animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Sabtu, 03 September 2016

RAPAT RAHASIA LONDON: BERAKHIRNYA ERA PENGGUNAAN UANG TUNAI, DATANGNYA ERA MICROCHIP



MARTIN AMSTRONG MENGKLAIM - ADA PERTEMUAN RAHASIA UNTUK MENGAKHIRI UANG TUNAI/FISIK DI LONDON
UB

Pertemuan rahasia di London untuk “Mengakhiri Uang Tunai”


Bank-bank sentral bertujuan untuk melembagakan “persetujuan pemerintah” untuk semua pembelian dan penjualan


Gambar Kredit: mikeporesky, Flickr .oleh Paul Joseph Watson | 27 Mei 2015


Ekonom Martin Armstrong mengklaim ada “pertemuan rahasia untuk mengakhiri uang tunai” akan mengambil tempat di London sebelum akhir bulan yang melibatkan perwakilan dari ECB dan Federal Reserve.

Armstrong, yang dikenal berhasil memprediksi kebangkrutan Black Monday tahun 1987 serta runtuhnya keuangan Rusia tahun 1998,menyatakan keterkejutannya bahwa tidak ada pemberitaan yang melaporkan konferensi mendatang ini.

“Saya merasa hal ini sangat membingungkan bahwa hanya saya satu-satunya yang melaporkan pertemuan rahasia di London. Kenneth Rogoff dari Harvard University, dan Willem Buiter, Kepala Economist di Citigroup, akan membahas bank sentral upaya mendukung penghapusan semua uang untuk membawa ke hasil hari ketika Anda tidak dapat membeli atau menjual sesuatu tanpa persetujuan pemerintah, “tulis Armstrong.

Ketika saya googled masalah untuk melihat siapa lagi yang telah mengangkatnya, saya terkejut, Armstrong Ekonomi muncul pertama. Lain mengutip saya, dan bahkan saya merasa berita ini hanya menyebar sejauh Bank Sentral Nigeria, tapi saya belum menemukan laporan tentang pertemuan yang berlangsung di London, ketika info saya langsung dari sumbernya.

Armstrong pertama kali memberi perhatian pada dugaan pertemuan awal bulan ini ketika ia mengungkapkan bahwa perwakilan dari Federal Reserve, ECB serta peserta dari bank sentral Swiss dan Denmark semua akan menghadiri “konferensi besar di London” di mana Kenneth Rogoff dari Harvard University, dan Willem Buiter, Economist Kepala di Citigroup, akan memberikan presentasi.

“Kami lebih baik menjaga satu mata terbuka di malam hari untuk kelahiran masyarakat non tunai ini yang datang lebih cepat dari yang diharapkan. Mengapa pertemuan rahasia? Sesuatu tidak benar di sini, ” Armstrong menyimpulkan.

Diskusi dan pergerakan kearah pelarangan penggunaan uang tunai, berulang kali dibahas dalam beberapa pekan terakhir.

Willem Buiter, yang mana Armstrong akui berbicara pada pertemuan rahasia, baru-baru ini menganjurkan menghapuskan uang sama sekaliuntuk “memecahkan masalah bank sentral dunia ‘dengan suku bunga negatif

Tahun lalu, Kenneth Rogoff juga menyerukan “menghapuskan mata uang fisik” untuk menghentikan “penggelapan pajak dan aktivitas ilegal” serta mencegah orang dari menarik uang ketika suku bunga mendekati nol.



Mencolok nada yang sama, mantan ekonom Bank of England Jim Leavissmenulis sebuah artikel untuk London Telegraph awal bulan ini di mana dia mengatakan masyarakat tanpa uang tunai hanya akan dicapai dengan “memaksa semua orang untuk menghabiskan hanya dengan cara elektronik dari akun yang dijalankan oleh Bank pemerintah,” yang tentunya akan,”dipantau, atau bahkan langsung dikendalikan oleh pemerintah.”

Bank-bank besar baik di Inggris dan AS sudah memperlakukan penarikan atau penyetoran dalam jumlah cukup besar uang tunai sebagai aktivitas yang mencurigakan. Laporan muncul pada bulan Maret bagaimanaDepartemen Kehakiman memerintahkan karyawan bank untuk mempertimbangkan memanggil polisi pada pelanggan yang menarik $ 5.000 dolar atau lebih.

