya untuk berbagai keinginan-mata & keinginan-daging yang nota-bene tidak ada batasnya, bukan untuk kebutuhan. Padahal seharusnya kebutuhanlah yang mesti diutamakan, bukan keinginan. “Mismanagement” (salah urus & salah pakai) inilah penyebab terbesar bangkrutnya keuangan seseorang. Bangkrut di sini artinya: “uang tidak ada, tabungan tidak punya, harta habis, semuanya habis, bahkan terlilit utang sini-sana.”

Kalau kita tidak ingin bangkrut gara-gara salah memakai uang kita, maka mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, kita harus bisa membedakan manakah keinginan dan manakah kebutuhan, dan menggunakan (bukan menghabiskan) uang kita terutama untuk kebutuhan!

Mengapa demikian?
Karena Alkitab mengajarkan bahwa, pada dasarnya Tuhan (yang maha bijaksana) tidak berjanji untuk memenuhi segala keinginan kita , melainkan Ia cuma berjanji untuk memenuhi segala keperluan kita. Baca Filipi 4:19 (keperluanmu); Matius 6:33 (sandang-pangan); Matius 6:11 (makanan kami); Matius 7:11 (roti-ikan); --- dll.

Jadi, kalau kemudian saudara bangkrut karena uang saudara habis untuk memuaskan keinginan saudara, bukan untuk kebutuhan utama saudara, maka saudara tidak dapat menyalahkan Tuhan atau orang lain karena hal itu jelas-jelas kesalahan saudara sendiri!

Saat kita mempunyai uang, saat itulah kebijaksanaan diperlukan untuk mengelolanya, supaya uang itu tidak habis begitu saja, supaya uang itu bisa berguna untuk kebutuhan, dan supaya masih ada sisa untuk disimpan (ditabung) bagi masa tua kita. Dengan kata lain, apabila Tuhan memberikan kepada saudara sejumlah uang, maka saudara wajib mengelola keuangan itu sendiri dengan benar !

Sedari tadi masalah “tabungan” atau “simpanan uang” sering disebut-sebut. Mengapa?

Pertama, walaupun mungkin tidak ditulis secara gamblang tetapi Alkitab memberi kesan bahwa tabungan (dalam hal ini: “berhemat”) merupakan salah satu kebutuhan penting bagi kita. Kebutuhan jasmani manusia di bumi ini bukan hanya sandang-pangan, tetapi juga kebutuhan menabung (menyimpan) uang.

Kedua, menabung melatih kita untuk berdisiplin dalam penggunaan uang. Untuk bisa menabung kita harus berhemat, dan berhemat berarti menggunakan uang secara bijaksana. Serta uang yang ditabung itu (seyogyanya) jangan sembarang dipakai. Uang yang ditabung ya untuk ditabung, bukan untuk membeli ini itu atau lainnya, lebih-lebih bukan untuk berfoya-foya!

Ketiga, orang yang menabung berarti memelihara masa tuanya. Bayangkan ketika saudara sudah berusia 70 atau 80 tahun, sudah tua dan tidak kuat lagi bekerja, sedangkan pasti saudara masih membutuhkan uang untuk makan, kalau sakit, dll. Dari mana saudara akan memperoleh uang yang diperlukan untuk semua itu, kalau bukan dari tabungan saudara sendiri? Oh ya, jangan berharap pada perkara-perkara yang tidak pasti seperti, mengharapkan pertolongan orang lain atau bantuan dari anak-anak saudara. Karena mereka itu juga belum tentu dapat membantu. Di dunia ini tidak ada hal-hal seperti itu yang pasti!

Keempat, kita sangat perlu menabung karena belum tentu besok uang akan datang lagi. Jangan sekali-kali berpikir bahwa besok uang akan datang lagi ! Kalau ternyata besok uang masih datang lagi, yah bersyukur kepada Tuhan. Tetapi kalau tidak? Apapun bisa terjadi, bukan? Jadi, menabung itu sangat sangat penting untuk berjaga-jaga supaya kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi (krisis, dan sebagainya), jangan sampai kita pada waktu itu tidak mempunyai apa-apa lagi!

Kelima, jangan lupa pribahasa lama yang mengatakan bahwa “hemat pangkal kaya” dan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Pernahkah saudara menghitung, berapa uang saudara sekarang seandainya sejak masih di Sekolah Dasar sampai saat ini saudara menabung / menyimpan sebagian uang saku saudara dan bukannya hanya menghabiskan semuanya untuk keinginan membeli es lilin atau mainan saja?

