
(Foto via pinterest)
EKKLESIASTIKA — Pandangan dalam tulisan ini lebih merupakan pandangan pastoral Kristen yang terdiri dari tiga bagian (bagian 2 dan 3 akan menyusul). Tulisan ini sementara dalam tahap pengembangan, namun diharapkan dapat memberi kontribusi dalam percakapan santun seputar praktek dan gerakan LGBTQ. Lebih jauh dari itu semoga membawa pesan pengharapan dalam setiap pergumulan orang dalam melawan ekspansi dosa, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
1. T. Apakah yang dimaksud dengan Kristen?
J. Kata “Kristen” berarti “pengikut Kristus” atau “Mesias.” Menjadi pengikut Kristus berarti seseorang menyadari hakikatnya yang berdosa, dan menerima Yesus Kristus (Firman Tuhan yang hidup) sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Ia memberi diri dalam proses pertumbuhan menjadi sama seperti Kristus dengan pertolongan Roh Kudus, dan hidup sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab di tengah komunitas orang percaya (Gereja) untuk menjalankan tugas dan panggilan sebagai seorang murid Tuhan, menjadi garam dan terang dunia.
2. T. Apakah menolak praktek hubungan sejenis berarti membenci orang yang memiliki kecenderungan itu?
J. Tidak. Bapa Gereja Agustinus menulis bencilah dosa, bukan pendosa. Ini menunjukkan bahwa kita dapat menolak praktek dosa, tapi tetap mengasihi orang yang melakukannya. Hal ini tercermin pula dari karya penyelamatan Allah di kayu salib. Allah menolak dosa, tapi bagi manusia berdosa Ia memberi Yesus Kristus supaya dalam pertobatan dan iman kepada-Nya manusia beroleh keselamatan. Kristus sendiri memberikan teladan tentang hal ini ketika Ia menolak menghukum perempuan yang kedapatan berzinah (lih.Yohanes 8:10, 11).
3. T. Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi sesama manusia. Apakah itu berarti menerima hubungan sejenis?
J. Tidak. Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita mengasihi (agape, kasih tanpa syarat) Tuhan Allah kita dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan kekuatan kita; dan sesama manusia seperti diri kita sendiri (Markus 12:30, 31).
Justru menyebut dosa sebagai dosa dan memanggil mereka yang sedang dalam dosa apapun adalah merupakan ungkapan kasih yang sejati. Sekalipun sakit, jika didengar dapat membawa keselamatan jiwa.
Sedangkan sebaliknya, jika atas nama kasih memberi persetujuan pada apa yang secara konsisten ditolak Alkitab dari awal sampai akhir sebagai dosa sehingga berakhir pada penghukuman kekal, maka ini merupakan ungkapan kebencian yang dibalut kata-kata manis.
Tuhan merancangkan kasih eros (kasih romantika dan ekspresi seksual) dalam bingkai suami-isteri. Namun, kasih eros dalam hubungan suami-isteri perlu juga dilandasi oleh tiga wujud kasih lainnya, yaitu kasih agape, kasih persaudaraan (filia), dan kasih persahabatan (storge). Ketiga wujud kasih ini dapat dipraktekkan terhadap sesama manusia secara luas.
4. T. Apakah Alkitab menyebut hubungan sejenis sebagai dosa?
J. Alkitab pada permulaannya menunjukkan bahwa Allah yang menciptakan seksualitas dan menguduskannya dalam bingkai hubungan seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. (Kejadian 2:21-24)
Rancangan Allah untuk keluarga ini dipertegas oleh Tuhan Yesus ketika ia menjawab pertanyaan orang tentang perceraian:
Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:4-7).
Allah merancang seksualitas (ekspresi kasih romantis: eros) sebagai bentuk hubungan terdalam antara dua manusia yang berjenis kelamin berbeda, yang dikuduskan dalam sebuah pernikahan (dipersatukan Allah). Karena itu, semua praktek seksual di luar itu ditolak sebagai dosa, seperti hubungan seksual sebelum nikah, dengan orang yang bukan isteri atau suami, dengan anggota keluarga dekat, dengan binatang, dengan sesama jenis, dengan kanak-kanak, dengan pemaksaan/ancaman (pemerkosaan), dsb.