Sementara di Perancis, langkah-langkah baru ditetapkan untuk berlaku pada bulan September yang akan membatasi warga Perancis dari membuat pembayaran tunai lebih dari € 1.000 € . Armstrong menunjukkan bahwa “polisi keuangan” bisa menegakkan hukum baru ini dengan, “mencari orang-orang di kereta hanya lewat Prancis untuk melihat apakah mereka mengangkut uang tunai, yang mereka sekarang akan merebut.”

Sebagai catatan Armstrong, melarang tunai untuk mengeluarkan isi perut apa yang sedikit kebebasan ekonomi orang telah meninggalkan untuk menghindari Keynesian kebijakan bank sentral bencana tidak kekurangan totalitarianisme ekonomi.

“Dalam pikiran seorang tiran ekonomi, pelarangan kas merupakan grail suci,” tulis Michael Krieger . “Memaksa Pleb ke sistem transaksi mata uang kertas digital menawarkan total kontrol melalui pelacakan mulus semua transaksi dalam perekonomian, dan kemampuan untuk memblokir pembayaran jika warga negara angkat berani keluar dari garis.”







***************************************************************




Rapat Rahasia London: Berakhirnya Era Penggunaan Uang Tunai, Datangnya Era Micro Chip



Uang akan dihilangkan dan diganti dengan sistem mata uang digital. Jika seseorang kedapatan membawa uang tunai, maka dalam hitungan detik, uang yang dibawa akan disita tanpa kompensasi apapun. Intinya, di dunia ini tidak ada lagi uang. Semuanya serba digital atau melalui penggunaan micro chip. Mengapa? Simak ulasannya.


What is the Truth Behind the ObamaCare Microchip Implant Rumor

ObamaCare Implant; we get daily emails on the ObamaCare microchip implant / RFID chip. Instead of discussing the ObamaCare microchip implant myth with each person, we have created a page to help our readers better understand what ObamaCare really does.


The MicroChip Myth: Before we dive deeper into the “chip myth,” lets clear the air right now – the Affordable Care Act (the official name for ObamaCare) contains no wording about either a mandatory RFID chip implant or data collection from one. However, an older version of the law does discuss data collection from class II devices for postmarket safety and outcomes data.





WAHYU 13 : 16 – 18 AKAN TERGENAPI “ MICROCHIP 666”



"Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam"

(Wahyu 13:16-18)





Uang adalah alat pembayaran atau pengganti jasa yang telah diberikan ataupun di terima oleh seseorang, seperti di dalam dunia teknologi sudah berkembang sangat pesat dan menciptakan sesuatu yang lebih fleksibel. Kini era uang tunai sudah tidak ada lagi dan perkembangan micro chip yang akan menggantikan uang tunai.

Seperti yang di kutip di Rahasia Rapat London uang bakal dihilangkan dan diganti dengan sistem valuta digital. Apabila seseorang kedapatan mengangkat uang tunai, maka dalam hitungan detik, uang yang dibawa bakal disita tanpa kompensasi apapun. Intinya, di dunia ini tak ada lagi uang. Semuanya serba digital atau melewati pemakaian micro chip.

Saat ini Eropa sementara menuju ke dalam sistem yang dijuluki sebagai “The New Age Of Economic Totalitarianism”
Dengan negara-negara Eropa saat ini terpuruk seusai dihantam krisis moneter, Bank Sentral Eropa mencoba untuk menyusun sebuah kebijakan yang katanya, bakal diimplementasikan untuk mencegah industry perbankan terjun leluasa ke dalam jurang kehancuran.

Satu-satunya tutorial ialah mencegah masyarakat meperbuat penarikan uang tunai, dalam situasi dan keadaan apapun. Berawal dari sinilah, ide untuk menghilangkan uang fisik pertama kali diwacanakan.

Akhir Mei 2015, bertempat di London Inggris, perwakilan Bank of England, Federal Reserve, Bank Sentral Swiss dan Bank Sentral Denmark, menggelar sebuah pertemuan rahasia. Disebut rahasia, sebab terbukti demikian sifatnya. Tak ada liputan satupun media terkait pertemuan tersebut. Adapun acara tunggal yang diusung ialah bagaimana mempercepat implementasi penghapusan uang tunai, untuk kemudian digantikan dengan digital currency.

