animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Minggu, 20 Maret 2016

JIKA KESELAMATAN TERJAMIN KEKAL, TETAPI MENGAPA ALKITAB DENGAN TEGAS MENPERINGATKAN KITA TENTANG KEMURTATAN?




Pertanyaan: Kalau keselamatan kita terjamin secara kekal, mengapa Alkitab begitu tegas memperingatkan kita tentang kemurtadan?

Jawaban: Alkitab memperingatkan kita dengan begitu tegas soal kemurtadan karena pertobatan sejati diukur berdasarkan buah yang nyata. 

Ketika Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang di Sungai Yordan, dia memperingatkan mereka yang menganggap diri mereka benar untuk “menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:7). 

Yesus mengingatkan mereka yang mendengarkan Dia ketika memberikan Khotbah Di Bukit bahwa pohon dikenal melalui buahnya (Matius 7:16), dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dibuang ke dalam api (Matius 7:19). 

Tujuan dari peringatan-peringatan ini sebenarnya untuk mencegah apa yang orang sebut sebagai “gampang percaya.” Dengan kata lain, mengikuti Yesus lebih dari sekadar mengatakan bahwa Anda adalah seorang Kristen. 

Semua orang bisa saja mengklaim Kristus sebagai Juruselamat, namun mereka yang betul-betul percaya akan menghasilkan buah yang nyata. Orang mungkin akan bertanya, “Apa yang dimaksud dengan buah?” 

Contoh yang paling jelas mengenai buah Kristen dapat ditemukan dalam Galatia 5:22-23 di mana Paulus menjelaskan buah [Roh] Kudus: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Ada jenis-jenis lain dari buah orang Kristen (seperti puji-pujian, memenangkan jiwa bagi Kristus), namun daftar ini memberi kita ringkasan yang baik mengenai sikap orang Kristen. 

Orang-percaya sejati menyatakan perbuatan ini dalam kehidupan mereka, ketika mereka menjalani kehidupan sebagai orang Kristen (2 Petrus 1:5-8). 

Para murid yang sejati dan menghasilkan buah inilah yang memiliki jaminan keselamatan kekal, di mana mereka akan terpelihara sampai akhirnya. Ada banyak ayat Alkitab yang menyatakan hal ini. 

Roma 8:29-30 memberi garis besar “Rantai Emas” keselamatan dengan menyatakan bahwa mereka yang telah dipilih dari semula; mereka ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan - tidak akan ada yang hilang dalam perjalanan. 

Filipi 1:6 memberitahukan kita bahwa karya yang dimulai Allah dalam diri kita juga akan disempurnakanNya. 

Efesus 1:13-14 mengajarkan bahwa Allah telah memateraikan kita dengan Roh Kudus sebagai jaminan dari warisan kita sampai pada saat kita memilikinya. 

Yohanes 10:29 menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat merebut domba kepunyaan Allah dari tanganNya. Ada banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan hal yang sama – keselamatan orang-orang percaya terjamin secara kekal.

Ayat-ayat yang memperingatkan soal kemurtadan memiliki dua fungsi utama. Pertama, mereka menasihati orang-orang percaya untuk memastikan "panggilan dan pilihan" mereka. Paulus memberitahu kita dalam 2 Korintus 13:5 untuk memeriksa diri sendiri untuk mengetahui apakah kita tegak dalam iman. 

Kalau orang-percaya sejati adalah pengikut-pengikut Kristus yang menghasilkan buah, maka mereka seharusnya dapat melihat bukti keselamatan mereka. 

Orang-orang Kristen menghasilkan buah dengan tingkat yang berbeda, bergantung pada tingkat ketaatan mereka dan karunia rohani mereka. Namun, semua orang Kristen menghasilkan buah; dan kita seharusnya melihat buktinya ketika kita memeriksa diri. 

Ada kalanya dalam kehidupan orang Kristen, ada masa di mana tidak ada buah yang kelihatan. Ini adalah saat-saat ketika kita berdosa dan tidak taat. Apa yang terjadi pada masa ketidaktaatan yang berkepanjangan ini adalah Allah menyingkirkan kepastian keselamatan dari kita. 

Perhatikan bahwa Allah tidak menyingkirkan keselamatan kita, namun kepastian keselamatan. Itu sebabnya dalam Mazmur 51 Daud berdoa supaya "sukacita keselamatan" dipulihkan kepadanya (Mazmur 51:12). 

Ketika kita hidup dalam dosa, kita kehilangan sukacita keselamatan kita. Itu sebabnya kita perlu memeriksa diri kita sendiri. Ketika orang Kristen sejati memeriksa dirinya dan tidak mendapatkan buah, hal itu seharusnya menuntunnya kepada pertobatan yang serius dan berpaling kembali kepada Allah. 

Alasan utama kedua untuk ayat-ayat yang berhubungan dengan kemurtadan adalah untuk menunjukkan siapa orang-orang yang murtad. Seorang yang murtad adalah seseorang yang menyangkali iman kepercayaan agamanya. 

Alkitab jelas menyatakan orang-orang yang murtad adalah orang-orang yang mengaku iman kepada Yesus Kristus, namun tidak pernah benar-benar menerima Dia sebagai Juruselamat. 

Matius 13:1-9 (perumpamaan Penabur) melukiskan poin ini dengan sempurna. Dalam perumpamaan ini seorang penabur menaburkan benih pada empat jenis tanah: tanah yang keras, berbatu-batu, tanah yang dipenuhi semak duri, dan tanah yang gembur. Tanah-tanah ini mewakili empat respon yang berbeda terhadap Injil. 

Yang pertama itu penolakan total, sedangkan tiga lainnya menggambarkan penerimaan dalam tingkatan yang berbeda-beda. 

Tanah yang berbatu-batu dan tanah yang penuh dengan semak duri menggambarkan orang-orang yang pada awalnya menanggapi Injil dengan baik, namun kemudian ketika penganiayaan datang (tanah yang berbatu-batu) atau tekanan dunia menghimpit mereka (tanah yang dipenuhi semak duri), orang itu melepas imannya. 

Yesus menjelaskan bahwa kedua macam respon ini, sekalipun pada awalnya mereka menerima, namun mereka tidak pernah menghasilkan buah apapun. Kembali, dalam Khotbah di Bukit, Yesus menekankan, "Bukan setiap orang yang berseru, "Tuhan, Tuhan" akan masuk dalam kerajaan Allah" (Matius 7:21).

Nampaknya aneh bahwa Alkitab memberi peringatan mengenai kemurtadan, tapi pada saat bersamaan mengatakan bahwa orang Kristen sejati tidak akan pernah murtad. Namun inilah yang dikatakan Alkitab. 

Melalui 1 Yohanes 2:19, Alkitab secara khusus menyatakan bahwa mereka yang murtad hanya akan menjadi bukti bahwa mereka bukan orang-percaya sejati. Alkitab mengingatkan soal kemurtadan, karena itu seharusnya menjadi peringatan bagi mereka "yang mengaku beriman" , tapi tanpa pernah betul-betul menerima iman itu. 

Ayat-ayat seperti Ibrani 6:4-6 dan Ibrani 10:26-29 menjadi semacam "peringatan" pada orang-percaya yang “berpura-pura,” sehingga mereka perlu memeriksa diri dan menyadari bahwa kalau mereka masih berniat murtad, mereka sebenarnya belum benar-benar diselamatkan. 

Matius 7:22-23 mengindikasikan bahwa “orang-percaya yang berpura-pura" yang ditolak oleh Allah bukan karena mereka kehilangan iman, namun karena Allah sebenarnya tidak pernah mengenal mereka. 

Ada banyak orang yang bersedia mengidentifikasikan diri dengan Yesus. Siapa yang tidak menginginkan hidup kekal dan berkat? 

Namun, Yesus mengingatkan kita untuk menghitung harga untuk menjadi seorang murid (Lukas 9:23-26, 14:25-33). 

Orang-percaya yang sejati telah memperhitungkan itu, sementara mereka yang murtad tidak. Orang murtad adalah mereka yang meninggalkan imannya; yang menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum pernah diselamatkan (1 Yohanes 2:19). 

Kemurtadan bukanlah ketika seseorang kehilangan keselamatan, namun hanya menjadi bukti bahwa keselamatan belum pernah benar-benar dimiliki orang itu.


=====================================================================

Peringatan supaya jangan Murtad


Hanya orang beriman yang bisa murtad, yaitu orang yang pernah mengenal kebenaran, yang pernah tinggal Roh Kudus dalam hatinya sebagai meterai keselamatan. Alkitab dengan keras memperingatkan supaya orang beriman tidak murtad. Untuk apa diperingatkan? Tentu saja karena ada resiko orang beriman untuk murtad bila tidak waspada.



Ayat-ayat Alkitab berisi peringatan supaya jangan murtad, antara lain:

Markus 4:14 Penabur itu menaburkan firman.

4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,

4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,

4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

I Timotius 4

4:1 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

I Timotius 5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Ibrani

6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,

6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,

6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ibrani

12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.

12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

II Petrus

2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.

2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.

