Dalam Dua Bahasa/Bilingual
Dalam beberapa menit lagi, saya melihat seorang yang lain; seorang diaken dari gereja saya, yang meninggal karena radang sendi ketika saya berumur enam belas tahun. Saya mulai merasa bahwa kemungkinan saya juga bisa berada di neraka, bila wanita yang memiliki reputasi tinggi saja bisa berada di sana.
Saya ingat ketika almarhum Mrs. Emily Adeyombo meninggal, gereja kami “Corner Stone Mission” melakukan semua hal untuk menghormatinya atas segala kebaikannya yang mulia yang terus-menerus dilakukan oleh wanita ini. Oleh banyak orang, ia dianggap sebagai penjelmaan dari kebajikan dan kedermawaan. Dia menanggapi kebutuhan teman dan musuh. Layaknya saya tidak pernah menangis dalam hidup saya, air mata mengalir di pipi saya dengan pertanyaan kalau begitu siapa yang bisa diselamatkan?
"Bu. Mengapa Ibu datang ke sini, apakah Ibu kehilangan jalanmu? "Saya dengan tersedu-sedu bertanya. "A-ll-en, demikianlah upah dari roh yang tidak mau mengampuni," jawabnya. " Roh tidak mau mengampuni?". "Tapi Ibu adalah seorang diaken! Yang Ibu maksudkan tidak memaafkan seseorang di dalam atau di luar gereja? "Saya bertanya.
"Ditemukan dalam buku catatan bahwa semua kehidupan saya menyenangkan Allah kecuali kesalahpahaman yang terjadi antara pemimpin paduan suara dan saya. Karena saya lebih tua dari pada dia dan saya mengharapkan dia yang datang dan meminta maaf, setidaknya karena tuntutan kesopanan. Saya berada dalam dendam ini ketika kematian menjemput saya di bulan yang sama, "jelasnya.
Saya tidak tahu saya mulai menangis juga. Kedua mata saya ditutup dalam kesedihan. Saya tidak bisa melihat wanita yang di batu nisannya tertulis: Almarhumah Ibu Emily Adeyombo (Nee beatrice) seorang tentara kristen yang setia, yang dengan berani berjuang untuk tujuan suci; memikul salibnya dan dengan pedang yang terus terhunus. Roh yang lemah lembut mematahkan ikatan kematian ketika engkau dipanggil pulang untuk beristirahat dalam damai yang sempurna sampai saat pagi hari, hari kebangkitan.
Jasadnya tidak dibawa ke pemakaman misi di sisi kiri sementara memasuki kota kami, tetapi dimakamkan di halaman gereja untuk menghormati komitmen kekristenannya yang murni. Di halaman gereja pada Jumat malam saat upacara pemakamannya, pelayan yang bertugas membaca 1 Korintus pasal 15 ayat 39-57 dengan kata-kata perpisahan yang gemilang, "Ibu yang baik, selamat tinggal sampai kita bertemu lagi di tepi sungai kehidupan".
Kami melambaikan tangan kami kepada jasadnya dan sungguh-sungguh menyanyikan dua bait pertama himne yang menyentuh hati ciptaan Alm. J. montgomery (1771-1854) ; ( Himne no. 616 “ Forever with the Lord”)
..... Untuk pemakaman nya: selama-lamanya bersama dengan Tuhan! Amin; jadilah demikian; hidup dari kematian ada dalam kata itu ; keabadian ini. Di sini, di tubuh terpendam, tanpanya berkelana namun memasang tendaku satu hari perjalanan dekat rumah, rumah Bapa-ku di tempat tinggi, rumah jiwaku, begitu dekat melihat pintu gerbang emas muncul! Ah, maka rohku tak berdaya tiba di negeri yang aku kasihi, warisan cemerlang orang-orang kudus, Yerusalem di atas ...!
Tetapi teman-teman, bukannya sungai kehidupan, dia dalam keadaan kelaparan, bahaya dan rasa sakit yang tak terkatakan. Saya menjatuhkan diri dan berusaha untuk berdoa. Tetapi, saya benar-benar tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Karena kengerian ini tetapi sebelum saya membuka mata saya, Ibu Emily sudah pergi. Gelombang api neraka telah menggulungnya dan "menelan" nya seperti Rita. "
Api menjadi lebih panas dari sebelumnya saat ia sedang berbicara. "A-a-ah, o-o-o-o-oh, a-ll-en, tolong bantu saya tolong. Saya telah mengampuni dia di hati saya ", pintanya.
