Dengan 47% nasabah kartu kredit mengklaim mengalami terjadinya semacam kecurangan transaksi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, desakan di kalangan pengembang teknologi finansial untuk mengembangkan kartu kredit yang menjanjikan keamanan terhadap para penipu cyber semakin mendesak.
"Kebutuhan kartu kredit biometrik yang lebih aman tidak pernah begitu mendesak seperti sekarang ini," kata Chaya Hendrick, CEOSmartMetric, sebuah perusahaan biometrik, kartu kredit berbasis sidik jari. "Itu sebabnya mengapa kami menghabiskan lebih dari satu dekade penelitian dan pengembangan untuk menempatkan pembaca sidik jari di dalam kartu kredit. Kartu biometrik merupakan lompatan kuantum di dalam sistem keamanan kartu kredit dan tanpa diragukan kemajuan terbesar dalam sistem keamanan kartu sejak terciptanya kartu kredit itu sendiri."
SmartMetric merilis kartu pembayaran biometrik mereka akhir April pada Forum Smart Card Alliance Payments di Orlando, Florida, dan mengatakan mereka sedang "dalam pembicaraan dengan bank-bank yang mengeluarkan kartu di seluruh dunia."
Menurut perusahaan ini, teknologinya mengandalkan pembaca sidik jari "super-tipis" yang dikembangkan secara internal, yang berfungsi penuh dan dimasukkan ke dalam kartu kredit itu. "Pembaca biometrik berguna untuk menyalakan chip permukaan kartu sesudah sidik jari cocok, sebelum kartu digesekkan ke dalam 'card reader' atau ATM," dijelaskan perusahaan tersebut dalam emailnya. Teknologi kartu ini berfungsi pada kartu-kartu pembayaran berbasis chip, yang sekarang ini secara global sudah berjumlah 4,8 milyar kartu yang dipegang konsumen di seluruh dunia, menurut SmartMetric.
Kartu SmartMetric bukanlah yang pertama merilis kartu dengan sidik jari.
"Sebenarnya, teknologinya sudah tersedia," kata Monica Eaton-Cardone, pendiri Chargebacks911, di Clearwater, Florida. "MasterCard sebelumnya menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan bernama Zwipe untuk melaksanakan uji coba kartu biometrik di Eropa, tahun 2014."
Mengenai peluncuran secara luas, Eaton-Cardone mengatakan bahwa itu mungkin saja terjadi dalam waktu dekat, tapi ada beberapa keberatan.
"Aku tidak berpikir tidak masuk akal untuk mempercayai bahwa perusahaan-perusahaan kartu kredit akan mulai meluncurkan kartu-kartu biometrik sebelum 2018 di sejumlah pasar," katanya. "Namun, itu akan ditentukan oleh beberapa faktor berbeda, termasuk efektivitas-harga, relevansi dan permintaan konsumen. Pada saat kartu-kartu pembayaran biometrik menjadi cukup efektif berbanding harga untuk didistribusikan secara luas, keinginan untuk itu mungkin belum tercapai, tergantung pada kondisi platform-platform sistem pembayaran mobile."
Dia juga meragukan efektivitas kartu-kartu pembayaran berbasis sidik jari, dengan pertimbangan bahwa teknologi itu tidaklah "tidak dapat dikelabuhi."
"Kita sudah melihat beberapa metode berbeda untuk mengelabuhi pemindai sidik jari yang telah diusulkan, termasuk cetakan 3D dan kertas konduktif, yang baru-baru ini digunakan kepolisian sebagai bagian dari penyelidikan," katanya.
Besarnya biaya teknologi sidik jari juga telah menahan laju perkembangan pasarnya.
"Meskipun teknologinya sudah ada hari ini untuk memungkinkan penggunaan otentifikasi sidik jari untuk pembayaran, teknologi ini tidak akan menyebar luas karena biaya-biaya yang berhubungan dengan metode pembayaran jenis ini," kata Ray Wizbowski, pejabat kepala pemasaran di Entrust Datacard, produsen kartu finansial dan firma keamanan transaksi digital. "Biaya per kartu akan sangat tinggi disebabkan kebutuhan teknologi -- seperti komponen pemindai sidik jari, chip kecepatan tinggi untuk micro prosessing -- untuk memungkinkan metode pembayaran jenis ini dapat berfungsi secara layak."
Wizbowksi setuju dengan Eaton-Cardone bahwa kartu-kartu biometrik, meskipun menjanjikan perlindungan nasabah yang lebih besar, namun memiliki kekhawatiran soal keamanan data. "Metode pembayaran jenis ini hanya akan memiliki dampak kecil terhadap masalah privasi, karena komponen sidik jari menggunakan template sidik jari, bukannya foto sidik jari sesungguhnya dari nasabah," katanya. "Kekhawatiran terbesar justru berupa konsekuensi ancaman fisik yang tidak diinginkan, seperti penganiayaan fisik dari orang jahat untuk mendapatkan akses kepada sidik jari pengguna."
Patricia Hewitt, CEO PG Research & Advisory Service LLC, firma konsultan teknologi, lebih jauh mengutarakan "sepertinya tidak mungkin" bahwa perusahaan akan menggunakan biometrik pada tingkatan kartu, sedangkan platform pembayaran mobile semakin berkembang.
"Contohnya, foto wajah pada kartu-kartu pembayaran sudah ada sejak bertahun-tahun, tapi hanya sedikit perusahaan yang mengeluarkan kartu ini yang memiliki jaringan pasar yang mengadopsi bentuk teknologi keamanan ini," kata Hewitt. "Biaya yang dikeluarkan perusahaan yang mengeluarkan kartu dengan menambahkan biometrik kepada transaksi berbasis kartu merupakan halangan pertama dan kemudian, ada perubahan yang dibutuhkan pada tingkatan penjualan, untuk otentifikasi."
Hewitt juga mengatakan bahwa mungkin saja chip-chip multi-aplikasi dapat dikembangkan untuk mendukung biometrik pada tingkatan kartu. "Tapi kenapa bersusah-susah?," tanyanya. "Di negara-negara berkembang, sistem pembayaran digital dan virtual akan menanamkan kemampuan ini juga dalam penggunaan mereka, pada akhirnya."
Nampaknya, ada beberapa pemikiran mengenai efektivitas, dan bahkan kebutuhan, untuk penggunaan kartu-kartu pembayaran berbasis biometrik. Tapi di mana pun Anda sampai pada hal ini, kartu-kartu berbasis sidik jari nampaknya akan muncul di pasaran, dalam waktu segera, entahkah konsumen menginginkannya maupun tidak.
Referensi:
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.