2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.

Bila kita baca ayat-ayat di atas secara keseluruhan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya secara lengkap, maka kita tahu bahwa peringatan dan anjuran di atas ditujukan kepada kaum beriman, bukan kepada orang di luar jemaat. Alkitab juga menyingkapkan bahwa orang yang beriman yang murtad maka keadaannya akan lebih buruk daripada sebelum dia beriman.

Kenapa keadaan orang yang murtad bisa menjadi lebih buruk dari keadaan sebelumnya? Inilah yang diajarkan Alkitab:

Orang yang murtad adalah orang yang menjadi “tegar hatinya” karena mengeraskan hati dan tidak mau bertobat dan menolak kasih karunia Tuhan. (Ibrani 3:13).

Orang yang telah murtad / menyangkal iman tidak dapat dibaharui lagi sehingga semakin lama akan semakin jahat.

Dalam diri mereka terjadi pergumulan yang luar biasa dalam diri orang beriman yang tetap tekun berbuat dosa, orang ini menyangkal hati nurani secara terus menerus hingga menjadi tegar atau tumpul (bebal). Orang Kristen yang jatuh atau berdosa masih dapat dibaharui lagi, tetapi orang yang melakukan murtad (dosa kekal) tidak dapat dibaharui lagi karena karena alasan berikut ini. Ibrani 6:6 menyingkapkan kenapa murtad adalah dosa kekal yang tidak terhapuskan:

Sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan Menghina-Nya di muka umum.

Point yang pertama, orang yang murtad “bermaksud” menyalibkan Yesus yang telah dimuliakan bagi mereka sendiri. Karena tidak mungkin menyalibkan Yesus yang telah dimuliakan untuk ke dua kalinya maka tidak mungkin orang yang murtad itu diampuni. Dengan kata lain, dosa murtad adalah dosa yang kekal (tidak terhapuskan).

Point yang kedua, karena mereka menghina Yesus dimuka umum, yaitu Yesus yang telah dimuliakan, Yesus yang telah duduk disebelah kanan Allah Bapa. Alkitab berkata dosa ini tidak terhapuskan.

Dalam Ibrani 10:26-27, kembali ditegaskan dengan cara yang berbeda, bahwa tidak ada korban untuk menghapus dosa bila kita sengaja dan sadar melakukan dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran.

Ibrani

10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

Perhatikan bahwa peringatan supaya jangan murtad dalam Ibrani 3 di atas ditujukan kepada: “saudara-saudara kudus” dan “yang mendapat panggilan sorgawi”. Mereka diperingatkan supaya berpegang pada keyakinan iman yang semula!

Lalu bagaimana bila ada orang yang tidak beriman menghina Yesus Kristus dan Roh Kudus? Tentu ini bukan merupakan dosa murtad, karena mereka belum “melihat” kebenaran bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia karena Roh Kudus belum pernah tinggal dalam hati mereka.

=====================================================================

ORANG PILIHAN (KRISTEN SEJATI) TIDAK MUNGKIN MURTAD! (kristenberea)


ORANG PILIHAN (KRISTEN SEJATI) TIDAK MUNGKIN MURTAD!
Dipublikasi Artikel blog by kristenberea

Salah satu hal yang harus dipegang di dalam memahami tulisan dalam Alkitab adalah Tulisan-tulisan di dalam Alkitab tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi) sehingga bagian yang bersifat implisit tidak boleh bertentangan dengan bagian yang bersifat eksplisit.

Berdasarkan patokan di atas saya akan membahas bagian-bagian yang seolah-olah menyatakan orang pilihan Allah bisa murtad. A). Alkitab sudah memberi kepastian bahwa orang pilihan Allah tidak mungkin murtad atau orang pilihan pasti bertahan sampai kesudahan: Yohanes 10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Dari satu ayat ini saja Tuhan Yesus memberi jaminan akan keselamatan orang pilihan sampai tiga kali:

Ia memberi hidup kekal. Apa artinya kekal? ya selama-lamanya, bukan temporer. Kalau orang pilihan bisa murtad dan binasa, maka Tuhan Yesus pasti tidak bilang "hidup kekal" tetapi "hidup sementara" Orang pilihan pasti tidak binasa selama-lamanya. Nah, kalau ternyata ada orang pilihan yang murtad dan binasa, itu berarti Tuhan Yesus bohong, hal ini tidak mungkin. Tidak ada seorangpun (termasuk diri kita sendiri) yang dapat merebut orang pilihan dari tangan Tuhan Yesus.

Masakan kita tidak percaya dengan janji Tuhan Yesus yang tanpa syarat ini? Janji Tuhan Yesus di atas juga diteguhkan oleh Rasul Paulus

Roma 8: 38,39 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dari ayat di atas ternyata hidup kita setelah menjadi orang percaya juga tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Tuhan Yesus. Jelas, bahwa hidup yang kita jalani inipun tidak bisa membuat kita murtad. B). Alkitab juga telah menyatakan bahwa orang yang "murtad" memang bukan orang pilihan dan tidak pernah jadi orang pilihan.

I Yoh. 2:19 Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. Jadi, pandangan yang menyatakan bahwa kalau ada orang pilihan murtad, itu hanya membuktikan bahwa ia memang bukan orang pilihan, itu bukan hanya pandangan tanpa dasar, tetapi pandangan yang SESUAI dengan ALKITAB, atau ALKITABIAH. Tuhan Yesus sudah menyatakan bahwa di dalam gereja akan ada dua golongan yaitu Kristen Gandum (Kristen sejati) dan Kristen Ilalang (Kristen palsu). Sebelum hari penghakiman kita tidak bisa membedakan mana orang kristen gandum dan mana yang kristen ilalang. Jadi kalau sebelum hari penghakiman saja sudah murtad, jelas dia adalah kristen ilalang. C). Berikut adalah orang-orang Kristen ilalang tetapi dianggap Kristen gandum, dan orang yang tidak murtad dianggap murtad 1) Saul Banyak orang menganggap Saul adalah orang pilihan (telah diselamatkan) dengan bukti dia telah mendapat Roh Allah. Tetapi pendapat ini tidak bisa diterima karena tugas Roh Kudus di PL dan PB berbeda. Pada jaman Perjanjian Baru memang orang yang sudah memiliki Roh Kudus pasti adalah orang kristen yang sejati. Tetapi pada jaman Perjanjian Lama Roh Kudus diberikan hanya supaya orang yang bersangkutan bisa melakukan pelayanan / tanggung jawabnya. Bdk. Kel 28:3 Kel 35:30-36:2 Bil 11:17 Bil 11:25-27. Karena Saul diangkat menjadi raja, maka Tuhan memberikan Roh Kudus supaya ia bisa melakukan tanggung jawabnya. Tetapi setelah Saul jatuh ke dalam dosa dan lalu ditolak oleh Tuhan sebagai raja, maka Roh Kudus itupun ditarik kembali. Hal seperti ini (penarikan Roh Kudus) tidak mungkin terjadi dalam jaman Perjanjian Baru, karena adanya janji Tuhan seperti dalam Yoh 14:16 Ibr 13:5. Bahwa Saul bukanlah raja yang dikehendaki Tuhan, dan diberikan untuk menghajar Israel yang memaksa meminta raja, terlihat dari Hos 13:11 - "Aku memberikan engkau seorang raja dalam murkaKu dan mengambilnya dalam gemasKu".

2)Yudas Iskariot
Sama seperti Saul, Yudas juga banyak disangka orang sebagai orang pilihan (diselamatkan) dengan alasan ia adalah salah satu dari murid Yesus. Yang perlu diketahui ialah Alkitab secara eksplisit tidak pernah menyatakan bahwa Yudas pernah percaya kepada Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus memilih Yudas untuk diselamatkan. Tetapi sebaliknya, Alkitab justru menggambarkan Yudas tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, dan bahwa Yudas dipilih sebagai salah satu murid adalah untuk menggenapi rencana Allah yang telah ditetapkan sebelumnya. Berikut adalah bukti-bukti dari pandangan di atas:

Yudas memanggil Yesus hanya dengan sebutan "Rabi", dan tidak pernah memanggil dengan sebutan Tuhan Jadi Yudas hanya mengganggap Yesus sebagai guru dan pemimpin yang baik, bukan sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Berikut adalah bukti bahwa Yudas tidak percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan semata-mata untuk menggenapi rencana Allah.

Yoh 6:64 - "Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.’ Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia". Yoh 6:70 - "Jawab Yesus kepada mereka: ‘Bukankah Aku sendiri yang memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis’". Yoh 13:10b-11 - "‘Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua’. Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: ‘Tidak semua kamu bersih’". Yoh 13:18 - "Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan rotiKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku". Yoh 12:6 yang menunjukkan bahwa pada waktu mengikut Yesus, Yudas adalah seorang pencuri yang sering mencuri uang kas yang ia pegang.