Ibu Emily, ah ... di mana kau, "saya berteriak. "Tuan yang ganas " telah menyapunya menjauh dari pandangan saya. Empat belas tahun telah berlalu dalam keadaan lapar dan haus dan tidak ada kenang-kenangan yang diberikan kepada kegiatan keagamaannya. Ini menjadi menyolok bagi saya bahwa dalam sekejab --- satu dosa saja telah memenuhi syarat untuk seseorang masuk neraka.
Teman-teman, sementara Ibu Emily berada dalam siksaan, haus dan lapar di sisi lain, di sini di dunia di gereja saya sibuk memperingatinya tahun demi tahun. Ini sangat disayangkan.
***********
A WOMAN IN HELL DUE TO UNFORGIVENESS
In a couple of minutes again, I saw another person; a late deaconess of my church, who died of arthritis when I was sixteen. I began to feel that I might soon find my self in hell too, if that woman of high reputation could be there.
I remember that when late Mrs Emily Adeyombo died, my church Corner Stone mission did all within her capacity to appreciate the charity so nobly and constantly practised by this woman. By the masses, she was regarded as an incarnation of virtue and paradigm of philanthropy. She responded to needs of friends and foes. As if I had never cried in my life, tears rolled down my check with the question who can be saved?
“Mum. Why did you come here, did you miss your way?” I sobbingly asked. “A-ll-en, thus is what unforgiving spirit has for me as a reward,” she replied. “Unforgiving spirit?" . "But you were a deaconess! You mean you didn’t forgive somebody inside or outside the church?” I asked.
”It was discovered in the book of record that all my life was pleasant to God except the misunderstanding that happened between the choir master and me. By and large, I was older than he and as such I was expecting him to come and apologize, at least courtesy demands for that. I was in this malice when death struck that same month,” she explained.
The fire became hotter than before as she was talking. “A-a-ah, o-o-o-o-oh , a-ll-en, please help me plead. I have forgiven him in my heart”, she pleaded.
I never knew when I began to cry too. My two eyes were shut in sorrow.
I couldn’t behold the woman on whose tombstone we wrote the epitah: Late Madam Emily Adeyombo (Nee beatrice) a loyal christian soldier, who courageously fought for the holy course; carried her cross and kept the sword unsheathed. Your gentle spirit broke the bond of death when you were called home to rest in perfect peace till the morning of resurrection.
Her remains weren’t taken to the mission cemetery on the left side while entering our town, but was buried in the churchyard in honor of her unalloyed christian commitment. In the churchyard that Friday evening of her burial ceremony, the minister in charge read 1 Corinthians chapter 15 verses 39-57 with resounding farewell words, “Good mother, good bye till we meet again beside the river of life”.
We waved our hands to her remains and solemnly sang the first two stanzas of the heart-touching hymn of Late j. montgomery (1771-1854);
.....For her interment: for ever with the lord! Amen; so let it be; life from the dead is in that word; tis immortality. Here in the body pent, absent from him roam yet nightly pitch my moving tent a day’s march nearer home, my father’s house on high, home of my soul , how near At times to faith’s foreseeing eye thy golden gates appear! Ah, then my spirit faints to reach the land I love, the bright inheritance of saints, Jerusalem above...!
But friends, instead of the river of life, she’s in hunger, peril and untold pain. I dropped down and strove to pray. But, I couldn’t actually say a word. To my awful amazement before I opened my eyes, Madam Emily was gone. The tide of hell had rolled on her and “swallowed” her up like Rita. ”
Madam Emily, ah…where are you,” I shouted. The “savage master” had swept her away from my sight. Fourteen years have passed in hunger and thirst and no remembrance was given to her religious activities. It became glaring to me that in a moment---a sin can qualify one for hell.
Friends, while madam Emily is in torment, thirst and hunger in the other side, here in the world my church is busy -marking her remembrance year by year. It is a pity.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.