animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Minggu, 20 Maret 2016

AYAT ALKITAB UNTUK PENGHIBURAN BAGI YANG BERDUKA DI TINGGAL MATI ORANG YANG DI KASIHI




Dibawah ini kami menuliskan beberapa nas Alkitab untuk membantu kita dalam memberikan kata-kata penghiburan kepada yang berduka.

Yohanes 11: 25-26
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"

Roma 8:10
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

Filipi 4:6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Roma 11:36
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Roma 14: 7-9
Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 

1 Korintus 15: 20
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

1 Korintus 15: 55-57
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

Ibrani 13:14
Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.

1 Petrus 5: 7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

1 Petrus 5: 10
Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Mazmur 50:15
Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."

Mazmur 27:10
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.

Mazmur 116:15
Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.

Pengkotbah 7:1
Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.

2 Korintus 7:10
Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Bagian A: Duka Karena Kematian Orang yang dikasihi

Duka Karena Kematian Orang Yang dikasihi Latar Belakang

Dukacita adalah derita emosional yang; menusuk dalam disebabkan oleh kematian orang yang dikasihi. Orang akan mengalami kesedihan yang dalam dan menusuk, penderitaan dan kepedihan. Meninggalnya salah seorang yang dikasihi, dapat menyebabkan suasana sedih dan sepi. 

Masa sedemikian adalah masa sulit. Orang yang ditinggal sering merasa bahwa pengalamannya unik, tak seorang pun menanggung kehilangan seperti yang dideritanya. Berangsur-angsur melalui proses waktu, biasanya orang akan pulih ke keadaan semula. Tetapi orang-orang tertentu terus mengalami kedukaan berkepanjangan. Dalam arti tertentu, tak seorang pun dapat bebas sempurna dari merasa kehilangan kekasihnya. Proses penyembuhan yang disebut di atas, biasanya sebagai berikut: 

Kejutan awal akibat kematian: dampak emosi yang dalam itu kadang-kadang melumpuhkan seseorang. 

Pelepasan emosi: masa menangis. 

Kesepian dan kemuraman: Perasaan kehilangan sering berkaitan dengan derajat ketergantungannya pada orang yang meninggal. Depresi bisa memiliki berbagai gejala. 

Rasa bersalah: "Seharusnya aku bertindak lain," atau "Seharusnya aku bertindak lebih . . . " dan sebagainya. 

Marah dan berontak: "Mengapa Allah bertindak seperti ini terhadapku?" 
Tahap kehilangan gairah: "Aku tak tahan," atau "Masa bodohlah." 
Berangsur-angsur kembali pada pengharapan: "Hidup harus berjalan terus." "Aku akan sanggup menanggungnya." "Allah akan membantu mengatasi semua ini." 
Kembali pada kenyataan dan kewajaran: menerima fakta kehilangan dan menyesuaikan diri dengannya. 

Harus kita ingat, bahwa dukacita tidak teramalkan dan tak pula dapat diurut tahapannya. Kadang-kadang tahap-tahap duka muncul bersama dan saling tumpang tindih. Ada kalanya orang yang berduka merasa lepas sementara dari tahap sedih tertentu, untuk kemudian kembali terulang. 

Untuk membimbing orang yang berduka, diperlukan keikhlasan, kepekaan dan kelembutan khusus, simpati dan empati. Kita perlu bergantung pada pimpinan Roh Kudus. Terlalu gampang dan banyak bicara menyatakan jawab, adalah bertindak lancang. Ucapan-ucapan kita harus tulus dan bermakna, peka dan tepat dengan situasi tersebut, sebab hiburan sejati bagi orang yang berduka tergantung di mana sesungguhnya dia berada dalam proses dukanya. 

Jangan menganggap anda memiliki jawab untuk segala hal. Akui bahwa anda tidak mengerti mengapa atau bagaimana sampai Allah melakukan itu. 

Jangan ucapkan hal-hal klise dan basi tentang kematian dan penderitaan. 

Jangan katakan bahwa kalau yang berduka lebih rohani atau lebih akrab dengan Allah, kedukaannya akan lebih ringan. 

Ingat bahwa satu kesempatan singkat melayani, akan tidak memadai untuk menolong yang berduka. Namun kita layani semampu kita, membagikan Yesus Kristus dan berita Firman Tuhan, sambil percaya bahwa Allah akan melakukan bagian-Nya. 

Jangan memompakan padanya usaha untuk membuatnya riang dan senang. Latar Belakang
Ayat Alkitab
Strategi Bimbingan

Nyatakan kepadanya bahwa anda memperhatikan dia dan ingin menolong. Silakan dia menceritakan kematian orang yang dikasihinya dan bagaimana perasaannya. Jadilah pendengar yang sabar. Ini membantu dia mengalirkan perasaan-perasaan dukanya. 
Katakan bahwa menangis dan berduka adalah sehat. Ia merupakan pengalaman lazim manusia yang semua kita harus melaluinya. Ada yang mengatakan bahwa duka adalah "karunia Allah". Ia dapat menjadi jalan bagi-Nya untuk membantu kita bereaksi terhadap kejutan dahsyat yang disebabkan oleh kematian dan akibat-akibat emosional yang mengikutinya. Yesus berkata: "Berbahagialah mereka yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Mat 5:4). "Yesus sendiri menangis di depan kubur Lazarus." (Yoh 11:35). 
Nyatakan kepadanya bahwa mengungkapkan perasaan-perasaan salah, marah, bingung atau muram, adalah baik. Perasaan tersebut tidak boleh ditekan olehnya atau ditolak oleh pembimbing. Dorong dia untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. 
Katakan kepadanya bahwa apa yang dirasakannya adalah wajar dalam proses berduka dan bahwa penerimaan serta penyembuhan akan datang, walaupun mungkin perlahan-lahan. Allah ingin memikul kepedihan dan kedukaan kita serta menghibur, memberi harapan dan kekuatan. Pada saat sedemikian, hidup akan terasa tak berarti, tetapi ingat -- Kristus tak berubah, Batu Karang yang teguh, dasar yang di atas-Nya kita dapat membangun ulang hidup kita. 
Tanyakan dia apakah dia pernah menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Jika belum, jelaskan "Damai dengan Allah",.

Keyakinan kita akan masa depan berdasar teguh pada kenyataan yang Allah telah buat bagi kita dalam Kristus. Karena Kristus hidup, kita tak perlu muram, bagai manapun situasi kita. "Jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Rom 6:8,23). 
Katakan bahwa bagi orang Kristen, kematian bukanlah akhir kehidupan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah mengalahkan dosa dan maut, sehingga beriman kepada-Nya kini, berarti: kita "tidak akan mati selama-lamanya" (Yoh 11:25-26); "kita memiliki hidup kekal" (Yoh 3:16); "kita punya tempat terjamin di surga" (Yoh 14:1-6), "kita akan menerima tubuh kebangkitan" (1Kor 15:51,52). Juga, "jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia." (1Tes 4:14); jadi akan terjadi pertemuan kembali penuh kemuliaan kelak, antara kita dan semua mereka yang kita kasihi dan yang ada di dalam Tuhan!

Nasihatkan orang tersebut untuk mulai membaca dan mempelajari Alkitab. Alkitab adalah sumber kekuatan dan penghiburan. 
Katakan bahwa Allah menganggap hidup kita di bumi sebagai persiapan untuk kesukaan besar surgawi (Mr 8:36). Karena itu, Dia mengizinkan ujian, penderitaan dan kematian orang yang kita kasihi, dalam hidup kita, agar kita menyadari betapa kita perlu percaya pada-Nya. "Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati." (2Kor 1:9). 
Jika dia mengungkapkan rasa bersalah atas aspek tertentu kematian orang yang dikasihinya (biasa terjadi pada kasus bunuh diri), nasihatkan dia untuk tidak mengecam diri berlebihan. Dia tidak perlu memikul rasa bersalah atas sesuatu yang tidak benar-benar dilakukannya. Semuanya sudah lewat, dan dia harus belajar menyerahkan semua penyesalannya kepada Tuhan. Jika ada sesuatu yang ingin diakuinya kepada Tuhan, lakukanlah, tetapi terimalah keampunan-Nya dalam terang. 1Yohanes 1:9. 
Jika nampaknya dia diliputi oleh perasaan kehilangan, kesepian dan gelap tentang apa yang harus dilakukannya kelak, anjurkan dia untuk menceritakan itu pada keluarganya dan mempercayai mereka untuk memberi dukungan emosional dan kekuatan. Gereja dapat mengisi kekosongan yang tersisa. Dia harus terlibat dalam persekutuan gereja. Pendeta dapat memberikan dukungan emosional. Jika dia belum menjadi anggota, dia harus melibatkan diri dalam suatu gereja yang mementingkan Alkitab. Belajar menerima kehendak Allah atas apa yang telah terjadi, memiliki hati yang bersyukur atas apa yang telah dialami bersama dengan orang yang dikasihi dan atas janji Tuhan tentang hal-hal yang akan dialami kelak, serta mengulurkan tangan kasih Kristen menolong mereka yang sedang pedih, akan menjadi cara kesembuhan dan faktor penting untuk belajar kembali menjalani hidup. 
Berdoalah meminta pengertian, hiburan dan berkat bagi hidupnya, bersamanya. Kematian anak:

Kematian anak, khususnya sangat sulit dihadapi oleh orang tua yang masih mengasihi anaknya. Kematian yang menimpa hidup yang singkat, sering menghasilkan rasa bersalah, kemurungan dan banyak pertanyaan. Sebagai tambahan bagi Strategi Bimbingan tadi, kami mengusulkan beberapa hal berikut: 
Walaupun kita tidak mengerti mengapa anak itu meninggal, kita tahu bahwa anak-anak sangat bernilai di hadapan Allah. Yesus berkata, "orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga." (Mat 19:14). Secara tidak langsung, ini berarti bahwa anak-anak yang meninggal langsung diambil-Nya masuk ke dalam hadirat-Nya. 
Ketika putra raja Daud meninggal, dia berkata: "Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku." (2Sam 12:23). Jadi, jika kita percaya bahwa Yesus mati dan bangkit kembali, percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, memiliki harapan berkat untuk berjumpa kembali dengan yang kita kasihi. Latar Belakang
Strategi Bimbingan
Ayat Alkitab

"Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahy 21:4) 

"Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik." (Fili 1:21,23) 

"Jawab Yesus: 'Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?'" (Yoh 11:25,26) 

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada." (Yoh 14:1-3) 

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah oleh imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir." (1Pet 1:3-5) 

"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." (2Kor 5:1) Mazmur 23:4-6 


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KETIKA ORANG YANG ANDA KASIHI MENINGGAL 



AYAT ALKITAB UNTUK DIRENUNGKAN 

Dia satu-satunya yang dapat menjaga keselamatan jiwa kita Mazmur 119: Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu menghidupkan aku. (ay. 50) 

Kesedihan harus dihadapi dan dirasakan sebelum dapat dihiburkan 

Matius 5: Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. (ay. 4) 

Kata-kata yang telah menghibur berjuta-juta manusia 

Mazmur 23: Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (ay. 4) 

Tenggelamkan diri Anda dalam penghiburan yang datang dari Allah sendiri 

2 Korintus 1: Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami …. (ay. 3-4) 

Janji yang belum pernah dilanggar 

Mazmur 27: Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. (ay. 5) 

Untuk tujuan inilah Allah datang 

Yesaya 61: … Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, . ….. untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar. (ay.1-3). 

Maut bukanlah kata terakhir 

1 Korintus 15: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (ay. 54-55) 

Cepat atau lambat kita semua harus menghadapi kematian orang yang kita kasihi. Tetapi, Kristus pasti menghibur di masa kehilangan ini. Maafkan saya jika harus mengungkapkan pengalaman pribadi, beberapa tahun yang lalu saya kehilangan istri saya yang meninggal karena kanker dan saya tahu pasti apa yang saya katakan ini adalah benar adanya. Saat kematian datang menjemput seseorang yang kita kasihi, rasa sakit yang kita rasakan memang kadang-kadang hampir tak tertahankan. Kita tidak perlu takut untuk menyatakan perasaan kita kepada Allah (atau tentang Da) tentang apapun yang kita rasakan: kemarahan, frustasi, takut, terluka, perasaan ditinggal sendirian, dsb. Lebih baik perasaan ini diungkapkan daripada di tekan. C.S. Lewis mengatakan ketika istrinya meninggal, dia kecewa kepada Allah untuk beberapa lama. kemudian, pada saat dia telah puas menyalahkan Allah, Lewis merasakan tangan kasih Allah merangkul dia dengan cara yang tidak mungkin digambarkannya. Allah tidak maraha apabila kita mengungkapkan perasaan kita apa adanya kepada Dia. Dia mendengarkan, ikut merasakan, dan memaham kita. Secepat mungkin mintalah Dia mengobati luka itu dan sambutlah uluran tangan-Nya yang akan membuat kita tenteram dan kuat kembali. Penghiburan ilahi tidak berarti air mata kita akan kering, atau kesedihan kita tiba-tiba berhanti. Hal ini adalah proses alami ynag memiliki efek menyembuhkan yang kuat. Penghibuaran ilahi berarti kita akan merasakan Allah ada di sana di tengah air mata dan kesedihan kita. Rasa sakit memang harus dihadapi dan dijalani, termasuk rasa sakit ketika harus mengucapkan "selamat berpisah". Pelayanan Kristus ketika kita sedih adalah memimpin kita dengan lembut melewati jalan yang harus ditempuh. Kehadiran Kristus justru lebih kuat dan lebih menghiburkan di saat kita kehilangan orang yang kita kasihi. Dia memberikan hal yang paling berharga ketika bagian terpenting dari hidup kita ambil. Ya Allah Bapaku, betapa aku berterima kasih karena Engkau menerima diriku apa adanya. Aku berpaling kepada-Mu dalam kesedihan dan meminta agar Engkau meletakkan tangan-Mu di tanganku dan tinggallah dekat bersamaku saat aku menjalalni kesedihan ini. Jadilah penghiburku yang sejati di tengah kesedihanku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin. 

-----------------------------------------------------------------------------------------


PULANG KE RUMAH BAPA - sebuah pemahaman berdasarkan tradisi yang salah kaprah 


Mungkin sudah ribuan kali saya membaca di koran, di kolom kecik untuk pemberitahuan kepada sahabat2 dan handai taulan tentang seseorang yang dikasihi yang telah meninggal dunia, dituliskan sebagai "TELAH BERPULANG KE RUMAH BAPA" yang biasanya dipakai oleh umat Kristiani - Kristen maupun Katolik. Saya tidak tahu kapan tradisi untuk mengatakan "pulang ke rumah Bapa di sorga" bagi orang yang baru saja meninggal. Tapi membolak-balik Alkitab, Firman Allah, saya tidak menemukan dukungan ayat yang meyakinkan, justru saya temukan bahwa istilah "pulang ke rumah Bapa" sungguh tidak alkitabiah. 


BAGAIMANA ALKITAB MENYEBUTKAN KEMATIAN SESEORANG 

Saya ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana Alkitab menyebutkan seseorang yang meninggal. Kita lihat pada kematian Abraham, Ismael, Ishak dan Yakub, setidaknya Abraham, Ishak dan Yakub mewakili orang2 "benar". 

Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. (Kej 25:7-8) 

Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.(Kej 25:17) 

Adapun umur Ishak seratus delapan puluh tahun. Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia.(Kej 35:28-29) 

Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.(Kej 49:33) 

Lalu bagaimana dengan ayat2 di bawah ini? 

39. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" 40. Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41. Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." 42. Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." 43. Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu,sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:39-43) 

Penjahat bertobat itu dijanjikan untuk masuk ke dalam Firdaus - tentunya Firdaus secara rohani - yang menggambarkan tempat yang menghiburkan dan menyenangkan di alam roh. Dalam sebuah perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus si miskin, maka Lazarus ketika mati, arwahnya dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham, 

20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.(Lukas 16:20-22) 

dan beberapa teolog sepakat menafsirkan "pangkuan Abraham" itu sebagai tempat yang sama yang telah disebut Yesus sebagai "Firdaus" (Luk 23:43). 

Abraham, penjahat bertobat dan Lazarus si miskin, mereka ketika mati berada di Firdaus (dalam konteks alam roh atau alam arwah-arwah), tetapi apakah "Firdaus" yang dimaksudkan di sini adalah Sorga yang bermakna "Rumah Bapa"? 

Setelah Yesus berjanji kepada penjahat bertobat (Luk 23:43), maka beberapa menit (atau jam) kemudian Yesus dan penjahat itu, keduanya sama-sama meninggal. Kemanakah perginya arwah Yesus dan arwah penjahat bertobat? Tentu saja Yesus membawa penjahat bertobat itu masuk ke dalam Firdaus - pangkuan Abraham. Yesus mampir sejenak di sana. Saya berpendapat bahwa Yesus sempat memberitakan Injil di Firdaus. Kemudian Yesus - masih di alam roh itu - Dia pergi ke tempat lain, yaitu tempat orang2 mati yang mati sebagai pendosa, di dalam ayat-ayat berikut: 

18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, 19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, 20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.(I Ptr 3:18-20) 

Nah, tetapi apakah "pangkuan Abraham" alias Firdaus rohani alias "ruang tunggu" bagi arwah-arwah orang benar atau arwah2 yang telah dibenarkan oleh penebusan Yesus itu sudah merupakan RUMAH BAPA? 


YESUS PULANG KE RUMAH BAPA 

Setelah mati selama "tiga hari", maka Yesus bangkit atau dibangkitkan. Ketika Yesus baru saja bangkit, Dia tidak mau disentuh oleh Maria Magdalena, sebab Dia BELUM ketemu Allah Bapa, dalam ayat berikut: 

16 Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. 17 Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."(Yoh 20:16-17) 

Jelas bukan? Sesaat setelah bangkit, Yesus ngak mau dipegang Maria Magdalena, sebab Yesus belum pergi kepada Bapa. Ayat tersebut sekaligus menjelaskan bahwa sebelum Yesus naik ke Sorga (40 hari kemudian), maka sebenarnya Yesus sudah naik ke sorga ketemu dengan Bapa (ayat 17). Karena sesudah itu dalam beberapa kali penampakan, Yesus sudah BOLEH DISENTUH oleh murid-murid-Nya termasuk Thomas. 

Empat puluh hari kemudian sesudah kebangkitan-Nya, Yesus naik lagi ke Sorga hingga hari ini. Beberapa ayat berikut membuktikan kenaikan Yesus ke sorga untuk BENAR-BENAR PULANG KE RUMAH BAPA. 

19. Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. (Markus 16:19). 

50. Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. 51 Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.(Lukas 24:50-51) 

9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorgameninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."(Kis 1:9-11) 

Stefanus pada jelang kematiannya, dia melihat Yesus di sebelah kanan Allah (di sorga) 

55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.(Kis 7:55-57) 


ORANG KRISTEN DIANGKAT KE SORGA PADA KEDATANGAN YESUS KEDUA KALI 

30 Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. 31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.(Mat 24:30-31) 

16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.(I Tes 4:16-17). 

51. Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.(I Kor 15:51-53) 

Sudah sangat jelas sekali, bahwa kalimat "PULANG KE RUMAH BAPA" bagi orang yang baru saja meninggal adalah penghiburan kosong yang hanya didasarkan pemahaman tradisi yang tidak jelas sumbernya. Sebab untuk masuk ke sorga, setiap manusia (yang memenuhi kwalifikasi tertentu) harus mengenakan terlebih dahulu tubuh kemuliaan, yaitu diubah oleh Tuhan Yesus. Dan kita tidak bisa sendiri masuk, tetapi Yesus lah yang akan MENJEMPUT kita. 

Semoga mencerahkan. 


Amen 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Harapan Sejati bagi Orang-Orang Tercinta yang Telah Meninggal


Bagaimana kita tahu bahwa orang mati pasti dibangkitkan? 

Apakah Yehuwa memang ingin membangkitkan orang mati? 

Siapa yang akan dibangkitkan? 

1-3. Apa musuh yang mengejar kita semua, dan mengapa kita akan merasa agak lega dengan membahas apa yang Alkitab ajarkan?

BAYANGKAN Anda sedang lari dikejar musuh yang kejam. Ia jauh lebih kuat dan lebih gesit. Ia tak kenal belas kasihan karena Anda pernah melihatnya membunuh beberapa sahabat Anda. Sekencang apa pun Anda berlari, ia kian mendekat. Anda nyaris putus asa. Tetapi, tiba-tiba muncullah seorang penyelamat. Ia jauh lebih kuat daripada musuh Anda, dan ia berjanji akan menolong Anda. Oh, betapa leganya!