Orang yang bisa mengusir setan dan melakukan mujizat juga bukan jaminan bahwa dia adalah orang pilihan / kristen sejati. Bukankah Alkitab justru memperingatkan kita bahwa pada akhir zaman ini nabi-nabi palsu akan banyak melakukan mijizat yang dahsyat dan mengusir setan? Apakah dengan demikian nabi paslu itu adalah orang kristen? Tidak bukan? Jadi, Saul dan Yudas adalah orang-orang bukan pilihan Allah yang "dipakai" Allah untuk menggenapi rencana-Nya.

3) Ananias dan Safira Informasi tentang Ananias dan Safira hanya dijumpai di Kis 5: 1 -11. Di bagian itupun Alkitab secara eksplisit tidak menyatakan apakah mereka orang pilihan atau bukan, dan apakah mereka murtad atau tidak, sehingga untuk menyimpulkan apakah mereka benar-benar orang pilihan atau apakah mereka benar-benar murtad perlu didukung oleh bagian Alkitab yang lainnya. Menurut saya ada dua kemungkinan tentang Ananias dan Safira.

1. Mereka adalah orang Kristen KTP / Ilalang

Kesalahan banyak orang adalah ketika mereka mengganggap orang yang ke gereja atau menjadi anggota gereja atau berKTP Kristen PASTI orang Kristen sejati / kristen gandum / orang pilihan. Perbuatan Ananias menjual sebidang tanah bukan didasarkan karena ingin mempersembahkan kepada Tuhan, tetapi semata-mata karena ingin mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain, dan juga ikut-ikutan "trend" pada saat itu. Ananias dan Safira setype dengan orang-orang yang bersorak "Hasana Anak Daud" ketika Yesus masuk ke Yerusalem dan akhirya juga ikut-ikutan orang banyak berteriak "Salibkan Dia". Mendustai Roh Kudus juga tidak bisa dijadikan indikasi bahwa mereka pernah kepenuhan Roh Kudus, karena "mendustai Roh Kudus" dimaksudkan bahwa mereka bisa saja menipu manusia, tetapi tidak mungkin dapat menipu Allah. Nah, kalau mereka tidak pernah jadi orang pilihan Allah, maka mereka juga tidak bisa dikatakan murtad.

2. Mereka adalah orang pilihan

Mungkin saja, Ananias dan Safira adalah orang pilihan Allah / Kristen sejati, sekalipun mereka telah melakukan kesalahan dengan mencoba menipu para Rasul dan sekaligus menipu Allah ( saya tidak setuju kalau "mendustai Roh Kudus" disini disamakan dengan "menghujat Roh Kudus", karena konteksnya jelas sangat jauh berbeda ) Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa yang sudah jadi orang pilihan Allah / orang Kristen sejati pasti tidak pernah lagi berbuat kesalahan atau dosa, dan tidak murkai oleh Allah. Israel adalah bangsa pilihan Allah, tetapi sering memberontak dan dimurkai oleh Allah. Dihajar dan dimurkai Allah bukanlah tanda bahwa orang itu pasti telah murtad

4) Himeneus & Aleksander Benarkah Himeneus dan Aleksander murtad? Untuk menyelidikinya dibutuhkan melihat seluruh konteks dan keterangan dari bagian lain dalam Alkitab. Menurut konteksnya, Himeneus dan Aleksander adalah contoh orang beriman yang melayani Tuhan bukan dengan hati nurani yang murni. Mungkin mereka melayani Allah dengan motivasi yang salah dan untuk kepentingan diri sendiri. Sebagai akibatnya iman mereka kandas. Kandas iman bukan jangan diartikan sebagai tidak beriman lagi. Itu kesimpulan yang terlalu dini. Kata "kandas" berasal dari kata Yunani "nauageo" yang berarti "karam (untuk kapal)". Kata ini hanya dipakai 2X dalam Alkitab yaitu di 1 Tim 1: 29 ini dan di 2 Kor 11: 25. Kapal karam berarti kapal itu tidak lagi bisa berlayar sebagaimana mestinya. Kapal itu masih ada, tidak musnah. Demikian juga dengan Himeneus dan Aleksander, mereka masih beriman tetapi imannya tidak bertumbuh lagi. Dan lagi, kata kerja yang digunakan oleh Paulus adalah kata kerja kala Aorist yang menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak dilakukan terus menerus, jadi masih ada kemungkinan untuk berubah. Nah, orang-orang seperti mereka perlu didisiplinkan, dan Paulus mendisiplinkan mereka dengan menyerahkan kepada Iblis. Tujuan menyerahkan kepada Iblis adalah agar roh mereka diselamatkan walaupun tubuh mereka akan menderita bahkan binasa (bandingkan dengan 1 Kor 5 :

5) Jadi, walaupun Himeneus dan Aleksander adalah contoh yang tidak baik bagi orang beriman, mereka tetap diselamatkan. 5) Salomo Banyak orang menuduh Salomo murtad hanya berdasarkan catatan dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Salomo telah mendukakan Allah dengan mengikuti dewa-dewa bangsa lain dan tidak setia kepada Tuhan. Tidak adanya catatan dalam Alkitab bahwa Salomo pernah bertobat TIDAK BISA dijadikan dasar bahwa Salomo pasti tidak pernah bertobat. Karena dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa apa yang ditulis tentang Salomo di dalam Alkitab hanyalah sebagian dari hikmat dan perbuatan Salomo. Jadi, ada kemungkinan di Kitab Riwayat Salomo ada kisah tentang pertobatan Salomo dan bagaimana Salomo sampai menulis Kitab Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Dan lagi, hukuman Allah terhadap ketidaksetiaan Salomo adalah terkoyaknya Kerajaan Israel. Allah tidak pernah mengatakan akan menarik kasih karuniaNya pada Salomo.

Bahwa orang beriman itu jatuh dalam dosa bahkan sampai jatuh sedalam-dalamnya TIDAK BOLEH dijadikan dasar bahwa ia telah murtad. Sekali lagi, walaupun seseorang telah dilahirkan kembali dia masih ada kemungkinan untuk berbuat dosa, dan tidak ada satupun orang yang berani mengklaim bahwa ada orang pilihan / yang lahir baru tidak berbuat dosa lagi. Kalau ada orang Kristen yang berkata ia tidak berbuat dosa, pasti ia seorang pendusta.

Salomo pernah menulis "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali " Amsal 24:16a Saya percaya, Salomo termasuk orang yang demikian.

Kesimpulan, tidak ada catatan pertobatan Salomo di dalam Alkitab, tidak bisa dijadikan patokan bahwa Salomo pasti tidak bertobat. Tulisan-tulisan Salomo di Kitab Amsal dan Pengkhotbah justru dapat dijadikan indikasi bagi pertobatan Salomo.

6) Orang-orang yang diumpamakan sebagai tanah yang berbatu-batu (Matius 14:14-17 dan yang paralel). Kata "murtad" dalam bagian ini diambil dari kata Yunani "skandalizo". Dalam Alkitab terdapat 30 X, dan hanya 3 X diterjemahkan dengan "murtad", yang lainnya diterjemahkan dengan "menjadi kecewa dan menolak", "tergoncang", dan sebagainya. Dilihat dari konteksnya, maka dalam bagian ini saya lebih cenderung diterjemahkan sebagai "menjadi kecewa dan menolak". Dengan demikian orang-orang yang diumpakan sebagai tanah yang berbatu-batu adalah orang yang pada mulanya senang menerima firman Tuhan ( mungkin karena ada janji kalau sakit pasti sembuh, miskin jadi kaya, ada banyak mujizat dan sebagainya), tetapi karena dalam kehidupan sehari-hari tidak demikian (ada penderitaan, dianiaya, dsb) membuat mereka kecewa dan akhirnya menolak firman Tuhan tersebut. Mereka hanya sekedar tertarik firman Tuhan dan belum mempercayainya dalam hati ( digambarkan sebagai tidak berakar). Jadi, bagaimana mereka dapat dikatakan murtad (tidak beriman lagi) kalau mereka sesungguhnya belum pernah beriman? Ingat dalam Yehezkel 36: 26, orang beriman digambarkan sebagai orang yang pasti menghasilkan buah, dan dalam perumpamaan ini digambarkan sebagai "tanah yang baik".