Ialah Martin Armstrong, yang menjadi whistle blower pertemuan ini, walau kemudian “nyanyian” Armstrong sepi peminat. Ia ialah ahli ekonomi yang sukses memprediksi dengan cocok, terjadinya krisis ekonomi dahsyat yang dikenal dengan sebutan “The Black Monday Crash 1987”, dan krisis moneter yang mengguncang Rusia tahun 1998 silam.


Microchip RFID


Kembali ke pertemuan rahasia London, jelas ada keanehan. Kenapa sebuah kebijakan ekonomi ataupun moneter, tak diumumkan dengan cara terbuka, tetapi malah dibahas dalam sebuah pertemuan rahasia.

Kenneth Rogoff dari Harvard University dan Willem Buiter selaku direktur ekonomi Citigrup, merupakan dua sosok penting dalam rapat tersebut. Merekalah yang membawakan presentasi di depan para elit bank sentral, mengenai “pentingnya” kebijakan cashless society.

Apabila kebijakan ini jadi diberperbuat, maka semua transaksi jual beli wajib terlebih dahulu mendapat persetujuan pemerintah. Tanpa adanya lampu hijau dari otoritas setempat, maka setiap warga negara tak diperbolehkan membeli ataupun menjual.

Menurut Willem Buiter, apabila uang fisik tak lagi dipakai maka masalah Bank Sentral di seluruh dunia mengenai suku bunga negatif, bakal otomatis terpecahkan.

Sementara itu, Kenneth Rogoff berbicara bahwa penghapusan uang fisik dibangun untuk menghindari beberapa kejahatan, terkait dengan penggelapan pajak dan transaksi-transaksi keuangan illegal lain. Di samping itu, tak bakal terjadi lagi penarikan dana tunai besar-besaran ketika suku bunga mendekati nol.

Tidak jauh tak sama dengan kedua tokoh ekonomi tersebut, mantan ekonom Bank of England, Jim Leaviss, juga menulis sebuah postingan yang diterbitkan oleh surat berita London Telegraph. Dalam tulisannya, Leaviss berbicara “Masyarakat Tanpa Uang”, hanya dapat direalisasikan apabila bank-bank pemerintah di seluruh dunia memaksa masyarakat untuk masuk ke dalam sistem ini dengan kewenangan yang mereka miliki.

Saat ini beberapa bank-bank besar di Amerika dan Inggris telah menerapkan kebijakan ketat terkait penarikan atau penyetoran dana tunai dalam jumlah besar. Beberapa laporan timbulsepanjang bulan Maret 2015, dimana Departemen Kehakiman Amerika mengeluarkan fatwa terhadap industry perbankan, untuk segera melapor terhadap polisi, apabila ada penarikan dana tunai lebih dari 5000 US Dolar.

Sementara itu di Perancis, kebijakan baru bakal segera diberperbuat mulai September mendatang yang bakal membatasi warga Perancis tak boleh bayar tunai di atas 1000 Euro. Nantinya bakal ada Polisi Keuangan, yang menegakkan undang-undang baru tersebut.

Mereka mempunyai kewenangan untuk menggeledah penumpang kereta api yang bukan warga Perancis, kemudian mengecek apakah orang yang dicurigai mengangkat uang tunai dalam jumlah besar. Apabila kedapatan, maka uang tersebut bakal langsung disita.

Kalau dicermati, maka kebijakan ini jelas merenggut keleluasaan orang per orang, jadi lebih menyerupai penjajahan ekonomi (economic totalitarianism), ketimbang kebijakan yang menolong dunia perbankan, dalam meminimalisasi beberapa tindak kejahatan ekonomi.

JP Morgan Chase, belum lama ini mengirimkan surat terhadap setiap nasabah yang mempunyai dana besar, dimana dalam surat itu dijelaskan bahwa JP Morgan Chase, tak lagi berminat dengan dana-dana yang didepositokan. Tak hanya itu saja, pihak bank menegaskan bahwa mulai 1 Mei 2015, setiap nasabah dengan jumlah deposito besar bakal dikenakkan denda tahunan sebesar 1 % dari jumlah total deposito yang mereka simpan. Adapun denda tersebut, disebutkan sebagai anggaran administrasi.

Sederhananya, deposito bakal dikenakan suku bunga negatif. Alih-alih mendapatkan untung, nasabah malah dapat kehilangan uangnya apabila semakin menerus diendapkan di dalam bank.

