Bangunan batu Cyclopean (Cyclopean Masonry) adalah sejenis bangunan yang dijumpai pada arsitektur Mycenaea, dibangun dengan batu-batu raksasa, yang dengan kasar disusun menjadi satu dengan sangat rapat antara satu batu dengan batu lainnya, dan tanpa penggunaan mortar (semen).
Istilah ini mungkin berasal dari kepercayaan Yunani kuno bahwa hanya makhluk mistis Cyclops yang punya kekuatan untuk memindahkan batu-batu raksasa itu dan mendirikan tembok Mycenae dan Tiryns. Sejarawan Pliny dalam karyanya, Natural History, melaporkan tradisi yang ditulis oleh Aristotle, bahwa Cyclops adalah perancang menara-menara bangunan batu itu, sehingga muncullah istilah Cyclopean.
Fakta nyata bahwa monumen-monumen kuno masih berdiri hingga hari ini merupakan kesaksian dari keahlian mereka. Puing-puing kota kuno, piramid, tembok batu dan pilar-pilar, mereka semuanya dibangun untuk bertahan terhadap ujian waktu, dan dalam banyak kasus, mereka bertahan. Ini dimungkinkan karena material yang mereka gunakan. Batu memiliki sifat ketahanan yang sangat kuat, dan untuk tujuan keabadian ini, mereka digunakan dalam konstruksi. Tidak seperti bahan tiruan sejenisnya – semen, beton, aspal, dan sebagainya – banyak jenis batu memiliki siklus umur hingga ribuan tahun, dan jika sebuah monumen batu, apakah itu tembok, gerbang lengkung, piramida atau struktur lain, dibangun dengan suatu teknik khusus, itu memungkinkan mampu bertahan hingga ribuan tahun ke depan.
Nampaknya para pendiri bangunan ini sangat sadar akan hal ini, dan teknik konstruksi batu mereka yang sangat tangguh tidak dapat disamai oleh teknologi dunia modern masa kini. Teknik itu adalah konstruksi tembok poligonal. Satu-satunya teknik konstruksi yang tahan gempa, bangunan tembok poligonal, atau lebih dikenal dengan bangunan batu (mason) Cyclopean, adalah satu bentuk bangunan batu paling tua yang pernah dikenal oleh manusia. Itu juga yang paling kokoh.
Contoh

Gaya bangunan seperti ini tidak hanya dijumpai di Yunani, tetapi di bagian-bagian dunia lainnya.
Dalam banyak kasus, pencipta bangunan batu-batu raksasa ini "tidak dikenal" dan menjadi subyek perdebatan yang kuat. Diskusi ini semakin sulit jika di area situs tersebut terdapat sisa-sisa pemukiman yang berasal dari zaman yang berbeda dengan aktivitas-aktivitas pembangunannya sendiri.
Dalam beberapa kasus, arsitekturnya menunjukkan gaya bangunan batu yang berbeda, dimana fondasinya seringkali berasal dari periode yang paling awal, yang tersusun dari batu-batu raksasa (yang beratnya mencapai ratusan hingga ribuan ton), ciri-cirinya memiliki ketepatan susunan yang amat presisi dengan sedikit atau tidak ada rongga sama sekali yang tersisa antara batu dengan batu di sampingnya. Lapisan yang dibangun di atasnya cenderung terbuat dari batu-batu yang lebih kecil dengan lapisan bagian atas biasanya menggunakan mortar (atau semen).
Beberapa contoh bangunan Cyclopean:
1. Benteng Mycenae, Yunani



2. Gudang Penyimpanan Atreus, Yunani



Catatan: batu ambang pintu bagian atas diperkirakan memiliki bobot 120 ton.
3. Pemakaman Keramikos, Yunani



4. Messene, Yunani

5. Piramid Menkaure, Giza, Mesir

6. Machu Picchu




Machu Picchu: Batu 12 sudut
7. Cuzco, Peru



Tembok di jalan Hatunrumiyoc, Cuzco. Batu-batu poligonal biasanya memiliki permukaan cembung dan memiliki tepian melengkung (bevel).

Bagian tembok di Cuzco, tidak jauh dari Coricancha. Salah satu batu ini punya 12 sudut.
8. Sachsayhuaman, Peru


Ketepatan susunan batu, bahkan di bagian sudut.







Tembok batu Sachsayhuaman

Perhatikan lengkung sudut potongan batunya.
Dalam film dokumenter True Legend – Technology of the Fallen, tim ahli menyatakan bahwa bagian tembok batu Sachsayhuaman yang tampak di permukaan tanah hanyalah 15-20% dari keseluruhan struktur, sedangkan bagian terbesarnya masih terkubur di bawah tanah.
9. Gornaya Shoria, Russia
Gornaya Shoria (Gunung Shoria) di selatan Siberia




Reruntuhan puing-puing bangunan megalitik raksasa di Russia terdiri dari blok-blok batu terbesar yang pernah ditemukan.
Di selatan Siberia, para peneliti telah menemukan tembok super-raksasa yang terbuat dari batu-batu granit. Beberapa dari granit gigantik ini diperkirakan masing-masing berbobot 3000 ton, dan itu dipotong dengan permukaan mendatar, sudut yang presisi, dan tepian yang tajam.
Batu terbesar yang ditemukan di reruntuhan megalitik Baalbek (Kuil Baal), Lebanon, "Stone of Pregnant Woman" bobotnya 'hanya' 1250 ton. Jadi bagaimana seseorang memotong satu blok batu granit berbobot 3000 ton dengan presisi ekstrem, membawanya ke lereng gunung dan menyusunnya setinggi 40 meter? Menurut versi sejarah prasejarah umum yang diterima, hal ini mustahil dilakukan manusia kera primitif yang tinggal di gua-gua dengan peralatan teknologi yang sangat minim, seperti kapak batu dan tombak.

Stone of Pregnant Woman, Baalbek.

Baalbek, Libanon. Kiri: Stone of Pregnant Woman. Kanan: Baalbek (Kuil Baal), Libanon. Perhatikan batu fondasi bagian bawah, itu berasal dari era Pra-Banjir Besar. Di atas reruntuhan itu, dibangun Kuil Jupiter oleh bangsa Romawi (Pasca-Banjir Besar), perhatikan ukuran batu-batu yang lebih kecil di atas fondasi itu.

Baalbek, Libanon
Menjadi sangat jelas bahwa menurut versi sejarah yang umum diterima, bangunan-bangunan batu ini seharusnya tidak ada. Dan ini hanya sebagian kecil dari reruntuhan-reruntuhan bangunan megalitik yang ada di seluruh dunia.
10. Puma Punku
Balok batu ini memiliki alur selebar 6 mm yang ada lubang-lubang bornya. Ini tidak bisa dibuat dengan menggunakan batu atau alat-alat tembaga. Diameter lubang-lubang kecil ini seragam, dengan tingkat perbedaan tidak lebih dari 0,1 mm. Karena batu itu benda yang getas, itu pasti harus dibor dengan menggunakan suatu alat khusus yang dipasang pada dudukan tetap supaya tidak bergeser, karena goyangan sekecil apa pun akan meninggalkan bekas yang kelihatan.
Bukti-bukti terus menumpuk bahwa suatu teknologi yang sangat canggih telah digunakan di dunia purbakala. Reruntuhan-reruntuhan megalitik ini adalah monumen yang tidak dapat disangkal dari keberadaan suatu peradaban ras raksasa purbakala yang sangat maju yang ada di seluruh dunia. Jadi siapakah mereka dan apa yang terjadi kepada mereka? Mungkinkah mereka musnah karena malapetaka global yang terjadi di seluruh Bumi, seperti Banjir Besar?
Beberapa hal dari bangunan Cyclopean itu begitu spesifik, sehingga nampak ada hubungan antara situs-situs megalitik di Yunani dan Peru, contohnya Sachsayhuaman.
Perbandingan secara langsung menunjukkan kesamaan yang menarik:



