Senin, 31 Juli 2017

SEMPAT DI TUTUP SEBELUMNYA KINI WARGA PELESTINA KEMBALI BISA SHALAT DI MASJID AL-AQSA





Warga Palestina kembali bisa masuk ke Harm al Sharif (atau Temple Mount) setelah militer Israel membongkar peralatan keamanan di kompleks ini.

ISRAEL– Warga Palestina untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir bisa melalukan salat di Masjid Al Aqsa, yang berada di kompleks tempat suci Harm al Sharif, yang bagi pemeluk Yahudi biasa disebut Temple Mount.

Dalam dua pekan ini aparat keamanan Israel memasang detektor logam dan kamera pengawas, menyusul tewasnya dua polisi mereka di kompleks ini. Israel menyebutkan langkah ini perlu untuk mencegah penyelundupan senjata.

Namun, bagi warga Palestina pemasangan kamera dan detektor ‘menghalangi akses mereka terhadap Masjid Al Aqsa’ dan menuduh Israel ‘berupaya menambah kontrol atas tempat suci ini’.

Untuk memprotes tindakan aparat keamanan Israel, warga Palestina salat di jalan-jalan di sekitar kawasan suci yang berada di Kota Lama di Jerusalem Timur tersebut.

Israel sudah membongkar peralatan tersebut dan yang terakhir dilakukan hari Kamis (27/07), yang langsung disambut warga Palestina dengan beramai-ramai memasuki Harm al Sharif.

Mereka menari dan meneriakkan Allahu Akbar (Allah Mahabesar) di jalan-jakan di sekitar Harm al Sharif sebelum melaksanakan salat Asar.

Dilaporkan terjadi bentrokan ketika polisi mencoba mengontrol massa dengan menembakkan gas air mata. Menurut Bulan Sabit Merah Palestina sejumlah warga mengalami luka-luka.

Polisi Israel mengatakan mereka harus bertindak karena massa melempar batu ke arah beberapa pintu masuk Harm al Sharif.

Isu ‘paling pelik’

Ketegangan terbaru yang dipicu oleh tewasnya dua polisi dan pemasangan peralatan keamanan memicu kekhawatiran masyarakat internasional. Utusan PBB untuk Timur Tengah, Nikolay Mladenov, memperingatkan ketegangan harus diakhiri sebelum salat Jumat pekan ini, kalau tidak sengketa akan makin meningkat dan bisa memicu ketegangan di seluruh negara Muslim.

Sejauh ini belum ada keterangan resmi tentang pembongkaran perlengkapan keamanan di kompleks Harm al Sharif.

Namun Menteri Pendidikan, Naftali Bennett, yang juga rival Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam pembongkaran tersebut.

“Israel sangat lemah dalam krisis ini,” kata Bennett kepada Radio Angkatan Darat Israel. “Mestinya Israel harus mengirim pesat bahwa Israel punya kedaulatan atas Temple Mount. Justru yang dilakukan adalah kedaulatan Israel atas tempat bisa dipertanyakan.”

Kontrol terhadap Jerusalem Timur -yang dikusasi Israel sejak Perang Timur Tengah pada 1967- adalah salah satu isu paling pelik dalam konflik Israel-Palestina.

Israel mengklaim kedaulatan atas seluruh wilayah Jerusalem, yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.

Palestina sementara itu ingin menjadikan Jerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan. (BBC)


https://www.ucnews.id/news/Warga-Palestina-Kembali-Bisa-Salat-di-Masjid-Al-Aqsa/2252540535935568.html

************


Israel Pasang Detektor Logam dan Kamera Kemanan di Al-Aqsa, Ini Kata Ulama Muslim Yerussalem




Riau24.com- Seorang pejabat Muslim senior di Yerusalem mengatakan hari Rabu 26 Juli 2017 bahwa para jemaah Muslim tidak akan kembali ke komplek masjid Al-Aqsa yang diperebutkan sampai Israel memindahkan barikade dan kamera keamanan yang dipasangnya setelah serangan mematikan di sana, memperpanjang sebuah krisis yang menurut Israel telah diselesaikan dengan membuat konsesi di lokasi tersebut.