Hasilnya sangat jelas. Semua nasabah –banyak di antarany ialah institusi keuangan-, akhirnya memindahkan deposito mereka dari JP Morgan Chase. Tujuan kebijakan ini ialah “membuang” dana sejumlah 100 miliar US dolar, dari bank tersebut. Alhasil, JP Morgan Chase disinyalir telah sukses membuang 20% dari 100 miliar US dolar semacam yang ditargetkan.

Kami berhenti sejenak dan berpikir. Tidakkah langkah JP Morgan Chase ini aneh dan ajaib?

Normalnya, semua bank rutin memperkenalkan bunga terhadap nasabah. Tetapi kenyataannya ialah, saat ini dunia sedang memasuki era baru keuangan yang disebut “surplus era”.

Beberapa bulan terbaru, apa yang disebut “Suku Bunga Negatif” sedang terjadi di dalam industry perbankan Eropa.

Bank Sentral Eropa (ECB) saat ini tengah berjuang agar dapat bersi kukuh. Bunga deposito hanya dipatok pada angka 0,2 %.

Sementara itu Bank Sentral Swiss yang sedang cemas dengan semakin menguatnya Swiss Franc dapat membahayakan neraca perdagangan negara itu, menetapkan bunga deposito sebesar 0,75%.

Tanggal 21 April 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah, rate Euribor –Euro interbank offered-, berada pada angka negatif. Dan satu-satunya tutorial untuk menyelamatkan industry perbankan dari jurang kebangkrutan, ialah menerapkan kebijakan bunga deposito negatif atau di bawah nol.

Sebenarnya bukan faktor aneh dengan suku bunga negatif, apalagi apabila itu diperbuat agar suku bunga berada di bawah angka deflasi. Apabila sebuah bank menekan suku bunga di bawah angka laju deflasi untuk menstimulasi pertumbuhan, maka nasabah bakal diuntungkan. Pinjaman bakal menjadi lebih terjangkau.

Masalahnya bakal menjadi sangat aneh, apabila kemudian suku bunga dibangun jadi negatif, tanpa terlebih dahulu menghitung laju deflasi. Inilah yang tengah terjadi saat ini di Eropa. Dengan cara teori, menetapkan suku bunga negatif hanya bakal membikin nasabah memindahkan deposito mereka ke tempat lain yang memperkenalkan bunga menguntungkan. Atau bahkan dapat saja, orang-orang bakal kembali ke tutorial kuno yaitu menyimpan uang di bawah kasur, agar tak bayar penalty atas uang yang mereka depositokan.

Bagi yang bahagia “bermain dengan bahaya”, fenomena ini mungkin faktor biasa. Investor dapat mengambil resiko dengan membeli saham apabila mereka yakin, bahwa suku bunga bakal semakin turun. Toh, apabila turun, maka saham dapat dipasarkan kembali, dengan keuntungan yang telah jelas di depan mata. Beli di atas, jual di bawah.

Sementara investor global juga bakal “rela” menaruh uang mereka pada obligasi negatif sebuah negara, dengan berbekal keyakinan bahwa kualitas valuta negara tersebut dapat kembali rebound.

Tapi kini perhatikan tahap yang paling hebat dari faktor ini. Ada tanda-tanda dimana, mulai timbulstrategi baru sebagi tandingan suku bunga negatif yaitu: hebat semua bentuk valuta fisik dari peredaran dan menghilangkankannya sama sekali.

Nantinya hanya setiap individu masyarakat yang dianggap tak patuh pada kebijakan ini, bakal dengan mudah diidentifikasi, sebelum dimasukkan ke daftar hitam dimana yang bersangkutan tak dapat lagi meperbuat transaksi ekonomi apapun.

Baik Buiter maupun Rogoff, keduanya mempunyai latar belakang akademisi dan bukan praktisi. Mereka percaya bahwa menekan suku bunga ialah satu-satunya “jalan menuju Roma”. Menurut mereka juga, apabila uang tak ada lagi, pemerintah sebuah negara tetap dapat menerapkan kebijakan suku bunga nol dan dalam waktu bersamaan tetap dapat mendapatkan stimulus moneter yang dibutuhkan.

Alasan yang aneh sebenarnya. Tapi begitulah akademisi yang rutin bersandar pada teori ekonomi, yang sayangnya kali ini telah menjadi celana tua, atau usang. Apabila semua masalah ekonomi ditangani dengan cara “Text Book Theraphy”, maka masalah tak kunjung berakhir sebab penangananya salah.

