Gempa Susulan 5,1 SR Guncang Nias Sumatera Utara

Ilustrasi Gempa
Liputan6.com, Nias - Gempa bumi susulan mengguncang Pulau Nias, Sumatera Utara. Lindu kali ini berkekuatan 5,1 skala Richter.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman www.bmkg.go.id, gempa Nias tersebut terjadi pada Minggu (17/4/2016) pukul 04.09 WIB.
Menurut BMKG, pusat gempa berada di koordinat 0.42 Lintang Utara dan 97.97 Bujur Timur. Gempa berjarak 35 kilometer sebelah tenggara kawasan Nias Selatan.
Sementara, kedalaman episentrum gempa berada pada 15 kilometer di bawah permukaan laut. BMKG melaporkan pula gempa tersebut tak berpotensi menimbulkan tsunami.
Sejauh ini, belum diketahui ada tidaknya korban. Termasuk, belum diketahui pula adanya kerugian ataupun kerusakan sebagai dampak dari gempa bumi tersebut.
Tiga jam sebelumnya, gempa berkekuatan 5 SR menggoyang Pulau Nias, Sumatera Utara. Berdasarkan informasi BMKG, gempa Nias tersebut terjadi pada Minggu dini hari tadi sekitar pukul 01.08 WIB.
Menurut BMKG, pusat gempa Nias berada di koordinat 0.37 Lintang Utara dan 97.84 Bujur Timur. Gempa berjarak 37 kilometer sebelah tenggara kawasan Nias Selatan.
====================================
Gempa Ekuador Mengingatkan, Indonesia Dikelilingi Generator Gempa Bumi
ARIEL OCHOA/AFPSebuah bangunan di Guayaquil, Ekuador, hancur akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,8, Sabtu (16/4/2016).
KOMPAS.com - Gempa berkekuatan M 7,8 mengguncang Ekuador pada Minggu (18/4/2016). Pusat gempa berada di subduksi lautan namun berdekatan dengan daratan, pada kedalaman 19,2 kilometer.
Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, mengatakan, gempa yang sejauh ini menelan 77 korban tewas dan sekitar 500 luka-luka itu adalah pelajaran bagi Indonesia.
"Kita seolah dikepung generator gempa bumi dari berbagai arah," kata Daryono kepada Kompas.com kemarin. "Dibanding Ekuador ancaman gempa bumi subduksi lempeng lebih besar dialami negara kita."
Subduksi yang merupakan pertemuan dua lempeng dijumpai di sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Nusantara, dan utara Sulawesi.
Praktis, wilayah sepanjang Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi menghadapi ancaman gempa bumi akibat subduksi lempeng aktif.
Gempa dahsyat akibat aktivitas di zona subduksi antara lain adalah gempa Aceh berkekuatan M 9,1 pada tahun 2004. Gempa itu mengakibatkan tsunami yang menelan korban 230.000 orang dari 14 negara.
Sementara itu, studi tim Institut Teknologi Bandung (ITB), BMKG, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap bahwa tsunami pun pernah terjadi berulang di selatan Jawa.
Ancaman gempa di zona subduksi yang merusak pada masa depan bisa terjadi di wilayah Mentawai. Para ahli gempa memprediksi, kekuatan gempa di wilayah tersebut bisa mencapai M 9.
Temuan tim ITB, BMKG, dan LIPI mengonfirmasi potensi gempa selatan Jawa. Studi Rahma Hanifa pada tahun 2012 dari pergerakan GPS memperkirakan, potensi gempa di selatan Jawa bisa berkekuatan M 8,2 dan M 8,8.
Daryono mengatakan, gempa Ekuador memberi pelajaran akan pentingnya terus meningkatkan pemahaman masyarakat akan risiko bencana.
Setiap gempa memberikan pelajaran tersendiri. Selain gempa Ekuador, gempa Jepang berkekuatan M 6,4 dan 7 yang terjadi pada Kamis (14/4/2016) dan Sabtu (16/4/2016) pun menyimpan pelajaran.
Gempa akibat gerak sesar mendatar di daratan itu mengingatkan Indonesia pada gempa Yogyakarta berkuatan M 6,2 pada tahun 2006. Guncangan gempa yang berlangsung selama 57 detik itu merubuhkan bangunan, menewaskan lebih dari 5.000 orang.
Pakar gempa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, gempa Jepang memberi pelajaran agar Indonesia serius memetakan dengan rinci sumber-sumber gempa.
"Audit infrastruktur dan bangunan tahan gempa juga harus dilakukan. Sejauh ini kita belum menerapkan standar bangunan tahan gempa dengan baik. Rumah-rumah yang telanjur dibangun tanpa memperhitungkan aspek gempa harus diperkuat," katanya seperti dikutip Kompas, Senin (18/4/2016).
Semetara itu, pakar gempa ITB, Irwan Meilano, mengatakan, gempa Jepang mengingatkan untuk selalu waspada pada sumber-sumber gempa daratan.
Ia juga mengatakan, di tengah maraknya pembangunan, sistem peringatan dini bencana perlu diperhatikan. "Selama ini pembangunan kita belum memperhatikan aspek bencana," ungkapnya.
BMKG/Ardiansyah/KOMPASLokasi Pengamatan dalam penelitian paleo tsunami di Cilacap dan Pangandaran
BMKG/Ardiansyah/KOMPASPotensi iwlayah bahaya tsunami daerah Cilacap dengan ketinggian gelombang 8 meter.
