Apakah yang menjadi tujuan utama dari memelihara dan membesarkan anak?
Apakah hal ini hanya semena-mena untuk membuat anak menjadi mandiri dan pribadi yang dewasa dan berkompeten, atau adakah hal lain yang lebih daripada hal ini?
Teruskanlah membaca maka anda akan mendapatkan jawaban yang menakjubkan!
Bab I Di Dalam Gambar Dan Rupa Allah
Kehidupan manusia telah berlangsung selama beribu-ribu tahun. Dan selama itu pulalah anak-anak manusia telah lahir, tumbuh, dan kemudian menurunkan anak-anak mereka sendiri. Satu generasi pergi dan digantikan oleh generasi yang lain. Bagaimanapun juga hanya beberapa orang saja yang memahami jawaban atas pertanyaan yang sudah sangat lama ini: yaitu "apakah tujuan dari lingkaran kehidupan manusia ini?" Bagi mereka yang setuju dengan sistem kepercayaan yang salah yang biasa dikenal dengan nama "evolusi", mereka biasanya hanya akan menyimpulkan bahwa lingkaran kehidupan manusia ini hanya bertujuan untuk mereproduksi saja. Dan oleh karenanya kehidupan ini sesungguhnya tidak memiliki arti. Mereka percaya bahwa kehidupan ini hanya begitu saja adanya.
Dan bagi kita yang telah membuktikan kepada diri kita sendiri tentang keberadaan Allah sang Pencipta maka adalah hal yang logis/masuk akal jika kita menyatakan bahwa Allah menciptakan kita bagi suatu tujuan. Firman Allah dengan jelas menyatakan tujuan yang hebat tersebut: "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Manusia diciptakan di dalam gambar dan rupa Allah (Efesus 4:14-15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Oleh karenanya jika kita berkeinginan untuk dididik/dilatih oleh Keluarga Allah (yaitu oleh Allah Bapa dan AnakNya Yesus Kristus) dan membuka diri untuk mengembangkan karakter dan pikiran Allah sendiri di dalam diri kita maka kita akan dapat benar-benar dilahirkan ke dalam Keluarga Allah ketika Yesus Kristus yang tidak lain adalah "yang sulung di antara banyak saudara" (Roma 8:29 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI) datang kembali ke bumi ini.
Sementara itu, "Semua orang, yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu......bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14, 16 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Betapa sungguh baiknya kesempatan ini! Jika kita berkeinginan untuk dipimpin dan dilatih oleh orang tua rohani kita (dalam hal ini adalah Allah Bapa) dan "saudara tersulung kita" (dalam hal ini adalah Yesus Kristus), maka kita pada akhirnya akan dapat memenuhi tujuan yang dinyatakan oleh Allah kepada kita: yaitu untuk diciptakan secara penuh di dalam gambar dan rupaNya. Keinginan Allah adalah untuk membesarkan anak-anak ilahi di dalam gambar dan rupaNya, yang mana mereka pada akhirnya akan memerintah di bawah pemerintahanNya sebagai raja dan imam bersama dengan Yesus Kristus di bumi ini: "Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi." (Wahyu 5:10 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Bagi para orang tua Kristen, tujuan utama yang mereka miliki adalah untuk meletakkan suatu pondasi pada saat anak-anak berada di dalam periode dimana mereka masih tidak sulit untuk mereka atur dan kendalikan, sehingga mereka akan selalu berkeinginan untuk mencari Allah sebagai Bapa mereka dengan bersungguh-sungguh. Itulah sebenarnya tujuan dari para orang tua meskipun haruslah diketahui bahwa mereka pada kenyataannya tidak dapat memaksa anak-anak mereka untuk membuat suatu keputusan yang benar. Hendaklah kita mengingat bahwa Allah Bapa kita bahkan tidak memaksa kita untuk membuat keputusan yang benar. Allah Bapa memang akan memimpin dan mengarahkan kita, tetapi Ia tidak akan memaksa kita. Tujuan dari membesarkan dan memelihara anak berdasarkan jalan Allah adalah untuk membantu anak-anak kita memiliki keinginan untuk berjalan di dalam langkah orang tuanya yang memang hidup di dalam jalan Allah dan yang berjalan di dalam jejak langkah Bapa rohani mereka. Sebagai orang tua kita butuh untuk mengembangkan keinginan anak-anak kita sehingga mereka ingin mengikuti Allah, dan tidak hanya untuk menekankan keinginan kita agar mereka mengikut Allah.
Istri dan saya sangatlah diberkati dengan memiliki orang tua yang sangat konsisten di dalam hal pemeliharaan anak. Bagaimanapun juga, tidak semua dari kita memiliki kesempatan untuk mendapatkan pola pendidikan yang konsisten di dalam cara orang tua kita membesarkan dan memelihara kita. Namun demikian pada kenyataannya kita semua mengalami pola pemeliharaan/pendidikan anak yang benar-benar konsisten dari Bapa sorgawi. Kita dapat melihat dengan jelas dari firman Allah bahwa sang Pencipta alam semesta melaksanakan suatu prinsip "berkat atas kepatuhan dan koreksi atas ketidakpatuhan". Jika kita mengikuti prinsip ini dengan sangat konsisten di dalam membesarkan dan memelihara anak, kita sesungguhnya meletakkan suatu pondasi masa depan bagi keluarga Allah di masa mendatang.
Ya, teladan pribadi kita adalah memang suatu hal yang sangat penting! Anak-anak harus melihat Allah yang nyata melalui orang tua mereka. Pemikiran/pemahaman anak-anak kecil akan Allah sangatlah bergantung kepada dan bertumbuh dari teladan orang tua mereka. Kita tidak dapat berharap untuk membesarkan anak-anak secara ilahi jika kita sebagai orang tua tidak benar-benar memberikan teladan rohani yang baik. Jika anak-anak melihat sikap yang tidak bertoleransi, munafik, egois dan penuh amarah yang sering meletup di dalam hidup orang tua mereka, maka mereka pasti tidak akan tertarik dengan prinsip hidup orang tua mereka, termasuk kepada kepercayaan mereka. Malahan orang tua yang bertingkah laku seperti itu justru akan memberikan kesan yang negatif tentang Allah di dalam kehidupan setelahnya.
Orang tua butuh untuk membuktikan secara penuh di dalam pengalaman hidup mereka bahwa jalan hidup Allah memiliki nilai yang tinggi dan benar-benar dapat membuat mereka berbahagia! Jika kita belum memperlihatkan kepada anak-anak kita bahwa prinsip-prinsip Allah berdampak baik bagi kehidupan kita, bagaiamanakah kita akan memastikan kepada mereka bahwa hukum-hukum Allah adalah baik dan bahwa prinsip-prinsip ilahi yang kita ajarkan adalah baik bagi mereka?
Bagaimanapun juga kita harus memahami bahwa memberikan teladan yang baik di dalam hidup keseharian adalah hanya sebagian dari hal-hal penting yang harus kita perhatikan dan lakukan. Bahkan jika kita dapat menjadi "orang tua yang sempurna", kesempurnaan kita tidak akan dapat menjanjikan hasil yang sempurna. Walaupun Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Adam adalah "anak Allah" (Lukas 3:38 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI), Allah ternyata tidak memaksa Adam dan Hawa untuk membuat keputusan yang benar. Ketahuilah bahwa Allah mengajarkan Adam dan Hawa untuk hidup di dalam jalan hidupNya (dan selanjutnya mereka harus memilih). Namun demikian Allah sebagai Orang Tua yang sempurna tersebut memiliki anak-anak yang pada kenyataannya memilih untuk menolak teladan dan ajaranNya. Selanjutnya, anak Allah (yaitu Adam) membesarkan seorang anak laki-laki (bernama Kain) yang kemudian menjadi seorang pembunuh.
Oleh karenanya apakah kita sesungguhnya memiliki suatu harapan untuk membesarkan anak-anak yang nantinya akan benar-benar memberikan hidup mereka kepada Allah? Ketahuilah bahwa kita hidup di dalam suatu dunia yang berada di dalam pengaruh "ilah zaman ini" (2 Korintus 4:4), "penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka." (Efesus 2:2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Media hiburan dipenuhi dengan berbagai macam pengaruh yang tidak baik yang banyak kali mempromosikan jalan hidup Setan. Sistem pendidikan dunia ini juga telah diracuni oleh teori evolusi setan dan nilai-nilai moral yang secara terus menerus merosot.
Salah satu kunci penting di dalam membesarkan anak adalah bahwa kita harus secara aktif menunjukkan kepada anak-anak kita bahwa jalan-jalan Allah dapat dijalankan dan dapat membuat hidup kita sukses! Dengan teladan yang kita alami di dalam kehidupan kita, kita harus dapat menunjukkan kepada anak-anak kita bahwa prinsip-prinsip Allah akan membawa kebahagiaan kepada kehidupan mereka jauh di atas apa yang dapat ditawarkan oleh sistem Setan. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 2:22-23 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika anda bertanya kepada orang di jalan apakah mereka berkeinginan untuk memiliki hidup yang penuh dengan kasih, kegembiraan, dan kedamaian, maka secara umum mereka akan mengatakan: "tentu saja." Bagaimanapun juga yang menjadi persoalan adalah bahwa kebanyakan orang pada saat ini tidak mengenal prinsip-prinsip Allah yang pada kenyataannya dapat menghasilkan kehidupan yang stabil dan menyenangkan. Hal ini terjadi oleh karena dunia pada saat ini tidak dipanggil kepada dunia kekristenan yang benar; dan sebaliknya justru lebih dekat kepada "kekristenan" yang palsu. Kita sebagai orang tua harus dapat menunjukkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak kita; yaitu tidak hanya di dalam kebenaran (doktrin) yang kita ajarkan, namun juga kebenaran yang kita jalani. Jika anak-anak memiliki seorang orang tua yang dapat memberikan kasih yang tak terbatas, yang memiliki batas peraturan yang jelas yang secara konsisten diterapkan dan dengan jelas menunjukkan buah-buah dari Roh Allah, maka tidak akanlah menjadi sulit bagi mereka untuk mengembangkan rasa hormat dan patuh kepada Allah ketika mereka tumbuh nantinya.
Banyak orang yang menerima kebohongan setan menyatakan bahwa jalan hidup Allah adalah "hal yang tidak berguna". Mereka berpikir bahwa Allah melarang kita dari setiap kesenangan yang pada akhirnya menghasilkan penderitaan dan penolakan diri. Jikalau inilah cara dan pendapat kita tentang Allah maka dengan berjalannya waktu anak-anak akan mengetahui cara pandang kita tersebut, dan mereka pun juga akan memandang Allah dengan cara yang sama. Namun jika sebaliknya kita sebagai orang tua menunjukkan rasa terima kasih yang besar akan kebesaran Allah, dan memiliki pemahaman yang sangat baik akan jalan hidup Allah (suatu jalan hidup yang memberikan penjelasan tentang hal-hal yang dapat memimpin kepada kehancuran dan hal-hal yang dapat memimpin kepada kehidupan yang berkelimpahan baik secara emosional, mental, jasmani, dan rohani), maka anak-anak kita pun akan memiliki pemahaman yang sama dengan kita.
Seorang anak Kristen memiliki berkat yang khusus. Rasul Paulus mengingatkan umat Kristen di Korintus bahwa seorang anak kecil yang bahkan hidup dengan salah satu orang tua saja yang Kristen dapat dikatakan "suci" (1 Korintus 7:14 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini dengan kata lain menyatakan bahwa anak semacam ini adalah unik di mata Allah dan "dikhususkan." Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah anak-anak dari umat percaya yang seperti ini akan bersungguh-sungguh ingin menanggapi Allah? Orang tua mereka sesungguhnya memegang peran yang sangat besar untuk membuat hal ini lebih mudah atau bahkan sangat sulit untuk diwujudkan.
Bagaimanapun juga kita butuh menyadari bahwa untuk "dipanggil oleh Allah", seseorang haruslah menerima terlebih dahulu suatu panggilan/undangan dari Allah. Terkadang undangan dikirimkan kepada mereka yang diminta hadir di dalam suatu acara pernikahan. Namun sering kali, suatu undangan juga dikirimkan dengan (RSVP), ini adalah suatu jenis undangan yang membutuhkan anda untuk menanggapi undangan tersebut. Jika anda berniat hadir, maka anda harus memberitahukan sang pemilik acara untuk mengetahui hal tersebut sehingga sebuah tempat akan disediakan bagi anda.
Yesus Kristus mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga adalah seperti suatu undangan kepada pesta pernikahan: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang." (Matius 22:2-3 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Seperti dengan undangan apa pun, beberapa orang menerima, dan beberapa orang menolaknya bahkan tidak ingin repot-repot untuk membalasnya. Kata Inggris "memanggil" dan "mengundang" (yang ada di ayat 3) sesungguhnya diterjemahkan dari kata bahasa Yunani yang sama. Untuk "dipanggil" oleh Allah dan "untuk diundang" oleh Allah sesungguhnya adalah sautu hal yang sama.
"Undangan ilahi" tersebut sesungguhnya adalah suatu undangan yang digambarkan oleh rasul Petrus pada hari Pentakosta ketika ia berkata: "Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (Kisah Para Rasul 2:39 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Di sini kita melihat bahwa Allah menawarkan pemberianNya yang berupa Roh Kudus bukan hanya kepada "anda" yang mendengar rasul Petrus yang berbicara di hari Pentakosta, tetapi juga kepada mereka yang "adalah anak-anak anda", keturunan orang-orang tua Kristen dan bahkan mereka yang "masih jauh, sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita", orang-orang yang akan Allah panggil pada sepanjang zaman.
Oleh karena semuanya ini, janji untuk menerima Roh Kudus adalah janji bersyarat yang akan dipenuhi jika seseorang benar-benar mencari dan bertobat serta menyerahkan diri di dalam baptisan yang benar (ayat 38). Dengan jelas, walau pun anak-anak orang percaya memang memiliki potensi untuk berkesempatan mencari Allah, namun tidak semuanya ingin melakukannya.
Tujuan kita sebagai orang tua adalah untuk melakukan tugas kita sebaik mungkin di dalam mengarahkan hati anak-anak kita kembali kepada Bapa mereka yang benar, yang tidak lain adalah Allah yang maha kuasa. Sejalan dengan kita berkeinginan untuk membentuk pribadi mereka sebaik mungkin, kita memiliki kesempatan di dalam tahun-tahun awal hidup mereka, yaitu untuk memberikan suatu pondasi bagi masa depan mereka. Ingatlah bahwa tidak setiap anak akan begitu saja memilih untuk berjalan di dalam jalan Allah sepenuhnya, namun hendaklah kita mengingat bahwa ajaran dan pendidikan yang pernah dan telah kita berikan kepada mereka tidaklah akan percuma! Pengetahuan tentang hukum-hukum Allah yang kita berikan yang paling tidak jika diikuti akan masih tetap menguntungkan anak-anak kita di dalam kehidupan mereka. Hal ini adalah benar bahkan bagi mereka yang orang tuanya bukan umat Kristen sekalipun. Hukum-hukum Allah berfungsi berdasarkan prinsip sebab akibat, dan bahkan jika orang yang bukan Kristen sekalipun melakukan hukum-hukum rohani Allah maka hidup mereka pun akan menjadi lebih baik.
Anak-anak yang telah mendapatkan pengajaran tentang jalan-jalan hidup Allah di masa kanak-kanak akan paling tidak memiliki suatu pondasi yang dapat mereka pegang dan yakini jika dan ketika mereka memilihnya. Tentu saja, orang tua Kristen pastilah berharap dan berdoa agar anak-anak mereka akan mengikuti Allah bahkan pada saat ini. Namun jikalau pun tidak, kita masih tetap dapat mengetahui bahwa setiap saat yang kita habiskan untuk mengajari mereka (Ulangan 6:4-7), setiap teladan positif dan setiap perhatian yang penuh kasih bagi mereka tidaklah akan hilang. Sesungguhnya, mereka memiliki pondasi positif untuk kembali kepada Allah sebelum berakhirnya zaman di mana kita hidup sekarang ini, atau bahkan nantinya yaitu pada saat Tahta Putih Yang Agung (Wahyu 20:11-12).
Sedangkan anak-anak sudah dapat "melihat terang" di masa muda mereka dan berbalik sepenuhnya kepada Allah akan memiliki suatu masa depan yang indah! Allah menawarkan diri untuk menjadi orang tua mereka dan menjadi Pribadi yang akan selalu mendampingi hidup mereka layaknya seperti seorang ayah jasmani yang penuh kasih. Hal ini akan menghasilkan suatu pernikahan yang lebih berbahagia, keluarga yang lebih kuat, pikiran yang lebih damai dan stabil yang pada akhirnya akan mengantar kepada kelahiran ke dalam keluarga Allah yang agung pada saat Kristus datang kembali ke dunia. Mereka akan memiliki kesempatan untuk bekerja dengan Yesus Kristus sendiri sejalan dengan Ia mendirikan kerajaanNya dan membawa kedamaian di bumi. Kota-kota akan dibangun kembali di dalam jalan Allah, yang mana kota-kota tersebut akanlah menjadi kota-kota yang bebas polusi atau tindakan kejahatan atau kepadatan di kawasan-kawasan kumuh. Anak-anak kita sesungguhnya akan mendapat suatu kesempatan untuk melihat masa peralihan global dari zaman yang baru ini.
Pada kenyataannya, orang tua Kristen yang tidak lain adalah "anak-anak Allah" yang diperanakkan memiliki tanggung jawab di dalam memenuhi "tugas besar" yang dimiliki oleh Kristus di akhir zaman ini. Doa-doa dan dukungan finansial mereka dapat membantu Pekerjaan Allah di dalam mengumandangkan Kerajaan Allah "bagi semua makhluk sebagai saksi" (Matius 24:14). Kita juga membaca bahwa sebelum tibanya Hari Tuhan dan akhir zaman, "Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah." (Maleakhi 4:6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Di dalam ayat ini kata "bapa" memang mengacu kepada para orang tua pria pada umumnya, namun kata ini secara khusus mengacu juga kepada "Allah Bapa" di sorga kepada siapa hati anak-anak akan berbalik. Seperti yang telah kita lihat, tujuan Allah di bumi ini adalah untuk "menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" (Kejadian 1:26). Sesungguhnya, Allah sedang menciptakan anggota-anggota dari keluargaNya di masa mendatang, yaitu di dalam gambaran dan rupa rohani Allah sebagai anak-anakNya yang nyata.
Oleh karenanya, kita sebagai orang tua memang memiliki suatu panggilan yang tinggi. Allah kita sesungguhnya sedang melatih kita sebagai anak-anakNya di dalam rupaNya! Dan sebaliknya Allah memanggil kita untuk melatih dan membentuk pikiran-pikiran anak-anak muda kita yang sangat mudah dibentuk tersebut di dalam rupaNya. Ini sebenarnya adalah suatu tujuan yang tinggi di dalam dunia yang sesat dan bahaya ini. Namun sebagai Orang Tua yang penuh dengan kasih, Allah berjanji bahwa: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku." (Ibrani 13:5-6). Lebih dekat kita mendekatkan diri kepada Allah Bapa, maka akan lebih banyak lagi teladan dari kualitas-kualitas hidupNya sebagai orang tua yang sempurna yang dapat kita contoh dan lakukan. Setiap orang tua pastilah pernah berbuat kesalahan di dalam mendidik/membesarkan anak, namun Allah mengetahui bahwa para orang tua tersebut sesungguhnya sama seperti anak-anak mereka yang dapat belajar dan berubah.
Memang hal ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tetapi dengan bimbingan Allah, maka suatu harapan yang nyata sesungguhnya benar-benar ada. Jika kita mempertahankan prinsip bimbingan dari cara-cara membesarkan anak "di dalam rupa Allah", maka Allah akan memberikan kepada kita banyak sekali sumber informasi dan bantuan.