Tetapi bagaimanapun juga, dunia wajib bersiap apabila akhirnya ide Buiter dan Rogoff nyatanya terbukti diimplementasikan. Dapat jadi terbukti kami sedang menuju ke sistem pemerintahan tunggal –one world order-, dimana pada akhirnya semua dikontrol oleh satu mega sistem, dan satu tahta pemerintahan dunia.

"Letak genggaman dunia sudah ada di micro chip"


***************************************************************



CHIP IMPLAN DATANG, SELAMAT TINGGAL KARTU GESEK





Chip ini berukuran sebesar butir beras, dan dapat ditanamkan di antara ibu jari dan telunjuk. (Doc: unbolden26rssing.com)

Pernahkah Anda terpikirkan bahwa untuk membuka pintu kantor, mengambil uang di mesin ATM, membeli makanan atau buku, menyalakan ponsel pintar atau bahkan menyalakan mobil tak lagi menggunakan kartu, nomor PIN, atau kunci? Sekarang semuanya bisa dilakukan tanpa harus menggunakan alat-alat itu.

Sebuah kelompok penelitian dari Swedia bernama BioNyfiken membuktika untuk melakukan semua itu kini cukup hanya dengan menyentuhkan tangan ke objek yang diinginkan. Namun, Anda sebelumnya harus menanamkan chip di tangan Anda yang dapat menggantikan fungsi kartu, kunci, dan nomor PIN atau password.

BioNyfiken memulai penelitian chip implan sejak 2013. Chip yang terbuat dari kaca ini pertama kali ditanam di tubuh manusia pada Oktober 2014. Chip ini berukuran sebesar butir beras, dan dapat ditanamkan di tangan, tepatnya di antara ibu jari dan telunjuk.
Chip implan ini kemudian dikembangkan dan diperkenalkan oleh Kaspersky pada ajang IFA 2015 yang diselenggarakan pada September lalu di Berlin, Jerman.
Kini, lewat ketiga orang petingginya, Sergey Lozhkin, Rainer Bock, dan pendiri BioNyfiken, Hannes Sjoblad, Kaspersky Lab kembali memperkenalkan inovasinya tersebut Cyber Security Summit Apac 2015 di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia akhir pekan lalu. Apa saja kelebihannya? 


1. Tanpa Rasa Sakit

Berbicara di depan peserta pertemuan yang digagas Kaspersky Lab itu, Hannes Sjoblad mengatakan bahwa penggunaan chip ini sudah diujicobakan kepada lebih dari seratus orang, dan hasilnya memuaskan.

"Ini akan membantu kita mengatasi rumitnya menghapal kode angka atau huruf terkait banyaknya keperluan sehari-hari," kata Sjoblad yang mengaku juga telah memasang chip di tubuhnya.

Dia kemudian mendemonstrasikan penanaman chip ke tubuh salah seorang relawan. Karena ukuran chip yang tergolong sangat kecil, Sjoblad menjamin tak akan ada rasa sakit serta komplikasi lainnya karena chip terbuat dari kaca.

Dan benar saja, melalui proses yang singkat, chip implan pun terpasang di bawah kulit tangan si relawan yang tetap tersenyum sepanjang proses pemasangan dilakukan. Usai pemasangan, chip yang sudah tertanam pun bisa diraba dari luar oleh peserta pertemuan.

Menurut Sjoblad, chip ini menggunakan teknologi Near Field Communication (NFC) dengan spesifikasi 2x2 mm glass-encapsuled passive 13.56 MHz NTAG216 Chip, sehingga chip dapat berkomunikasi dengan segala alat yang juga memanfaatkan NFC.

"Dengan chip ini, Anda bisa membuka akses pintu kantor serta aktivitas lainnya. Bukankah akan lebih mudah hanya dengan menyentuhkan tangan?" ujarnya.


2. Jadi Alat Pemindai

Untuk membuktikan itu, Rainer Bock, Corporate Communications Kaspersky, produsen piranti lunak antivirus dari Rusia yang sudah cukup lama memasang chip implan di tangannya, mendemonstrasikan kehandalan piranti yang tanpa kedaluwarsa ini.

Dia mendekatkan ponsel pintar miliknya yang dalam kondisi off ke bagian tangan yang ditanami chip. Hanya dalam hitungan detik, layar ponsel pintar yang tadinya gelap langsung menyala dan menampilkan agenda harian Bock.

