Bangkitlah, menjadi teranglah, karena terangmu telah datang, dan kemuliaan Allah telah bangkit atasmu!
Yesaya 60:1 (ILT)
Yalkut Shimoni merupakan kumpulan komentar para rabbi tentang Kitab Suci, yang dipercayai disusun pada abad ke-13. Meskipun ditulis lebih dari 800 tahun lalu, Yalkut Shimoni memiliki sesuatu yang sangat relevan dengan berita utama hari-hari ini.
Berbicara tentang bagian yang relevan dari Yalkut Shimoni, Rabbi Yekusiel Yehudah Halberstam, atau yang lebih dikenal sebagai Klausenberger Rebbe, berkata, "Ingatlah kata-kata ini. Sekarang mungkin itu belum dipahami, tetapi pada waktunya, itu akan dipahami, dan itu akan menjadi sumber chizuk (kekuatan) bagi Am Yisrael (orang Yahudi)." Klausenberger Rebbe adalah rabbi Orthodox dengan ribuan pengikut pada tahun-tahun menjelang Perang Dunia II. Sebagian besar pengikutnya dibunuh dalam Holocaust (pembantaian orang Yahudi pada Perang Dunia II). Klausenberger Rebbe meninggal di Israel pada tahun 1994.
Ramalan apa yang diketahui Klausenberger Rebbe dari Yalkut Shimoni yang dikatakannya akan mendatangkan penghiburan dan kekuatan bagi orang Yahudi pada hari-hari yang terakhir? Yalkut Shimoni memprediksi bahwa pada tahun kemunculan Messiah, "Raja Persia (Iran) akan memancing amarah Raja Arabia (Arab Saudi)."
Dua sekte utama di dalam Islam adalah Sunni dan Syiah. Walaupun mereka memiliki banyak kesamaan, perbedaan di antara kedua sekte Islam ini telah mengukir sejarah panjang konflik kekerasan dan mematikan di antara kaum Muslim. Sebagian besar konflik politik dan diplomatik di antara Iran dan negara-negara Muslim lainnya berhubungan dengan perpecahan Sunni – Syiah ini.
Tidak mengherankan, Iran dan Arab Saudi tidak didiami oleh sekte Muslim yang sama. Meskipun mayoritas besar dunia Islam sekarang ini adalah Sunni, Iran dan sebagian kecil Iraq merupakan wilayah tempat tinggal bagi mayoritas Muslim Syiah. Arab Saudi terdiri dari lebih 90% Sunni, sebaliknya Iran terdiri dari 95% Syiah.
Jadi, ketika kaum Syiah Iran yang baru-baru ini marah dan menyerbu kedutaan besar Arab Saudi di Tehran pada hari Minggu untuk memprotes eksekusi terhadap seorang imam Muslim Syiah bernama Nimr al-Nimr, pertikaian antara Sunni dan Syiah kembali berkobar. Sebagai konsekuensinya, Arab Saudi memberi waktu 48 jam bagi para diplomat Iran untuk mengemasi kopernya dan pergi.
Berikut ini seluruh tulisan dalam Yalkut Shimoni yang berhubungan dengan ketegangan politik antara Iran dan Arab Saudi berikut kabar baik tentang penyelamatan bangsa Yahudi.
"Rabbi Yizchok berkata, "Pada tahun ketika Melech HaMoshiach [Raja Messiah] akan dinyatakan, seluruh bangsa-bangsa di dunia akan saling memancing pertikaian. Raja Persia [Iran] akan memancing amarah Raja Arabia, dan Raja Arabia akan pergi ke Edom (Barat) untuk mendapatkan nasihat, tetapi Raja Persia akan berbalik, menghancurkan seluruh dunia. Bangsa-bangsa di dunia akan terguncang dan panik. Mereka akan jatuh tersungkur, dan mereka akan mengalami kesakitan seperti sakit bersalin. Israel juga akan terguncang dan dalam keadaan panik akan bertanya, 'Ke mana kita pergi?' Tapi katakan kepada mereka, "Anak-anakku, janganlah takut, 'Higiyah zman geulatchem' [waktu pembebasanmu telah tiba]. Dan pembebasan terakhir ini akan berbeda dari yang pertama yang kemudian diikuti oleh perbudakan dan kesakitan. Setelah pembebasan terakhir ini, engkau tidak akan mengalami kesakitan dan penaklukan lagi."
