
(Illustration by Paolo Veronese/Art History Museum, Vienna)
"JUBAH-JUBAH LAIN DAN ARTI KIASANNYA"
PENDAHULUAN
Sejalan dengan perkembangan budaya manusia dari zaman ke zaman, fungsi pakaian bukan lagi sekadar sebagai penutup badan karena tuntutan kesusilaan melainkan sudah menjadi simbol jatidiri orang yang mengenakannya. Aktivitas yang kita jalani juga menentukan cara berpakaian kita. Anda tidak akan ke gereja dengan pakaian renang, misalnya, atau pergi piknik dengan mengenakan jas three-pieces dan gaun haute-couture. Untuk keperluan pekerjaanpun banyak profesi yang memiliki aturan konvensional bagi orang-orang yang berkecimpung di dalamnya untuk mengenakan pakaian tertentu.
"Akhirnya, berpakaian sedikit-banyak merupakan bagian dari kita; berpakaian dapat berbicara banyak tentang diri kita dan siapa kita sekalipun tanpa memperdengarkan suara. Secara benar maupun salah, kita sering menilai orang lain oleh apa yang dia pakai atau bagaimana dia memakainya" [alinea pertama, dua kalimat terakhir].
Di zaman Alkitabpun pakaian berperan penting dalam kehidupan manusia. Khususnya dalam Perjanjian Baru, pakaian menceritakan banyak hal dan menyandang berbagai simbol-simbol termasuk warnanya. Dalam pelajaran pekan ini pokok pembahasan kita akan menukik lebih mendalam lagi tentang makna teologis dari pakaian atau jubah. "Sekadar pakaian, memang, namun tentu saja penuh dengan simbolisme dan pemaknaan" [alinea terakhir].
JAMAHAN IMAN ("Siapa yang Menjamah Jubah-Ku?")
Tampaknya kisah pasien yang mencari kesembuhan dari penyakitnya dengan mencari pengobatan ke mana-mana dan sampai habis-habisan adalah cerita lama yang juga dialami orang-orang di zaman Alkitab, seperti perempuan yang mengidap sakit perdarahan. Mungkin itu indikasi postpartum haemorrhage, kita tidak tahu. Tapi yang pasti penderitaan fisiknya masih ditambah lagi dengan penderitaan batin oleh tudingan masyarakat di mana dia hidup yang percaya bahwa penyakit adalah identik dengan dosa. Dan kita tidak tahu apakah tuduhan itu berdasar atau tidak!
"Selain berada dalam kondisi kesehatan yang berbahaya dengan dan oleh penyakit itu sendiri, di dalam kebudayaan itu penyakit ini juga mengandung cap kenajisan rohani yang tak diragukan lagi menambah penderitaannya" [alinea pertama, kalimat kedua].
Latar belakang tentang wanita ini tidak banyak dibeberkan, kecuali bahwa dia sudah menderita perdarahan tersebut selama dua belas tahun terakhir dan bahwa dia telah jatuh melarat dalam usahanya mencari pengobatan di mana-mana yang selalu gagal. Pendeknya, wanita ini sedang berada dalam keadaan parah baik fisik, ekonomi maupun sosial. Namun demikian dia tidak menyerah begitu saja dan menaruh pengharapan baru, "karena dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus" (Mrk. 5:27).
Berita-berita seperti apa yang masyarakat sudah dengar tentang gereja kita? Tentang jemaat anda? Tentang keluarga anda? Tentang diri anda? Apakah berita-berita itu merupakan kabar baik, atau kabar buruk? Sering kita mengidamkan untuk bisa menginjili masyarakat di mana jemaat kita berada atau lingkungan di mana kita tinggal, dan itu adalah suatu kerinduan yang sangat bagus. Tetapi kita bisa melakukan penginjilan secara tidak langsung, tanpa mengadakan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) atau KPA (Kelompok Pendalaman Alkitab), apabila orang-orang di sekitar kita bisa mendengar berita-berita yang menyenangkan dan menghiburkan niscaya mereka akan tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai kita dan iman kita.
Wanita itu telah berusaha untuk datang dekat kepada Yesus karena sebelumnya telah mendengar berita-berita yang menghiburkan perihal Dia, dan dari situ bertumbuhlah iman di hatinya. Rasul Paulus mengatakan, "iman timbul dari pendengaran" (Rm. 10:17). Dari apa yang didengarnya tentang Yesus maka wanita yang mengidap penyakit menahun itu rela untuk berdesak-desakkan di antara kerumunan massa, dengan suatu tekad yang sederhana: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh" (Mrk. 5:28).
Apakah sudah pernah terjadi sebelumnya seseorang jadi sembuh dari penyakitnya hanya karena tubuhnya bersentuhan dengan jubah Yesus? Mengapa wanita ini begitu yakin bahwa dengan menjamah jubah Yesus dia pasti akan sembuh? "Tentu saja bukan jubah itulah yang telah menyembuhkannya--bukan pula sentuhannya. Itu hanyalah kuasa Allah yang bekerja dalam diri seseorang yang dari keputusasaannya datang kepada Tuhan di dalam iman, sadar akan ketidakberdayaan dan kebutuhannya sendiri. Jamahan wanita itu pada jubah-Nya adalah iman yang dinyatakan dalam perbuatan, yang mana merupakan arti dari Kekristenan itu" [alinea ketiga, tiga kalimat terakhir].