David Flynn, mengemukakan teori bahwa masifnya bangunan-bangunan para raksasa ini sepertinya memang bertujuan untuk menghadapi suatu malapetaka global: gempa bumi dan Air Bah. Ini sepertinya dikonfirmasi dengan banyaknya penemuan-penemuan bangunan megalitik yang tertimbun di dalam tanah. Dari dokumen-dokumen Ibrani kuno, seperti Kitab Henokh dan Kitab Para Raksasa, ada tercatat bahwa Tuhan menyatakan akan menghancurkan seluruh dunia ini dengan air bah. Pengumuman ini sampai juga ke telinga-telinga para raksasa itu.
"Juru tulis, Henokh, memberikan Mahway salinan tablet lainnya yang ada tulisan tangannya sendiri (Henokh). Tulisan di atas tablet itu berbunyi: di dalam nama Elohim yang besar dan kudus, pesan ini dikirim kepada Shemihaza (Pemimpin 200 Malaikat Pengawas yang memberontak) dan semua rekan-rekannya. Biarlah diketahui oleh kamu (para raksasa dan monster) bahwa kamu tidak akan dapat meloloskan diri dari penghakiman dari segala hal yang telah kamu perbuat, dan bahwa istri-istrimu, anak-anak mereka, dan istri-istri anak-anak mereka [tidak akan lolos], dan bahwa karena percabulanmu di atas Bumi, telah tiba atasmu penghakiman surgawi. Tanah ini menangis dan berkeluh-kesah mengenai kamu dan perbuatan-perbuatan anak-anakmu dan mengenai kerusakan yang telah kamu perbuat. Hingga malaikat surgawi Raphael, tiba, lihatlah, kehancuran sedang datang oleh air bah yang akan menghancurkan segala makhluk yang hidup, baik di padang gurun dan lautan. Arti dari [mimpi/hal ini adalah jalan penghakiman] karena semua kejahatanmu."Kitab Para Raksasa
Sejarah Tersembunyi Italia: Reruntuhan Bangunan Cyclopean yang Terlarang (Peninggalan Nephilim Pra-Banjir Besar?)
Istilah Cyclopean berasal dari Cyclops, ras raksasa mata satu yang berasal dari tanah Italia kuno. Bermil-mil tembok batu poligonal prasejarah masih bertahan sampai hari ini di seluruh Italia – puing-puing kuno yang mengagumkan, misterius, dan futuristik sehingga para ahli, sejarawan, filsuf dulunya percaya semua itu dibangun oleh ras manusia raksasa yang sekarang sudah punah, yang disebut "Cyclops." Sangat sedikit yang diketahui tentang para ahli bangunan prasejarah ini dan mahakarya megalitik misterius mereka. Teknik bangunan mereka menyerupaibangunan pra-Inca di Peru: potongan-potongan batu raksasa dengan sudut saling mengunci, disusun tanpa mortar (semen). Seperti di Peru, batu-batu ini bertahan selama ribuan tahun dan akhirnya digali oleh peradaban-peradaban terkemudian seperti bangsa Etruscan dan Romawi. Sangat disayangkan, para sarjana modern mengabaikan puing-puing ini sementara masyarakat dunia pada umumnya tidak menyadari keberadaannya. Para sarjana zaman Victoria mempercayai bahwa itu dibangun oleh orang-orang yang selamat dari Atlantis.

Pintu gerbang prasejarah Cyclopean di Arpino, dibangun dari batu-batu megalitik. Arpino, Italia.
Tersebar di seluruh Latium kuno (wilayah Italia tempat berdirinya Romawi) terdapat puing-puing megalitik yang dibangun dari tembok batu poligon misterius yang sangat mengagumkan, aneh, dan futuristik sehingga selama ribuan tahun dipercaya itu semua didirikan oleh ras para raksasa purbakala, yang sekarang dilupakan.
Ras raksasa yang hilang ini – dikatakan lebih tinggi, lebih cerdas, lebih superior secara umum dibandingkan manusia modern – telah dikenal di sepanjang zaman sebagai "Cyclops," dan bangunan yang mereka ciptakan disebut "Cyclopean."

Pengarang dan peneliti Gary Biltcliffe mempelajari tembok Cyclopean yang dibangun dengan gaya poligonal dengan batu-batu megalitik di Norba, Italia.
Banyak penulis klasik dan sejarawan, termasuk Homer, Hesiod, Plutarch, Thucydides, dan Diodorus Siculus, menyebutkan pemikiran dalam tulisan-tulisan mereka bahwa puing-puing Cyclopean Italia (dan Eropa secara umum) didirikan oleh ras Cyclops yang kini telah punah.

Puing-puing Cycloepan kuno ini bukan di Italia, tetapi wilayah tetangganya, di Tiryns, Yunani.

Pintu Gerbang Singa, Mycenae
"Zaman-zaman sebelum bangsa Romawi ada, tanah permai Italia dihuni oleh bangsa-bangsa yang meninggalkan monumen tak terhancurkan sebagai satu-satunya catatan sejarah mereka. Kota-kota Italia awal yang mengagumkan yang dinamai Cyclopean, tersebar di distrik-distrik tertentu, dan seringkali bertengger seperti sarang rajawali, di puncak-puncak pegunungan, di suatu ketinggian tertentu yang mengundang kekaguman bagi para penjelajah yang kini mengunjungi tempat-tempat itu, dan membingungkan mereka dengan spekulasi mengenai peradaban seperti apa yang telah membangun tempat-tempat yang sulit dijangkau itu sebagai tempat kediaman, dan yang membentengi diri mereka sendiri dengan benteng pertahanan yang luar biasa."Louisa Caroline Tuthill, History of Architecture (1848)
Meskipun melimpahnya bukti-bukti puing-puing Cyclopean yang ada dan para sejarawan klasik yang menuliskan bahwa manusia raksasa Cyclops yang mendirikan itu, namun hanya sedikit sarjana modern yang mempelajari misteri ini secara serius.
Bahkan, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa selama berabad-abad ini di Italia (dan Eropa dan Amerika) nampaknya ada usaha secara halus untuk menutup-nutupi situs-situs arkeologi yang hilang ini – dengan jalan mengabaikannya sehingga menjadi tidak jelas – dan itu terus berlangsung sampai hari ini, sehingga nampaknya seperti para penguasa Elite pemerintah dunia ini tidak ingin misteri puing-puing ini dikenal secara luas.

Tembok megalitik, Alatri, Italia. Photo Gary Biltcliffe.
Bukti pertama dari usaha mengaburkan fakta ini adalah bahwa kebanyakan orang – bahkan sebagian besar orang Italia – tidak menyadari keberadaan puing-puing Cyclopean ini. Banyak orang Italia yang tinggal bersebelahan, atau di kota yang sama dengan puing-puing ini berada tidak memahami pentingnya nilai bangunan-bangunan itu, demikian juga mereka tidak mengenal teknologi, keajaiban dan mistisisme ras manusia prasejarah yang membangunnya. Ini sangat aneh, dengan melihat betapa canggihnya puing-puing prasejarah ini.