5. T. Apakah Tuhan menciptakan ketertarikan sesama jenis?
J. Tidak. Kemerosotan fisik dan mental manusia adalah akibat dosa yang telah masuk ke dalam dunia. Ketika Tuhan telah menyelesaikan karya penciptaan-Nya, Ia melihat bahwa semua itu baik (Kejadian 1:1-28; 2:1-7). Satu-satunya yang disebut tidak baik adalah “jika manusia itu sendiri saja” (lepas dari ciptaan lainnya). Itu sebabnya Tuhan menciptakan perempuan, dari samping Adam, demikian perempuan itu menjadi penolong yang sepadan (sama derajat) dengan Adam.
Ketika Adam dan Hawa berdosa di hadapan Tuhan (Kejadian 3), dosa masuk ke dalam dunia, dan membawa penderitaan dan berbagai kemalangan, termasuk berbagai sakit-penyakit, bencana, dan kematian jasmani.
Namun, oleh hikmat dan kekuatan-Nya, Allah merancangkan bahwa pada waktu penggenapannya, dosa akan dikalahkan dan maut kehilangan sengatnya (lih. 1 Korintus 15:55). Itulah yang terjadi pada Peristiwa Salib yang berpuncak pada kebangkitan Kristus dan diikuti ketuangan Roh Kudus di atas para murid Kristus.
6. T. Di mana secara khusus Alkitab melarang praktek hubungan sejenis?
J. Kitab Imamat secara tersurat melarang laki-laki “tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian” (Imamat 18:22, dengan implikasi pada perempuan). Larangan ini secara tersirat mewarnai cerita-cerita Alkitab sejak Bahtera Nuh (dengan binatang-binatang berpasangan yang masuk ke dalam bahtera), dan yang paling populer kisah Sodom dan Gomorah (Kejadian 19), yang terus menjadi referensi negatif sampai pada tulisan-tulisan Perjanjian Baru.
(Lihat juga pertanyaan di bawah: “Kitab Imamat melarang memakai pakaian dari bahan campuran, ini tidak lagi dipermasalahkan, jadi apakah praktek hubungan sejenis juga dibolehkan?”)
7. T. Apakah praktek seksual antar sesama sejenis merupakan penyakit (kejiwaan) atau budaya?
J. Dari kisah kota Sodom dan Gomorah dapat disimpulkan bahwa praktek ini dapat mempengaruhi budaya suatu masyarakat. Karena dikatakan, “orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: “Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka [kiasan dalam arti seksual] (Kejadian 19:4-5).”
Dalam sejumlah kasus yang mencuat belakangan ini, gerakan LGBTQ di Dunia Barat telah membuat para pebisnis kecil (seperti penjual kembang, fotografer, dan pembuat kue), termasuk pencatat nikah sipil, yang menolak berpartisipasi dan melegitimasi praktek hubungan sejenis lewat jasa dan tugas sipil mereka, telah mengalami tuntutan pengadilan, dikenakan denda besar, bahkan dipenjara.
Aktivis LGBTQ bekerja lewat proses legislasi dan membuat peraturan yang melarang orang-orang yang berumur 18 tahun ke bawah (minor) yang memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis untuk mendapat terapi, sekalipun itu atas kehendak mereka sendiri.
Anak-anak, yang tumbuh kembangnya banyak dibentuk oleh lingkungannya, sejak dari TK telah diajarkan bahwa laki-laki dapat kawin dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.
Karena itu, LGBTQ memiliki pengaruh sosial-budaya, yang nampak dari gerakannya untuk supaya masyarakat umum menerima praktek demikian sebagai hal yang biasa, bahkan dirayakan.
Di Indonesia, ketertarikan seksual terhadap sesama jenis baru-baru ini diklasifikasikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kodokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) sebagai “masalah kejiwaan,” dibedakan dari “gangguan kejiwaan.”
Orang dengan KSJ dapat berfungsi dalam masyarakat dan dunia kerja. PDSKJI mendorong orang-orang dengan KSJ untuk sesegera mungkin mencari pertolongan profesional.1
Dalam pengajaran gereja yang apostolik diingatkan supaya hakikat kemanusiaan orang-orang dengan ketertarikan sesama jenis tetap dihargai, dan mereka tidak boleh diperlakukan dengan tidak adil karena kondisi mereka. Namun, yang harus diwaspadai adalah gerakan-gerakan yang hendak membuat praktek demikian untuk kembali meluas dan membudaya.
8. T. Apa yang dapat dikatakan orang Kristen kepada mereka yang memiliki hasrat seksual yang bertentangan dengan ajaran Alkitab?