"Siapa yang menjamah jubah-Ku?" tanya Yesus yang merasakan ada "energi" yang tersedot keluar dari diri-Nya (ay. 30). Pertanyaan Yesus ini agak aneh kedengarannya di telinga murid-murid, sebab selama ini ketika berada di antara kerumunan manusia tentulah jubah Guru mereka itu sudah sering bersentuhan bahkan mungkin terjepit dan tertarik-tarik oleh desakan orang banyak. Apakah Yesus merasa terganggu hanya karena ada seseorang yang menjamah jubah-Nya, sehingga Dia ingin tahu siapa itu? Tentu tidak. Tetapi Yesus ingin menjadikan wanita ini sebagai suatu contoh bagi orang banyak itu tentang apa artinya sebuah iman yang telah berhasil menarik energi ilahi dari tubuh-Nya sehingga menghasilkan penyembuhan.
Ada pelajaran yang Yesus ingin orang banyak itu pelajari dari peristiwa ini. "Ia tentu ingin orang-orang lain tahu apa yang terjadi, dan kemungkinan Ia juga ingin agar perempuan itupun tahu bahwa bukan karena ada kekuatan magis dalam jubah-Nya yang memberinya kesembuhan, melainkan kuasa Allah yang bekerja dalam dirinya melalui tindakan iman yang dilakukannya" [alinea terakhir, kalimat kedua].
Meskipun Markus tidak mengungkapkan secara terinci apa saja yang telah dikemukan oleh wanita tersebut dalam pengakuannya kemudian kepada Yesus, namun yang jelas dengan badan gemetar ketakutan dia "tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya" (ay. 33). Tentu saja dia bukan hanya mengaku bahwa dirinyalah yang telah menjamah jubah Yesus, tetapi mungkin juga dia telah membeberkan segala dosanya. Kata-kata Yesus begitu menyejukkan hati dan memberi semangat baru kepada wanita yang sudah sembuh itu, "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" (ay. 34).
Apa yang kita pelajari tentang jamahan iman dari perempuan yang menderita sakit perdarahan itu?
1. Cerita-cerita yang baik mengenai Yesus telah membangun iman dalam diri wanita itu, dan iman itu kemudian melahirkan sebuah tindakan yaitu pergi mencari Yesus. Apakah hidup kita juga menghasilkan berita yang dapat menumbuhkan iman dalam diri orang lain untuk mencari Yesus?
2. Iman wanita itu bukan sekadar iman yang pasif, melainkan iman yang melahirkan sebuah tindakan. Iman seperti inilah yang dapat menyerap "energi ilahi" yang bukan sekadar menyembuhkan sesuatu penyakit tapi juga mendatangkan kekuatan rohani bagi setiap manusia.
3. Kuasa Allah hanya dapat bekerja dalam diri seseorang yang memiliki iman yang nyata. Kita tidak dapat memiliki kuasa itu hanya dengan meminta saja, tetapi juga harus disertai percaya yang sungguh. Mujizat adalah pertemuan antara kuasa ilahi dengan iman manusia.
TANGGALKAN KESOMBONGAN (Dia "Menanggalkan Jubah-Nya")
Suasana hari raya Paskah meliputi hari-hari terakhir Yesus di dunia ini. Pada hari raya besar ini adalah menjadi tradisi orang Yahudi datang ke Yerusalem untuk beribadah dan mempersembahkan kurban paskah.
Paskah (Ibrani: pesach, dari kata dasar pasach yang artinya "lompat" atau "lewatkan") merupakan hari raya besar bangsa Yahudi di mana mereka memperingati hari pembebasan dari perbudakan Firaun, dan di bawah pimpinan Musa meninggalkan negeri Mesir yang telah menjadi rumah mereka selama lebih dari 400 tahun sejak Yakub memboyong keluarganya mengungsi ke negeri ini ketika Yusuf berkuasa sebagai kepala pemerintahan. Paruh pertama masa itu mereka nikmati penuh kebahagiaan dan di situlah bangsa ini beranak-pinak, tetapi paruh kedua mereka jalani dalam kesengsaraan sebagai bangsa yang diperbudak. Mereka masuk ke Mesir hanya dengan 66 orang sebagai satu keluarga, tetapi mereka keluar dengan lebih dari 2 juta orang sebagai satu bangsa.
Itulah sebabnya pada malam pertama perayaan Paskah (tanggal 15 bulan Nissan dalam kalender Yahudi, yang tiap tahun berubah tanggalnya dalam kalender internasional) setiap keluarga diwajibkan untuk membaca dari buku Haggadah (artinya: ceritakan) untuk mengenang kembali peristiwa pembebasan itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Keluaran 13:8.