Tembok poligonal prasejarah, Pigra, Italia. Graffiti ini menunjukkan ketidakperdulian sebagian besar orang-orang di kota ini akan peninggalan prasejarah para raksasa yang mereka miliki di tengah-tengahnya.
Keanehan lainnya adalah bahwa para pembangunnya, meskipun digambarkan oleh sejarawan kuno sebagai raksasa Cyclops yang memiliki kemampuan fisik, teknologi dan mistis supernatural, namun oleh para sarjana modern, mereka dianggap tidak pernah ada.
Bicaralah dengan para sarjana modern hari-hari ini dan katakanlah bahwa Cyclops adalah ras raksasa yang sesungguhnya membangun monumen-monumen ini – mereka akan mentertawakan Anda, dan menganggap Anda mempercayai dongeng. Mereka lebih percaya bahwa nenek moyang manusia adalah manusia kera. Namun, para sarjana di era Victoria tidak akan mentertawakannya; mereka – kebanyakan para sarjana wanita – punya pikiran yang lebih terbuka dan lebih cerdas. Sarjana-sarjana era Victoria tidak dibodohkan oleh sekolah-sekolah umum, tayangan arus utama televisi dan media massa seperti kita hari-hari ini.
Pintu gerbang Saracena, sebuah mahakarya Cyclopean. Batu-batu raksasa disusun bersama-sama menggunakan teknik poligonal, jauh sebelum keberadaan bangsa Romawi dan Etruscan.
Pada era Victoria, tulang-belulang "raksasa" dan "manusia raksasa" ditemukan di seluruh dunia - dan para sarjana Victoria mengetahuinya. Orang-orang membaca beritanya hampir setiap hari. Surat kabar The New York Times melaporkan ratusan penemuan-penemuan ini, termasuk sisa-sisa kerangka raksasa di Amerika, dengan tinggi kerangka mencapai 2,74 meter. Kebanyakan penemuan-penemuan ini ada di dalam gundukan-gundukan piramida tanah.

Gundukan piramida di Ohio, salah satu dari banyak "gundukan tanah Indian" yang ditemukan di seluruh Amerika Serikat.
Para ahli arkeologi dan antropologi hari ini tidak mengekspresikan ketertarikan yang sama seperti para sarjana abad ke-18, 19 dan bahkan 20 mengenai penemuan kerangka raksasa; sebagian besar karena sudah tidak ada lagi bukti-bukti yang tersisa untuk diteliti. Sangat mengherankan, semua bukti-bukti tulang-belulang raksasa ini entah bagaimana telah menghilang – atau mungkin lebih tepat dengan sengaja dihilangkan – semuanya!
Penjelasan yang umumnya diberikan para ahli atas hal-hal seperti ini rata-rata bertujuan untuk mengaburkan, mengalihkan perhatian atau menolak keberadaan misteri ras raksasa. Contohnya, para ilmuwan menyebutnya "abnormalitas fisik" atau yang disebut "gigantisme", yang mereka katakan menimpa sebagian orang Indian Amerika Utara. Orang Amerika tertinggi yang tercatat menderita karena "penyakit" ini adalahRobert Wadlow (1918 – 1940) yang punya tinggi badan 2,64 meter.

Manusia raksasa, seperti dua orang di foto ini, dikatakan menderita "abnormalitas fisik" yang disebut gigantisme.
Baca juga:
Dongeng memang bisa dibesar-besarkan, dan memang tidak boleh diterima sebagai fakta tanpa adanya bukti. Namun, puing-puing Cyclopean di Italia, dan seluruh dunia, yang semuanya mendemonstrasikan keahlian, kecerdasan, teknologi dan ketepatan yang tak tertandingi, dan semua ukuran-ukuran yang secara proporsi nampaknya "sesuai" dengan manusia raksasa; dikombinasikan dengan legenda-legenda keberadaan ras raksasa yang ada di seluruh kebudayaan-kebudayaan di dunia ini, termasuk yang dijelaskan di dalam Alkitab, seharusnya membuat seseorang menyimpulkan bahwa memang ada kebenaran di dalam dongeng-dongeng dan legenda-legenda ini.
Kejadian 6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. (TB)
Sebenarnya, kita punya sangat banyak bukti-bukti bagi para ilmuwan sekarang ini untuk melakukan penelitian serius dalam usaha untuk mempelajari raksasa Cyclops prasejarah ini. Tetapi mereka tidak melakukannya. Kenapa tidak? Nampak sangat jelas bahwa pemerintah-pemerintah dan universitas-universitas dunia tidak ingin informasi ini menjadi "kebenaran" yang diketahui umum. Keberadaan bangunan-bangunan megalitik teknologi tinggi ini mereka dalilkan sebagai sisa-sisa peninggalan dari ras manusia Pasca-Banjir Besar. Segala teori dan usaha penelitian untuk menghubungkan bangunan-bangunan megalitik ini dengan ras (raksasa) purbakala Pra-Banjir Besar akan ditolak mentah-mentah dan ditutup. Memang benar, informasi ini sepertinya ditindas, ditutup, dimusnahkan dan dinyatakan terlarang untuk dipelajari… dengan sengaja.
Ini akan dibahas pada bagian akhir, namun untuk sekarang kita akan melihat lebih dekat puing-puing Cyclopean. Itu semua nampaknya didirikan oleh para pembangun yang sama. Jika melihat kepada puing-puing yang berserakan di seluruh Italia kuno ini, jelas terlihat bahwa selama zaman prasejarah itu, ras Cyclops (atau istilah manusia raksasa apa pun) memang ada dan mereka mendirikan bangunan-bangunan yang luar biasa – bangunan yang lebih tepat dikatakan berasal dari masa depan yang jauh, bukan berasal dari zaman prasejarah yang primitif. Ini adalah informasi yang disampaikan oleh sejarawan kuno, yang diceritakan kembali dan kembali oleh para filsuf, penulis klasik, arkeolog dan sejarawan.
Harap diingat, bahwa bangunan-bangunan batu di foto-foto ini umurnya telah mencapai beberapa ribu tahun. Ini semua bukan didirikan oleh orang Romawi, bahkan bukan oleh bangsa Etruscan, yang adalah leluhur kuno orang Romawi. Namun monumen-monumen ini masih berdiri kokoh sampai hari ini, membawa kesaksian bisu mengenai kekuatan dan keahlian para pendirinya, dan telah melewati sejarah panjang umat manusia.
San Felice Circeo



San Felice Circeo adalah sebuah kota di provinsi Latina, di wilayah Lazio, Italia tengah.
Assini

Batu-batu yang nampak seperti dipotong menggunakan laser, terpasang sempurna satu dengan yang lainnya, membentuk pola geometris.
Norba




Tembok-tembok yang didirikan di bawah bangunan Romawi tidak menggunakan mortar, hanya dengan menyusun balok-balok batu, sebagian di antaranya memiliki bobot beberapa ratus ton. Bangsa Romawi kemudian mendirikan bangunan mereka di atas reruntuhan fondasi-fondasi bangunan Cyclopean ini.
Alatri



Kota akropolis Alatri, dibangun pada bagian dalamnya dengan dua cincin tembok batu poligonal, dengan lima pintu gerbang yang dua di antaranya masih berfungsi, disebutkan sebagai kompleks Cyclopean paling baru dan paling terpelihara di seluruh Italia.
Arpino



Pietrabbondante


Segni

Bagian dari tembok benteng keliling Signia (Segni). Tembok ini dibangun dengan blok-blok batu poligonal. Pintu gerbangnya merupakan "lengkung tipuan" dari batu penopang, dengan balok ambang yang berat.

