
Malam Natal 24 Desember 2016, ketika seluruh dunia sibuk merayakan hari raya dan libur tahunan, peristiwa propetik penting terjadi Dewan Keamanan PBB menggulirkan Kebijakan Tragis: Israel harus melepaskan Yudea dan Samaria, termasuk kota tua Yerusalem, "Kembali ke perbatasan sebelum 1967".
Resolusi DK-PBB sejenis sebenarnya pernah berkali2 diupayakan namun selalu di veto oleh pemerintah Amerika Serikat sebelumnya. Kali ini di hari-hari terakhir pemerintahan Presiden Husein Obama, AS abstein atau membiarkan kebijakan itu lolos. Tetapi ternyata kemudian terbongkar berita dari berbagai sumber termasuk dari media Mesir, Pemerintah Obama justru merupakan perencana dari Resolusi DK-PBB No 2334.
Duta besar Israel untuk AS Ron Dermer berbicara kepada CNN dan MSNBC bahwa dirinya memiliki bukti yang jelas bahwa Pemerintah Obama bekerja keras untuk mewujudkan resolusi tersebut. Ron Dermer berjanji akan membeberkan bukti itu setelah Presiden Trump mengambil alih pemerintahan AS tidak lama lagi.
Menurut LA Times, Presiden Obama secara pribadi mengarahkan upaya lobi pejabatnya menjelang voting. Obama mengatur semua itu di masa liburnya di Hawaii. Obama diam2 mengadakan diskusi pada Kamis 23 Desember dengan Wakil Presiden Joe Biden, Menteri Luar Negeri John F. Kerry dan pejabat tinggi keamanan nasional lainnya. Menurut LA Times, Obama berbicara dengan penasihat keamanan nasional Susan Rice pada hari Jumat untuk mengeluarkan keputusan akhir.
Surat kabar Free Beacon mengungkapkan seorang pejabat senior AS yang Pro-Israel menyatakan: " Biden melobi Ukraina, dan tentu saja pejabat pemerintah terlalu pengecut untuk mengakuinya."
TV Israel Channel 1 mengutip koran Mesir Al-Youm Al-Sabea melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry Dalam pertemuan pada awal Desember dengan pejabat tinggi dan juru runding Palestina Saeb Erekat, mengatakan bahwa AS siap untuk bekerja sama dengan Palestina di Dewan Keamanan, dan meminta pihak Palestina memastikan tidak ada serangan teror sampai keputusan DK-PBB diambil.
Saat ini berita turunnya resolusi DK-PBB ini ramai dibicarakan orang dan telah membuat resah pemerintah dan warga Israel, khususnya warga Yudea dan Samaria. Sebab resolusi DK-PBB No 2334 ini menyimpulkan bahwa semua rumah orang Yahudi di Yudea dan Samaria serta Yerusalem berstatus ilegal menurut hukum internasional. Hal ini berarti penduduk Yudea dan Samaria harus digusur dari tanah yang dijanjikan bagi anak2 Yakub.
Memasuki Tahun Baru 2017, Gereja Tuhan harus benar-benar sadar! Peristiwa Great Tribulation di Yudea yang telah dinubuatkan oleh Alkitab ribuan tahun lalu bisa saja terjadi dalam waktu tidak lama lagi. Dan hal ini juga merupakan tanda paling akhir dari Kedatangan Tuhan Yeshua kedua kali.
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota" - Lukas 21:20-21
"Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang." - Matius 10:23
Persiapkanlah jemaat Tuhan... jangan sampai Hari Tuhan datang sebagai suatu jerat bagi kita dan jemaat yang kita layani. Lepaskan jemacat dari segala berhala dan bawa gereja-Nya kembali pada kasih mula-mula!
President Obama personally directed his Administration's lobbying efforts ahead of the expected vote. Obama, vacationing in Hawaii, convened a discussion…
JEWISHPRESS.COM|OLEH DAVID ISRAEL















Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.