Hari raya Paskah diperingati dengan berbagai simbol, antara lain dengan memakan roti tidak beragi untuk mengingat nenek-moyang mereka yang karena ketergesaan tak sempat lagi membubuhkan ragi pada tepung dan menyimpannya satu malam supaya adonan itu khamir dan empuk ketika dipanggang. Roti Paskah, disebut matzah, hanyalah terbuat dari tepung dicampur air dan dipanggang dengan sangat cepat. Roti seperti itu jugalah yang disantap oleh Yesus bersama murid-murid di kamar atas itu. Bahkan sebelum memulai perayaan itu orang Yahudi harus membersihkan dari rumah mereka segala benda yang pantang digunakan (Ibrani: chametz) selama masa perayaan yang berlangsung tujuh hari itu, atau delapan hari kalau di luar Israel.
Tetapi peristiwa yang paling penting untuk diingat oleh setiap orang Yahudi ialah domba Paskah yang dikorbankan dan diambil darahnya untuk dibubuhkan pada kedua tiang di ambang pintu supaya malaikat yang datang hendak membunuh setiap anak sulung di Mesir malam itu akan melewati rumah yang memiliki tanda darah itu sehingga anak sulung di rumah itu selamat. (Itulah sebabnya Paskah juga diterjemahkan Passover ataudilewatkan). Perintah untuk merayakan paskah dengan segala tatacaranya tertulis dalam Keluaran 12-15.
"Sekarang mereka telah berkumpul untuk merayakan Paskah di mana kepada mereka harus dibicarakan tentang kebutuhan mereka yang besar akan kasih karunia Allah yang menyelamatkan di dalam hidup mereka dan betapa bergantungnya mereka kepada Dia" [alinea pertama, kalimat terakhir].
Dalam suasana Paskah seperti ini, ketika seluruh bangsa memperingati hari kelepasan nenek-moyang mereka dari tanah perhambaan, seyogianya yang menggema di mana-mana adalah pengucapan syukur dan semangat solidaritas. Tetapi bukan itulah atmosfir yang muncul di kalangan masyarakat termasuk di antara murid-murid Yesus. Mereka bahkan seperti tidak menggubris peringatan Guru mereka itu bahwa waktunya sudah dekat di mana Anak Manusia akan diserahkan untuk diolok-olok, diadili dan dihukum mati di kayu salib (Mat. 20:18-19). Bahkan mereka mungkin tidak menyadari pengorbanan yang dilambangkan oleh domba Paskah yang disembelih oleh nenek moyang mereka demi keselamatan anak-anak sulung mereka di Mesir berabad-abad silam.
Apa yang Yesus saksikan justeru adalah roh persaingan dan kesombongan. Setelah "insiden ibu Zebedeus" (ibu dari Yakobus dan Yohanes) yang memohon agar kedua anaknya itu diberi tempat terhormat di sebelah kanan dan kiri Yesus bila sudah berada di surga kelak, sehingga menimbulkan kemarahan sepuluh murid yang lain (Mat. 20:20-24), roh persaingan dan kesombongan diperagakan pula oleh keduabelas murid itu sesampainya mereka di ruang atas sebuah rumah kosong untuk makan malam Paskah.
Mereka baru saja melakukan perjalanan dari Yerikho, sekitar 27km dari Yerusalem, berjalan kaki dengan kasut terbuka di atas jalan berdebu musim semi yang tentu saja membuat kaki-kaki mereka sangat kotor. Menurut tradisi, para pelayan rumah yang harus membasuh kaki-kaki mereka sebelum makan. Tetapi di rumah kosong itu tidak ada pelayan, sementara murid-murid semuanya merasa sederajat.
Dalam susasana saling menunggu itulah Yesus mengambil inisiatif. Ia bangkit danmenanggalkan jubah-Nya, mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam basi lalu mulai membasuh kaki murid-murid-Nya satu persatu (Yoh. 13:4-5). "Mereka telah menobatkan-Nya sebagai Anak Allah. Anak Allah itu harus membungkuk untuk melakukan pekerjaan seorang hamba yang mempermalukan mereka. Ayat ini mengatakan bahwa sebelum melakukan itu Ia menanggalkan jubah luar-Nya, menunjukkan kerelaan-Nya untuk merendahkan diri-Nya dan merendahkan hati-Nyasampai ke tingkat apapun yang diperlukan demi menjangkau para pengikut-Nya" [alinea ketiga, tiga kalimat terakhir].
"Tari Limbo" adalah sebuah tarian di mana seorang penari dengan diiringi musik perkusi beringsut perlahan-lahan dalam posisi separuh badan terlentang melewati bagian bawah mistar pembatas setinggi dada atau lebih rendah lagi, tanpa bagian tubuh manapun menyentuh mistar atau sepasang tiang penyanggahnya, dan berhasil menerobos ke seberang tanpa jatuh terlentang. Tarian ini diciptakan oleh bangsa Trinidad di abad ke-19 yang kemudian dilestarikan sebagai ritual pemujaan, dimaksudkan untuk mengenang pengalaman pahit para budak dari negeri mereka yang diangkut ke Eropa dan Amerika dengan kapal barang yang pintu deknya begitu rendah sehingga untuk memasukinya mereka harus membungkukkan atau menelentangkan badan serendah mungkin agar kepala tidak terantuk.