Jika tujuan utama kita sebagai orang tua adalah untuk membesarkan anak-anak "di dalam rupa Allah," maka hal ini akan menjadi panduan dan tema pusat bagi segala sesuatu yang kita lakukan di dalam keluarga kita. Keinginan kita tidak lain adalah untuk menciptakan suatu kebudayaan Allah di dalam rumah kita. Sebuah definisi dari kebudayaan yang secara khusus dapat diterapkan adalah bahwa kebudayaan adalah "suatu kemajuan tertentu di dalam peradaban" (Webster's Collegiate Dictionary). Oleh karenanya, sejalan dengan kita maju, maka hal ini tidak lain adalah "suatu kemajuan di dalam peradaban" dari keluarga Allah di masa mendatang.
Sebagai orang tua atau mungkin kakek dan nenek (yang diperanakkan oleh Allah yang agung), hendaklah kita memberikan kehidupan kita untuk mengembalikan hati anak-anak kita kepada Bapa rohani mereka. Inilah tujuan utama di dalam memelihara/membesarkan anak-anak: yaitu untuk memiliki anak-anak yang "sesuai dengan rupa Allah".
Bab 2 Harga Diri atau Kendali Diri?
Mengapakah membesarkan anak tersebut sangat sulit? Suatu jawaban yang pasti dari pertanyaan ini adalah karena terdapat banyak sekali faktor yang terlibat yang berada di luar kendali kita. Pada kenyataannya pola utama kita di dalam membesarkan anak - anak kita bertolak dari orang tua kita sendiri. Apapun yang telah kita alami dari orang tua kita adalah suatu contoh yang sungguh-sungguh terpatri di dalam pikiran kita, baik itu baik atau buruk. Pengalaman tentang pendidikan anak yang kita alami dari orang tua kita sendiri, tentu saja, tidak dapat kita ubah semenjak masa lalu itu ada diluar kendali kita. Tetapi hendaklah kita mengetahui bahwa tidak seorang pun dari kita yang menjadi tahanan masa lalu, karena dengan bantuan Allah kita dapat mengubah keadaan kita pada masa kini!
Pahamilah bahwa masyarakat di mana kita hidup pada saat ini sebenarnya juga memainkan peran yang besar di dalam membentuk anak-anak kita. Kekerasan dan tema-tema seks benar-benar membanjiri media kita, demikian juga tekanan dari teman-teman sekolah anak kita menjadi semakin nyata dan kuat. Pada kenyataannya, setan secara terus menerus memainkan perannya sebagai "penguasa kerajaan angkasa" (Efesus 2:2), dan ia siap dan berkeinginan untuk mempengaruhi anak-anak kita.
"Para pakar" pendidikan anak pun bahkan saling tidak setuju terhadap pendapat-pendapat yang mereka buat sendiri. Lebih dari seabad yang lalu berbagai macam opini/pendapat saling datang dan pergi yang mana pendapat-pendapat tersebut mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting seputar pendidikan/pemeliharaan anak. Masyarakat berdebat tentang perihal apakah yang paling penting di dalam hal membesarkan anak: manakah yang lebih penting untuk diberikan? harga diri/self esteem atau kendali diri/self control? Mereka yang percaya bahwa pengendalian diri sebagai hal yang utama akan menjadi orang tua yang otoriter, bagi mereka: "kata-kata orang tua adalah hukum dan karenanya tidak dapat dibantah. Pelanggaran terhadapnya akan membawa kepada suatu hukuman yang berat. Orang tua otoriter adalah orang tua yang tidak dekat/hangat dengan anak-anak mereka. Mereka menunjukkan sedikit perhatian atau pengasuhan. Kedewasaan sangatlah dituntut, sedangkan komuninasi antara orang tua dan anak sangatlah rendah" (The Developing Person Through the Life Span, Kathleen Berger, hal 287).
Tentu saja, hal-hal yang ada di dalam metode pemeliharaan ini adalah suatu campuran dari sifat baik dan buruk. Ketika pelanggaran akan menghasilkan hukuman, kedewasaan amatlah dituntut. Bagaimanapun juga, beberapa studi menunjukkan bahwa "anak-anak yang orang tuanya otoriter memang kelihatannya patuh tetapi tidak bahagia" (ibid, hal 288).
Di dalam tahun-tahun awal keluarga kita (dengan 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki yang berbeda 7 tahun), saya bertumpu terlalu banyak kepada model otoritarian, yang mana kemudian saya berubah drastis. Untungnya istri saya adalah pribadi lebih seimbang mulai dari mulanya, dan hal ini memberikan suatu pengasuhan yang lebih baik bagi anak-anak kami.
Berbeda dengan mereka yang lebih senang dengan cara pendidikan anak yang menekankan kepada nilai-nilai pengendalian diri/self-control, orang tua yang menganggap harga diri/self esteem sebagai hal utama yang harus dimiliki didalam pendidikan anak akan lebih condong untuk melakukan metode permissive/pengijinan, yang mana: "orang tua membuat sedikit tuntutan bagi anak-anak mereka, dan menyembunyikan segala ketidaksabaran yang mereka rasakan. Pada cara pendidikan yang seperti ini, disiplin sangatlah kurang. Orang tua pada umumnya memiliki karakter mengasuh, penerimaan dan komunikasi yang baik dengan anak-anak mereka. Mereka membuat sedikit tuntutan dewasa kepada anak-anak mereka tetapi tidak bertanggung jawab untuk membentuk bagaimana keturunan mereka akan menjadi orang kelak" (ibid, hal 286).
Di sini, sekali lagi, terjadi suatu campuran baik dan buruk. Aspek positifnya adalah bahwa orang tua mengasuh, menerima, dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak mereka, dan menjadikan diri mereka sebagai pribadi yang dapat dijangkau oleh anak-anak. Aspek negatifnya adalah bahwa orang tua dalam kategori ini memberikan sedikit tuntutan bagi anak-anak mereka. Mereka lebih senang menyembunyikan rasa ketidaksabaran mereka, dan tidak banyak menuntut kedewasaan anak. Orang tua yang seperti ini tidak melihat diri mereka sendiri sebagai pribadi yang bertanggung jawab di dalam membentuk masa depan anak-anak mereka. Secara mengejutkan, studi menunjukkan bahwa: "mereka yang orang tuanya permissive kelihatannya kurang berbahagia, dan .......... kurang bisa mengendalikan diri" (ibid, hal 288).
Jadi yang manakah yang lebih penting di dalam membesarkan anak: mengembangkan harga diri atau pengendalian diri? apakah model otoritarian atau permissive yang paling baik untuk membesarkan anak? jawaban orang akan pertanyaan ini akan mencerminkan pola pendidikan anak yang mereka terapkan di dalam keluarga mereka. Mereka yang menganggap harga diri sebagai suatu faktor yang penting di dalam perkembangan manusia condong untuk lebih permisif di dalam mengasuh, sementara mereka yang yakin bahwa pengendalian diri adalah faktor yang penting di dalam kehidupan lebih condong untuk lebih otoritarian.
Pertanyaan yang sama dapat difrasakan: Ketika mencurahkan pondasi beton, manakah yang lebih penting, bubuk semen yang terdiri atas mineral, pasir dan batu, atau air yang dicampur ke dalam bubuk semen?
Pada kenyataannya, keduanya dibutuhkan untuk membangun suatu pondasi yang kuat dan bertahan lama. Proporsi dari air dan bubuk haruslah benar-benar seimbang untuk menghasilkan suatu kekuatan yang tahan lama. Kebanyakan air dan kurangnya semen akan mengakibatkan pondasi yang lemah. Terlalu banyak semen dan terlalu sedikit air akan menghasilkan suatu pondasi yang lemah dan terlalu cepat rontok. Kedua elemen amatlah penting bagi kekuatan yang tahan lama.
Seperti yang anda harapkan, kedua elemen dari harga diri dan pengendalian diri ini pada kenyataannya adalah dua komponen yang sama pentingnya bagi kelangsungan hidup yang lama dari seorang anak. Penekanan yang tidak seimbang dari masing-masingnya akan menimbulkan ketimpangan di dalam masalah pendidikan, dan pemeliharaan anak.
Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang otoriter, yang mendapatkan penekanan hanya pada pengendalian diri dan disiplin tanpa adanya keseimbangan di dalam hal penghargaan diri yang disertai dengan kasih yang tidak terbatas tumbuh sebagai pribadi yang tidak pernah merasa dirinya cukup baik. Mereka cenderung tidak ingin keluar dari batas kenyamanan mereka. Secara sosial mereka benar-benar mawas diri (berusaha untuk melakukan segala sesuatunya dengan benar dan tepat), dan mereka merasa tidak aman dan gugup. Mereka selalu berusaha untuk membuktikan diri mereka baik di dalam masa remaja maupun dewasa.
Anak-anak yang dididik oleh orang tua yang lebih pengijin/permisif cenderung untuk lebih memiliki harga diri, tetapi kurang pengendalian diri. Di sisa hidup mereka, mereka menjadi budak keinginan sesaat mereka. Mereka tidak dapat duduk dengan tenang untuk memperhatikan di dalam kelas. Untuk sukses di bangku kuliah amatlah sulit, demikian juga untuk bekerja di sebuah instansi untuk waktu yang lama. Dengan tidak pernah mengembangkan kebiasaan untuk mengendalikan diri, mereka memiliki kesulitan untuk bertahan di dalam situasi yang sulit yang berlangsung dalam kurun waktu yang agak panjang. Mereka tidak dapat bertahan jika situasi yang ada tidak secara tiba-tiba berubah menjadi menyenangkan.
Sangatlah jelas bahwa suatu ketidakseimbangan di dalam baik harga diri atau pengendalian diri adalah suatu masalah yang serius bagi sisa kehidupan anak-anak.
Yang dibutuhkan oleh setiap anak pada kenyataannya adalah suatu keseimbangan dari keduanya yang kami sebut sebagai otoritas yang mengasihi. Hal ini mengikutsertakan dua elemen harga diri (dikembangkan melalui kasih yang tidak terbatas) dan pengendalian diri (ditumbuhkan oleh disiplin dan pelatihan yang baik) secara seimbang. Bersama hal-hal ini akan membangun suatu pondasi yang lebih kuat bagi seorang anak, sama seperti keseimbangan yang baik dari bubuk dan air yang menyatu bersama menjadi beton yang sangat stabil.
Di dalam cara pembesaran anak yang seperti ini, "orang tua memberikan batas-batas dan peraturan-peraturan, tetapi mereka juga berkeinginan untuk mendengarkan dengan baik anak permintaan dan pertanyaan anak-anak mereka. Orang tua membuat suatu tuntunan kedewasaan kepada anak-anak mereka, demikian juga mereka berkomunikasi dengan baik dengan mereka dan [mengasuh]" (ibid, hal 287).
Ketika anda berpikir tentang hal ini, bukanlah hal ini dengan tepat adalah suatu pola membesarkan anak yang juga kita temui di dalam Alkitab? Allah memberikan batasan-batasan kepada kita, tetapi Ia juga berkeinginan untuk mendengarkan kita ketika kita berdoa kepadaNya. Ia membuat suatu tuntutan kedewasaan diri yang tinggi bagi pertumbungan rohani kita, tetapi secara menerus Ia berkomunikasi dengan kita melalui firmanNya yang tertulis. Ia memberikan keseimbangan baik bagi dorongan dan pengampunan.
Pentingnya Mengajarkan Pengendalian Diri
Ketika anak-anak dididik di dalam suatu lingkungan yang selalu memberikan ijin, tanpa adanya bimbingan dan batas-batas yang nyata, konsekuensi yang harus dibayar pastilah selalu mahal. Jacob Aranze, pengarang buku berjudul Lord, Why Is My Child a Rebel?/Tuhan, Mengapa Anakku Seorang Pemberontak?, menuliskan hal ini: Maukah anda mengetahui anak-anak yang paling pahit dan penolak yang pernah saya temui? mereka adalah anak-anak yang ibu dan bapaknya gagal memberikan garis-garis bimbingan dan disiplin. Anak-anak yang hidup di dalam rumah tangga yang selalu memberikan ijin memiliki masalah untuk mempercayai bahwa orang tua mereka benar-benar memelihara mereka" (hal 45).
Beberapa orang bimbang apakah anak-anak memang membutuhkan bimbingan atau tidak. Namun, pada kenyataannya, bimbingan dan larangan yang kuat memberikan suatu nilai dari rasa aman dan keamanan.
Kapan pun saya melalui jembatan favorit saya, Golden Gate Bridge di San Fransisco, saya tidak pernah takut untuk mengendarai mobil saya walaupun harus sampai ke pinggiran jembatan. Dan meskipun jembatan tersebut memiliki tinggi lebih dari 265 kaki di atas permukaan air, saya mendapatkan rasa aman dan keamanan dari tiang-tiang pengaman di ujung jembatan. Namun jika suatu hari tiang-tiang tersebut dihilangkan dan anda menyuruh saya untuk mengendarai mobil melewati jembatan tersebut, saya pasti akan menolaknya. Lebih dari 256 kaki diatas permukaan air, rasa aman dan keamanan saya pasti akan benar-benar hilang.
Prinsip yang sama juga teraplikasikan di dalam hal membesarkan anak. Ketika tiang-tiang pembatas keamanan dihilangkan; maka suatu rasa ketidakamanan dan ketakutan dari sesuatu yang tidak diketahui akan selalu ada. Suatu contoh yang ekstrim adalah seorang anak yang terlepas dari orang tuanya pada saat berada di tengah kerumunan orang banyak. Pada kenyataannya anak tersebut memiliki kebebasan yang sepenuhnya untuk menentukan apa pun yang ia ingin lakukan, namun justru ketakutan akan bahaya yang harus dihadapi akibat lingkungan yang asinglah yang akan muncul dan benar-benar melingkupi perasaan dan pikirannya.
Ketika anak-anak diberikan bimbingan yang kuat atas apa yang tidak dapat mereka seberangi (seperti pembatas Golden Gate Bridge), bimbingan-bimbingan tersebut akan menjadi pembatas internal yang kita sebut "pengendalian diri". Di dalam anak-anak, pengendalian diri menjadi pembatas (atau "garis pembatas") yang dilatih dari motivasi, emosi, rasa takut dan keinginan. Ketika anak-anak melampaui garis pembatas dan menerima disiplin, mereka belajar bahwa tindakan mereka mendatangkan konsekuensi. Anak-anak yang disiplin adalah suatu kebahagiaan bagi orang tua mereka karena mereka tidak secara terus-menerus berusaha untuk melanggar garis pembatas tersebut.
Allah membuat hal ini dengan sangat jelas ketika Ia memberikan instruksi kepada para orang tua: "Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI)
Apakah anda pernah melihat seorang anak yang benar-benar tidak dapat dikendalikan, berlari, berteriak dan mengambil segala hal yang ia inginkan sementara ibunya berbelanja? orang tua yang pernah mengalami hal ini pasti akan benar-benar menjadi "stress".
Beberapa tahun yang lalu istri saya mengajak keempat anak kami untuk berbelanja. Yang paling muda ada di kereta belanja, dan yang lebih tua berjalan di samping kereta. Anak-anak kami adalah anak-anak yang normal dan juga bermain dengan normal seperti anak-anak lainnya, tetapi mereka mengetahui bahwa kereta belanja adalah seperti garis pembatas Golden Gate Bridge. Melampaui pembatas tersebut akan menghasilkan suatu konsekuensi yang serius.
Anak-anak yang didisiplin dengan baik, yang secara perlahan diajarkan untuk mengendalikan diri dari usia muda akan memiliki pondasi untuk mencapai kehidupan yang lebih sukses. Seorang anak berusia 5 tahun yang didisiplin akan dapat duduk dengan tenang di kelas atau di gereja tanpa berbicara, dan dapat belajar dengan jauh lebih cepat. Anak seperti ini juga akan dapat dengan baik menjalani kelas-kelas mereka di jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang sulit atau yang tidak menarik, dan "tetap dapat bertahan". Pada akhirnya, prospek mereka di dalam bangku kuliah juga akan lebih besar.
Ketika anak-anak muda yang disiplin mencapai usia dewasa, mereka akan dapat menjadi pekerja yang lebih bernilai dan sukses. Mereka cenderung menjadi pribadi yang tepat waktu ketika bekerja. Mereka pun juga dapat menangani pekerjaan yang sulit dengan sedikit mengeluh, dan mereka tidak akan berdebat dengan ribut atau terjerat di dalam perdebatan dengan orang-orang yang mempersalahkan mereka. Pendeknya, mereka jauh lebih sukses di dalam pekerjaan mereka, mereka biasanya lebih dapat menetap di dalam pekerjaan mereka, dan ketika waktu untuk meninggalkan pekerjaan, mereka cenderung menjadi yang terakhir, dan bukan menjadi yang pertama untuk dipecat.
Pengendalian diri yang diajarkan di usia yang muda melalui bimbingan yang ketat yang tidak dapat dilanggar akan menghasilkan anak-anak dan orang-orang dewasa yang lebih bisa mengendalikan emosi dan tingkah laku yang kurang rasional. Jika orang tua mengijinkan anak-anak untuk mengekspresikan pemberontakan di usia mereka yang masih muda maka orang tua tersebut pada kenyataannya memberikan pondasi bagi sifat pemarah anak-anak di sepanjang hidup mereka.
Ketika istri saya dan saya tinggal di San Fansisco sementara saya bersekolah di sekolah kedokteran gigi, kita belajar dari suatu contoh yang tragis akan arti konsekuensi dari kurangnya pengendalian diri. Suatu hari ketika lalu lintas benar-benar sangat padat di Oakland Bay Bridge, seorang pengemudi memotong jalan pengguna jalan yang lain di depannya yang melaluinya dan dengan sengaja mengerem tiba-tiba di depan sopir yang pertama. Kemudian mereka saling berebut posisi sampai salah satunya akhirnya mengambil tembak, dan mengarahkan ke sopir yang lainnya, dan menembaknya sampai mati.
Ini adalah suatu contoh dari letupan emosi di kendaraan yang kita sebut "kejahatan di jalan." Hal ini menghasilkan letupan senjata, kematian dan beberapa tahun di penjara. Buah dari kurangnya pengendalian diri yang dipupuk semenjak masa kanak-kanak.
Firman Allah mengajarkan kepada kita untuk menghajar anak-anak kita "sementara ada harapan" (Amsal 19:18). Di dalam kata lain, lakukanlah hal tersebut pada usia yang masih muda. Jika anda menunggu sampai anak anda berada di bangku sekolah dasar untuk mulai belajar mengendalikan dirinya, maka anda sesungguhnya sudah hampir terlambat untuk memberikan kepada anak anda kesuksesan yang maksimum di dalam kehidupannya. Memang tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba, tetapi kesuksesan akan dikorbankan.
Pengendalian diri yang dipelajari pada masa kanak-kanak merupakan hal yang vital di dalam kehidupan pernikahan pada masa mendatang. Orang dewasa yang dapat mengendalikan diri tidak biasanya memiliki letupan emosi, dan amarah yang tidak terkendali. Adalah lebih baik untuk menasehati, membimbing, dan mengoreksi anak-anak di usia dini untuk tidak meletupkan emosi dan amarah, dibandingkan harus melihat mereka menderita kehilangan pekerjaan, pernikahan yang gagal atau bahkan dipenjara setelah kehilangan kendali sebagai orang dewasa.
Membangun Harga Diri
Seperti yang telah kita lihat, pengendalian diri hanyalah setengah dari apa yang dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak dan menjadikannya seorang dewasa yang berkelakuan baik. Hal kedua yang penting di dalam otoritas yang mengasihi adalah harga diri yang dapat tercipta oleh kasih yang tidak bersyarat. Kasih yang tidak bersyarat. Rasul Paulus menuliskan: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.....Kasih tidak berkesudahan" (1 Korintus 13:4, 7-8 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
"Kasih yang tidak bersyarat artinya mencintai seorang anak muda [atau seorang anak dari umur berapapun], tidak peduli apa pun. Tidak peduli bagaimanakah pemuda tersebut kelihatannya. Tidak mempedulikan asetnya, pertanggungan jawabannya, dan ketidakmampuannya. Tidak bermasalah bagaimanakah ia bertingkah laku" (Bagaimanakah untuk Benar-Benar Mencintai Anak Muda Anda, Ross Campbell, M.D. hal 25).