2 Dapat dikatakan, kita semua, termasuk Anda, sedang dikejar oleh musuh seperti itu. Sebagaimana telah kita pelajari dalam pasal sebelumnya, Alkitab menyebut kematian sebagai musuh. Tidak seorang pun dari kita dapat lari darinya atau melawannya. Kebanyakan dari kita telah melihat musuh ini menelan nyawa orang-orang yang kita cintai. Tetapi, Yehuwa jauh lebih kuat daripada kematian. Ia adalah Penyelamat yang pengasih yang sudah menunjukkan bahwa Ia dapat mengalahkan musuh itu. Dan, Ia berjanji akan membinasakan musuh tersebut, yaitu kematian, secara tuntas. Alkitab mengajarkan, ”Sebagai musuh terakhir, kematian akan ditiadakan.” (1 Korintus 15:26) Itu benar-benar kabar baik!

3 Mari kita bahas terlebih dahulu bagaimana perasaan kita apabila teman kita meninggal. Dengan demikian, kita akan lebih memahami suatu janji yang akan membuat kita bahagia. Ya, Yehuwa berjanji bahwa orang mati akan hidup lagi. (Yesaya 26:19) Mereka akan dihidupkan kembali. Jadi, orang yang sudah mati punya harapan untuk dibangkitkan.


APABILA ORANG TERCINTA MENINGGAL

4. (a) Mengapa reaksi Yesus terhadap kematian orang yang tercinta mengajar kita tentang perasaan Yehuwa? (b) Persahabatan istimewa apa yang Yesus jalin?

4 Pernahkah Anda kehilangan seseorang yang Anda cintai? Kepedihan hati, dukacita, dan perasaan tidak berdaya seolah-olah tak tertanggungkan. Pada saat-saat seperti itu, kita perlu mencari penghiburan dari Firman Allah. (2 Korintus 1:3, 4) Dengan mempelajari Alkitab, kita dapat lebih mengerti bagaimana perasaan Yehuwa dan Yesus terhadap kematian. Yesus, yang dengan sempurna mencerminkan Bapaknya, tahu betapa pedihnya ditinggal mati seseorang. (Yohanes 14:9) Apabila Yesus berada di Yerusalem, ia biasanya mengunjungi Lazarus dan saudara-saudaranya, Maria dan Marta, yang tinggal tidak jauh dari situ, di desa Betani. Mereka menjadi sahabat karibnya. Alkitab mengatakan, ”Yesus mengasihi Marta dan saudara perempuannya dan Lazarus.” (Yohanes 11:5) Tetapi, seperti yang kita pelajari di pasal sebelumnya, suatu ketika Lazarus mati.

5, 6. (a) Bagaimana tanggapan Yesus ketika ia berada di tengah-tengah keluarga dan sahabat-sahabat Lazarus yang sedang berdukacita? (b) Mengapa kesedihan Yesus membesarkan hati kita?

5 Bagaimana perasaan Yesus ketika sahabatnya meninggal? Dalam kisah itu diceritakan bahwa Yesus mengunjungi sanak keluarga dan sahabat-sahabat Lazarus yang sedang berkabung. Ketika melihat mereka, Yesus sangat terharu. Ia ”mengerang dalam roh dan merasa susah”. Lalu, menurut kisah itu, ”Yesus meneteskan air mata.” (Yohanes 11:33, 35) Apakah kesedihan Yesus mengartikan bahwa ia tidak mempunyai harapan? Sama sekali tidak. Sebenarnya, Yesus tahu bahwa sesuatu yang menakjubkan bakal terjadi. (Yohanes 11:3, 4) Namun, ia tetap merasakan kepedihan dan dukacita akibat kematian.

6 Dari satu segi, kesedihan Yesus membesarkan hati kita, karena hal itu menunjukkan bahwa Yesus dan Bapaknya, Yehuwa, membenci kematian. Tetapi, Allah Yehuwa mampu melawan dan mengalahkan musuh itu! Mari kita lihat kemampuan yang Allah berikan kepada Yesus.

”LAZARUS, MARILAH KE LUAR!”

7, 8. Dalam pandangan para pelayat, mengapa tampaknya tidak ada harapan lagi bagi Lazarus, tetapi apa yang Yesus lakukan?

7 Jenazah Lazarus telah diletakkan di sebuah gua, dan Yesus minta agar batu yang menutup pintu gua itu disingkirkan. Marta berkeberatan karena Lazarus sudah mati selama empat hari sehingga mayatnya pasti sudah mulai membusuk. (Yohanes 11:39) Dari sudut pandangan manusia, semua harapan tentu telah sirna.


Kebangkitan Lazarus mendatangkan sukacita besar.—Yohanes 11:38-44

8 Namun, batu itu disingkirkan juga, dan Yesus berseru dengan keras, ”Lazarus, marilah ke luar!” Lalu, apa yang terjadi? ”Orang yang telah mati itu keluar.” (Yohanes 11:43, 44) Dapatkah Anda bayangkan betapa senangnya orang-orang yang ada di sana? Entah Lazarus itu adik, sanak keluarga, sahabat, atau tetangga mereka, setahu mereka, ia sudah meninggal. Namun, itu dia, orang yang mereka cintai, ada lagi bersama mereka. Ia masih sama seperti sebelum ia meninggal. Kelihatannya sulit dipercaya! Banyak orang tentu bersukacita dan memeluk Lazarus. Benar-benar suatu kemenangan atas kematian!

Elia membangkitkan putra seorang janda.—1 Raja 17:17-24

9, 10. (a) Bagaimana Yesus menyingkapkan siapa yang memberinya kuasa untuk membangkitkan Lazarus? (b) Apa saja manfaat membaca kisah-kisah kebangkitan dalam Alkitab?

9 Yesus tidak mengaku telah melakukan mukjizat yang menakjubkan itu dengan kuasanya sendiri. Dalam doanya persis sebelum memanggil Lazarus, ia membuat jelas bahwa Yehuwa-lah yang melakukan kebangkitan itu. (Yohanes 11:41, 42) Bukan kali ini saja Yehuwa menggunakan kuasa-Nya untuk membangkitkan orang mati. Kebangkitan Lazarus hanya satu di antara sembilan mukjizat kebangkitan yang dicatat dalam Firman Allah. * Membaca dan mempelajari kisah-kisah tersebut membuat kita bersukacita. Kisah-kisah tersebut mengajar kita bahwa Allah tidak berat sebelah, sebab yang dibangkitkan mencakup orang tua dan muda, pria dan wanita, orang Israel dan non-Israel. Dan, betapa besar sukacita yang dilukiskan dalam ayat-ayat itu! Misalnya, ketika Yesus membangkitkan seorang gadis remaja, orang tuanya ”sangat takjub dengan kegembiraan yang meluap-luap”. (Markus 5:42) Ya, Yehuwa telah memberi mereka sukacita yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Rasul Petrus membangkitkan wanita Kristen yang bernama Dorkas.—Kisah 9:36-42

10 Memang, orang-orang yang dibangkitkan oleh Yesus akhirnya mati lagi. Jadi, apakah percuma saja mereka dibangkitkan? Sama sekali tidak. Kisah-kisah Alkitab itu meneguhkan kebenaran-kebenaran yang penting dan memberi kita harapan.


PELAJARAN DARI KISAH-KISAH KEBANGKITAN

11. Bagaimana kisah kebangkitan Lazarus ikut meneguhkan kebenaran yang dicatat di Pengkhotbah 9:5?

11 Alkitab mengajarkan bahwa orang mati ”sama sekali tidak sadar akan apa pun”. Mereka tidak hidup dan tidak berada dalam keadaan sadar di suatu tempat. Kisah Lazarus meneguhkan hal ini. Setelah hidup lagi, apakah Lazarus membuat orang terpukau oleh ceritanya tentang surga? Atau, apakah ia membuat mereka takut oleh cerita-cerita mengerikan tentang neraka yang menyala-nyala? Tidak. Alkitab tidak mengatakan bahwa Lazarus menceritakan hal-hal itu. Sewaktu mati selama empat hari, ia ”sama sekali tidak sadar akan apa pun”. (Pengkhotbah 9:5) Lazarus hanya tidur dalam kematian.—Yohanes 11:11.

12. Mengapa kita dapat yakin bahwa kebangkitan Lazarus benar-benar terjadi?

12 Kisah Lazarus juga mengajar kita bahwa kebangkitan benar-benar terjadi, bukan hanya dongeng. Yesus membangkitkan Lazarus di hadapan banyak saksi mata. Bahkan para pemimpin agama, yang membenci Yesus, tidak menyangkal mukjizat itu. Mereka mengatakan, ”Apa yang harus kita lakukan, karena orang itu [Yesus] mengadakan banyak tanda?” (Yohanes 11:47) Banyak orang datang untuk melihat pria yang telah dibangkitkan itu. Hasilnya, semakin banyak lagi yang beriman kepada Yesus. Bagi mereka, Lazarus adalah bukti hidup bahwa Yesus diutus oleh Allah. Bukti itu begitu kuat sehingga beberapa pemimpin agama Yahudi yang keras hati berencana untuk membunuh Yesus maupun Lazarus.—Yohanes 11:53; 12:9-11.

13. Apa dasarnya untuk percaya bahwa Yehuwa sungguh dapat membangkitkan orang mati?

13 Apakah realistis untuk percaya bahwa kebangkitan benar-benar terjadi? Ya, sebab Yesus mengajarkan bahwa pada suatu hari ’semua orang dalam makam peringatan’ akan dibangkitkan. (Yohanes 5:28) Yehuwa adalah Pencipta segala bentuk kehidupan. Apakah sulit untuk percaya bahwa Ia dapat menciptakan kembali kehidupan? Memang, hal itu sangat bergantung pada daya ingat Yehuwa. Dapatkah Ia mengingat orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal? Bintang-bintang di alam semesta ini tak terhitung banyaknya, namun Allah dapat menyebutkan nama setiap bintang! (Yesaya 40:26) Jadi, Allah Yehuwa dapat mengingat orang-orang tercinta yang telah meninggal, sampai ke hal-hal yang terkecil, dan Ia dapat menghidupkan mereka lagi.

14, 15. Sebagaimana digambarkan dalam kata-kata Ayub, apakah Yehuwa memang ingin membangkitkan orang mati?

14 Tetapi, apakah Yehuwa memang ingin membangkitkan orang mati? Alkitab mengajarkan bahwa Ia ingin sekali melakukannya. Pria yang setia bernama Ayub bertanya, ”Jika laki-laki mati dapatkah ia hidup lagi?” Ayub sedang berbicara tentang orang mati dalam kuburan yang menunggu saatnya untuk diingat Allah. Ia mengatakan kepada Yehuwa, ”Engkau akan memanggil, dan aku akan menjawab. Kepada karya tanganmu engkau akan rindu.”—Ayub 14:13-15.

15 Coba pikir! Yehuwa benar-benar rindu untuk menghidupkan kembali orang mati. Kita tentu merasa gembira, bukan, mengetahui bahwa begitulah perasaan Yehuwa? Tetapi, mengenai kebangkitan di masa depan, siapa yang akan dibangkitkan, dan di mana?

’SEMUA ORANG DALAM MAKAM PERINGATAN’

16. Orang mati akan dibangkitkan untuk hidup di bawah keadaan apa?

16 Kisah-kisah kebangkitan dalam Alkitab banyak mengajar kita tentang kebangkitan yang akan terjadi di masa depan. Pada zaman dahulu, orang-orang yang dihidupkan kembali di bumi ini dipersatukan lagi dengan orang-orang yang mereka cintai. Hal yang sama juga akan terjadi di masa depan—tetapi jauh lebih baik. Seperti yang telah kita pelajari di Pasal 3, Allah telah menetapkan bahwa seluruh bumi ini akan dijadikan firdaus. Maka, orang mati tidak akan dibangkitkan untuk hidup di dunia yang penuh dengan peperangan, kejahatan, dan penyakit. Mereka akan memiliki kesempatan untuk hidup selama-lamanya di bumi ini di bawah keadaan yang penuh damai dan bahagia.

17. Seberapa luaskah jangkauan kebangkitan?

17 Siapa yang akan dibangkitkan? Yesus mengatakan bahwa ’semuaorang dalam makam peringatan akan mendengar suara Yesus lalu keluar’. (Yohanes 5:28, 29) Demikian pula, Penyingkapan 20:13mengatakan, ”Laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan kematian dan Hades menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya.” ”Hades” memaksudkan kuburan umum umat manusia. (Lihat Apendiks, halaman 212-13.) Semua kuburan itu akan dikosongkan. Miliaran orang yang beristirahat di sana akan hidup kembali. Rasul Paulus mengatakan, ”Akan ada kebangkitan untuk orang-orang yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar.” (Kisah 24:15) Apa artinya itu?

Di Firdaus, orang mati akan bangkit dan dipersatukan kembali dengan orang-orang yang mereka cintai 

18. Siapa yang termasuk di antara ’orang-orang adil-benar’ yang akan dibangkitkan, dan bagaimana perasaan Anda sendiri terhadap harapan ini?

18 ”Orang-orang yang adil-benar” mencakup banyak orang yang kisahnya kita baca dalam Alkitab dan yang hidup sebelum Yesus datang ke bumi. Nuh, Abraham, Sara, Musa, Rut, Ester, dan banyak lagi mungkin muncul dalam ingatan Anda. Beberapa pria dan wanita yang beriman itu disebutkan di buku Ibrani pasal 11. Tetapi, ”orang-orang yang adil-benar” juga mencakup hamba-hamba Yehuwa yang mati pada zaman kita. Jadi, karena ada harapan kebangkitan, kita tidak perlu takut lagi akan kematian.—Ibrani 2:15.

19. Siapakah orang-orang ”yang tidak adil-benar”, dan kesempatan apa yang dengan baik hati Yehuwa ulurkan kepada mereka?

19 Bagaimana dengan semua orang yang tidak melayani atau menaati Yehuwa karena mereka tidak pernah mengenal Dia? Miliaran orang ”yang tidak adil-benar” itu tidak akan dilupakan. Mereka juga akan dibangkitkan dan diberi waktu untuk belajar tentang Allah yang benar dan melayani Dia. Selama suatu periode seribu tahun, orang mati akan dibangkitkan dan diberi kesempatan untuk melayani Yehuwa bersama orang-orang yang beriman di bumi. Masa itu benar-benar menakjubkan. Dalam Alkitab, periode itu disebut Hari Penghakiman. *

20. Apakah Gehena itu, dan siapa yang pergi ke sana?

20 Apakah ini berarti bahwa setiap orang yang pernah hidup akan dibangkitkan? Tidak. Alkitab mengatakan bahwa ada orang mati yang berada di ”Gehena”. (Lukas 12:5) Nama Gehena berasal dari sebuah lokasi pembuangan sampah di luar kota Yerusalem kuno. Mayat para penjahat yang keji juga dibuang dan dibakar di sana, karena orang Yahudi menganggap mereka tidak layak dikuburkan dan dibangkitkan. Jadi, Gehena cocok untuk melambangkan kebinasaan kekal. Meskipun Yesus akan berperan untuk menghakimi orang yang hidup dan mati, Yehuwa-lah yang menjadi Hakim terakhir. (Kisah 10:42) Ia tidak akan membangkitkan orang-orang yang Ia vonis sebagai orang yang fasik dan tidak mau berubah.


KEBANGKITAN KE SURGA

21, 22. (a) Kebangkitan apa lagi yang disebutkan? (b) Siapakah yang pertama kali dibangkitkan untuk hidup sebagai makhluk roh?

21 Alkitab juga menyebutkan kebangkitan lain, yaitu untuk hidup sebagai makhluk roh di surga. Alkitab hanya mencatat satu contoh dari kebangkitan ini, yaitu kebangkitan Yesus Kristus.

22 Setelah Yesus dibunuh, Yehuwa tidak membiarkan Putra-Nya yang setia itu tetap berada dalam kuburan. (Mazmur 16:10; Kisah 13:34, 35) Allah membangkitkan Yesus, tetapi tidak untuk hidup sebagai manusia lagi. Rasul Petrus menjelaskan bahwa Kristus ”dibunuh sebagai manusia, tetapi dihidupkan sebagai roh”. (1 Petrus 3:18) Sungguh luar biasa mukjizat itu. Yesus hidup lagi sebagai pribadi roh yang perkasa! (1 Korintus 15:3-6) Yesus adalah pribadi yang paling pertama menerima kebangkitan yang mulia ini. (Yohanes 3:13) Tetapi, dia bukan yang terakhir.

23, 24. ”Kawanan kecil” Yesus terdiri dari siapa, dan berapa jumlah mereka?

23 Yesus tahu bahwa ia tidak lama lagi akan kembali ke surga, maka ia memberi tahu para pengikutnya yang setia bahwa ia akan ”menyiapkan tempat” bagi mereka. (Yohanes 14:2) Orang-orang yang akan pergi ke surga itu Yesus sebut sebagai ”kawanan kecil”-nya. (Lukas 12:32) Berapa banyak orang Kristen setia yang termasuk dalam kelompok yang relatif kecil itu? Menurut Penyingkapan 14:1, rasul Yohanes mengatakan, ”Aku memandang, dan, lihat! Anak Domba itu [Yesus Kristus] berdiri di Gunung Zion, dan bersama dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama dia dan nama Bapaknya.”

24 Ke-144.000 orang Kristen itu, termasuk rasul-rasul Yesus yang setia, dibangkitkan untuk hidup di surga. Kapan mereka dibangkitkan? Rasul Paulus menulis bahwa hal itu akan terjadi pada masa kehadiran Kristus. (1 Korintus 15:23) Sebagaimana yang akan Anda pelajari diPasal 9, kita sekarang hidup pada masa itu. Jadi, sedikit orang yang tersisa dari ke-144.000 itu, yang mati pada zaman kita, langsung dibangkitkan untuk hidup di surga. (1 Korintus 15:51-55) Tetapi, sebagian besar umat manusia mempunyai harapan akan dibangkitkan di masa depan untuk hidup dalam Firdaus di bumi.

25. Apa yang akan dibahas dalam pasal berikutnya?

25 Ya, Yehuwa benar-benar akan mengalahkan musuh kita, yaitu kematian, yang akan dilenyapkan untuk selama-lamanya! (Yesaya 25:8) Namun, Anda mungkin bertanya-tanya, ’Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang dibangkitkan ke surga?’ Mereka akan menjadi bagian dari pemerintahan Kerajaan yang menakjubkan di surga. Kita akan belajar lebih banyak tentang pemerintahan itu di pasal berikutnya.

-----------------------------------------------------------------------------------------


MATI DALAM KRISTUS

Kematiam merupakan peristiwa yang seumur dengan keberadaan manusia Tidak dapat di sangkal bahwa kematian sangat akrab dengan semua mahlukh hidup bahkan juga manusia. Karena begitu dekatnya maka pastilah tak satu pun mahkluk hidup di dunia ini yang dapat menghindarkan diri daripadanya termasuk manusia.


Arti Kematian

Apa itu kematian? pertanyaan ini penting karena di tengah masyarakat tersebar pengertian yang bervariasi tentang hal ini.

Suatu kelompok masyarakat mempunyai pemahaman bahwa kematian adalah suatu proses perpindahan dari duni ke punya. Menurut pemahaman ini, orang yang telah mati (meninggal), akan berpindah ke Puya, dan dari sana mereka akan memberkati keturunannya yang masih hidup di dunia.

Pemahaman yang lain lagi ialah bahwa tubuh adalah material yang berdosa, sementara “roh” adalah sesuatu yang bersifat suci. Terjadinya kehidupan karena terpadunya kedua hal ini. Namun “roh” yang adalah suci itu selalu berusaha untuk meningalkan tubuh yang adalah fana. Kematian terjadi apabila terjadi perpisahan dari kedua unsur yang berbeda sifat ini. Tubuh tetap tinggal di dunia yang fana, sedangkan “roh” kembali ke alam baka. Pemahaman seperti ini berkembang sangat kuat, bahkan telah menjadi semacam “pengertian” di kalangan orang Kristen sekalipun, sehingga tidak sedikit orang Kristen yang mempunyai pemahaman bahwa apabila seorang meninggal dunia, maka pada saat itu juga ia telah berada di Surga. Sebagai bukti, seorang anak balita pernah bertanaya kepada ayahnya, “Ayah, kemanakah ibu, sehingga belum juga pulang? Di manakah ibu berada sekarang?” Sambil membelai dan menatap anaknya, ayah itu kemudian menjawab, “Nak, ibumu sekarang berada di Surga, ia telah bertemu dengan Tuhan.” Jawaban ini diberikan karena ibu dari anak tersebut telah meninggal dunia. Jawaban yang sama datang dari Ibu Lusi Kembuan dari surabaya, ketika diwawancarai oleh Metro TV pada tanggal 11 Januari 2007 sehubungan dengan hilangnya 17 (tujuh belas) anggota keluarganya dalam kecelakaan pesawat boing 737 milik Maskapi penerbangan Adam Air pada tanggal 1 Januari 2007, ia mengatakan bahwa “kami percaya bahwa mereka sudah berada di Surga.”