Belakangan tarian yang juga disebut "Under Stick Dance" ini dipopulerkan melalui pergelaran seni tari artistik maupun dipertandingkan sebagai olahraga khas, bahkan dengan memasang api yang menyala di atas mistar (Fire Limbo). Hal yang menarik adalah semboyan dari tarian ini: How low can you go?
Seberapa rendah anda dan saya dapat merendahkan diri, di hadapan Tuhan dan di depan sesama manusia? Hal apa yang menghalangi kita untuk menjadi lebih rendah hati lagi? Pangkat? Jabatan? Kekayaan? Penampilan? Gengsi? Seperti Yesus, marilah kita tanggalkan "jubah-jubah" itu agar kita dapat melayani sesama dan berterima di hadapan Tuhan. "Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah" (Mzm. 37:11); "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (Yak. 4:6; 1Ptr. 5:5).
Apa yang kita pelajari tentang "menanggalkan jubah" seperti yang Yesus lakukan?
1. Sebagai manusia, kita sering diberati dengan gengsi-gengsi palsu sehingga sulit untuk bisa merendah. Seperti murid-murid Yesus di malam Paskah itu, menunggu untuk dilayani entah oleh siapa, sampai Yesus sendiri harus turun tangan menempelak keangkuhan mereka dengan membasuh kaki mereka satu persatu.
2. Pembasuhan kaki dalam upacara perjamuan suci kita lakukan mengikuti keteladanan Yesus tersebut (Yoh. 13:15). Tapi pernahkah anda menyaksikan seseorang yang melakukannya sambil terharu karena menghayati maknanya? Lebih sering yang kita saksikan adalah membasuh kaki sambil mengobrol bahkan bercanda. Hanya formalitas?
3. Apakah "jubah-jubah" yang selalu menghalangi kita untuk bisa merendahkan hati? Mintalah pertolongan Tuhan agar memberi kita hati yang mau menanggalkan jubah-jubah yang hanya akan memberati kita untuk dapat naik lebih tinggi ke tingkat kerohanian yang Allah kehendaki.
PERILAKU PEJABAT (Mengoyakkan Jubahnya)
Perintah dari hukum Musa (Torah) adalah jelas, bahwa jubah imam besar tidak boleh dikoyakkan. Hukum ini diadakan untuk mengantisipasi tradisi bangsa Israel purba bilamana seseorang mengalami kesedihan yang mendalam biasanya akan ditunjukkannya dengan mengoyakkan jubahnya. Yakub mengoyakkan jubahnya ketika mendapat laporan palsu yang menyedihkan tentang Yusuf (Kej. 37:34), Yosua mengoyakkan jubahnya ketika mendengar pasukan Israel yang kocar-kacir dikejar penduduk kota kecil Ai (Yos. 7:6), raja Daud mengoyakkan pakaiannya ketika mendengar Absalom telah membunuh saudara-saudaranya (2Sam. 13:31), dan raja Ahab mengoyakkan pakaiannya mendengar nubuatan nabi Elia tentang nasibnya (1Raj. 21:27), sekadar menyebut beberapa nama. Tetapi, seorang imam besar pantang mengoyakkan jubah ataupun pakaiannya karena alasan apapun.
"Hukum Musa melarang imam besar mengoyakkan jubah keimamatannya (Im. 10:6; 21:10) sebab pakaiannya melambangkan kesempurnaan tabiat Allah. Mengoyakkan jubah itu berarti mencemarkan tabiat Allah, menodai kesempurnaannya. Jadi, ironisnya, Kayafas bersalah karena melanggar hukum yang sedang dibelanya. Hal itu membuat dirinya tidak pantas untuk jabatannya" [alinea pertama, kalimat ketiga hingga keenam].
Betapa sering kitapun berlaku seperti Kayafas, membela suatu aturan dengan merusak aturan yang lain; atau membela seseorang karena jabatannya dalam pekerjaan Tuhan tetapi pada saat yang sama melanggar aturan-aturan yang seharusnya dibela oleh pejabat yang bersangkutan. Apalagi pada jabatan sekuler, banyak orang yang karena sesuatu alasan tampil membela pemimpin yang melanggar aturan, aturan yang semestinya dibela oleh pemimpin itu.
Kalau dalam kepemimpinan sekuler pelanggaran aturan oleh pemimpin dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, pelanggaran aturan oleh imam besar Kayafas waktu itu justeru memastikan berlakunya hukum perjanjian baru dan membatalkan hukum upacara perjanjian lama termasuk peran imam besar.
"Simbolisme dari pengoyakkan (jubah) itu adalah bersifat mendasar. Hal ini merupakan awal dari berakhirnya keseluruhan sistem persembahan kurban duniawi dan keimamatan. Sesuatu yang baru dan lebih baik segera dikukuhkan, dengan Kristus sebagai Imam Besar baru yang melayani di dalam kaabah surgawi" [alinea kedua].
Banyak rabi dan imam Yahudi moderen yang membela tindakan imam besar Kayafas ini dengan mengatakan bahwa kemungkinan jubah yang dikoyakkannya waktu itu bukanlah jubah resmi imam besar, melainkan jubah yang dipakainya sebagai pemimpin kaum Sanhedrin atau bahkan itu adalah jubah pribadi. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengoyakkan jubah oleh Kayafas itu dapat dibenarkan, righteous indignation, tanda sakit hati yang mendalam mendengar "hujatan" Yesus yang mengaku sebagai Anak Allah, dan dilakukan sebagai tanda ketegasan sikapnya yang membela kehormatan dan kemuliaan Allah. (Lihat komentar di Biblos.com tentang Mat. 26:65).