Tentu saja meskipun orang tua tidak selalu menyukai tingkah laku seorang anak kecil, namun kita tetap mencintai anak tersebut bagaimanapun juga. Allah mencintai kita meskipun kita berbuat kesalahan. Kristus mencintai kita dan meninggal untuk kita bahkan selagi kita melakukan suatu kesalahan. "Allah menunjukkan kasihNya terhadap kita, di dalam hal itu ketika kita masih berdosa, Kristus meninggal bagi kita" (Roma 5:8 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Jika kita membuat suatu kesalahan besar dengan hanya mencintai anak-anak kita jika mereka menyenangkan hati kita saja, maka kita akan membesarkan anak-anak yang tidak pernah merasa bahwa mereka "cukup baik". Semua anak-anak berbuat kesalahan, dan ketika kasih sayang hanya ditunjukkan atau diberikan ketika seorang anak "tidak pernah berbuat salah", mereka selamanya akan merasa bahwa mereka tidaklah cukup baik dan selalu gagal. Di dalam cara yang sama, jika saja Allah mencintai kita hanya ketika kita berdoa, berpuasa, dan belajar Alkitab atau melayani orang lain, maka kita pasti tidak akan pernah dikasihiNya.
Sama juga sebagai orang dewasa jika pasangan kita hanya mencintai kita ketika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti membawa bingkisan, memasakkan makanan atau memberikan suatu hadiah, maka kita seringnya akan merasa tidak dicintai, dan dengan jelas hubungan kitalah yang akan menderita. Perlu kita pahami bahwa kasih memanglah harus tidak bersyarat!
Alkitab memerintahkan kepada kita: "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Anak-anak butuh untuk merasa dikasihi, dan tidak hanya merasa dikoreksi. Jika komunikasi kita dengan anak-anak kita hanyalah sebatas pengoreksian, maka tidaklah akan lama bagi mereka untuk patah semangat dan merasa "sebagai orang yang gagal yang tidak dicintai dengan cukup". Inilah upah dari jenis pemeliharaan anak yang otoriter.
Banyak dari kita orang tua memang benar-benar mengasihi anak-anak kita, namun sayangnya kita tidak berkomunikasi dengan baik kepada mereka. Anak-anak lebih memperhatikan tentang bagaimanakah kita akan bertindak terhadap mereka lebih dari apa yang kita katakan atau apa yang kita rasakan di dalam hati. Jadi bagaimanakah kita dapat menunjukkan cinta kepada mereka di dalam cara-cara yang dapat mereka pahami dan hargai?
Salah satu hal yang penting adalah kontak mata. Menatap seorang anak pada mata mereka di dalam cara yang penuh kasih sayang adalah sama dengan mengatakan secara keras dan jelas: "Saya menghargai dirimu; engkau penting bagiku." Pernahkah anda merasa benar-benar dekat dengan orang yang tidak pernah berusaha untuk melakukan kontak mata dengan anda? tentu saja tidak! Suatu ketidak mampuan untuk mempertahankan kontak mata akan menyebabkan perasaan jauh dan kurangnya perhatian. Ingatlah bahwa bagi kebaikan emosi mereka, anak-anak membutuhkan kontak mata orang tua mereka. Anak-anak melihat mata di dalam pandangan yang sangat dalam, yang mana hal ini menunjukkan kesungguhan mereka.
Kontak fisik adalah suatu hal yang penting untuk menunjukkan kasih kepada anak-anak. Perhatikan bagaimanakah Yesus Kristus sendiri berinteraksi dengan anak-anak kecil: "Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah....Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka." (Markus 10:13-14, 16 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Hampir setiap orang mengetahui bahwa bayi-bayi membutuhkan kontak fisik untuk berkembang secara normal. Tetapi sejalan dengan anak-anak memasuki tahun-tahun remaja mereka, kontak fisik cenderung semakin menurun. Akhirnya, kontak fisik di dalam keluarga hanya terjadi jika memang dipandang benar-benar perlu. Di usia berapapun, tangan di pundak, belaian di punggung, dan rangkulan yang sewaktu-waktu memang patut selalu dilakukan. Kontak fisik adalah suatu hal yang sangat bernilai di dalam hubungan orang tua dan anak-anak yang akan berdampak sangat lama. Sementara sejalan dengan anak-anak bertambah besar, mereka mungkin mulai merasa tidak nyaman jika ungkapan kasih sayang ditunjukkan di depan umum, namun demikian pernyataan yang tulus dan pemberian semangat yang dimulai pada usia dini akan tetap dihargai bahkan pada usia remaja.
Perhatian yang tidak terbagi adalah juga penting. "perhatian yang tidak terbagi memiliki arti memberikan remaja anda [anak anda di usia berapapun] perhatian yang penuh dan tidak terbagi di dalam suatu cara sehingga ia merasa benar-benar dicintai, dimana ia tahu bahwa ia sangat bernilai dan karenanya ia akan menghargai perhatian, penghargaan, dan perhatian anda" (Campbell, hal. 31).
Jadi, kembali kepada pertanyaan: manakah yang lebih penting di dalam membesarkan anak: harga diri atau pengendalian diri? Jawabannya adalah bahwa kedua-duanya sangatlah penting! Seorang anak yang merasa tidak dicintai tidak akan berbahagia, dan seorang anak yang tidak pernah diajar tentang bagaimana cara mengendalikan diri akan sangat terbatas di dalam kehidupannya: di sekolah, di kuliah, di pekerjaan, di pernikahan, dan di dalam hubungan rohaninya dengan Allah.
Anak-anak yang menerima kasih sayang yang tak terbatas, dan diajarkan kepatuhan melalui kasih, memiliki tingkat kesuksesan yang sangat besar di dalam kehidupan mereka. Keotoriteran tanpa kasih yang tidak terbatas akan membawa kepada kemarahan dan pemberontakan. Ketika keseimbangan yang baik di laksanakan, kepatuhan dan dislipin diri yang sesuai dengan kehendak Allah akan dapat dilaksanakan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian....Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:1, 4 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Bab 3 Konsistensi: Jalan Menuju Rasa Aman
Bapa rohani kita benar-benar konsisten di dalam cara Dia berhubungan dengan kita anak-anakNya. BimbinganNya akanlah selalu tepat, dan firmanNya benar-benar dapat dipercaya. Ia tidak melanggar hukum rohaniNya sendiri; sikapNya bukanlah: "Lakukan apa yang saya katakan, dan bukan apa yang saya lakukan."
Allah memberitahukan kepada kita: "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap." (Malakhi 3:6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini berarti bahwa Allah konsisten di dalam hukum-hukumNya, prinsip-prinsipNya dan jalan hidupNya. Sekarang bagaimanakah jika Allah kita tidak konsisten?
Kita sering melihat buah dari ketidak konsistenan di dalam kehidupan sehari-hari dari mereka yang hidup di sekitar kita. Beberapa tahun yang lalu, istri saya dan saya memperhatikan suatu contoh yang mengejutkan ketika kita berada di supermarket. Seorang ibu sedang berbelanja bersama dengan anak-anaknya yang bertingkah laku sangat liar. Mereka berlari lalu lalang di gang-gang supermarket, dan menarik barang-barang dari raknya. Di dalam frustrasinya sangat sering ibu tersebut berteriak: "Kesini atau aku akan menamparmu!". Mereka akan tenang selama beberapa saat, dan mereka akan liar kembali. Setelah beberapa menit, ibunya akan berteriak: "Apakah kamu ingin aku mencambukmu?"
Ketahuilah bahwa teriakan dari ibu yang tidak konsisten ini membuat hidupnya menderita! Anak-anaknya selalu mengetahui bahwa jika mereka diam untuk beberapa saat, pastilah ancaman ibunya yang walaupun menakutkan tetapi yang tidak pernah dibuktikan akan berkurang, dan mereka kemudian akan kembali dengan apa yang telah mereka lakukan.
Tidak seperti ibu yang stress tersebut, Yesus Kristus dan Allah Bapa benar-benar konsisten bagi kebaikan kita. Mereka menginginkan yang terbaik bagi kita, dan mereka tidak akan membingungkan kita dengan ketidak konsistenan.
Alkitab memberikan definisi tentang "konsistensi" sebagai: "konstan, tetap, rutin, berkelanjutan, tidak berubah, tidak menyimpang, bersatu/kompak" (Webster's Seventh New Collegiate Dictionary). Inilah sesungguhnya karakter dari orang tua yang selalu didambakan, khususnya ketika disertai dengan kasih yang tidak berkesudahan, dan pengampunan. Karakter yang konstan dan penuh kasih ini pada kenyataannya adalah tempat yang baik bagi pertumbuhan anak yang sehat, dimana juga disertakan perasaan dinilai/dihargai serta garis-garis bimbingan yang baik dan tidak berubah sehingga anak-anak merasa aman.
Bahkan remaja pemberontak akan menceritakan kepada anda bahwa mereka membutuhkan orang-orang tua yang konsisten. Kekonsistenan adalah landasan yang baik atas rasa percaya diri! Inilah hal yang dapat diharapkan dan diandalkan oleh anak-anak. Anak-anak dengan orang tua yang konsisten tidak akan selalu menyenangi garis-garis batas orang tua, tetapi paling tidak dunia mereka stabil dan tidak berubah-ubah. Mereka mengetahui apa yang mereka harapkan.
Kekonsistenan di dalam disiplin dan teladan orang tua amatlah penting! Orang kebanyakan sering berpikir tentang kedispilinan sebagai "hukuman," tetapi hukuman hanyalah salah satu aspek dari kedisiplinan. Disiplin adalah "pelatihan yang membenarkan, membentuk, atau membuat karakter mental atau moral menjadi sempurna" (ibid).
Pengikut Kristus di zaman awal yang mendapatkan pelatihan akan Jalan hidup (ilahi) dipanggil sebagai "murid". Kata "murid/disciple" di ambil dari kata "discipline". Kristus mengajar murid-muridNya; Ia memberi mereka semangat, dan terkadang mengoreksi mereka. Tujuan dari pada hal ini adalah untuk melatih para murid tersebut sehingga mereka dapat hidup di dalam jalan hidup ilahi dan mengajar disiplin kekristenan.
Orang tua melatih atau mendisiplin anak-anak mereka dengan semangat, pujian dan hadiah, dan juga dengan pengoreksian dan hukuman. Prinsip yang sama juga Allah gunakan untuk kita. Ia menjanjikan kita berkat bagi kepatuhan (Ulangan 28:1-14) dan pembenaran dan upah (kutukan) bagi ketidakpatuhan (Ulangan 28:15-46).
Sayangnya, banyak orang tua yang telah mencoba untuk mengonsep ulang prinsip-prinsip pemeliharaan anak berdasarkan jalan Allah kepada hal-hal yang mereka anggap paling baik. Tanpa diketahui mereka akan bertindak seolah-olah mereka lebih tahu tentang cara mendidik seorang anak daripada Allah sendiri.
Di beberapa tahun sebelumnya, banyak orang tua yang bergantung banyak pada kekuasaan yang keras dan hukuman bagi ketidakpatuhan. Hanya sedikit yang memberikan semangat dan kasih yang tidak bersyarat. Orang tua di dalam kategori ini menjadi seperti para penguasa yang tidak memiliki kasih. Di dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan pendidikan anak bergerak ke arah yang berlawanan. Para orang tua lebih condong untuk memberikan pujian dan semangat tanpa memberikan penekanan yang cukup kepada koreksi atau disiplin jika ketidakpatuhan terjadi. Pemberian ijin adalah suatu lubang di mana anak tidak akan pernah belajar atau mendapatkan pengendalian diri.
Dengan jelas menjadi orang tua yang selalu otoriter tidaklah baik, demikian juga orang tua yang selalu permisif! Konsistensi yang sesungguhnya membutuhkan keseimbangan antara harga diri dan pengendalian diri. Kita dapat menemukan hal ini di dalam firman Allah yang memberikan berkat atas kepatuhan, dan hukuman atas ketidakpatuhan.
Konsekuensi yang konsisten bagi ketidak patuhan mengajarkan kepada anak-anak suatu pelajaran yang akan memberikan keuntungan kepada mereka di sepanjang umur hidup mereka, pelajaran tersebut adalah pelajaran tentang "sebab dan akibat." Berdasarkan prinsip inilah bumi beroperasi. Jika anda melompat keluar dari jendela kamar anda di lantai dua maka gaya gravitasi akan menarik anda ke bawah dan anda akan membayar upah bagi kesalahan anda. Pada malam yang hujan kendarailah mobil dengan cepat di tikungan jalan dan akan akan segera mendapatkan upah yang harus anda bayar. Melanggar peraturan hukum yang berlaku di suatu negeri akan menghasilkan konsekuensi yang harus ditanggung. Demikian pula dengan melanggar hukum rohani Allah, pelanggaran terhadapnya akan menghasilkan konsekuensi yang harus dibayar. Anak-anak butuh hidup di dalam suatu lingkungan keluarga dimana mereka mengetahui bahwa jika mereka melanggar peraturan atau standar tingkah laku orang tua mereka, maka ada upah yang harus mereka bayar.
Orang tua yang tidak mengajarkan kepada anak mereka prinsip "sebab akibat" pada kenyataannya melakukan suatu tindakan yang sangat merugikan. Bagaimanakah seorang anak dapat belajar prinsip "sebab akibat" jika ia tidak mengalami dampak dari tingkah lakunya? bagaimanakah anak kecil dapat belajar prinsip "sebab akibat" jika, ketika diperintahkan untuk "datang ke sini", ia dapat menolak ayahnya tanpa suatu disiplin yang mengikutinya? bagaimanakah seorang anak muda belajar "sebab akibat" jika ia dapat meletuskan amarahnya di wajah ibunya dan ibunya hanya mendesah di dalam kejengkelan? bagaimanakah seorang remaja belajar prinsip "sebab akibat" jika ia menerima sebuah tiket menonton pertunjukkan kesenangannya setelah ia mengebut dan ditilang dan orang tuanyalah yang membayar dendanya? Kekonsistensian kepada seorang anak kecil dengan aturan, bimbingan dan hukuman bagi ketidak patuhan akan memimpin kepada kekonsistenan anak kecil tersebut di masa remaja, dewasa, dan bahkan di masa mendatang sebagai seorang anak Allah di kerajaanNya. Proses mempelajari prinsip sebab akibat dengan berkat bagi kepatuhan, dan koreksi bagi ketidakpatuhan adalah suatu pondasi bagi pembentukan karakter di masa mendatang dan kesuksesan hidup. Orang tua dapat membantu anak-anak mereka untuk belajar dengan lebih cepat tentang prinsip pendidikan Allah ini atau membuat mereka kesulitan untuk melakukannya sehingga mereka akan lebih sulit insyaf.
"Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat." (Pengkhotbah 8:11 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Pola yang dibentuk pada masa kanak-kanak biasanya akan dibawa terus sepanjang hidup. Seorang orang tua yang tidak secara konsisten dan bersegera mendisiplin anak mereka atas ketidakpatuhan di masa kanak-kanak pada kenyataannya tidak mendirikan prinsip "sebab akibat". Cara pendidikan yang tidak benar ini akan menghasilkan seorang anak, remaja, dewasa yang hanya akan melihat peraturan dan garis bimbingan (baik di rumah atau di sistem sekolah atau di pekerjaan) sebagai pelarangan yang hanya akan membawa konsekuensi negatif. Banyak orang tua yang tidak pernah mengalami disiplin yang konsisten dari orang tua mereka, tetapi hendaklah kita bersyukur oleh karena Bapa rohani kita di sorga telah secara konsisten mendidik kita. Kita dapat melihat dari Alkitab bahwa Allah memberikan berkat-berkat bagi kepatuhan, dan mengoreksi kita ketika kita tidak patuh. Melaksanakan prinsip ini di dalam cara kita membesarkan anak-anak kita akan membuat hidup menjadi lebih berbahagia. Seorang anak harus diberi informasi yang cukup tentang garis-garis bimgingan yang harus ia patuhi, dan setelahnya setiap pelanggaran akan menghasilkan disiplin. Prinsip pendidikan "sebab akibat" pada kenyataannya memberikan suatu pola hidup. Beberapa "orang yang permisif" tidak percaya akan bentuk hukuman apapun oleh karena mereka berpikir bahwa anak-anak memiliki hati yang baik. Namun pada kenyataannya mereka gagal untuk menyadari perihal hawa nafsu dan hal apakah yang terbaik bagi anak-anak: tidak lain adalah kasih yang tidak bersyarat serta kepatuhan yang dilakukan dengan proses pengoreksian.
Firman Allah menceritakan kepada kita: "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (Ibrani 12:11). Betapa damainya ketika anak-anak diajarkan kepatuhan mulai dari awalnya. Bahkan anak-anak muda dapat menjadi suatu kebahagiaan yang nyata bagi suatu keluarga ketika mereka diajarkan kebiasaan untuk patuh.
Sebagai contohnya adalah ketika seorang anak kecil sudah cukup umur untuk diajarkan perintah "datanglah kemari". Ini adalah suatu latihan kepatuhan yang sangat baik yang dapat diajarkan oleh seorang orang tua kepada anaknya, dan tidak boleh ada suatu pengecualian untuk tidak mematuhinya. Saya telah melihat bebarapa orang tua benar-benar menghitung: "1,2,3" dan ketika anak mereka tidak datang, orang tua akhirnya berjalan kepadanya dan menariknya dengan tangan mereka. Hal ini adalah suatu pelajaran awal bagi anak tentang bagaimanakah ia dapat mengendalikan orang tuanya.
Salah satu ancaman populer yang sering dilontarkan oleh orang tua adalah: "Saya akan mengatakannya yang terakhir." Bahkan ancaman ini dapat menjadi: "Ini kali terakhirmu......kesempatan terakhirmu". Saya telah melihat suatu contoh yang menakjubkan dari hal ini di dalam kasus seorang ayah muda dan anak kecilnya: "aturan tiga kata 'tidak'" yang artinya bahwa kata "tidak" yang pertama dan kedua dari sang ayah pada kenyataannya dapat diabaikan, sedangkan kata "tidak" yang ketigalah yang dapat diperhitungkan. Namun sayangnya bahkan setelah "kata 'tidak' yang ketiga" dilontarkan pun tidak pernah ada suatu disiplin yang dilakukan, sang ayah hanya berjalan, menarik anaknya, dan membawanya pergi.
Banyak orang tua menceritakan kepada anak-anak mereka berkali-kali untuk "melakukan" atau untuk "menghentikan berbuat sesuatu" lagi dan lagi. Dan ketika anak-anak mereka tidak mau mematuhi perintah mereka, akhirnya mereka meledak di dalam amarah ketika mereka tidak dapat mentolerir ketidakpatuhan mereka lebih lama lagi. Pada kenyataannya hal ini mengajarkan kepada seorang anak kecil bahwa prinsip "sebab akibat" hanya berjalan ketika orang tua menjadi capek. Hal ini menyebabkan anak tersebut memiliki sebuah "trik" untuk belajar membaca tanda-tanda kapan orang tua mereka menjadi capek dan dekat dengan batas kesabaran mereka.