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah : benarkah orang yang mati sudah berada di Surga? Apakah yang Alkitab katakan tentang kematian?


Kematian Menurut Akitab.

Di dalam Alkitab, kata “mati” pertama kali ditemukan di dalam kitab Kejadian 2:17. Ayat Alkitab itu berbunyi sebagai berikut: “… semua pohon di dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yanbg jahat itu, jangan kamu makan buahnya, sebab pada saat engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Kata “mati” pada konteks ini erat hubungannya dengan ketidaksetiaan manusia terhadap perintah dan larangan Allah. Alkitab menegaskan kepada kita bahwa setelah Adam dan Hawa memakan buah itu, mereka masih hidup dan berketurunan, dan kematian yang pertama baru terjadi ketika Habel, anak kedua dari pasangan suami istri pertama di dunia ini dibunuh oleh kakaknya, Kain (Kejadian 4:8). Tetapi bukankah Tuhan berfirman kepada mereka bahwa “… pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati?”

Kitab Kejadian 3:10-13 mencatat pengakuan nenek moyang manusia ini bahwa ketika mereka mengetahui bahwa Allah ada di dalam taman Eden, mereka menjadi takut karena telanjang, sebab mereka telah memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Tuhan untuk dimakan.

Dengan demikian maka “mati” yang dimaksudkan di dalam kitab Kejadian 2:17 mempunyai makna ganda, yaitu, yang pertama ialah: mati secara rohani, yaitu hilangnya kemuliaan Tuhan, atau citra Allah, yang menjadi pakaian mereka. Hal ini merupakan pertanda putusnya hubungan mereka dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Yang kedua ialah: mati secara fisik, yaitu putusnya nafas dari raga, dan kematian yang pertama dialami oleh Habel.

Pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah, apapun bentuknya, adalah pemberontakan terhadap Allah, dan akibatnya ialah putusnya hubungan dengan Allah. Jika hal ini terjadi, kematian adalah hal yang takterelakkan oleh manusia (Roma 3:23; 6:23).


Tujuan Penciptaan Manusia.

Pada mulanya Allah menciptakan manusia itu sempurna, suci, tanpa cacat dan cela. Tujuan Allah menciptakn manusia agar supaya manusia memuliakan Tuhan. Allah ingin bergaul dengan ciptaaa-Nya dalam keadaan suci, tanpa cela. Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar-Nya (Kejadian 1:27). Berbeda dengan ciptaan yang lainnya, manusia dilengkapi dengan kecerdasan, dan dengan kecerdasan ini manusia dapat membuat keputusan secara sadar untuk berpihak kepada Allah, atau bahkan mungkin membuat keputusan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Inilah yang disebut dengan kuasa memilih. Atas dasar (prinsip) kuasa memilih ini, Allah kemudian memberikan rambu-rambu, yaitu rambu-rambu serta konsekwensinya, sebagai berikut:

Perintah : “Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas.

Larangan: “Tetapi pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu, jangan kamu makan buahnya.”

Konsekwensi: “Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Dengan rambu-rambu ini, Allah merencanakan suatu kehidupan yang kekal, suci, dan tanpa dosa.

Tetapi ketika Setan dihalau dari Surga dan datang ke bumi (Wahyu 12:7-9; Lukas 10:18), dengan menggunakan ular yang cerdik, ia memperdaya manusia dengan cara memutadbalikan firman Allah, dengan berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi … pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 3:4, 5).

Allah tidak permah merencanakan penderitaan bagi manusia. Sebaliknya, rencana Allah agar manusia hidup suci, tanpa dosa, dan selamanya memuliakan Allah. Rencana ini menjadi rusak ketika Setan datang ke dunia dan memperdaya manusia serta “menanamkan benih pemberontakan ketika ia menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang berarti ketidaksetiaan kepada Allah,”[1] dan terjadilah kematian.


Keadaan Orang Mati.

Kisah kematian Habel telah merupakan penjelasan yang baik kepada kita tentang kematian, dan peristiwa itu kemudian menjadi arti yang lebih diterima oleh seluruh umat manusia, bahwa ketika manusia itu mati, ia tidak lagi bernapas, berinteraksi, dan berkreativitas.

Alkitab memberikan penjelasan yang lebih baik tentang keadaan orang mati, yaitu bahwa “… orang yang mati tidak tahu apa-apa, tidak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih merek, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tiak ada bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari” (Pengkhotbah 9:5, 6).

Jika demikian, ke mana orang yang sudah mati itu pergi? Ke Neraka, ke Puya, atau ke Surga, sebagaimana paham dari kebanyakan orang? Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh orang-orang pada zaman rasul Petrus, dan pertanyaan itu dijawabnya dalam khotbahnya dengan berkata: “Saudara-saudara, aku boleh berkata terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini” (Kisah Para Rasul 2:29). Hal yang sama dilakukan terhadap mayat Adam dan anak cucunya.

Dikuburkan berarti dikembalikan kepada asalnya. Alkitab mengatakan bahwa “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikian manusia itu menjadi makluk hidup” (Kejadian 2:7).

Berdasarkan ayat Alkitab di atas, komposisi manusia terdiri dari: debuh tanah dan napas hidup. Debu tanah karena dibuat dari tanah, salah satu elemen bumi. Itulah sebabnya ketika seorang meninggal dunia jazatnya dikuburkan, dikembalikan ke asalnya. “Debu kembali menjadi tanah seperti semula”(Pengkhotbah 12:7). Napas hidup berasal dari Allah, si pemberi hidup, karena Allah yang menghembuskan napas hidup ke dalam hidung Adam, maka kehidupanpun berawal. Kuasa Allah nyata pada peristiwa ini. Bagaimana udara bisa masuk keluar melalui hidung manusia dan menjadi pemicu sistem kerja dalam tubuh, dan bagaimana ini bisa berakhir, sulit dijelaskan oleh para ahli .Ketika seorang meninggal, napas hidup itu hilang daripadanya . Sebagaimana nyala lilin hilang ketika ditiup, demikian hilangnya napas hidup, tidak seorangpun tahu . Tetapi Alkitab memberikan jawaban yang pasti bahwa “… roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya; (Pengkhotbah 12:27. baca juga 3-22 ).


Kematian Sebagai Berkat.

Setelah mengaku perbuatan mereka bahwa mereka telah melanggar hukum Allah, yang adalah rambu-rambu, Allah menyampaikan akibat langsung dari pelanggaran kepada Adam, Hawa dan juga ular. Kepada ular, ia harus menjalar dengan perut, dan makanannya ialah debu tanah (Kejadian 3:14). Kepada Hawa, susah payah waktu mengandung akan sangat banyak, dan dengan kesakitan akan melahirkan anak (Kejadian 3:16) Kepada Adam,ia harus meningalkan taman Eden, dan mencari makanan di semak belukar dan tumbuhan padang. Dengan bekerja keras ia bisa mempertahankan kehidupan hingga akhir hayat (Kejadian 3: 18,19 ).

Sebagai ganti dari pakaian kemuliaan yang telah hilang, mereka mengenakan pakaian dari kulit binatang. Maka berfirmanlah Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti … Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat, maka sekarang jangan sampai mereka mengulurkan tangan dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakakannya, sehinga ia hidup untuk selama-lamanya.Lalu Tuhan Allah mengusir diadari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana dia di ambil” (Kejadian 3:22, 23). Dari ayat-ayat selanjutnya kita dapati bahwa Allah kemudian menempatkan beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala disebelah timur taman Eden, menjaga jalan kepohon kehidupan .

Ada apa dengan pohon kehidupan ? mengapa Allah harus menempatkan kerup untuk menjaga pohon itu, sementara manusia sudah dihalau keluar dari taman Eden.?

jawabannya ialah bahwah “Pohon kehidupan mempunyai khasiat untuk mengabadikan hidup, dan selama mereka memakan buahnya , mereka tidak dapat mati . Buahnya mencega kematian, dan daunya menopang kehidupan kekal.’’[2] Rasul

Yohanes memberikan kesaksian yang sama tentang pohon kehidupan bahwa pohon kehidupan berbuah dua belas kali setahun. Daun pohon itu menyembuhkan bangsa –

bangsa (baca Wahyu 22:2 ) .

Adam dan istrinya telah mendapat kutukan dari Allah akibat pelanggaran, dan penderitaan demi penderitaan akan segera mereka alami. Coba bayagkan bagaimana keadaan dunia sekarang ini ketika orang berdosa dengan berbagai jenis kejahatan, penderitaan, baik secara fisik, mental, dan ekonomi, sejak zaman Adam hingga sekarang masih tetap hidup, dan terus bertahan hidup dalam penderitaan, karena terus memakan buah pohon kehidupan tersebut. Jika hal itu terjadi, tentu Setan tidak dapat dipersalahkan ketika ia menuduh Allah bahwa Allah adalah kejam, karena menciptakan manusia dan membiarkan mereka menderita untuk zaman kekekalan.

Tetapi penderitan bukanlah rencana Allah bagi manusia; dan bahwa Allah kita adalah Allah yang maha Pengasih dan maha Penyayang. Ia memberikan kutuk kepada manusia, tetapi pada saat yang sama mengubahnya menjadi berkat, dan hal itu ialah kematian, ya! kematian adalah suatu berkt.” Betapa tidak, walaupun Setan, melalui kuasa spiritismenya, berupaya meyakinkan umat manusia bahwa Allah itu kejam, sehubungan dengan kematian yang harus dialami oleh manusia, namun sesungguhnya kematian adalah meruapakan berkat, karena penderitaan yang dialami oleh setiap prisbadi harus berakhir melalui kematian, sehingga dunia ini tidak penuh dengan penderitaan dan kejahatan.

Demikianlah akhir dari kehidupan manusia di dunia ini berawal, yaitu pelangaran terhadap perintah dan larangan Allah itu terjadi. “Sebab … oleh satu pelangaran semua orang beroleh pehukuman …” (Roma 5:19), namun bukan manusia yang dihukum, tetapi seluruh dunia, sebagaimana bunyi firman Tuhan: “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemurunya yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang diam di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kami harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan memperceapat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dengan dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya” (2 Petrus 3:10-12).

Namun kematian bukanlah akhir dari segalanya. Sebagaimana rencana Allah menciptakan manusia, yaitu agar manusia hidup suci tanpa dosa dalam kemuliaan Tuhan, maka Allah atelah menyediakan sarana untuk mana manusia boleh kembali kepada keadaan semula, yaitu keadaan tanpa dosa sebagaimana sebelum berdosa, dan sarana itu dikenal sebagai Karya Keselamatan. Apakah karya keselamatan itu, dan apa saja sarannya?


Rencana Penebusan

Suatu hal yang perlu diketahui ialah bahwa walaupun manusia sudah melanggar ketetapan Allah dan berdosa terhadap-Nya, namun Ia masih tetap pada rencana-Nya semula, yaitu agar manusia hidup dalam satu keadaan yang suci dan bergaul bebas dengan Dia. Hal ini benar karena ketika menyampaikan dampak dari pelanggaran tersebut yang akan segera dialami oleh Adam, Hawa, serta ular, sehubungan dengan pelanggaran masing-masing, kepada mereka Allah menyampaikan reancana penebusan melalui Yesus Kristus, dan keselamatan melalui Dia. Rencana tersebut berbunyi sebagai berikut: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15). Ini adalah rencana untuk mengalahkan Setan sekaligus menebus mereka yang telah berdosa.

Rencana penebusan ini bukanlah suatu hal yang baru terpikirkan dan baru dirancang setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa. “Kehadiran Yesus sebagai domba tebusan bukanlah suatu rencana dalam keadaan darurat yang diperkenalkan untuk biaya takterduga dari apa yang telah terjadi, melainkan adalah bahagian dari rencana kekal Allah.”

Yesus telah dipilih untuk menjdi kekudusan dan kemiliaan manusia sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4; 1 Petrus 1:20; 1Korentus 2:7), “dan dalam rapat dewan surga, waktu untuk peristiwa ini telah ditentukan.”

Rencana penebusan ini kemudian digenapi ketika “… Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia 4:4, 5).

Kristus yang adalah Pencipta segalanya (Yohanes 1:3), namun Ia rela membayar upah dosa manusia, dan dalam pengertian ini, Dia adalah “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29, 36). Ia rela menjadi sama dengan manusia yang adalah ciptaan-Nya, dan bahkan menjadi hamba untuk melayani manusia (Filipi 2:5-7), dan sebagaimana manusia, Ia merasa lapar (Matius 4:2),merasa haus (Yohanes 19:28), merasa letih (Yohanes 4:6), namun tidak berdosa (Ibrani 4:15). Dalam keadaan seperti ini, seluruh kejahatan dan dosa kita sekalian ditimpahkan kepada-Nya (Yesaya 53:8; 2 Korentus 5:21), dan Ia bahkan rela “kena kutuk” karena kita (Galatia 3:13).

Sebelum disalibkan mati untuk menebus manusia dari dosa, Ia berjalan dari satu kampung ke kampung yang lain untuk menawarkan keselamatan yang dibawa-Nya, melalui mengajar, memberi amaran, membuat mujizat, serta menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang hidup pada zaman itu, dan bahkan kepada mereka yang hidup di sertiap zaman.

Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia membayar hukuman kematian untuk dosa-dosa kita, sehingga pengampunan dapat menjadi milik kita, dan bukan hanya kita, tetapi semua orang dari seluruh bangsa di bumi, yang menerima darah-Nya dengan iman. Inilah alasannya mengapa “… Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya (yaitu kita, semua manusia) supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibrani 2:17).

Kita percaya bahwa setelah mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkit pada hari yang ketiga, Yesus kini berada di surga. Sesuai dengan janji-Nya Ia akan datang menjemput kita (Yohanes 14:1-3).


Yesus Kristus Dan Kematian

Ketika itu Lazarus sedang sakit. Yesus tidak berada di Betania. Di antara Yesus dan Lazarus serta kedua saudarinya, Maria dan Martha, telah terjalin kasih persaudaraan yang yang akrab. Oleh karena sakitnya bertambah parah, diutuslah kurir untuk menyampaikan pesan kepada Yesus. Berita tiba kepada Yesus ialah: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit” (Yohanes 11:3). Sambutan Yesus terhadap berita itu ialah, “Penyakit itu tidak akan membawa kepada kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ayat 4). Stelah mendengar berita itu, Yesus masih tinggal dua hari lagi, kemudian Ia mengajak para murid-Nya menuju ke rumah duka. Bagi Yesus, kematian Lazarus hanyalah tidur, dan Ia pergi untuk membngunkan Lazarus dari tidurnya (ayat 11). Dari Alkitab kita memperoleh catatan bahwa ketika Yesus tiba, Lazarus sudah empat hari berada di dalam kubur (ayat 17).

Ketika mendengar bahwa Yesus sudah tiba, Martha pergi mendapatkan-Nya, sementara Maria tinggal melayani banyak orang yang datang melayat dan memberikan simpati karena duka yang dialami oleh mereka. Dengan rasa duka yang dakam Martha menyapa Yesus dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranaya Engkau berada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (ayat 22). Yesus kemudian memberikan jaminan kepada Martha dengan berkata, “saudaramu akan bangkit” (ayat 23).

Sebagai seorang yang percaya kepada Yesus serta percaya kepada kebangkitan orang mati, Martha kemudian menanggapi pernyataan Yesus dengan berkata: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman (ayat 24). Yesus menanggapi argumentasi Martha dengan berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa yang percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup yang percaya kepada-Ku tidak akan mati untuk selama-lamanya” (ayat 25, 26).

Mendengar kata-kata Juruelamat itu, Martha berlari menemui Maria, saudarinya, mengajaknya untuk bertemu dengan Yesus. Ketika Maria beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju tempat Yesus berada, orang banyak menyangka bahwa Maria akan pergi meratap di kuburan Lazarus, maka merekapun berduyun-duyun mengikutinya (ayat 31). Setibanya di tempat yesus berada, tersungkurlah Maria di kaki Yesus sambil berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau berada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 32).

Melihat Maria menangis tersedu-sedu, dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersamanya, Yesus sangat terharu dan merasa sedih. Sang Guru lantas bertanya kepada Maria, serta banyak orang yang berada di sekitar-Nya: “Di manakah dia kamu baringkan?” Ketika Maria dan orang banyak itu mengajak-Nya untuk melihat kubur Lazarus, mereka dapati Yesus meneteskan air mata duka (ayat 33-35).

Tiba di kubur, Yesus menyuruh mengangkat batu penutup kuburan, tetapi Martha berupaya mencegah hal itu dengan berkata: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39). Batu kemudian diangkat. Setelah memohon restu Surga, denga suara keras Yesus memanggil orang mati itu dengan berkata: “Lazarus, mari keluar” (ayat 43). Orang yang telah empat hari mati itu berjalan keluar dengan keadaan tertutup kain.

Kisah Lazarus merupakan contoh terbaik tentang mati dalam Kristus. Bagi Yesus Kristus, kematian Lazarus hanyalah tidur, dan benar bahwa Yesus kemudian pergi untuk membangunkan dia dari tidurnya. Setiap orang yang mengaku mengenal Kirstus dan bergaul akrab dengan-Nya sebagaimana Lazarus, kematian mereka hanyalah nerupakan tidur. Tetapi bagaimana mungkin kita bisa bergaul akrab dengan Dia sementara Dia tidak lagi hidup secara fisik di dunia ini?

Adalah benar bahwa secara fisik kita tidak dapat melihat Dia, tetapis secara rohani kita percaya bahwa Dia menyertai kita (Matius 28:20), dan bahwa melalui firman-Nya yang tertulis, Alkitab, kita dapat mengetahui cara menjalin hubungan dan bergaul akrab dengan Dia. Betapa pentingnya bergaul akrab dengan Yesus, karena hanya dengan cara demikian kita bisa bersahabat dengan Dia. Sebagai sahabat, tentu kita akan dengan senang hati melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita(Yohanes 15:14). Sehubungan dengan hal ini Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga (Matius 7:21). Yesus kemudian melanjutkan perkataan-Nya: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:22, 23). Yesus ingin mengatakan bahwa walaupun ada orang yang merasa mempunyai karunia untuk membuat banyak mujizat, mengusir Setan, atau bahkan bernubuat dengan menggunakan nama Yesus, tetapi mengabaikan perintah dan larangan Allah Bapa, mereka itu adalah pembuat kejahatan dan tidak dikenal oeh Yesus. Mengapa? orang-orang seperti ini hanya baik secara moral tetapi tidak benar secara rohani.

Pada konteks ini Yesus tidak memberikan syarat ‘selamat oleh penurutan,’ atau lebih jelasnya, menurut Perintah Allah baru memperoleh keselamatan. Namun sebaliknya, karena kita telah diselamatkan oleh Yesus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib maka kita wajib menempatkan diri kita pada sisi penurutan.

Yang mengakibatkan hilangnya kemuliaan Allah dari manusia pertama di atas bumi yang diikuti dengan kematian fisik ialah oleh karena mereka tidak menempatkan diri mereka ada sisi penurutan kepada kehendak Allah. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa jika kita mengaku mengenal Yesus tetapi tidak menempatkan diri pada sisi penurutan, kita tidak layak bagi Dia. Ingat bahwa Setan juga mengenal Allah Bapa dan Yesus Kristus, hanya saja tidak menempatkan dirinya pada sisi penurutan pada kehendak Allah (baca Kisah 16:16-18; Yakobus 2:19). Hal inilah yang membuat Setan menjadi musuh Allah.

Sehubungan dengan penurutan, rasul Yohanes menulis: “Barang siapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barang siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia” (1 Yohanes 2:4, 5).