Tetapi apakah ketentuan dalam hukum Musa dalam Imamat 10:6 dan 21:10 dapat membenarkan hal seperti itu? Tidak sama sekali. Dan yang lebih penting lagi, apakah Yesus dapat disebut menghujat karena mengaku diri-Nya sebagai Anak Allah, sedangkan Allah sendiri mengakui Dia sebagai Anak-Nya (Mat. 3:17)?
"Betapa mengerikan bahwa pemimpin-pemimpin rohani telah begitu dibutakan oleh kebencian, kecemburuan, dan ketakutan bahwa ketika Kristus datang--Seorang terhadap siapa keseluruhan agama mereka diarahkan--banyak dari para pemimpin ini (tapi tidak semua) tidak mengenal Dia, dan orang-orang awamlah yang menerima Yesus sebagai Mesias serta mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh imam-imam ini" [alinea terakhir, kalimat terakhir].
Para pemimpin rohani pada segala zaman mengemban tanggungjawab yang lebih besar dalam soal kerohanian maupun kebenaran firman Tuhan, untuk menuntun jemaat yang dipimpin mereka kepada kesempurnaan rohani dan kemantapan pengetahuan akan firman Tuhan. Adalah suatu dosa besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan jika kewajiban yang dipercayakan di pundak mereka ini dilalaikan.
Apa yang kita pelajari tentang imam besar Kayafas yang mengoyakkan jubah keimamatannya?
1. Jubah keimamatan melambangkan tabiat Allah yang sempurna, maka setiap pemimpin rohani wajib memelihara kekudusannya. Melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh ketika sedang memegang jabatan keimamatan itu sama dengan menodai bahkan mengoyakkan jubah keimamatan itu.
2. Pada kedatangan-Nya yang pertama di dunia ini Yesus ditolak oleh banyak pemimpin umat kepada siapa Dia telah datang, yang berakibat dengan ditolaknya mereka oleh Tuhan. Menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali alangkah baik kalau kita semua selaku umat-Nya, dan khususnya para pemimpin, untuk lebih memusatkan diri pada persiapan menyambut-Nya daripada sibuk dengan urusan-urusan sekularisme.
3. Imam besar Kayafas telah terjebak dalam konsep berpikir eksklusivisme dan merasa diri sendiri yang lebih benar, bahkan mengidentikkan dirinya dengan kebenaran itu sendiri. Bagaimana anda dan saya melihat posisi kita sekarang, apakah kita sedang menghadapi jebakan yang sama atau tidak?
LAMBANG PELECEHAN (Pakaian Penghinaan)
Perhatikan rentetan perlakuan yang dialami Yesus sebagaimana tertera dalam Matius 27:28-31, dan benda-benda yang diberikan kepada-Nya dengan maksud mencemooh. Yesus sebagai Penebus sedang memikul dosa umat manusia sepanjang zaman, termasuk menggenapi setiap makna yang berkaitan dengan dosa itu. "Yesus dilucuti dan dipakaikan dengan jubah warna ungu. Mungkin saja jubah ini adalah jubah seorang serdadu atau salah satu pakaian tua Pilatus yang sudah dibuang. Ungu adalah warna kerajaan. Dengan maksud untuk menghina jubah ini dikenakan di pundak Manusia yang mengaku sebagai Raja" [alinea pertama].
Mari kita telaah beberapa hal yang dialami Yesus menjelang penyaliban-Nya dan kaitannya dengan peran yang sedang dilakoni-Nya saat itu. Pertama, dosa itu memalukan karena menyingkap ketelanjangan (Kej. 3:7). Sebagai seorang Yahudi dengan aturan yang ketat soal berpakaian, tindakan melucuti pakaian Yesus di depan umum sungguh merupakan suatu penghinaan luar biasa. Melucuti jubah dan pakaian Yesus sehingga hanya meninggalkan pakaian dalam yang dikenakan-Nya, di depan mata bangsa-Nya sendiri, adalah suatu perlakuan yang amat memalukan. Tetapi dengan ketelanjangan yang dialami Yesus--demi kita manusia--Ia kemudian dapat menyediakan bagi kita "pakaian putih...agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan" (Why. 3:18).
Kedua, jubah warna ungu yang dikenakan kepadanya, sama warnanya seperti yang dipakai oleh serdadu-serdadu Romawi, yang juga dikenakan oleh raja-raja dan kaisar-kaisar sebagai warna pakaian kebesaran mereka, menjadi suatu pemandangan yang kontradiktif dengan penampilan Yesus sebagai seorang pesakitan sehingga kesan penghinaan semakin nyata. Dosa juga dilambangkan dengan warna ungu atau kirmizi (Yes. 1:18; Why. 17:3-4), dan Yesus yang sedang memikul dosa isi dunia dipakaikan jubah berwarna ungu. Tetapi, suatu hari kelak Ia akan melakukan pembalasan dengan dahsyat sehingga jubah-Nya menjadi merah keunguan oleh darah musuh-musuh-Nya (Yes. 63:1-6).
