Sabtu, 16 April 2016

MEMAHAMI MISTERI KERAJAAN ALLAH


hari pertama dari Milenium Ketujuh yang ditandai dengan selesainya Gerhana Matahari Total Tanggal 20 Maret 2015. Perhatikan, empat artikel ini telah dipersiapkan untuk menyingkapkan Rahasia Hari Kedatangan Tuhan,

Berusahalah untuk memahami wahyu Tuhan Yesus yang telah termeterai berabad-abad, dan yang kini meterainya telah dibuka oleh Tuhan kita (Wah 6). Tujuan tulisan ini adalah menyingkapkan Firman Tuhan bagi mereka yang dituju oleh Kasih Karunia Kristus. Tidak ditujukan kepada mereka yang menolak kasih karunia-Nya, silahkan lanjutkan membaca atau berhenti disini.




Misteri Waktu Tuhan disingkapkan bagi Gereja-Nya di akhir zaman.

“Tetapi ia menjawab: “Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman.” Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” (Daniel 12:9-10)

Bila diperhatikan secara menyeluruh, Alkitab sebenarnya mengangkat suatu topik utama yaitu Kerajaan Allah di bumi. Adalah suatu kenyataan bahwa hal ini merupakan topik utama dari ajaran yang coba diungkapkan oleh Yesus pada kedatangan yang pertama. Dari keempat Injil dapat dilihat, betapa topik Kerajaan Allah merupakan fokus terpenting dari ajaran Yesus Kristus.

Dari awal, Yohanes Pembaptis yang ditugaskan memberitakan kedatangan-Nya, berseru-seru: “Bertobatlah! Kerajaan Allah sudah dekat”. Tuhan Yesus sendiri ketika mengajar Nikodemus berkata: “Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Matius 4:23 mencatat: “Ia mengajar di rumah-rumah ibadah dan memberitakan Kerajaan Allah”. Kepada banyak orang Yesus juga berkata: “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43).

Dan memang banyak pengajaran penting yang Tuhan Yesus sampaikan selalu terkait erat dan menyangkut Kerajaan-Nya. Kotbah di bukit yang terkenal, diawali dengan: “Berbahagialah kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”. Lalu dalam berbagai perumpamaan Tuhan Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah. Bahkan Tuhan Yesus mengajarkan supaya setiap hari kita berdoa agar Kerajaan Allah datang ke dalam hidup kita.

Topik Kerajaan Allah ini begitu penting bagi Yesus untuk diajarkan kepada murid-murid-Nya. Sampai-sampai, setelah Kebangkitan pun, “Selama empat puluh hari, Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 1:3). Namun tentang waktu dan kapan saatnya Kerajaan itu datang adalah sesuatu yang tidak diungkapkan kepada murid-murid pada saat itu (Kis 1:7). Dan hal ini telah menjadi misteri selama berabad-abad, terutama bagi Gereja-Nya yang setia menantikan masa itu tiba.


MISTERI SELAMA BERABAD-ABAD

Kerajaan Allah memang harus tinggal sebagai misteri, salah satu sebabnya adalah karena tidak semua orang sungguh-sungguh mau memahaminya. Alkitab berkata dalam Markus 4:11 “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan…” Mengapa demikian ? Karena memang dunia tidak akan bisa menerima Kebenaran itu seandainya pun disampaikan secara terus terang. Hal ini dijelaskan dalam Alkitab versi “CEV” dengan sangat baik.

“Aku telah menjelaskan rahasia tentang Kerajaan Allah kepada kamu, tetapi kepada orang lain Aku hanya dapat menggunakan kiasan. Sebabnya adalah, orang-orang akan melihat dan melihat, tetapi tidak pernah memperhatikan, mereka akan mendengarkan dan mendengarkan, tetapi tidak pernah menyimak. Jika mereka menyimak, mereka akan berpaling kepada Allah, dan Dia akan mengampuni mereka.” (Mark 4:11-12 Contemporary English Version © 1995 by ABS )

Dalam Markus 4 itu Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Firman tentang Kerajaan Allah itu seumpama benih yang ditabur di berbagai macam tanah. Benih itu adalah Injil Kerajaan Allah itu, yaitu berita sukacita akan Kedatangan Kerajaan-Nya. Sedangkan bermacam-macam tanah, adalah macam-macam hati manusia yang mendengar berita itu. Ada yang mendengar tetapi iblis langsung mencuri Firman itu dan mereka tidak sedikitpun menjadi percaya. Ada yang setelah mendengar, bergembira tetapi tidak berakar dan hanya percaya sesaat saja lalu mengingkarinya. Ada yang setelah mendengar percaya, namun karena himpitan kekuatiran dan tawaran dunia membuat imannya tidak berbuah apa-apa. Dan orang-orang yang percaya adalah mereka yang setelah mendengar mereka menyambut berita itu kemudian mengarahkan hidupnya menyambut kedatangan Kerajaan Allah.

“Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya…” (Daniel 12:10)

Tuhan Yesus tahu, bahwa dunia tidak dapat menerima kedatangan Kerajaan Allah, seperti dunia tidak dapat menerima Roh Kudus (Yoh 14:17). Bagi orang yang tidak dapat percaya, konsep Pemerintahan Allah di Bumi hanya dapat diterima sebagai lambang secara rohani semata, mereka tidak sanggup memahami bahwa secara konkrit Kerajaan Allah akan berdiri di muka bumi, dengan pusat pemerintahan TUHAN di Yerusalem. Bagi orang-orang yang demikian tidak ada pewahyuan atau penyingkapan apapun, tidak seorangpun dari antara mereka akan memahami rahasia Kerajaan Allah, dan hal itu akan tetap tinggal sebagai misteri bagi mereka.

Selain itu, Kerajaan Allah memang harus tinggal sebagai misteri sampai akhir zaman, karena Kedatangan Kerajaan itu sendiri akan terjadi di penghujung zaman. Rahasia itu hanya akan dibukakan kepada hamba-hamba-Nya pada zaman akhir mendekati penggenapannya.

Rahasia itu tidak berguna bila disingkap sebelum waktunya, karena pada dasarnya hati manusia itu degil. Pengkotbah berkata bahwa, jika manusia tahu hukuman terhadap perbuatan jahat masih jauh, maksudnya waktu menghukum yaitu akhir zaman, telah diketahui dari awal dan masih amat sangat jauh, maka hati manusia akan penuh niat jahat (Pkh 8:11). Tetapi penyingkapan yang dibukakan pada waktunya berguna dan akan diperhatikan. Seperti ada tertulis: “perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Ams 25:11)


DISINGKAPKAN BAGI GEREJA-NYA

Kalimat “Firman itu akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman” dalam Daniel 12 ayat 9, sering disalah-mengerti orang sebagai rahasia itu tidak akan terungkap sampai kapanpun. Ini pengertian yang keliru, karena misteri itu hanya akan tersembunyi hingga akhir zaman. Ketika akhir zaman tiba, meterai itu akan ada yang membukanya, yaitu Yesus Kristus – Anak Domba Allah yang telah disembelih seperti dikatakan kitab Wahyu (Wahyu 5:8-9). Lagi pula ayat selanjutnya yaitu ayat 10 dari Daniel 12 tersebut berkata pada akhirnya akan ada orang-orang bijaksana yang akan memahaminya.

“Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya. tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” (Daniel 12:10)

Misteri yang selama berabad-abad tersembunyi pada akhirnya akan dimengerti. Umat Tuhan akan menerima penyingkapan yang sempurna. Berdasar pada penjelasan Alkitab sendiri, suatu pengetahuan yang sempurna akan datang dan membuat banyak orang mengerti.

“Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” (1Kor 13:9-10)

Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata “Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna”. Ketika pengetahuan kita belum sempurna, orang berkata Hari Kedatangan Kerajaan Tuhan adalah sesuatu yang rahasia yang tetap akan tersembunyi. Ketika pengetahuan yang sempurna datang ia berkata, tidak ada rahasia yang akan tetap tersembunyi, yang semula dirahasiakan akan disingkapkan bagi kita.

“Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Markus 4:21-22)

Pelita adalah lambang Firman, kaki dian adalah labang jemaat (Wah 1:20). Jadi maksud dari ayat tersebut di atas adalah: orang menyampaikan Firman bukan supaya sesuatu tetap menjadi misteri dan tidak diketahui, melainkan supaya menerangi jemaat Tuhan. Sebab Tuhan berkehendak semuanya menjadi jelas dinyatakan, semua yang semula rahasia agar disingkapkan bagi jemaat-Nya.

Tuhan Yesus berkata bahwa banyak hal Ia belum nyatakan kepada murid-muridnya karena pada saat itu mereka belum dapat menanggungnya, namun Ia menjanjikan pada saatnya Roh Kudus akan mengajarkan semuanya.

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran… dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yohanes 16:12-13)

Pada ayat di atas dengan jelas Tuhan Yesus berkata bahwa yang akan diberitakan oleh Roh Kudus adalah hal-hal yang akan datang, yaitu pewahyuan untuk akhir zaman. Rasul Paulus memberi penegasan tentang apa yang akan Roh Kudus beritakan kepada kita dalam suratnya kepada jemaat di Korintus bahwa, Roh Kudus akan menyatakan segala sesuatu bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, yaitu rahasia Kerajaan-Nya.

“kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” (1Korintus 2:10)

Jadi pada akhirnya penyingkapan yang sempurna akan sampai kepada orang-orang kudus-Nya. Sebab jika Tuhan sudah berkehendak membuka pintu penyingkapan tidak ada yang sanggup menutupinya lagi, sudah pasti banyak orang akan mengerti. Memang penyingkapan ini mungkin akan mengejutkan banyak orang, tetapi ingat apa yang dikatakan oleh Paulus “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor 2:9). Bersukacitalah jika Anda dituju oleh anugerah Tuhan untuk mengetahui rahasia kebenaran, itu artinya Anda dikasihi.

Salah satu penghalang utama yang membuat gereja Tuhan tidak dapat memahami waktu Kedatangan Tuhan yang sudah sangat dekat adalah keyakinan-keyakinan yang keliru. Oleh sebab itu perhatikan baik-baik cara kita mendengar(Luk 8:18). Berusahalah menyadari apa pesan sebenarnya dari semua wahyu Tuhan, yaitu untuk menyingkapkan kepada kita, bukan untuk merahasiakan sesuatu (Mar 4:21-23). Sementara itu, jika berita Injil Kerajaan ini masih tertutup juga bagi sebagian orang, itu tertutup bagi mereka yang akan binasa. Itu kata Firman Tuhan (2Kor 4:3).


KEYAKINAN-KEYAKINAN YANG KELIRU

Salah satu penghalang utama yang membuat gereja Tuhan tidak memahami Waktu Kedatangan Tuhan yang sudah sangat dekat adalah keyakinan-keyakinan yang keliru. Sebagai contoh banyak orang Kristen beranggapan bahwa, bahkan Tuhan Yesus tidak tahu: kapan Hari Kedatangan-Nya sendiri. Dan banyak orang yang menyimpulkan bahwa, sampai kapanpun tidak akan ada orang yang tahu: kapan Hari dan waktu Kedatangan Tuhan Yesus.

Hal ini dapat dimengerti karena banyak orang tidak mendalami Alkitab Firman Allah secara menyeluruh. Tidak banyak diantara orang percaya, bahkan guru-guru Alkitab yang benar-benar teliti dan tertarik menyelidiki rencana besar Allah yang telah diungkapkan selama berabad-abad melewati nubuat-nubuat di dalam Alkitab. Selain itu pengetahuan mengenai waktu Tuhan memang baru akan disadari pada hari-hari terakhir, jadi hal itu sulit dimengerti di abad-abad yang lampau.

Di akhir zaman ini, semua yang keliru harus diluruskan kembali. Menghadapi datangnya Hari Tuhan yang besar itu, jalan yang berliku-liku harus diluruskan, yang berlekuk-lekuk harus diratakan kembali.

“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya… yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. ” (Lukas 3:4-6)

Pengetahuan kita yang sebelumnya memang tidak sempurna, pemahaman kita tentang nubuat-nubuat memang masih terbatas, dan ketika datang pengetahuan yang lebih sempurna kita harus mau rendah hati menyingkirkan apa yang tidak sempurna. Seperti ada tertulis “pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” (!Kor 13:10).


BENARKAH ANAK TIDAK MENGETAHUI WAKTU KEDATANGAN-NYA SENDIRI?

Banyak orang menggunakan Matius 24:36 untuk menyimpulkan bahwa tidak akan ada orang yang tahu Hari Tuhan, sebab ayat itu berkata malaikat-malaikat di sorga tidak tahu, bahkan Anak pun tidak tahu, jadi mereka berpendapat sampai kapanpun kita tidak akan tahu kapan hari itu akan tiba.

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat 24:36)

Namun pendapat di atas ternyata keliru, ayat ini sebenarnya diterjemahkan secara kurang tepat. Bila melihat bahasa aslinya (Yunani) ayat ini tertulis sebagai berikut:

“Peri de tēs ēmeras ekeinēs kai ōras oudeis oiden, oude oi angeloi tōn ouranōn oude o Hoius, ei mē o patēr monos.” (Mat 24:36 – Greek Transliteration)

Perhatikan di kata yang kita garisbawahi, di teks aslinya dipakai dua kata “ei me” yang artinya “if not” artinya “jika bukan”. Hal ini menunjukkan kata kondisi “jika bukan”, disini tidak dipakai kata “kai” yang berarti “but” atau “tetapi” yang memberi kesimpulan perkecualian. Ayat tersebut sebenarnya secara literal lebih tepat bila diterjemahkan seperti berikut:

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, jika bukan Bapa sendiri.” (Mat 24:36 Terjemahan Langsung)

Jadi Ayat ini berkata, Anak pun tidak tahu jika bukan Bapa sendiri, maksudnya Anak tidak akan tahu, jika Anak itu bukan Bapa sendiri. Sedangkan kita percaya bahwa Anak dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30), jadi Anak adalah Bapa sendiri, dengan kata lain, ayat itu sebenarnya secara tersembunyi memberitahu bahwa Anak tahu tentang waktu itu sebab Anak itu adalah Bapa sendiri.

Inilah mungkin sebabnya mengapa beberapa terjemahan yang paling terpandang seperti King James Version, Wycliffe dan Darby tidak mencantumkan frase “nor the Son” (Anak pun tidak). Beberapa terjemahan bahasa lain seperti terjemahan bahasa Belanda (Het Boek), Spanyol (RVA), Albania Bible juga tidak menyertakan frase “Anakpun Tidak”.

“But of that day and hour knoweth no man, no, not the angels of heaven, but my Father only.” (Mat 24:36 KJV)

Lagipula tidak masuk akal kalau dikatakan Kristus tidak tahu hari kedatangan-Nya sendiri. Rasul Petrus berkata Roh Kristus itu, adalah Roh Nubuat, Roh Kristuslah yang menjelaskan segala rahasia kepada para nabi, jadi mustahil yang memberitahu rahasia-rahasia kepada para nabi tidak tahu mengenai rahasia-rahasia itu.

“Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.” (1Petrus 1:10-11)

Roh Kristus pula yang menyingkapkan rahasia akhir zaman kepada Daniel di atas sungai Ulai seperti yang dicatat di Daniel 8 dan Daniel 12. Dan Roh Kristus jugalah yang menyingkapkan kitab Wahyu kepada Yohanes. Bagaimana mungkin Sang Anak yaitu Kristus tidak mengetahui rahasia waktu kedatangan-Nya sendiri, sementara Ia harus memberi petunjuk mengenai waktu itu kepada para nabi?

“Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya.” (Wahyu 1:2)

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak memahami Waktu Kedatangan-Nya sendiri kelak di akhir zaman, adalah pendapat yang keliru secara mendasar. Jangan lupa bahwa, Dia yang telah menerima kuasa dan segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kekuasaan-Nya (1 Kor 15:27), jadi mustahil Dia tidak mengetahui mengenai waktu itu.


BENARKAH KEDATANGAN TUHAN SEPERTI PENCURI BAGI KITA?

Banyak juga orang yang secara ceroboh membaca perikop 1Tesalonika 5 “Kedatangan Tuhan seperti pencuri” dan memahaminya secara sangat-sangat keliru. Mereka mengajar kepada jemaat bahwa, Kedatangan Tuhan itu bagi kita seperti pencuri. Padahal yang dimaksud kedatangan Tuhan itu seperti pencuri, adalah bagi orang-orang yang masih di dalam kegelapan. Memang Kedatangan Tuhan seperti kedatangan pencuri pada malam hari, untuk orang fasik, tetapi tidak untuk kita.

“Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” (1 Tes 5:4-5)

Perhatikan baik-baik ayat di atas: hari itu (tidak akan) mendatangi kita dengan tiba-tiba, artinya – jika kita anak-anak terang – kita akan tahu sebelumnya dan akan siap, kecuali kita adalah orang-orang yang masih di dalam kegelapan.

Sebenarnya ini kekeliruan yang fatal, sebab mengatakan bahwa Tuhan akan datang seperti pencuri bagi kita (anak-anak Terang) sangat bertentangan dengan Firman Tuhan sendiri. Tuhan Yesus berkata: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10)

Kekeliruan yang sama terjadi dengan orang-orang yang menyimpulkan bahwa Nuh pun tidak tahu kapan air bah itu datang sampai hal itu benar-benar terjadi. Mereka memperhatikan kisah Nuh yang dipaparkan di Matius 24 : 37 – 39 dan menempatkan diri Nuh dan keluarganya pada posisi yang salah.

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu, makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.” (Mat 24:37-39)

Bila kita baca ayat-ayat diatas, kita menemukan kalimat yang berkata, “mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang”. Mereka menyimpulkan Nuh baru tahu segala sesuatu ketika bencana air bah itu benar-benar datang. Dari situlah mereka berpikir, kita tidak akan pernah tahu kapan waktu Kedatangan Tuhan itu, sampai Tuhan Yesus benar-benar datang. Dan pendapat itu sangat keliru!



Nuh dan keluarganya diberitahu waktu Tuhan tujuh hari
sebelum air bah itu datang melanda bumi.