"Selama saya memakai chip ini tak ada keluhan dan tak ada rasa sakit. Bahkan, hingga kini chip implan juga belum terbukti punya efek samping terhadap mereka yang punya penyakit bawaan," jelas Bock dalam perbincangan dengan para jurnalis dari Indonesia.

Ke depannya, chip yang dijual dengan harga sekitar US$ 90 ini juga bisa dimanfaatkan para penggunanya sebagai pengganti kartu nama yang biasanya dicetak di kertas.

Seorang pengguna dapat memprogram chip implan ini dengan teknologi NFC di ponsel pintar untuk menyimpan paket kontak, mulai dari nama, jabatan, perusahaan, nomor seluler, dan email.

Dengan begitu, jika ada sebuah ponsel pintar yang memindai pergelangan tangan seseorang yang telah memakai chip implan, ia bisa mendapatkan kontak orang tersebut tanpa perlu lagi meminta kartu nama.

Sedangkan untuk jangka panjang, penelitian bio teknologi BioNyfiken diarahkan agar chip implan ini juga bisa menjadi alat pembayaran, memonitor kesehatan, sampai penggantipassword email. 



Note:


Bagi semua kalangan please waspadalah! microchip bukan hanya sekedar kemajuan teknologi dunia tanpa batas karena dibalik semua kebaikan dan kemudahan yang ditawarkan adalah sebaliknya yang berupa penyesatan terselubung yang bertujuan untuk menyesatkan manusia menuju kebinasaan kekal karena menerima tanda binatang ini, jangan terlena dengan penampilan yang meyakinkan, tolak memakai implan microchip ini!! please terimalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamatmu yang Hidup, tetaplah berdoa dan berjaga-jaga di akhir jaman..dihari-hari yang makin jahat ini. Tuhan Yesus memberkati!



WAHYU 13 : 16 – 18 AKAN TERGENAPI “ MICROCHIP 666”



Lihat Video di Youtube:


Man gets RFID Microchip In America


https://youtu.be/ltOkrap1XyM


RFID Chip Implant Party in Paris, France 06132015

https://youtu.be/gJoVXhuuQoc


Microchip 666 Antikris


https://youtu.be/2utWMcyZz_c



Tanda binatang


https://youtu.be/63R5S7Xfugs



Please share this to others!!


*********************************************************

RAPAT RAHASIA LONDON: BERAKHIRNYA ERA PENGGUNAAN UANG TUNAI, DATANGNYA ERA MICROCHIP


Bayangkan sebuah konsep dunia tanpa mata uang fisik. Hal ini aneh, tetapi nyata. 

Uang akan dihilangkan dan diganti dengan sistem mata uang digital. Jika seseorang kedapatan membawa uang tunai, maka dalam hitungan detik, uang yang dibawa akan disita tanpa kompensasi apapun. Intinya, di dunia ini tidak ada lagi uang. Semuanya serba digital atau melalui penggunaan micro chip.

Saat ini Eropa sementara menuju ke dalam sistem yang dijuluki sebagai “The New Age Of Economic Totalitarianism”

Dengan negara-negara Eropa kini terpuruk setelah dihantam krisis moneter, Bank Sentral Eropa mencoba untuk menyusun sebuah kebijakan yang katanya, akan diimplementasikan untuk mencegah industry perbankan terjun bebas ke dalam jurang kehancuran. Satu-satunya cara adalah mencegah masyarakat melakukan penarikan uang tunai, dalam situasi dan keadaan apapun. Berawal dari sinilah, ide untuk menghapus uang fisik pertama kali diwacanakan.

Akhir Mei 2015, bertempat di London Inggris, perwakilan Bank of England, Federal Reserve,Bank Sentral Swiss dan Bank Sentral Denmark, menggelar sebuah pertemuan rahasia. Disebut rahasia, karena memang demikian sifatnya. Tidak ada liputan satupun media terkait pertemuan tersebut. Adapun agenda tunggal yang diusung adalah bagaimana mempercepat implementasi penghapusan uang tunai, untuk kemudian digantikan dengan digital currency.

Adalah Martin Armstrong, yang menjadi whistle blower pertemuan ini, meski kemudian “nyanyian” Armstrong sepi peminat. Ia adalah pakar ekonomi yang berhasil memprediksi dengan tepat, terjadinya krisis ekonomi dahsyat yang dikenal dengan sebutan “The Black Monday Crash 1987”, serta krisis moneter yang mengguncang Rusia tahun 1998 silam.