7) I Tim 4: 1,2 Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. Ada beberapa kata di dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai murtad di dalam Alkitab Bahasa Indonesia, diantaranya: Scandalize ( Mat 13: 21), Apostasia ( 2 Tes 2: 3 ), Arneomai ( I Tim 5:8), dan Aphistemi ( I Tim 4: 1). Nah, aphistemi ini oleh LAI juga diterjemahkan sebagai mundur seperti di: Lukas 4:13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik. Kisah 22:29 Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum. 2 Korintus 12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Kata-kata mundur pada ketiga ayat di atas berasal dari kata yang sama dengan di I Tim 4: 1 yaitu aphistemi. Jelaslah berdasar ketiga ayat di atas, kata mundur tidak dapat dikatakan sebagai meninggalkan selamanya. Kata mundur di atas berarti meninggalkan sementara, dan akan kembali lagi. Dengan demikian kata "murtad" di I Tim 4: 1 juga harus diartikan bahwa pada akhir zaman ini ada orang Kristen sejati akan "mundur" dari imannya kepada Kristus, bahkan mungkin bisa ragu-ragu akan keselamatannya. Tetapi semuanya itu hanya sementara. Mereka pasti akan kembali ke imannya karena Tuhan tidak membiarkan orang benar jatuh dan tergeletak: Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dan lagi, bukankah Tuhan Yesus sudah membatasi upaya Iblis untuk menyesatkan orang pilihan-Nya sedemikian rupa sehingga orang pilihan tidak akan tersesat? Matius 24:24 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Jelaslah bahwa pengajar-pengajar sesat tidak mungkin menyesatkan orang pilihannya. Kalau toh nampaknya ada orang Kristen sejati mengikuti ajaran sesat, ia PASTI kembali ke ajaran yang sehat. Tuhan sudah menjaminnya. Oleh karena itulah, Timotius (dan kita) diberi tugas untuk menentang ajaran-ajaran sesat dan mengingatkan orang Kristen sejati akan adanya banyak ajaran-ajaran sesat yang membahayakan iman Kristen. Saya sendiri sudah 20 tahun jadi orang Kristen, tetapi baru akhir-akhir ini menemukan ajaran yang sehat!. Jadi, adanya kata murtad pada I Tim 4: 1 tidak menunjukkan adanya orang percaya yang dapat kehilangan keselamatan. Ayat itu hanya menunjukkan bahwa orang percayapun masih bisa mundur dan mengikuti ajaran sesat, tetapi hanya untuk sementara dan mereka pasti kembali ke Tuhan dengan cara dan kuasa Tuhan. (contoh Petrus).

D. Adanya Peringatan Jangan Murtad

Memberi peringatan kepada seseorang belum tentu karena orang itu punya potensi untuk melakukan pelanggaran seperti yang diperingatkan, tergantung keadaan orang yang diberi peringatan dan tujuan dari peringatan tersebut. Contoh nyata sebagai ilustrasi. Saya punya siswa sebanyak tiga kelas. Kelas A adalah kelas unggulan bersisi siswa-siswa yang rajin belajar sehingga nilai mereka baik-baik, kelas B adalah kelas dengan siswa-siswa yang agak rajin belajar, dan kelas C adalah kelas yang siswa-siswanya malas belajar. Begitu mereka menginjak di kelas 3, saya dan teman-teman guru tidak henti-hentinya memperingatkan mereka supaya tidak malas belajar karena ujian yang akan mereka hadapi lebih berat dari sebelumnya. Apa yang terjadi? Siswa-siswa di kelas C, tetap saja malas belajar, ya ada satu dua yang "bertobat" dan mau belajar. Tetapi di kelas A, adanya peringatan tersebut justru membuat mereka semakin giat belajar karena mereka tahu dan sadar kalau mereka tidak tambah giat belajar mereka bisa tidak lulus. Amsal 9:9 berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah. Amsal 17:10 Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal. Jadi, adanya peringatan jangan murtad kepada orang benar / beriman, bukan karena orang beriman itu bisa murtad, tetapi justru agar orang beriman tersebut semakin setia dan bertanggung jawab. Karena dengan adanya peringatan tersebut mereka semakin diteguhkan imannya bahwa jalan yang ditempuh selama ini adalah benar dan tentu saja mereka juga rindu agar orang lain juga mengikuti jalan yang ditempuhnya. INI BUKAN HAL YANG LUCU, tetapi nyata dan ALKITABIAH.

Saya akan menunjukkan bahwa sekalipun Allah memperingatkan umatnya untuk tidak tersesat dan tidak murtad, Allah selalu mengkofirmasikan bahwa umatnya tersebut tidak akan tersesat dan murtad!


Dalam 2 Tes 2: 3 Rasul Paulus memperingatkan kepada jemaat di Tesalonika supaya jangan disesatkan, karena akan banyak pemurtadan (penolakan terhadap agama). Tetapi, dalam ayat 13,14 Rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah karena sebagai umat pilihan Allah mereka akan tetap selamat dan memperoleh kemuliaan Kristus, sehingga pada ayat 15, Rasul Paulus meminta mereka untuk tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.J adi, jelas bahwa adanya peringatan "jangan disesatkan" dan "banyak pemurtadan" tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa jemaat di Tesalonika akan dapat tersesat dan murtad, tetapi sebaliknya mereka tetap aman dalam proses keselamatannya. Dalam Ibrani 3:12 Penulis kitab ini memperingatkan supaya orang Ibrani jangan ada yang murtad. Pada ayat-ayat berikutnya dinyatakan bahaya-bahaya dari murtad yang sampai puncaknya pada Ibrani 6: 4-7. Penulis kitab Ibrani memperingatkan "jangan murtad" kepada orang Ibrani bukan karena mereka bisa murtad, tetapi UNTUK MENEGUHKAN PENGHARAPAN MEREKA AKAN KESELAMATAN YANG SUDAH PASTI, DAN SUPAYA IMAN MEREKA TERUS BERTUMBUH.

Ibrani 4: 9-12 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.

3. Ibrani 10: 26,35,38 Banyak orang begitu yakin dengan adanya ayat-ayat di atas, orang Kristen benar-benar dapat murtad, melepaskan kepercayaanya. Benarkah demikian? Lihatlah sampai ayat 39 ! Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10: 39) Lihat baik-baik ayat yang saya tebalkan dan besarkan di atas! Firman Tuhan ini menegaskan bahwa adanya peringatan jangan murtad, mengundurkan diri, tidak percaya dan sebagainya, bukan dimaksudkan karena kita ada potensi melakukan seperti itu, tetapi untuk meneguhkan kita bahwa kita sudah ada pada posisi yang benar. Dengan mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak berada pada posisi seperti kita akan binasa, maka penulis Ibrani bermaksud supaya kita lebih banyak mengucapsyukur pada Tuhan, semakin mengasihi Tuhan, dan semakin memperkuat iman kita.

E. Alasan lainnya: Pada suatu sidang peremtoir (ujian calon pendeta) ada seorang peserta bertanya kepada calon pendeta apakah keselamatan yang diterima oleh orang percaya adalah keselamatan yang sudah pasti dan sempurna. Si calon pendeta tersebut menjawab bahwa keselamatan itu belum pasti dan sempurna karena kalau sudah pasti dan sempurna maka orang Kristen bisa hidup seenaknya. Jawaban si calon pendeta ini dibenarkan oleh tim penguji maupun semua yang hadir dalam sidang klasis tersebut! Benarkah jawaban dari si calon pendeta tadi? Sama seperti si calon pendeta, banyak orang Kristen juga mempercayai bahwa natur orang yang sudah jadi Kristen (yang sudah dilahirkan kembali) masih sama dengan natur orang yang belum Kristen (belum lahir baru) yang hatinya masih dikuasi / diperbudak oleh dosa. Pendapat ini jelas tidak Alkitabiah!! Orang yang sudah jadi Kristen sejati ia pasti sudah dilahirkan kembali, sudah diciptakan baru. Allah sudah mengganti hati yang keras menjadi hati yang taat (Yeh 11: 19,20). Sekarang ia mempunyai kesukaan yang baru yaitu merenungkan firman Tuhan dan menaatinya. Kecenderungannya berubah 1800 dengan sebelum ia lahir baru. Kalau dia hidup dengan semau gue maka Allah PASTI akan menegor dan menghajarnya sedemikian rupa sehingg ia dapat taat kepada Tuhan (Ibrani 12: 6, Wahyu 3: 19) Mendengar jawaban dari si calon pendeta tadi dan juga yang dibenarkan oleh para pendeta dan jemaat yang hadir pada saat itu, timbul pertanyaan di hati saya, apakah mereka sudah dilahirkan kembali atau belum? Sebab kalau mereka sudah dilahirkan kembali pasti akan merasakan perubahan hidup, dan tahu bahwa orang yang sudah lahir baru pasti tidak punya keinginan untuk hidup seenaknya dan hidup menurut kehendaknya sendiri. Ia pasti rindu untuk menyenangkan hati Tuhan dengan menaati-Nya. Satu hal lagi, Augustinus, John Calvin, Spurgeon, R.A Torrey dan tokoh-tokoh Kristen besar lainya adalah orang-orang mempercayai doktrin ini dan mengajarkannya. Apakah mereka hidup dengan seenaknya?

Kesimpulan:

Kalau kita percaya bahwa orang Kristen sejati bisa murtad atau kehilangan keselamatan atau tidak lagi mempunyai hidup kekal, maka kita telah membuat Tuhan Yesus sebagai pembohong besar dan janji-janji-Nya tidak bisa dipercaya. Ada banyak bagian Alkitab yang menjamin bahwa orang kristen sejati / orang pilihan Allah akan dijaga dan dipelihara sampai selama-lamanya di dalam kasih Tuhan. Kalau orang Kristen (sejati) bisa kehilangan kesalamatan maka kesalamatan / hidup kekal bukan lagi sebagai anugerah, tetapi sebagai usaha orang percaya yaitu usaha untuk hidup sedemikian rupa sampai mereka tidak murtad. INI bertentangan dengan Alkitab yang menyatakan bahwa hidup kekal dan keselamatan seseorang adalah semata-mata anugerah, tidak ada andil dari orang percaya sedikitpun. Kalau ada orang percaya bisa bertahan itu juga karena anugerah Allah. Sekali lagi kalau bukan karena anugerah Allah, tidak ada seorangpun yang selamat, apalagi mempertahankan keselamatan tersebut. Pelajarilah semua kata "murtad" dalam Alkitab dan lihat arti dari bahasa aslinya dan pelajarilah konteks di mana kata itu berada, maka TIDAK ADA SATUPUN YANG MENGINDIKASIKAN BAHWA ORANG PILIHAN ALLAH BISA KEHILANGAN KESELAMATANNYA. Sekali selamat tetap selamat? Yes!