"Raja yang sesungguhnya itu diarak berkeliling dalam suatu upacara penghinaan, mengenakan pakaian penghinaan. Ia yang menawarkan untuk menutupi dunia yang berdosa ini dengan jubah kebenaran dan kesempurnaan-Nya sendiri kini dipakaikan dengan jubah penghinaan" [alinea kedua, dua kalimat terakhir].
Ketiga, mereka menaruh mahkota duri di kepala-Nya, sebagai cemoohan. Pemasangan mahkota duri dimaksudkan supaya menimbulkan rasa sakit yang amat sangat ketika duri-duri itu menembus kulit kepala-Nya. Tetapi duri-duri itu memang datang bersama dengan dosa sebagai kutukan atas bumi ini (Kej. 3:18), dan Kristus dijadikan terkutuk karena dosa-dosa kita (Yes. 53:3-5). Pemakaian mahkota duri hanya mempertegas ucapan-Nya sebelum ini, bahwa "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yoh. 18:36).
Keempat, mereka menaruh sebatang buluh di tangan kanan-Nya, mengibaratkan sebuah tongkat kerajaan. Seakan belum cukup sebagai penghinaan dengan menaruh buluh itu di tangan kanan-Nya, mereka juga mengambil buluh itu lalu dipukulkan ke kepala-Nya. Memukul kepala dalam kebudayaan Romawi adalah pantangan keras karena hal itu dianggap sebagai pengingkaran terhadap harkat dan martabat orang Romawi sebagai manusia super. Sedangkan pada sesama rekan serdadu mereka tak akan melakukan itu, apalagi terhadap Pilatus atau Kaisar? Namun dalam kebodohan mereka telah berani melakukan itu pada Raja segala raja yang tongkat kerajaannya adalah "tongkat kebenaran" (Mzm. 45:7; Ibr. 1:8). Dosa adalah tindakan pembangkangan terhadap kebenaran Tuhan, dan Yesus sebagai Penebus harus menanggalkan tongkat-Nya sendiri untuk memegang tongkat buluh dari manusia berdosa sebagai lambang perlawanan terhadap kebenaran-Nya yang abadi.
Peristiwa dahsyat yang hanya terjadi satu kali sepanjang zaman kekekalan ini tentu telah menjadi tontonan semesta alam. Seluruh surga mengamati dengan cermat kejadian demi kejadian selama jam-jam yang menegangkan saat Raja Surga itu menahan semua penghinaan yang ditujukan kepada-Nya. Aktivitas setan-setan terhenti karena sedang memusatkan perhatian mereka kepada detik-detik yang segera akan mengakhiri drama penyelamatan umat manusia dari kebinasaan kekal. Betapa penghulu setan berharap bahwa dengan penderitaan fisik dan mental yang begitu dahsyat mendera-Nya, Yesus akan menyerah sehingga seluruh rencana keselamatan yang telah dicanangkan Allah di Taman Eden itu gagal total, dan selanjutnya setan tidak perlu bekerja lagi. Tetapi Yesus dengan tabah menggenapi nubuatan tentang permusuhan turun-temurun antara ular dan Hawa, sementara Dia sebagai keturunan perempuan itu secara daging "meremukkan kepala" ular itu dan membiarkan keturunan ular itu "meremukkan tumit" keturunan perempuan itu (Kej. 3:15).
Suatu hal yang harus kita pahami sebagai orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus ialah bahwa "peremukkan tumit" itu tidak berhenti di Golgota. Oleh sebab Yesus telah mengalahkan Setan dengan cara meminum cawan berisi upah dosa dan menjalani penyiksaan sampai kepada kematian sebagai penebusan manusia dari dosa, setan telah mengalihkan sasaran serangannya dengan "memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus" (Why. 12:17). Itulah anda dan saya!
Simon dari Kirene mewakili para pengikut Kristus sepanjang masa yang akan "dipaksa" untuk mengambil bagian dalam memikul salib-Nya (Mat. 27:32), sesuai dengan perkataan Yesus sendiri kepada murid-murid itu: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Mat. 16:24).
Pertanyaannya sekarang: Apakah kita benar-benar siap dan rela untuk turut mengambil bagian dalam salib Kristus? "Berapa banyak dari kita, pada saat orang memperlakukan kita dengan buruk atau bahkan memandang kita dengan pandangan melecehkan, bereaksi dengan marah dan berusaha membalasnya? Lihatlah keteladanan yang Yesus tinggalkan untuk kita di sini tentang bagaimana Ia menghadapi perlakuan ini" [alinea terakhir, dua kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari mengenai jubah penghinaan yang dikenakan kepada Yesus Kristus?
1. Apa yang Yesus alami menjelang penyalibannya merupakan bagian dari rencana keselamatan yang mesti dijalani-Nya sebagai konsekuensi dari pilihan-Nya sendiri untuk meminum isi cawan itu. Bahkan Ia harus mengalami penderitaan batin melalui penghinaan tiada tara yang lebih menyakitkan dari penderitaan fisik.