Saya coba-coba mengkalkulasi berapa uang saya sekarang seandainya sejak 50 tahun terakhir ini saya menyimpan uang Rp 10.000,- saja setiap bulan di bank dengan bunga rata-rata 1% per bulan. Hasilnya membuat mata saya terbelalak! Tidak kurang dari Rp 390.583.397,- (Tiga ratus sembilan puluh juta, lima ratus delapan puluh tiga ribu, tiga ratus sembilan puluh tujuh rupiah) seharusnya ada di kantong saya sekarang. Suatu jumlah yang lumayan besar sekali untuk menjamin masa tua saya terutama mengingat bahwa sangat banyak orang pada usia tuanya tidak memiliki uang sedikitpun, atau paling banter “hartanya” tinggal sebuah meja reyot & beberapa kursi lapuk yang dijualpun tidak laku!

KATA-KATA BIJAK : “SAAT KITA MEMEGANG UANG, SAAT ITULAH KEBIJAKSANAAN DIPERLUKAN & SAAT KITA MEMEGANG UANG BANYAK, SAAT ITULAH KEBIJAKSANAAN LEBIH-LEBIH DIPERLUKAN”.

DOA : “Bapa, terima kasih untuk setiap rupiah yang Engkau percayakan kepadaku. Berilah juga aku hikmat untuk mengerti kebutuhan-kebutuhanku yang sebenarnya, dan kemampuan untuk menolak keinginan yang sia-sia; supaya uang yang Engkau taruh ditanganku ini tercapai tujuannya dan Kristus boleh dipermuliakan!” 

MURAH HATI ATAU BOROS? (Lukas 15:11-16).

Salah satu tanggung jawab orang Kristen kepada Kristus ialah bagaimana ia mengelola uangnya. Ingat, setiap sen yang ada di kocek kita adalah pemberian Allah yang perlu dipertanggungjawabkan! 

Contoh di bawah ini adalah pengalaman seorang mahasiswa teologia. Ia dikenal oleh teman-temannya sebagai mahasiswa yang suka mentraktir teman-temannya makan, membelikan buku-buku, peralatan kuliah, bahkan barang-barang yang tidak langsung berguna untuk kuliah teman-temannya seperti perhiasan & benda antik. Tentu saja semua itu sangat menyenangkan hati teman-temannya dan ia langsung mendapat gelar "si murah hati" dan "si baik hati". Sebenarnya, tepatkah gelar ini?

Teruslah membaca. Suatu hari si mahasiswa "murah hati" itu wajahnya muram dan tidak lagi memberi apa-apa kepada teman-temannya. Ternyata ia tidak lagi memiliki uang sesenpun karena kedua orang tuanya tidak bisa lagi mengirimkan uang kepadanya.

Saudaranya menceritakan bahwa ia ini sering meminta uang dalam jumlah lebih besar kepada orangtuanya dengan alasan untuk menutup kebutuhan kuliah dan makannya. Orangtuanyapun sering menggadaikan barang-barang rumah tangganya untuk menutupi "biaya" anak yang dicintainya itu. Sampai suatu hari, semuanya habis!

Jadi, si mahasiswa itu di kampusnya dan di antara teman-temannya terkenal sebagai orang yang "baik sekali" dan "murah hati". Tetapi di rumah ia sebetulnya tidak lain, tidak bukan, dan tidak lebih dari seorang "pemboros" belaka!!!

Di dalam Alkitab (PL & PB) yang dimaksudkan dengan PEMBOROSAN ialah menghabiskan sesuatu (harta, barang, uang, waktu, energi, kesempatan, dsb.) secara tidak berguna atau sia-sia. Pengertian berguna di sini artinya, mengandung manfaat positif yang besar.

Anak bungsu dalam pembacaan nas Lukas 15 di atas menghabiskan hartanya dengan tidak menghasilkan apa-apa yang bermanfaat. Akibatnya hidupnya sendiri jadi terlunta-lunta dan memalukan baik dirinya sendiri maupun orangtuanya. Inilah yang disebut dengan "pemborosan". Buahnya pasti sesuatu yang buruk, aib, pahit, tidak mengandung kepujian, dan tidak memuliakan siapapun juga termasuk Allah! (Lukas 15:13b,14,15,16).

Tetapi MURAH HATI itu lain lagi, berbeda dari pemborosan. Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Kor. 8:12, "Jika kamu memberi, maka pemberianmu itu akan diterima kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu."