Pemandangan podium (panggung) dan Capitolium Signia (Segni) kuno.
Alba Fucens





Cosa



"Mereka yang belum pernah melihat apa yang disebut kota-kota Cyclopean Latium… keajaiban-keajaiban seni prasejarah itu, yang mengagumkan pikiran dengan kehebatan mereka, memenuhinya dengan kekaguman, atau kehebohan yang memancing spekulasi atas kekunoan mereka, ras yang membangun itu, dan kedudukan sosial mereka yang memerlukan benteng yang begitu masif di tempat-tempat yang tidak terjangkau kecuali oleh mereka, sebagai tempat kediamannya; - mereka yang belum memandang kemuliaan mahkota peradaban Italia purba – benteng dan menara lengkung Norba – pintu-pintu gerbang Segni dan Arpino – benteng Alatri – teras-teras Cora – penutup jalan Praeneste, dan karya-karya kolosal bangunan batu yang sama di pegunungan Latium, Sabina, dan Samnium, akan takjub pada pandangan pertama akan tembok-tembok Cosa.Tidak, mereka yang tidak asing dengan gaya bangunan batu ini, akan keheranan saat memandangnya di lokasi, begitu terpencil di daerah yang nampak dari lokasi khususnya. Dia akan memandang pada tembok-tembok balok-balok batu raksasa ini, dalam bentuk poligon tak beraturan, tidak diikat menjadi satu dengan semen, tetapi saling mengunci satu sama lain dengan kerapian yang mengagumkan, sehingga sendi-sendinya hanya berupa garis-garis, yang sia-sia saja bila mencoba memasukkan pisau lipat ke dalamnya: permukaannya begitu halus seperti meja bilyar; dan keseluruhannya menyerupai, pada jarak sedikit jauh, seperti tembok yang baru diplester, yang nampak seperti digores-gores dengan pola-pola misterius."George Dennis, Kota-kota dan Kuburan-kuburan Etruria, London, 1848