J. Pergumulan manusia dengan hasrat seksual mengambil banyak bentuk. Firman Tuhan mengajarkan supaya manusia menolak itu semua dengan mengingat status kita sebagai ciptaan Allah, yang berarti milik-kepunyaan Allah yang diciptakan menurut peta gambar-Nya.
Allah mengasihi manusia sedemikian Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal sehingga menderita, mati di atas kayu salib, untuk menebus dosa-dosa kita manusia. Hal ini yang paling menentukan siapa diri kita sebenarnya; identitas kita yang sebenarnya, tidak hanya di dunia sekarang ini namun juga dalam kekekalan.
Jadi yang paling penting untuk diingatkan bagi setiap orang adalah bahwa manusia berharga di mata Allah, dan Allah telah menunjukkan kasih yang rela berkorban lewat Kristus Yesus.
9. Kitab Imamat melarang memakai pakaian dari bahan campuran, ini tidak lagi dipermasalahkan, jadi apakah praktek hubungan sejenis juga dibolehkan?
J. Tidak. Penjelasannya adalah Kitab Imamat juga melarang umat Allah melakukan zinah (misalnya, Im. 20:10). Apakah karena larangan memakai pakaian dari bahan campuran tidak lagi dipermasalahkan, maka berzinah juga dibolehkan? Tentu tidak. Jadi ada alasan mengapa satu ketetapan tidak lagi dipegang, sementara yang lain tetap dipertahankan.
Sikap terhadap perbuatan yang ditolak oleh Imamat itu juga berubah karena suatu alasan, karena dalam ayat itu disebutkan bahwa pelaku zinah harus dihukum mati.
Injil memberi makna baru terhadap hukuman bagi tindakan dosa. Ketika orang-orang membawa kepada Kristus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, mereka berharap bahwa Ia akan beramai-ramai dengan mereka merajamnya.
Tapi Ia mengembalikan hal itu kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kristus yang seharusnya melemparkan batu pertama, karena Ia tidak berdosa, tapi setelah semua orang itu pergi, Ia juga berkata kepada perempuan itu, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yangmenghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yohanes 8:10, 11).
Umat Kristen memahami bahwa tututan hukum Taurat telah digenapi dalam pengorbanan Kristus di kayu salib, termasuk di dalamnya adalah hukum tentang makanan dan minuman, dan sederet peraturan dalam adat istiadat Yahudi. Namun, hukum moral yang menuntun kehidupan umat percaya tetap dipelihara, bahkan Kristus sendiri mempertegasnya. Contohnya, dalam Matius 5:8 Kristus menegaskan bahwa berzinah tidak hanya dalam tindakan, tetapi jika melihat orang lain dan menginginkannya, itu telah menjadi zinah dalam hatinya). 2
10. Apakah perjuangan melawan dosa adalah hal yang sulit?
J. Masalah dosa seksual dalam segala bentuknya mungkin dialami oleh orang-orang tertentu, sementara yang lain bergumul menghadapi masalah terkait kebencian, dusta, korupsi, dsb.
Hasrat dosa telah menjadi kecenderungan alamiah manusia, jadi adalah wajar mengatakan bahwa secara manusiawi memang sulit.
Namun iman dalam Yesus Kristus dan pertolongan Roh Kudus akan menolong dan menguatkan dan menjadikan orang yang percaya berkemenangan. Orang Kristen, dalam pergumulan dengan dosa, sekalipun ia jatuh, tidak akan sampai tergeletak, sebab Tuhan memegang tangannya (Mazmur 37:24).
Seorang rohaniawan Kristen menuliskan bahwa perjalanan iman orang percaya sejak dari pertobatan adalah pertama, mengaku dosa-dosanya;
kemudian berdoa supaya anugerah Allah dikaruniakan kepadanya;
mengucap syukur atas anugerah Allah itu;
menekuni firman Tuhan yang tertulis, yaitu Alkitab;
meminta petunjuk dari saudara seiman yang memiliki pengetahuan lebih tentang firman Tuhan (mis. kakak rohani atau pendeta, gembala jemaat);
belajar membagikan firman Tuhan itu kepada orang lain;
dan ketujuh, berkhotbah di kumpulan orang, dan/atau melayani Tuhan lewat pelayanan Kristen, bersaksi dalam tindakan sehari-hari, dsb.3















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.