=====================================================================

MURTAD - KEMURTADAN - APOSTASY


MURTAD, dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, adalah: verba, berbalik belakang; berbalik kafir; membuang iman; berganti menjadi ingkar.
KEMURTADAN/ APOSTASY, adalah nomina-nya.

Dalam Alkitab Perjanjian Baru yang diterjemahkan sebagai murtad adalah :
1. σκανδαλίζω - SKANDALIZÔ, verb, -- Matius 13:21, 24:10, Markus 4:17,
2. ἀφίστημι - APHISTÊMI, verb, -- Lukas 8:13, 1 Timotius 4:1, Ibrani 3:12,
3. ἀποστασία - APOSTASIA, feminine noun, -- 2 Tesalonika 2:3,
4. ἀρνέομαι - ARNEOMAI, verb, -- 1 Timotius 5:8,
5. παραπίπτω - PARAPIPTÔ, verb, -- Ibrani 6:6.


Dalam Pernjanjian Lama, kata-kata yang diterjemahkan dengan MURTAD oleh LAI, adalah
1. סָרָה - SARAH, feminine noun, -- Ulangan 13:5, Yesaya 1:5, Yeremia 28:16, 29:32, kemurtadan, apostasy. Note: Meski bunyinya hampir sama, kata ini jangan disamakan dengan שָׂרָה - SARAH, syin-resy-he, nama istri dari Abraham, yang artinya adalah, wanita terhormat.
2. סוּג - SUG, verb, -- Mazmur 78:57, Amsal 14:14, berpaling, menjadi tidak setia.
3. שׂוּט - SUT, verb, -- Mazmur 101:3, jatuh
4. שׁוּב - SUV, verb, -- Yesaya 9:17, Yeremia 3:14, 22, berpaling
5. חָנֵף - KHANEF, adjective, -- Yesaya 9:17, 10:6, 32:6, 33:14, Daniel 11:32, munafik, tidak bertuhan
6. שׁוֹבָב - SOVAV, adjective -- Yesaya 57:17, memalingkan diri, kemurtadan
7. מְשׁוּבָה - MESUVAH/ MESUBAH, feminine noun, Yeremia 3:6, 8, 11, 12 kemurtadan, apostasy, memalingkan diri
8. מָעַל- MA'AL, verb, -- Daniel 9:7 tidak setia, melawan Allah.



Definisi MURTAD disini adalah: berkhianat, memberontak, mengundurkan diri, (dan kemudian menjadi oposisi/melawan). Kata MURTAD kerapkali dipakai untuk menyebut orang-orang yang meninggalkan agama ataupun aliran keagamaan.

Pada umumnya MURTAD berhubungan dengan kata benda APOSTASIA, Inggris: 'apostasy', atau kata kerja APHISTÊMI yang secara konseptual bermakna: meninggalkan dengan pengertian berkhianat, memberontak, mengundurkan diri. Saya tambahkan dengan bahasa lebih gampang, "membentuk partai oposisi". Seseorang yang keluar-masuk suatu grup belum tentu berarti "murtad" sepanjang ia tidak berkhianat, memberontak, dan menentang grup dimaksud.

Pengertian MURTAD yang lebih tegas ada di dalam Ibrani 6:4-6, dalam perikop ini menggunakan kata PARAPIPTÔ, berasal dari gabungan preposisi παρά - PARA dan πίπτω - PIPTÔ, yang berarti:
1. Salah langkah (a false step)
2. Menabrak atau melakukan kesalahan besar (blunder)
3. Jatuh (to fall down from)
4. Meninggalkan kepercayaan (fall away)
5. A lapse from uprightness (makna yang sama dengan dosa dalam bahasa Yunani αμαρτια - hamartia yang artinya meleset, menyimpang (tidak tepat pada sasaran)


Kata PARAPIPTÔ ini digunakan dalam Ibrani 6:6 "...yang murtad lagi...". Verba PARAPIPTÔ, nominanya adalah: παράπτωμα - PARAPTÔMA, kata nomina ini digunakan dalam Roma 11:11-12 dan dalam LAI-TB diterjemahkan dengan "pelanggaran", KJV: "jatuh", untuk merujuk pada kejatuhan/ pelanggaran orang Yahudi yang menolak Yesus Kristus sebagai juru selamat. Ini adalah "KEMURTADAN," dimana mereka menyimpang dari jalan yang benar.

Sinonim verba: PARAPIPTÔ ini dalam bahasa Yunani adalah APHISTÊMI, yang nomina-nya adalah: APOSTASIA, kata ini juga berkaitan dengan kemurtadan.
1. Penyeberangan (a defection).
2. Pemberontakan (a revolt).
3. Kemurtadan (apostacy).
4. Pengkianatan (a renegade)
5. Kejatuhan, pelarian yg meninggalkan kepercayaan (a falling away)


Kata APOSTASIA biasanya menunjuk kepada tindakan atau langkah meninggalkan sesuatu yang menjadi tugasnya (bidang ketentaraan) dan berdiri sebagai pihak pemberontak/ deserter. Kata APOSTASIA ini digunakan dalam Kisah Rasul 21:21, dan 2 Tesalonika 2:3. Dua kata yang menjelaskan tentang kemurtadan ini tidak memiliki diferensiasi (perbedaan yang jelas). Dua kata ini menunjuk kepada kemurtadan, orang yang sudah beriman lalu menanggalkan iman kepercayaannya. Dalam 1 Petrus 2:1-12 ditegaskan, bahwa kalau Tuhan tidak sayang terhadap malaikat yang jatuh dan membuang mereka, demikian pula terhadap orang yang menyimpang dari iman.


REALITAS KEMURTADAN

Realitas KEMURTADAN itu ada, dan dapat mengancam kehidupan orang Percaya. KEMURTADAN adalah suatu realitas hidup, dan Alkitab menyatakannya dengan sangat jelas dapat menimpa orang "yang pernah diterangi hatinya":

* Ibrani 6:4-6
6:4 LAI TB, Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernahmendapat bagian dalam Roh Kudus,
KJV, For it is impossible for those who were once enlightened, and have tasted the heavenly gift, and have become partakers of the Holy Spirit,
TR, αδυνατον γαρ τους απαξ φωτισθεντας γευσαμενους τε της δωρεας της επουρανιου και μετοχους γενηθεντας πνευματος αγιου
Translit interlinear, adunaton {tidak mungkin} gar {sebab} tous {(orang2) yang} apax {sekali} phôtisthentas {pernah diterangi} geusamenous {yang pernah engecap} te {dan} tês dôreas {pemberian} tês epouraniou {surgawi} kai {dan} metokhous {yang ikut serta} genêthentas {pernah menjadi} pneumatos {(di dalam) Roh} hagiou {Kudus}

6:5 LAI TB, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
KJV, and have tasted the good word of God and the powers of the age to come,
TR, και καλον γευσαμενους θεου ρημα δυναμεις τε μελλοντος αιωνος
Translit interlinear, kai {dan} kalon {yang baik} geusamenous {yang pernah mengecap} theou {dari Allah} rêma {sabda} dunameis {mujizat2} te {dan} mellontos {yang akan datang} aiônos {dunia}

6:6 LAI TB, namun yang murtad (PARAPIPTÔ) lagi (PALIN), tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.
KJV, if they fall away,[a] to renew them again to repentance, since they crucify again for themselves the Son of God, and put Him to an open shame.
TR, και παραπεσοντας παλιν ανακαινιζειν εις μετανοιαν ανασταυρουντας εαυτοις τον υιον του θεου και παραδειγματιζοντας
Translit interlinear, kai {namun} parapesontas {menjadi murtad} palin {lagi} anakainizein {untuk memulihkannya} eis {kepada} metanoian {pertobatan} anastaurountas {karena menyalibkan lagi} heautois {diri mereka sendiri} ton huion {Sang Anak} tou theou {Allah} kai {dan} paradeigmatizontas {menghina (Dia) dimuka umum}
Note: penbahasan lebih lengkap perikop ini di: panggilan-yg-mendesak-untuk-terus-menuju-kematangan-rohani-vt3652.html#p20053


Pandangan atas doktrin "orang percaya (yang dipredestinasi) tidak mungkin murtad" (OSAS: once saved always saved) tidak cocok bila diperhadapkan dengan Ibrani 6:4-6.