Tembok benteng batu kapur bangunan batu poligonal dari koloni Romawi di Cosa, Tuscany, Italia.
Diamnya Para Ilmuwan
Salah satu tujuan-tujuan utama para ilmuwan dan universitas-universitas dunia adalah untuk mempelajari sejarah umat manusia. Namun, ketika puing-puing futuristik seperti ini muncul di era di mana itu seharusnya tidak ada – yaitu, di zaman purbakala – itu membuat para ilmuwan menjadi kehilangan akal. Mereka tidak punya penjelasan mengenai keberadaan puing-puing ini. Jadi mereka mengabaikannya dan menganggapnya tidak ada.
Ini artinya, bukannya mendiskusikan dan mencoba mengumpulkan bukti-bukti bagaimana puing-puing ini bisa ada di dalam kronologi sejarah mereka – dan bukannya memiliki keberanian untuk mengakui bahwa mereka tidak tahu bagaimana puing-puing futuristik ini bisa ada di zaman purbakala – mereka lebih memilih untuk mengabaikannya. Ini benar. Dan ini merupakan tragedi.
Hasilnya adalah, lulusan mahasiswa-mahasiswa universitas dan para doktor tidak diberikan kesempatan untuk mendalami misteri besar puing-puing ini; program-program tayangan televisi sangat jarang menayangkan bangunan megalitik Italia; dan puing-puing ini tidak masuk di dalam daftar program lokasi-lokasi wisata yang dikunjungi perusahaan tourisme. Seakan-akan monumen-monumen megalitik ini dihapuskan keberadaannya.
Monumen-monumen Cyclopean Italia menuntut jawaban dari para arkeolog: Siapa yang mendirikan bangunan-bangunan raksasa ini? Untuk tujuan apa itu didirikan? Apakah ada "jenis manusia lain" yang hidup di zaman purbakala? Jenis manusia seperti apa yang hidup, apakah sejenis Manusia Neanderthal tetapi yang 'sangat maju' dan bukannya 'primitif'?
Apakah ada bukti-bukti yang mendukung pemikiran bahwa ada manusia raksasa yang sangat maju di zaman purbakala?
Monumen-monumen raksasa ini dibangun dalam satu garis lurus melingkari bumi, dengan jarak tertentu antara satu situs megalitik dengan situs megalitik lainnya, yang disebut rasio PI (3.14159265) dan "golden number" (Fibonacci). Diperkirakan, garis ini merupakan garis khatulistiwa purba. Garis lurus melingkari Bumi ini melintasi situs-situs kuno antara lain: Paracas – Nazca – Ollantaytambo – Machu Picchu – Cuzco – Sachsayhuaman – Paratoari – Dogon - Tassili N'ajjer – Siwa – Giza – Petra – Ur – Persepolis – Mohenjo Daro – Khajuraho – Pyay – Sukhothai – Angkor Wat – Preah Vihear – dan berakhir di Pulau Easter, Samudera Pasifik.
Apakah manusia kera primitif yang tinggal di gua-gua itu memiliki kemampuan untuk mengukur jarak-jarak keliling Bumi dan mempunyai teknologi GPS untuk menentukan dengan persis dimana mereka akan mendirikan bangunan monumentalnya? Saya kira tidak. Lalu siapa yang mendirikan bangunan-bangunan megalitik ini? Monumen-monumen megalitik ini tidak dibangun secara sembarangan, tetapi memiliki keselarasan dengan rasi bintang-bintang, Matahari, Bulan dan musim-musim: titik balik matahari musim dingin dan titik balik matahari musim panas.
Tentu saja Alkitab dan dokumen-dokumen kuno sudah memberikan jawabannya. Ataukah para ilmuwan ini "ketakutan" untuk mengakui bahwa Alkitab itu benar?
Alkitab, Kitab Henokh dan Kitab Yobel mencatat peristiwa pemberontakan para malaikat. Mereka ini turun ke Bumi, dan mengawini anak-anak perempuan manusia. Hasil dari perkawinan campuran ini adalah kelahiran makhluk hybrid raksasa Nephilim:
Pada hari-hari itu, para raksasa (Ibrani: Nephilim) telah ada di bumi, bahkan juga sesudahnya, ketika anak-anak Elohim(Ibrani: bene ha-Elohim; malaikat) menghampiri anak-anak perempuan manusia dan mereka telah melahirkan baginya; mereka adalah orang-orang perkasa yang ada sejak lama, orang-orang yang ternama.Kejadian 6:4 (ILT)
Dan terjadilah, setelah anak-anak manusia bertambah banyak pada hari-hari itu, anak-anak perempuan yang cantik dan rupawan telah lahir bagi mereka.Dan para malaikat, anak-anak surgawi, memandangi dan bernafsu kepada mereka, dan berkata satu sama lain, “Lihatlah, kita akan memilih bagi diri kita sendiri istri dari antara anak-anak manusia, dan akan melahirkan anak-anak bagi kita.”Dan Semjâzâ, pemimpin mereka, berkata kepada mereka, “Aku takut bahwa mungkin kamu tidak bersedia melakukan perbuatan ini, dan aku sendiri akan menderita karena dosa besar ini.”Kemudian semua menjawab dia dan berkata, “Kita semua akan bersumpah, dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan, bahwa kita tidak akan membatalkan rencana ini, tapi akan menjalankan rencana ini.”Kemudian mereka semua bersumpah bersama-sama, dan mengikatkan diri satu sama lain dengan kutukan; mereka semuanya ada dua ratus malaikat.Dan mereka turun di Ardîs, yaitu puncak Gunung Hermon; dan mereka menyebutnya Gunung Hermon, karena mereka telah bersumpah di atasnya dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan.Dan ini adalah nama-nama pemimpin mereka: Semjâzâ, yang adalah pemimpin mereka, Urâkibarâmêêl, Akibêêl, Tâmiêl, Râmuêl, Danel, Ezêqêêl, Sarâqujâl, Asâêl, Armers, Batraal, Anânî, Zaqêbê, Samsâvêêl, Sartaêl, Turêl, Jomjâêl, Arâzjâl.Ini adalah pemimpin dua ratus malaikat, dan semua yang lainnya ada bersama mereka.Kitab Henokh 6:1-8
Dan mereka mengambil bagi diri mereka sendiri istri, dan masing-masing memilih untuk dirinya sendiri seseorang, dan mereka mulai mendekati perempuan-perempuan itu, dan bersetubuh dengan mereka, dan mengajari mereka mantera dan ilmu sihir, dan memperkenalkan mereka cara pemotongan akar-akaran dan kayu-kayuan. Dan mereka mengandung dan melahirkan raksasa besar yang tingginya tiga ribu ells (300 hasta ~ 135 meter).Kitab Henokh 7:1,2
Dan terjadilah ketika anak-anak manusia mulai bertambah banyak di muka bumi dan anak-anak perempuan lahir bagi mereka, anak-anak Allah memandang mereka pada suatu tahun dalam Yobel ini, bahwa mereka itu cantik-cantik untuk dipandang, dan mereka semuanya mengambil bagi diri mereka sendiri istri-istri sesuai pilihan mereka, dan mereka melahirkan bagi mereka anak-anak lelaki dan mereka itu raksasa-raksasa.Kitab Yobel 5:1
Kitab Henokh memberitahukan kepada kita bahwa para malaikat yang jatuh ini mengajarkan "pengetahuan Surgawi yang terlarang" dan menyebabkan banyak terjadinya dosa dan kerusakan di Bumi:
Dan Azâzêl mengajari manusia membuat pedang dan pisau dan perisai dan baju zirah, dan memperkenalkan logam-logam di bumi dan mengajari mereka seni melakukan pekerjaan logam: gelang dan ornamen, cara menggunakan antimoni, dan cara mempercantik alis mata, dan segala jenis batu-batu berharga dan semua zat pewarna. Dan ada kejahatan yang besar dan banyak percabulan, dan mereka berdosa, dan semua jalan hidup mereka rusak. Amêzârâkmengajarkan semua ilmu sihir dan cara memotong akar-akaran, Armârôs cara melepaskan mantera sihir, Baraq’âlastrologi, Kôkâbêl pengetahuan akan tanda-tanda, dan Temêl mengajarkan cara melihat bintang-bintang, dan Asrâdêlmengajarkan lintasan bulan serta tipu muslihat manusia.Kitab Henokh 8:1-3
Lihat apa yang telah dilakukan Azâzêl, bagaimana dia telah mengajarkan segala hal yang jahat di bumi dan telah menyingkapkan rahasia kekal yang tersimpan di surga. Dan Semjâzâ yang kepadanya telah Engkau berikan kuasa untuk menjadi kepala rekan-rekannya telah memperkenalkan ilmu sihir. Dan mereka telah pergi bersama-sama kepada anak-anak perempuan manusia dan telah tidur dengan mereka, dengan wanita-wanita itu, dan telah mencemarkan diri mereka, dan telah menyingkapkan kepada mereka segala jenis dosa. Dan wanita-wanita itu telah melahirkan raksasa, dan dengan demikian seluruh bumi telah penuh dengan darah dan kejahatan.Kitab Henokh 9:6-9
Dan ini adalah kepala para malaikat, nama-nama kepala seratus dan kepala lima puluh dan kepala sepuluh.Nama yang pertama Jeqûn; dia adalah yang telah menyesatkan semua anak-anak malaikat kudus, dan yang memimpin mereka turun ke bumi, dan yang menyesatkan mereka melalui anak-anak perempuan manusia.Dan yang kedua disebut Asbeêl; dia adalah yang telah mengajarkan anak-anak malaikat kudus rencana jahat, dan telah menyesatkan mereka dengan mencemarkan tubuh mereka melalui anak-anak perempuan manusia.Dan yang ketiga disebut Gâdreêl; dia adalah yang mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan yang mematikan, dan yang menyesatkan Hawa, dan yang menunjukkan kepada anak-anak manusia senjata-senjata yang mematikan, baju zirah dan perisai dan pedang untuk berperang, dan semua senjata-senjata kematian kepada anak-anak manusia.Dan dari tangannya, mereka telah pergi untuk melawan mereka yang diam di bumi, dari waktu itu dan untuk selamanya.Dan yang keempat disebut Pênêmû; dia telah mengajarkan anak-anak manusia hal-hal yang pahit dan manis, dan mengajarkan mereka semua rahasia kebijaksanaan mereka.Dia mengajarkan manusia menulis dengan tinta dan kertas, dan karenanya banyak terjadi dosa dari kekekalan sampai kekekalan dan sampai hari ini.Dan yang kelima bernama Kasdejâ; dia telah mengajarkan anak-anak manusia semua pukulan jahat oleh roh dan setan-setan, pukulan terhadap janin di dalam rahim, sehingga keguguran, dan pukulan untuk menyerang jiwa, gigitan ular, dan pukulan yang dilakukan pada siang hari, dan anak ular yang namanya Tabâ’t.Kitab Henokh 69:3-12
Filsuf Yunani Plato, dalam tulisannya Critias dan Timaeus, menggambarkan dengan tepat adanya semacam ras manusia 'sangat maju' yang hidup di sebuah pulau benua 'Atlantis.' Dia menyebutkan Atlantis itu sebuah kerajaan sangat maju pada zaman Pra-Banjir Besar yang tumbuh subur selama ribuan tahun di sebuah benua yang sekarang sudah tenggelam ke dalam Lautan Atlantik, yang dari padanya nama itu diambil. Plato menuliskan bahwa ras Atlantis memiliki kepercayaan-kebijaksanaan yang sangat spiritual, yang memungkinkan mereka dapat 'berhubungan' dengan keilahian mereka sendiri dan kekekalan 'jiwa' di dalam tubuh fisik mereka. Menurut Plato, melihat 'ke dalam keilahan' memungkinkan ras Atlantis memanfaatkan 'kuasa' yang lebih tinggi.
Orang Mesir kuno, mengutip Plato, mengatakan bahwa bangsa Atlantis memiliki teknologi spiritual kuno yang sangat maju dan hikmat, yang oleh orang Yunani disebut Gnosis (pengetahuan).
Hal ini juga didukung dengan kitab-kitab suci Ibrani kuno, yang menyebutkan bahwa para raksasa Nephilim ini menerima "pengetahuan surgawi terlarang" yang diajarkan oleh ayah-ayah mereka (para malaikat yang jatuh).
Plato mengindikasikan bahwa ingatan akan kekuatan-kekuatan ini diabadikan di dalam kemampuan-kemampuan fantastis yang dimiliki oleh 'dewa-dewa' dari mitologi kuno; mereka adalah makhluk-makhluk mortal yang dipenuhi dengan indera-indera yang diperkuat, keahlian-keahlian dan kemampuan-kemampuan khusus karena hubungan mereka dengan jiwa kekekalan mereka. Seiring waktu, kerajaan Atlantis semakin lemah karena kecenderungan mereka akan hal-hal materialisme, cukup lemah sehingga mereka mulai kehilangan sentuhan keilahian yang memberikan mereka kekuasaan seperti itu. Plato menuliskan:
"Selama banyak generasi… mereka mematuhi hukum-hukum dan mencintai keilahian yang merupakan asal-usul kekerabatan mereka… mereka mengenali kualitas karakter adalah jauh lebih penting daripada kemakmuran mereka waktu itu. Jadi mereka menganggap kemakmuran dan harta-kekayaan mereka dengan enteng, dan tidak membiarkan standar tinggi hidup mereka memabukkan mereka atau membuat mereka kehilangan kendali diri…Namun ketika unsur ilahi di dalam mereka menjadi lemah… dan sifat-sifat kemanusiawian mereka menjadi dominan, mereka tidak dapat lagi menanggung kemakmuran mereka sewajarnya."Plato, Timaeus
Plato melanjutkan penjelasannya bahwa akhir dari Atlantis terjadi beberapa ribu tahun lalu, ketika serangkaian malapetaka alam menenggelamkan benua mereka ke dalam lautan. Sedikit yang selamat meloloskan diri dari kehancuran, melarikan diri, dan menetap di berbagai belahan dunia.
Alkitab, Kitab Henokh, Kitab Yobel, dan Kitab Yashar mencatat, makhluk-makhluk raksasa Nephilim ini sangat ganas dan merusak seluruh Bumi. Itu juga yang akhirnya membuat Tuhan harus memusnahkan seluruh Bumi dengan Air Bah.
Karena tiga hal inilah datang air bah di atas bumi, yaitu, karena percabulan dimana para Malaikat Pengawas bertentangan dengan ketetapan bagi mereka pergi melacurkan diri dengan anak-anak perempuan manusia, dan mengambil bagi mereka istri-istri dari semua yang mereka pilih, dan mereka mengawali permulaan kenajisan.Mereka melahirkan anak-anak lelaki, Naphidim, dan mereka semuanya tidak sama, dan mereka saling melahap satu sama lain: para raksasa membunuh Naphil, dan Naphil membunuh Eljo, dan Eljo [membunuh] manusia, dan manusia [membunuh] seorang akan yang lain.Dan setiap orang menjual dirinya untuk melakukan kejahatan dan untuk menumpahkan banyak darah, dan bumi penuh dengan kejahatan.Dan setelah itu mereka berdosa terhadap binatang-binatang dan burung-burung, dan segala yang bergerak dan berjalan di atas bumi: banyak darah ditumpahkan ke bumi, dan setiap imajinasi dan keinginan manusia memikirkan hal-hal yang sia-sia dan jahat senantiasa.Dan Tuhan menghancurkan segala sesuatu dari atas muka bumi; karena kejahatan perbuatan-perbuatan mereka, dan karena darah yang mereka tumpahkan di bumi, Dia menghancurkan segala sesuatunya.Kitab Yobel 7:21-25
Sesuatu yang aneh terjadi pada masa ini, yaitu pada fajar permulaan sejarah Pasca-Banjir Besar. Kita melihat catatan-catatan, di setiap peradaban kuno di Bumi, yang menggambarkan keberadaan makhluk manusia raksasa.
Tidak diragukan lagi. Mitologi di seluruh dunia berbicara mengenai ras raksasa purba yang memiliki kekuatan manusia super, tinggi badan, dan umur panjang.
Cerita rakyat India menggambarkan keberadaan Danava dan Daitya Rakyat Srilangka berbicara tentang adanya Rakshasa Mesir bercerita tentang pahlawan-pahlawan raksasa Kaldea menyebutkan nama Izdubar Yahudi menuliskan bangsa Emim dan Anakim (Enak), Og dan Goliath Hesiod berbicara tentang Gigantes Homer menulis kisah Ulysses bertemu raksasa Cyclops dengan satu mata di dahinya Titan Yunani adalah para raksasa Di Jerman, Islandia dan Norwegia, ada legenda raksasa Jotnar, Ægir, Mimir and Skaði Legenda Basque menceritakan tentang raksasa yang disebut Jentilak dan Mairuak Santo Christopher adalah seorang raksasa Cerita rakyat Inggris tentang raksasa Gog dan Magog Rübezahl adalah raksasa dari hutan Bohemia di dalam cerita rakyat Jerman Patung-patung raksasa ditemukan di Pulau Easter (Paskah) di Pasifik
Baca juga:
Menurut peneliti abad ke-19, seperti mistisis Russia H.P. Blavatsky, mitos-mitos raksasa ini bukanlah mitos sama sekali, tetapi silsilah dari ras raksasa terdahulu yang ada di Bumi, penduduk Atlantis yang selamat dari Banjir Besar.
Apakah ini menjelaskan kecanggihan dan nilai futuristik puing-puing Cyclopean, tidak hanya di Italia, tetapi seluruh monumen-monumen megalitik prasejarah di Bumi?