Kembali ke pertemuan rahasia London, jelas ada keangehan. Kenapa sebuah kebijakan ekonomi ataupun moneter, tidak diumumkan secara terbuka, tetapi malah dibahas dalam sebuah pertemuan rahasia.

Kenneth Rogoff dari Harvard University dan Willem Buiter selaku direktur ekonomi Citigrup, merupakan dua sosok penting dalam rapat tersebut. Merekalah yang membawakan presentasi di depan para elit bank sentral, mengenai “pentingnya” kebijakan cashless society.

Jika kebijakan ini jadi diberlakukan, maka semua transaksi jual beli harus terlebih dahulu mendapat persetujuan pemerintah. Tanpa adanya lampu hijau dari otoritas setempat, maka setiap warga negara tidak diperbolehkan membeli ataupun menjual.

Menurut Willem Buiter, jika uang fisik tidak lagi digunakan maka persoalan Bank Sentral di seluruh dunia tentang suku bunga negatif, akan otomatis terpecahkan.

Sementara itu, Kenneth Rogoff mengatakan bahwa penghapusan uang fisik dibuat untuk menghindari berbagai kejahatan, terkait dengan penggelapan pajak dan transaksi-transaksi keuangan illegal lain. Di samping itu, tidak akan terjadi lagi penarikan dana tunai besar-besaran ketika suku bunga mendekati nol.

Tidak jauh berbeda dengan kedua tokoh ekonomi tersebut, mantan ekonom Bank of England,Jim Leaviss, juga menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar London Telegraph.Dalam tulisannya, Leaviss mengatakan “Masyarakat Tanpa Uang”, hanya bisa direalisasikan jika bank-bank pemerintah di seluruh dunia memaksa masyarakat untuk masuk ke dalam sistem ini dengan kewenangan yang mereka miliki.

Saat ini beberapa bank-bank besar di Amerika dan Inggris telah menerapkan kebijakan ketat terkait penarikan atau penyetoran dana tunai dalam jumlah besar. Berbagai laporan muncul sepanjang bulan Maret 2015, dimana Departemen Kehakiman Amerika mengeluarkan fatwa kepada industry perbankan, untuk segera melapor kepada polisi, jika ada penarikan dana tunai lebih dari 5000 US Dolar.

Sementara itu di Perancis, kebijakan baru akan segera diberlakukan mulai September mendatang yang akan membatasi warga Perancis tidak boleh membayar tunai di atas 1000 Euro. Nantinya akan ada Polisi Keuangan, yang menegakkan undang-undang baru tersebut. Mereka memiliki kewenangan untuk menggeledah penumpang kereta api yang bukan warga Perancis, kemudian memeriksa apakah orang yang dicurigai membawa uang tunai dalam jumlah besar. Jika kedapatan, maka uang tersebut akan langsung disita.

Kalau dicermati, maka kebijakan ini jelas merenggut kebebasan orang per orang, sehingga lebih menyerupai penjajahan ekonomi (economic totalitarianism), ketimbang kebijakan yang membantu dunia perbankan, dalam meminimalisasi berbagai tindak kejahatan ekonomi.

JP Morgan Chase, belum lama ini mengirimkan surat kepada setiap nasabah yang memiliki dana besar, dimana dalam surat itu dijelaskan bahwa JP Morgan Chase, tidak lagi tertarik dengan dana-dana yang didepositokan. Tidak hanya itu saja, pihak bank menegaskan bahwa mulai 1 Mei 2015, setiap nasabah dengan jumlah deposito besar akan dikenakkan denda tahunan sebesar 1 % dari jumlah total deposito yang mereka simpan. Adapun denda tersebut, disebutkan sebagai biaya administrasi.

Sederhananya, deposito akan dikenakan suku bunga negatif. Alih-alih memperoleh untung, nasabah malah bisa kehilangan uangnya jika terus menerus diendapkan di dalam bank.

Hasilnya sangat jelas. Semua nasabah –kebanyakan di antarany adalah institusi keuangan-, akhirnya memindahkan deposito mereka dari JP Morgan Chase. Tujuan kebijakan ini adalah “membuang” dana sejumlah 100 miliar US dolar, dari bank tersebut. Alhasil, JP Morgan Chase disinyalir telah berhasil membuang 20% dari 100 miliar US dolar seperti yang ditargetkan.