Pertanyaannya disini: Apakah Alkitab mengajarkan kemungkinan Apostasy (perpisahan dari iman, Kemurtadan)?

Ternyata banyak sekali peringatan-peringatan bagi orang percaya agar jangan meninggalkan iman alias MURTAD. Kita lihat ayat-ayatnya:

* 1 Timotius 4:1
LAI TB, Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad (APHISTÊMI) lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
KJV, Now the Spirit speaketh expressly, that in the latter times some shall depart from the faith, giving heed to seducing spirits, and doctrines of devils;
TR, το δε πνευμα ρητως λεγει οτι εν υστεροις καιροις αποστησονται τινες της πιστεως προσεχοντες πνευμασιν πλανοις και διδασκαλιαις δαιμονιων
Translit interlinear, to de {adapun} pneuma {Roh} rêtôs {dengan tegas} legei {mengatakan} hoti {bahwa} en {pada} husterois {yang terakhir/ yg akan datang} kairois {waktu2} apostêsontai {akan murtad} tines {ada sebagian orang2} tês pisteôs {(dari ajaran yang) diimani} prosekhontes {karena memperhatikan} pneumasin {roh2} planois {yang menyesatkan} kai {dan} didaskaliais {ajaran2} daimoniôn {dari roh2 jahat}


Kata MURTAD (LAI-TB) atau "depart from the faith" (KJV) diterjemahkan dari verba Yunani αποστησονται - apostêsontai, berasal dari kata kerja kata kerja αφιστημι - APHISTÊMI yang secara konseptual bermakna meninggalkan dengan pengertian berkhianat,memberontak, mengundurkan diri. Rasul Paulus merasa sangat perlu memberikan peringatan bahwa akan ada orang-orang percaya meninggalkan imannya (murtad) dengan mengikuti doktrin-doktrin palsu. Bahwa ada orang-orang yang akan meninggalkan kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan. KEMURTADAN ini pada dasarnya adalah pengaruh-pengaruh dari roh-roh jahat. Artinya orang-orang yang pernah menjadi percaya bisa murtad, apabila kemurtadan ini diteruskan dengan tanpa pertobatan tentu dengan sendirinya keselamatan yang pernah diterimanya bisa hilang. Dalam semangat yang sama Rasul Petrus juga memberikan peringatan yang sama terhadap kemungkinan-kemungkinan orang meninggalkan imannya dengan hidup di dalam kewaspadaan untuk mempertahankan imannya:

* 1 Petrus 1:2, 13-15
1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
1:13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,
1:15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,


Pada 1 Petrus 1:2, Rasul Petrus berbicara mengenai pemilihan yang seolah-olah menyetujui "OSAS", namun pada ayat-ayat selanjutnya ternyata Rasul Petrus juga memberikan peringatan WASPADALAH! Peringatan itu, tentu mengajarkan kepada kita bahwa keselamatan bisa hilang apabila kita tidak waspada. Kewaspadaan itu dicerminkan dalam pola kehidupan kita sebagai orang-orang percaya yang taat, tidak menuruti hawa nafsu dan hidup kudus. Dalam Hal ini Rasul Petrus tidak menyetujui adanya paham "OSAS".

Kita baca ayat-ayat di Alkitab yang lain yang tidak sependapat dengan "OSAS", yang menunjukkan bagaimana seseorang yang telah menerima kebenaran, mempunyai iman, menerima Roh Kudus, mempercayai Kristus dll ternyata bisa jatuh. Juga ditunjukkan bagaimana para kudus (termasuk rasul sendiri) harus berusaha agar mereka tidak jatuh, agar mereka tetap setia. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan itu bisa hilang dan harus dikerjakan sampai mati dan bukannya sesuatu yang sekali terjadi lalu aman untuk selama-lamanya.

* Kisah 20:29
20:29Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.
20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.


Murid-murid Kristus yang sudah berada pada jalan yang benar ternyata bisa disesatkan oleh ajaran palsu dan keluar dari jalan yang benar itu.

* Roma 11:20-22
11:20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!
11:21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.
11:22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.


Disini Paulus mengingatkan umat untuk setia kepada Allah dengan membandingkan dengan kisah umat Yahudi Perjanjian Lama yang tidak setia. Umat dingatkan untuk tetap teguh terhadap iman. Hanya karena punya iman jangan sombong tapi takutlah. Ini sungguh bahasa yang jauh dari "OSAS". Apalagi dikatakan dengan jelas tentang kerasnya Allah tehadap "orang-orang yang telah jatuh." Orang harus berusaha berada dalam kemurahan Allah sebab kalau tidak, dia akan "dipotong."

* 1 Korintus 10:11-12
10:11 Semuanya itu telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu itu, dimana jaman akhir telah tiba.
10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!


Sebelumnya di awal-awal 1 Korintus pasal 10, Paulus menceritakan tentang kisah bangsa Yahudi yang mengikuti Musa, dibaptis dalam awan dan laut, makan makanan dan minum minuman rohani yang sama (minum dari batu karang rohani, yaitu Kristus (1 Korintus 10:3)). Namun kepada umat yang diberi kebutuhan rohani yang sama ini Allah tidak berkenan terhadap sebagian besar dari mereka (1 Korintus 10:5). Lalu contoh ini di aplikasikan Paulus kepada umat sekarang. Agar mereka juga tetap setia dan terus berhati-hati. Orang yang menyangka dirinya teguh ternyata bisa juga jatuh. Ini tidak sesuai dengan keyakinan "OSAS" bahwa orang bisa yakin akan keselamatannya dan bahwa dia tidak akan pernah jatuh dari keselamatannya itu.

* 2 Korintus 11:3
Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.


Orang yang punya kesetian sejati kepada Kristus ternyata bisa disesatkan. Paulus sadar itu dan dia mengungkapkan kekhawatirannya dengan memberi nasehat.

* Filipi 2:12
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, lihat bahasan dimengerjakan-keselamatan-dalam-praktek-filipi-2-12-18-vt6258.html#p26862


Pengerjaan keselamatan itu dilakukan dengan takut dan gentar. Jauh dari bahasa keyakinan akan keselamatan yang cukup terjadi satu kali seumur hidup ala "OSAS" dari para penganut Calvinisme.

* Filipi 3:10-16
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.


Bahasa Paulus diatas jauh dari keyakinan bahwa dia sudah pasti selamat (OSAS). Kalau sang rasul saja berpikiran seperti itu bagaimana mungkin para penganut Calvinisme itu dengan gegabah yakin akan keselamatan mereka dan mengajarkan "ajaran menyimpang" itu kepada umat Kristen lainnya?

* 1 Tesalonika 4:1-8
4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.
4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.
4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.
4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.
4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.


Perhatikan frasa yang ditebalkan. Disini dikatakan bahwa Allah telah memberikan Roh KudusNya kepada umat-umat Gereja Korintus yang kepada siapa Paulus menuliskan suratnya. Namun, bagi orang yang telah diberi Roh Kudus sekalipun Paulus masih menasehati agar mereka menjauhkan diri dari dosa-dosa. Sehingga contoh ayat-ayat di atas ini menunjukkan kepada kita bahwa seseorang bisa jatuh dari imannya. (ayat-ayat tersebut bertentangan dengan pemahaman "OSAS" setelah ber-Sola Fide, seseorang pasti selamat sampai mati). Selanjutnya, kita temukan di dalam Kitab Ibrani secara keseluruhan memuat banyak sekali peringatan-peringatan terhadap bahaya Apostasy (KEMURTADAN). Misalnya Ibrani 2:1-4 ; 3:7 ; 10:19-39 ; 12:1-24. Ayat Ibrani 6:4-6 dan Ibrani 10:19-39 bisa dibilang pemaparan terjelas pengajaran ini.


Blessings,
BP

=======================================================

OSAS: SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT (?)

OSAS itu poin "P" dalam TULIP

Reff: http://en.wikipedia.org/wiki/Perseverance_of_the_saints
Perseverance of the saints (also referred to as eternal security as well as the corollary—though distinct—doctrine known as "Once Saved, Always Saved") is a teaching that asserts that once persons are truly "born of God", or "regenerated" nothing in heaven or earth "shall be able to separate (them) from the love of God" (Romans 8:39).


Reff: http://www.simplybible.com.au/f172.htmThe doctrine of Impossibility of Apostacy is the logical outcome of the other four points of Calvinism, and of the peculiar view of God's sovereign will which underlies all the points. If you hold to those points, and to that view, then you have to hold the "Once Saved Always Saved" doctrine as well, if you are to be consistent.

Suppose, for argument's sake, that you believe people are totally unable to contribute anything toward their own salvation, unable even so much as to desire or seek that salvation. Those who are saved, are saved by God's decision and God's power alone. The Father chose them, the Son redeemed them, and the Holy Spirit called them. The people themselves had nothing whatever to do with their salvation. It was all of God, wholly and solely by his will, his grace, his power. If you believe that, then it is inconceivable to you that any saved person could be lost, because God is invincible. If God has done it all by himself, then certainly nobody can ever cause it to be undone.