Rabbi Baruch Cohen, seorang pengacara pengadilan sipil di Amerika Serikat dan seorang blogger Israel di American Trial Attorney In Defense of Israel mengatakan antusiasme yang dirasakan banyak orang ketika membandingkan ramalan kuno dengan peristiwa hari-hari ini.
"Sangat menakjubkan melihat ramalan Chazal (orang bijak Yahudi) menjadi kenyataan langsung dalam berita-berita utama hari-hari ini," katanya.
"Baal Haturim (sarjana hukum Yahudi awal abad ke-14) menjelaskan ketika Yishmael (Ishmael, maksudnya Muslim Arab) akan runtuh dan akhirnya dikalahkan pada hari-hari terakhir, maka Moshiach (Messiah) – keturunan Yishai (Isai, ayah Raja Daud), yang adalah keturunan Yitzchak (Ishak), akan datang. Bahkan dalam waktu-waktu yang sangat mengerikan, kita dihiburkan oleh kenyataan bahwa secepatnya, dengan kehancuran sepenuhnya keturunan Yishmael, kita akan mendapatkan pembebasan akhir oleh Moshiach kita yang benar."
Cohen mengakhiri pernyataannya dengan sebuah tantangan spiritual bagi mereka yang menantikan kedatangan Messiah untuk menyelamatkan umat manusia.
"Yishmael merupakan perlambang kekuatan doa. Dia sendiri dilahirkan karena hasil kekuatan doa ibunya, Hagar. Sampai hari ini, Arab unggul dalam doa, yang memenuhi tempat utama dalam ritual harian mereka. Untuk menandingi kekuatan doa mereka, kita perlu meningkatkan konsentrasi dan intensitas doa-doa kita sendiri," tutup Cohen mengakhiri perbincangan.
Timur Tengah mencapai Titik Didih setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran
Sebelumnya, pemerintah Arab Saudi telah memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Iran pada hari Minggu, setelah pemerintah Iran menuduh Arab Saudi menyalakan api ketegangan di Timur Tengah. Para diplomat Arab Saudi diberi waktu 48 jam untuk meninggalkan Iran.
Para pemrotes Iran yang marah menyerbu kedutaan Arab Saudi di Teheran pada hari Minggu pagi setelah pemerintah Arab Saudi mengeksekusi seorang imam Syiah, Nimr al-Nimr, bersama-sama dengan 46 orang lainnya, dengan tuduhan terorisme. Kematian Al-Nimr memicu protes keras kaum Syiah di seluruh Timur Tengah pada hari Minggu.
Iran dan Arab Saudi merupakan kekuatan besar Muslim Syiah dan Sunni di wilayah tersebut. Kedua negara terlibat dalam perang di Syria dan konflik di Yemen, dengan Iran mendukung rezim Syria dan koalisi pimpinan Arab Saudi memerangi pemberontak Syiah di Yemen.
Deputi menteri luar negeri Iran, Hossein Amir Abdollahian, mengatakan bahwa eksekusi Al-Nimr merupakan "kesalahan besar" dan bahwa Arab Saudi akan membayar harga dari tindakan mereka.
"Dengan memutuskan hubungan (diplomatik), Arab Saudi tidak dapat membuat (dunia) melupakan kesalahan besarnya dengan mengeksekusi seorang imam," katanya seperti diberitakan kantor berita Iran, IRNA.
Abdollahian menambahkan bahwa Arab Saudi telah melakukan "kesalahan strategis dengan menjalankan keputusan gegabah dan tergesa-gesa yang telah memperluas ketidakstabilan dan menyebabkan perkembangan terorisme di wilayah tersebut."
Deputi menteri luar negeri menyalahkan Arab Saudi karena "meremehkan kepentingan rakyatnya dan kaum Muslim di wilayah tersebut dengan rencananya menjatuhkan harga minyak," yang kini telah menyentuh titik terendah.
Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyanjung Al-Nimr sebagai "syuhada" dan memperingatkan bahwa Kerajaan Sunni akan menghadapi "pembalasan ilahi."
Baca juga:
Referensi:















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.