Tidak ada yang tahu pasti siapa yang membangun Stonehenge di Inggris dan untuk alasan apa. Stonehenge adalah salah satu puing-puing futuristik yang dibangun di masa prasejarah.

Legenda yang sangat tua dan masih bertahan sampai sekarang mengatakan bahwa seorang raksasa membantu Merlin mendirikan Stonehenge.
"Seorang raksasa membantu Merlin mendirikan Stonehenge. Dari sebuah manuskrip Roman de Brut oleh Wace di Museum Inggris (Egerton 3028). Ini adalah penggambaran paling awal yang dikenal mengenai Stonehenge."Wikipedia
Menurut Blavatsky, penduduk asli Atlantis beberapa kaki lebih tinggi daripada manusia modern, tapi mengalami penyusutan tinggi badan mereka sesudah Banjir Besar. Blavatsky percaya ras Atlantis dulunya memiliki kemampuan misterius yang bisa "melihat" ke dalam jiwanya, mengenali keilahiannya, karena memiliki organ "penerang/mata" yang penuh teka-teki, yang berada di dahi yang akhirnya dikenal sebagai "Mata Cylcops" atau "Mata Ketiga."
Anggota badan yang aneh dan menarik ini, Mata Cyclops atau Mata Ketiga berada di dahi, di atas dan di antara kedua mata. Dari sinilah muncul istilah "Cyclops."


Raksasa Cyclops dengan Mata Ketiga. Mosaik di Villa Romana, Sisilia (Villa Romana di Piazza Armerina).