Sesungguhnya para orang tua dapat membuat diri mereka tidak kesulitan jika mereka mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa "tidak" berarti "tidak" dan "ya" berarti "ya". Kehidupan akan menjadi lebih sulit bagi orang tua yang mengijinkan anaknya berkeluh kesah dan merengek. "Tetapi ibu......mengapa saya tidak? tolonggg, saya sangat menginginkannya!" Ketika para orang tua menyerah kepada permintaan yang seperti ini, mereka memberikan suatu kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari suatu trik: yaitu jika mereka terus merengek dan memohon cukup lama, maka orang tua mereka akan menyerah, dan mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Setiap orang tua yang telah mendisiplin seorang anak kecil akan beberapa kali menemui saat-saat ketika anak yang menangis pada kenyataannya tidak menangis karena kesalahannya atau pertobatannya, tetapi dari rasa amarah. Ingatlah bahwa kemarahan itu seperti "otot", semakin sering dilatih, semakin berkembang. Jika amarah seorang anak tidak ditangani, maka anak tersebut tidak akan mempelajari suatu pelajaran yang penting malah justru karakternya semakin keras. Di dalam hal ini adalah penting untuk memberikan penjelasan tentang alasan mengapa ia harus menjalani disiplin, dan mengapa ia juga harus didisplin atas amarahnya. Di dalam banyak kasus, sikap anak akan berubah dengan cepat dan tangisannya akan berubah menjadi tangisan pertobatan dan bukannya pemberontakan atau amarah.
Bagi banyak anak-anak muda terdapat beberapa bentuk penghukuman yang lebih tepat disamping memukul. Tentu saja, "hukuman harus sesuai dengan pelanggaran." Di dalam rumah kita, kita terkadang menyuruh anak kita berdiri di suatu sudut ruang bagi kesalahan-kesalahan kecil. Hal ini kelihatannya efektif semenjak mereka sangat tidak menikmati kebosanan dari berdiri menghadap tembok di suatu sudut ruang tanpa diperbolehkan untuk melihat ke sana sini.
Pada suatu kali salah satu dari anak laki-laki kami berlari keluar dengan membanting pintu sehingga jendela-jendela bergetar. Sebelumnya istri saya sudah mengatakan bahwa membanting pintu adalah suatu hal yang tidak diperkenankan di dalam rumah kami, jadi anak laki-laki kami sesungguhnya sudah sangat tahu tetapi "lupa". Ketika anak-anak dengan cepat didisiplin dengan tidak mempedulikan "tapi saya lupa", amatlah mengesankan bagaimanakah dengan cepat memori mereka di tajamkan. Di dalam situasi yang sangat khusus ini, istri saya menyuruh anak laki-laki saya untuk menutup dan membuka pintu dengan pelan sebanyak 25 kali. Hal ini betul-betul membuat anak kami paham peraturan yang kami maksudkan, dan ia menjadi lebih ingat akan hal tersebut. Salah satu bentuk dari hukuman yang tidak efektif yang kami temukan adalah mengirimkan seorang anak ke kamarnya. Kebanyakan anak-anak pada saat ini memiliki banyak hal yang dapat mereka lakukan di dalam kamar mereka, dan "hukuman" ini mengijinkan mereka untuk memiliki waktu untuk marah dan dongkol. Di dalam kebanyakan kasus, disiplin yang mencintai dapat dilakukan dengan cepat dan orang tua dapat kemudian memberikan kenyamanan kepada anak-anak, mengingatkan kepada mereka tentang bagaimanakah mereka dicintai. Hal ini juga membantu untuk mengingatkan kepada anak-anak beberapa waktu bahwa Allah memberikan orang tua tanggung jawab untuk mendidik, dan melatih anak-anak mereka.
Semenjak anak-anak diajarkan prinsip dari sebab dan akibat: " berkat untuk kepatuhan dan hukuman bagi ketidakpatuhan", adalah penting bagi kita untuk tidak melupakan sisi "berkat bagi kepatuhan" . Hal ini dapat dilakukan dengan banyak cara seperti pujian secara verbal, kontak mata, atau sebuah senyuman. Anak-anak, seperti orang dewasa, menghormati dengan dihormati. Kita butuh untuk mengikuti teladan Bapa rohani kita yang dengan jelas memberikan janji untuk memberikan upah kepada mereka yang mencari diriNya. "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Janji Allah akan upah bagi kepatuhan dapat menjadi suatu motivasi yang kuat.
Beberapa tahun yang lalu ketika dua atau tiga anak kami masih ada di dalam jenjang preschool dan masih belum dapat membaca, istri saya membuat suatu gambar bagi semua keempat anak kami. Ia menggunakan gambar-gambar untuk mengingatkan mereka akan kegiatan yang harus mereka lakukan setiap harinya, dan memberikan mereka upah bagi setiap tugas yang mereka selesaikan. Sebuah gambar tempat tidur "yang telah selesai dirapikan" untuk mengingatkan mereka tentang pekerjaan apa yang harus mereka lakukan. Sebuah gambar sikat gigi, seekor anjing dengan mangkuknya, sepasang piyama di gantungkan, dan anak-anak yang duduk di meja (dengan senyuman di wajah mereka) dengan sebuah jam di dekatnya untuk mengingatkan mereka untuk selalu tepat waktu di waktu sarapan. Di akhir bulan upah diberikan dan anak-anak mendapatkan uang mereka. Inilah bagian yang harus mereka simpan atau gunakan setelah mereka melakukan persepuluhan kepada Allah.
Mungkin anda pernah mendengar beberapa orang yang mengatakan bahwa anak-anak tidaklah perlu atau bahkan jangan pernah dibayar untuk sesuatu hal yang mereka lakukan. Bagi orang-orang ini hal "pemberian upah" justru akan menghancurkan karakter anak-anak oleh karena mereka akan selalu ingin dibayar bagi pekerjaan yang mereka lakukan. Memanglah benar bahwa anak-anak tidak seharusnya dibayar bagi kepatuhan yang harus mereka lakukan secara rutin seperti datang ketika dipanggil atau bermain dengan tenang bersama saudara mereka. Namun mengajari mereka nilai-nilai etika kerja dengan pemberian upah adalah suatu prinsip yang benar. Memberikan kepada anak-anak suatu pinjaman tanpa menuntut pengembalian adalah suatu prinsip yang salah. Bahkan Allah menjanjikan untuk memberikan kita upah bagi setiap tindakan yang kita lakukan: "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Matius 16:27 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Apakah kita lebih bijaksana daripada Allah Bapa kita sendiri di dalam hal mengasuh anak?
Lebih dini kita memberikan kepada anak-anak kita prinsip berkat bagi kepatuhan dan koreksi bagi ketidakpatuhan yang konstan, maka anak-anak kita akan menjadi lebih patuh dan keadaan rumah menjadi lebih terkendali dan damai. Ingatlah bahwa konsistensi adalah suatu kunci yang hebat!
Kita harus mengingat bahwa semenjak anak-anak memiliki hawa nafsu, maka mereka selalu tertarik untuk melakukan ketidakpatuhan seperti sebuah magnet, sedangkan ketidakpatuhan inilah yang harus dihadapi secara konsisten. Di sisi yang lain, anak-anak harus diajari kepatuhan dan melakukan apa yang benar. Pengasuhan anak yang benar mengikutsertakan aktivitas yang besar dari pelatihan anak (mengasuh berarti melatih). Amsal 22:6 menginstruksikan kepada kita untuk "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
Setiap peraturan atau pembimbingan haruslah logis dan dapat dijelaskan. Sebagai orang tua kita tidak dapat hanya mengatakan "Lakukanlah karena akulah yang mengatakannya" (tanpa adanya alasan yang logis) tidak akan memberikan motivasi yang benar bagi kepatuhan di dalam jangka waktu panjang. Dengan tidak hanya mengatakan kepada seorang anak kecil "jangan lari ke jalan", anda dapat menambahkan: "saya tidak ingin engkau tertabrak oleh sebuah mobil dan mendapatkan celaka."
"Jangan melompat di sofa," dapat dijelaskan, "hal itu akan menghancurkan sofanya" atau "engkau dapat jatuh dan menyakiti dirimu sendiri" atau "sangatlah mengganggu orang yang sedang berbicara." Akhirnya, setelah dijelaskan, setiap ketidak patuhan harus diikuti dengan disiplin yang penuh dengan kasih.
Tujuan utama dari setiap disiplin haruslah untuk kebaikan sang anak! Alasan bagi disiplin janganlah atas suatu amarah atau keinginan untuk "menjadi seimbang." Kebanyakan orang tua, pada suatu waktu, meledak di dalam amarah ketika mereka frustasi atau capek. Inilah sesungguhnya suatu hal yang harus kita hindari bahkan atasi. Ingatlah instruksi Allah: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Anak-anak harus belajar dan mengetahui bahwa alasan kita untuk mendisiplin mereka adalah karena kita mencintai mereka. Kita benar-benar harus memiliki keinginan untuk berbuat yang terbaik bagi mereka sehingga mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang berbahagia dan sukses bahkan sukses menjadi anggota Keluarga Allah.
Adalah penting bagi kita untuk mulai mengajarkan kepada anak-anak kita pada saat ini, tidak mempedulikan usia mereka, prinsip dari "sebab dan akibat"; berkat bagi kepatuhan dan koreksi bagi ketidakpatuhan. Hal ini adalah pondasi bagi kehidupan abadi mereka di masa mendatang. Istri saya memiliki suatu "ayat Alkitab tema" bagi pengasuhan anak; ia mungkin sudah tidak menggunakannya lagi bagi anak-anak kami (yang sudah dewasa), tetapi saya benar-benar berterima kasih atasnya; "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu," (Ulangan 30:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Ini adalah suatu prinsip pengasuhan Allah bagi kita sebagai anak-anakNya di masa depan. Dan oleh karenanya hal ini haruslah juga menjadi prinsip pengasuhan bagi anak-anak kita untuk mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hidup mereka.
Bab 4 Meneruskan Tongkat Estafet
Semua orang tua Kristen pastilah menginginkan anak-anak mereka untuk tumbuh sebagai orang yang benar-benar mencintai Allah dan jalan hidupNya. Kita mengetahui keuntungan besar yang akan dibawa oleh hukum Allah kepada anak-anak kita baik pada saat ini maupun di masa mendatang, yaitu suatu kehidupan yang stabil dan penuh arti pada saat ini, dan kehidupan abadi di dalam keluarga Allah pada saat kedatangan Yesus Kristus nantinya. Semua orang tua menginginkan hal ini bagi anak-anak mereka, tetapi mereka mungkin bertanya-tanya: bagaimanakah orang tua dapat meraih kesuksesan di dalam "meneruskan tongkat estafet" ini? Bagaimanakah mereka dapat mengajari anak-anak mereka sehingga mereka berkeinginan mendapatkan hal-hal ini dari dalam diri mereka sendiri?
Ketahuilah bahwa orang tua Kristen pada kenyataannya memiliki "dua panggilan" yang sangat menantang dan tinggi. Bapa Sorgawi kita sedang melatih para orang tua (yang tidak lain adalah anak-anakNya sendiri) di dalam gambarNya. Sebaliknya, tugas utama dari umat Kristen sebagai orang tua adalah untuk melatih dan membentuk hati dan pikiran anak-anak mereka di dalam gambar Allah.
Bagaimanapun juga, meneruskan tongkat estafet kepada generasi selanjutnya tetaplah suatu tugas yang sangat sulit di dalam dunia yang dikuasai oleh Setan ini. Pengaruh masyarakat yang sangat jelek, dan ditunjang oleh Setan sebagai "penguasa kerajaan angkasa" (Efesus 2:2), menyebabkan terciptanya situasi yang cukup sulit di dalam usaha kita untuk membentuk hati dan pikiran anak-anak kita di dalam gambaran Allah!
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa bahkan orang tua yang paling baik sekalipun tidak akan secara langsung mendapatkan suatu hasil yang sempurna. Adam adalah benar-benar seorang "anak Allah" (Lukas 3:38), walaupun begitu Allah tidak memaksa Adam dan Hawa untuk membuat keputusan yang benar! Allah mengajarkan Adam dan Hawa jalan kehidupanNya, walaupun begitu Orang Tua yang sempurna pun mengijinkan anak-anakNya untuk menerima atau menolak teladan dan ajaranNya.
Hal yang sama juga berlaku pada orang tua manusia. Orang tua tidak dapat memaksa anak-anak mereka untuk mencari Allah sebagai Bapa mereka. Namun orang tua dapat membantu meletakkan pondasi bagi anak-anak mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih baik pada saat ini, yang pada akhirnya mereka akan menyerahkan kehidupan mereka kepada Allah yang benar. Kita mengetahui dari Alkitab bahwa Allah akan membuka pikiran manusia, baik di dalam kehidupan pada saat ini atau di dalam kebangkitan yang akan datang, dan kebanyakan orang yang dibuka pikirannya akan memilih untuk mendapatkan berkat dan keuntungan yang besar dengan mematuhi Allah yang benar.
Bagaimanakah kemudian orang tua dapat mulai meneruskan kepada anak-anak mereka suatu keinginan untuk mencari Allah sepenuhnya? Setiap tukang penjual mengetahui bahwa untuk menjual produknya, ia terlebih dahulu harus menciptakan suatu keinginan. Orang tua harus bagaimanapun juga membantu anak-anak mereka untuk mengingini jalan hidup Allah. Anak-anak harus dibimbing untuk memahami bahwa jalan hidup Allah akan menguntungkan mereka, dan bahwa hal ini akan membawa kepada berkat dan upah yang nyata bagi mereka secara individu. Secara umum manusia selalu dimotivasi dengan apa yang mereka ingini, bukan dengan apa yang harus mereka ingini.
Dunia mencoba untuk meyakinkan anak-anak tentang suatu kebohongan setan yang besar, yaitu bahwa jalan hidup Allah adalah suatu bentuk pengorbanan yang tidak baik, suatu "hal yang menyedihkan." Namun ketika anak-anak memahami bahwa jalan hidup Allah adalah jalan hidup yang dapat membawa berkat dan keuntungan baik bagi diri mereka sendiri, dan bahkan orang-orang yang mereka cintai, mereka akan mulai dapat menembus propaganda Setan, dan akan tumbuh di dalam keinginan mereka untuk hidup di dalam jalan Allah.
Allah memotivasi orang tua di dalam cara yang sama. Ia menyediakan keuntungan yang besar bagi mereka yang memilih untuk mengikuti mereka. Alkitab menjelaskan bahwa "Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sedangkan orang yang tidak percaya bahwa terdapat upah atau keuntungan yang nyata di dalam mengikuti Allah, maka orang tersebut tidak akan pernah termotivasi untuk mengikuti diriNya. Hal ini teraplikasikan kepada orang tua, dan juga anak-anak.
Dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, Alkitab itu penuh dengan pengetahuan akan berkat dari kepatuhan. "Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:" (Ulangan 28:2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Setiap hari, keuntungan-keuntungan dari jalan Allah dapat memenuhi kehidupan kita: "Terpujilah Tuhan, yang setiap harinya memberikan kepada kita keuntungan." (Mazmur 68:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Pada akhirnya orang tua hanya memiliki dua buah jalan untuk meyakinkan anak-anak mereka bahwa jalan hidup Allah akan memberikan keuntungan yang besar kepada mereka: mengajari jalan-jalan hidup Allah dengan rajin, dan menunjukkan suatu teladan yang positif. Salah satu saja dari keduanya tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Beberapa orang tua telah menjadi teladan yang baik tetapi tidak memberikan waktu yang cukup untuk mengajarkan prinsip-prinsip ilahi tersebut kepada anak-anak mereka, dan menggunakan contoh-contoh yang jelas yang dapat dipahami oleh anak-anak. Sebagai hasilnya anak-anak mereka mungkin mencintai dan menghormati orang tua mereka tetapi tidak dapat memahami atau menjalankan prinsip-prinsip Allah di dalam kehidupan mereka. Sebaliknya orang tua yang lain telah dengan tekun mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang prinsip-prinsip hidup Allah, tetapi telah menjadi contoh yang tidak baik di dalam cara hidup mereka. Sebagai hasilnya, anak-anak mereka sering memberontak terhadap kemunafikan yang mereka lakukan, dan pada umumnya akan melawan agama, dan wewenang orang tua. Cara pendidikan melalui instruksi "lakukanlah apa yang aku katakan, tetapi bukan yang aku lakukan" sangat jarang dapat meyakinkan anak-anak.
Perhatikan instruksi Allah kepada para orang tua: "Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 11:18-19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Prinsip-prinsip Allah akan melekat di dalam pikiran kita (apa yang kita pikirkan) dan di dalam tangan kita (apa yang kita kerjakan sebagai suatu teladan), dan kita harus mengajarkan prinsip-prinsip hidup tersebut secara efektif kepada anak-anak kita.
Cara Mengajar Yang Efektif
Dengan instruksi dan teladan orang tua mereka, anak-anak haruslah mengenal bahwa jalan hidup Allah akan dipenuhi dengan berkat dan keuntungan bagi mereka secara individu. Lama sebelum hal itu diminta, orang tua harus membantu anak-anak mereka menjawab pertanyaan: "mengapakah saya harus mengikuti Allah? apakah keuntungannya bagi saya?" Jikalau orang tua tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan kejujuran dan kesungguhan, maka mereka tidak akan pernah dapat membesarkan anak mereka secara efektif. Raja Daud memahami hal ini dengan sempurna, dan mengatakan: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Tentu saja, orang tua tidak ingin untuk menciptakan anak-anak yang egois yang hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri. Anak-anak haruslah dibantu untuk memahami bahwa semua hukum Allah itu sesungguhnya penting bagi kebaikan mereka sendiri. Sejalan dengan anak-anak bertumbuh maka mereka akan dapat memahami dengan lebih bahwa hukum-hukum Allah tersebut baik bagi keluarga dan teman mereka, dan bahwa setiap manusia akan mendapatkan keuntungan dari hukum dan jalan hidup Allah tersebut.
Alkitab memperjelas bahwa cara paling efektif bagi anak-anak untuk mempelajari jalan hidup Allah adalah di rumah, yaitu dimana proses pembelajarannya dilakukan secara tidak formal namun konstan : "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Orang tua harus dengan tidak henti-hentinya mengatakan kepada anak-anak mereka tentang keuntungan dari jalan hidup Allah, mungkin ketika duduk di kursi melihat televisi, mengendarai mobil, membaca koran dan setiap kesempatan dimana jalan hidup Allah dapat diceritakan dan anak-anak dapat memahami betapa berbedanya keadaan yang akan dihasilkan jika jalan hidup Allah dilakukan dengan keadaan kehidupan di dunia ini ketika jalan hidup tersebut ditolak. Pada kenyataannya kita tidak kekurangan teladan apapun di dunia yang sangat sakit ini; hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah: akankah orang tua mau menjadikan diri mereka teladan yang baik? Hal ini memang membutuhkan waktu dan perhatian yang konsisten tetapi hasil yang di dapatkan akanlah sangat besar dan menguntungkan. Hanya bergantungkan kepada kepelayanan gereja saja tanpa adanya usaha pribadi tidaklah akan menyelesaikan permasalahan. Para orang tua haruslah mengulang pelajaran-pelajaran yang diberikan di gereja pada setiap saat dan tempat yang memungkinkan dengan disertai baik kasih dan pengajaran yang halus dari seorang ibu, serta bimbingan dan dukungan seorang ayah yang konsisten.
Orang tua akan mendapatkan keuntungan yang besar dengan memagari hukum-hukum Allah di dalam prinsip "sebab dan akibat". Anak-anak akan dengan mudah memahami konsep "sebab dan akibat" ketika hukum-hukum fisik, seperti gravitasi didiskusikan. Jika mereka melompat dari pohon yang tinggi maka gaya gravitasi akan menarik mereka ke tanah, dan hal ini akan menghasilkan patah tulang paha atau rasa sakit yang parah pada otot. Rasa "sakit" tersebut dihasilkan dari terjadinya pelanggaran hukum gravitasi (meloncat dari pohon). Hukum-hukum rohani Allah berjalan dengan cara yang sama. Jika kita melanggar hukum Allah, kita secara otomatis akan menyakiti diri kita sendiri (atau orang lain) di dalam beberapa hal. Jika kita mematuhi hukum-hukum Allah, maka akan terdapat suatu keuntungan atau berkat sebagai upahnya.
