
November 26, 2014
6
(Oleh : Sr. Maria Skolastika, P.Karm)
Bagaimana mengatasi kepahitan hidup kita?
Dua orang perempuan tampak berjalan perlahan memasuki kota Betlehem. Mereka adalah Naomi bersama Rut menantunya. Telah bertahun-tahun lamanya Naomi meninggalkan kota kelahirannya untuk merantau di tanah yang jauh bersama suaminya, Elimelekh. Akan tetapi, siapa nyana bahwa di tanah rantau suaminya meninggal, dan bahkan kedua anak laki-lakinya pun meninggal pula. Kini yang ada bersamanya tinggallah Rut, menantunya, yang tetap setia tidak mau meninggalkan sang mertua sendirian. Itulah sebabnya kini dengan langkah gontai kedua perempuan yang saling mengasihi ini pun berjalan kembali memasuki tanah Betlehem.
“Bukankah ini Naomi?” Ternyata kepulangan Naomi dan menantunya cukup menggemparkan kota kecil Betlehem. Seorang ibu muda yang kuat dan penuh harapan bersama suami dan dua anak laki-lakinya yang dulu biasa mereka lihat, kini tiba-tiba muncul kembali di tengah-tengah penduduk Betlehem setelah menghilang bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi, ia bukan lagi ibu muda yang kuat seperti dulu. Raut wajahnya dimakan usia dan peristiwa, tampak letih dan sedih, dan tiada lagi suami serta anak-anaknya. Yang mendampinginya kini hanyalah seorang perempuan muda asing dari tanah Moab, yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. “Naomikah itu?” Dengan suara terluka Naomi menjawab, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” (Rut.1:20)
Setelah melalui pencobaan dan derita, akhirnya Naomi pun memperoleh kebahagiaan di hari tuanya. Rut menantunya diambil isteri oleh Boas, seorang sanak keluarga Naomi. Rut pun melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat bagi Naomi, yang menjadi sumber kegembiraan Naomi di usia senjanya. Anak itu diberi nama Obed. Obed kemudian memperanakkan Isai, dan Isai memperanakkan Daud. Dari garis keturunan Daud inilah sekitar seribu tahun kemudian, lahir Yesus Kristus, Juruselamat dunia di kota mungil Betlehem.
Betlehem menjadi saksi bisu jutaan peristiwa dalam kehidupan, kemanisan maupun kepahitan. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, Betlehem merekam setiap suka derita anak manusia. Dan lebih dari itu, ia bahkan menguak makna indah peristiwa keselamatan manusia. Keselamatan yang membahagiakan, menyenangkan, membawa kedamaian, ternyata berakar pada banyak penderitaan. Penderitaan Yesus yang disalib, penderitaan Maria dan Yosef yang ditolak dari pintu ke pintu, hingga penderitaan seorang Naomi yang kehilangan suami dan anak-anaknya di tanah asing.
Kehidupan memang tidak pernah terpisahkan dari pencobaan dan derita, karena sesungguhnya semua inilah yang memekarkan bunga-bunga kehidupan jika dilewati dengan iman dan cinta. Akan tetapi, seringkali manusia memberontak pada saat mengalaminya. Mereka rasakan itu sebagai suatu kepahitan, sehingga kelopak-kelopak bunga kehidupan itu pun berguguran sebelum berkembang. Bagaimanakah caranya mengatasi kepahitan dengan iman dan cinta? Mengenai hal ini Santa Teresa Avila, seorang biarawati Karmel yang hidup di abad ke-16 memberikan beberapa ajarannya. Ajarannya ini dikenal dengan istilah “Lima Jendela Terang”. Jendela yang membuka harapan, menyegarkan iman, dan membangkitkan cinta.