=================================================
Tsunami Pernah Berulang di Selatan Jawa
BMKG/Ardiansyah/KOMPASLokasi Pengamatan dalam penelitian paleo tsunami di Cilacap dan Pangandaran
KOMPAS.com - Pantai selatan Pulau Jawa telah lama dicurigai para ahli pernah dilanda tsunami besar pada masa lalu, tetapi bukti tertulis tentang hal ini sangat minim. Penelitian paleotsunami terbaru mengonfirmasi adanya jejak tsunami yang berulang kali terjadi di masa lalu.
Temuan mengenai jejak tsunami di selatan Jawa itu dipaparkan dua tim peneliti yang berbeda di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Rabu (20/1/2015).
Tim peneliti pertama, gabungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan BMKG, menemukan dua deposit terduga tsunami yang ditandai kondisi struktur tanah di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, dan Cilacap, Jawa Tengah. Melalui analisis penanggalan, ditemukan deposit pertama berasal dari tsunami yang terjadi 2006, sementara deposit lebih tua diduga berasal dari tsunami pada 1867.
"Dugaan deposit dibawa tsunami diperkuat dengan adanya mikroorganisme dari lingkungan laut dalam di endapan ini," kata Yan Rizal, geolog dari ITB.
Sementara itu, riset Eko Yulianto, ahli paleotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menemukan lebih banyak lagi deposit tsunami di selatan Jawa dalam bentuk tanah dan kayu. Secara simultan, Eko melaksanakan pengeboran untuk mencari deposit tsunami di Pangandaran dan baru-baru ini di Lebak, Banten.
Di Pangandaran, Eko menemukan jejak tsunami yang diduga terjadi sekitar 400 tahun lalu. Adapun deposit terduga tsunami yang ditemukan di Lebak menunjukkan umur 331 tahun dan 293 tahun dengan toleransi 24 tahun. Itu artinya tsunami terjadi sekitar tahun 1685 dan 1723. Dengan angka toleransi 24 tahun, Eko memperkirakan deposit tersebut berasal dari gempa yang memicu tsunami pada 5 Januari 1699.
Kejadian gempa pada 5 Januari 1699 ini tercatat dalam Katalog Wichman, tetapi tak diketahui di mana sumbernya. Wichman hanya menyebutkan, gempa ini memicu kerusakan hebat di Jakarta hingga Banten, bahkan memicu terjadinya longsor di Gunung Salak dan beberapa wilayah lain.
"Selama ini banyak yang menduga gempa pada 1699 terjadi di darat karena dampak kerusakannya di daratan. Namun, dari temuan deposit tsunami ini, sekarang ada hipotesis baru, gempa ini terjadi di zona subduksi," ujarnya.
Selain itu, Eko menemukan jejak deposit tsunami di selatan Jawa yang terjadi sekitar 1.698 tahun lalu, 2.785 tahun lalu, 3.074 tahun lalu, dan 3.598 tahun lalu. "Tahun ini, kami akan melanjutkan pengeboran dan saya yakin akan makin banyak menemukan deposit tsunami," ucapnya.
BMKG/Ardiansyah/KOMPASPotensi iwlayah bahaya tsunami daerah Cilacap dengan ketinggian gelombang 8 meter.
Dasar mitigasi
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Mochammad Riyadi mengatakan, temuan-temuan itu diharapkan menguatkan bukti sejarah dan sumber-sumber lisan tentang terjadinya tsunami pada masa lalu. Berikutnya, hal itu bisa menjadi dasar sosialisasi di masyarakat untuk kesiapsiagaan tsunami.
Sejauh ini, pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah tentang kerentanan bencana gempa dan tsunami di Indonesia masih minim. Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, hal itu jadi kendala dalam mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Padahal, dari katalog tsunami yang disusun BMKG, tercatat 230 kejadian tsunami yang pernah terjadi di Indonesia. "Masyarakat umumnya hanya mengingat tsunami Aceh 2004," ujarnya.
Menurut Yan Rizal, deposit tsunami yang ditemukan di Cilacap dan Pangandaran memiliki kesesuaian umur sehingga diduga peristiwa tersebut terjadi pada saat yang sama. Bisa disimpulkan, wilayah yang dilanda tsunami meliputi Pangandaran dan Cilacap. "Dari simulasi, saat tsunami tahun 1867, tinggi gelombangnya minimal 8 meter. Landaan tsunaminya luas. Masalahnya, data ini mau diapakan?" kata Yan.
Setelah tsunami Aceh 2004, para ahli meyakini bahwa semua zona subduksi dianggap berpotensi dilanda gempa besar. Studi Rahma Hanifa (2012), dari pergerakan GPS berhasil menghitung potensi gempa di selatan Jawa berkekuatan M 8,2 dan M 8,8. Temuan sejumlah deposit tsunami tua ini, menurut Eko, mengonfirmasi potensi gempa besar tersebut. (AIK)
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : Harian Kompas
http://sains.kompas.com/read/2016/01/22/20201091/Tsunami.Pernah.Berulang.di.Selatan.Jawa?utm_source=RD&utm_medium=inart&utm_campaign=khiprd















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.