Ikrema Sabri, Ketua Komite Islam Tertinggi Yerusalem, dilansir voaindonesia, Kamis 27 Juli 2017 mengatakan bahwa setelah Israel membongkar detektor logam dari pintu masuk Al-Aqsa, diperlukan langkah lebih banyak untuk memulihkan ketenangan. Dia mengatakan bahwa demonstrasi dengan shalat berjamaah secara massal akan terus berlanjut sampai pintu gerbang komplek Al-Aqsa dibuka, pagar logam dan barikade dibongkar serta kamera keamanan yang baru saja dipasang dilepas.

Menurut Sabri, seorang pengacara yang bekerja atas nama pengelola Muslim di situs suci tersebut akan menghubungi polisi Israel mengenai tuntutan tersebut.

Namun, ia juga menegaskan, "Kami tidak akan masuk masjid sampai hal-hal tersebut dipenuhi," kata Sabri kepada kantor berita Associated Press.

"Sekarang kita sedang menunggu tanggapan dari polisi Israel," imbuhnya.

Tuntutan tersebut memicu kemungkinan terjadinya bentrokan baru menjelang pelaksanaan sholat Jumat di lokasi tersebut, ketika sejumlah besar kaum Muslim akan berdatangan ke tempat suci ini untuk melakukan ibadah sholat Jumat.

Israel menerapkan langkah-langkah keamanan baru pada awal bulan ini setelah beberapa orang Arab bersenjata menembak dan membunuh dua petugas polisi dari dalam lokasi tempat suci tersebut. Polisi Israel mengatakan bahwa mereka perlu melakukan pengamanan baru untuk mencegah lebih banyak serangan, sementara warga Palestina mengklaim bahwa Israel berusaha memperluas kontrolnya atas situs suci tersebut. Isu tersebut memicu beberapa bentrokan di jalanan terburuk dalam beberapa tahun dan berisiko menarik Israel ke dalam konflik dengan negara-negara Arab dan Muslim lainnya.

Israel Membongkar Detektor Logam tapi Tidak Cukup

Polisi Israel membongkar detektor logam yang dipasang di luar Masjid al-Aqsa, Selasa 25 Juli 2017. Namun, ummat Muslim mengatakan bahwa langkah Israel ini belum cukup.

​Di bawah tekanan yang menguat, polisi Israel akhirnya membongkar alat pemindai logam dan mengatakan bahwa sebagai gantinya mereka berencana untuk memasang kamera keamanan yang canggih.

Namun, politisi Palestina dan ulama Muslim mengatakan bahwa pembongkaran detektor logam itu tidak cukup dan menuntut Israel untuk mengembalikan situasi di situs suci Kota Tua Yerusalem seperti kondisi semula, yaitu sebelum terjadinya serangan mematikan tanggal 14 Juli lalu.

Sebagai tanggapan atas serangan maut tersebut, Israel menutup komplek masjid Al-Aqsa selama dua hari untuk melakukan pencarian senjata dan memasang detektor logam. Keputusan Israel tersebut dengan cepat memicu protes Muslim di tengah beredarnya isu bahwa Israel berusaha memperluas kontrolnya atas lokasi suci bagi Muslim tersebut dengan berkedok isu keamanan, klaim yang dengan tegas ditolak oleh Israel.

Kompleks situs suci seluas 15 hektar, yang oleh ummat Muslim dikenal sebagai Tempat Suci yang Mulia (al-Haram ash-Sharīf) sementara bagi ummat Yahudi disebut sebagai Bait Allah atau Temple Mount, merupakan sumber utama terjadinya konfrontasi besar antara kedua belah pihak pada masa-masa lalu.

Wartawan Dilarang Meliput di Lokasi Tempat Suci

Sementara itu, para wartawan pekan ini telah mengeluh bahwa mereka dilarang meliput kerusuhan di sekitar Masjid Al Aqsa, sementara para wisatawan justru bebas bergerak di kota tua itu dan bebas mengambil gambar dengan ponsel mereka.

Juru bicara polisi Israel Micky Rosenfeld hari Rabu 26 Juli 2017 mengatakan bahwa “wartawan dilarang datang ke lokasi-lokasi tertentu di mana terjadi kerusuhan dan gangguan keamanan.” Menurut Rosenfeld, keputusan itu dibuat oleh kepolisian distrik Yerusalem.