2. Manusia memilih untuk berbuat dosa, Yesus memilih untuk menjadi tumbal dari perbuatan dosa manusia itu. Apa makna yang dapat anda dan saya petik dari kenyataan ini, dan bagaimana kita meresponnya?
3. Rasul Petrus mengatakan bahwa kita dipanggil untuk menderita bersama Kristus (1Ptr. 2:19-21), dan rasul Paulus merasa senang dan rela dalam penderitaan karena Kristus (2Kor. 12:10). Apakah anda dan saya juga rela mengalami semua itu sebagai manifestasi keikutsertaan kita dalam memikul salib Kristus?
MEMPEREBUTKAN WARISAN-NYA ("Mereka Membagi-bagikan Pakaian-Ku")
Salib adalah bentuk hukuman paling berat yang diberlakukan terhadap seorang penjahat kelas kakap zaman itu. Pada hari Jumat itu ada tiga korban yang menjalani eksekusi di Bukit Tengkorak, tetapi dari ketiganya Yesus adalah korban yang penyiksaannya paling mengerikan, bahkan hanya Dia yang disiksa sebelum disalibkan. Bukan saja penyiksaan secara fisik, tetapi juga penyiksaan batin dan harkat kemanusiaan. "Dipukuli, ditolak, dihina, diolok-olok, dan sekarang dilucuti pakaiannya dan disalibkan, Yesus benar-benar meminum cawan pahit yang sejak "dunia dijadikan" (Why. 13:8) sudah menjadi bagian-Nya" [alinea pertama, kalimat terakhir].
Berdasarkan undang-undang Lex Iulia de maiestate, yang diberlakukan oleh penguasa Romawi waktu itu, banyak orang yang mengaku dirinya sebagai raja yang dihukum salib. Yesus yang dituduh mengaku diri-Nya sebagai Raja dianggap memenuhi syarat untuk hukuman ini (Mat. 27:11). Undang-undang Romawi juga membolehkan para pelaksana eksekusi untuk menyita barang-barang milik si terhukum. Karena Yesus tidak memiliki harta-benda apapun, kecuali pakaian yang melekat di badan-Nya, maka jubah luar-Nya itulah yang menjadi sasaran.
Tentu saja nilai intrinsik dari jubah Yesus boleh dikatakan nihil, apalagi jubah itu mungkin sudah terciprat bercak-bercak darah bahkan air ludah para pencemooh. Mengapa serdadu-serdadu Romawi itu masih juga "memperebutkan" jubah itu sampai harus ditentukan melalui undian? Kalau hal itu dilakukan bukan sekadar formalitas untuk memenuhi aturan hukum, maka tentulah mereka melakukannya dengan maksud untuk menambah penghinaan atas Diri-Nya. Sebab apalah gunanya membuang undi untuk mendapatkan sesuatu benda yang tak berharga? Namun tanpa mereka sendiri mengetahuinya, prajurit-prajurit itu sedang menggenapi nubuatan raja Daud tentang jubah itu (Mzm. 22:19).
"Tindakan-tindakan oleh para serdadu ini lebih membuktikan bahwa terlepas dari betapa dahsyat ujian yang dihadapi-Nya dan betapa mengerikan penderitaan itu, nubuatan itu sedang digenapi, pelayanan-Nya di bumi sedang mendekati klimaksnya, dan persiapan sedang dibuat yang akan memberikan keselamatan kepada setiap manusia yang menuntutnya dengan iman. Maka Yesus harus bertahan, dan Ia berhasil" [alinea terakhir, dua kalimat terakhir].
Perhatikan, hanya dalam injil Yohanes kita mendapat informasi tentang jumlah prajurit Romawi yang terlibat langsung dan berada di sekitar salib Yesus, yaitu empat orang (Yoh. 19:23), dan itulah sebabnya mereka berniat hendak memotong jubah Yesus yang berbentuk satu lembar kain lebar tanpa jahitan itu menjadi empat bagian. Satuan prajurit Romawi ini merupakan unit pasukan terkecil, terdiri atas empat orang, yang disebutquaternion. Kemungkinan bahwa jubah luar Yesus, seberapa lebarpun itu, bukanlah sebuah benda yang berguna kalau dalam potongan-potongan kecil. Itulah sebabnya para prajurit itu setuju untuk diundikan supaya siapapun pemenangnya akan memperoleh sehelai kain yang utuh.
Benar, secara intrinsik jubah Yesus itu nyaris tidak ada nilainya, tetapi nilai hakiki yang terdapat pada jubah itu sesungguhnya tidaklah ternilai. Itulah jubah yang sama yang telah mengalirkan energi penyembuhan kepada perempuan penderita perdarahan yang tak tersembuhkan oleh tabib manusiawi manapun. Jubah yang sama juga yang sudah turut berperan dalam pelbagai mujizat yang digelar Yesus sebelumnya, seperti ketika mengubah air biasa menjadi air anggur di Kana; ketika menenangkan gelombang di danau Galilea bersama murid-murid-Nya; ketika membangkitkan Lazarus dan anak perempuan Yairus; ketika memberkati lima ketul roti dan dua ikan untuk memberi makan ribuan orang; bahkan ketika mengusir setan dan memberkati kanak-kanak. Itu bukan lagi jubah biasa karena sudah pernah dipakai oleh Putra Allah dalam menjalankan missi-Nya di dunia ini.