Mahasiswa di atas itu adalah contoh pemborosan, bukan murah hati. Ia memberi dari apa yang sebenarnya ia sendiri masih memerlukannya untuk hal-hal positif, tetapi kenyataannya ia menghambur-hamburkan semuanya untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu! Apapun motivasinya, baik atau buruk, pemborosan adalah tindakan bodoh yang keliru yang tidak disetujui & tidak diberkati oleh Allah!

Jika Anda termasuk kategori orang yang “suka memberi”, pikirkanlah dua peringatan ini:

Pertama, apakah pemberian Anda memang berdasarkan apa yang Anda punya, bukan memberi dari hasil meminta atau meminjam dari orang lain. Itupun kalau Anda tahu betul bahwa pemberian Anda tidak akan membuat Anda sendiri jadi morat-marit nantinya, dan kalau Anda yakin bahwa pemberian Anda benar-benar dibutuhkan oleh orang lain secara positif.

Jadi, kalau Anda mengambil keputusan untuk “memberi”, maka Anda sendiri harus juga siap dengan segala resikonya (misal: terpaksa mengorbankan kebutuhan Anda sendiri), termasuk resiko kehabisan uang. Jangan sampai terjadi karena gara-gara Anda “ingin memberi” pada orang tanpa dipikir panjang, lalu akibatnya Anda sendiri jadi meminta-minta uang pada orang lain. Ini ‘kan sama saja artinya dengan, karena ulah perbuatan Anda sendiri yang namanya “memberi” itu tadi, lalu orang lain yang kemudian “diminta” bertanggung-jawab atas perbuatan Anda. Tidak seorang lainpun wajib bertanggung-jawab atas ulah seseorang, melainkan siapa yang berbuat dialah yang harus bertanggung-jawab sendiri !!!

Kedua, pemberian Anda harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak, bahwa pemberian itu didasarkan pada motivasi yang benar, berguna secara positif, menjadi berkat (bukan malah jadi kutuk) baik bagi Anda sendiri maupun bagi pihak yang diberi, dan menjadi kemuliaan bagi Nama Tuhan (tidak malah membuat malu Nama Kristus).

KATA-KATA BIJAK: "MURAH HATI AKAN DIBERKATI, TETAPI BOROS MEMBUAT MATI"

DOA: "Tuhan Yesus, terima kasih untuk setiap rupiah yang Tuhan percayakan kepadaku. Berikan aku hikmat supaya aku tahu menggunakannya dengan benar & berkenan di hatiMu, tetapi bukan memboroskannya. Amen."

HEMAT ATAU KIKIR?

Alkitab berkata, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya. Ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum" (Amsal 11:24-26).

Allah sering memberkati anak-anakNya dengan kekayaan kemurahanNya, dengan maksud antara lain supaya mereka menjadi orang-orang yang suka menolong – tetapi bukan boros. Supaya mereka tetap hemat – tetapi bukan kikir.

Ayat-ayat dalam Amsal 11:24-26 ini harus dibaca semuanya bersama-sama (jangan dipisahkan) agar kita tidak salah mengerti maksudnya. Kalau kita hanya memperhatikan ayat 24 saja, maka kita bisa salah paham dan mendukung pemborosan – dan ini jelas keliru!
Meskipun Allah kita kaya raya, jangan berpikir bahwa ia merestui yang namanya “pemborosan”, yah pemborosan apa saja. Alkitab menunjukkan bahwa jelas Allah sendiri bukan pemboros. Allah menyuruh orang-orang Israel mengambil ‘manna’ secukupnya, bukan berlebihan. Yesus menyuruh murid-muridNya mengumpulkan roti dan ikan yang tersisa setelah memberi makan ribuan orang. Rasul Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Efesus untuk menggunakan waktu dengan efisien.

Amsal 11:24 harus dipahami dengan memperhatikan juga ayat-ayat 25 & 26.
Yang dimaksud dengan “menyebar harta” (24a) bukan berarti secara emosional tanpa tujuan dan tanpa perencanaan yang dapat dipertanggung jawabkan kita menghambur-hamburkan uang begitu saja.
Tetapi di sini maksudnya ialah berbaik hati & murah hati karena ini dijelaskan dalam ayat 25 & 26b sebagai orang yang “memberi berkat” dan “memberi minum” dan bahkan sebagai orang yang “menjual gandum”. Jadi, tujuannya mulia, motifnya benar, kegunaannya jelas, dan disertai pemikiran dan perencanaan yang matang.

Sebaliknya yang dimaksud dengan ayat 24b, “menghemat secara luar biasa” bukan berarti benar-benar menghemat, melainkan menunjuk pada orang yang kikir & pelit. Orang semacam ini menyimpan harta hanya untuk diri sendiri saja, sama sekali tidak bersedia menolong orang lain walaupun dibutuhkan. Ayat 26a menggambarkan sebagai orang yang “menahan gandum”.