Mengapa? Karena mereka menempatkan Nuh dan diri kita semua, pada posisi orang kebanyakan, — yang makan dan minum, kawin dan mengawinkan — dan “tidak tahu akan sesuatu”. Mereka lupa bahwa orang yang bergaul karib dengan Allah akan seperti Nuh dan keluarganya. Nuh dan keluarganya bukanlah orang-orang yang termasuk dikatakan “mereka tidak tahu akan sesuatu”, Nuh tahu kapan harus membuat bahtera, Nuh tahu kapan harus masuk ke dalam bahtera. Nuh mempersiapkan semuanya dengan rapi sebelum bencana itu datang. Bahkan Alkitab mengatakan Allah memberitahu Nuh tujuh hari di muka, sebelum banjir besar itu datang, dan ia juga diberitahu berapa lama hujan akan turun membanjiri bumi.

“Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.” (Kej 7:4)

Jadi yang dimaksud “mereka” — yang tidak tahu akan sesuatu — bukan termasuk Nuh dan keluarganya, mereka tidak digolongkan bersama orang-orang fasik lainnya. Demikian juga apabila Alkitab berkata bahwa waktu Tuhan tidak ada yang tahu, belum tentu termasuk bagi orang-orang yang dikasihi Allah.


BENARKAH TIDAK AKAN ADA ORANG YANG TAHU WAKTU TUHAN?

Mari kita pelajari apa sebenarnya kata Alkitab mengenai hal ini, apakah akan ada orang yang mengetahui atau memahami waktu Tuhan? Apakah benar bahwa waktu Kedatangan Tuhan akan tinggal sebagai rahasia untuk semua orang termasuk untuk orang-orang percaya di akhir zaman?

Pertama mari kita pelajari di kitab yang ditunjuk Tuhan Yesus untuk dipahami, yaitu kitab Daniel (Mat 24:15). Daniel pasal 12 adalah pasal yang konteksnya tidak dapat disanggah sangat tepat untuk menjelaskan mengenai hal ini, yaitu pasal yang membahas nubuat munculnya Tuhan Yesus di langit yang digambarkan sebagai Pemimpin Besar Mikhael, yakni pada peristiwa Kebangkitan Pertama dan peristiwa “Pengangkatan” orang-orang percaya.

Pada saat itu Daniel dalam penglihatan mendengarkan sebuah percakapan tentang waktu atau kapan saatnya peristiwa Kedatangan Tuhan akan terjadi (ayat 6-7). Kemudian ketika Daniel bertanya tentang hal itu (ayat 8), Malaikat Tuhan menjawab Daniel:

“Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman. Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” (Dan 12:9-10)

Alkitab mengatakan akan ada orang-orang yang akhirnya memahami Waktu Kedatangan Tuhan itu. Dan Alkitab menyebut orang-orang itu: bijaksana. Perhatikan baik-baik hal ini: sebaliknya orang-orang yang tidak memahami, adalah mereka yang dikelompokkan oleh Alkitab sebagai orang-orang fasik, orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Kedua, Injil Markus pasal 4 menyatakan semua tentang misteri Kerajaan Allah. Walaupun Kerajaan Allah merupakan rahasia bagi banyak orang Tuhan Yesus mengatakan bahwa kepada kita anak-anak-Nya telah diberikan rahasia itu.

“Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan.” (Mark 4:11)

Injil Markus juga mencatat bahwa Tuhan Yesus mecoba menjelaskan tujuan Firman adalah seperti pelita untuk memberi terang, dan pelita dinyalakan bukan untuk disembunyikan atau ditutup-tutupi. Tujuan Nubuat dan Wahyu Tuhan diberitakan adalah untuk memberi penyingkapan kepada jemaat yang dilambangkan kaki dian (Wah 1:20), bukan untuk menyembunyikan sesuatu kepada jemaat.

“Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.” (Mark 4:21)

Selanjutnya Tuhan Yesus lebih menegaskan lagi bahwa bukan keinginan-Nya untuk terus menyembunyikn atau merahasiakan sesuatu kepada anak-anak-Nya. Semua yang dahulu disembunyikan akan dinyatakan, dan semua yang dahulu dirahasiakan akan segera disingkapkan.

“Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” (Mark 4:22)

Tuhan Yesus memang berpesan kepada murid-muridnya bahwa pada saat itu mereka belum sanggup untuk menerima lebih banyak penyingkapan, dan kelak Roh Kudus akan menyingkapkan kepada gereja-Nya pada waktu yang telah ditetapkan Bapa.

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran… dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yoh 16:12-13)

Jadi sekarang kita mengerti bahwa akan ada orang-orang yang akhirnya mengerti Waktu Tuhan. Kalau kita bukan orang-orang fasik, maka paling tidak kita tidak menutup diri dan mau belajar memahami “kairos” yaitu Agenda Yang Maha Kuasa.

Berbagai keyakinan yang keliru disebabkan karena orang tidak memahami ‘benang merah’ dari Alkitab secara keseluruhan. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, inti dari Alkitab adalah mempersiapkan kita agar pada Hari Kedatangan Kerajaan-Nya kita diselamatkan, dan agar hari itu tidak datang sebagai suatu jerat bagi kita (Luk 21:34). Jadi pengetahuan tentang Hari Tuhan itu begitu luar biasa pentingnya, dan siapa tidak berjaga-jaga (baca tidak “observe” atau tidak mengamati atau mempelajari), ia akan kecolongan karena tidak siap pada waktunya seperti lima gadis yang bodoh (Mat 25:10).

Untuk memahami lebih jauh bahwa memahami Hari dan Tanggal Kedatangan Tuhan bukan sesuatu yang sesat, justru merupakan “revelation” dari Firman Tuhan itu sendiri,



Berusahalah untuk memahami wahyu Tuhan Yesus yang telah termeterai berabad-abad, dan yang kini meterainya telah dibuka oleh Tuhan kita (Wah 6). Tujuan tulisan ini adalah menyingkapkan Firman Tuhan bagi mereka yang dituju oleh Kasih Karunia Kristus. Tidak ditujukan kepada mereka yang menolak kasih karunia-Nya, silahkan lanjutkan membaca atau berhenti disini.




Banyak orang percaya salah mengerti mengenai Waktu Tuhan atau “Kairos” sebagai sesuatu yang tabu untuk dipelajari. Orang-orang yang mempelajari Waktu Tuhan sering dianggap melakukan hal yang sia-sia bahkan dianggap bidat sesat. Anggapan “Waktu Tuhan adalah Rahasia Ilahi yang tidak mungkin dipahami manusia” menjadi semacam doktrin mematikan.

Ini salah satu keyakinan yang keliru yang menghalangi gereja-Nya memahami Agenda Tuhan yang sebenarnya telah diupayakan untuk disingkapkan di dalam Alkitab. Baca artikel “Memahami Misteri Kerajaan Allah” untuk mengetahui bahwa Tuhan sebenarnya ingin kita memahami rahasia-Nya, namun kita banyak yang salah mengerti.

Memang si jahat selalu berusaha menghalangi Umat-Nya menangkap maksud dari Wahyu Tuhan (Dan 10:13). Sebentar lagi kita akan diajak memahami, bahwa ternyata justru kita masih berada dalam kegelapan, kalau belum dapat menemukan kembali sistem Kalender TUHAN yang berisi penyingkapan Agenda-Nya di akhir zaman.

“Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.”
(1Tes 5:4-5)

HUBUNGAN SISTEM KALENDER DAN IMAN KEYAKINAN

Sebelum lebih lanjut mempelajari Sistem Waktu atau Kalender Tuhan, perlu kita mengerti lebih mendasar arti pentingnya Sistem Kalender dan hubungannya dengan iman kita. Kalender adalah sistem waktu yang berisi cara menghitung hari, bulan dan tahun dan daftar hari-hari penting yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang memelihara kalender tersebut.

Perlu disadari, bahwa setiap agama dan keyakinan memiliki sistem kalender agamanya masing-masing. Agama Islam memelihara kalender Hijriah, agama KongHuTzu memelihara kelender Imlek, agama Budha dan Hindu juga memiliki kalender masing-masing. Ketika agama Islam masuk ke tanah Jawa, bercampur dengan keyakinan Hindu yang telah lebih dahulu dianut masyarakat, timbullah kultur keyakinan baru Hindu-Islam, inipun memunculkan sistem kalender baru yang disebut kalender Saka. Penganut Budha Mahayana memelihara kalender yang berbeda dengan penganut Budha Theravada. Pendek kata sistem Kalender begitu melekat erat dengan keyakinan dan agama.

Sistem Kalender seperti urat nadi dari sebuah keyakinan, karena Kalender berisi jadwal peribadatan dan hari-hari raya dari kepercayaan atau agama yang bersangkutan. Sebagai contoh Kalender Hijriah menekankan hari Jumat sebagai hari sembahyang umat Muslim dan berisi jadwal puasa, dan hari-hari raya Islam yang harus diperingati setiap tahun oleh umat muslim. Tanpa melihat kalender Hijriah, umat muslim akan kesulitan mengetahui kapan memulai puasa dan kapan datangnya hari raya mereka.