That is the philosophy behind "Once Saved Always Saved" or the "Perseverance of the Saints".

Orang percaya masih bisa jatuh dalam dosa dan kehilangan keselamatan. Alkitab mengajarkan bahwa mereka yang sudah diselamatkan tetaplah perlu untuk diperingati secara serius akan bahaya Apostasy (perpisahan dari iman) sebagai suatu yang nyata dan mungkin terjadi. Peringatan terhadap Apostasy dapat ditemukan diseluruh kitab dalam Perjanjian Baru kecuali dalam Filemon dan 3 Yohanes. Terkadang dalam satu kitab peringatan akan bahaya Apostasy ini muncul sampai beberapa kali misalnya dalam kitab Ibrani atau 1 Timotius.

Jika seseorang sudah menganut doktrin unconditional election (sebagaimana diajarkan John Calvin) maka konswekuensi logikanya orang percaya tidak akan kehilangan keselamatannya alias OSAS (Once Saved Always Saved, Sekali Selamat tetap Selamat). Tapi apakah sebuah doktrin harus disesuaikan dengan doktrin lainnya (sistematik) walaupun doktrin tersebut tidak cocok dengan ajaran Alkitab?
Pertanyaannya disini apakah Alkitab mengajarkan kemungkinan Apostasy (perpisahan dari iman)? Ternyata banyak sekali peringatan-peringatan bagi orang percaya agar jangan meninggalkan iman alias murtad. Kita lihat ayat-ayatnya:

* 1 Timotius 4:1
LAI TB, Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan
KJV, Now the Spirit speaketh expressly, that in the latter times some shall depart from the faith, giving heed to seducing spirits, and doctrines of devils;
TR, το δε πνευμα ρητως λεγει οτι εν υστεροις καιροις αποστησονται τινες της πιστεως προσεχοντες πνευμασιν πλανοις και διδασκαλιαις δαιμονιων
Translit interlinear, to de {adapun} pneuma {Roh} rêtôs {dengan tegas} legei {mengatakan} hoti {bahwa} en {pada} husterois {yang terakhir/ yg akan datang} kairois {waktu2} apostêsontai {akan murtad} tines {ada sebagian orang2} tês pisteôs {(dari ajaran yang) diimani} prosekhontes {karena memperhatikan} pneumasin {roh2} planois {yang menyesatkan} kai {dan} didaskaliais {ajaran2} daimoniôn {dari roh2 jahat}

Kata "murtad" (LAI-TB) atau "depart from the faith" (KJV) diterjemahkan dari verba Yunani αποστησονται - apostêsontai, berasal dari kata kerja kata kerja αφιστημι - 'APHISTÊMI' yang secara konseptual bermakna meninggalkan dengan pengertian berkhianat,memberontak, mengundurkan diri. Rasul Paulus merasa sangat perlu memberikan peringatan bahwa akan ada orang-orang percaya meninggalkan imannya (murtad) dengan mengikuti doktrin-doktrin palsu. Bahwa ada orang-orang yang akan meninggalkan kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan. Kemurtadan ini pada dasarnya adalah pengaruh-pengaruh dari roh-roh jahat. Artinya orang-orang yang pernah menjadi percaya bisa murtad, apabila kemurtadan ini diteruskan dengan tanpa pertobatan tentu dengan sendirinya keselamatan yang pernah diterimanya bisa hilang. Dalam semangat yang sama Rasul Petrus juga memberikan peringatan yang sama terhadap kemungkinan-kemungkinan orang meninggalkan imannya dengan hidup di dalam kewaspadaan untuk mempertahankan imannya:

* 1 Petrus 1:2, 13-15
1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
1:13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,
1:15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,

Pada 1 Petrus 1:2, Rasul Petrus berbicara mengenai pemilihan yang seolah-olah menyetujui "OSAS", namun pada ayat-ayat selanjutnya ternyata Rasul Petrus juga memberikan peringatan WASPADALAH!
Peringatan itu, tentu mengajarkan kepada kita bahwa keselamatan bisa hilang apabila kita tidak waspada. Kewaspadaan itu dicerminkan dalam pola kehidupan kita sebagai orang-orang percaya yang taat, tidak menuruti hawa nafsu dan hidup kudus. Dalam Hal ini Rasul Petrus tidak menyetujui adanya paham OSAS.

Kita baca ayat-ayat di Alkitab yang lain yang tidak sependapat dengan OSAS, yang menunjukkan bagaimana seseorang yang telah menerima kebenaran, mempunyai iman, menerima Roh Kudus, mempercayai Kristus dll ternyata bisa jatuh. Juga ditunjukkan bagaimana para kudus (termasuk rasul sendiri) harus berusaha agar mereka tidak jatuh, agar mereka tetap setia. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan itu bisa hilang dan harus dikerjakan sampai mati dan bukannya sesuatu yang sekali terjadi lalu aman untuk selama-lamanya.

* Kisah 20:29
20:29Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.
20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

Murid-murid Kristus yang sudah berada pada jalan yang benar ternyata bisa disesatkan oleh ajaran palsu dan keluar dari jalan yang benar itu.


* Roma 11:20-22
11:20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!
11:21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.
11:22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.


Disini Paulus mengingatkan umat untuk setia kepada Allah dengan membandingkan dengan kisah umat Yahudi Perjanjian Lama yang tidak setia. Umat dingatkan untuk tetap teguh terhadap iman. Hanya karena punya iman jangan sombong tapi takutlah. Ini sungguh bahasa yang jauh dari OSAS. Apalagi dikatakan dengan jelas tentang kerasnya Allah terhadap "orang-orang yang telah jatuh." Orang harus berusaha berada dalam kemurahan Allah sebab kalau tidak, dia akan "dipotong."

* 1 Korintus 10:11-12
10:11 Semuanya itu telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu itu, dimana jaman akhir telah tiba.
10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!


Sebelumnya di awal-awal 1 Korintus pasal 10, Paulus menceritakan tentang kisah bangsa Yahudi yang mengikuti Musa, dibaptis dalam awan dan laut, makan makanan dan minum minuman rohani yang sama (minum dari batu karang rohani, yaitu Kristus (1 Korintus 10:3)). Namun kepada umat yang diberi kebutuhan rohani yang sama ini Allah tidak berkenan terhadap sebagian besar dari mereka (1 Korintus 10:5). Lalu contoh ini di aplikasikan Paulus kepada umat sekarang. Agar mereka juga tetap setia dan terus berhati-hati. Orang yang menyangka dirinya teguh ternyata bisa juga jatuh. Ini tidak sesuai dengan keyakinan OSAS bahwa orang bisa yakin akan keselamatannya dan bahwa dia tidak akan pernah jatuh dari keselamatannya itu.

* 2 Korintus 11:3
Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.


Orang yang punya kesetian sejati kepada Kristus ternyata bisa disesatkan. Paulus sadar itu dan dia mengungkapkan kekhwatirannya dengan memberi nasehat.

* Filipi 2:12
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, lihat bahasan dimengerjakan-keselamatan-dalam-praktek-filipi-2-12-18-vt6258.html#p26862


Pengerjaan keselamatan itu dilakukan dengan takut dan gentar. Jauh dari bahasa keyakinan akan keselamatan yang cukup terjadi satu kali seumur hidup ala OSAS dari para penganut Calvinisme.

* Filipi 3:10-16
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.


Bahasa Paulus diatas jauh dari keyakinan bahwa dia sudah pasti selamat (OSAS). Kalau sang rasul saja berpikiran seperti itu bagaimana mungkin para penganut Calvinisme itu dengan gegabah yakin akan keselamatan mereka dan mengajarkan "ajaran menyimpang" itu kepada umat Kristen lainnya?

* 1 Tesalonika 4:1-8
4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.
4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.
4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,
4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,
4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.
4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.
4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.


Perhatikan frasa yang ditebalkan. Disini dikatakan bahwa Allah telah memberikan Roh KudusNya kepada umat-umat Gereja Korintus yang kepada siapa Paulus menuliskan suratnya. Namun, bagi orang yang telah diberi Roh Kudus sekalipun Paulus masih menasehati agar mereka menjauhkan diri dari dosa-dosa. Sehingga contoh ayat-ayat di atas ini menunjukkan kepada kita bahwa seseorang bisa jatuh dari imannya. (ayat-ayat tersebut bertentangan dengan pemahaman OSAS setelah ber-Sola Fide, seseorang pasti selamat sampai mati).


Selanjutnya, kita temukan di dalam Kitab Ibrani secara keseluruhan memuat banyak sekali peringatan-peringatan terhadap bahaya Apostasy (kemurtadan). Misalnya Ibrani 2:1-4 ; 3:7, 6:4-6, 12 ; 10:19-39 ; 12:1-24.
Ayat Ibrani 6:4-6 dan Ibrani 10:19-39 bisa dibilang pemaparan terjelas doktrin ini.