Bayi cyclops
Video bayi cyclops
Mereka menyebut ini sebagai "kelainan genetika", tanpa memahami bahwa makhluk-makhluk seperti ini dahulu kala memang ada di Bumi. Apakah tidak mungkin bahwa memang DNA Cyclops itu masih diturunkan sampai hari ini? Perhatikan jumlah jari tangan dan kakinya: masing-masing 6 jari!
…perempuan-perempuan akan melahirkan monster-monster…2 Esdras 5:9
Baca:
"Cyclops… dalam mitologi Yunani dan mitologi Romawi akhir, merupakan anggota ras raksasa purba, masing-masing dengan sebuah mata di tengah-tengah dahinya. Nama ini secara luas diartikan "mata bulat"… Hesiod menyebutkan tentang sekelompok Cyclops dan puisi epik Homer menggambarkan kelompok lainnya, meskipun cerita-cerita lainnya juga sudah ditulis oleh dramawan Euripedes, penyair Theocritus dan penyair epik Romawi Virgil."Wikipedia
Sementara dua mata yang kelihatan memandang hal-hal material yang ada di luar, Mata Tunggal memandang ke dalam, melihat kepada hal-hal spiritual – seperti jiwa. Menurut Blavatsky, ketika ras Atlantis berkembang biak seiring waktu, Mata Ketiga berhenti bertumbuh dan akhirnya tertutup oleh daging. Blavatsky menuliskan:
"… 'mata ketiga' dulunya organ fisiologi, dan ... akhirnya, karena semakin hilangnya spiritualisme dan bertambahnya materialisme (sifat spiritual dipadamkan oleh lahiriah), itu menjadi organ yang berhenti bertumbuh ."H.P. Blavatsky, The Secret Doctrine
Meskipun berhenti bertumbuh, Blavatsky percaya bahwa manusia modern, seperti ras Atlantis, masih dapat mengakses organ yang dilupakan ini. Sekitar abad ke-19 dan awal abad-20, para ilmuwan mengidentifikasi organ ini sebagai kelenjar Pineal. Terletak di sepanjang garis tengah geometris tempurung kepala, kelenjar Pineal didefinisikan oleh Kamus Webster sebagai:
"Suatu organ kecil yang biasanya berbentuk kerucut dari otak, dari semua makhluk bertulang belakang yang memiliki tengkorak, yang pada sebagian kecil reptil memiliki struktur seperti sebuah mata, yang berfungsi pada sebagian burung-burung sebagai bagian sistem pengukuran waktu, dan secara teori dianggap sebagai sisa-sisa (dulunya) mata ketiga, suatu organ endokrin, atau tempat keberadaan jiwa manusia (kursi tempat kedudukan jiwa)…"Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary
"Tempat kedudukan jiwa" adalah nama yang paling banyak disebutkan oleh ilmuwan dan filsuf, termasuk filsuf abad ke-17 René Descartes (1596-1650). Descartes bahkan menyebutkan bahwa kelenjar Pineal adalah jembatan yang menghubungkan antara roh manusia dengan tubuhnya.

Marmer kepala Polyphemus, dari abad ke-1 atau 2 M, Museum of Fine Arts, Boston

Potongan patung Cyclops kuno ditemukan di Sisilia, asal-usulnya tidak jelas.
Kanselir Jerman Adolf Hitler percaya dengan Mata Cyclops atau Mata Ketiga. Ini dikonfirmasi oleh Hermann Rauschning, mantan Presiden Senat Nasional Sosialis Danzig. Dalam bukunya "Hitler Speaks" (London, 1939), Rauschning menuliskan:
"Dalam semua tradisi manusia… disebutkan adanya suatu malapetaka kosmis yang sangat besar… Dalam pandanganku hal tersebut dapat diterangkan hanya oleh hipotesa adanya suatu malapetaka yang menghancurkan umat manusia yang sudah memiliki peradaban tingkat tinggi secara menyeluruh. Kepingan-kepingan prasejarah kita mungkin hanyalah reproduksi hal-hal yang berasal dari masa lalu yang jauh, dan semua itu artinya, tidak diragukan lagi, bahwa jalan menuju peradaban telah ditemukan kembali seperti semula…"Adolf Hitler, Hitler’s Secret Conversations
Dalam buku Hitler's Secret Conversation, transkrip dari dialog rahasia dan diskusi yang terjadi di markasnya mulai Juli 1941 hingga November 1944, yang direkam untuk penerusnya, Hitler mengekspresikan kepercayaannya akan semacam peradaban tinggi seperti Atlantis di zaman purbakala. Hitler mengatakan:
"Dalam semua tradisi manusia… disebutkan adanya suatu malapetaka kosmis yang sangat besar… Dalam pandanganku hal tersebut dapat diterangkan hanya oleh hipotesa adanya suatu malapetaka yang menghancurkan umat manusia yang sudah memiliki peradaban tingkat tinggi secara menyeluruh. Kepingan-kepingan prasejarah kita mungkin hanyalah reproduksi hal-hal yang berasal dari masa lalu yang jauh, dan semua itu artinya, tidak diragukan lagi, bahwa jalan menuju peradaban telah ditemukan kembali seperti semula…"Adolf Hitler, Hitler’s Secret Conversations
Gambaran sebuah "Mata Tunggal" – Mata Cyclops – sebenarnya, merupakan hal mendasar yang sudah terbentang selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia, dan itu muncul lagi dan lagi di dalam mitologi-mitologi, patung-patung, ukiran-ukiran, dan lukisan-lukisan di dalam peradaban-peradaban kuno di seluruh dunia.
Pembaca yang mengenal agama-agama Timur akan mengingat bahwa Mata Cyclops atau Mata Ketiga telah mempunya sejarah yang panjang di India, China dan Asia Tenggara, dimana tradisi-tradisi agama Hindu, Buddha dan Tao berkembang. Lebih dari sekedar pemikiran "religius", Mata Ketiga adalah sebuah adat-istiadat "spiritual" yang tidak dipakai lagi yang melebihi sekedar kepercayaan. Mata Ketiga dikenal di seluruh sub-benua India sebagai "urna" atau "trinetra," dan sering ditandai dengan sebuah titik di tengah-tengah dahi, di atas dan di antara kedua mata. Meskipun mistisisme dan penganutnya seringkali berbicara mengenai kuasa okultisme yang misterius, itu sebenarnya menunjukkan pengetahuan spiritual, penglihatan akan dimensi rohani dan kedalaman jiwanya – makhluk kekekalan yang sebenarnya.

Patung Buddha ini ditunjukkan sedang menutup kedua matanya dan membuka Mata Cyclops atau Mata Ketiganya – disimbolkan dengan satu titik di dahi.
Letak kelenjar Pineal di dalam otak manusia, berbentuk seperti mata. Itu juga digunakan sebagai simbol Mata Ketiga atau Eye of Horus (dewa Mesir/Satan).


Kelenjar Pineal, berbentuk seperti buah Pinus (Pine cone). Itu juga sebabnya kelenjar Pineal (atau Mata Ketiga) seringkali disimbolkan sebagaibuah Pinus (Pine cone). Itu ada di seluruh peradaban-peradaban kuno di seluruh dunia, mulai dari Sumeria, Babylon, Yunani, Romawi hingga ke Vatican di Roma.

Buddha dengan kepala Pinus, tongkat Masonic dengan buah Pinus, buah Pinus di Vatican, dewa Anunnaki Sumeria memegang buah Pinus.

Dewa Anunnaki – Sumeria kuno, memegang buah Pinus.

Dewa Marduk (Babylon) memegang buah Pinus dan dewa Bacchus (Romawi) memegang tongkat buah Pinus.

Tongkat dewa Osiris dengan buah Pinus, tongkat Paus dengan buah Pinus.

Tongkat Paus dengan buah Pinus.

Patung buah Pinus terbesar ada di Pelataran Pine Cone Vatican, Roma.

Di belakang patung buah Pinus di Vatican ini ada Sarkofagus (peti mati) Mesir Kuno.
Dari simbol-simbol ini, kita bisa melihat benang merah yang menghubungkan semua peradaban dan kepercayaan, dengan asal-usul mereka yang berasal dari zaman Pra-Banjir Besar.
Apakah ini juga yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, ketika Dia berbicara tentang "Mata Tunggal", yang melaluinya kita memiliki "hubungan" dengan dimensi spiritual? Kepada siapa kita terhubung?
Lukas 11:34 Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik (Yunani: haplous; tunggal), teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat (Yunani: poneros; sakit, buta, buruk, jahat), gelaplah tubuhmu.Matius 6:22-23 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik (Yunani: haplous; tunggal), teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat (Yunani: poneros; sakit, buta, buruk, jahat), gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Freemasons dan "Mata Ketiga" Cyclops
Gambar simbol "Mata Satu" sangat umum di kalangan "Perkumpulan Rahasia" di Barat, yang anggota-anggotanya memiliki filosofi yang luar biasa, aktif, kreatif dengan pikiran yang spiritual. Mata Satu merupakan simbol paling tinggi dan sakral di dalam Freemansonry. Itu ada di "Papan Simbol" Masonic, suatu desain ilustrasi yang dicetak atau berupa lukisan yang menggambarkan lambang-lambang dan simbol-simbol Freemasonry, instruksi kuno yang ada di seluruh "lodge" (pondok organisasi) Freemasons yang digunakan untuk mengajar calon anggota. "Papan Simbol" merupakan peninggalan dari hikmat Masonic yang asli.