Begitu juga sistem Kalendar Tuhan demikian penting bagi kita umat tebusan-Nya. Kita perlu memahami sistem Waktu atau Kalender TUHAN yang dijabarkan dalam Alkitab, yaitu segala aturan menghitung hari, bulan dan tahun dan daftar hari-hari raya penting yang harus diperhatikan oleh kita umat-Nya. Bukan untuk jadwal-jadwal peribadatan dan segala aturan agamawi, lebih dari itu semua kita perlu memahami pewahyuan yang terkandung dalam Agenda-Nya di akhir zaman.


TUHAN MENUNJUKKAN SISTEM KALENDER-NYA

TUHAN dari awal sekali yaitu di kitab Kejadian telah menunjukkan bagaimana caranya melihat sistem waktu-Nya atau sistem kalender-Nya. Kita diajarkan agar memperhatikan benda-benda penerang seperti matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai patokan waktu dan kalender-Nya.

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.” ”
(Kejadian 1:14)

Dalam bahasa ilmiah, sistem Kalendar yang Tuhan tetapkan ini disebut kalender “LuniSolar”, karena menggunakan patokan bulan (Lunar) maupun matahari (Solar). Ini berbeda dengan kalender yang hanya memperhatikan matahari saja seperti kalender Gregorian yang ditetapkan oleh gereja Roma dan dipakai sekarang ini sebagai kalender internasional. Juga berbeda dengan kalender yang hanya memperhatikan bulan saja, seperti kalender Hijriah yang tidak memperhatikan musim-musim (pengaruh matahari).

TUHAN juga menetapkan kapan tanggal permulaan bulan baru, yaitu para imam harus mengamati pada waktu bulan sabit pertama muncul. Selain itu TUHAN juga menetapkan bulan mana sebagai bulan pertama dari segala bulan yang lain.
“Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.” (Keluaran 12:2)

Alkitab melukiskan bahwa TUHAN secara cermat mengajar tentang garis-garis waktu, menjadwal setiap agenda dan rencana-Nya dengan teliti agar kita umat-Nya dapat sejalan dengan diri-Nya. Tuhan membuat jadwal-jadwal pertemuan antara diri-Nya – yang tidak terbatas waktu – dengan kita yang sangat terikat waktu, agar bisa selaras dipertemukan. Di dalam kitab Imamat Tuhan menetapkan pertemuan mingguan pada hari Sabat, juga hari-hari tertentu yang disebut hari-hari raya.

“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: … harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, … pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; … hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, … harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.” (Imamat 23:2-4)

Jadwal pertemuan antara Yang Kekal dan kita yang terbatas waktu ini, kita pandang sebagai hari-hari ibadah, namun bagi Tuhan itu tetap sebagai waktu untuk bertemu dengan kita, umat yang dikasihi-Nya. Tuhan selalu ingin bersekutu dengan kita umat-Nya, dan Ia ingin kita selalu mengikuti jadwal pertemuan kudus itu turun-temurun dari generasi ke generasi untuk selama-lamanya.

“Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN … itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun… supaya diketahui oleh keturunanmu… Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 23:41-43)

Dan Jadwal Pertemuan yang terpenting adalah pada Kedatangan-Nya Kedua kali di akhir zaman. Hal ini terkandung dalam aturan “Sabath” hari Ketujuh, yang menyingkapkan Waktu Tuhan yaitu Kedatangan Kerajaaan Tuhan di Milenium Ketujuh.

“enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN…” (Keluaran 20:9-10)

“Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus…”
(Imamat 23:3)

Aturan ini mengandung pewahyuan bahwa bahwa masa manusia hidup dan bekerja “enam hari lamanya”, secara propetik berarti 6000 Tahun (1 hari = 1000 tahun – 2Petrus 3:8). Setelah itu akan ada “Pertemuan Kudus”, artinya setelah 6000 tahun, baru Kristus akan datang kembali.



Memang Sabat Hari Ketujuh adalah lambang masa Perhentian dalam Milenium Ketujuh (Ibrani 4:9). Itulah Seribu Tahun Ketujuh dalam Kerajaan Tuhan, dimana kita Gereja-Nya akan memerintah bersama-sama dengan Kristus dalam Kerajaan-Nya.

“Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi… dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun.” (Wahyu 20:4)

Dari hal ini kita jadi tahu betapa pentingnya memelihara Kalender yang Tuhan tetapkan. Kita seharusnya dapat mengetahui kapan Milenium Ketujuh itu akan tiba. Dengan memelihara kalender TUHAN, seharusnya kita dapat mengenali sekarang ini kita telah mencapai Tahun berapa dan berapa lama lagi Tuhan akan datang menjemput kita.


KEKELIRUAN KALENDER YAHUDI MODEREN

Umat Tuhan dari sejak Adam, Nuh, Abraham, hingga Musa dan Daud terus memelihara sistem Penanggalan Tuhan. Namun dengan berjalannya waktu berkali-kali bangsa Israel meninggalkan perintah Tuhan dan mengalami pembuangan, akhirnya membuat mereka kehilangan jejak Kalender Tuhan. Semestinya sistem Kalender Tuhan dapat menuntun kita memahami garis waktu dari Agenda Besar-Nya di akhir zaman, namun ternyata umat Tuhan telah kehilangan jejak “Kairos” (Waktu Tuhan) tersebut.

Kalender Yahudi yang sekarang diikuti oleh bangsa Israel moderen yang menunjuk angka Tahun 5775, ternyata keliru ratusan tahun bila diteliti dengan baik dengan catatan sejarah dunia. Para ahli sejarah telah menyatakan bahwa kalendar Yahudi selisih perhitungan hingga ratusan tahun, mengenai hal ini dapat kita pelajari lebih lanjut di internet. (Silakan gunakan program pencari (“google”) dengan memasukkan kode pencarian “rabbinical calendar missing years”).

Saat ini bangsa Israel telah kehilangan jejak waktu Tuhan, karena mereka pernah meninggalkan sistem Kalender yang Alkitabiah. Kitab Daniel jauh-jauh hari telah menubuatkan munculnya seorang penduhaka yang membuat umat Tuhan kehilangan jejak waktu Tuhan dengan cara mengubah waktu (sistem kalendar) Tuhan.

“Ia akan mengucapkan perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum… ” (Daniel 7:25)

Frase kata “mengubah waktu dan hukum” dalam ayat tersebut lebih mudah dipahami maksudnya dalam terjemahan versi NIV (New International Version), yaitu “to change the set times and the laws.” Demikian juga dalam terjemahan versi GWT (God’s Word Translation) digunakan frase “to change the appointed times and the laws”. Jadi yang dimaksud “mengubah waktu” disini adalah mengubah penetapan waktu-waktu(“Zimnin” adalah bentuk jamak dari waktu)“ dan hukum-hukumnya, yaitu sistem kalender. Artinya si pendurhaka akan mengubah sistem kalender dari yang telah ditetapkan oleh kitab suci ke sistem kalender yang lain yang bukan berasal dari perintah Tuhan.

Nubuat ini benar-benar terjadi dan digenapi dalam sejarah bangsa Israel. Sistem Kalender Tuhan yang diikuti bangsa Israel sejak zaman Adam akhirnya ditinggalkan oleh bangsa Israel. Penyebabnya adalah pemerintah Romawi yang menguasai Israel pada abad-abad pertama, melarang semua budaya dan aktivitas keagamaan Yahudi, termasuk melarang penggunaan sistem penanggalan Yahudi.

Setelah tiga kali peristiwa pemberontakan besar Yahudi yang terjadi sejak Tahun 63 Masehi, maka pada Tahun 70 Masehi, Jenderal Titus menghancurkan Bait Suci kedua dan membunuhi imam-imam Yahudi dengan harapan bangsa Israel akan melupakan agamanya dan melebur menjadi warga Romawi seperti bangsa-bangsa jajahan lainnya. Namun ternyata paska penghancuran Bait Suci, pemberontakan masih terus terjadi. Akhirnya Kekaisaran Romawi melarang sama sekali semua aktivitas keagamaan Yahudi dan berusaha menghapus identitas serta budaya Taurat termasuk sistem penanggalannya, yang semuanya itu dianggap sebagai akar dari pemberontakan terus-menerus.

Dengan tiadanya bait suci dan imam-imam, bangsa Israel kembali mengalami kekosongan kepemimpinan spiritual. Baru beberapa ratus tahun kemudian muncullah para rabbi yang berupaya menggantikan fungsi imam-imam di tengah-tengah bangsa Israel. Sejak itu bangsa Israel memasuki suatu babak sejarah baru yang disebut periode Para Rabbi (Rabbinical Periode).

Setelah tekanan dari Kekaisaran Romawi mulai melunak, para rabbi ini kemudian berupaya membawa bangsa Israel kembali kepada agama Yahudi dan budaya Taurat. Para rabbi juga berupaya menghitung kembali kalender Yahudi untuk membawa bangsa Israel kembali kepada agama Yahudi secara lengkap. Rabbi Hillel II (330-365M) sebagai pimpinan majelis agama Yahudi “Beth-Din” pada tahun 358 Masehi, menerbitkan kembali Kalender Yahudi, tetapi kali ini tanggal dan bulan ditetapkan berdasar pada perhitungan matematika bukan hasil pengamatan. Hillel II menggunakan “Sod ha-Ibbur” (“The Secret of Intercalation”) dan “Keviuta de-Yarha” (“The Fixing of the New Month”) suatu metode untuk menghitung bulan baru dan pergantian tahun.