Menempatkan diri pada sisi penurutan akan kehendak Bapa adalah merupakan cara hidup Yesus, sehingga Surga berkenan kepada-Nya. Jika kita menempatkan diri kita pada sisi penurutan akan kehendak-Nya, maka kasih Allah sempurna di dalam kita, dan Allah memandang kita seolah-olah tidak pernah berbuat salah.

Jika hubungan persahabatan kita dengan Kristus sudah akrab seperti ini, apa yang harus kita takuti? Bagi kita kematian hanyalah tidur, ya! tidur dalam menjalani penantian kedatangan Kristus. Bila Sang Penebus itu datang, Ia akan membangunkan semua umat tebusan dari tidur dan membawa mereka ke negeri perjanjian, ke dalam Rumah Bapa-Nya.


Kebangkitan Orang Mati

Rasul Paulus berkata: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, Tuhan sendiri akan turun dari Surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup yang masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1 Tesalonika 4:16, 17).

Pernyataan ini benar, karena demikianlah rencana Allah bagi manusia, yaitu bahwa Yesus akan membangkitkan umat-Nya pada akhir zaman (Yohanes 11:23-26).

Pernyaan ini sekaligus membantah anggapan bahwa orang mati itu sudah berada di Surga. Jika adalah benar bahwa orang mati sudah berada di Surga, sebagaimana pemahaman kebanyakan orang, tentu adalah tidak benar dan tidak masuk akal jika Yesus akan datang pada kali yang kedua untuk menjemput umat-Nya, termasuk membangkitkan mereka yang sudah mati.

Kematian terjadi oleh karena pemberontakan manusia terhadap Allah melalui ketidaktaatan terhadap perintah dan larangan Tuhan, yaitu hukum-Nya. Hal inilah yang mengakibatkan hilangnya citra Allah.

Jika kita mengaku percaya kepada Yesus, berarti kita telah menempatkan diri pada sisi penurutan, sebagaimana Yesus, menempatkan diri pada sisi penurutan akan perintah Allah. Dengan menempatkan diri pada sisi penurutan terhadap kehendak Allah maka kita telah berdamai, atau “didamaikan dengan Allah” (2 Korintus 15:20). Dalam hal ini, yang telah mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan yang masih hidup akan “diubah dalam sekejap mata” (2 Korintus 15:51, 52) dan mengenakan suatu keadaan “yang tidak dapat binasa” (2 Korintus 15:53). “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati mengenakan yang tidak dapat mati” (2 Korintus 15:54), barulah akan diangkat ke Surga, kerajaan kekal yang dijanjikan-Nya kepada kita, dan hidup selama-lamanya dengan Tuhan.

Demikianlah rencana Allah untuk memulihkan manusia dari dosa akan terwujud, saat mana umat manusia yang telah ditebus akan akan hidup bersama dengan Pencipta, Penebus, dan Juruselamat mereka, bergaul, berceangkrama, serta berbicara muka dengan muka. Betapa suatu kabar baik yang sangat menyenangkan.

Inilah inti pengharapan Kristen, inilah kebenaran keselamatan, kebenaran tentang jaminan kehidupan jika mati dalam kepercayaan kepada Yesus.

Tentu anda ingin menikmati kehidupan indah dan abadi ini kan? Untuk itu percayalah kepada Yesus dan tempatkanlah diri anda sisi penurutan, ya! penurutan akan kehendak Allah, termasuk perintah dan larangan-Nya.

Ingat bahwa kita dibenarkan melaui iman kita kepada Yesus, tetapi kita akan dihakimi berdasarkan perbuatan kita, dan segala kwalitas dan aktivitas rohani kita harus serasi dengan standar Tuhan, yaitu perintah dan larangan-Nya.

Kiranya anda memperoleh berkat rohani ayang melimpah dari tulisan yang sangat sederhana ini, a m i n.

-----------------------------------------------------------------------------------------

PENGAJARAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN

Apa yang terjadi di balik kematian masih menjadi misteri dan perdebatan banyak orang. Namun pada umumnya hari ini manusia sudah menyadari bahwa betul di balik kematian masih ada dunia lain. Hal ini sangat nyata terasa dan terlihat dalam banyak kasus atau kejadian ketika seseorang akan meninggalkan dunia ini, di mana sebagian dari mereka ada yang begitu tenang dan bahagia karena dijemput oleh orang-orang/pribadi yang mereka kasihi. Sebaliknya sebagian lagi begitu ketakutan karena melihat sesuatu yang begitu menakutkan yang belum pernah mereka temukan sebelumnya. Bersyukur bagi orang Kristen, karena Tuhan memberikan kita Alkitab, Firman Tuhan, yang cukup dan lengkap untuk menjadi pegangan dan pedoman bahkan penuntun bagi umatNya sepanjang zaman. Jauh hari, bahkan berabad-abad sebelum manusia mengetahunya secara ilmiah dan dibuktikan secara ilmu pengetahuan, Tuhan, melalui FirmanNya, sudah memberitahukan pada umatNya akan keberadaan manusia. Fakta mengenai kematiannya, bahkan apa yang terjadi setelah kematian. 
Dari Alkitab manusia akan tahu bahwa :
1. Manusia itu berasal dari debu, lalu diberi nafas hidup (dalam bahasa aslinya = "roh") oleh Allah.. 
Kejadian 2:7 : "Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup."
2. Setelah mati, manusia (tubuh jasmaninya) akan kembali menjadi debu, tetapi rohnya akan kembali kepada Allah, Sang Penciptanya. (Berarti rohnya tidak mati !!)
Kejadian 3:19 : "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."Pengkhotbah 12:7 "Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya." ( Bdk Ayub 34:14 - 15)
3. Sesudah itu akan ada penghakiman yang adil dari Allah.
Ibrani 9:27 : "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,"Pengkotbah 11:9 : "Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! " Pengkhotbah 12:14 : " Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat."
4. Penghakiman itu terjadi pada akhir zaman, bagi yang percaya kepada Tuhan Yesus akan dibangkitkan dan beroleh hidup yang kekal, dan bagi yang tidak percaya akan beroleh penghukuman yang kekal.
Daniel 12:2 : "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal."
Yohanes 6:40 : "Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."
Yohanes 11:25 : "Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,"
Wahyu 20:11- 16 : "Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu."
KEMATIAN BAGI SEORANG KRISTEN
Tuhan Yesus adalah satu-satunya tokoh yang telah berhasil mengalahkan maut atau kematian. Ia mengalami kematian di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia, dikuburkan, dan pada hari ketiga bangkit dari kematian, dan hidup selamanya (1 Korintus 15). Ia adalah Tuhan yang turun dari Surga ke dunia, dan setelah karya penebusanNya selesai Ia kembali naik ke Surga, yang adalah rumahNya (Yohanes 3:13, 16:28). Dan Ia sudah berjanji akan menjemput setiap orang yang percaya kelak, ketika kematian itu datang dalam hidup mereka, sehingga kematian bukanlah lagi hal yang menakutkan bagi orang yang percaya, tetapi sukacita dan kebahagiaan yang terbesar karena dapat bertemu muka dengan muka dengan Tuhan dan Juruselamat yang mengasihi dan dikasihinya. Bahkan kematian bagi orang percaya juga berarti pekerjaannya dalam dunia ini sudah selesai dan sekarang ia boleh beristirahat dalam rumah Bapa yang kekal.
Yohanes 14:1 - 6 : "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." 
Wahyu 14:13 : " Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."
UPACARA KEMATIAN KRISTEN
Berdasarkan pemahaman yang diuraikan di atas, maka ketika kematian itu tiba, seorang Kristen tidaklah membutuhkan apa-apa lagi, karena saat itu juga (ketika ia mati) rohnya sudah langsung kembali ke "Rumah Bapa Surgawi", ia tidak perlu "ditambahkan atau diberikan sesuatu lagi "supaya "jalannya di sana menjadi lancar", dalam petinya tidak perlu dibekali berbagai barang-barang, dan dalam jasadnya tidak perlu diberikan mutiara, dsb. Bahkan ia tidak perlu didoakan supaya diterima "di sisi Tuhan" (ia tidak perlu doa-doa kita lagi dan doa-doa kita pun untuknya tidak ada pengaruhnya sama sekali. Jika ia adalah seorang percaya, maka ia sudah bersama Tuhan di Surga, tetapi jika ia adalah orang yang tidak percaya maka ia sudah berada di tempat penghukuman yang kekal. Lihat Lukas 16:19-31, bdk 2 Kor 5:10). 
Cara pemakaman bagi seorang Kristen tidak ada pantangannya, ia boleh dimakamkan atau dikremasikan kapan saja.
Tujuan utama upacara atau kebaktian kedukaan Kristen adalah untuk menghibur anggota keluarga yang telah ditinggalkan, di mana melalui Puji-Pujian dan Firman Tuhan (yang mengingatkan mereka kembali akan pengharapan di dalam Tuhan), serta perhatian dari saudara seiman dan sanak famili, mereka dapat dikuatkan kembali. Acara menaburkan minyak wangi yang dilakukan sebagai penghormatan terakhir bagi yang meninggal, seharusnya mengingatkan hadirin yang masih hidup agar selalu mengingat keharuman, kebaikan, teladan baik dari almarhum/ah semasa hidupnya. Jadi jelas dalam upacara kebaktian Kristen tidak ada hal apa pun yang dilakukan untuk "roh orang yang meninggal". 
PENUTUP
Janji Kristus mengenai "Rumah Bapa" yang "selalu ada tempat bagimu" merupakan kekuatan dan penghiburan bagi setiap orang percaya yang pada saatnya harus meninggalkan dunia ini. Janji ini sudah dialami berjuta?juta orang yang percaya padaNya dan kitaÁpun hari ini masih dapat menyaksikannya tatkala kita hadir di kamar seorang Kristen yang mengasihi Tuhan, yang akan meninggalkan dunia ini. 
Namun jika tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan dunia ini, sudah siapkah kita? Ye mana kita pergi? Dan apa yang akan kita dapatkan?
1 Korintus 4:5 : "Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah." 

========================================================================

PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN DAN HIDUP SESUDAH MATI

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu
dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk
menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi
tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang
menantikan Dia. (Ibr. 9:27)

Firman Tuhan dengan jelas menolak konsep reinkarnasi. Kebenaran iman kristen menyatakan, seperti ayat di atas, bahwa manusia hanya hidup satu kali dengan jiwa yang dikaruniakan Allah. Kemudian mati satu kali juga, dan jiwanya kembali kepada Allah untuk dihakimi menurut iman dan perbuatannya selama hidup di dunia yang satu kali itu.

Tinjauan Beberapa “Kasus Reinkarnasi” dalam Alkitab
Cukup banyak bagian Alkitab yang dihubungkan oleh para penganut reinkarnasi, khususnya yang kristen, untuk membenarkan pendapat mereka. Beberapa diantaranya yang penting adalah sebagai berikut:
- Identitas Yohanes Pembaptis dan Elia
“Dan—jika kamu menerimanya—ialah Elia yang akan datang itu.” (Mat. 11:14) Kalimat itu dikatakan Yesus ketika murid-muridnya bertanya-tanya tentang siapa Yohanes pembaptis. Pada bagian lain, ketika Yesus menjawab pertanyaan murid-muridnya tentang kedatangan Elia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak
mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Lalu ada komentar “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes.” (17:12-13) Sepintas bagian ini seperti membenarkan reinkarnasi dari Elia pada Yohanes Pembaptis, tetapi sesungguhnya tidak ada ajaran reinkarnasi di sini. Kalau kita perhatikan nubuat tentang kelahiran Yohanes, “ia akan berjalan mendahului Tuhan dengan roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17) kita akan mengerti bahwa yang dimaksud “ia adalah Elia” adalah “nabi dengan roh dan kuasa Elia.” Yohanes sendiri menjawab: “Bukan” ketikaia ditanya apakah dia Elia (Yoh.1:21). Alkitab juga mencatat bahwa Elia tidak mati, tetapi terangkat ke sorga (2 Raj.2:11) jadi bagaiman ia akan bereinkarnasi? Dan akhirnya para penginjil mencatat bahwa Elia hadir bersama dengan Musa menemui Yesus dalam peristiwa transfigurasi di gunung (Mat. 17:1-8; Mrk. 9:2-8; Luk. 9:28-36), Elia tidak hilang karena kelahiran Yohanes. Jadi kesimpulannya ia tidak bereinkarnasi.
- Pandangan murid-murid dan orang banyak “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh.9:1-3); “Ada yang mengatakan: (Engkau adalah) Yohanes Pembaptis, ada juga
yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (Mat.16:13-14)
Nampaknya memang ada semacam pandangan reinkarnasi yang berkembang pada masyarakat di Palestina pada waktu itu yang juga mempengaruhi pola pikir murid-murid Kristus, sehingga mereka percaya semacam karma dan reinkarnasi. Tetapi Yesus justru menghapuskan konsep itu dengan jawaban-Nya: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia.” Yesus dengan jelas menolak reinkarnasi dan karma, Ia menekankan Allah yang turut berkarya dan berdaulat atas hidup manusia.
- Kelahiran kembali
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3) Kalau ayat ini ditafsirkan sebagai reinkarnasi, itu jelas salah tafsiran. Karena kalau kita baca seluruh konteksnya (3:1-21) akan nyatalah bahwa yang dimaksudkan dengan dilahirkan kembali itu adalah kelahiran dalam “air dan Roh” (3:5), yang menunjuk kepada hidup baru yang diterima orang percaya melalui kuasa Firman Tuhan dan Roh Kudus. Jadi sama sekali ini bukan kelahiran secara fisik, tetapi secara rohani.
- Roda kehidupan
“Lidahpun adalah api … menyalakan roda kehidupan kita,” (Yak. 3:6) Roda kehidupan ini ditafsirkan sebagai roda karma oleh para penganut reinkarnasi. Tetapi pembacaan yang lengkap pada seluruh konteks ayat ini akan membawa kita pada pengertian yang jelas bahwa perkataan kita akan sangat mempengaruhi seluruh hidup kita. Yang dimaksud adalah kehidupan sekarang ini—dari lahir sampai mati, sama sekali tidak berbicara tentang perputaran kehidupan dari satu hidup ke hidup yang lain.
- Karma
“Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Gal. 6:7)
“Sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” (Mat. 26: 52)
Kedua ayat di atas, dan sebetulnya banyak bagian Alkitab lain yang semacam itu, memang
berbicara tentang hukum retribusi yang menunjukkan keadilan Allah. Tetapi jika itu
ditafsirkan sebagai ajaran tentang karma, maka itu tidaklah benar. Karena, “sama seperti
manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,” (Ibr. 9:27)
manusia akan menerima balasan untuk setiap perbuatannya; jika tidak dalam hidup yang
sekarang ini akan menerimanya dalam penghakiman abadi. Tidak ada karma dan reinkarnasi.
- Kedaulatan Allah
“Barang siapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk
dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang.” (Wahyu 13:10)
Para penganut reinkarnasi salah kalau melihat ayat ini sebagai bukti adanya karma. Sebab
lebih daripada karma justru ayat diatas menunjukkan kedaulatan Allahlah yang menentukan
nasib, bahkan mati-hidup manusia. Dan itulah yang sesungguhnya menjadi ajaran Alkitab
orang Kristen: Allah yang berdaulat, Allah yang menjadi pusat dan bagi dialah kemuliaan dan
hormat sampai selamanya.

Ajaran Alkitab tentang Kematian dan Kebangkitan Tubuh; Sebuah Penyerapan Ringkas dari
1 Korintus 15
1 Korintus 15 merupakan fasal yang khusus dalam surat Paulus pada jemaat di Korintus. Sepanjang pasal ini Paulus mengajarkan doktrin yang sangat penting dalam kekristenan:
kebangkitan tubuh orang-orang percaya. Dalam ke-58 ayat-ayat ini Paulus memberikan penjelasan yang paling kuat mengenai kebangkitan tubuh dalam seluruh Alkitab. Kebangkitan Yesus Kristus adalah pokok pikiran terpenting yang mewarnai segala hal dalam teologia Kristen. Kebangkitan Kristus menjadi satu-satunya acuan bagi seluruh pengajaran kristen tentang kebangkitan orang percaya. Kebangkitan Kristus adalah tiang utama iman gereja. Robohnya doktrin tentang kebangkitan Kristus berarti robohnya gereja dan kokohnya doktrin kebangkitan Kristus menjamin kokohnya gereja. Itulah sebabnya ketika Paulus mengajarkan tentang kebangkitan tubuh pada orang-orang kristen di Korintus yang nampaknya beranggapan tidak ada kebangkitan tubuh, ia pertama-tama membuktikan kebenaran kebangkitan Kristus. Dalam bagian pertama kitab ini (1-11) Paulus menunjukkan lima kesaksian yang kokoh tentang kebangkitan Kristus:
- Kebangkitan Kristus adalah sesuai dengan Kitab Suci (4).
- Kebangkitan Kristus disaksikan oleh lebih dari 500 saudara sekaligus (6).
- Kristus yang bangkit menampak diri dan menemui secara khusus para tokoh yang bisa dipercaya: Petrus, yang dihormati diantara rasul-rasul dan Yakobus, penatua jemaat yang saleh ( 5, 7).
- Kebangkitan Kristus disaksikan sendiri oleh Paulus, yang pada waktu itu adalah seorang yang menganiaya jemaat Tuhan dan tidak percaya kepada kebangkitan Kristus ( 8-9 ).
- Kebangkitan Kristus itulah inti Injil yang diberitakan dan diajarkan oleh semua rasul yang menjadi saksi kebenarannya ( 10-11).

Fakta kebangkitan Kristus menjadi acuan terpenting bagi doktrin kematian dan kebangkitan
tubuh orang percaya.
Kemudian Paulus menunjukkan pentingnya doktrin kebangkitan tubuh pada jemaat itu (12-19). Jemaat Korintus nampaknya sukar menerima adanya tubuh kebangkitan. Bagi mereka tampaknya keselamatan itu hanyalah terlepas dari hukuman Allah, masuk surga, tetapi tidak perlu dibangkitkan lagi karena sudah dalam bentuk roh yang tak berwujud. Paulus dengan jelas pada bagian ini menyatakan bahwa kebangkitan itu benar dan sangat penting dalam pemahaman
iman kita sebab jika tidak ada kebangkitan:
- Untuk apa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati? (13)
- Pemberitaan Injil yang berpusat pada Kristus yang bangkit tidak ada artinya (14a).
- Iman kepada Kristus adalah sia-sia (14b).
- Semua saksi kebangkitan dan mereka yang mengajarkan kebangkitan adalah penipu (15).
- Semua manusia akan mati bersama dosanya, karena Kristus tidak pernah mengalahkan maut (17b). Semua orang percaya sebelum Kristus, yang mengarahkan imannya pada penebusan anak domba akan binasa selama-lamanya (18).
- Orang-orang Kristen akan menjadi umat yang paling malang di dunia ini (19). Kebenaran iman Kristen adalah: ada kebangkitan tubuh, seperti Kristus juga dibangkitkan dengan tubuh mulia.

Kemudian Paulus memaparkan tiga aspek yang penting berkenaan doktrin kebangkitan tubuh ini:
- Kebangkitan tubuh orang percaya dimungkinkan karena penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus saja. Kristus menjadi yang pertama (utama) dalam kebangkitan orang-orang percaya. Bersama dengan Adam (orang yang pertama binasa), semua manusia terbuang binasa dengan tubuh dosanya dari “taman Eden,” gambaran hadirat Allah. Bersama Kristus (yang pertama bangkit) kita akan kembali bisa bersekutu dengan Allah setelah dibangkitkan
dengan tubuh mulia (20-22).
- Kebangkitan tubuh orang-orang percaya mempunyai aturan dan urutan tersendiri dalam kedatangan Kristus yang kedua kali (23; bdk. 1Tes. 4:13-18).
- Kemudian tiba saatnya pemulihan segala sesuatu. Musuh yang terakhir ditaklukkan adalah maut (kematian), dan tubuh mulia tidak akan mengalami kematian lagi. Dan seperti semula, ketika Allah menciptakan Adam dalam tubuh untuk bersekutu dengan-Nya dan memuliakan nama-Nya, demikianlah kita nanti akan memuliakan Allah supaya Dia menjadi segalanya dalam segala sesuatu (24-28). Maksud dari kebangkitan tubuh orang percaya adalah supaya Tuhan dipermuliakan oleh manusia dengan tubuh mulianya, seperti rancangan semula yang Tuhan nyatakan dalam penciptaan
Adam. Dalam bagian berikutnya Paulus mengingatkan bahwa jika kita menghilangkan kebenaran tentang kebangkitan tubuh, sesungguhnya kita menolak rencana penyelamatan Allah yang indah, kita akan kehilangan dorongan ilahi untuk menantikan kedatangan Kristus dengan sukacita.