Istri saya secara konsisten menekankan pilihan-pilihan di dalam kehidupan anak-anak kami dengan mempertahankan peraturan-peraturan rumah tangga/keluarga yang jelas. Ketika anak-anak kami tidak patuh akan hukum-hukum tersebut, kita dapat memperingatkan mereka bahwa mereka memilih untuk tidak mematuhi, jadi mereka telah memilih untuk menerima hukuman. Hal ini diterapkan baik secara jasmani maupun rohani seperti ketika istri saya mengingatkan anak-anak kami untuk berhati-hati dengan pisau, dan mereka dapat menggunakannya hanya ketika kami memberikan ijin kepada mereka. Anak-anak laki-laki kami lebih condong tergoda untuk menggunakan pisau, dan terkadang justru tangan mereka yang terluka. Biasanya setelah hal ini terjadi saya sering mendengar salah satu dari anak kami berkata kepada ibunya tentang apa yang dilakukan saudaranya: "bu, tidak seharusnya dia melakukannya, dan oleh karenanya ia menghukum dirinya sendiri!" Dengan jelas mereka paham prinsip "sebab akibat"!
Membantu anak memahami prinsip sebab akibat dari semua hukum Allah adalah penting untuk membantu mereka mengingini keuntungan jalan Allah, dan menghindari konsekuensi yang harus mereka tanggung oleh karena tidak mematuhi hukum-hukum Allah. Perhatikan instruksi Allah bagi kita: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (Ulangan 30:19-20 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Setiap keluarga memberikan hukum-hukum bagi anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua tidak pernah mengijinkan anak-anak mereka untuk berlari ke jalan untuk mengejar sebuah bola oleh karena kesempatan tertabrak mobil yang berlalu lalang amatlah besar. Dengan jelas peraturan ini adalah untuk keuntungan anak tersebut dan hal ini mudah untuk dijelaskan. Di dalam cara yang sama orang tua dapat menjelaskan kepada anak-anak mereka bahwa Allah juga memiliki peraturan-peraturan Keluarga yang jelas, paling tidak bagi perlindungan diri sendiri. Bahkan dengan hanya menggunakan ketertarikan seorang anak akan suatu hal saja maka orang tua pada kenyataannya akan dapat menjelaskan bahwa hukum Allah yang berbunyi "jangan mencuri" akan melindungi mereka dari hukuman penjara, atau bahkan ditembak oleh pihak yang mereka rugikan!
Tujuan orang tua di dalam membesarkan anak adalah untuk menjelaskan di dalam bahasa yang dapat dipahami oleh mereka bahwa semua pinsip Allah adalah untuk kebaikan diri mereka dan pada kenyataannya mereka adalah "harapan kebahagiaan manusia." Pengajaran prinsip-prinsip Allah di dalam basis "patuhilah karena Allah yang mengatakannya" adalah suatu permulaan yang baik namun kita harus juga dapat memberikan suatu hal yang lebih dalam, yaitu pemahaman dan motivasi. Secara lebih jauh, orang tua dapat memagari hukum-hukum Allah dengan konsep sebab dan akibat, yaitu berkat bagi kepatuhan dan hukuman bagi ketidakpatuhan sehingga mereka akan lebih bisa meresapinya dengan lebih dalam di dalam diri mereka. Hendaklah kita mengingat bahwa pada kenyataannya manusia tidak ingin menyakiti diri mereka sendiri. Kita semua pasti menginginkan kebahagiaan dan berkat dari kehidupan yang baik, dan bukannya kesedihan dan kekosongan. Bahkan pengasuhan anak "di dalam jalan Allah" akan terkesan kurang menguntungkan jika tidak dapat membantu anak-anak memahami dan sadar tentang bagaimanakah jalan hidup Allah membawa suatu keuntungan yang nyata.
Ketika anak-anak mencapai usia remaja, orang tua masihlah tetap memiliki tujuan yang sama di dalam membesarkan anak-anak mereka, yaitu mengajarkan keuntungan-keuntungan hidup di dalam jalan Allah, yang mana mereka pun masih tetap harus membantu anak-anak mereka untuk memahami suatu alasan yang lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika anak-anak masih kecil. Walaupun hal ini cukup menguras energi orang tua, namun segala usaha ini akan membuahkan hasil. Banyak pemuda pria dapat memahami dengan baik bahwa menyakiti seorang wanita secara fisik adalah salah, tetapi bagaimanakah anda menjelaskannya kepada anak-anak laki-laki anda bahwa memiliki nafsu atas gambar-gambar wanita telanjang adalah juga salah, yang mana hal ini akan menghancurkan dirinya dan bahwa, sebaliknya, menghindari nafsu yang seperti ini akan benar-benar menguntungkan dirinya? bagaimanakah anda dapat meyakinkan seorang remaja yang tidak dapat memahami instruksi Yesus yang terdapat di dalam Matius 5:28: "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:28 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Bagaimanakah anda dapat mematahkan pendapat seorang remaja: "apakah bedanya? siapakah yang akan mempermasalahkan hal ini? bagaimana pun juga, aku tidak menikah dan saya hanya melihat."
Ingatlah bahwa remaja butuh untuk diajari suatu hal yang penting yaitu bahwa nafsu yang dipelihara selama bertahun-tahun akan menghasilkan suatu kendala yang besar bagi pernikahan dan kebahagiaan seorang manusia! Mereka yang terlibat terlalu dalam di dalam "tindak amoral visual" (majalah, film, internet, "klub hiburan dewasa", dan lainnya) dengan jelas akan memiliki suatu respon kimia di dalam otak untuk menirukan respon kimia tersebut di dalam kontak jasmani antar manusia! Otak dapat menyimpan banyak bentuk-bentuk dari tubuh-tubuh yang ada pada model gambar yang pada kenyataannya adalah hasil rekayasa desain grafis, atau operasi kecantikan, yang mana kemudian ingin membandingkan pasangannya dengan bentuk-bentuk ideal yang sesungguhnya tidak nyata tersebut. Jadi kita dapat melihat bahwa nafsu yang secara terus menerus di pupuk yang diperburuk dengan pemandangan amoral akan gambar-gambar bentuk tubuh "ideal" akan menurunkan penghargaan seseorang terhadap pasangannya. Dengan jelas hal ini akan menghancurkan potensi kebahagiaan pernikahan. Pepatah kuno yang bunyinya, "rumput di luar pagar pasti selalu hijau," menjadi sangat benar ketika seseorang hidup di dalam dunia fantasi dari pemandangan yang amoral. Anak-anak butuh untuk diajarkan bahwa hukum Allah yang berhubungan dengan seksualitas pada kenyataannya adalah suatu berkat yang justru akan meningkatkan kehidupan dan pernikahan mereka pada tahun-tahun mendatang.
Kesaksian-Kesaksian Keluarga
Kesaksian-kesaksian atau kisah-kisah keluarga tentang keikutsertaan, kesembuhan dan berkat Allah akan dapat sangat membantu anak-anak untuk menghargai keberadaan Allah, dan kasihNya sebagai Tuhan yang hidup dan yang sangat memperhatikan kehidupan kita. Di dalam keluarga, kami sering menceritakan kisah-kisah tentang hal-hal yang kami alami bersama Allah, tentang penyembuhan dan perlindungan yang dramatis dari kecelakaan-kecelakaan, teladan yang banyak dari kasih, kekuatan, dan perhatian Allah bagi kita. Kita tidak pernah menyatakan bahwa kita layak mendapat ikut campur tangan Allah, tetapi keikutsertaan Allah di dalam kehidupan kita telah menjadi suatu pengingat bagi anak-anak kita tentang bagaimana Allah telah mengasihi kita, dan memberikan belas kasihNya kepada kita.
Contohnya, beberapa tahun yang lalu, di dalam suatu hari yang dingin dan hujan di Arkansas Ozarks, ketika kita sedang mengendara mobil ke gereja, tiba-tiba kipas wiper kaca depan mobil kami berhenti berfungsi. Kita sedang ditimpa hujan beku. Istri saya dengan cepat mengatakan: "Kita semuanya harus berdoa sehingga Allah melindungi kita." Dia dan keempat anak kami menutup mata dan berdoa dengan tenang bagi perlindugan Allah; saya mencoba sebaik mungkin untuk berdoa dengan tenang selagi mengendara. 5 mil setelahnya pada daerah rindang pegunungan di sebelah utara kita tiba-tiba menabrak "black ice/lapisan es tipis di jalan raya" dan mobil mulai keluar jalur, dan menjadi tidak terkendali! Kemudian mobil yang lain datang dari arah yang berlawanan menabrak es tersebut dan kehilangan kendali. Kita sama-sama meluncur dengan cepat ke arah masing-masing dengan kecepatan 40 mil per jam, atau 80 mil per jam jika kecepatan kita berdua digabungkan di dalam suatu tabrakan! Suatu tabrakan dahsyat tidak dapat dihindari. Sejenak muncul di dalam pikiran: "pasti menabrak!" Namun beberapa saat setelahnya kami merasakan suatu kekuatan yang tidak terlihat mendorong kita ke samping jalan. Kita akhirnya mendarat pada permukaan yang lembut di lumpur dan tidak menabrak sesuatu apa pun. Sepuluh kaki di kiri adalah suatu pembatas dari semen dan di kanan jalan ada pembatas 40 kaki yang mengarah ke sebuah sungai. Hati kita berdebar sejalan kita menyadari bahwa kita tidak terluka sedikit pun. Kita duduk disana, tercengang, dengan benar-benar berterima kasih atas turut campur tangan Allah.
Selama bertahun-tahun istri dan saya bercerita kepada anak-anak tentang berbagai macam ikut campur tangan Allah yang dramatis, termasuk banyaknya kesembuhan yang terjadi. Kisah-kisah ini telah menjadi suatu "kesaksian" keluarga tentang keikutsertaan Allah. Kisah-kisah tersebut telah menegaskan ulang tentang rasa penghargaan kami terhadap kasih, kesungguhan, dan kekuatan Allah kami. Semua orang tua harus dengan rutin berbagi kesaksian kehidupan mereka sendiri untuk membantu menyatukan anak-anak mereka kepada Allah yang nyata.
Orang tua memiliki suatu kewajiban dihadapan Allah untuk melakukan yang paling baik yang dapat mereka lakukan untuk melatih dan membentuk pikiran-pikiran anak mereka di dalam gambarNya. Orang tua harus secara konsisten menggunakan persenjataan Allah oleh karena anak-anak mereka akan dapat dipengaruhi secara positif tidak hanya dengan ajaran tetapi juga dengan kisah-kisah keluarga tentang kasih dan pengampunan Allah. Sejalan dengan anak-anak melihat teladan dari kehidupan orang tua mereka, mereka akan dapat melihat sendiri bahwa jalan hidup Allah akan juga menguntungkan mereka dengan baik, dan bahwa hukum-hukumNya adalah bagi kebaikan mereka sendiri.
Bab 5 Warisan Teladan
Sejalan dengan orang tua menyongsong kelahiran dari seorang anak kecil, jarang sekali mereka benar-benar mengetahui bahwa tanggung jawab mereka sebagai teladan yang hidup adalah sangat penting di dalam mempengaruhi perkembangan karakter moral dan rohani masa depan anak tersebut.
Teladan pribadi dari orang tua adalah penting bagi anak-anak untuk melihat jalan hidup Allah sebagai jalan hidup yang penuh dengan berkat dan keuntungan. Teladan orang tua adalah suatu bentuk pengajaran dimana pelajaran lebih diajarkan melalui tindakan dibandingkan kata-kata. Terdapat sebuah peribahasa: "Your actions speak so loud, I can't hear what you are saying" yang artinya bahwa apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang kita katakan, dan oleh karenanya cukup sulit (bagi anak-anak) untuk mematuhi perkataan kita. Anak-anak sering kali lebih cepat melupakan pengajaran verbal dibandingkan teladan hidup yang jelas di dalam kehidupan sehari-hari yang diwujudkan dengan tindakan dan sikap. Teladan dan tingkah laku orang tua akan dengan sangat dalam tertanam di dalam pikiran alam bawah sadar anak, dan kemudian tercerminkan di dalam tindakan anak-anak mereka.
Tentu saja orang tua harus menjadikan pengajaran semua prinsip-prinsip Allah secara verbal sebagai agenda hidup mereka. Dan perlu diingat bahwa jika tingkah laku orang tua tidak sesuai dengan kata-kata yang mereka ucapkan maka tentu saja ajaran yang mereka berikan akanlah menjadi tidak valid/sah. Sejalan dengan anak-anak tumbuh, mereka akan menjadi sangat pandai untuk membandingkan apa yang mereka dengar dengan apa yang mereka lihat di dalam teladan hidup orang tua mereka. Mereka tidak boleh lupa bahwa Yesus Kristus mengajarkan suatu jalan hidup dan bukannya filosofi. Nilai-nilai moral yang orang tua tunjukkan melalui tindakan dan sikap di dalam kehidupan keseharian akan menjadi pondasi bagi tindakan, nilai dan tingkah laku anak-anak mereka.
Bahkan jika orang tua dapat menjadi teladan yang sempurna baik di dalam ajaran dan tindakan mereka, tidak ada jaminan bahwa anak-anak mereka akan mengikuti pilihan mereka untuk mematuhi Allah. Bagaimana pun juga, hampir dapat dipastikan bahwa anak-anak yang mengalami kemunafikan orang tua akan menolak ajaran-ajaran orang tua mereka. Pentingnya teladan orang tua tidak ditekankan secara cukup.
Para ahli perkembangan anak mengetahui bahwa anak-anak kecil melihat orang tua mereka yang dari kecil adalah sang penolong, pemelihara, dan pengajar mereka yang paling tidak hampir seperti allah mereka. Anak-anak muda akan percaya apapun yang orang tua mereka ceritakan kepada mereka, dan mengharapkan bahwa orang tua mereka dapat memperbaiki segala sesuatu, dari mainan yang rusak sampai ketidakadilan dari seorang teman. Allah merancang ketergantungan dan kepercayaan awal ini agar orang tua dapat memimbing dan melatih pikiran anak-anak muda didalam jalan ilahi. Anak-anak muda membentuk persepsi akan Allah pada dasarnya melalui teladan orang tua mereka. Orang tua akan memiliki harapan yang tipis di dalam memelihara anak-anak mereka di dalam Allah jika mereka sendiri bukanlah teladan yang baik di dalam jalan Allah! Jika anak-anak melihat ketidaksabaran, keegoisan, kebohongan, keserakahan, ketidakramahan dan amarah yang sering meledak, maka mereka menjadi kurang tertarik kepada kepercayaan/agama orang tua mereka meskipun ceramah panjang diberikan oleh orang tua mereka.
Orang tua harus dapat membuktikan secara penuh, dan harus dapat menyatakan di dalam pengalaman hidup mereka bahwa jalan hidup Allah adalah suatu keuntungan yang besar yang berfungsi bagi mereka. Anak-anak yang tidak melihat bahwa jalan hidup Allah bekerja dan berguna di dalam kehidupan orang tua mereka biasanya tidak akan percaya bahwa jalan hidup Allah berguna bagi mereka.
Mencerminkan Diri Allah
Di dalam hubungan orang tua dan anak-anak adalah penting untuk diketahui dan diingat bahwa orang tua haruslah dapat mencerminkan Allah di dalam kehidupan mereka. Anak-anak butuh melihat di dalam teladan rutin orang tua mereka suatu kasih murni bagi Allah, jemaatNya dan jalan hidupNya. Anak-anak yang melihat kemunafikan akan akhirnya menolak pengajaran dan pelatihan orang tua mereka. Sedangkan anak-anak yang melihat kemurnian dan kesungguhan akan jauh lebih siap menerima prinsip-prinsip ilahi yang diajarkan oleh orang tua mereka dan Gereja.
Sebagai wakil Allah dan Yesus Kristus di dalam kehidupan anak-anak mereka, orang tua memiliki suatu tanggung jawab untuk menjadikan diri mereka teladan yang baik. Dengan tidak henti-hentinya menjadi teladan yang baik, pada akhirnya anak-anak akan dapat memiliki rasa hormat dan percaya kepada Allah sendiri sama seperti rasa hormat dan percaya mereka kepada orang tua mereka. Sejalan dengan anak-anak menjadi matang, mereka secara tidak sadar akan menjalin hubungan yang dekat dengan Allah sesuai dengan hubungan harmonis yang mereka alami bersama dengan orang tua mereka. Namun jika orang tua menjadi sangat kritis dan tidak mengenal ampun, maka anak-anak akan cenderung melihat Allah dengan cara pandang seperti itu. Demikian juga jika orang tua suka berlaku curiga dan menghakimi, maka anak-anak juga akan sulit menerima belas kasihan dan pengampunan Kristus. Jika orang tua tidak konsisten di dalam mengajarkan kepatuhan dan rasa hormat kepada orang-orang dewasa di dalam kehidupan mereka, maka anak-anak juga tidak akan menghargai Allah, atau memperhatikan hukum-hukumNya.
Pendek kata, anak-anak harus melihat keadaan alami Allah di dalam kehidupan orang tua mereka. Alkitab menamakan hal ini "buah-buah Roh Allah". "Buah" atau "bukti" Roh Allah ini adalah suatu jalan yang Allah pikirkan dan jalani, dan hal ini adalah merupakan kunci dari hidup yang berkelimpahan bagi orang tua dan anak-anak. Seperti yang Paulus tuliskan: "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Semakin pikiran, kata-kata dan tindakan orang tua menunjukkan buah-buah Roh, semakin anak-anak mereka akan tertarik kepada jalan hidup orang tua mereka. Dengan jelas, tidak ada orang tua yang sempurna, namun orang tua yang benar-benar menginginkan anak-anak mereka untuk hidup di dalam jalan hidup Allah akan dengan sendirinya mencari Allah dengan sepenuh hati.
Rasa Hormat Kepada Allah
Orang tua sering memiliki cara yang dramatis di dalam membentuk rasa hormat anak-anak mereka kepada jemaat Allah, dan prinsip-prinsip yang diajarkannya. Jika orang tua terus menerus mengeluh dan mengatakan bahwa hidup di dalam jalan Allah adalah sulit, maka apakah suatu hal yang mengherankan jika anak-anak mereka tumbuh sebagai pribadi yang menolak "jalan hidup yang sulit ini"? Selama bertahun-tahun saya terkadang mendengar para orang tua berkata: "Adalah sangat sulit bagi anak remaja kami untuk tidak menghadiri acara-acara olah raga di hari Sabat". Ketika orang tua menggambarkan jalan hidup Allah sebagai suatu beban, maka anak-anak akan merasa dirugikan. Namun ketika orang tua dapat menggambarkan jalan hidup Allah sebagai suatu keuntungan yang besar dan suatu berkat yang melimpah, maka anak-anak akan menghargainya.
Apapun situasi yang sedang dialami atau dilakukan oleh anak-anak, namun jika mereka sering mendengarkan orang tua mereka bersyukur kepada Allah akan apa yang Allah telah berikan di dalam kehidupan mereka, maka keuntungan besarlah yang akan mereka terima sejalan dengan mereka mulai memahami "gambaran besar" yang dimiliki oleh orang tua mereka. Hidup ini adalah sebuah pelatihan bagi keluarga Allah masa depan dan kita akan "diwisuda" untuk mendapatkan karir kita yang sebenarnya pada saat kedatangan Kristus kelak! Sejalan dengan anak-anak mulai menyadari masa depan yang indah dan yang sangat nyata dari apa yang sedang mereka alami di dalam pelatihan hidup mereka saat ini, maka mereka akan dapat berpikir di dalam jangka panjang. Hal ini pun di dukung dengan semakin dalamnya pemahaman mereka di dalam menyongsong dan mempersiapkan Kerajaan Allah.
Orang tua yang saling bekerja sama dan yang saling mendukung, yaitu mereka yang bekerja sama sebagai "suatu tim yang solid" akan dapat memberikan teladan yang lebih baik. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka saling mengungkapkan rasa kasih dan penghargaan kepada masing-masingnya dengan terkadang diselingi kata "I Love You" dan pelukan, maka secara alami rasa aman di dalam diri mereka menjadi lebih besar. Anak-anak menjadi tahu bahwa mereka di cintai, dan mereka mengetahui bahwa orang tua mereka yang tidak lain adalah dua orang yang paling penting di dalam hidup mereka juga saling mencintai. Dunia mereka akanlah aman, dan mereka juga akan berkeinginan mengikuti pola cinta dan keamanan yang orang tua mereka tunjukkan sebagai hasil dari jalan hidup Allah.