Kalender hasil perhitungan para rabbi ini bermasalah terutama dalam hitungan tahun. Kalender “Rabbinical” yang kemudian baru diketahui selisih ratusan tahun bila dibanding hitungan sejarah dunia, masih terus dipakai hingga saat ini oleh bangsa Israel modern. Pasalnya orang Yahudi menganut keyakinan, bahwa setiap ketetapan “Beth-Din” hanya bisa diperbaiki oleh majelis “Deth-Din” yang lain, sementara hingga hari ini belum ada majelis seperti ini yang muncul memperbaiki kekeliruan tersebut.

Jadi bila kita melihat Kalender Yahudi saat ini menunjuk Tahun 5775, itu tidak sesuai dengan hitungan Kalender Tuhan yang tercantum dalam Alkitab. Karena Kalender Para Rabbi itu mengandung kesalahan ratusan Tahun. Lalu bagaimana kita dapat menemukan kembali Kalendar Tuhan yang benar ?


GERHANA MATAHARI 20 MARET 2015 DAN KALENDER SANG PENCIPTA

Puji Tuhan ! Seperti ada tertulis: “…tidak seorang pun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” TUHAN membangkitkan bagi kita: orang-orang bijaksana pada zaman ini, untuk menemukan cara menghitung kembali Kalender-Nya secara Alkitabiah.

Beberapa anak Tuhan yang dikaruniai pengetahuan komputasi dan pengetahuan astronomi dikombinasi pemahaman akan “catatan-catatan” Tuhan dalam kitab Taurat, berhasil menyusun sebuah Kalender yang Alkitabiah yang disebut “Kalender Sang Pencipta” (Creator Calendar). Mereka dapat menghitung mundur pergerakan kompleks planet bumi dan bulan (teknologi yang sama digunakan oleh Badan Antariksa Amerika/NASA), hingga mereka menemukan berapa tahun sebenarnya sejak penciptaan Adam hingga sekarang ini menurut prinsip-prinsip Alkitab.

Mereka kemudian membangun situs internet yang mengagumkan, yang menyajikan kalender yang Alkitabiah itu agar bisa diketahui semua umat TUHAN. Dan sekarang semua orang, bukan hanya para rabbi dan orang Yahudi, dapat melihatnya dan menggunakannya. Silakan kunjungi situs internetnya di alamathttp://www.torahcalendar.com

Menurut Kalender Pencipta itu, ternyata jika dihitung sejak penciptaan (Adam) hingga sekarang ini, kita telah berada di ujung Tahun 6000. Dan sebentar lagi pada Tanggal 21 Maret 2015, kita akan menginjak 1 Nissan Tahun 6001 (Tanggal 1 Bulan 1 Tahun 6001), artinya kita akan segera memasuki Milenium Ketujuh. Milenium Ketujuh adalah masa Seribu Tahun Perhentian, Seribu Tahun Kerajaan Tuhan (Wahyu 20:4).




Tanggal 21 Maret 2015 itu memang luar dari biasa, alam turut mengkonfirmasi – menjadi saksi – dengan terjadinya Gerhana Matahari Total pada sehari sebelumnya yaitu Tanggal 20 Maret 2015. Gerhana Matahari Total itu adalah tanda genapnya Milenium Keenam (Prinsip Kej 1:14). Namun demikian ini bukan berarti Tuhan akan datang pada tanggal tersebut, sebab harus digenapi dahulu setiap tanda yang pernah disebutkan oleh Firman tuhan. Pada tanggal 20 Maret memang telah digenapi tanda “matahari menjadi gelap” yang disebutkan oleh nabi Yoel, tetapi bulan darah akan terjadi dua kali lagi di tahun ini, yaitu pada 4 April dan 28 September 2015. Pada peristiwa bulan darah terakhir – yang tepat jatuh di Hari Raya Pondok Daun – itulah, seluruh tanda Kedatangan-Nya lengkap digenapi.

Jadi sisa waktu penantian kita tidak banyak lagi, pergunakan waktu yang ada untuk mempersiapkan diri dan keluarga serta jemaat yang Saudara pimpin. Tidak ada waktu untuk ragu-ragu dan bingung, sebentar lagi semuanya akan terbukti apakah semua ini benar atau keliru.

Tidak ada ruginya kita diperingatkan untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri dan jemaat, untuk hidup kudus dan siap menyambut Kedatangan Tuhan. Kita tidak diminta melakukan tindakan-tindakan ekstrim yang menyesatkan, hanya diberitahu untuk berjaga-jaga dan melepaskan diri dari cinta akan dunia dan segala kemegahannya.

Betapa ruginya kalau kita mengabaikan “revelation” ini ketika semua kebenaran ini digenapi. Orang-orang yang mengabaikan peringatan ini dan tetap “mabuk dengan anggur duniawi” seperti Nuh dalam masa kebodohannya (Kej 9:21), akan menjadi orang-orang yang paling malang di hadapan Tuhan.

“Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.” (Wahyu 16:15)


PERINGATAN UNTUK ORANG YANG TIDAK PERCAYA

Selama berkeliling ke gereja-gereja menyampaikan penyingkapan ini, penulis menemukan penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima penyingkapan Wahyu Tuhan adalah “harta” mereka.

Harta yang dimaksud disini bukan saja berarti kekayaan materi, ini memang penghalang utama, tetapi juga pengetahuan yang banyak, status keimaman seseorang serta prestasi apapun yang berharga di dunia ini, sering membuat orang tidak dapat menerima kenyataan. Di bawah alam sadar, mereka tidak rela kalau semua “harta” mereka sebentar lagi akan segera tidak ada artinya. Rasa tidak rela terhadap seluruh investasi yang telah ditanamkan di dunia ini, membuat orang menolak percaya. Sangat sulit mempercayai bahwa dunia (tempat mereka berinvestasi) dengan segala kemegahannya sedang lenyap (1Yoh 2:17).

Hati-hati bagi mereka yang merasa dirinya imam atau nabi, jangan sampai “anggur” yang dimaksud oleh Roh Tuhan dalam kitab Yesaya menghalangi kita menangkap Wahyu Tuhan.

“Tetapi orang-orang di sini pun pening karena anggur dan pusing karena arak. Baik imam maupun nabi pening karena arak, kacau oleh anggur… Dan orang berkata: “Kepada siapakah Dia ini mau mengajarkan pengetahuan-Nya dan kepada siapakah Ia mau menjelaskan nubuat-nubuat-Nya? ” ” (Yesaya 28:7-9)

Orang yang terikat oleh berbagai doktrin dan pengajaran yang banyak akan pening dan sulit memahami penyingkapan baru yang sederhana ini. Mereka akan susah menangkap penyingkapan yang baru dari nubuat-nubuat-Nya. Kecuali mereka rela meninggalkan “anggur lama” yang memabukkan, dan bersedia menerima anggur baru yang segar (1Kor 13:9-10).

Namun lepas dari mereka mau menerima atau tidak, Agenda Tuhan tetap dan Rencana Kedatangan-Nya tidak akan pernah ditunda-tunda. Siap atau tidak siap, Tuhan sudah akan datang tanpa menagguhkan Kedatangan-Nya (Ibrani 10:37). Dan hamba-hamba yang setia dan bijaksana akan bergembira ketika Tuannya datang (Mat 24:45-46).


AGENDA TUHAN DALAM KITAB IMAMAT

Berusahalah untuk memahami wahyu Tuhan Yesus yang telah termeterai berabad-abad, dan yang kini meterainya telah dibuka oleh Tuhan kita (Wah 6). Tujuan tulisan ini adalah menyingkapkan Firman Tuhan bagi mereka yang dituju oleh Kasih Karunia Kristus. Tidak ditujukan kepada mereka yang menolak kasih karunia-Nya, silahkan lanjutkan membaca atau berhenti disini.




Di kitab Imamat kita menemukan bahwa TUHAN menetapkan peristiwa-peristiwa mana yang harus selalu diingat oleh bangsa Israel turun-temurun, dan peristiwa-peristiwa itu wajib diperingati dalam mekanisme perayaan hari-hari raya tahunan yang waktunya tetap tidak boleh diubah-ubah sepanjang masa.

“Inilah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, hari-hari pertemuan kudus, yang harus kamu maklumkan masing-masing pada waktunya yang tetap.” (Imamat 23:4)

Bila kita memperhatikan perintah ini terlihat sesuatu yang tidak biasa. Kita mengenal TUHAN bukanlah ilah agamawi dan suka kita memelihara hari-hari tertentu, tetapi mengapa Ia memerintahkan kepada bangsa Israel untuk memperingati hari-hari yang tetap, mengapa tidak cukup mementingkan makna peringatannya saja? Tentu TUHAN punya suatu alasan yang penting dibanding sekedar mensakralkan suatu hari tertentu semata.