Kebangkitan tubuh di dalam Kristus itulah yang akan memotivasi dan menjadikekuatan bagi kita untuk terus bertahan dalam: 
- Pengharapan kita pada keselamatan saudara-saudara kita yang sudah meninggal, yang akanberjumpa lagi dengan kita dalam tubuh mulia (29).
- Pelayanan, karena kita kelak akan berjumpa dengan orang-orang yang kita layani dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan yang besar (30-32).
- Memelihara kekudusan, karena tubuh yang sekarang ini ada hubungannya dengan tubuh mulia yang akan kita terima kelak (33-34). Tubuh kebangkitan akan membuat kita mampu mengenali pribadi-pribadi yang kita layani ataupun yang kita benci dan sakiti di dunia ini. Karena itu betapa kita harus bersungguhsungguh menjaga kasih, kekudusan dan pelayanan kita hari ini karena itu akan berdampak kekal bersama tubuh mulia kita kelak. Paulus kemudian menguraikan dengan panjang lebar tentang tubuh kebangkitan kita dalam ayat 35-55. Pertama-tama, dengan menggunakan penggambaran tentang benih yang bertumbuh setelah ia jatuh ke tanah dan mati (36-38) Paulus menunjukkan bahwa:
- Tubuh kebangkitan itu kita dapatkan melalui kematian, tetapi kematian dalam iman kepada Kristus. Setiap kematian di dalam iman kepada Kristus pastilah menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Tubuh itu akan berbeda dengan tubuh kita yang sekarang. Ketika Yesus bangkit tubuh-Nya tidak lagi dapat dibatasi oleh ruangan dan waktu. Demikian juga nampaknya tubuh kebangkitan kita kelak akan berbeda dengan yang ada pada kita sekarang.
- Tetapi ada kesinambungan atau hubungan antara tubuh lama dan tubuh baru kita. Tuhan akan memberikan pada tubuh baru itu identitas seperti yang dikehendaki-Nya. Tampaknya maksudnya bukan perubahan bentuk yang total, tetapi Tuhan akan menentukan umur atau dalam kondisi macam apa tubuh kebangkitan kita kelak. Yang pasti kita masih akan saling mengenali dengan tubuh yang baru itu.

Lebih lanjut Paulus mengajarkan bahwa keadaan tubuh kebangkitan yang akan kita
terima nanti adalah sebagai berikut:
- Tubuh itu adalah tubuh sorgawi, seperti yang dipunyai makhluk surgawi (40). Dan karenanya kita juga akan hidup sebagaimana makhluk sorgawi yang tidak kawin dan mengawinkan dan tidak ada lagi hubungan sebagai orang tua dan anak. Dalam tubuh mulia itu kita akan hidup sebagai saudara dalam kemuliaan Tuhan di surga (Mrk. 12:25).
- Tubuh itu tidak dapat binasa dan terbebas dari segala kelemahan fisik (42-43, 50). Tubuh itu bukan dari daging dan darah, berarti disusun dengan materi yang berbeda dengan materi tubuh kita sekarang yang bisa rusak. Bersama dengan lenyapnya maut, kitapun menerima tubuh yang sempurna yang abadi di surga.
- Tubuh itu tubuh rohani, yang berarti dengan tubuh itu kita bisa bersekutu dengan Allah yang adalah Roh. Selama kita masih hidup dalam tubuh alamiah ini kita tidak mungkin dapat bersekutu dengan Allah sekalipun kita sudah menerima anugerah keselamatan dan diperdamaikan dengan-Nya. Tetapi dengan tubuh kebangkitan yang rohani kita akan
menikmati persekutuan dengan Tuhan tanpa terhalang lagi (44-49).
- Bagi yang belum mati sampai kedatangan Kristus yang kedua, tubuh sorgawi itu akan merupakan perubahan dari tubuh duniawi kita yang sekarang. Tubuh surgawi kita akan sangat sempurna untuk dapat mewujudkan persekutuan dengan Allah dan sesama orang percaya. Satu sisi kita akan menerima tubuh yang berbeda secara kualitas dengan yang ada sekarang, tetapi disisi lain kita akan tetap menikmati bentuk kita yang sekarang tetapi yang sudah disempurnakan oleh Allah sendiri menurut kehendak-Nya. Itulah tubuh kita yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya.Paulus menutup semua uraian ini dengan puji-pujian bagi Tuhan dan dorongan kepada orang-orang percaya dengan ayat yang indah ini: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Kor 15:58) Pengharapan Orang-Orang Percaya

Kebenaran Alkitab memberikan kepada kita cara pandang yang baru tentang kematian
dan pengharapan yang sangat indah tentang kebangkitan tubuh:
- Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan dalam hidup dan keselamatan orang percaya adalah untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan bukan sekedar menyelamatkan kita dari kuasa maut dan dosa lalu membawa kita masuk ke sorga, tetapi ia kan memberikan segala sesuatu yang perlu bagi kita untuk bersekutu dengan-Nya dan memuliakan nama-Nya. Ada tubuh mulia bagi kita untuk memuliakan nama-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan membawa dampak dalam kekekalan. Itu berarti tidak akan pernah sia-sia pelayanan, perjuangan dan pengorbanan kita dalam menjaga kekudusan dan menyatakan kasih, karena orang-orang yang kita layani akan bersama kita kembali dalam tubuh yang baru.
- Surga bukanlah suatu tempat yang asing. Di sana kita akan bertemu dengan kekasih-kekasih kita. Kita kan mengenalnya dalam keadaan yang lebih baik daripada di dunia ini karena Tuhan sudah memberikan tubuh yang terbaik, yang sempurna menurut kehendaknya yang sempurna. Saat itulah yang harus selalu kita rindukan dan menjadi motivasi bagi kita untuk melayani dengan gembira, dengan sungguh hati, dengan setia dan dengan berani untuk berkorban
demi kemuliaan nama Tuhan.

MENYIKAPI KEPERCAYAAN REINKARNASI
Dari pembahasan pada dua bagian yang terdahulu dapat kita simpulkan bahwa pandangan dunia dari ajaran reinkarnasi sangat bertolak belakang dengan pandangan Alkitab yang mengajarkan kebangkitan orang mati didalam Kristus. Akibatnya pengharapan akan kehidupan yang akan datangpun sangat berbeda. Pandangan dunia penganut reinkarnasi adalah humanisme kosmik, dimana manusia adalah pusat dari alam semesta dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah bersatu dengan alam. Manusia ditinggikan dengan diberi otoritas untuk menentukan kehidupannya sendiri, tetapi sekaligus direndahkan dalam hukum fatalistis kosmik yang mencengkeramnya. Pengharapan para penganutnya hanyalah adanya “kesempatan” untuk menjadi lebih baik di tengah ketidakberdayaan melawan hukum karma yang fatalistis. Sebaliknya pandangan Alkitab adalah teistis, dimana Allah yang menjadi fokus utama dalam segala ciptaan-Nya. Manusia ditawan dalam ketaatan pada hukum kasih, tetapi disisi lain ia dibebaskan dari fatalisme hukum kosmik untuk suatu maksud yang lebih mulia: memuliakan Tuhan. Pengharapan orang percaya: persekutuan dengan Tuhan di surga yang pasti sudah disediakan di dalam Kristus Yesus yang sudah mematahkan kuasa dosa dan maut. Orang percaya yang harus membawa kabar baik ke dalam dunia yang dikuasai dosa ini, maka keadaan yang menyedihkan dari para menganut ajaran reinkarnasi haruslah justru mendorong kita untuk mendekati mereka dan menyelamatkan mereka, seperti kitapun dahulu adalah orang berdosa yang diselamatkan oleh Kristus.

Memahami Paham Dunia dan Kuasa Kegelapan yang Ada di Balik Ajaran Reinkarnasi
Langkah pertama adalah menyadari bahwa dibalik ajaran reinkarnasi dan pandangan dunia humanisme kosmiknya terdapat kuasa si jahat yang sedang bekerja. Memperhatikan pandangan dunia yang mengedepankan manusia untuk menjadi tuan atas dirinya sendiri seharusnya mengingatkan kita pada kisah kejatuhan manusia di taman Eden (Kej. 3:1-7). Bukankah itu strategi kuasa kegelapan untuk menghancurkan hubungan manusia dengan Tuhan?
Sesungguhnya startegi dasar itu tidak pernah berubah. Dalam ajaran reinkarnasi kita juga menemukan prinsip bahwa sesungguhnya manusia adalah pelaku utama dalam merajalelanya kuasa kegelapan di bumi ini. Ketika manusia menolak
campur tangan Allah dan lebih mempercayai dirinya dan hukum alam, maka muncullah kekacauan dan kuasa kegelapan dengan leluasa bekerja ditengah-tengahnya. Di tengah-tengah para penganut reinkarnasi kita dapat menemukan praktek-praktek mistis, seperti semadi, yoga, trancendental meditation dan lain-lain yang melibatkan kuasa kosmik dan kuasa kegelapan di dalamnya. Praktek-praktek okultisme sangat biasa dilakukan oleh para guru dan yogis untuk memperkuat pengaruh dan kesaktian mereka. Dan pengalamanpengalama supranatural sangat banyak terjadi dibandingkan di daerah yang masyarakatnya tidak mempercayai ajaran itu. Ajaran reinkarnasi jelas sangat kuat dipengaruhi kuasa kegelapan dan karenanya pasti bertentangan dengan kebenaran Tuhan.

Mencari Titik Temu dalam Pengharapan Keselamatan
Namun harus juga disadari bahwa banyak orang yang terlibat di dalamnya karena tertarik dengan pengharapan palsu yang ditawarkannya, tanpa menyadari kuasa di balik ajaran itu yang akan menyeret mereka dalam kehancuran. Harapan akan keadilan, kesempatan untuk hidup yang lebih baik di kehidupan yangkemudian, sesungguhnya adalah harapan semua orang. Usaha untuk menjawab secara benar harapan dibalik penerimaan terhadap ajaran reinkarnasi haruslah
menjadi perhatian utama orang-orang percaya. Terhadap harapan untuk beroleh keadilan dan kepastian masa depan yang lebih baik itu sesungguhnya Injil mempunyai jawaban yang terbaik. Allahlah yang sesungguhnya sudah
menyelamatkan kita dengan cara yang adil dengan menebus kita dari kuasa dosa yang membelenggu dengan darah Yesus Kristus yang tidak dikuasai dosa (Rom. 8:3-4). Dengan cara penggantian inilah Allah telah merebut kita dari cengkeraman kuasa kegelapan. Demikian juga dengan pengharapan masadepan. Tidak ada seorangpun yang bisa
menjamin masa depan seseorang selain Kristus, Dia Tuhan, yang sudah datang dari masa depan kita untuk menuntun kita ke jalan yang benar. Kristuslah Jalan, melaluinya kita menemukan arah kepada kebahagiaan; Kebenaran, Dia yang mampu menuntun kita untuk tidak tersesat dalam tipuan si jahat; dan Hidup, Dialah jaminan kita untuk tidak berarkhir dalam kebinasaan, sebab Dia sudah mengalahkannya. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa membawa kabar baik dan pengharapan yang sejati ini kepada para penganut reinkarnasi itu. Persahabatan dan ketulusan hati adalah cara
yang terbaik untuk menuntun kita ke sana.

Sumber:
TIKIJO HARDJOWONO. (2004). Reinkarnasi : Pandangan Dunia Yang Melatar Belakanginya
Dan Bagaimana Orang Percaya Menyikapinya 


================================================================

AKHIR SUATU KEHIDUPAN (KEMATIAN)

Jerry H M Sumanti


PENDAHULUAN 

Berbicara mengenai akhir suatu kehidupan atau kematian merupakan hal yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Kematian merupakan satu kehilangan yang sangat besar yang menyebabkan kesedihan dan dukacita. Berbagai cara ditempuh untuk menghindarkan diri dari kematian ini, tetapi pada akhirnya ia datang juga tanpa dapat dielakkan. Mengapa?

Kematian sudah menjadi bagian dari kehidupan ini. Kematian tidaklah bertentangan dengan kehidupan, itu bukanlah lawan dari kehidupan tetapi kematian merupakan peralihan dari hidup ini kepada suatu kehidupan yang lain sebagaimana dipercaya dalam berbagai-bagai agama dan kepercayaan.

Bagi kita, pedoman untuk membicarakan tentang kematian adalah Alkitab yang membicarakan mengenai kehidupan dan kematian.

PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN 


Kematian merupakan bagian dari kehidupan ini. Kenyataan ini tak dapat disangkali. Mengapa ada kematian? Kematian ada karena pemberontakan manusia terhadap Allah. Alkitab menceritakannya. 

Ada tiga macam kematian dijelaskan di dalam Alkitab yaitu: pertama, kematian rohani di mana hubungan manusia dengan Allah putus; kedua, kematian jasmani di mana kehidupan manusia mengalami kutukan dan tubuh akan kembali kepada tanah; dan yang ketiga, kematian kekal atau kematian kedua di mana tubuh, jiwa dan roh akan mengalami hukuman yang kekal dan terpisah dengan Allah selama-lamanya, dialami oleh mereka yang tidak berbalik kepada-Nya (percaya kepada Tuhan Yesus Kristus). 

Kata kematian diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani “tanatos” (bahasa Inggeris, death). Dalam Roma 6:23a Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Baru (TB) kata tersebut diterjemahkan “maut.” Kata kematian ini berarti “perpisahan.” “Upah dosa adalah maut …,” demikian Firman Tuhan melalui Rasul Paulus. Kata “maut” dalam ayat ini mempunyai beberapa pengertian yang berhubungan dengan macam-macam kematian tersebut di atas. 

Pertama, hubungan manusia dengan Allah terputus. Hubungan manusia dengan Allah terputus bemula, ketika Adam dan Hawa melawan perintah Allah yakni ketika mereka memakan buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan, yang menyebabkan mereka mengalami kematian. Perhatikan ceritanya dalam kitab Kejadian pasal ketiga. Akibatnya Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah mereka dan keturunannya, termasuk kita semua yang adalah bagian dari darah dan daging mereka menjadi seteru Allah (Roma 3:23; 5:10). Adam dan Hawa menjadi takut bertemu dengan Tuhan, karena gambar dan rupa Allah dalam diri mereka telah rusak oleh kerena pelanggaran ini. Dosa menjadi pemisah antara Allah dengan manusia (Yesaya 59:2). Dengan demikian manusia terpisah dengan Allah dan menjadi musuh Allah (Roma 8:7-8; 1 Timotius 5:6), mati secara rohani dan jauh dari persekutuan dengan Allah (Efesus 2:1; Efesus 2:3, 3; Roma 5:12; Efesus 4:18; I Korintus 2:11). 

Keterpisahan ini hanya dapat dipulihkan melalui Tuhan Yesus Kristus yang adalah pengantara antara Allah dengan manusia. Manakalah manusia mau menerima uluran tangan kasih Allah ini, maka hubungannya dengan Allah dipulihkan (I Timotius 2:5; Efesus 2:16). 

Ketelanjangan Adam dan Hawa sebagaimana telah dikatakan di atas tidak mungkin terselubungi seandainya mereka tidak mau menyambut dan mengenakan pakaian kulit binatang buatan Allah. Pakaian mana merupakan simbol atau bayangan Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang mengangkut dosa manusia (Yohanes 1:29). 

Dosa manusia tidak mungkin diangkut dan dihapus bersih jikalau manusia tidak mau percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan penebus dosanya. Manusia akan tetap dikuasai dosa yang membawa maut, tak mungkin keterpisahan dengan Allah dipulihkan. 

Kedua, kehidupan manusia di dunia ini terkutuk. Perhatikan kembali kitab Kejadian pasal ketiga. Apa yang terjadi terhadap manusia pertama Adam dan Hawa? Kejatuhan manusia yang petama ke dalam dosa mengakibatkan seluruh umat manusia mengalami berbagai macam gangguan dan kelemahan jasmani maupun rohani. Manusia mengalami ketakutan (Kejadian 3:10); Antasa sesama saling menuduh dan mempersalahkan (Kejadian 3:14-15); Wanita mengalami penderitaan sakit bersalin (Kejadian 3:16); Kaum lelaki bersusah payah mencari rezeki di antara semak duri (Kejadian 3:17-19). 

Ketiga, manusia mengalami kematian jasmani. Kematian jasmani juga merupakan bagian dari hukuman Tuhan bagi manusia sejak Adam dan Hawa menyimpang dari jalan Tuhan. Buktinya dalam kehidupan sehari-hari kita temukan, lihat dan dengar bahwa ada orang-orang yang mati. Bahkan Alkitab sendiri berbicara tentang kehidupan dan kematian. Ada yang lahir, hidup dan ada yang mati (Kejadian pasal lima; Pengkhotbah 3:2). Allah berfirman, “… sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil …” (Kejadian 3:19). Dari tanah kembali ke tanah, itulah kematian jasmani. Penulis Ibrani mengatakan bahwa manusia telah ditentukan satu kali akan mengalami kematian dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27). Tak dapat disangkali baik mereka yang sudah percaya dan yang belum percaya, kematian jasmani merupakan bagian dari hidup ini (namun Alkitab juga menjelaskan bahwa ada orang yang tidak akan mengalaminya karena Tuhan Yesus Kristus datang di angkasa mengangkat orang percaya, yang telah mati dibangkitkan, diubahkan bersama dengan orang percaya yang masih hidup diangkat ke surga (I Korintus 15:51, 1 Tesalonika 4:13-18). 

Kehidupan manusia dibatasi oleh umur. Umur manusia yang paling panjang yang diceritakan Alkitab adalah Metusalah. Ia mencapai umur 969 tahun, tetapi pada akhirnya mati juga. Demikian juga Adam sebagai manusia pertama, ia hanya mencapai umur 963 tahun kemudian itu ia mati. Pada zaman Nuh, Allah membatasi umur manusia hanya sampai 120 tahun. Dan dalam Kitab Mazmur, Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia hanya sampai 70 tahun atau 80 tahun saja (Mazmur 90:10). Kematian jasmani merupakan bagian dari hidup ini tetapi kematian jasmani ini bukanlah akhir daripada kehidupan. 

Kematian merupakan peralihan kepada kehidupan yang lain. Di balik kematian ini masih ada kehidupan yang lain, kehidupan yang kekal abadi. Bagi yang percaya kematian merupakan peralihan kepada pengharapan yang pasti hidup kekal di dalam Kerajaan Allah, sedangkan bagi yang tidak percaya tersedia kehidupan yang kekal di dalam lautan api, kematian yang kedua. 

Kematian adalah bagian dari hukuman dan upah dosa (Kejadian 2:17; Yehezkiel 18:4); kematian adalah perpisahan tubuh dengan jiwa dan roh (Yakobus 2:26); kematian adalah pembongkaran dan penanggalan kemah (tubuh) (II Korintus 5:1; II Petrus 1:13-14); pemazmur melukiskan kematian sebagai turun ke tempat yang sunyi (Mazmur 115:17). 

Keempat, Kematian kekal, kematian kedua. Kematian kekal atau kematian kedua adalah penghukuman yang kekal yakni kehidupan yang terpisah untuk selama-lamanya dengan Tuhan. Upah dosa adalah maut. Pasti upahnya akan diperoleh apabila tidak berbalik ke jalan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Maut dan Kerajaan maut akan dicampakkan ke dalam lautan api, itulah kematian kedua, lautan api” (Wahyu 20:14). Kematian kedua adalah kehidupan dan penghukuman yang kekal di dalam neraka, lautan api. Setiap orang yang nama-namanya tidak terdaftar di dalam kitab kehidupan akan mengalami hukuman kekal ini (Yohanes 3:36; Wahyu 20:15) 


PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABIAH TENTANG KEMATIAN DAN JAWABAN TERHADAP PANDANGAN TERSEBUT. 

Di atas telah dijelaskan bahwa kematian adalah bagian daripada kehidupan ini sebagaimana diajarkan Alkitab Ada kematian rohani, kematian jasmani, dan kematian kekal. Berikut ini pandangan-pandangan tidak Alkitabiah tentang kematian dan jawaban terhadap pandangan-pandangan tersebut.

A. PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABIAH TEBTANG KEMATIAN.[1]

Pertama, Pandangan bahwa kematian merupakan tidurnya jiwa. Pandangan ini merupakan pengajaran Advent Hari Ketujuh. Mereka berpegang pada ajaran ini dengan mendasarkan pada beberapa ayat Alkitab yang seakan-akan mengesankan bahwa kematian itu adalah tidur (Yohanes 11:11-13; Daniel 12:2; I Tesalonika 4:13, 14). 

Kedua, Pandangan bahwa kematian merupakan hilangnya jiwa. Pandangan ini dianut oleh Dr. E.W Bullinger. Ia mengajarkan bahwa pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah memberikan nafas kehidupan sehingga manusia menjadi jiwa yang hidup. Manusia bukan mempunyai jiwa, tetapi manusia itu sendiri adalah jiwa. Keberadaan jiwa tergantung dari manusia itu bernafas. Ketika manusia itu mati maka jiwanya juga mati, hilang tanpa keberadaan. Pandangan yang sama juga diajarkan oleh Charles Taze Russell dan merupakan pokok pengajaran Russellisme dan gerakan Saksi-saksi Yehowa yang mengajarkan bahwa manusia adalah jiwa, bukan mempunyai jiwa; kematian berarti pemusnahan, total tanpa keberadaan. 

Karena menurut Saksi-saksi Yehowa kematian itu adalah pemusnahan sehingga mereka menolak tentang adanya tempat penghukuman sementara Sheol atau Hades dan Gehenna sebagai lautan api tempat penghukuman kekal. Menurut gerakan Saksi-saksi Yehowa bahwa Sheol atau Hades dan Gehenna bukanlah tempat penghukuman. Sheol atau Hades adalah kuburan di mana orang-orang mati ditempatkan, sedangkan Gehenna adalah lambang pemusnahan total bagi orang-orang jahat.[2]

Gerakan Saksi-saksi Yehowa ini mengajarkan pula bahwa ajaran tentang neraka tidak dapat dibenarkan karena sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab; tidak masuk akal; bertentangan dengan kasih Allah dan bertentangan dengan keadilan.[3] Sheol atau Hades berarti tempat kuburan umum manusia, yakni keadaan di mana manusia yang baik maupun yang jahat, pergi dan beristirahat,[4] bukanlah tempat penderitaan yang panas.[5]

Ketiga, Pandangan Mery Baker Eddy (Christian Science). Mrs. Mery Baker Eddy mendefinisikan kematian sebagai suatu khayalan, soal tipuan hidup, tidak nyata dan tidak benar; lawan daripada hidup. Pandangan ini tidak mempunyai landasan Alkitab apapun, bahkan merupakan penyangkalan terhadap kenyataan dosa dan upahnya yaitu maut (mati) yang diajarkan Alkitab. 

Keempat, Pandangan yang dianut oleh Swedenborg. Emanuel Swedenborg adalah seorang mistik Swedia dan seorang ahli filsafat dan pendiri Gereja Yerusalem Baru pada tahun 1783, menganut pandangan khusus tentang keadaan jasmani manusia. Ia percaya bahwa manusia mempunyai dua tubuh, tubuh luar dan tubuh dalam, tubuh jasmaniah dan tubuh batiniah. Pada kematian, ia berpendapat bahwa tubuh jasmaniah, tubuh luar kembali ke tanah dan tak pernah akan dibangkitkan. Sedangkan tubuh batiniah, tubuh dalam akan disatukan dengan jiwa dan berpindah ke dunia lain. 

B. JAWABAN TERHADAP PANDANGAN-PANDANGAN TIDAK ALKITABAH TENTANG KEMATIAN TERSEBUT DI ATAS.[6]

Kita dapat memahami dengan jelas bahwa kematian bukanlah tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan berdasarkan apa yang dijelaskan di dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dengan sangat jelas mengajarkan bahwa kematian rohani adalah berbicara tentang kematian dalam kesalahan dan dosa-dosa dan bukanlah tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan. Kedua, kematian tubuh tidaklah mengakibatkan kematian jiwa. Hal ini nyata dalam perkataan Kristus yang membedakan tentang kematian tubuh dan jiwa. Kristus berkata, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang dapat membunuh jiwa” (Matius 10:28). Ketiga, Cerita tentang orang kaya dan Lazarus dalam Lukas 16:19-31 membuktikan bahwa mereka yang telah mati bukan berada dalam keadaan tanpa kesadaran atau tanpa keberadaan. Keempat. Andaikata kematian itu berarti tidak memiliki keberadaan, maka pada waktu itu Tuhan Yesus Kristus tidak memiliki keberadaan ketika tubuh-Nya terbaring di dalam kubur selama tiga hari tiga malam. Kelima, Pernyataan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:8, beralih dari tubuh ini (mati) berarti untuk menetap pada Tuhan dan bukan berhenti dari keberadaan. Keenam, Penampakan Musa dan Elia di atas gunung (Matius 17:3) adalah bukti lebih lanjut bahwa kematian bukanlah tanpa keberadaan atau tanpa kesadaran. Ketujuh, Petrus mengatakan bahwa mereka yang tidak taat pada zaman Nuh sekarang berada sebagai roh-roh dalam penjara dalam keberadaan dan kesadaran (1 Petrus 3:18-20)

TEMPAT LANJUTAN ORANG SESUDAH MATI. 

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi kematian adalah perpisahan tubuh dengan jiwa dan roh. Kematian adalah peralihan kepada kehidupan yang lain yaitu kehidupan yang kekal. Ke mana dan di mana? Ada tempat-tempat yang tersedia sebagai tempat lanjutan orang-orang untuk hidup sesudah mati, baik orang yang percaya maupun yang tidak percaya. Tempat-tempat tersebut diuraikan berikut ini berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. 

A. LANGIT (HEAVEN)[7]

Alkitab mengajarkan baha langit ini terdiri dari tiga langit (2 Korintus 12:2). Kata langit dalam bahasa Inggris Heaven, diterjemahkan dari bahasa Yunani “ouranos,” tepatnya diterjemahkan “langit.” Dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan “surga”. Ketiga langit tersebut adalah sebagai berikut, 

Pertama, Langit Atmosfir di mana burung-burung beterbangan (Yeremia 4:25; Matius 6:26; Matius 8:20). Kedua, Langit tempat bintang-bintang (Kejadian 22:17; Matius 24:29). Ketiga, Langit yang ketiga adalah surga tempat kediaman Allah (1 Raja-raja 8:27.30). Inilah langit ketiga (third Heaven) yang disaksikan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 12:2 atau Firdaus (Paradise) dalam 2 Korintus 12:4. Apakah manusia pada waktu mati langsung pergi ke surga, tidak ada pernyataan langsung tentang hal itu. Tetapi ada beberapa fakta yang disebut dalam Alkitab yang menyatakan, bahwa manusia (yang percaya) langsung pergi ke surga pada waktu mati yaitu melalui apa yang disampaikan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:8 tentang beralih dari tubuh ini supaya berada bersama-sama dengan Tuhan; dan penglihatan Yohanes akan jiwa-jiwa mereka yang dibunuh karena Firman Allah berada di takhta Allah dan jumlah yang sangat besar manusia keluar dari masa sengsara besar, berada di tahta Allah (Wahyu 6:9-10; Wahyu 7:9-11, 14); Stefanus sebelum ia mati dirajam dengan batu, melihat langit terbuka dan Tuhan Yesus Kristus berdiri di sebelah kanan Allah (Kisah 7:55-60). 

B. FIRDAUS (PARADISE). 

Kata Firdaus dalam bahasa Inggris Paradise, diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani “paradeisos.” Kata ini mula-mula digunakan oleh ahli sejarah Xenophon, yang melukiskan tentang taman Raja-raja dan bangsawan Persia. Kata ini berasal dari kata dalam bahasa Persia (Old Pers., Pairidaeza, sama dengan bahasa Yunani, Peri – Around – keliling, Teichos – a wall – tembok). Kata ini digunakan dalam Alkitab terjemahan Septuaginta sebagai, Taman Raja-raja (Nehemia 2:8; Penghotbah 2:5; Kidung Agung 4:13); Taman Eden (Kejadian 2:8); Taman ditepi sungai (Bilangan 24:6); Taman Dewa-dewa (Yeremia 29:5); Taman Eden, taman Allah (Yehezkiel 31:8-9).[8]

Dalam Perjanjian Baru kata Firdaus ini hanya disebut tiga kali. Yang pertama terdapat dalam Lukas 23:43 di mana Tuhan Yesus Kristus memberitahukan kepada seorang penjahat, bahwa hari ini juga ia bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus di dalam Firdaus. Kedua melalui pernyataan Paulus dalam 2 Korintus 12:4 tentang seseorang yang terangkat ke Firdaus. Yang ketiga dalam Wahyu 2:7, di taman Firdaus Allah.[9]

Paulus dalam 2 Korintus 12:2-4 melukiskan Firdaus itu sebagai “langit yang ketiga.” Langit ketiga adalah tempat kediaman Allah (lihat tentang “langit”). Firdaus bukanlah bagian dari alam maut, karena alam maut dalam kitab Wahyu dikatakan akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:14). Kalau Firdaus adalah bagian dari alam maut berarti Firdaus itu akan dicampakkan ke dalam lautan api. 

Pernyataan dalam Efesus 4:8-9 tentang Tuhan Yesus Kristus turun ke bagian bumi yang paling bawah, yang dipercayai sebagai turun ke dalam alam maut (tempat penghukuman sementara bagi orang-orang yang tidak percaya – lihat Sheol/Hades), di mana orang kaya berada sebagaimana diceritakan dalam Lukas 16:22-24, dan disebut penjara dalam 1 Petrus 3:19-20. Tujuan Ia turun ke sana adalah untuk memproklamasikan kuasa Injil yang menyelamatkan (Roma 1:16-17), dan membawa tawanan-tawanan keluar dari sana. Tawanan-tawanan yang dimaksudkan bukan orang-orang yang sudah mati dan berada di sana, tetapi Tuhan Yesus Kristus sendiri menjadi tawanan ganti kita (Yesaya 53) dan membebaskan kita sebagai orang-orang tertawan (yaitu kita yang percaya). Orang yang percaya tidak akan merasakan tempat ini lagi karena Tuhan Yesus Kristus sudah menanggungnya bagi kita (Yohanes 4:24). Ia naik (ke luar dari sana) ke tempat tinggi menyatakan suatu kemenangan (Kisah 2:24-28) dan menjadi bukti bahwa maut sudah dikalahkan (1 Korintus 15:54-58). 

C. SHEOL /HADES. 

Sheol adalah kata dalam bahasa Ibrani (PL)(Ulangan 32:22; Mazmur 139:8; Yesaya 14:9; Mazmur 16:10) yang sinomim dengan kata Hades dalam bahasa Yunani (PB)(Lukas 16:23; Matius 16:18; Kisah 2:27), yang mempunyai pengertian sebagai “suatu tempat jiwa orang mati,”[10] “dunia yang suram dan tempat penahanan.”[11] Sheol diterjemahkan “neraka,” “kuburan,” dan “lubang,” sedangkan Hades diterjemahkan “neraka.” dan “kuburan.”[12]

Perkataan Sheol dipergunakan dalam Alkitab (PL) sebanyal 65 kali dan selalu menunjukkan tempat jiwa orang mati. Kata ini tidaklah tepat diterjemahkan sebagai “kuburan.” Dalam bahasa Ibrani kata untuk kuburan adalah “Qeber” dan bahasa Yunaninya “mnemeion.” Sheol tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak, sama halnya dengan Hades. Tetapi kata Qeber terdapat 27 kali dalam bentuk jamak “Qeberim,” juga bentuk jamaknya mnemeion adalah “mnemeia.” Dengan demikian Sheol atau Hades itu hanya menunjukkan satu tempat saja yaitu “tempat jiwa orang-orang mati,” sedangkan Qeber maupun mnemeion menunjukkan banyak tempat. Kuburan itu adalah milik orang-orang yang berbeda/tertentu (Bilangan 19:16; 2 Samuel 3:32; 1 Raja-raja 13:30; 2 Tawarikh 34:28; Yeremia 8:1). Sheol dan Hades tidak pernah dikatakan sebagai milik dari seseorang tertentu. Kuburan adalah untuk tubuh, sedangkan sheol atau Hades adalah untuk jiwa (roh). Qeber atau mnemeion dipergunakan untuk menunjukkan tempat di mana mayat ditempatkan (1 Raja-raja 13:22; 2 Raja-raja 13:21; Mazmur 88:6; Yeremia 26:23). Sheol atau Hades tidak pernah dipergunakan dalam hubungannya dengan tubuh, tetapi hanya dikaitkan dengan jiwa dan roh manusia.[13]

D. BOTTOMLES PIT, ABYSS (JURANG MAUT). 

Kata Ibraninya “Abaddon” biasanya diterjemahkan dengan “kebinasaan,”[14] lobang (pit)[15](Bilangan 16:33; Mazmur 30:9). Kata ini dalam Perjanjian Lama tampaknya sama artinya dengan kuburan dan Sheol,[16] dan sama artinya dengan :Abussos” dalam Perjanjian Baru (Yunani) yang diterjemahkan lubang atau jurang maut ) Lukas 8:312; Wahyu 9:1-2; 11:7; 17:8; 20:1).[17] Kitab Wahyu menyebutkan sebanyak sembilan kali tentang jurang maut (Bottomless Pit atau Abyss) ini.[18] Kata lain yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah “Tartaro,” yang melukiskan tentang sebuah penjara di mana malaekat-malaekat yang tidak taat, roh-roh setan dan roh-roh najis ditawan sampai pada hari penghukuman terakhir (2 Petrus 2:4; Yudas 6). 

Pada masa sengsara besar beberapa dari mereka akan dilepaskan, menentang Kristus dan kerajaan Allah dan menganiaya orang-orang percaya pada masa itu (Wahyu 9:1-21; 11:7; 17:8), namun akhirnya mereka dikalahkan dan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 19:20). Sedangkan Iblis atau Setan akan dibelenggu dalam jurang maut ini selama seribu tahun, sesudah itu dilepaskan sedikit waktu lamanya, lalu dihalau ke dalam lautan api untuk selama-lamanya (Wahyu 20:1-3). 

E. GEHENNA, LAKE OF FIRE (LAUTAN API). 

Gehenna, kata yang tepat diterjemahkan “neraka”[19] atau lautan api. Ini merupakan tempat yang nyata dan tempat penghukuman kekal yang dikatakan dalam Alkitab. Itu dipersiapkan untuk Iblis dan malaekat-malaekatnya (Matius 25:41). Gehena bukan sebagai tempat penghukuman sementara tetapi merupakan tempat penghukuman kekal.[20]

Gehenna adalah kata dalam bahasa Yunani yang menggambarkan kata Ibrani Ge Hinnom atau Lembah Tofet[21] (Yeremia 7:31-32). Ge Hinnom ini sama artinya dengan api neraka (Gehenna berapi)[22] (Matius 5:22; matius 5:29-30; 10:28; 23:14, 25, 33). Ge Hinnom (dalam Alkitab Terjemahan Baru bahasa Indonesia “Lembah Ben Hinom”) adalah sebuah lembah yang dalam dan sempit di sebelah selatan Yerusalem, di mana sesudah permulaan penyembahan terhadap dewa api oleh Ahaz, orang-orang Yahudi menyembah berhala dan mengorbankan anak-anak mereka bagi dewa Molokh (Yeremia 7:31-32; Yosua 15:8; 18:16; 1 Raja-raja 11:7; 2 Raja-raja 16:3-4; 2 Tawarikh 28:3; 33:6). Pada zaman Yosia, tempat ini dimusnahkan dan diubah menjadi tempat pembuangan kotoran dan penghukuman, di mana mayat-mayat para penjahat dan bangkai-bangkai binatang dibinasakan. 

Jadi Lembah Ben Hinom atau Tofet dengan apinya yang tidak pernah padam itu dipakai sebagai simbol yang menunjukkan “api neraka,” kematian kedua. 

TAMBAHAN TEMPAT SEMENTARA ORANG-ORANG SESUDAH MATI MENURUT AJARAN ROMA KATOLIK.[23]

Di atas telah diuraikan tentang lima tempat sementara serta tempat lanjutan kehidupan sesudah mati yang disebutkan dalam Alkitab. Berikut ini ada tiga tempat yang ganjil sebagai tempat sementara orang mati menurut pengajaran Roma Katolik. 

A. LIMBUS PATRUM. 

Kata limbo atau limbus, artinya tebing atau tepi (edge). Ini melukiskan sebuah tempat pada tepi atau batas neraka. Roma Katolik mengajarkan bahwa bapa-bapa leluhur pergi ke Limbus Patrum ini menunggu kedatangan Messias untuk menyelamatkan mereka. Menurut ajaran ini Kristus menyelamatkan mereka dari tempat itu dan membawa mereka ke sorga. 

B. LIMBUS INFANTUM. 

Limbus Infantum ini menurut ajaran Roma Katolik adalah sebuah tempat untuk semua bayi yang mati sebelum dibaptis. Karena Roma Katolik mengajarkan pentingnya baptisan untuk keselamatan, bayi-bayi yang tidak dibaptis tidak dapat diselamatkan. Dosa asal (bawaan) menutupi bayi-bayi untuk selama-lamanya dari surga dan dari penglihatan Allah, tetapi karena mereka belum mempunyai dosa secara pribadi yang menyebabkan mereka menderita maka mereka dibebaskan dari api neraka. 

C. PURGATORY. 

Purgatory adalah sebutan bagi tempat “pembersihan” atau “penyucian”. Itu merupakan dugaan sebuah tempat di mana jiwa-jiwa menyesal, melalui pelayanan penderitaan, penyucian dari dosa-dosa yang dapat diampuni dan tempat penghukuman sementara bagi pengampunan dosa-dosa yang berat sebelum mereka dapat diakui pada hadirat Tuhan. Pengajaran tentang Purgatory adalah keharusan bagi penganut ajaran Roma Katolik. Mereka percaya bahwa pengampunan Allah melalui pekerjaan Kristus hanya menutupi hukuman kematian kekal. Orang-orang Kristen harus bertanggungjawab terhadap semua dosa yang diperbuat sesudah dibaptiskan. Pertanggungjawaban dapat dilakukan melalui penebusan dosa dan perbuatan baik dalam hidup ini, dan jika tidak lengkap dalam hidup ini, hal itu harus diselesaikan melalui penderitaan dalam api purgatory sesudah mati. Penderitaan dalam purgatory boleh dikurangi atau diperpendek melalui doa-doa orang-orang kudus, dan terutama oleh pengorbanan misa. Misa adalah pengorbanan pendamaian untuk jaminan pengampunan dosa dan diterapkan menurut maksud Paus. Oleh karena itu Misa dapat dikata adalah untuk kebaikan jiwa dalam purgatory. 

Apakah dasar pengajaran purgatory? Pengajaran purgatory sesungguhnya bukanlah berasal dari Alkitab. Ajaran purgatory didasarkan pada tradisi yang disejajarkan dengan Alkitab. Pengajaran purgatory oleh Roma Katolik ini didasarkan pada tradisi bangsa Yahudi yang mempersembahkan korban dan doa-doa bagi orang-orang mati supaya bangkit dari kematian (band. 2 Makabe 12:43). 

Roma Katolik berpandangan bahwa Alkitab mendukung ajaran tentang purgatory dengan mengutip Matius 5:25-26 dan 1 Korintus 3:12-15, di mana dalam ayat-ayat tersebut dikatakan keluar dari “penjara” dan dari “api.” Namun perlu diperhatikan bahwa ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan api penyucian untuk keselamatan. 1 Korintus 3:12-15 merupakan pengujian dan pemberian upah bagi setiap orang percaya kepada Kristus sesuai dengan perbuatan masing-masing, dan bukan sebagai pembebasan dari penghukuman sementara. Ini terjadi bukan di purgatory tetapi di angkasa pada Kursi Pengadilan Kristus (Bema). 