Papan Simbol Masonic menampilkan Mata Cyclops.
"Tiga" benda angkasa ditunjukkan: Matahari, Bulan, dan Mata Satu. Matahari dan Bulan memahkotai dua pilar tinggi yang paralel, membentuk segitiga sama sisi, yang puncaknya adalah Mata yang memancarkan sinar cahaya ke bawah.
Mata Satu itu melebihi simbol-simbol lainnya karena ukurannya, posisinya, dan cahayanya yang terang; bahkan itu melampaui Matahari, dan pada kenyataannya itu merupakan sumber cahaya di dalam gambar itu. Karena alasan ini, beberapa Masons menyebutnya "All-Seeing Eye" (Mata Serba Melihat). Yang lainnya mengatakan itu adalah "Mata Allah".
Dalam bukunya The Wonders of the Human Body (1918), Dr. George Washington Carey menuliskan:
"…Mata Serba Melihat… Ini adalah mata Freemasonry, Mata Ketiga. Sementara aku mendapatkan informasi yang kredibel bahwa hanya sedikit Masons yang memahami simbol mereka sendiri, kenyataannya tetap bahwa mereka menggunakannya…"Dr. George Washington Carey, The Wonders of the Human Body, 1918
Mungkinkah bahwa gambar ini, Mata Serba Melihat Masonry, adalah "Mata Cyclops" atau "Mata Ketiga" – yang ada pada diri manusia, yang menunggu untuk distimulasi/dicelikkan? Freemasonry seringkali disebut "Ilmu Pengetahuan Jiwa". Maka ada kemungkinan, bahwa suatu "Tata Cara" atau instruksi-instruksi khusus digunakan mereka untuk membangunkan Mata Cyclops atau Mata Ketiga yang tersembunyi di dalam dahi mereka, yang akan menghubungkan calon anggotanya dengan kuasa yang berasal dari dimensi spiritual – dengan hikmat dan kuasa yang sama yang dimiliki oleh leluhur nenek moyang mereka – para raksasa Cyclops.
Menurut Blavatsky, ras raksasa-raksasa purba mengalami kematian, namun mereka tidak mati sebelum meneruskan pengetahuan "spiritual" mereka dan "kepercayaan akan Mata Ketiga" kepada keturunan-keturunan mereka, kepada peradaban-peradaban paling awal dari manusia:
"…Cyclops… adalah mereka yang telah mendirikan apa yang disebut bangunan-bangunan 'Cyclopean' yang pengerjaannya membutuhkan beberapa resimen Raksasa…Mereka disebut "Para Pembangun," dan Okultis menyebut mereka Inistiator, yang sekaligus meletakkan batu fondasi untuk Masonry yang sesungguhnya."H.P. Blavatsky, The Secret Doctrine
Seorang penjelajah dunia abad ke-19, Charles Boileau Elliott, menuliskan:
"Dalam seluruh reruntuhan bangunan arsitektur Cyclopean yang masih ada… ada kemiripan tunggal yang sulit untuk diceritakan. Diduga bahwa Cyclopean adalah sekelompok Freemasons yang dipekerjakan untuk mendirikan bangunan-bangunan mercusuar, benteng-benteng, dan sebagainya, yang menurunkan seni misterius mereka dari generasi ke generasi; dan bahwa bangunan-bangunan besar mereka yang menakjubkan itu menimbulkan mitos yang dengan namanya itu mereka dihubungkan."Charles Boileau Elliott, Perjalanan di tiga kerajaan besar di Austria, Russia, dan Turkey, Volume 2 (1838)
Monumen-monumen Cyclopean di Italia dan Eropa nampaknya berhubungan dengan Atlantis, Mata Ketiga, dan Freemasonry.
Apakah karena ini maka pemerintah-pemerintah dunia dan universitas-universitas berusaha menindas dan menyembunyikan segala sesuatu yang berhubungan dengan puing-puing misterius yang mengagumkan ini?
Kesimpulan
Jika kita membandingkan deskripsi Plato tentang Atlantis dengan monumen-monumen dunia yang paling purba sekarang ini – seperti Stonehenge, Piramida, bangunan-bangunan megalitik Peru dan Bolivia – ditambah lagi perbandingan dari tulisan-tulisan Kitab Suci yang ada, kita akan sampai pada satu kesimpulan, sejarah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah (yaitu: manusia berasal dari nenek moyang kera; dari manusia primitif yang tinggal di gua-gua dan akhirnya menjadi manusia modern penjelajah luar angkasa) adalah kebohongan.
Apakah umat manusia dijadikan bodoh oleh pemerintah-pemerintah dunia dan perusaahan-perusahaan korup supaya bisa diperbudak dan dikendalikan di dalam suatu sistem dunia yang mereka ciptakan?
Tembok-tembok Cyclopean Italia dan di seluruh dunia telah mengancam pandangan sejarah evolusi "dari manusia gua berubah menjadi manusia modern penjelajah angkasa", yang merupakan agenda mayoritas besar yang dipaksakan oleh pemerintah-pemerintah dunia, universitas-universitas, dan media masa. Monumen-monumen megalitik di Italia dan tempat-tempat lain di dunia menunjukkan adanya keberadaan suatu peradaban super canggih yang ada di zaman purbakala di semenanjung Italia (dan semenanjung Yunani), suatu peradaban yang mungkin beberapa tahun cahaya lebih maju dibandingkan bangsa Estruscan dan Romawi, dan peradaban manusia kuno lainnya di seluruh dunia.
Dengan kata lain, bukannya berasal dari kera, manusia sesungguhnya adalah makhluk Ilahi yang diciptakan oleh Elohim. Setiap manusia memiliki elemen Ilahi di dalamnya, yang menjadikan kita roh yang kekal yang hanya sementara saja tinggal di dalam dunia material. Dan bahwa ada suatu bentuk peradaban tinggi di Bumi, yang tidak terlalu jauh di masa lampau, yang memahami hukum-hukum surgawi dan alam semesta dengan lebih baik daripada manusia sekarang ini. Suatu bentuk ras yang lebih maju dibandingkan kita sekarang ini…
Mengapa ada usaha untuk menutup-nutupi dan menyingkirkan bukti-bukti aktivitas para malaikat yang jatuh dan keturunan raksasa mereka pada masa Pra-Banjir Besar? Apakah ini juga yang menyebabkan semua tulisan yang berhubungan hal tersebut, seperti halnya Kitab Henokhdisensor, karena kitab ini mengungkapkan dengan gamblang aktivitas para malaikat yang jatuh dan keturunan raksasa mereka? Kitab Henokhakhirnya dinyatakan sebagai kitab yang sesat, dilarang untuk dibaca, dibakar dan dimusnahkan oleh Vatican - Gereja Roma Katholik. Selanjutnya mereka "menciptakan" teori Seth yang menyesatkan bahwa para raksasa ini sebenarnya adalah anak-anak Set yang kawin dengan anak-anak Kain. Bolehkah kita berspekulasi, bahwa sebenarnya para penguasa dunia ini adalah keturunan para malaikat yang jatuh itu?
Baca juga:
Referensi:
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.