Hari-hari itu memang merupakan “petunjuk waktu” bagi umat TUHAN, sehingga mereka diperintah untuk terus-menerus memelihara hari-hari itu secara tetap tanggalnya. TUHAN memang mempunyai maksud, hari-hari raya itu sebagai “Mo’edim” atau “appointment times” atau “Waktu Pertemuan Kudus” diri-Nya dengan umat kesayangan-Nya.

“… Hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan sebagai waktu pertemuan kudus, waktu perayaan yang Kutetapkan… ” (Imamat 23:2)

Bagi orang Yahudi, hari-hari raya itu juga dimaksudkan sebagai “Shamar” atau “Observance” atau “Waktu untuk Berjaga-jaga”. Maksudnya adalah agar mereka siap sedia menghadapi peristiwa penggenapan dari nubuat yang terkandung dalam makna hari raya itu sendiri kelak. Alkitab mengajarkan bahwa, hari-hari raya ini memang merupakan waktu untuk umat Tuhan berjaga-jaga.

“Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN.” (Kel 12:42)

Rasul Paulus juga menyingkapkan bahwa hari-hari raya sesungguhnya lebih merupakan bayangan atau nubuat dari apa yang harus terjadi di masa mendatang, yang menubuatkan peristiwa-peristiwa berkaitan dengan Kristus di zaman akhir.

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” (Kol 2:16-17)


TIGA HARI RAYA PERTAMA

Sebagai contoh hari raya “Paskah Yahudi” atau “Pesach” (Imamat 23:5), kita semua tahu ini merupakan perlambang untuk peristiwa pengorbanan Yesus, yang merupakan penggenapan dari arti Paskah itu sendiri. Paskah Yahudi yang diperintahkan untuk diperingati setiap tahun itu ternyata juga merupakan petunjuk hari bahwa suatu kali bertepatan dengan hari Paskah Yahudi itu, Anak Domba TUHAN akan dikorbankan untuk menyelamatkan umat manusia. Dan hari dimana Kristus Yesus dibunuh jatuh tepat pada tanggal 14 Nissan di hari persiapan Paskah Yahudi.

“Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: “Inilah rajamu! Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!” Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yoh 19:14-16a)

Begitu juga hari raya ”Roti Tidak Beragi” (Imamat 23:6) adalah nubuat terbentuknya Jemaat Tuhan yaitu Komunitas Yang Murni dan Benar. Rasul Paulus menjelaskan kaitan antara nubuat Paskah dan nubuat Roti Tidak Beragi ini yang menggambarkan Pengorbanan Kristus Yesus, Domba Paskah yang sesungguhnya telah memungkinkan kita menjadi Umat Yang Murni dan Benar.

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” (1 Kor 5:7-8)

Dan sesuai dengan nubuat hari raya “Roti Tidak Beragi” yang jatuh tepat setelah peristiwa Paskah, murid-murid dan orang percaya pertama memisahkan diri dari orang-orang Yahudi. Secara umum orang percaya pada saat itu bersembunyi dari mereka yang telah menangkap Yesus, secara propetik mereka menggenapi nubuat pemisahan “Eklesia” telah dimulai. (Kata Gereja berasal dari kata Yunani “Eklesia” artinya “dipanggil keluar” atau “dipisahkan”).

Demikian pula hari raya “Buah Sulung” atau hari raya “Berkas Unjukan Pertama”. Hari raya ini mengandung nubuat bahwa Yesus Kristus sebagai buah sulung di antara orang percaya akan menjadi yang pertama yang bangkit. Sesuai ketetapan hari rayanya, yaitu sesudah sabat, pada hari yang ketiga yaitu tanggal 17 Nissan, Kristus menggenapi nubuat hari raya Buah Sulung itu menjadi yang pertama bangkit dalam tubuh kemuliaan.

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (1Kor 15:20)


HARI RAYA KEEMPAT

Hari raya “Pentakosta Yahudi” atau “Shavuot” juga merupakan nubuat dan digenapi pada tanggal yang sama saat hari raya itu diperingati orang Yahudi. Hari Raya Pentakosta Yahudi ini dulu memperingati turunnya Sepuluh Hukum TUHAN. Namun bangsa Israel ternyata gagal dalam perjanjian tersebut.

TUHAN kemudian menubuatkan pemberian Roh Kudus kepada umat-Nya di zaman Perjanjian Baru. Dimana pemberian Roh Kudus merupakan suatu janji yang lebih sempurna yaitu mereka akan diberi suatu hati yang akan menuruti hukum-hukum TUHAN dan mereka akan menjadi umat yang taat melakukannya.

“Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” (Yeh 36: 27)

Peristiwa pemberian Roh Kudus ini juga telah digenapi tepat pada saat hari raya Pentakosta Yahudi diperingati (Kis 2:1). Jadi hari-hari raya itu memang merupakan nubuat dan sekaligus tanda waktu untuk berjaga-jaga menghadapi peristiwa-peristiwa Kristus pada zaman akhir.

Empat dari tujuh hari raya yang disebutkan Imamat 23 telah digenapi. Keempatnya jatuh pada tanggal-tanggal di musim semi, ada tiga hari raya berikutnya yang jatuh pada tanggal-tanggal di musim gugur akan digenapi di akhir zaman, yaitu hari raya “Peniupan Serunai”, hari raya “Pendamaian” dan hari raya “Pondok Daun”.




HARI RAYA KELIMA

Bagi orang Yahudi, hari raya kelima yaitu hari raya “Peniupan Serunai” atau “Rosh HaShanah” ini merupakan hari pertama dari sepuluh hari yang disebut “Yamim Noraim” (Sepuluh Hari Pertobatan), yaitu dari tanggal 1 bulan 7 (Tishri) sampai sepuluh hari kemudian yaitu tanggal 10 bulan 7, yaitu hari raya keenam, hari raya Pendamaian (“Yom Kippur”).

Orang Yahudi percaya bahwa selama “Sepuluh Hari Pertobatan” ini, Buku Kehidupan atau “Sefer HaChayim” dibuka, setiap orang dievaluasi kembali hidupnya apakah namanya akan dicantumkan atau dihapuskan dari Kitab Hayat tersebut. Jadi periode sepuluh hari ini setiap tahun menjadi periode yang paling khusuk diperingati untuk “Teshuvah” (berbalik) dan mencari perkenanan TUHAN sebelum memasuki Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) sebagai hari penghakiman setiap tahun.

“Sepuluh Hari Pertobatan” ini adalah nubuat datangnya masa pengujian yang akan datang di akhir zaman bagi jemaat Yahudi yaitu “Sepuluh Hari Kesusahan” (Wah 2:10) yang sering disebut sebagai “Great Tribulation”. Jadi hari raya peniupan serunai adalah peringatan datangnya sepuluh hari masa kesusahan besar bagi bangsa Israel di akhir zaman. Nabi Amos telah menubuatkan hari raya yang menjadi awal masa kesusahan Israel ini.

“ “Pada hari itu akan terjadi”, demikianlah firman TUHAN, “Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah. Aku akan mengubah perayaan-perayaanmu menjadi perkabungan, dan segala nyanyianmu menjadi ratapan… “ “ (Amos 8:9-10)


HARI RAYA KEENAM

Sementara itu hari raya keenam yaitu hari raya “Pendamaian” atau “Yom Kippur” selain lambang masa berakhirnya masa aniaya besar, juga merupakan momentum Kebangkitan Orang Percaya sebelum Hari Pengangkatan. Hal ini berkaitan dengan Tahun Yobel – yang merupakan lambang Kebangkitan Orang Percaya” – yang selalu diumumkan pada akhir perayaan hari “Pendamaian”.

Setiap menghadapi hari raya “Yom Kippur” orang-orang Yahudi akan memakai “kittle”, yaitu jubah putih polos yang sangat sederhana. Jubah ini pencerminan kemurnian dan hati yang merendah yang harus ditunjukkan menjelang hari raya tersebut. Kitab Wahyu juga menyebutkan perihal jubah putih yang diberikan kepada mereka yang setia sampai mati di masa Kesesakan Besar, hal ini sekali lagi menegaskan bahwa hari raya “Yom Kippur” dan hari-hari Tribulasi itu saling bekaitan erat.

“Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” (Wah 6:11)

Jubah putih yang disebutkan dalam ayat tersebut diatas dan “kittle” yang dipakai orang Yahudi pada hari raya “Pendamaian” sesungguhnya melambangkan “tubuh kemuliaan” yang akan diberikan kepada mereka yang telah setia sampai matinya dalam Tuhan, dan mereka akan bangkit mengenakannya pada suatu saat yang tepat dimana menurut aturan Tahun Yobel dalam kitab Imamat akan terjadi pada hari raya “Pendamaian”.

“… engkau harus memperdengarkan bunyi sangkakala di mana-mana dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh bulan itu; pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana di seluruh negerimu. Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu…” (Imamat 23:9-10)

Tahun Yobel adalah tahun sabath setiap lima-puluh tahun sekali, dan merupakan masa pembebasan perbudakan dan segala hutang pihutang bangsa Israel. Tahun Yobel adalah lambang pembebasan dari kutuk maut dan hutang dosa, yaitu nubuat Kebangkitan orang percaya yang mati dalam Tuhan. Orang yang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan dari kubur mengenakan tubuh baru yang bebas dari maut pada waktu Tahun Yobel yang sesungguhnya digenapi.