Asosiasi Wartawan Asing (FPA) mencemooh langkah Israel tersebut dan mengatakan, bahwa "larangan ini semacam penyensoran inovatif yang mengejutkan di negara yang membanggakan kebebasan persnya."

Israel dan Turki Saling Lempar Kecaman

Israel juga telah terlibat perseteruan baru dengan Turki, setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan termasuk di antara mereka yang mengeluarkan kritik paling keras terhadap Israel. Pada hari Selasa (25/7), Erdogan menuduh Israel menggunakan tindakan keamanan sebagai dalih untuk mengambil alih tempat-tempat suci di Yerusalem.

Kementerian luar negeri Israel menanggapi dengan menyebut komentar Erdogan tersebut "delusional, tidak berdasar dan bias."

"Masa-masa Kekaisaran Ottoman sudah berakhir," kata pernyataan itu. "Dia (Erdogan) yang tinggal di "istana kaca" akan lebih baik jika tidak (ikut) melemparkan batu."

Kantor Netanyahu juga menimpali dengan mengatakan bahwa ia ingin tahu apa yang akan Erdogan katakan kepada warga etnis Kurdi dan penduduk Siprus utara. "Erdogan adalah orang terakhir yang bisa mengkhotbahi Israel," demikian pernyataan tersebut.

Pada hari Rabu, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut pernyataan-pernyataan Israel itu sebagai "arogan".


https://www.ucnews.id/news/Israel-Pasang-Detektor-Logam-dan-Kamera-Kemanan-di-AlAqsa-Ini-Kata-Ulama-Muslim-Yerussalem/2562681688463237.html


***********************


Bela Masjid Al Aqsa, Muslim dan Kristen Palestina Kompak Berunjuk Rasa





Riau24.com- Keprihatinan terhadap krisis Masjid Al Aqsa tidak hanya milik Muslim di Palestina, tetapi juga umat Kristiani. Puluhan umat Kristen dan Islam Palestina berunjuk rasa di depan Gereja Kelahiran Yesus di Betlehem, Tepi Barat, untuk memprotes aksi Israel di Masjid Al Aqsa, Yerusalem.

“Hari ini kami berdiri di depan Gereja Kelahiran Kristus, yang tidak lain adalah tempat kelahiran Yesus Kristus, untuk menunjukkan tidak ada perbedaan antara Masjid Al Aqsa dengan Gereja Makam Suci,” ujar juru bicara Kaukus Pemuda Ortodoks Arab, Jalal Barham, dinukil dari Middle East Monitor, kemudian di kutip Okezone Selasa 25 Juli 2017.

Unjuk rasa diadakan pada Senin 24 Juli 2017 untuk memprotes pemasangan detektor logam di pintu masuk kompleks Masjid Al Aqsa. Jalal menegaskan, seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan di pintu masuk antara Masjid Al Aqsa dan gereja-gereja di kompleks Makam Suci Yerusalem.

“Tidak ada bedanya antara gerbang Masjid Al Aqsa dengan gerbang Gereja Makam Suci dan Gereja Kelahiran Yesus. Kami menegaskan bahwa kita adalah satu, dan sejarah kita adalah satu, Muslim dan Kristen. Orang-orang tidak akan menerima hal tersebut. Kami akan terus berjuang untuk kebebasan dan martabat kesucian Islam dan Kristen,” tukas Jalal Barham.

Warga Palestina di Yerusalem masih menolak untuk masuk ke dalam area Masjid Al Aqsa sejak detektor logam dipasang pada Minggu 16 Juli 2017. Muslim Palestina bahkan menunaikan ibadah salat Jumat pada pekan lalu di depan detektor logam yang dijaga ketat pasukan keamanan Israel.