Pengajaran purgatory bukan hanya tidak diajarkan Alkitab, tetapi itu sama sekali bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Satu-satunya penyucian manusia dari dosa adalah melalui kematian Yesus di kayu salib (Ibrani 1:3; 10:10-14). Paulus menjelaskan dalam surat-suratnya bahwa keselamatan tak dapat diperoleh dengan usaha apapun (Roma 3:24; 4:1-8; 5:1, 19; 8:1, 33, 34; 11:6; 1 Korintus 5:8; Galatia 3:21; Efesus 2:8-9). Kalau benar pengajaran purgatory bahwa pengampunan dosa dapat dibayar/ditebus dengan dan melalui persembahan/uang maka orang kayalah yang mempunyai banyak kesempatan untuk pergi ke surga daripada orang-orang miskin. Penulis Lukas menceritakan tentang kisah orang kaya dan Lazarus dan perbedaan tempat lanjutan orang sesudah mati. Lazarus di Firdaus sedangkan orang kaya di alam maut. Orang kaya dalam kisah tersebut tidak diberikan kesempatan apapun untuk keluar dari sana, sebaliknya ia berdoa bagi orang-orang/saudara-saudaranya yang masih hidup agar tidak akan pergi ke tempat tersebut. 

Petrus mengatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun baik itu uang, perak dan emas maupun usaha yang dapat membebaskan manusia dari penghukuman selain dari penebusan oleh darah Kristus (1 Petrus 1:18; 19). Kita yang sudah menerima penebusan oleh darah Kristus, sudah dibebaskan dari penghukuman maut (Roma 8:1) dan sudah berpindah dari maut kepada hidup (Yohanes 5:24). Hal itu terjadi sekali untuk selama-lamanya sebagaimana diajarkan Alkitab (Ibrani 10:10-14).


PENUTUP, KRISTUS DAN KEMATIAN. 

Kristus Yesus datang ke dalam dunia ini dilahirkan sebagai seorang manusia (Filipi 2:1-11). Sebagai manusia Ia mengalami kematian, karena kematian sudah menjadi bagian dari hidup manusia sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Manusia diciptakan Allah untuk hidup tetapi dosa merusak hidup ini. Kematian adalah merupakan akibat daripada dosa (Roma 6:23a). 

Kristus sebagai manusia mengalami kematian ini, tetapi harus diingat bahwa Kristus mengalami kematian bukanlah karena Ia berdosa. Tidak, Kristus mati bukan karena Ia berdosa, tetapi kematian-Nya adalah untuk menebus dan mengangkut dosa umat manusia (Yohanes 1:29, 36; 1 Korintus 15:3; 1 Timotius 2:6; 1 Petrus 1:18). Ia mati untuk menggantikan dan menyelamatkan kita orang berdosa (Ibrani 2:9-10; Titus 2:13-14). Ia mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan antara manusia dengan manusia itu sendiri dan antara manusia dengan alam ciptaan-Nya (Kolose 1:22; Roma 3:25; Efesus 2:13-17). Kematian Kristus adalah untuk menanggung maut umat manusia dan membenarkan manusia di hadapan Allah (Roma 6:23b; Yohanes 3:36; 5:24; 1 Petrus 3:18; 2 Korintus 5:21). Kematian Kristus adalah untuk melucuti kekuasaan Setan dan mengalahkan maut (Yohanes 12:31; Kolose 1:13; 2:15; 1 Korintus 15:25-28; 15:55-57). 

Kematian sudah dikalahkan. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi merupakan bagian dari hidup ini. Kematian merupakan perpisahan antara tubuh dengan jiwa dan roh. Kematian merupakan peralihan dari kehidupan yang fana kepada kehidupan yang kekal. Ibrani 10:27 membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan, tetapi di balik kematian masih ada kehidupan yang lain. Juga kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang diceritakan oleh penulis Lukas (Lukas 16:19-31) menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir daripada kehidupan ini. Kristus telah mengalahkan maut untuk kita.


======================================================================

Kesadaran Jiwa Setelah Mati

Apakah jiwa sadar setelah mati? Ini bukan pertanyaan barui. Selama berabad-abad beberapa orang beragama berpendapat bahwa jiwa tetap ada setelah mati tapi tidak sadar. Setelah menyelidiki, sebagian dari anda mungkin terkejut mengetahui begitu banyak yang percaya akan tertidurnya jiwa. Karena ketertarikan dunia akan kematian, sekte sesat memangsa masyarakat, mengklaim memiliki pengetahuan penuh akan hal ini, Kelompok seperti itu adalah Saksi Yehova, spirtualis dan yang menyebarkan kesimpulan canggih bahwa kematian membuat tubuh kembali kedebu dan jiwa jadi tidak sadar.

Pernyataan seperti itu menyimpang dari Alkitab tentang jiwa setelah kematian. “Saat kematian, bukan tubuh tapi jiwa yang mati.” “Sementara dari kematian sampai jiwa dibangkitkan dari ketidaksadarannya.” “Bahkan rasul tidak sadar selama berabad-abad.” Pernyataan seperti diatas dibuat oleh pengajar seperti Russell dan Rutherford, tapi ini pendapat manusia, menipu Alkitab. Pemikiran ini dibaca dari Alkitab, tapi tidak pernah ada dalam inspirasi penulis.
Manusia Diciptakan Untuk Ada Selamanya

Setiap manusia masuk kedunia dengan keberadaan yang tiada akhir. Benar bahwa saat mati jiwa terpisah dari tubuh. Ini tidak konsisten dengan pengajaran Alkitab yang mengatakan bahwa saat mati jiwa jatuh kedalam ketidaksadaran atau ketidur yang dalam. Jika melihat sekilas, kelihatannya Alkitab mengajarkan hal ini, maka kita baik meneliti bagian dimana kematian disebut sebagai tertidur. Beberapa teks telah dibohongi oleh para sarjana yang mengambilnya keluar dari konteks untuk membuktikan bahwa kematian fisik merupakan peristirahatan semua kesadaran dan agar bisa dijelaskan dengan bagian lain tentang subjek ini.

Dalam Pengkhotbah kita membaca “orang yang mati tak tahu apa-apa” (Ecclesiastes 9:5). Kita semua setuju kalau orang mati dan tubuh yang hancur sama sekali tidak punya kesadaran masa lalu, sekarang, atau masa depan. Tapi apakah pengajar “jiwa tertidur” dibenarkan menggunakan ayat diatas sebagai bukti keadaan jiwa yang taksadar setelah kematian? Kami percaya bahwa metode menggunakan suatu teks untuk mendukung teori yang salah ditolak dalam Alkitab, membuktikan bahwa mereka yang melakukan itu tidak jujur. Mereka yang mengajar “jiwa tertidur” sulit untuk menyatukan pandangan mereka dengan pernyataan yang dibuat penulis yang sama dalam Pengkhotbah:

dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (Ecclesiastes 12:7).

Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu (Ecclesiastes 3:20).

Now we know that this verse is speaking of the body, for in the next verse we read:

Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi ? (Ecclesiastes 3:21).
Hanya Tubuh Manusia yang Mati (atau tertidur)

Dalam Alkitab kita membaca bahwa manusia tertidur, tapi tidur selalu diidentikan dengan tubuh. Tidak satu kalipun Alkitab mengatakan jiwa tertidur. Inilah bahayanya mengidentifikasi manusia hanya dengan tubuhnya dan mengabaikan kenyataan bagian lain. Manusia terdiri dari 3 bagian; tubuh, jiwa dan roh. Jadi tubuh sendiri bukan keseluruhan manusia. Maka dari itu tidak bisa disimpulkan bahwa kematian tubuh adalah kematian keseluruhan manusia.

Salah satu ayat yang disalah mengerti ada dalam kitab Daniel:

Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal (Daniel 12:2).

Sebagian sarjana mempertanyakan apakah ayat ini berkaitan dengan kebangkitan fisik. Dr. A. C. Gaebelein dalam tafsiran Daniel berkata bahwa jika kebangkitan fisik diajarkan dalam ayat ini, bagian ini akan berbenturan dengan pernyataan kebangkitan dalam PB, karena tidak ada kebangkitan umum bagi yang benar dan salah secara bersamaan. “Kami mengulangi bahwa bagian ini tidak ada hubungannya dengan kebangkitan fisik. Kebangkitan fisik digunakan sebagai figure kebangkitan bangsa Israel saat itu. Mereka tertidur secara nasional dalam debu dunia, dikubur diantara non-Yahudi. Tapi disaat yang sama terjadi pemulihan nasional, menyatukan kembali Yudah dan Israel.

Itu figure yang sama yang digunakan dalam penglihatan tulang kering dalam Ezekiel 37. Penglihatan ini dibuat oleh dua orang yang mengembangkan teori kesempatan kedua dan harapan yang lebih besar bagi orang mati dalam ketidakpercayaan untuk mendukung pengajaran jahat mereka; tapi setiap orang bisa melihat kalau bukan kebangkitan tubuh, tapi kebangkitan bangsa dan pemulihan bangsa. Kuburan nasional mereka, bukan secara literal, akan terbuka dan Tuhan akan mengembalikan mereka dari seluruh bangsa dimana mereka tersebar. Perbedaan yang sama juga terdapat dalam hal yang sudah kita bahas. Orang Yahudi yang banyak, yang membuang kepercayaan dalam Tuhan dan FirmanNya, yang menerima dosa manusia dan mengakui raja yang jahat, akan menghadapi kehinaan kekal, tapi yang sisanya akan memiliki semua yang dijanjikan kepada mereka dan menjadi pewaris Kerajaan itu, yang sudah disiapkan dari dunia diciptakan. Dan selain berkat nasional yang mereka terima, mereka akan menerima kehidupan kekal, karena mereka dilahirkan kembali.” Kita sudah mengutip sangat panjang agar pembaca tidak terlibat dengan pandangan ini.

Bagaimanapun, jika tafsiran kedua ayat diatas tidak benar, tapi kebangkitan tubuh yang dimaksud, jelas Daniel tidak menunjuk apapun selain kebangkitan tubuh..
Perjanjian Baru Mengajarkan 
Keberadaan Kesadaran Manusia Selamanya

Kutipan beberapa ayat PB bisa menjelaskan bahwa kesadaran manusia itu tidak ada akhir.

dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.(Matthew 27:52).

Please notice how the Holy Spirit says that the “bodies” slept. Jesus said:

Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya . . . Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: Lazarus sudah mati” (John 11:11, 14).

Kematian bagi Tuhan kita tidak lebih dari tidur. Ini merupakan istilah dalam Alkitab, karena tidak ada penghentian kesadaran. Tubuh lazarus yang mati. Tentang tubuhnya sehingga Marta berkata “sudah berbau busuk: karena dia sudah mati 4 hari.” Saat Yesus menjelaskan bahwa Lazarus sudah mati, Dia maksudkan adalah tubuhnya karena Dia menambahkan: “ Aku akan membangunkannya dari tidur,” Dia melakukannya dengan membangkitkan tubuhLazarus dari kematian. Kita membaca dalam ayat 44: “datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” Bagian Lazarus yang mati adalah bagian yang dibungkus yaitu “tangan dan kaki, serta wajahnya.”

Karena jiwa manusia tidak mati, dan jiwa merupakan bagian manusia seperti tubuh, maka kita bisa katakan bahwa yang mati itu hidup. Penulis menjadi yakin bahwa tidak ada penghentian kesadaran manusia saat berpikir tentang kematian manusia. Pikirkan tentang perkataan terakhir Tuhan saat Dia dikayu salib. Dia berkata: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luke 23:46). Hanya beberapa abad lalu, Kristus datang dari Bapa, RohNya berdiam dalam tubuh yang sudah disiapkan Tuhan dalam kandungan perawan. Dia datang untuk memberi hidup dan keabadian melalui InjilNya. Dia datang, bukan untuk membawa keabadian, tapi menyatakannya dan memperlihatkan pada manusia bahwa dia bisa mendapat hidup kekal.

Melalui pemenuhan tugasNya, Dia memenuhi setiap tuntutan hukum Tuhan yang adil. Dia menawarkan hidupNya sebagai ganti dosa, dan pergi dari hidup ini. Yesus tahu bahwa BapaNya melihat, mendengar dengan sungguh-sungguh; jadi dengan yakin Dia bicara kepada Bapa bahwa tugasNya sudah selesai. Disini Kristus mengajarkan keselamatan bagian roh manusia setelah tubuhnya mati. Kematian bagi Yesus hanya merupakan jalan masuk kehadirat Tuhan, bukan kondisi yang tidak sadar. Dia tahu semua tentang hidup dan mati, dan Dia meninggalkan kita dengan kepastian Ilahi bahwa hanya tubuh yang mati. Roh terus ada dalam keadaan sadar.

Satu lagi perkataan Tuhan diatas salib membuktikan bahwa kematian hanya menyentuh bagian fisik manusia. Mari kita pertimbangkan penjahat yang ada disisi Tuhan. Orang ini tidak bergabung mengejek, tapi dia mengakui Kristus dihadapan musuh Roma. Dengan jiwa yang penuh penyesalan dan iman yang sederhana dia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luke 23:42). Dunia tidak pernah lupa perkataan Yesus bagi penjahat yang sekarat itu. Dengan jiwa penjahat mendekati batasan neraka, Juruselamat yang sedang sekarat berkata kepada pendosa ini: “Pada hari ini juga engkau bersamaKu diFirdaus.” Mereka membunuh tubuhnya, tapi Yesus berjanji padanya bahwa tidak ada waktu menunngu atau ketidaksadaran jiwa. Yesus meyakinkan dia sebelum hari H nya tiba, dia tetap hidup dengan Kristus diFirdaus. Perkataan Kristus diatas salib menunjukan bahwa Dia ada dalam kehidupan yang indah setelah yang percaya pergi dari dunia ini. Jika kita menyebut sekarang, maka “sekarang”- bukan periode yang lama - tapi langsung, disaat dia naik kehadapanNya. Kematian tubuh merupakan pintu masuk kepada hidup yang lebih besar dimana jiwa melewatinya.

Tidak ada kelambanan atau ketidaksadaran setelah kematian. Dr. Rimmer menulis: “fenomena tidur hanya untuk daging semata. Jiwa, roh, dan mental tidak pernah tidur, dan itulah kenapa kita bermimpi. Dalam penyelidikan mimpi, ditemukan bahwa seluruh mimpi merupakan hasil pengalaman masa lalu. Pengalaman masa lalu bisa mental atau fisik, tapi semua mimpi membenarkan kejadian lalu. Saat tubuh masuk kedalam keadaan tidur, roh atau jiwa, dimana kesadaran diri ada masuk kedalam pengembaraan yang disebut manusia dengan tidur.” Ada kekuatan hebat dari pikiran saat tubuh tertidur.

Stefanus martir memiliki pendapat kuat akan adanya kesadaran bagian roh manusia. Saat mereka melempari Stefanus dengan batu sampai mati, kita membaca bahwa “dia tertidur.” Ini tidak bisa menunjuk pada jiwa, karena tubuhnya yang dilempari batu. Saat tubuh Stefanus mati, bumi mundur tapi pintu surga mendekat. Dia tahu bahwa dia masuk kedalam lingkungan kehidupan. Dia berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Acts 7:59). Murid Kristus tidak menunda kematian dan melawannya. Pembunuhnya tidak takut. Dia ingat perkataan Yesus: “janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luke 12:4). Kepastian keabadian dan hidup kekal yang memampukan pelayan Kristus untuk menanggung penderitaan, menghadapi semua lawan, dan mati jika mereka dipanggil untuk itu. Hinaan dan ejekan musuh Kristus tidak bisa menipu kita keluar dari hadapan Tuhan dan tempat yang sudah disiapkanNya bagi kita.

Rasul Paulus memberikan gambaran singkat dalam pengalaman diri yang hanya muncul sekali dalam tulisannya.

Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, --entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya-- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia (2 Corinthians 12:1-4).

Dalam satu pengalaman Paulus yang kaya ini terdapat materi berharga untuk pembahasan kita. Pengalaman Paulus begitu pribadi untuk dikatakan. Tidak ada keraguan bahwa Paulus menunjuk itu pada dirinya, walau dia mengatakannya dalam orang ketiga. Empat belas tahun sebelum menulis surat ini, Paulus berkata dia diangkat “kesurga tingkat tiga,” yang juga disebut “Firdaus” Alkitab bicara tentang 3 surga. Ada lingkungan surga dimana burung terbang, surga dimana bintang bersinar, dan surga ketiga disebut Firdaus, dimana Tuhan dan kemuliaannya ada. Kedalam surga tingkat ketigalah kehadapan Tuhan, Paulus dibawa. Jika kita membaca urutan perjalanan Paulus dan pekerjaannya kita menemukan sebelum 14 tahun penulisan surat Korintus ida sedang melayani di Lystra (Acts 14:19). Disana Yahudi melemparinya dengan batu dan menyeretnya keluar kota dan mereka mengira dia sudah mati. Secara umum dipercaya bahwa pengalamanya disorga terjadi di Lystra saat dia terbaring tidak sadarkan diri. Dia mengatakan sangat dimuliakan melihat kemuliaan disorga sehingga dia tidak tahu apakah masih ditubuhnya --“ entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya.” Jangan mengabaikan pengajaran disini. Pengajaran ini begitu jelas dan mengalahkan teori “jiwa tertidur.”

Ada 3 peristiwa Tuhan membangkitkan yang mati. Setiap kali dia mendekati yang mati dan berbicara seakan dia hidup. Kepada anak janda Nain Dia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah” (Luke 7:14). Saat Kristus datang keanak perempuan Yairus, kita diceritakan: “Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: Hai anak bangunlah!” (Luke 8:54). Akhirnya, Dia berkata pada saudara laki-laki Maria dan Martha: “Lazarus, keluarlah” (John 11:43). Dalam setiap peristiwa Yesys bicara seolah mereka hidup. Kita hanya bisa menjawab bahwa setiap mereka masih hidup. Seperti kata G. Campbell Morgan: “Tubuhnya mati. Manusianya tidak. Tidak ada manusia yang mati saat tubuhnya terbaring mati!” Jiwa manusia tidak akan masuk kedalam keadaan tidak sadar.

Dalam cerita Kristus tentang orang kaya dan Lazarus yang sudah kita simpulkan dan tetapkan bahwa jiwa sadar setelah kematian. Manusia mati dan dikubur. Walau tubuh mereka dikubur, tapi mereka masih hidup dan sadar. Orang kaya di Neraka bisa melihat, mendengar, bicara, dan merasakan (Luke 16:19-31).

Biarlah yang belum selamat mendengar peringatan Tuhan. Ada kehidupan setelah kematian. Orang yang selamat dan tidak dipisahkan. Orang yang terhilang jelas membawa kenangan yang lalu, dan hukuman karena menolak Kristus akan kekal.

Tapi biarlah setiap orang percaya berani dan dihibur. Saat kita keluar dari bait, manusia sebenarnya akan meninggalkan tubuh dan masuk kedalam hadirat Tuhan.


-----------------------------------------------------------------------------------------




PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEMATIAN DAN HIDUP SESUDAH MATI




Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu
dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk
menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi
tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang
menantikan Dia. (Ibr. 9:27)


Firman Tuhan dengan jelas menolak konsep reinkarnasi. Kebenaran iman kristen menyatakan, seperti ayat di atas, bahwa manusia hanya hidup satu kali dengan jiwa yang dikaruniakan Allah. Kemudian mati satu kali juga, dan jiwanya kembali kepada Allah untuk dihakimi menurut iman dan perbuatannya selama hidup di dunia yang satu kali itu.


Tinjauan Beberapa “Kasus Reinkarnasi” dalam Alkitab
Cukup banyak bagian Alkitab yang dihubungkan oleh para penganut reinkarnasi, khususnya yang kristen, untuk membenarkan pendapat mereka. Beberapa diantaranya yang penting adalah sebagai berikut:

- Identitas Yohanes Pembaptis dan Elia
“Dan—jika kamu menerimanya—ialah Elia yang akan datang itu.” (Mat. 11:14) Kalimat itu dikatakan Yesus ketika murid-muridnya bertanya-tanya tentang siapa Yohanes pembaptis. Pada bagian lain, ketika Yesus menjawab pertanyaan murid-muridnya tentang kedatangan Elia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak

mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Lalu ada komentar “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes.” (17:12-13) Sepintas bagian ini seperti membenarkan reinkarnasi dari Elia pada Yohanes Pembaptis, tetapi sesungguhnya tidak ada ajaran reinkarnasi di sini. Kalau kita perhatikan nubuat tentang kelahiran Yohanes, “ia akan berjalan mendahului Tuhan dengan roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17) kita akan mengerti bahwa yang dimaksud “ia adalah Elia” adalah “nabi dengan roh dan kuasa Elia.” Yohanes sendiri menjawab: “Bukan” ketikaia ditanya apakah dia Elia (Yoh.1:21). Alkitab juga mencatat bahwa Elia tidak mati, tetapi terangkat ke sorga (2 Raj.2:11) jadi bagaiman ia akan bereinkarnasi? Dan akhirnya para penginjil mencatat bahwa Elia hadir bersama dengan Musa menemui Yesus dalam peristiwa transfigurasi di gunung (Mat. 17:1-8; Mrk. 9:2-8; Luk. 9:28-36), Elia tidak hilang karena kelahiran Yohanes. Jadi kesimpulannya ia tidak bereinkarnasi.