1. Jendela pertama: Menaklukkan si jahat
Tak dapat disangkal lagi bahwa seringkali kemurungan yang menyelimuti diri manusia berasal dari Pangeran Kemurungan, yaitu setan. Tuhan adalah pencipta sedangkan setan adalah perusak. Setan selalu ingin menghancurkan segala kebaikan dan keindahan yang diciptakan oleh Allah. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, “Bebaskanlah kami dari yang jahat.” (bdk. Mat.6:13)
St. Teresa Avila menyadari bahwa Tuhan memberikan sukacitanya ke dalam hati manusia. Akan tetapi, setan selalu ingin mengambil sukacita itu dari hati manusia. Oleh karena itu, St. Teresa memberikan empat jalan untuk mengalahkan kuasa si jahat yang senantiasa menciptakan kemurungan dan kepahitan di hati manusia ini.
1.1 Mengalahkan si jahat dengan memuji orang lain
Cara pertama untuk mengalahkan si jahat adalah dengan memuji dan ikut bersukacita atas keberhasilan orang lain. Hal ini jauh lebih baik daripada kita murung dan iri atas prestasi sesama. Betapa seringnya kita terjebak dalam kemurungan dan kepahitan karena tidak dapat menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki beberapa kelebihan dari kita. Mengenai hal ini St. Teresa berkata, “Para suster yang terkasih, jika engkau melihat seseorang yang mendapatkan begitu banyak kemurahan dari Allah, pujilah Dia sepenuh hati. Akan tetapi, jangan bayangkan bahwa ia sudah mendapatkan jaminan keselamatan dengan segala kemurahan Allah itu, sebaliknya engkau harus lebih mendoakan dia.”
1.2 Mewaspadai kedatangan si jahat
Cara kedua untuk mengalahkan si jahat adalah dengan mewaspadai kedatangannya. Memang kuasa setan sangat kuat, namun kedatangannya sebetulnya dapat kita perkirakan, bahkan taktiknya pun dapat diduga. Ia menyerang pada setiap titik-titik kelemahan kita. Oleh karena itu, St. Teresa mengatakan, “Beginilah sifat khas seorang hamba Tuhan yang sejati, yang kepadanya Tuhan menunjukkan terangnya untuk dapat menelusuri jalan-Nya, yaitu ketika ia ditimpa ketakutan, kerinduannya kepada Allah tidak pernah berhenti bahkan meningkat. Ketika dengan jelas ia melihat serangan si jahat, ia menangkis setiap serangan dan menghancurkan kepala musuh dengan cinta yang besar kepada Allah. Kemenangan ini akan memberikan sukacita yang jauh lebih besar daripada segala kepuasan yang diterimanya dari berbagai kenikmatan dunia.”
1.3 Menguasai diri terhadap pikatan harta duniawi
Salah satu kelicikan setan adalah memikat kita untuk mengumpulkan segala sesuatu yang tidak berguna. Banyak orang yang tertipu muslihat si jahat. Dengan penuh semangat bahkan seringkali mengorbankan diri sendiri dan sesama mereka menumpuk kekayaan dunia. Mereka lupa bahwa harta duniawi akan habis dimakan ngengat, tak dapat dipakai untuk membeli tiket ke surga dan tak dapat pula kita bawa ke dalam keabadian. Mengenai hal ini St. Teresa memberikan nasihatnya, “Anak-anakku, marilah kita menyerupai Dia, Raja kita. Ia hidup dalam kemiskinan yang sempurna, yang tak memiliki tempat layak untuk kelahirannya, dan bahkan juga untuk kematian-Nya.”
Yesus menolak godaan setan di padang gurun, untuk membuat batu menjadi roti. Apabila Yesus ketika itu mengikuti godaan setan, setelah membuat batu menjadi roti mungkin kemudian Ia akan mengubah pasir menjadi anggur, dedaunan menjadi daging panggang, dan seterusnya. Demikianlah Yesus memberikan teladan kepada kita untuk terus berjuang, terus melakukan penyangkalan diri, memanggul salib-salib kita setiap hari dengan setia, sehingga kita tidak mudah terjerumus ke dalam setiap godaan setan dan terhanyut di dalamnya.