Israel akhirnya mencabut detektor logam tersebut sejak Senin malam waktu setempat sesuai keputusan rapat menteri kabinet. Meski demikian, Israel tetap melakukan langkah pengamanan dengan memasang kamera pengawas canggih di sekitar jalan-jalan yang menuju Masjid Al Aqsa.(***)


https://www.ucnews.id/news/Bela-Masjid-Al-Aqsa-Muslim-dan-Kristen-Palestina-Kompak-Berunjuk-Rasa/1734248617751098.html


*****************


CCTV Israel di Masjid Al Aqsa Lebih Berbahaya dari Detektor Logam




Bentrokan di kawasan Masjid Al Aqsa (Aljazeera.com)


Solopos.com, YERUSALEM – Warga muslim di Palestina terus melakukan protes kepada pemerintah Israel terkait pengamanan di Masjid Al Aqsa, Yerusalem yang dinilai berlebihan. Tindakan itu dilakukan sebagai upaya penolakan pemasangan kamera pengintai alias closed circuit television (CCTV) di kompleks Masjid Al Aqsa.

CCTV itu merupakan pengganti detektor logam yang sebelumnya dipasang di pintu masuk Masjid Al Aqsa. Bukan tanpa alasan, alat tersebut sengaja dipasang agar Israel bisa mengawasi setiap orang yang masuk ke masjid. Sayangnya, tindakan itu kembali menuai protes lantaran dianggap mengganggu ibadah.

“Terlepas dari segala konflik yang terjadi, ini masalah kontrol dan kekuasaan. Kami rasa, mereka sengaja memasang CCTV untuk memata-matai kami,” kata seorang aktivis Palestina, Mohammad Abu Al Hommos seperti dikutip Solopos.com dari Al Jazeera, Kamis (27/7/2017).

Abu Al Hommos menambahkan, pemasangan CCTV itu melanggar hak pribadi jemaah yang ingin beribadah. Padahal, selama ini negara memberi kebebasan bagi semua umat beragama untuk menjalankan ibadah masing-masing.

“Saya ingin masuk dan keluar Masjid Al Aqsa dengan bebas. Kenapa mereka ingin mengintip kami yang sedang beribadah? Ini jelas melanggar hak pribadi. Kami tentu akan terus menolak hal itu sampai hak kami dipenuhi,” sambung dia.

Pemasangan CCTV ini dilakukan beberapa hari setelah sidang kabinet Israel yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Menurut Netanyahu, pihaknya sepakat memasang alat keamanan super canggih sebagai penggenti detektor logam sesuai saran dari Badan Keamanan Israel.

Pernyataan resmi dari kabinet Israel menerangkan, pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar 100 juta shekel (setara Rp373 miliar) untuk membeli peralatan pengawasan dan penambahan polisi yang bertugas. Pemasangan alat ini kabarnya membutuhkan waktu sekitar enam bulan.

Menurut seorang pakar politik Palestina, Khalil Shaheen, CCTV ini merupakan ancaman besar. Menurutnya, alat yang dipasang di kawasan suci itu dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Kamera ini bisa mendeteksi wajah dan identitas seseorang. Hal ini berarti Israel memberlakukan kontrol penuh atas wilayah Masjid Al Aqsa. Peran Yordania dan Palestina seolah menjadi tidak penting. Hal inilah yang membuat CCTV lebih berbahaya dari detektor logam,” kata Shaheen.

Sementara menurut pakar hukum Israel, Usama Halabi, kehadiran CCTV itu bukan hanya sebagai alat pengawasan keamanan. Alat ini juga berfungsi memudahkan kinerja intelejen. “Kamera itu terkoneksi dengan sistem komputer. Misalnya, ketika wajahku terdeteksi, orang-orang di kantor intelejen bisa langsung melihat identitasku dengan lengkap,” terang Usama Halabi.

https://www.ucnews.id/news/CCTV-Israel-di-Masjid-Al-Aqsa-Lebih-Berbahaya-dari-Detektor-Logam/222154757948704.html


*************


Sempat Dibuka, Israel Kembali Larang Pemuda Masuk ke Masjid Al Aqsa




Ribuan muslim salat di luar Masjid Al Aqsa (JIBI/Reuters/Muammar Jamel Awad)


Solopos.com, YERUSALEM – Warga muslim Palestina akhirnya bisa kembali beribadah di Masjid AL Aqsa, Yerusalem, Kamis (27/7/2017). Polisi Israel mencopot detektor logam yang sempat dipasang dipintu masuk masjid.