Di sisi lain anak-anak yang secara terus menerus melihat orang tua mereka bertengkar, berargumentasi dan saling tidak menghormati satu dengan yang lainya, akan menyadari bahwa "jalan hidup" orang tua mereka tidaklah berjalan dengan baik bagi mereka sehingga mereka tidak akan mempedulikan apa pun yang orang tua mereka ceramahkan. Pernikahan adalah sebuah "laboratorium hidup" yang dapat menunjukkan baik keuntungan yang besar dari jalan hidup Allah, atau dampak-dampak yang menghancurkan dari jalan hidup dunia. Sungguh menakjubkan jika seumpama semua anak dapat belajar secara sama dari teladan orang tua yang tidak baik-belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak selayaknya dilakukan-tetapi kenyataannya adalah bahwa anak-anak mengenali ketidakbahagiaan orang tua mereka, dan secara alami mereka akan menolak jalan-jalan hidup orang tua mereka yang tidak membawa kebahagiaan bagi kehidupan mereka.
Kebenaran Yang Mutlak
Anak-anak pada kenyataannya butuh untuk melihat teladan orang tua mereka secara mutlak! Kebenaran adalah suatu pondasi dari jalan hidup Allah: "Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya." (Mazmur 119:160 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika anak-anak melihat orang tua mereka berbohong atau menyesatkan (suatu standar yang cukup popular pada dunia hiburan pada saat ini), maka mereka tidak akan berkeinginan untuk menerima prinsip-prinsip rohani yang orang tua mereka percaya! Ketika anak-anak melihat teladan hidup yang benar dan mutlak di dalam kehidupan orang tua mereka, maka hal ini akan memberikan rasa hormat yang tinggi kepada hukum-hukum rohani yang dipatuhi dan dilakukan oleh orang tua mereka, yang mana hukum-hukum tersebut tidaklah boleh dilanggar. Ketika orang tua sering mengambil jalan pintas di dalam memberi alasan untuk melarikan diri dari situasi yang kurang menyenangkan dengan melakukan "bohong putih", maka anak-anak pun akan dengan cepat melakukan hal yang sama, dan mempermainkan aturan yang sama pula. Lebih buruk lagi ketika orang tua meminta anak mereka untuk berbohong bagi mereka, sebagai contoh menyuruh anak-anak untuk memberikan alasan di telpon bahwa orang tua mereka "tidak ada di tempat". Jika prinsip-prinsip Allah tidak dipatuhi di dalam hal-hal yang seperti ini, bagaimanakah anak-anak akan pernah mengetahui bahwa menceritakan hal yang sebenarnya adalah penting? Bagi anak-anak yang memiliki orang tua yang sering berbohong, seluruh konsep kebenaran akan menjadi sangat relatif hanya kepada saat-saat yang dianggap paling cocok.
Jika berbohong adalah bagian dari karakter orang tua, maka anak-anak tidak akan mempercayai mereka. Demikian pula hendaklah kita mengingat bahwa Allah tidak akan dapat mempercayai orang tua yang berbohong dan dengan jelas Ia berkata bahwa tidak ada pendusta di dalam kerajaanNya (Wahyu 21:8). Jika orang tua hidup di dalam prinsip kebenaran, dan mengajarkannya dengan rajin kepada anak-anak mereka dari awal, maka kebohongan akan menjadi hampir tidak ada. Hal ini kemudian akan menjadi pondasi dari rasa percaya yang besar antara orang tua dan anak-anak. Dan hal ini tentu saja akan menciptakan suatu hubungan yang kuat antara orang tua dan anak.
Nilai-Nilai Yang Benar
Anak-anak juga belajar banyak tentang cara mereka menilai orang lain dengan melihat standard/ukuran yang digunakan oleh orang tua mereka ketika menilai orang lain. Di dalam masyarakat kita pada saat ini terdapat tiga standar yang salah yaitu kekuatan, uang dan tampang. Orang tua akan mendatangkan kesulitan yang besar ketika mereka memberikan perhatian yang berlebihan dan kecenderungan untuk melihat dan menyukai orang lain dari segi kekuatan, kekayaan atau kecantikan-sebagai dampaknya hal ini sama dengan mereka mengatakan kepada anak-anak mereka bahwa mereka akan lebih tertarik dengan nilai-nilai dunia dibandingkan nilai-nilai ilahi.
Standard Allah dari nilai manusia sudah jelas: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (I Samuel 16:7 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Orang tua harus menjalankan prinsip ini kepada anak-anak mereka. Izin dan dukungan bagi anak-anak harus didasarkan atas kasih yang tidak bersyarat dan pada karakter. Jika seorang anak muda sering mendapatkan pujian: "kamu anak kecil yang cantik" atau "sungguh tampan/ganteng kamu," maka mereka sesungguhnya menerima pesan yang salah tentang cara menilai diri mereka. Pujian orang tua harus didasarkan pada karakter dan perbuatan baik anak. Anak-anak harus dipuji dan di dukung ketika mereka jujur, suka memelihara, dan berbagi, ketika mereka menunjukkan integritas, dan ketika mereka secara terus-menerus mencari Allah melalui doa dan pelajaran Alkitab.
Orang tua yang hanya memfokuskan diri kepada daya tarik jasmani juga memberikan nilai-nilai yang salah kepada anak-anak mereka. Anak-anak tersebut akan dengan cepat meniru nilai-nilai orang tua mereka, dan mereka pun juga akan mementingkan nilai-nilai jasmani saja. Ibu-ibu yang tidak berpakaian sopan, dan lebih senang berpakaian seronok dengan celana ketat, rok pendek atau atasan yang pendek akan memberikan kesan yang salah kepada anak-anak mereka. Mereka akan berpikir bahwa cara berpakaian seperti itulah yang merupakan cara berpakaian yang pantas dan terhormat bagi seoang istri dan ibu, dan pesan utama bahwa berpakaian untuk menarik perhatian dan bahkan nafsu birahi. Dengan teladan yang seperti itu maka anak - anak perempuan akan berpakaian di dalam cara yang lebih ekstrim dan lebih lagi dari ibu mereka. Demikian juga halnya dengan anak laki-laki yang akan memiliki pandangan nilai kepantasan dan kehormatan yang sama yang akan dia nilaikan kepada istrinya. Allah, bagaimanapun juga, memberikan standar bagi wanita ketika Ia mewahyukan Paulus untuk menuliskan: "Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah." (1 Timotius 2:9-10 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Prinsip ini, tentu saja, juga berjalan sama bagi para ayah. Ketika pikiran dan nilai dari seorang manusia terfokus pada tampang dan pakaian, anak-anak akan memperhatikannya. Juga, ketika anak-anak melihat bahwa ayah mereka memperhatikan lebih kepada pakaian wanita dan tubuhnya, hal ini juga akan memberikan pesan yang salah. Ya, para istri memang butuh untuk mengetahui bahwa suami mereka mendapatkan mereka sebagai wanita yang menarik, namun anak-anak lebih butuh untuk mendengar bahwa ayah mereka benar-benar menghargai dan menilai ibu mereka dari segi nilai dan karakter ilahi.
Waktu Bersama Allah
Anak-anak harus mendapatkan kesempatan untuk memperhatikan waktu berdoa dan belajar Alkitab orang tua mereka. Hal ini amatlah baik, dan tidak bisa dihindari semenjak anak-anak biasanya menyelinap ke kamar orang tua mereka dan menemukan orang tua mereka sedang berlutut berdoa. Suatu contoh hidup yang baik ini akan memberikan kesan yang baik pula kepada pikiran anak-anak mereka di sepanjang sisa hidup mereka. Hal ini adalah suatu proses yang muncul sejalan dengan mereka mengenali rutinitas doa orang tua mereka sebagai suatu prioritas yang penting di dalam kehidupan sang orang tua.
Ketika orang tua secara konsisten berdoa setiap makan maka anak-anak akan belajar untuk menghormati Allah lebih daripada rasa lapar mereka. Orang tua dapat bahkan mendorong anak-anak kecil mereka untuk tenang selama waktu doa makan, memegang tangan mereka selama berdoa dan menunjukkan kepada mereka tentang bagaimanakah mereka harus menundukkan kepala. Dengan cara seperti ini mereka tidak hanya akan melihat pentingnya nilai-nilai yang dihormati orang tua mereka dengan meletakkan komunikasi dengan Allah sebagai suatu hal yang sangat penting di dalam kehidupan mereka, namun mereka juga akan belajar semenjak usia dini tentang model teladan hidup yang dimiliki oleh orang tua mereka di dalam kehidupan pribadi mereka.
Anak-anak juga belajar dari teladan dengan melihat orang tua mereka mempelajari firman Allah setiap hari. Meskipun memang jauh lebih mudah untuk belajar ketika anak-anak sudah tidur, orang tua juga dapat membantu anak-anak untuk menyukai aktivitas mempelajari Alkitab dengan memberikan variasi perubahan jadwal belajar Alkitab sesekali waktu. Dengan demikian anak-anak dapat melihat teladan mempelajari firman Allah dari orang tua mereka. Hal ini adalah suatu bagian yang sehat bagi perkemangan anak untuk mengetahui bahwa orang tua mereka pada kenyataannya butuh untuk menghabiskan waktu bersama dengan Bapa Sorgawi mereka. Anak-anak pun juga akan mendapatkan keuntungan dari belajar untuk menghabiskan waktu sendiri dengan tenang sementara orang tua mereka belajar. Mereka pun juga akan mengetahui bahwa orang tua mereka selalu ada di dekat mereka dan mengawasi mereka, walaupun mereka dapat melakukan aktivitas mereka sendiri namun mereka tidak boleh untuk menganggu.
Hal yang berkebalikan juga akan terjadi jika anak-anak melihat bahwa orang tua mereka hanya mempelajari firman Allah sekali seminggu ketika berada di gereja. Mereka pun juga akan mengadopsi pola yang sama di dalam kehidupan mereka. Meskipun teladan orang tua mereka, mereka akan memahami bahwa belajar adalah suatu kewajiban and suatu hal yang harus "diusahakan" setiap satu kali seminggu. Hal ini akan sangat berbeda dengan anak-anak yang melihat orang tua mereka mempelajari firman Allah setiap hari. Dengan berjalannya waktu mereka akan meniru pola orang tua mereka di dalam mempelajari Alkitab dan berdoa sebagai suatu hubungan yang dekat dengan Allah yang agung setiap harinya.
Anak-anak harus juga melihat kebiasaan berpuasa di dalam kehidupan orang tua mereka. Hal ini amatlah penting semenjak puasa adalah cara yang baik di dalam mendapatkan bimbingan Allah untuk mendapatkan keputusan atau hal yang paling baik bagi keluarga. Puasa juga berhubungan dengan pertumbuhan rohani anak-anak. Sejalan dengan anak-anak menjadi dewasa dan menghadapi keputusan-keputusan vital yang harus mereka buat, teladan berpuasa orang tua mereka akan menjadi suatu hal sangat menguntungkan. Mereka akan menghormati janji Allah dan secara teratur akan berpuasa bagi alasan-alasan yang tepat: "TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan." (Yesaya 58:11 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Anak-anak yang mempelajari teladan ini dari orang tua mereka akan memiliki suatu teladan yang baik di sepanjang hidup mereka yang akan memberikan kesuksesan sejalan dengan mereka belajar untuk berbalik kepada Allah, bahkan di dalam saat membutuhkan, membuat keputusan dan pertobatan.
Teladan kebiasaan pergi ke gereja dari orang tua juga akan memiliki dampak yang positif dan kuat kepada anak-anak mereka. Orang-orang muda yang melihat orang tua mereka malas ke gereja, atau melihat mereka sering tidak pergi ke gereja akan mulai melihat kegiatan pergi ke gereja sebagai suatu pilihan atau suatu "obligasi" yang terkadang harus dipenuhi hanya untuk menyenangkan Allah atau minister. Hal ini tentu saja adalah suatu kesalahan yang fatal! Sebaliknya jika anak-anak melihat orang tua mereka dengan gembira pergi ke gereja, jarang tidak masuk hanya karena alasan sakit, maka mereka akan mulai menghormati keinginan orang tua mereka yang murni untuk mempelajari lebih tentang Allah dan jalan hidupNya.
Sejalan dengan berjalannya waktu ketika anak-anak melihat teladan orang tua mereka di dalam hal berdoa, belajar Alkitab, pergi ke gereja, dan berpuasa maka mereka akan menghormati bahwa orang tua mereka menempatkan hubungan yang sangat penting dengan Allah. Memang walaupun teladan yang sangat baik sekali pun tidak akan sepenuhnya menjamin kesuksesan diteruskannya nilai-nilai hidup Allah dari orang tua kepada anak-anak, apalagi suatu teladan yang tidak baik. Teladan yang seperti pada umumnya justru menghambat kemampuan anak-anak untuk menghormati jalan hidup orang tua mereka. Orang tua Kristen haruslah dapat memberikan teladan yang baik di dalam kata-kata dan perbuatan bahwa jalan hidup yang diberikan oleh Yesus Kristus adalah benar-benar jalan menuju kebahagiaan dan kegembiraan.
Bab 6 Menciptakan Kebudayaan Keluarga Yang Terpusat Kepada Allah
Sering sekali terjadi orang tua mengotak-ngotakkan Allah di dalam kehidupan keluarga mereka. Mereka memandang jalan hidup kekristenan sebagai suatu hal yang berhubungan dengan tingkah laku seperti Kristus, acara kebaktian gereja, atau mungkin kegiatan belajar Alkitab sesekali waktu saja. Memang hal ini tidak salah dan merupakan suatu permulaan yang baik, namun kita harus mengetahui bahwa untuk menciptakan kebudaan keluarga yang terpusat kepada Allah kita harus melakukan hal-hal yang lebih. Jika kita memvisualisasikan seluruh kehidupan keluarga kita di dalam sebuah diagram pie, maka kita akan melihat bahwa aspek rohani dari pengasuhan anak pada kenyataannya hanya mendapat persentase yang kecil.
Apakah artinya hal ini? Sederhananya setiap keputusan yang kita buat sebagai orang tua haruslah berkisar pada pertanyaan: "akankah hal ini meningkatkan atau menurunkan kemungkinan bahwa anak saya akan tumbuh "di dalam gambaran Allah?" Mungkin saja seorang ayah melihat suatu pekerjaan sampingan kedua yang dapat membantu keluarga untuk membeli sebuah "kabin" liburan. Tentu saja keluarga akan menghargai kabin tersebut namun pekerjaan kedua ayah tadi akan menyebabkannya menghabiskan sedikit waktu dengan anak-anaknya. Sesungguhnya apakah yang kelihatannya akan membuat anak-anak selalu melihat kepada Allah ketika mereka dewasa? kesenangan akan sebuah kabin di hutan? atau kehadiran seorang ayah yang setia yang menghabiskan waktu setiap harinya dengan anak-anaknya?
Ketika pengasuhan anak di sebuah keluarga di titik beratkan di dalam prioritas yang seperti ini dimana suatu pondasi yang lebih stabil dibangun maka kemungkinan yang cukup besar bahwa anak-anak akan berjalan didalam langkah orang tua mereka akan dapat dicapai. Beberapa tahun yang lalu kita menggantungkan sebuah plakat di tembok rumah kita, dengan suatu ayat Alkitab yang meringkaskan prinsip ini: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Jadi apakah sesungguhnya prinsip-prinsip yang penting yang akan membantu keluarga kita untuk menciptakan suatu kebudayaan yang terpusat kepada Allah? Marilah kita mempertimbangkan lima prinsip yang penting:
Prinsip 1: Pergilah kepada sumber kebudayaan ilahi yang sebenarnya-Allah sendiri
Di dalam dan oleh diri mereka sendiri, orang tua tidaklah memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang cukup untuk membimbing pikiran-pikiran anak-anak mereka yang masih muda untuk berjalan di dalam jalan ilahi. Pola utama pengasuhan anak dari orang tua pada umumnya berasal dari orang tua itu sendiri. Semua orang tua akan memasuki tahun-tahun pengasuhan anak dengan segala kekurangannya yang sama dengan cara mreka dulu dibesarkan. Seberapa besar pun kita menghargai orang tua kita yang pada umumnya telah melakukan yang terbaik bagi kita dari apa yang mereka ketahui, pada kenyataannya tidak seorang pun dari kita yang tumbuh dengan cara pengasuhan yang "tanpa cacat" yang seringkali juga kita adaptasi bagi cara kita membesarkan anak-anak kita. Di dalam hal ini, tidak seorang orang tua pun tumbuh di dalam teladan yang ideal, paling tidak jika kita mau mengurutkannya kembali sampai kepada anak-anak pertama manusia Kain dan Habel.
Bagaimana pun juga, jika kita tidak meletakkan suatu pondasi keTuhanan yang baik bagi anak-anak ketika mereka kecil, maka hal ini akan menjadi lebih sulit ditempuh dan dilakukan ketika mereka sudah beranjak dewasa. Berterima kasihlah bahwa kita dapat berpaling kepada orang tua kita yang sempurna yaitu Allah sendiri dan meminta bantuanNya untuk menolong kita atas kekurangan yang kita miliki. Allah menceritakan kepada kita di dalam firmanNya bahwa jika orang tua "tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman." (1 Timothy 5:8 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Allah, sebagai orang tua kita, hidup dengan prinsip yang sama dan juga berkeinginan untuk memberikan kepada kita bantuan yang kita butuhkan jika kita berkeinginan untuk datang kepadaNya.
Orang tua biasanya sering menyadari bahwa mereka tidak memiliki kebijaksanaan/hikmat yang cukup untuk menangani masalah-masalah yang sulit dan penuh frustrasi yang mereka hadapi di dalam memelihara dan membesarkan anak-anak mereka. Di dalam sejarah keluarga saya sendiri terdapat banyak situasi di mana istri atau saya menyadari bahwa keadaan betul-betul berada "diluar jangkauan kita". Namun demikian Allah telah memberikan kepada kita sebagai anak-anak rohaniNya sebuah janji: "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Jika keluarga terjebak pada situasi yang sulit, maka adalah saatnya untuk lebih memfokuskan diri dan lebih bersungguh-sungguh mencari bantuan, hikmat, dan bimbingan Allah. Sekali lagi ketika murid-murid Yesus dibingungkan oleh ketidak mampuan mereka untuk mengusir setan dari seorang anak muda, Yesus bercerita kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa." (Markus 9:29 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Demikian juga sama dengan masalah-masalah sulit yang ada di dalam kehidupan kita termasuk memelihara dan membesarkan anak. Ingatlah bahwa terdapat beberapa masalah di dalam kehidupan kita yang hanya dapat diatasi dengan "doa dan berpuasa." Pada saat berpuasa kita pada kenyataannya mendekatkan diri kepada Allah, mengakui kelemahan serta kebutuhan kita yang mutlak untuk mendapatkan bimbingan, hikmat, dan pengetahuanNya. Allah berjanji bahwa ketika kita mencari Allah secara sungguh-sungguh dengan berpuasa: "TUHAN akan menuntun engkau." (Yesaya 58:11 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Dan oleh sebab itu kita harus berkeinginan untuk meminta, sehingga kita bisa mendapatkan hal yang kita butuhkan!
Prinsip 2: Berkeinginan untuk mengutamakan anak-anak anda terlebih dahulu dari pada anda.
Hawa nafsu kita, dan dunia di sekitar kita mengajarkan suatu prinsip yang sangat bertolak belakang: "Ketahuilah diri anda sendiri, temukanlah diri anda sendiri, dan peliharalah "sang nomor satu" karena yang lain tidak akan melakukannya." Tetapi apakah yang akan terjadi ketika kita mengikuti nasehat dunia dan membuat diri kita menjadi yang "nomor satu"? Jika kita melakukannya dan mengesampingkan tanggung jawab kita di dalam pemeliharaan anak, maka kita akan menyebabkan suatu celah kosong di dalam kehidupan anak-anak kita yang akan dengan cepat diisi oleh masyarakat ataupun pikiran Setan! Ingatlah, kita dapat menyia-nyiakan pemeliharaan dan pembesaran anak-anak kita, tetapi Setan tidak akan pernah menyia-nyiakan hal tersebut! Ia dengan setia akan menunggu waktu yang tepat untuk mempengaruhi mereka!
Nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi ditujukan khususnya kepada para orang tua. "dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (Filipi 2:4-5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Bagi kebanyakan orang tua yang khususnya kaum ibu, mereka dapat banyak mengingat saat-saat ketika mereka terbangun di tengah malam oleh tangisan bayi mereka yang baru lahir. Jarang sekali terdapat orang tua yang tidak memedulikan tangisan bayi mereka yang baru lahir dengan berpikiran: Saya butuh tidur, dan harus memelihara diri saya sendiri." Kebanyakan orang tua akan secara alami bangun untuk memenuhi kebutuhan jasmani anak-anak mereka jauh di atas kebutuhan mereka sendiri. Namun sayangnya hanya sedikit orang tua yang mengutamakan kebutuhan jangka panjang rohani anak-anak mereka di dalam prioritas keluarga. Orang tua butuh untuk bertanya kepada diri mereka sendiri dari waktu ke waktu: "apakah saya lebih mengutamanakan kebutuhan 'diri sendiri' melebihi kebutuhan anak-anak untuk dibesarkan 'di dalam gambar dan rupa Allah'? Di dalam hal ini orang tua butuh untuk menyisihkan waktu sehingga dapat mencukupi kebutuhan rohani anak-anak. Demikian juga Allah menginginkan para orang tua untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan di dalam mengajari prinsip-prinsip ilahi kepada anak-anak mereka. "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Prinsip 3: Pikiran Yang Ilahi Sebagai Pengaruh Yang Utama Bagi Anak-Anak Anda
Adalah suatu panggilan yang vital bagi umat manusia untuk diberikan tanggung jawab membentuk pikiran anak-anak mereka di dalam gambaran Allah. Kita tidak dapat menyelesaikan hal ini hanya dengan berangan-angan atau berkeinginan. Hal ini membutuhkan suatu investasi yang besar baik dari segi waktu maupun tenaga, dan juga perhatian yang besar terhadap peranan-peranan orang tua sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka. Allah menginginkan para suami untuk benar-benar mendukung istri mereka yang berperan sebagai "pengatur yang ada di rumah" (Titus 2:5). Ketika seorang istri dan ibu dapat menghabiskan waktu mereka sebagai "pengatur dan pengurus rumah" yang sepenuhnya, maka dia akan dapat menciptakan suatu lingkungan yang hangat dan baik ketika ia menjalankan perannya sebagai pribadi yang utama di dalam membentuk karakter anak-anaknya yang masih muda. Menyerahkan anak-anak di usia yang dini (pre school) kepada layanan day care (penitipan anak) pada masa pembentukan karakter akan membawa perubahan yang besar di dalam dinamika pengasukan anak "di dalam rupa Allah". Dari hari ke hari anak-anak di dalam situasi yang demikian akan dengan cepat memiliki cara pandang kehidupan yang dibentuk dan dipengaruhi oleh anak-anak lain dan orang dewasa di sekitar mereka. Sehingga hal ini memimpin para orang tua kepada sebuah pertanyaan, "apakah saya menginginkan pikiran anak kecil saya dipengaruhi dan dibentuk oleh keluarga kita, atau oleh dunia?"
Banyak orang tua akan berkata: "Ya, menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya/full time memanglah ideal, namun sayangnya kita tidak dapat benar-benar melakukannya." Sayangnya, hal ini seringkali memanglah benar bahwa seorang ibu haruslah bekerja supaya keluarga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ada. Bagaimanapun juga kita tidak boleh mengesampingkan Pribadi yang pada kenyataannya dapat membantu dan mendukung kita. Pribadi ini tidak lain adalah Allah sendiri. Ingatlah bahwa Ia tidak terbatas di dalam segala hal, bahkan di dalam kapasitas untuk menyediakan anak-anakNya sendiri. Jika kita dengan tekun mengarahkan permintaan kita kepada Allah dengan selalu mengingatkan Allah bahwa kita sungguh-sungguh menginginkan anak-anak kita tumbuh sebagai orang-orang yang mencintai diriNya dan yang hidup di dalam jalan hidupNya, maka Allah tentu saja akan mendengarkan! Mintalah kepada Allah untuk menunjukkan kepada anda tentang bagaimanakah anda dapat melakukan penghematan atau menurunkan pengeluaran atau meningkatkan pendapatan. Sering kali sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi Allah. Hal ini terjadi jika kita benar-benar mempercayai diriNya, dan meminta kepadaNya berdasarkan keinginanNya: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." (Matius 19:26 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Firman Allah juga menceritakan kepada kita: "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!" (Mazmur 34:10 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Oleh karena Allah mengetahui nilai dari peranan seorang ibu di rumah, maka kita harus percaya kepadaNya sehingga hal ini akan menjadi mungkin. Memang hal ini memiliki arti bahwa sebuah keluarga perlu untuk menurunkan standar kehidupan mereka, namun jika tujuan utama keluarga adalah untuk membesarkan anak-anak di dalam gambar dan rupa Allah maka Allah akan menjamin kita, dan dengan bantuanNya hal itu akan menjadi mungkin!
Banyak pasangan yang mendapati bahwa ketika seorang ibu keluar dari pekerjaan, ternyata keluarga tersebut tidak "berkekurangan" secara finansial seperti yang mereka takutkan. Ketika seorang ibu pekerja berhenti dari pekerjaannya; maka ia pada kenyataannya dapat memotong banyak pengeluaran yang harus ia keluarkan: pembelian mobil bekas, asuransi ekstra, bensin, pakaian tempat kerja, biaya cuci pakaian, makan di restauran dan katering makanan untuk keluarga, dan lainnya. Sering kali kehilangan pendapatan bukanlah hal yang semengerikan seperti yang kita pikirkan pertama kalinya.
Ketika seorang ibu dapat tinggal di rumah secara penuh/full time, pikiran anak-anak kecil yang cepat dibentuk tersebut akan dapat dibimbing dan diarahkan secara dominan oleh seorang ibu dan ayah yang berdedikasi penuh bagi mereka, dan bukannnya oleh dunia. Meskipun masalah-masalah keluarga dapat sangat beraneka ragam, namun jika seorang ibu dapat tinggal lebih lama sebagai full timer di rumah, maka anak-anak akan menjadi jauh lebih baik. Pada saat ini jumlah orang tua yang memilih "home schooling" memang semakin banyak. Mereka ini biasanya adalah orang tua yang memang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sumber pembelajaran. Keputusan ini di ambil oleh karena mereka memperhatikan kualitas dan lingkungan sekolah di dalam masyarakat pada saat sekarang ini. Ya, memang terdapat kasus dimana seorang ibu harus bekerja, dan tidak dapat menyediakan suatu lingkungan yang "ideal" bagi anak-anaknya. Ingatlah dunia yang kita tempati pada saat ini bukanlah dunia yang ideal, dan kita harus mengusahakan solusi yang paling baik bagi permasalahan yang ada di luar kendali kita. Seorang single parent (seorang orang tua yang tidak ada pasangannya) pastilah memiliki suatu beban yang unik di dalam pemeliharaan anak, yang mana hal ini hanya dapat diringankan dengan hubungan yang sangat dekat dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus. Seorang single parent yang sukses akan melakukan hal apapun untuk mencari bimbingan Allah, memohon kepadaNya agar diberikan bantuan dan kemampuan yang ekstra untuk dapat memenuhi kebutuhan rohani dari seorang anak kecil. Allah sendiri memberikan perhatian yang khusus kepada para janda atau orang tua tunggal yang berjuang untuk membesarkan anak-anak mereka "di dalam gambar dan rupa Allah." Allah berkata bahwa diriNya adalah "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;" (Mazmur 68:5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Prinsip 4: Tanamkan suatu konsep bahwa "kita berbeda dari dunia"
Menjadi berbeda dari dunia tidak berarti bahwa umat Kristen "lebih baik" atau "superior" di dalam jalan hidup mereka sendiri. Namun hal ini memiliki arti bahwa umat Kristen paham jika mereka memiliki suatu standar yang berbeda dan suatu panggilan yang berbeda yang mereka harus teruskan kepada anak-anak mereka. Menjadi berbeda dari dunia bukanlah suatu hal yang memalukan bagi umat Kristen; hal ini adalah justru sesuatu hal yang harus mereka syukuri dan perjuangkan! Umat Allah memang unik di dalam banyak hal, dan bahkan disebut "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri." (1 Petrus 2:9 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Menjadi khas-unik tidak berarti bahwa umat Kristen tersebut ganjil, aneh atau mengerikan! Hal ini tidak berarti bahwa mereka memiliki suatu standard yang berbeda yang tidak lain adalah hukum-hukum Allah, dan suatu aturan prioritas di dalam kehidupan yang berbeda: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika anak-anak melihat bahwa orang tua mereka takut atau malu dengan keadaan mereka yang berbeda dari dunia, maka mereka pada kenyataannya menanamkan suatu standar yang salah: yaitu bahwa apa yang dipikirkan oleh orang dunia tentang kita adalah lebih penting daripada apa yang dipikirkan oleh Allah tentang kita.
Kita dapat membantu anak-anak kita menghargai keadaan berbeda dari dunia, dan membantu mereka menghargai jalan-jalan Allah dengan secara terus menerus menekankan kepada mereka keuntungan dari jalan hidup Allah sebagai suatu hal yang berkebalikan dengan upah yang akan mereka dapatkan jika mengikuti jalan dunia. Ya, hal ini memang membutuhkan suatu investasi waktu dan energi yang besar tetapi upahnya benar-benar tidak ternilai!
Prinsip 5: Bimbing Pikiran Anak-Anak Dari Pengaruh Buruk Yang Bertentangan Dengan Allah
Walaupun memang penting bagi kita untuk melindungi anak-anak kita dari pengaruh dan propaganda Setan yang gencar, tetapi kita juga tidak menginginkan mereka tumbuh menjadi orang yang naif dan tidak tahu apa-apa tentang dunia, dan oleh karenanya menjadi mudah diserang oleh instrumen-instrumen Setan. Yesus Kristus memberikan pernyataan yang sama ketika Ia berdoa agar Allah melindungi pengikutNya: "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat." (Yohanes 17:15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Beberapa orang tua, ketika mencari lingkungan dimana mereka akan membeli sebuah rumah atau menyewa sebuah apartemen, pasti akan mengutamakan lingkungan tempat tinggal di mana terdapat banyak anak-anak yang mana anak-anak mereka dapat bermain bersama. Ini adalah pilihan yang sempurna jika anda ingin membesarkan anak-anak yang akan menghabiskan sebagian besar waktu senggang mereka di dalam pikiran dunia. Kita sendiri ketika keluarga kita mencari tempat tinggal, kita pada akhirnya sangat bergembira ketika menemukan lingkungan yang tidak terlalu modern dengan sedikit anak-anak. Apakah hal ini berarti kita ingin mengisolasi anak-anak kami? Tidak sama sekali! Tujuan kita adalah untuk membiarkan anak-anak kita berbaur dengan anak-anak lain di dalam kegiatan yang teratur, terbimbing, dan bukannya di dalam "waktu bebas" yang tidak jelas arahnya.
Ketika anak-anak kami tumbuh, kami mengikutsertakan mereka secara ekstensif pada liga atletik. Dua anak laki-laki dan dua anak perempuan kami ikut serta di dalam kegiatan-kegiatan yang terarah seperti pada tee ball, baseball, softball, sepak bola, senam, balet, dansa tap, dan berenang. Mereka secara aktif berbaur dengan anak-anak dari berbagai macam latar belakang, tetapi yang mana pembauran tersebut "di lakukan dengan bimbingan yang bertujuan pasti". Anak-anak kita berpartisipasi di dalam kegiatan-kegiatan dimana pengajaran dan kerja tim dipusatkan dan ditekankan.
Apa yang kita hindari adalah aktivitas-aktivitas yang tidak terawasi dengan anak-anak tetangga di jalan, atau di hutan-hutan, atau tempat-tempat tongkrongan atau di bioskop, atau bahkan rumah teman ketika orang tua mereka pergi. Kita tidak ingin memberikan anak-anak kita "lampu hijau" bahwa mereka dapat dengan bebas berbaur dengan dunia dan segala pemikiran yang ada di dalamnya seperti yang dituliskan, "karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka." (Efesus 2:2 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini bukan berarti bahwa kita berkeinginan untuk memisahkan anak-anak kita secara total dari dunia; namun kita berkeinginan untuk mengenalkan dunia kepada mereka di dalam cara yang terstruktur dan terkendali.
Walaupun kita memiliki kenalan yang bukan Kristen, namun hanya umat Allahlah yang seharusnya menjadi teman sejati kita, dan kita harus menekankan dan mengajarkan kepada anak-anak kunci pembimbingan Allah yang "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." (2 Korintus 6:14 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini tidak berarti kita berpikir bahwa kita lebih baik daripada yang lain, namun hal ini berarti bahwa kita benar-benar mempertimbangkan firman Allah dan prinsip-prinsipNya secara sungguh-sungguh! Jika kita memenuhi pikiran kita dengan pertemanan yang dekat dengan dunia maka hal ini akan, dengan berjalannya waktu, cenderung untuk mengalihkan fokus kita jauh dari Kerajaan Allah menuju hal-hal yang ada di dalam dunia Setan.
Jika kita mendorong anak-anak kita dan pemuda-pemuda kita untuk secara penuh berkumpul dengan dunia dengan memberikan ijin untuk tidur malam di rumah tetangga, teman dekat, dansa sekolah, dan berpacaran di dalam cara dunia, maka kita akan secara perlahan namun pasti akan mengundang mereka untuk menerima pengaruh dan pikiran dunia. Ingatlah bahwa waktu yang dihabiskan bersama di luar sana adalah suatu faktor pertemanan dengan dunia, dan Allah memperingatkan kita: "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakobus 4:4 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Pertemanan yang dekat dengan dunia akan justru melekatkan kita dengan sistem masyarakat dunia, suatu sistem yang asing bagi umat Allah.
Hal ini tidak berarti bahwa semua "yang ada di dunia" haruslah dijauhi dan dihindari sama sekali. Terdapat banyak orang "baik" di dalam masyarakat yang melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka ketahui tentang bagaimanakah harus hidup di dalam kehidupan yang bermoral. Namun jika tujuan kita di dalam memelihara anak adalah untuk membesarkan generasi "di dalam gambar dan rupa Allah," maka kita akan lebih dapat mencapai tujuan kita jika kita mendorong anak-anak kita untuk menjalin pertemanan mereka dengan mereka yang berjalan didalam jalan yang sama menuju Kerajaan Allah. Ingatlah, setiap aspek dari pemeliharaan anak kita haruslah berkisar seputar pertanyaan: "akankah hal ini meningkatkan atau menurunkan kemungkinan bahwa anak kita akan tumbuh "di dalam gambar dan rupa Allah"?"
Bab 7 Melaksanakan Jalan Allah Di Dalam Tindakan
Semenjak fokus pemeliharan anak di dalam Allah adalah untuk membesarkan anak-anak "di dalam gambar dan rupa Allah", dengan nilai-nilai, pikiran serta jalan hidup Yesus Kristus, sebuah aspek pemeliharaan anak yang vital adalah dengan membangun karakter anak-anak melalui kegiatan dan interaksi keluarga.
Kebanyakan anak-anak tumbuh dengan dipengaruhi oleh masyarakat sekitar melalui terlalu banyaknya nilai-nilai yang ditanamkan oleh sistem sekolah, hiburan-hiburan film dan televisi yang mengandung pelajaran-pelajaran yang dipelintir dan pengaruh teman. Orang tua haruslah berusaha untuk menghindarkan efek jelek dari masyarakat yang tidak bertuhan dengan ajaran yang penuh kasih dan teladan yang benar. Dan untuk itu suatu komponen tambahan dibutuhkan, disinilah bagaimana Allah sendiri meringkas pemeliharaan anak:
"Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu" (Ulangan 6:5-8 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Perhatikanlah tentang apa yang diberitahukan kepada orang tua berhubungan dengan prinsip-prinsip ajaran Allah kepada anak-anak mereka, untuk "membuatnya sebagai tanda di tangan." Apakah artinya? Tidak lain adalah melaksanakan prinsip-prinsip Allah "sebagai suatu tanda di tangan" dengan melakukannya di dalam kehidupan keluarga sehari-hari! Semua ajaran verbal tidaklah akan cukup jika dosis kesehatan dari "pembangunan karakter di dalam tindakan" kurang! Kegiatan keluarga dapatlah menjadi suatu sarana untuk mengajarkan prinsip-prinsip Allah. Ya, anak-anak belajar banyak dari "mendengarkan" (ajaran orang tua) dan "melihat" (teladan orang tua), tetapi terdapat banyak juga yang harus dipelajari dengan "melakukan" (mengaplikasikan prinsip-prinsip ilahi didalam tindakan).
Jadi bagaimanakah kegiatan dan interaksi keluarga cocok dengan hal ini? Kegiatan keluarga sesungguhnya diadakan untuk membangun suatu hubungan keluarga yang kuat dan sehat. Semua hukum-hukum rohani Allah berkenaan seputar pengembangan suatu hubungan yang kuat dengan Allah (mencintaiNya di atas segalanya) dan pengembangan hubungan-hubungan yang sehat dengan sesama (mengasihi yang lainnya seperti diri kita sendiri). Sejalan dengan orang tua mengembangkan sautu hubungan yang hangat, kasih dan aktif dengan anak-anak mereka, mereka meletakkan suatu pondasi bagi suatu hubungan masa depan dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus yang hangat dan aktif!
Secara berbeda, anak-anak yang tumbuh di dalam lingkungan yang steril dengan interaksi antara orang tua/anak yang sangat sedikit tidak siap untuk mengembangkan suatu kemampuan untuk mengidentifikasikan dan mengasihi Allah, yang tidak lain adalah orang tua rohani mereka. Banyak anak-anak yang tumbuh tanpa adanya ikut campur tangan orang tua mereka, demikian juga orang dewasa yang mengalami kesulitan di dalam mengenal Allah sebagai orang tua kita yang utama. Anak-anak yang melihat orang tua mereka sebagai pribadi yang tidak peduli, kasar atau cepat menghakimi akan kebanyakan juga berpikir tentang Allah di dalam cara yang sama.
Sering dikatakan bahwa pertemanan memiliki arti waktu yang dihabiskan secara bersama. Hal ini dapat dikatakan bahwa karakter ilahi yang berkembang mulai masa kanak-kanak pada kenyataan bergantung pada waktu yang dihabiskan antara anak dan orang tua. Saya telah berbicara dengan banyak orang dewasa yang mengaku bahwa salah satu dari hal yang kosong dari kehidupan mereka adalah kurangnya keikutsertaan ibu atau ayah di masa kecil mereka. Mungkin sang ayah bekerja cukup lama dan pulang ke rumah dengan cukup letih, yang biasanya hanya akan menghabiskan waktu di depan televisi atau menghilang untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lain. Atau mungkin ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk karir atau ketertarikannya sendiri sehingga tidak menemukan waktu yang penting bersama-sama dengan anak-anaknya. Apapun keadaannya, tanpa keikutsertaan orang tua, maka banyak sekali kesempatan yang terhilang di dalam tahun-tahun yang penting di dalam kehidupan seorang anak. Anak-anak yang semata-mata ditinggalkan dengan permainan mereka sendiri, yang menghabiskan banyak waktu mereka dengan televisi, teman sekolah, video games, atau Internet akan mulai lebih dekat dan mengenal masyarakat di sekitar mereka sendiri daripada dengan nilai-nilai orang tua mereka.