1.4 Mengalahkan si jahat dengan tidak mengasihani diri sendiri
Seringkali yang membuat manusia murung dan pahit bukan masalah ekonomi. Banyak orang memiliki beras melimpah di dapurnya tetapi hidup dalam kepahitan yang besar. Mereka merasa begitu malang dan tak henti menyesali dan mengasihani diri sendiri. Kasihan pada diri sendiri sebetulnya lahir dari kesombongan dan kekecewaan yang berlebihan. St. Teresa Avila mengatakan, “Kemanusiaan kita memang sangat rapuh. Seringkali kita merasa kasihan terhadap diri sendiri atas setiap kemalangan kita, lebih-lebih jika ada orang lain yang menunjukkan rasa kasihannya kepada kita. Padahal itu berarti kita kehilangan rahmat yang bisa kita peroleh dari penderitaan itu. Penderitaan yang seharusnya melatih kita semakin kuat malah membuat kita semakin lemah karena sikap cinta diri yang terlalu besar. Hal ini akhirnya membuat pintu jiwa kita terbuka lebar-lebar bagi si jahat yang akan memberikan berbagai pencobaan yang jauh lebih besar lagi daripada yang pernah kita alami sebelumnya.”
2. Jendela kedua: Memandang ke seberang derita
“Tidak cukupkah, ya Bapa yang kekal, ketika Ia hidup Ia tak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, dan harus melalui begitu banyak penderitaan? Haruskah kini mereka mencabut Dia dari tempat-Nya? Tempat Ia dapat mengundang sahabat-sahabat-Nya, melihat betapa lemahnya kami, dan memandang mereka yang bekerja keras membutuhkan makanan yang cukup untuk meneruskan hidupnya? Bukankah sudah cukup Ia membayar mahal atas dosa yang diakibatkan oleh Adam? Haruskah Anak Domba tercinta ini membayar kembali setiap kali kami jatuh ke dalam dosa?”(St. Teresa Avila)
Banyak orang mengalami penderitaan dengan penuh keluh kesah dan tanpa ketabahan. Mereka lupa bahwa mereka tidak pernah sendirian. Yesus selalu bersama mereka yang menderita, dan bahkan Yesus lebih menderita lagi atas setiap kejahatan dan kejatuhan manusia. Tidak ada satu penderitaan manusia pun yang tak menjatuhkan hati Yesus ke dalam belaskasihan karena Yesus pernah melalui setiap penderitaan manusiawi dalam hidup-Nya di dunia.
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr.4:15)
St. Teresa menyarankan untuk menjalani setiap penderitaan dalam hubungan yang mesra dengan Tuhan. “Dia Yang Mahakudus tidak akan meninggalkan mempelai-Nya sendirian. Pada saat jiwa masuk ke dalam hatinya, menutup pintu hatinya terhadap segala sesuatu yang bukan Allah, saat itulah ia akan mengalami keindahan keberduaan dengan Allah, sekalipun di dalam penderitaan.” Kemesraan hubungan kita dengan Allah membuat kita dapat melihat harapan di balik penderitaan, sehingga kita dapat mengatasi setiap kepahitan karena adanya sukacita murni yang lahir dari keintiman hubungan kita dengan Allah. “Apabila engkau merasa begitu menderita atau begitu sedih, tataplah Dia yang juga sangat menderita karena cinta kepadamu. Pandanglah mata-Nya yang indah dan penuh belaskasihan, berkaca-kaca karena air mata, hadir untuk mendampingimu.” Itulah yang disarankan oleh St. Teresa. Kesedihan atau penderitaan macam apa pun yang kita alami, pandanglah Dia!
3. Mengejar Persatuan dengan Kristus
Terlampau sering kita berdoa mohon ini dan itu tetapi tidak pernah kita berdoa mohon persatuan dengan Tuhan. Kita sibuk mencari jawaban dan pengabulan doa-doa kita tetapi jarang kita sibuk mencari Tuhan, pemberi segalanya, penjawab semua doa. Tuhan menjadi pribadi yang kita suruh-suruh, sehingga akhirnya saat doa kita tak terjawab kita pun menjadi kecewa dengan Tuhan, tenggelam dalam kepahitan.