Lalu, di mana bedanya antara hemat dan kikir ?

Hemat ialah kesanggupan mengelola harta (terutama uang & waktu) yang Tuhan percayakan, secara benar untuk hal-hal yang berguna & sesuai kebutuhan. Hemat tidak mau mengeluarkan uang kalau tidak benar-benar dibutuhkan & bukan untuk hal yang berguna. Tetapi hemat bersedia mengeluarkan uang apabila jelas-jelas itu dibutuhkan dan berguna.

Untuk tahu yang mana dibutuhkan & berguna, dan yang mana sebenarnya tidak dibutuhkan & kurang berguna, kita perlu banyak berdoa dan mohon pimpinan Tuhan sebelum menggunakan uang kita. Jadi dalam hal ini, orang yang hemat adalah justru orang yang banyak mengijinkan Tuhan “ikut campur” dalam urusan dompet mereka!

Sebaliknya kikir adalah sikap mementingkan diri sendiri (egois) dalam bentuk menumpuk harta dan uang bagi diri sendiri saja. Salah satu penyebab kekikiran ialah ketamakan (serakah).
Yesus menyebut mereka ini “orang bodoh” (Lukas 12:20). Orang kikir pada umumnya tidak pernah memperhatikan kepentingan & kebutuhan orang lain sama sekali. Bahkan ada orang yang saking begitu cintanya kepada uang dan harta, sehingga ia menjadi begitu kikir tidak hanya kepada orang lain tetapi bahkan kepada dirinya sendiri juga!
Jadi kikir ialah, tidak bersedia mengeluarkan uang walaupun hal itu benar-benar dibutuhkan.

KATA-KATA BIJAK: “NASIB ORANG KIKIR AKAN BERAKHIR SEPERTI LAUT MATI, TETAPI KEHIDUPAN ORANG HEMAT MENJADI BERKAT “

DOA: “Tuhan Yesus, berikan kepadaku hati yang tidak mencintai uang & harta duniawi ini, melainkan yang mengasihi Dikau dan sesama manusia. Namun pada saat yang sama ya Tuhan, berilah kepadaku kesanggupan yang penuh hikmat untuk mengelola setiap rupiah yang Tuhan percayakan kepadaku, bagi kemuliaan NamaMu!”




*********************************************************************************


JANGAN JADI ORANG KIKIR!


Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 September 2011 -

Baca: Amsal 28

"Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui ia akan mengalami kekurangan." Amsal 28:22

Ada kisah tentang seorang yang kaya raya tapi selalu jadi perbincangan di antara tetangga kanan kiri. Bukan karena dia orang kaya yang murah hati atau suka menolong, sebaliknya ia dikenal sebagai orang kaya yang sangat kikir; tidak peduli terhadap orang lain, tidak pernah beramal atau bersedekah.

Kikir dan hemat itu berbeda. Kikir sama artinya dengan pelit. Sedangkan hemat memiliki sinonim: ekonomis atau irit. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah jadi pelit, karena terlalu hemat. Kata kikir berarti terlalu hemat memakai harta bendanya. Berhati-hatilah! Dalam Amsal 11:24 dikatakan: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Alkitab juga dengan tegas menyatakan bahwa orang yang kikir tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6:10). Bahkan Rasul Paulus secara terang-terangan melarang orang percaya untuk bergaul dengan orang yang kikir (baca 1 Korintus 5:11).

Kikir adalah sifat buruk yang tidak boleh dimiliki oleh orang Kristen, karena kikir justru akan membawa seseorang kepada kekurangan, bahkan kemiskinan. Tuhan menghendaki agar kita memiliki sifat murah hati. Orang yang murah hati, yang suka menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan atau kesusahan akan mengalami kelimpahan berkat dari Tuhan. Tertulis: "Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan," (Amsal 11:25a). Kunci mengalami kelimpahan bukanlah dengan menghemat begitu rupa, tapi bermurah hati, sebab kapasitas untuk menerima dari Tuhan bergantung penuh dari kapasitas untuk memberi. Jadi kita baru dapat mengalami kelimpahan apabila kita bermurah hati. Orang yang murah hati akan menuai banyak (baca 2 Korintus 9:6), sebab tidak mungkin ada tuaian apabila tidak ada benih yang ditabur. Orang yang murah hati menabur banyak. Itulah sebabnya ia akan menuai banyak juga.

Jangan kikir! Jadilah seorang yang murah hati, karena "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri," Amsal 11:7a


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?