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” (1Tes 4:16)

Perhatikan frase “sangkakala TUHAN berbunyi” adalah momentum pada waktu mengumumkan Tahun Yobel, dimana Tuhan memerintahkan agar sangkakala dibunyikan dimana-mana. Jadi pada hari raya “Pendamaian” inilah kelak orang-orang percaya yang mati dalam Tuhan akan lebih dahulu dibangkitkan, beberapa hari sebelum hari “Pengangkatan”. Itu sebabnya kepada mereka yang dibangkitkan, di kitab Wahyu disebutkan agar “mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi” (Wahyu 6:11). Itulah juga yang dimaksud Paulus ketika menyatakan bahwa “mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1Tes 4:16b).


HARI RAYA KETUJUH

Hari raya yang Ketujuh yang jatuh lima hari kemudian, yaitu hari raya “Pondok Daun” atau “Tabernakel” adalah lambang dari hari Kedatangan Tuhan untuk menjemput umat tebusan-Nya. Berbeda dengan dua hari raya yang mendahuluinya yang harus diperingati dengan prihatin dan khusuk, hari raya ini harus diperingati dengan penuh suka cita dan kegembiraan.

“pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil buah-buahan dari tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN… Pada hari yang pertama kamu harus mengambil dahan-dahan pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon palem, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu…” (Imamat 23:39-40 – KJV)

Perhatikanlah ciri yang unik pada hari raya Pondok Daun, orang-orang Israel diperintahkan membawa dahan-dahan dan pelepah pohon palem dalam perayaan yang penuh sukacita. Hal ini sangat khas dan merupakan nubuat peristiwa yang digambarkan oleh kitab Wahyu pasal Tujuh yang melukiskan suasana orang-orang percaya yang diangkat ke Sorga. Mereka juga melambai-lambaikan dahan pohon palem dan bersuka-ria di hadapan Tuhan.

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.”
(Wahyu 7:9)

Hari Raya Pondok Daun juga dikenal dengan sebutan lain, yaitu Hari Raya “Pengumpulan Hasil” (“Chag Ha-Asif”= “The Feast of Ingathering”). Orang-orang Israel biasa mengumpulkan hasil panen akhir tahun sambil merayakan hari Pondok Daun ini, maka hari raya ini diseut juga hari “Pengumpulan Hasil” atau “Penuaian Akhir”.

“…demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang.” (Kel. 23:16b)

Hal ini membuat kita mengerti bahwa hari raya Pondok Daun atau hari “Tabernakel” merupakan nubuat berkaitan dengan Hari Kedatangan Tuhan untuk mengangkat orang percaya. Peristiwa “Pengangkatan” (“Rapture”) sering disebut juga sebagai peristiwa Pengumpulan (Gathering) yang dinubuatkan dengan Hari Raya Pengumpulan Hasil atau Hari Raya Pondok Daun ini.

“Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya (gathering – KJV) kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara…” (2 Tes 2:1)

Sudah waktunya untuk menyingkap rahasia ini kepada Jemaat Tuhan Yesus, yaitu bahwa peristiwa “Pengangkatan” orang percaya yang sering disebut juga sebagai peristiwa “Rapture”, akan terjadi pada saat jatuhnya hari raya “Pondok Daun” atau dalam bahasa Ibraninya hari raya “Sukkot”, yaitu pada tanggal 15 Tishri (bulan Tujuh Yahudi) pada suatu saat yang tidak lama lagi.

Hari raya Pondok Daun jatuh antara September atau Oktober Setiap tahun terus bergerak. Namun kita bisa mencari tahu dari internet, tanggal berapa tepatnya hari raya ini jatuh setiap tahunnya, dan tahun ini hari raya Pondok Daun jatuh pada tanggal 28 September 2015.

Dengan memahami bahwa hari-hari raya adalah nubuat Kedatangan Tuhan, kita bisa berjaga-jaga lebih sungguh lagi. Setelah menyingkapkan Tanggal dan Bulan Kedatangan Tuhan, apakah Alkitab juga menyingkapkan Tahun-Nya? Silakan baca artikel selanjutnya : “Memahami Kairos (Waktu Tuhan)”.






Di bagian ini kita akan lebih mengerti bahwa TUHAN menghendaki kita umat-Nya memahami detail rencana-Nya termasuk waktu-waktu yang telah ditetapkan dalam Agenda Tuhan untuk segala sesuatu.

Ada tiga prinsip yang kita akan pahami setelah kita mempelajari rahasia waktu TUHAN dalam Alkitab lebih dalam. Pertama kita akan mengerti bahwa TUHAN bekerja dengan rencana-rencana yang cermat, tidak acak. TUHAN telah merencanakan segala sesuatu dengan agenda dan ketetapan waktu yang cermat. Pengkotbah mengatakan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, artinya segala sesuatu telah direncanakan waktunya secara tepat.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” (Pkh 3:1)

Yang kedua kita akan mengerti bahwa rencana-rencana TUHAN itu tidak berubah-ubah. Banyak orang berpikir Tuhan sering mengubah rencana-Nya, atau bersifat tidak konsisten, pendapat itu keliru dan merupakan pemahaman yang dangkal. Raja Daud berkata bahwa rencana TUHAN tetap tidak berubah-ubah, bahkan sampai turun-temurun rencana-Nya tidak goyah.

“tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.” (Maz 33:11)

Yang ketiga kita akan mengerti bahwa TUHAN berusaha memberitahu agenda-Nya kepada umat-Nya. Kitab Perjanjian Lama sering disebut sebagai bayangan bagi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (Ibrani 10:1). Artinya tulisan di dalam Perjanjian Lama mengandung pembeberan dari peristiwa-peristiwa yang TUHAN rencanakan terjadi di zaman akhir ini.

Jika TUHAN telah merencanakan Agenda-Nya secara cermat, lengkap dengan waktu-Nya yang tetap, dan TUHAN berkehendak kita memahami rencana-rencana-Nya secara jelas, dimana kita bisa menemukan Agenda-Nya ? di dalam kitab Taurat-Nya !

Jika kita mempelajari kitab Imamat, kita akan menemukan bahwa rencana Kedatangan Kristus ternyata telah dijabarkan bulan dan tanggalnya sejak jauh-jauh hari. Alkitab telah menyingkapkan pada tanggal dan bulan mana Kristus akan datang untuk kedua kali (Bacalah artikel “AGENDA TUHAN DALAM KITAB IMAMAT”). Ternyata Kedatangan-Nya untuk mengangkat kita akan terjadi pada saat yang bersamaan dengan hari raya “Pondok Daun”. Masalahnya setiap tahun ada peringatan hari raya “Pondok Daun”, apakah Alkitab juga memberi petunjuk mengenai tahun Kedatangan-Nya ?

Mari simak apa yang Alkitab katakan mengenai Tahun Kedatangan-Nya.


TANDA BENDA-BENDA LANGIT

Alkitab tidak hanya menunjukkan Tanggal dan Bulan Kedatangan-Nya lewat hari-hari raya yang dicatat di kitab Imamat, namun juga kapan tepatnya Tahun Kedatangan-Nya. Karena pada prinsipnya TUHAN ingin kita mengerti dengan jelas, setiap detail Agenda-Nya.

Alkitab mengatakan bahwa matahari dan bulan telah ditetapkan menjadi tanda untuk menetapkan waktu, hari-hari dan tahun-tahun. Artinya apa yang terjadi dengan matahari dan bulan adalah “clue” atau petunjuk yang penting berkaitan dengan waktu.

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.” (Kejadian 1:14)

Ayat di atas berkata bahwa matahari dan bulan itu adalah tanda yang menunjukan tahun-tahun. Jadi untuk mengetahui Tahun Kedatangan Tuhan, kita harus memperhatikan apa yang Alkitab katakan tentang matahari dan bulan dalam kaitannya dengan Kedatangan-Nya.

Dalam mengungkapkan peristiwa Hari Kedatangan Tuhan, Alkitab sering menyebutkan suatu tanda yang khas berkaitan dengan matahari dan bulan. Alkitab berkali-kali menyebutkan bahwa matahari akan menjadi gelap atau menjadi hitam dan bulan menjadi darah atau tidak bercahaya. Ini adalah petunjuk bahwa menjelang peristiwa itu akan terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan. Yoel menyebutkan bahwa menjelang hari Tuhan yang hebat dan dahsyat, matahari akan menjadi gelap gulita dan bulan akan menjadi darah.

“Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.” (Yoel 2:31)

Yesaya juga menyebutkan tanda ini sebelum Hari Tuhan datang, yaitu matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak memancarkan cahayanya.

“Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan, … matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya.” (Yes 13:9-10)

Tuhan Yesus juga menyebutkan peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan ini akan terjadi segera sesudah tribulasi dan menjelang waktu Penampakan Anak Manusia di langit yaitu peristiwa “Pengangkatan” itu.

“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Matius 24:29-30)

Rasul Petrus yang penuh Roh Kudus pada hari Pentakosta di Yerusalem juga mengucapkan kembali nubuat Yoel yang menyebutkan tanda peristiwa gerhana matahari dan bulan yang terjadi berturut-turut berkaitan dengan datangnya hari Tuhan yang mulia itu.

“Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.” (Kisah 2:20)

Kitab Wahyu menyingkapkan juga bahwa pada pembukaan meterai keenam, yaitu pada peristiwa hari besar Penampakan Tuhan Yesus (Wahyu 6:16-17), akan sama ditandai dengan peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan.

“Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.” (Wah 6:12)

Jadi TUHAN akan membuat tanda alam gerhana matahari yang akan disusul dengan terjadinya gerhana bulan menjelang hari Kedatangan-Nya. Peristiwa alam ini akan menjadi petunjuk waktu untuk memecahkan misteri datangnya hari “Pengangkatan” orang percaya.


PERISTIWA LUAR BIASA DI 2014-2015

Sejak Tahun 2014, tepatnya pada hari raya Paskah Yahudi 15 April 2014, telah terjadi peristiwa langit yang luar biasa. Suatu peristiwa langka berupa gerhana matahari yang disertai fenomena gerhana bulan darah kembar empat (Tetrad Blood Moon) secara berturut-turut dari bulan April Tahun 2014 hingga akhir September Tahun 2015. Dan yang lebih istimewa lagi setiap peristiwa langit itu semuanya terjadi bertepatan dengan hari-hari raya Yahudi yang disebutkan dalam Imamat 23. Inilah tanda Kedatangan Tuhan yang dimaksudkan oleh Alkitab, dan hal ini terjadi sekarang di hadapan kita, yang hidup di zaman akhir ini.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mengumumkan bahwa selama 2014-2015 akan terjadi fenomena gerhana matahari total disertai gerhana bulan darah kembar empat. Gerhana bulan darah kembar empat itu, yang pertama terjadi pada tanggal 15 April 2014 : bertepatan dengan hari Paskah Yahudi 2014, yang kedua pada tanggal 8 Oktober 2014 : bertepatan dengan hari raya Pondok Daun 2014, yang ketiga pada 4 April 2015 : bertepatan dengan hari Paskah Yahudi 2015, dan yang terakhir pada tanggal 28 September 2015 : bertepatan dengan hari raya Pondok Daun 2015.

Sementara itu Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 20 Maret 2015 bertepatan dengan pergantian Tahun Baru Yahudi, yang bila kita pelajari secara Kalender Alkitabiah tahun baru Yahudi yang akan datang ini merupakan awal dari milenium Ketujuh. Artinya Gerhana Matahari Total yang terjadi tahun 2015 ini selain secara umum sebagai tanda Kedatangan Tuhan menurut nubuat Yoel, namun sekaligus juga merupakan tanda hitungan kalender untuk memasuki masa Milenium Tuhan, yaitu Seribu Tahun Kerajaan Tuhan (Wahyu 20:4). Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini silakan baca artikel “Kalender Tuhan”.

Dengan terjadinya tanda-tanda langit yang luar biasa ini, TUHAN mengajak kita untuk memahami bahwa Kedatangan Tuhan sungguh-sungguh akan terjadi pada tahun-tahun sekarang ini. Kita telah diajar bahwa Tuhan Yesus akan datang menjemput kita pada hari raya Pondok Daun, dan nabi Yoel telah menyebutkan tanda bulan darah ini ribuan tahun sebelum fenomena gerhana bulan darah yang terjadi pada 2014-2015 ini diumumkan oleh NASA. Dan sekarang ini tanda bulan darah itu benar-benar terjadi berturut-turut pada hari-hari raya Tuhan, termasuk hari raya Pondok Daun. Tidak salah lagi bahwa Hari Tuhan yang dahsyat itu akan terjadi bertepatan dengan hari raya Pondok Daun 2015 dimana seluruh tanda bulan darah ini akan selesai digenapi pada hari yang dahsyat itu.




Kita tidak boleh secara sembarang menyimpulkan sesuatu, tetapi semua harus diuji dengan teliti dan cermat. Bahwa hari Pondok Daun 2015 yang jatuh pada tanggal 28 September itu benar-benar adalah hari Kedatangan Tuhan, harus memenuhi satu syarat lagi yaitu hari raya Pendamaian yang jatuh pada tanggal 23 September 2015 – harus merupakan waktu yang tepat untuk mengumumkan Tahun Yobel. Mengapa demikian ? Karena sebelum Pengangkatan harus terjadi dahulu Kebangkitan Orang Percaya yang telah mati dalam Tuhan.

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” (1Tesalonika 4:16)

Sementara itu Kebangkitan Orang Percaya hanya akan terjadi pada Tahun Yobel (Ingat Tahun Yobel adalah lambang Tahun Pembebasan dari maut atau Kebangkitan Orang Percaya). Dan Tahun Yobel harus diumumkan tepat pada hari Pendamaian. Jadi hari Pendamaian yang jatuh pada tanggal 23 September 2015 harus memenuhi syarat sebagai awal Tahun Yobel untuk mendukung kesimpulan bahwa Kedatangan Tuhan akan terjadi pada hari Pondok Daun 2015.


PENGUJIAN TAHUN YOBEL

Menurut aturan Imamat 25, Tahun Yobel adalah Tahun Pembebasan yang dihitung empat puluh sembilan tahun setelah bangsa Israel memperoleh tanah perjanjian.

“…Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.” (Imamat 25:2)

“Selanjutnya engkau harus menghitung… empat puluh sembilan tahun… dalam bulan yang ketujuh pada tanggal sepuluh… pada hari raya Pendamaian kamu harus memperdengarkan bunyi sangkakala itu di mana-mana… memaklumkan kebebasan… Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu…” (Imamat 25:8-10)

Untuk menghitung jatuhnya Tahun Yobel harus melihat kondisi bahwa bangsa Israel telah menerima negeri yang dijanjikan TUHAN. Jadi ketika bangsa Israel berada dalam pembuangan seperti di Asyur dan di Babilonia, Tahun Yobel tidak boleh dihitung. Begitu juga selama bangsa Israel terserak ke seluruh dunia sejak penjajahan oleh kekaisaran Romawi.

Pada awal abad ke-20, sejak meletusnya perang dunia pertama, bangsa Israel moderen mulai berbondong-bondong ‘eksodus’ dari seluruh penjuru dunia, kembali memasuki negeri yang TUHAN janjikan. Pada tanggal 15 Mei tahun 1948 bangsa Israel moderen menyatakan kemerdekaannya. Namun demikian tanah Perjanjian terpenting yaitu kota tua Yerusalem dan Yudea serta Samaria masih dikuasai kerajaan Yordania. Baru pada Tanggal 7 Juni 1967, melalui peristiwa Perang Enam Hari, Yerusalem dan wilayah Yudea-Samaria dapat direbut kembali. Hari itu dirayakan sebagai “Yom Yerusalayim”, hari kembalinya kota Yerusalem.

Tanggal 7 Juni 1967 adalah tonggak sejarah penting bagi bangsa Israel, dan hari itu merupakan awal yang tepat untuk menghitung Tahun Yobel menurut aturan Imamat 25. Dan bila kita menghitung 49 tahun atau 17,640 hari (49 x 360 hari) dari tanggal 7 Juni 1967, – kita dapat menghitungnya menggunakan komputer dengan program Microsoft Excel misalnya – ternyata hasilnya jatuh tepat pada Tanggal 23 September 2015 !

Ini sungguh suatu tanda yang luar biasa. Dalam sejarah bangsa Israel pun barangkali tidak pernah datang Tahun Yobel sesempurna ini, dimana aturan Imamat 25:9 tentang hitungan 49 Tahun dapat digenapi tepat jatuh pada hari Pendamaian, tidak kurang tidak lebih seharipun. Sepertinya pada tanggal 23 September 2015 ini, kita akan memasuki : “The Real Jubilee” / Tahun Pembebasan Sesungguhnya yang merupakan penggenapan dari perayaan-perayaan Yobel bangsa Israel sebelumnya.

Dengan dipenuhinya pengujian Yobel pada 23 September 2015, maka hari raya Pondok Daun 2015 pun genap memenuhi tiga kriteria sekaligus sebagai Hari Tuhan Yang Mulia dan Dahsyat itu. Yaitu memenuhi syarat Hari Raya (Kol 2:16-17), memenuhi Nubuat Bulan Darah (Yoel 2:31) dan memenuhi syarat tentang Yobel secara sangat akurat (Imamat 25:9).




Perhatikan disini, penulis tidak bermaksud memastikan, apalagi mengatur atau menentukan Tanggal Kedatangan Tuhan. Kristus sendirilah yang menentukan jauh-jauh hari dan Dialah yang menyatakan Hari Kedatangan-Nya baik lewat kitab Imamat dan kitab-kitab para nabi, maupun kitab-kitab Perjanjian Baru, yang menyatakan bahwa Roh Kudus yang diutus Bapa akan mengajarkan segala sesuatunya kepada kita hamba-hamba-Nya (Yoh 14:26), dan oleh kehendak Allah, Roh menyatakan hal-hal yang tersembunyi dalam diri-Nya kepada kita (1Kor 2:10). Sedang kami hanya membagikan hasil studi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.