St. Teresa begitu terpesona ketika jiwanya ditarik dalam persatuan dengan Tuhan. Ia merasakan jiwanya bagaikan seorang pengantin yang disunting Sang Mempelai ilahi untuk bersatu dalam sebuah pernikahan rohani. Semua ini memberikan kebahagiaan yang mendalam pada jiwanya. Akan tetapi, tentu saja kita berdoa bukan untuk mencari kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan buah dari persatuan, bukan tujuan yang kita kejar. Tujuan kita tidak lain adalah Kristus. Apabila kita berdoa hanya untuk mencari kepuasan pribadi, dengan cepat kita hanyut dalam kepahitan dan kemurungan di saat kita dapatkan segala keinginan kita tak terpenuhi. Namun, persatuan dengan Kristus memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada yang bisa dunia berikan. Persatuan dengan Kristus menyadarkan kita bahwa Ia adalah segala-galanya dalam hidup ini, sehingga bersama St. Teresa kita pun dapat berseru, “Solo Dios Basta,” yang berarti, “Allah saja cukup.”
4. Jendela keempat: Mendengarkan dengan selektif
Kata-kata dapat membangkitkan segala potensi yang ada di dalam diri kita, tetapi sebaliknya dapat juga menghancurkannya. Segala pujian, semangat, dan dorongan dapat mendorong kita untuk semakin berkembang. Akan tetapi, kritikan, kata-kata pedas, dan ucapan negatif menjerumuskan kita ke dalam kepahitan dan kemurungan. Oleh karena itu, Yesus mengatakan, “… perhatikanlah cara kamu mendengar.” (Luk.8:18) St.Teresa mengatakan, “Kita perlu memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan mereka yang hidup dalam teladan Kristus.” Janganlah kita membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang dapat melumpuhkan kehidupan rohani kita, karena panca indera dapat menjadi jendela bagi masuknya segala godaan jiwa.
5. Jendela kelima: Kesetiaan Allah Bapa
Pada saat kita telah berhasil melalui setiap pencobaan, hendaknyalah saat itu kita bersyukur dan belajar untuk melihat betapa besar kasih setia Allah kepada kita. Ia begitu setia mendampingi kita, setia mengasihi kita, setia menyelenggarakan hidup kita.
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Kor.10:13)
Pada ayat inilah terkandung janji Allah yang tidak akan diingkari hingga selamanya. Perjalanan hidup kita telah tertulis dalam buku kehidupan, yang di lembaran terakhirnya tertulis keselamatan. Oleh karena itu, hendaklah kita tabah dan bersandar kepada Tuhan dalam setiap pencobaan dan derita. Jika tidak, kemurungan dan kepahitan, pemberontakan, dan kekecewaan akan menyelimuti hati kita, sehingga tanpa disadari kita telah merobek lembaran buku kehidupan kita dengan membiarkan diri hanyut dikuasai oleh si jahat.
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibr.4:16)
Demikianlah kelima jendela terang yang perlu kita buka untuk dapat mengatasi setiap kepahitan yang menghampiri kehidupan kita. Penderitaan dan pencobaan memang tidak dapat kita hindari. Akan tetapi, dengan iman dan cinta kepada Allah, kita dapat mengatasi setiap kepahitan, dan memekarkan bunga-bunga kehidupan. Bunga iman, harapan, dan kasih, yang layak dipersembahkan untuk Yesus Kristus yang lahir di kedalaman hati kita masing-masing. Selamat Natal.
Sharing :
* Setiap orang tentu pernah mengalami suatu kepahitan atau penderitaan dalam hidup. Bagaimana pengalaman Anda dalam melewati masa-masa penuh kepahitan dalam kehidupan? Sharingkanlah pengalaman Anda itu
* Apa arti penderitaan Yesus bagi diri Anda pribadi?















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.