Mari kita berhenti sejenak dan berpikir. Tidakkah langkah JP Morgan Chase ini aneh bin ajaib?

Normalnya, semua bank selalu menawarkan bunga kepada nasabah. Namun kenyataannya adalah, saat ini dunia sedang memasuki era baru keuangan yang disebut “surplus era”.

Beberapa bulan terakhir, apa yang disebut “Suku Bunga Negatif” sedang terjadi di dalam industry perbankan Eropa.
Bank Sentral Eropa (ECB) saat ini tengah berjuang supaya bisa bertahan. Bunga deposito hanya dipatok pada angka 0,2 %.

Sementara itu Bank Sentral Swiss yang sedang cemas dengan terus menguatnya Swiss Franc bisa membahayakan neraca perdagangan negara itu, menetapkan bunga deposito sebesar 0,75%.

Tanggal 21 April 2015, untuk pertama kalinya dalam sejarah, rate Euribor –Euro interbank offered-, berada pada angka negatif. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan industry perbankan dari jurang kebangkrutan, adalah menerapkan kebijakan bunga deposito negatif atau di bawah nol.

Sebetulnya bukan hal aneh dengan suku bunga negatif, apalagi jika itu dilakukan supaya suku bunga berada di bawah angka inflasi. Jika sebuah bank menekan suku bunga di bawah angka laju inflasi untuk menstimulasi pertumbuhan, maka nasabah akan diuntungkan. Pinjaman akan menjadi lebih murah.

Persoalannya akan menjadi sangat aneh, jika kemudian suku bunga dibuat jadi negatif, tanpa terlebih dahulu menghitung laju inflasi. Inilah yang tengah terjadi saat ini di Eropa. Secara teori, menetapkan suku bunga negatif hanya akan membuat nasabah memindahkan deposito mereka ke tempat lain yang menawarkan bunga menguntungkan. Atau bahkan bisa saja, orang-orang akan kembali ke cara kuno yaitu menyimpan uang di bawah kasur, supaya tidak membayar penalty atas uang yang mereka depositokan.

Bagi yang senang “bermain dengan bahaya”, fenomena ini mungkin hal biasa. Investor bisa mengambil resiko dengan membeli saham jika mereka yakin, bahwa suku bunga akan terus turun. Toh, jika turun, maka saham bisa dijual kembali, dengan keuntungan yang sudah jelas di depan mata. Beli di atas, jual di bawah. Sementara investor global juga akan “rela” menaruh uang mereka pada obligasi negatif suatu negara, dengan berbekal keyakinan bahwa nilai mata uang negara tersebut bisa kembali rebound.

Tapi sekarang perhatikan bagian yang paling menarik dari hal ini. Ada tanda-tanda dimana, mulai muncul strategi baru sebagi tandingan suku bunga negatif yaitu: menarik semua bentuk mata uang fisik dari peredaran dan menghapuskannya sama sekali.

Nantinya hanya setiap individu masyarakat yang dianggap tidak patuh pada kebijakan ini, akan dengan mudah diidentifikasi, sebelum dimasukkan ke daftar hitam dimana yang bersangkutan tidak bisa lagi melakukan transaksi ekonomi apapun.

Baik Buiter maupun Rogoff, keduanya memiliki latar belakang akademisi dan bukan praktisi. Mereka percaya bahwa menekan suku bunga adalah satu-satunya “jalan menuju Roma”. Menurut mereka juga, jika uang tidak ada lagi, pemerintah sebuah negara masih bisa menerapkan kebijakan suku bunga nol dan dalam waktu bersamaan tetap bisa memperoleh stimulus moneter yang dibutuhkan.

Alasan yang aneh sebetulnya. Tapi begitulah akademisi yang selalu bersandar pada teori ekonomi, yang sayangnya hari ini sudah menjadi celana tua, alias usang. Jika semua persoalan ekonomi ditangani secara “Text Book Theraphy”, maka persoalan tidak kunjung selesai karena penangananya salah.

Namun bagaimanapun juga, dunia harus bersiap jika akhirnya ide Buiter dan Rogoff ternyata memang diimplementasikan. Bisa jadi memang kita sedang menuju ke sistem pemerintahan tunggal –one world order-, dimana pada akhirnya semua dikontrol oleh satu mega sistem, serta satu tahta pemerintahan dunia.

Itu berarti ekonomi dan keuangan, berjalan satu langkah lebih dekat ke arah Lembah Armageddon.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?