- Pandangan murid-murid dan orang banyak “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh.9:1-3); “Ada yang mengatakan: (Engkau adalah) Yohanes Pembaptis, ada juga
yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (Mat.16:13-14)

Nampaknya memang ada semacam pandangan reinkarnasi yang berkembang pada masyarakat di Palestina pada waktu itu yang juga mempengaruhi pola pikir murid-murid Kristus, sehingga mereka percaya semacam karma dan reinkarnasi. Tetapi Yesus justru menghapuskan konsep itu dengan jawaban-Nya: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia.” Yesus dengan jelas menolak reinkarnasi dan karma, Ia menekankan Allah yang turut berkarya dan berdaulat atas hidup manusia.

- Kelahiran kembali
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3) Kalau ayat ini ditafsirkan sebagai reinkarnasi, itu jelas salah tafsiran. Karena kalau kita baca seluruh konteksnya (3:1-21) akan nyatalah bahwa yang dimaksudkan dengan dilahirkan kembali itu adalah kelahiran dalam “air dan Roh” (3:5), yang menunjuk kepada hidup baru yang diterima orang percaya melalui kuasa Firman Tuhan dan Roh Kudus. Jadi sama sekali ini bukan kelahiran secara fisik, tetapi secara rohani.

- Roda kehidupan
“Lidahpun adalah api … menyalakan roda kehidupan kita,” (Yak. 3:6) Roda kehidupan ini ditafsirkan sebagai roda karma oleh para penganut reinkarnasi. Tetapi pembacaan yang lengkap pada seluruh konteks ayat ini akan membawa kita pada pengertian yang jelas bahwa perkataan kita akan sangat mempengaruhi seluruh hidup kita. Yang dimaksud adalah kehidupan sekarang ini—dari lahir sampai mati, sama sekali tidak berbicara tentang perputaran kehidupan dari satu hidup ke hidup yang lain.

- Karma
“Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Gal. 6:7)
“Sebab barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” (Mat. 26: 52)
Kedua ayat di atas, dan sebetulnya banyak bagian Alkitab lain yang semacam itu, memang
berbicara tentang hukum retribusi yang menunjukkan keadilan Allah. Tetapi jika itu
ditafsirkan sebagai ajaran tentang karma, maka itu tidaklah benar. Karena, “sama seperti
manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,” (Ibr. 9:27)
manusia akan menerima balasan untuk setiap perbuatannya; jika tidak dalam hidup yang
sekarang ini akan menerimanya dalam penghakiman abadi. Tidak ada karma dan reinkarnasi.

- Kedaulatan Allah
“Barang siapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk
dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang.” (Wahyu 13:10)
Para penganut reinkarnasi salah kalau melihat ayat ini sebagai bukti adanya karma. Sebab
lebih daripada karma justru ayat diatas menunjukkan kedaulatan Allahlah yang menentukan
nasib, bahkan mati-hidup manusia. Dan itulah yang sesungguhnya menjadi ajaran Alkitab
orang Kristen: Allah yang berdaulat, Allah yang menjadi pusat dan bagi dialah kemuliaan dan
hormat sampai selamanya.

Ajaran Alkitab tentang Kematian dan Kebangkitan Tubuh; Sebuah Penyerapan Ringkas dari
1 Korintus 15
1 Korintus 15 merupakan fasal yang khusus dalam surat Paulus pada jemaat di Korintus. Sepanjang pasal ini Paulus mengajarkan doktrin yang sangat penting dalam kekristenan:
kebangkitan tubuh orang-orang percaya. Dalam ke-58 ayat-ayat ini Paulus memberikan penjelasan yang paling kuat mengenai kebangkitan tubuh dalam seluruh Alkitab. Kebangkitan Yesus Kristus adalah pokok pikiran terpenting yang mewarnai segala hal dalam teologia Kristen. Kebangkitan Kristus menjadi satu-satunya acuan bagi seluruh pengajaran kristen tentang kebangkitan orang percaya. Kebangkitan Kristus adalah tiang utama iman gereja. Robohnya doktrin tentang kebangkitan Kristus berarti robohnya gereja dan kokohnya doktrin kebangkitan Kristus menjamin kokohnya gereja. Itulah sebabnya ketika Paulus mengajarkan tentang kebangkitan tubuh pada orang-orang kristen di Korintus yang nampaknya beranggapan tidak ada kebangkitan tubuh, ia pertama-tama membuktikan kebenaran kebangkitan Kristus. Dalam bagian pertama kitab ini (1-11) Paulus menunjukkan lima kesaksian yang kokoh tentang kebangkitan Kristus:

- Kebangkitan Kristus adalah sesuai dengan Kitab Suci (4).
- Kebangkitan Kristus disaksikan oleh lebih dari 500 saudara sekaligus (6).
- Kristus yang bangkit menampak diri dan menemui secara khusus para tokoh yang bisa dipercaya: Petrus, yang dihormati diantara rasul-rasul dan Yakobus, penatua jemaat yang saleh ( 5, 7).
- Kebangkitan Kristus disaksikan sendiri oleh Paulus, yang pada waktu itu adalah seorang yang menganiaya jemaat Tuhan dan tidak percaya kepada kebangkitan Kristus ( 8-9 ).
- Kebangkitan Kristus itulah inti Injil yang diberitakan dan diajarkan oleh semua rasul yang menjadi saksi kebenarannya ( 10-11).

Fakta kebangkitan Kristus menjadi acuan terpenting bagi doktrin kematian dan kebangkitan
tubuh orang percaya.

Kemudian Paulus menunjukkan pentingnya doktrin kebangkitan tubuh pada jemaat itu (12-19). Jemaat Korintus nampaknya sukar menerima adanya tubuh kebangkitan. Bagi mereka tampaknya keselamatan itu hanyalah terlepas dari hukuman Allah, masuk surga, tetapi tidak perlu dibangkitkan lagi karena sudah dalam bentuk roh yang tak berwujud. Paulus dengan jelas pada bagian ini menyatakan bahwa kebangkitan itu benar dan sangat penting dalam pemahaman

iman kita sebab jika tidak ada kebangkitan:
- Untuk apa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati? (13)
- Pemberitaan Injil yang berpusat pada Kristus yang bangkit tidak ada artinya (14a).
- Iman kepada Kristus adalah sia-sia (14b).
- Semua saksi kebangkitan dan mereka yang mengajarkan kebangkitan adalah penipu (15).
- Semua manusia akan mati bersama dosanya, karena Kristus tidak pernah mengalahkan maut (17b). Semua orang percaya sebelum Kristus, yang mengarahkan imannya pada penebusan anak domba akan binasa selama-lamanya (18).
- Orang-orang Kristen akan menjadi umat yang paling malang di dunia ini (19). Kebenaran iman Kristen adalah: ada kebangkitan tubuh, seperti Kristus juga dibangkitkan dengan tubuh mulia.

Kemudian Paulus memaparkan tiga aspek yang penting berkenaan doktrin kebangkitan tubuh ini:

- Kebangkitan tubuh orang percaya dimungkinkan karena penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus saja. Kristus menjadi yang pertama (utama) dalam kebangkitan orang-orang percaya. Bersama dengan Adam (orang yang pertama binasa), semua manusia terbuang binasa dengan tubuh dosanya dari “taman Eden,” gambaran hadirat Allah. Bersama Kristus (yang pertama bangkit) kita akan kembali bisa bersekutu dengan Allah setelah dibangkitkan
dengan tubuh mulia (20-22).

- Kebangkitan tubuh orang-orang percaya mempunyai aturan dan urutan tersendiri dalam kedatangan Kristus yang kedua kali (23; bdk. 1Tes. 4:13-18).

- Kemudian tiba saatnya pemulihan segala sesuatu. Musuh yang terakhir ditaklukkan adalah maut (kematian), dan tubuh mulia tidak akan mengalami kematian lagi. Dan seperti semula, ketika Allah menciptakan Adam dalam tubuh untuk bersekutu dengan-Nya dan memuliakan nama-Nya, demikianlah kita nanti akan memuliakan Allah supaya Dia menjadi segalanya dalam segala sesuatu (24-28). Maksud dari kebangkitan tubuh orang percaya adalah supaya Tuhan dipermuliakan oleh manusia dengan tubuh mulianya, seperti rancangan semula yang Tuhan nyatakan dalam penciptaan

Adam. Dalam bagian berikutnya Paulus mengingatkan bahwa jika kita menghilangkan kebenaran tentang kebangkitan tubuh, sesungguhnya kita menolak rencana penyelamatan Allah yang indah, kita akan kehilangan dorongan ilahi untuk menantikan kedatangan Kristus dengan sukacita.

Kebangkitan tubuh di dalam Kristus itulah yang akan memotivasi dan menjadikekuatan bagi kita untuk terus bertahan dalam: 

- Pengharapan kita pada keselamatan saudara-saudara kita yang sudah meninggal, yang akanberjumpa lagi dengan kita dalam tubuh mulia (29).

- Pelayanan, karena kita kelak akan berjumpa dengan orang-orang yang kita layani dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan yang besar (30-32).

- Memelihara kekudusan, karena tubuh yang sekarang ini ada hubungannya dengan tubuh mulia yang akan kita terima kelak (33-34). Tubuh kebangkitan akan membuat kita mampu mengenali pribadi-pribadi yang kita layani ataupun yang kita benci dan sakiti di dunia ini. Karena itu betapa kita harus bersungguhsungguh menjaga kasih, kekudusan dan pelayanan kita hari ini karena itu akan berdampak kekal bersama tubuh mulia kita kelak. Paulus kemudian menguraikan dengan panjang lebar tentang tubuh kebangkitan kita dalam ayat 35-55. Pertama-tama, dengan menggunakan penggambaran tentang benih yang bertumbuh setelah ia jatuh ke tanah dan mati (36-38) Paulus menunjukkan bahwa:
- Tubuh kebangkitan itu kita dapatkan melalui kematian, tetapi kematian dalam iman kepada Kristus. Setiap kematian di dalam iman kepada Kristus pastilah menjadi kesaksian dan berkat bagi orang lain dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Tubuh itu akan berbeda dengan tubuh kita yang sekarang. Ketika Yesus bangkit tubuh-Nya tidak lagi dapat dibatasi oleh ruangan dan waktu. Demikian juga nampaknya tubuh kebangkitan kita kelak akan berbeda dengan yang ada pada kita sekarang.

- Tetapi ada kesinambungan atau hubungan antara tubuh lama dan tubuh baru kita. Tuhan akan memberikan pada tubuh baru itu identitas seperti yang dikehendaki-Nya. Tampaknya maksudnya bukan perubahan bentuk yang total, tetapi Tuhan akan menentukan umur atau dalam kondisi macam apa tubuh kebangkitan kita kelak. Yang pasti kita masih akan saling mengenali dengan tubuh yang baru itu.

Lebih lanjut Paulus mengajarkan bahwa keadaan tubuh kebangkitan yang akan kita
terima nanti adalah sebagai berikut:

- Tubuh itu adalah tubuh sorgawi, seperti yang dipunyai makhluk surgawi (40). Dan karenanya kita juga akan hidup sebagaimana makhluk sorgawi yang tidak kawin dan mengawinkan dan tidak ada lagi hubungan sebagai orang tua dan anak. Dalam tubuh mulia itu kita akan hidup sebagai saudara dalam kemuliaan Tuhan di surga (Mrk. 12:25).

- Tubuh itu tidak dapat binasa dan terbebas dari segala kelemahan fisik (42-43, 50). Tubuh itu bukan dari daging dan darah, berarti disusun dengan materi yang berbeda dengan materi tubuh kita sekarang yang bisa rusak. Bersama dengan lenyapnya maut, kitapun menerima tubuh yang sempurna yang abadi di surga.

- Tubuh itu tubuh rohani, yang berarti dengan tubuh itu kita bisa bersekutu dengan Allah yang adalah Roh. Selama kita masih hidup dalam tubuh alamiah ini kita tidak mungkin dapat bersekutu dengan Allah sekalipun kita sudah menerima anugerah keselamatan dan diperdamaikan dengan-Nya. Tetapi dengan tubuh kebangkitan yang rohani kita akan
menikmati persekutuan dengan Tuhan tanpa terhalang lagi (44-49).

- Bagi yang belum mati sampai kedatangan Kristus yang kedua, tubuh sorgawi itu akan merupakan perubahan dari tubuh duniawi kita yang sekarang. Tubuh surgawi kita akan sangat sempurna untuk dapat mewujudkan persekutuan dengan Allah dan sesama orang percaya. Satu sisi kita akan menerima tubuh yang berbeda secara kualitas dengan yang ada sekarang, tetapi disisi lain kita akan tetap menikmati bentuk kita yang sekarang tetapi yang sudah disempurnakan oleh Allah sendiri menurut kehendak-Nya. Itulah tubuh kita yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya.Paulus menutup semua uraian ini dengan puji-pujian bagi Tuhan dan dorongan kepada orang-orang percaya dengan ayat yang indah ini: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Kor 15:58) Pengharapan Orang-Orang Percaya

Kebenaran Alkitab memberikan kepada kita cara pandang yang baru tentang kematian
dan pengharapan yang sangat indah tentang kebangkitan tubuh:

- Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan dalam hidup dan keselamatan orang percaya adalah untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan bukan sekedar menyelamatkan kita dari kuasa maut dan dosa lalu membawa kita masuk ke sorga, tetapi ia kan memberikan segala sesuatu yang perlu bagi kita untuk bersekutu dengan-Nya dan memuliakan nama-Nya. Ada tubuh mulia bagi kita untuk memuliakan nama-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan membawa dampak dalam kekekalan. Itu berarti tidak akan pernah sia-sia pelayanan, perjuangan dan pengorbanan kita dalam menjaga kekudusan dan menyatakan kasih, karena orang-orang yang kita layani akan bersama kita kembali dalam tubuh yang baru.
- Surga bukanlah suatu tempat yang asing. Di sana kita akan bertemu dengan kekasih-kekasih kita. Kita kan mengenalnya dalam keadaan yang lebih baik daripada di dunia ini karena Tuhan sudah memberikan tubuh yang terbaik, yang sempurna menurut kehendaknya yang sempurna. Saat itulah yang harus selalu kita rindukan dan menjadi motivasi bagi kita untuk melayani dengan gembira, dengan sungguh hati, dengan setia dan dengan berani untuk berkorban
demi kemuliaan nama Tuhan.


MENYIKAPI KEPERCAYAAN REINKARNASI

Dari pembahasan pada dua bagian yang terdahulu dapat kita simpulkan bahwa pandangan dunia dari ajaran reinkarnasi sangat bertolak belakang dengan pandangan Alkitab yang mengajarkan kebangkitan orang mati didalam Kristus. Akibatnya pengharapan akan kehidupan yang akan datangpun sangat berbeda. Pandangan dunia penganut reinkarnasi adalah humanisme kosmik, dimana manusia adalah pusat dari alam semesta dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah bersatu dengan alam. Manusia ditinggikan dengan diberi otoritas untuk menentukan kehidupannya sendiri, tetapi sekaligus direndahkan dalam hukum fatalistis kosmik yang mencengkeramnya. Pengharapan para penganutnya hanyalah adanya “kesempatan” untuk menjadi lebih baik di tengah ketidakberdayaan melawan hukum karma yang fatalistis. Sebaliknya pandangan Alkitab adalah teistis, dimana Allah yang menjadi fokus utama dalam segala ciptaan-Nya. Manusia ditawan dalam ketaatan pada hukum kasih, tetapi disisi lain ia dibebaskan dari fatalisme hukum kosmik untuk suatu maksud yang lebih mulia: memuliakan Tuhan. Pengharapan orang percaya: persekutuan dengan Tuhan di surga yang pasti sudah disediakan di dalam Kristus Yesus yang sudah mematahkan kuasa dosa dan maut. Orang percaya yang harus membawa kabar baik ke dalam dunia yang dikuasai dosa ini, maka keadaan yang menyedihkan dari para menganut ajaran reinkarnasi haruslah justru mendorong kita untuk mendekati mereka dan menyelamatkan mereka, seperti kitapun dahulu adalah orang berdosa yang diselamatkan oleh Kristus.

Memahami Paham Dunia dan Kuasa Kegelapan yang Ada di Balik Ajaran Reinkarnasi
Langkah pertama adalah menyadari bahwa dibalik ajaran reinkarnasi dan pandangan dunia humanisme kosmiknya terdapat kuasa si jahat yang sedang bekerja. Memperhatikan pandangan dunia yang mengedepankan manusia untuk menjadi tuan atas dirinya sendiri seharusnya mengingatkan kita pada kisah kejatuhan manusia di taman Eden (Kej. 3:1-7). Bukankah itu strategi kuasa kegelapan untuk menghancurkan hubungan manusia dengan Tuhan?

Sesungguhnya startegi dasar itu tidak pernah berubah. Dalam ajaran reinkarnasi kita juga menemukan prinsip bahwa sesungguhnya manusia adalah pelaku utama dalam merajalelanya kuasa kegelapan di bumi ini. Ketika manusia menolak

campur tangan Allah dan lebih mempercayai dirinya dan hukum alam, maka muncullah kekacauan dan kuasa kegelapan dengan leluasa bekerja ditengah-tengahnya. Di tengah-tengah para penganut reinkarnasi kita dapat menemukan praktek-praktek mistis, seperti semadi, yoga, trancendental meditation dan lain-lain yang melibatkan kuasa kosmik dan kuasa kegelapan di dalamnya. Praktek-praktek okultisme sangat biasa dilakukan oleh para guru dan yogis untuk memperkuat pengaruh dan kesaktian mereka. Dan pengalamanpengalama supranatural sangat banyak terjadi dibandingkan di daerah yang masyarakatnya tidak mempercayai ajaran itu. Ajaran reinkarnasi jelas sangat kuat dipengaruhi kuasa kegelapan dan karenanya pasti bertentangan dengan kebenaran Tuhan.

Mencari Titik Temu dalam Pengharapan Keselamatan
Namun harus juga disadari bahwa banyak orang yang terlibat di dalamnya karena tertarik dengan pengharapan palsu yang ditawarkannya, tanpa menyadari kuasa di balik ajaran itu yang akan menyeret mereka dalam kehancuran. Harapan akan keadilan, kesempatan untuk hidup yang lebih baik di kehidupan yangkemudian, sesungguhnya adalah harapan semua orang. Usaha untuk menjawab secara benar harapan dibalik penerimaan terhadap ajaran reinkarnasi haruslah

menjadi perhatian utama orang-orang percaya. Terhadap harapan untuk beroleh keadilan dan kepastian masa depan yang lebih baik itu sesungguhnya Injil mempunyai jawaban yang terbaik. Allahlah yang sesungguhnya sudah

menyelamatkan kita dengan cara yang adil dengan menebus kita dari kuasa dosa yang membelenggu dengan darah Yesus Kristus yang tidak dikuasai dosa (Rom. 8:3-4). Dengan cara penggantian inilah Allah telah merebut kita dari cengkeraman kuasa kegelapan. Demikian juga dengan pengharapan masadepan. Tidak ada seorangpun yang bisa

menjamin masa depan seseorang selain Kristus, Dia Tuhan, yang sudah datang dari masa depan kita untuk menuntun kita ke jalan yang benar. Kristuslah Jalan, melaluinya kita menemukan arah kepada kebahagiaan; Kebenaran, Dia yang mampu menuntun kita untuk tidak tersesat dalam tipuan si jahat; dan Hidup, Dialah jaminan kita untuk tidak berarkhir dalam kebinasaan, sebab Dia sudah mengalahkannya. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa membawa kabar baik dan pengharapan yang sejati ini kepada para penganut reinkarnasi itu. Persahabatan dan ketulusan hati adalah cara
yang terbaik untuk menuntun kita ke sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?