“Semuanya sudah kembali normal. Detektor logam yang dipasang polisi Israel telah dilepas. Akhirnya kami bisa beribadah kembali dengan tenang,” kata Amjad Idris, seorang muslim Palestina seperti dilansir New York Times.

Sayangnya, kebebasan beribadah itu tak berlangsung lama. Pada Jumat (28/7/2017) hari ini, polisi Israel kembali memperketat pengamanan. Mereka kembali melarang pria berusia di bawah 50 tahun salat Jumat di tempat tersebut.

“Kami melarang pria berusia di bawah 50 tahun salat Jumat di masjid. Larangan ini tak berlaku bagi kaum wanita,” kata juru bicara Kepolisian Isreal, Micky Rosenfeld, seperti dilansir The Independent.

Larangan itu kembali diberlakukan setelah terjadi bentrokan antara warga Palestina dan polisi Israel, Kamis malam. Bentrokan ini terjadi saat ribuan muslim Palestina masuk ke masjid untuk mengakhiri sengketa. Sayangnya, kejadian itu malah kembali menyulut emosi Israel hingga kembali memperketat pengamanan.

Seperti diketahui, dua pekan sudah warga Palestina tak bisa beribadah dengan bebas di Masjid Al Aqsa. Pasalnya, polisi Israel memperketat di wilayah tersebut sejak Jumat (14/7/2017). Keputusan itu diambil seusai dua polisi Israel yang tengah berjaga tewas secara misterius. Mereka menduga kematian dua polisi itu disebabkan oleh serangan pemuda Palestina. Alhasil, mereka melakukan berbagai cara guna menjaga keamanan di tempat suci itu.

Sayangnya, keputusan Israel memperketat pengamanan justru menyulut amarah muslim Palestina. Mereka menilai Israel telah melanggar hak mereka serta perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Namun, meski mendapat banyak kecaman, Israel tetap melakukan tindakan itu. Bahkan, baru-baru ini pemerintah Israel berencana memasang kamera pengawas super canggih di kawasan masjid.


https://www.ucnews.id/news/Sempat-Dibuka-Israel-Kembali-Larang-Pemuda-Masuk-ke-Masjid-Al-Aqsa/2300999218971493.html


**************


Ribuan Muslim Mendesak Masuk Al-Aqsa, 113 Orang Terluka




Ribuan orang mendesak masuk ke komplek Al-Aqsa. (reuters)


YERUSALEM – Kekisruhan antara warga Palestina dan polisi Israel kembali terjadi di komplek Masjid Al-Aqsa. Kekacauan terjadi setelah ribuan orang mendesak untuk masuk ke areal masjid setelah pintu gerbangnya kembali dibuka oleh aparat keamanan Israel.

Reuters melansir, Jumat (28/7/2017), setidaknya 113 orang mengalami luka-luka dalam kejadian ini. Polisi Israel sempat menggunakan granat untuk mengontrol situasi, dan meningkatkan pengamanan.

“Kami akan mengorbankan diri kami untuk Al Aqsa!,” ungkap suara massa yang mendesak masuk.

Beberapa pemuda ditangkap setelah mencoba naik ke atap masjid untuk menancapkan bendera Palestina.

Aparat keamanan sempat memasang detektor logam pasca kematian dua polisi Israel di sekitar komplek Masjid Al-Aqsa. Hal ini memicu kemarahan warga Palestina hingga menyebabkan bentrok pada akhir pekan lalu yang menyebabkan enam orang tewas.

Hal ini mengundang kemarahan negara-negara muslim dunia. Hingga akhirnya mendesak Israel mencopot detektor logam.

Desakan ini akhirnya dijawab pihak Israel dengan membongkar peralatan pengamanan tersebut. Namun, sebagai gantinya, Israel memasang kamera pengawas di beberapa titik di masjid. Namun, bagi warga Palestina pemasangan kamera tersebut ‘menghalangi akses mereka terhadap Masjid Al Aqsa’ dan menuduh Israel ‘berupaya menambah kontrol atas tempat suci ini’. (embun)


https://www.ucnews.id/news/Ribuan-Muslim-Mendesak-Masuk-AlAqsa-113-Orang-Terluka/2495167037620435.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.