Seperti tongkat biasa yang buatannya kasar dari sebatang kayu padang Midian di tangan Musa yang telah membelah Laut Merah supaya seluruh bangsa Israel dapat menyeberang di atas tanah yang kering, dan seperti sebuah katapel sederhana di tangan Daud yang telah melontarkan sebutir kerikil menembus dahi raksasa Goliat sehingga tewas terjerembab dan mengubah suasana pertempuran bagi kemenangan Israel, demikianlah jubah yang bersahaja di tubuh Yesus Kristus itu juga telah mengubah nasib banyak manusia. Persoalannya bukanlah benda-benda apa itu, tetapi siapa yang menggunakannya. Seperti kata pepatah, Not the gun but the man behind the gun. Atau yang lebih tepat lagi, Not the instrument but the power behind the instrument.
Apa yang kita pelajari dari jubah Yesus yang (tadinya hendak) dibagi-bagi itu?
1. Penganiayaan dan penghinaan yang dialami Yesus merupakan bagian dari "satu paket" penebusan dosa manusia yang mesti dijalani-Nya. Meski harus memikul penderitaan batin sembari menahan kesengsaraan fisik, Yesus dengan sabar menghadapinya tanpa bersungut. Sikap-Nya itulah yang harus kita miliki dan gunakan di saat kita juga harus mengalami keadaan yang sama oleh sebab iman kita.
2. Manifestasi hidup Kekristenan bukan cuma sebatas ketekunan belajar dan melakukan firman Tuhan, tetapi lebih dari itu adalah juga mengambil bagian bersama Kristus memikul salib. Inilah bukti iman yang sejati di dalam kehidupan seorang Kristen yang sejati.
3. Jubah Yesus hanyalah terbuat dari kain biasa yang tidak mahal, tetapi itu menjadi tak ternilai harganya karena digunakan oleh Yesus dalam berbagai missi pelayanan-Nya di dunia ini. Anda dan saya mungkiin juga hanya orang biasa dan bersahaja, tetapi bilamana kita menyerahkan diri untuk digunakan oleh Kristus bagi penyelesaian missi yang telah dimulai-Nya di dunia ini, niscaya kitapun akan memiliki nilai yang tak terhingga.
PENUTUP
Dari sudut pandang pemikiran sekularisme, sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa Yesus adalah korban dari sebuah konspirasi politik; sebagian lagi akan berspekulasi bahwa Dia adalah korban dari kenaifan dalam merekrut massa pengikut; sebagian lagi akan beranggapan bahwa Dia adalah korban dari kegagalan membangun komunikasi yang konstruktif-mutualistis dengan para pemimpin umat; atau sebagian lagi akan menilai bahwa Dia adalah korban dari gerakan reformasi yang digulirkannya sendiri secara terburu-buru. Bahkan anda dapat memperpanjang daftar spekulasi perihal penyebab kematian-Nya, jika anda mau.
Tetapi sebagai umat percaya kita memiliki perspektif yang berbeda dengan pandangan sekuler itu: Yesus adalah korban yang sengaja disiapkan selama masa persiapan yang panjang--sejak dunia dijadikan--untuk mati sebagai korban pengganti bagi dosa-dosa umat manusia. Kita tahu itu karena Alkitab yang mengajarkannya, dan kita percaya hal itu karena iman yang meyakinkannya. Dan kitapun tahu bahwa musuh-musuh manusiawi menikmati keuntungan dari kematian-Nya itu waktu itu.
"Musuh-musuh Yesus sekarang menantikan kematian-Nya dengan harapan yang tidak sabar. Mereka membayangkan bahwa peristiwa itu untuk selamanya akan membungkam desas-desus tentang kuasa keilahian-Nya dan keajaiban-keajaiban dari mujizat-mujizat-Nya. Mereka membanggakan diri bahwa mereka tidak perlu lagi gemetar karena pengaruh-Nya" [tiga kalimat pertama].
Sebagai para pengikut-Nya, kita menyesali dan menangisi penghinaan dan kematian Yesus di tangan manusia yang hendak diselamatkan-Nya; tetapi sebagai umat percaya, kita bersyukur atas kerelaan-Nya untuk mati dalam kehinaan agar dengan demikian kita beroleh kehidupan dalam kemuliaan-Nya. Oleh kematian-Nya di kayu salib itu Yesus dapat menyediakan kepada setiap orang yang percaya dan menerima Dia sehelai jubah kebenaran yang suci bersih karena telah dibasuhkan di dalam darah-Nya, tanpa bayar dan tidak harus melalui undian seperti yang dilakukan serdadu-serdadu Romawi itu.
Sudahkah anda memiliki jubah kebenaran Kristus itu, dan apakah anda sedang mengenakannya saat ini? Tanggalkan "jubah" apapun yang anda peroleh dari dunia ini, kenakanlah "jubah kebenaran" Kristus di mana saja berada!
(Oleh Loddy Lintong/Grand Terrace, 15 Juni 2011)















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.