Sedangkan orang tua yang dapat memberikan waktu berinteraksi dengan anak dengan cukup hangat dan baik akan menemukan banyak kesempatan untuk berbagi jalan hidup Allah dengan anak-anak mereka. Anak-anak akan dapat mempelajari dan memiliki rasa memperhatikan terhadap orang lain, kerja tim, kasih terhadap ciptaan Allah, nilai dari hubungan keluarga yang dekat, dan banyak hal dari kehidupan Kristen yang dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa jalan hidup Allah benar-benar bekerja!
Saat dan kegiatan-kegiatan yang seperti apakah yang dapat digunakan oleh orang tua untuk memberikan bimbingan dan informasi tentang prinsip-prinsip ilahi?
Kegiatan-Kegiatan Rekreasi
Beberapa orang tua sering berasumsi bahwa aktivitas rekreasi di masa kanak-kanak itu sesungguhnya sama adanya antara satu dengan lainnya, namun hal ini kelihatannya tidak seperti itu di dalam cara pandang anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Ketika saya bertanya kepada keempat anak saya tentang acara keluarga apakah yang mereka ingat, dan ternyata didalam kenangan terindah yang pernah mereka alami mereka tidak menyebutkan perjalanan-perjalanan kami ke Disneyland atau taman hiburan yang lain, atau suatu perjalanan yang mengasyikkan ke sebuah pulau Pasifik. Namun justru yang mereka ingat adalah waktu yang mereka habiskan bersama di dalam acara keluarga yang sederhana dimana kita semuanya dapat berkumpul dan saling bercakap dan saling berbagi. Seperti yang dikatakan oleh salah satu anak perempuan saya, bahwa "hal itu lebih banyak berhubungan dengan situasi lingkungan keluarga daripada acara itu sendiri!"
Memang menarik bahwa ternyata uang yang dihabiskan hanya memiliki sedikit pengaruh dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan bersama tersebut. Kegiatan-kegiatan yang sederhana seperti kegiatan jalan-jalan di sepanjang sungai di mana anak-anak kita tumbuh akan dengan cepat dapat diingat. Saat-saat meneliti seekor serangga, atau mendengar bunyi bebek yang berjalan menuruni sungai, atau meneliti berbagai macam jenis tanaman yang tumbuh disekitar pinggiran sungai. Kesempatan-kesempatan ini untuk menikmati dan mengagumi ciptaan hasil karya tangan Allah di suatu siang yang santai untuk memberikan kepada kita suatu suasana ruang kelas yang nyata untuk memberikan pemahaman tentang besarnya pikiran sang Pencipta, sejalan dengan menjelaskan suatu teori dan "agama" yang tidak logis yang disebut evolusi. Waktu yang dihabiskan bersama di dalam percakapan, melompati batu-batuan di sepanjang sungai, dan membantu anak-anak untuk melalui kayu-kayu yang berjatuhan di sepanjang jalan adalah cara lain untuk mengatakan "Saya mencintaimu; saya tertarik kepadamu, dan saya memperhatikan apa yang sedang kamu pikirankan." Tentu saja, orang tua yang sibuk dapat selalu melakukan sesuatu yang lebih berharga di rumah tetapi ingatlah bahwa kebersamaan bersama anak-anak adalah suatu hal yang penting di dalam membangun ikatan keluarga.
Di tembok ruang belajar saya tergantung sebuah foto yang sangat saya hargai. Sebuah foto anak-anak laki saya dan saya ketika menggunakan tas ransal dengan latar belakang gunung-gunung yang ditutupi salju. Foto tersebut diambil ketika kami memutuskan untuk mendaki puncak yang indah dari gunung John Muir Trail di pegunungan Sierra Kalifornia, yaitu ketika anak-anak laki-laki kami masih remaja. Di dalam persiapannya kami memutuskan untuk melakukan suatu aktivitas rutin yang mencakup angkat beban dan berlari. Kita saling termotivasi satu dengan yang lainnya dan selama (latihan rutin) saya mendapatkan diri saya tidak dapat mengangkat dan berlari seberat dan sekuat anak-anak laki-laki saya yang sekarang beranjak remaja! Kegiatan fisik yang sehat ini juga pada akhirnya diminati oleh anak perempuan kami yang terkecil juga! Rasa hormat dan kebersamaan yang kita saling bagi, alami dan rasakan tetaplah menjadi suatu memori yang indah yang akan selalu diingat. Kita bekerja keras, berencana, dan menyelesaikan perjalanan pendakian yang akan selalu kita ingat!
Beberapa saat setelahnya, dua anak kami menemani istri saya dan saya pada suatu perjalanan menyusuri salju menuju puncak tebing pada ketinggian 3.000 kaki menghadap ke Lembah Yosemite/Yosemite Valley di taman nasional yang sekarang dikenal dengan nama Yosemite National Park. Di mulai dengan perjalanan menempuh jalur-jalur bersalju yang jaraknya bermil-mil memang membutuhkan tenaga dan usaha yang besar. Dan ketika kita sudah menyelesaikan perjalanan dan kembali ke mobil di penghujung hari, anak-anak laki-laki kami berkata, "kegiatan-kegiatan seperti inilah yang telah menguras banyak tenaga dan lelah bersama yang memberikan kita kedekatan dan kenangan yang khusus." Sungguh benar hal ini! Hal ini bukanlah kegiatan menghabiskan waktu selama berjam-jam duduk di ruang tamu untuk melihat sebuah film tanpa menggerakkan otot yang akan membangun ikatan keluarga dan nilai keilahian di dalam keluarga. Melainkan hal ini adalah masa kebersamaan yang mengikutsertakan interaksi antar anggota keluarga. Tujuannya adalah bagi para orang tua untuk selalu berusaha "ikut serta" atau menekankan beberapa prinsip pembangunan karakter dimana di waktu yang bersamaan memiliki suatu masa yang indah bersama keluarga.
Jadi banyak kesempatan lain yang ada di mana orang tua dapat memasukkan aktivitas ke dalam kegiatan-kegiatan yang dapat membantu anak-anak mengembangkan karakter yang baik, yang mana juga dapat mengembangkan rasa ketertarikan, pendidikan, dan kesempatan sosial mereka. Mengunjungi lokasi bersejarah, dan museum akan memberikan penjelasan tentang pengorbanan yang telah dilakukan pendahulu kita yang mana hal ini mengajarkan anak-anak untuk menghargai jasa dan pengorbanan orang lain. Dan lagi, acara budaya seperti mengajak anak-anak menghadiri konser musik yang inspiratif akan dapat membantu anak-anak belajar dan menghargai musik dari keseimbangan dan keharmonisan. Dengan sedikit usaha dapat ditandai bahwa Allah menghargai keseimbangan dan keharmonisan di dalam musik seperti juga di dalam ciptaanNya dan segala aspek dari kehidupan ilahi.
Etika Kerja Yang Seimbang
Pada saat ini, anak-anak sering tumbuh dengan salah satu dari dua tingkah laku yang berkebalikan tentang nilai kerja. Beberapa anak mendapatkan dari orang tua mereka suatu asumsi bahwa bekerja adalah suatu hal buruk yang harus dihindari jika mungkin. Banyak sekali orang yang menghabiskan uang ekstra mereka dengan ikut lotere, perjudian kasino atau taruhan olah raga, mencari "taruhan yang besar" yang akan membebaskan mereka dari segala kebosanan kerja. Anak-anak lain melihat orang tua mereka selama bertahun-tahun di dalam keadaan yang kurang begitu sejahtera namun tidak berusaha untuk mengubah keadaan dan gaya hidup yang sulit tersebut.
Sebaliknya, banyak orang tua yang bekerja sangat keras untuk berusaha memajukan kehidupan tetapi mengorbankan anak-anak mereka. Mereka berpikir bahwa jika mereka cukup lama dan keras bekerja, maka pada akhirnya mereka akan memiliki uang yang cukup, anak-anak mereka akan memiliki "hidup yang indah." Namun demikian perlulah diingat bahwa banyak anak-anak yang menerima "mainan-mainan" elektronik dari orang tua mereka oleh karena orang tua mereka memiliki rasa bersalah oleh karena mereka jarang bisa bersama-sama dengan anak-anak mereka akibat bekerja keras. Anak-anak ini sesungguhnya akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari teladan orang tua yang tidak hanya menyediakan bagi mereka kebutuhan jasmani dasar, tetapi juga untuk menyediakan kebutuhan emosional dan rohani dengan memberikan waktu didalam perkembangan proses berpikir, kepribadian, dan rohani mereka.
Kegiatan-kegiatan yang mengikutsertakan orang tua dan anak-anak akanlah dapat membantu memberikan suatu etika kerja yang seimbang di dalam kehidupan anak-anak mereka. Bekerja sama sebagai sebuah keluarga akanlah membantu memberikan nilai bekerja dan juga rasa kerja tim dan "meringankan beban pribadi." Kerja sama akan memberikan rasa kebersamaan "kami" daripada indiviualisma "keakuan", yang mana hal ini memberikan kepada mereka rasa aman di dalam unit keluarga. Di dalam keluarga kita, kegiatan yang sering kita lakukan adalah mengurus halaman rumah. Disana selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan seperti mengambil daun-daun yang berguguran, memangkas tanaman, membersihkan rumput liar, menyapu lantai, dan memotong rumput.
Anak-anak kita sering teringat akan tawa dari kegiatan yang kita lakukan pada Hari Ibu. Itulah hari kesukaan ibu yang tidak lain adalah suatu hari kerja bagi keluarga kita untuk membersihkan halaman. Setelah acara makan pagi yang menyenangkan ketika kartu-kartu buatan tangan dibaca, permintaan ibu pada hari itu adalah agar kita menghabiskan waktu beberapa jam dengannya untuk bunga-bunganya yang berwarna-warni, memangkas semak-semak dan mawar bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Ya, anak-anak mungkin akan lebih memilih untuk berenang atau menikmati kegiatan yang lain, tetapi mereka tentu saja belajar bahwa dengan bekerja bersama mereka dapat membuat ibu mereka dihargai. Demikian juga halaman rumah mereka menjadi indah yang mana kita telah saling membantu dan menikmati bersama. Ibu mereka tetap bekerja dan berlelah bersama dengan kita semua bahkan di hari Ibu sekalipun.
Setiap keluarga pastilah berbeda, dan tidak setiap orang memiliki halaman di rumah yang dapat menjadi fokus bagi anak-anak untuk belajar bekerja bersama. Namun demikian hendaklah di sadari bahwa di dalam rumah atau apartemen pun akan selalu ada kesempatan untuk melakukan suatu pekerjaan. Pada kenyataannya, akanlah selalu terdapat ruang-ruang dan kamar-kamar mandi untuk dibersihkan, jendela-jendela, dan cermin-cermin untuk dilap dan tempat sampah untuk dikosongkan. Suatu kunci yang harus diperhatikan adalah bahwa berikanlah anak-anak anda pekerjaan yang sesuai dengan usia mereka, dimana kedua atau paling tidak satu orang tua ikut menemani.
Sementara kita menginginkan anak-anak kita mengetahui bahwa kontribusi mereka diharapkan sebagai anggota keluarga, kita juga harus mengetahui bahwa rutinitas keluarga dapat digunakan sebagai pelajaran bagi anak-anak untuk mengatur keuangan mereka. Kita memberikan upah yang sesuai dengan jenis pekerjaan mereka, dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan setiap harinya, setiap minggunya, dan beberapa bergantung kepada keinginan anak-anak untuk mengumpulkan uang. Melalui hal ini kita bisa melihat sifat dan karakter dari keempat anak kami: beberapa dari mereka menghabiskan pendapatan yang sedikit pada hal-hal yang kecil, sementara yang lainnya hanya menyimpan dan tidak pernah menggunakan sedikit pun. Dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya sadar bahwa hampir segala hal materi di dalam kehidupan harus didapatkan, dan nafkah yang didapatkan dengan sulit dapat dengan cepat dihabiskan dan terhilang pada hal-hal yang tidak memiliki suatu nilai yang lama atau penting.
Memahami bahwa anak-anak memiliki rutinitas tugas rumah, dan pekerjaan yang sesuai dengan usia mereka, maka hal ini pun juga baik untuk mengembangkan rasa tanggung jawab anak-anak. Hal ini akan menumbuhkan rasa kebersamaan/memiliki kepada unit keluarga, dan dapat membantu mengembangkan rasa kenyamanan individu di dalam menyelesaikan tugas-tugas dan komitmen mereka. Tanggung jawab juga membantu untuk mempersiapkan mereka bagi dunia kedewasaan yang nyata, dimana tugas-tugas perkuliahan dan selanjutnya tugas-tugas di dalam dunia kerja amatlah bagi kesuksesan mereka. Pada akhirnya, konsep yang kuat dari tanggung jawab pribadi akan mempersiapkan mereka secara lebih baik di dalam komitmen mereka kepada Allah, hukum rohani dan jalan hidupNya.
Kepedulian Yang Diperlihatkan Di Dalam Tindakan
Yesus Kristus dan para rasul secara berulang-ulang mengajarkan bahwa pondasi yang sangat penting dari jalan hidup Allah adalah kasih sebagai karakter ilahi. Sang Juru Selamat menyatakan: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Paulus menyimpulkan hal ini dengan baik ketika ia menyatakan: "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat." (Roma 13:10 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Sifat yang khusus dari Yesus Kristus dan Bapa ini dapat dengan baik digambarkan sebagai "wujud dari sikap peduli".
Jika anak-anak kita tumbuh dengan keinginan yang besar untuk mengikuti kita sebagai orang tua mereka di dalam hal mencari Allah dan memiliki kehidupan "di dalam rupaNya," maka adalah penting bagi anak-anak untuk mempelajari sifat "kasih" Allah ini melalui tindakan orang tua! Dengan jelas, perhatian yang diperlihatkan harus dialami dan secara konsisten diperlihatkan dari hari ke hari, dan dari orang tua kepada anak-anak, demikian juga antara suami dan istri. Jika tidak demikian maka tujuan yang diinginkan tidak dapat dicapai. Pada kenyataannya, anak-anak sangatlah kritis di dalam mengobservasi, sering kali mengungkapkan kemunafikan sebagai suatu alasan untuk meninggalkan kepercayaan orang tua mereka. Perhatian kepada orang lain yang konsisten adalah sebuah pondasi dari Kesepuluh Perintah. Empat perintah pertama membutuhkan kasih terhadap Allah, dan enam perintah yang terakhir membutuhkan kasih terhadap sesama.
Yang jarang dipraktekkan adalah suatu pengungkapan perhatian yang butuh dilihat oleh anak-anak kepada orang-orang diluar anggota keluarga atau diluar kerabat dekat. Jika anak-anak hanya dibiasakan untuk memperhatikan anggota keluarga mereka sendiri, maka mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri dan cenderung tidak mempedulikan orang lain. Seorang anak atau orang tua yang melihat suatu kebutuhan dari memberikan kasih hanya di dalam keluarga tidak akan melihat kebutuhan penting dari pekerjaan Allah yang harus dilakukan oleh Jemaat "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." (Mark 16:15 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Yesus memperjelas hal ini, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." (Matius 10:8 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Persepuluhan dan persembahan yang diberikan dengan hati yang rela kepada pekerjaan Allah akan membantu anak-anak untuk menyadari bahwa dunia adalah tempat yang sangat besar dibandingkan dengan keluarga mereka sendiri. Anak-anak dapat secara emosional melibatkan diri mereka dan akan merasa senang ketika melihat bagi kepentingan apakah persepuluhan dan persembahan mereka digunakan, mereka akan menjadi lebih tahu bahwa persepuluhan yang mereka berikan akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Contohnya, ketika anak perempuan kita yang kecil menyadari bahwa persembahan yang ia berikan dapat menutupi biaya percetakan dan pos sebuah buklet bagi pemirsa acara televisi gereja, maka ia memutuskan untuk meningkatkan persembahannya. Amatlah senang untuk mengetahui bahwa putri kami, sebagai seorang individu, memainkan suatu peran yang lebih besar di dalam "Pekerjaan" Allah. Diskusi keluarga dan doa keluarga akan dapat membantu anak-anak muda untuk memfokuskan pikiran mereka kepada suatu gambaran yang lebih besar dari arti dan tujuan kehidupan, bahkan memberikan mereka suatu pandangan yang positif akan suatu rencana yang jauh lebih besar dari keberadaan jasmani kita. Pendekatan orang tua yang tidak menghakimi dan positif akan membantu anak-anak mengembangkan suatu keinginan yang kuat untuk memilih menjadi suatu bagian dari tubuh rohani Kristus sejalan dengan mereka menjadi pribadi yang matang.
Keikutsertaan anak-anak secara individu di dalam memberikan waktu mereka kepada sesama adalah juga suatu elemen kunci di dalam mengembangkan perhatian mereka bagi orang lain. Beberapa tahun yang lalu keluarga kami berpartisipasi didalam acara "Mengadopsi Lansia" bagi jemaat yang sudah berusia lanjut. Pada awalnya kita berpartisipasi di dalam meluangkan waktu bagi lansia yang kesepian. Kita kurang mengetahui bahwa pada kenyataannya terdapat banyak sekali keuntungan yang tidak hanya bagi kita tetapi juga bagi anak-anak kita! Di dalam mempersiapkan kunjungan, kita mengingatkan anak-anak kita bahwa para orang-orang tua di dalam jemaat pada kenyataannya adalah sama dengan kakek nenek mereka semenjak para orang-orang tua tersebut pada kenyataannya memiliki "hubungan" dengan mereka melalui "Bapa rohani" yang sama. Dengan demikian anak-anak dapat melihat orang-orang tua tersebut sebagai kakek nenek mereka sendiri. Selanjutnya anak-anak kami mulai ingin melakukan kunjungan dan mulai mengirimkan kartu-kartu, makanan atau gambar-gambar bagi "kakek-nenek" baru mereka. Anak-anak mendengarkan dengan tenang kisah-kisah yang diceritakan, melihat obyek-obyek menarik yang ditunjukkan kepada mereka, dan mengembangkan suatu ketertarikan kepada suatu masa yang telah lewat yang sebelumnya mereka tidak memiliki ketertarikan terhadapnya. Mereka menikmati kasih dan kehangatan yang diberikan kepada mereka sebagai imbalan atas waktu dan perhatian yang telah mereka berikan!
Jalan Allah Memang Yang Terbaik!
Pengalaman dari membesarkan anak dapat menjadi salah satu tugas yang cukup menantang dan sulit di dalam kehidupan seorang orang tua, namun hal itu memiliki potensi untuk menjadi pengalaman hidup yang paling mengesankan, berharga dan terkaya di dalam kehidupan! Kekecewaan, kegelisahan, dan kekhawatiran mungkin saja banyak, namun tidak ada yang lebih menyenangkan bagi orang tua dibandingkan melihat anak-anak mereka benar-benar menikmati hidup di dalam jalan hidup Allah. Kita memahami bahwa tidak setiap anak yang dibesarkan di dalam Gereja akan "menangkap gambaran" dan berkembang "didalam rupa Allah", tetapi hendaklah kita mengingat bahwa segala usaha kita tidaklah akan pernah terbuang sia-sia! Bahkan jika mereka membelok dari tujuan yang telah dipelajari di rumah, anak-anak yang telah diajari dan menyaksikan jalan hidup Allah dijalankan di masa kanak-kanak mereka akan memiliki pondasi yang dapat digunakan baik pada saat ini maupun di kerajaan Allah.
Tidak terdapat warisan yang lebih kaya yang dapat diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka selain daripada melihat, mendengar, dan mengalami kepenuhan dari berkat yang datang dari memilih kepatuhan dan ketekunan di dalam Allah. Orang tua yang memberikan waktu dan komitmen, yang menunjukkan kasih yang murni dan ketertarikan kepada anak-anak mereka akan mendapatkan suatu upah yang akan memberkati mereka dan anak-anak mereka seumur hidup mereka! "Sesungguhnya, anak-anak adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mazmur 127:3-5 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI).















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.