* Ibrani 6:4-6
6:4 LAI TB, Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
KJV, For it is impossible for those who were once enlightened, and have tasted of the heavenly gift, and were made partakers of the Holy Ghost,
TR, αδυνατον γαρ τους απαξ φωτισθεντας γευσαμενους τε της δωρεας της επουρανιου και μετοχους γενηθεντας πνευματος αγιου
Translit interlinear, adunaton {tidak mungkin} gar {sebab} tous {orang2 yang} hapax {sekali} phôtisthentas {pernah diterangi} geusamenous {yang pernah mengecap} te {dan} tês dôreas {pemberian} tês epouraniou {surgawi} kai {dan}metokhous {yang ikut serta/ memperoleh bagian} genêthentas {pernah menjadi} pneumatos {(di dalam) Roh} hagiou {Kudus}

6:5 LAI TB, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
KJV, And have tasted the good word of God, and the powers of the world to come,
TR, και καλον γευσαμενους θεου ρημα δυναμεις τε μελλοντος αιωνος
Translit interlinear, kai {dan} kalon {yang baik} geusamenous {yang pernah mengecap} theou {dari Allah} rêma {sabda2}dunameis {kuasa2} te {dan} mellontos {sesuatu yang akan datang} aiônos {dunia}

6:6 LAI TB, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.
KJV, If they shall fall away, to renew them again unto repentance; seeing they crucify to themselves the Son of God afresh, and put him to an open shame.
TR, και παραπεσοντας παλιν ανακαινιζειν εις μετανοιαν ανασταυρουντας εαυτοις τον υιον του θεου και παραδειγματιζοντας
Translit interlinear, kai {namun} parapesontas {menjadi sesat/ murtad} palin {lagi} anakainizein {untuk memulihkannya} eis {kepada} metanoian {pertobatan} anastaurountas {kerena menyalibkan lagi} heautois {mereka sendiri} ton huion {Anak} tou theou {Allah} kai {dan} paradeigmatizontas {menghina (Dia) di muka umum}


Dalam kutipan ayat diatas bisa ada 5 point yang penting:

1. Mereka yang pernah diterangi hatinya. kata 'yang pernah diterangi hatinya' (inggris: entlightened ; Yunani: (φωτιζομαι - PHÔTIZÔMAI)) muncul ditempat lain yaitu di Ibrani 10:32.

*Ibrani 10:32
Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,

2. Mereka yang mengecap karunia surgawi. kata 'mengecap' bahasa Yunaninya γευομαι – GEUOMAI yang secara literal artinya 'mengalami' (Ibrani 2:9). Ada yang beranggapan bahwa 'mengecap' disini hanyalah mengecap sebagian (partial) tidak sepenuhnya. Tapi keberatan ini tidak berdasar. Dalam Ibrani 2:9 kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengalami maut. Kita tidak akan mengatakan bahwa Yesus tidak sepenuhnya mati.

3. Pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus (partakers of the Holy Spirit, NASB). Bahasa Yunani yang dipakai untuk "Partakers" adalah μετοχος – METOKHOS yang muncul diayat lain:

* Ibrani 3:14
Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.

Seseorang yang mendapat bagian Roh Kudus pasti seorang Kristen. Menerima karunia Roh Kudus adalah cara yang biasa untuk menyatakan apa artinya menjadi seorang kristen. Kisah 2:38-39 dan Galatia 3:14 hanya sebagian dari banyak contoh.

4. Mengecap firman yang baik dari Allah.
Mereka digambarkan sebagai orang yang pernah mengecap firman yang baik dari Allah. Ini berarti mereka telah merasakan/mengalami kebaikan dari apa yang Allah katakan (Bandingkan 1 Petrus 2:3).

5. Merasakan karunia-karunia yang akan datang. Bisa diartikan juga sebagai mukjizat (Ibrani 2:4), intinya adalah pekerjaan supernatural.


Dari bukti-bukti diatas, sulit rasanya membantah bahwa penulis Kitab Ibrani sedang berbicara tentang orang Kristen yang jatuh, apalagi dijelaskan kembali di :

* Ibrani 10:26
KJV, For if we sin willfully after we have received the knowledge of the truth, there no longer remains a sacrifice for sins,
NIV, If we deliberately keep on sinning after we have received the knowledge of the truth, no sacrifice for sins is left,
TR, εκουσιως γαρ αμαρτανοντων ημων μετα το λαβειν την επιγνωσιν της αληθειας ουκετι περι αμαρτιων απολειπεται θυσια
Translit Interlinear, ekousiôs {dengan sengaja} gar {sebab} hamartanontôn {jika terus berdosa} hêmôn {kita} meta {sesudah} to labein {menerima} tên epignôsin {pengetahuan} tês alêtheias {tentang kebenaran} ouketi {tidak lagi} peri {menghapus} hamartiôn {dosa-dosa} apoleipetai {tertinggal} thusia {kurban}


Pengertian dosa diatas adalah "kemurtadan", bukan dosa biasa (bandingkan dengan Yesaya 1:2, 19-20; Ibrani 3:12, 13:2; 2 Petrus 2:21). ‘Berbuat dosa’ diterjemahkan dari "αμαρτανοντων - hamartanontôn" dari kata αμαρτανω - HAMARTANÔ dalam NIV sering kata ini diartikan 'commit sin' (yang disengaja).
Maka orang yang 'sengaja murtad' padahal ia sudah tahu kebenaran bahwa Yesus hanya sekali saja menebus dosa manusia dengan kematianNya. "Maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu."

Ibrani 10:26 cukup dapat digunakan untuk me-refute OSAS karena menunjukkan bagaimana orang yang telah mendapat pengetahuan akan kebenaran bisa jatuh kembali dalam dosa. Pengunduran diri dari iman adalah sesuatu yang mungkin dapat terjadi, kembali dijelaskan pada :

* Ibrani 10:38
Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."


Disini dikatakan bagaimana orang benar yang hidup oleh iman bisa mengundurkan diri. Jadi orang seperti ini bisa kehilangan keselamatan yang telah dia dapatkan.

* 2 Petrus 1:3-11
1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
1:5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
1:8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
1:9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
1:10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebabjikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
1:11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.


Rasul Petrus dalam suratnya kang kedua kembali menegaskan kewaspadaan orang-orang percaya agar tetap teguh di dalam iman. Iman harus diwujudkan dengan perbuatan-perbuatan kebajikan dan lain-lain sebagai tanda syukur dan atribut kita sebagai orang percaya yang meneladani pribadi Kristus. Setiap orang harus waspada mempertahankan imannya dengan bersungguh-sungguh sehingga jangan sampai ia tersandung dan terjatuh dalam dosa kemurtadan.

* 2 Petrus 2:20-22
2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."


Orang yang mengenal Tuhan dan Juruselamat, telah melepaskan diri dari kecemaran dunia, telah mengenal jalan kebenaran, telah melakukan perintah-perintah kudusNya, tapi ternyata berdosa kembali.


Kita perlu mencamkan ayat ini:

* 1 Korintus 9:27
LAI TB, Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (ADOKIMOS).
KJV, But I keep under my body, and bring it into subjection: lest that by any means, when I have preached to others, I myself should be a castaway (ADOKIMOS).
TR, αλλ υπωπιαζω μου το σωμα και δουλαγωγω μηπως αλλοις κηρυξας αυτος αδοκιμος γενωμαι
Translit interllinear, all {tetapi} hupôpiazô {aku menggembleng dengan keras} mou {-ku} to sôma {tubuh} kai {dan} doulagôgô {menjadikannya hamba} mêpôs {supaya jangan} allois {kepada (orang2) lain} kêruxas {setelah berkhotbah} autos {aku sendiri} adokimos {aku ditolak (tidak tahan uji/ memenuhi syarat), adjective - nominative singular masculine}genômai {aku menjadi}


"Ditolak" (Yunani ἀδόκιμος - adokimos, berasal dari partikel negatif "a", artinya "tidak", dan kata δόκιμος - dokimos, artinya "diterima/ dapat diterima/ memenuhi syarat"). Kata ἀδόκιμος - adokimos mengandung gagasan "gagal dalam ujian".

Rasul Paulus menggunakan istilah yang sama dalam 2 Korintus 13:5, di mana ia menyatakan bahwa Kristus tidak tinggal di dalam seorang yang "gagal dalam ujian." Kata yang sama ἀδόκιμος - adokimos dipakai untuk manusia di hadapan Kristus. Dalam ayat ini menggunakan bentuk plural αδοκιμοι - adokimoi:

* 2 Korintus 13:5
LAI TB, Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji (ADOKIMOI).
KJV, Examine yourselves, whether ye be in the faith; prove your own selves. Know ye not your own selves, how that Jesus Christ is in you, except ye be reprobates (ADOKIMOI)?
TR, εαυτους πειραζετε ει εστε εν τη πιστει εαυτους δοκιμαζετε η ουκ επιγινωσκετε εαυτους οτι ιησους χριστος εν υμιν εστιν ει μη τι αδοκιμοι εστε
Translit interlinear, heautous {diri kalian sendiri} peirazete {ujilah} ei {apakah} este {kalian ada} en {di dalam} tê pistei {iman} heautous {diri kalian sendiri} dokimazete {selidikilah} ê {atau} ouk {tidakkah} epiginôskete {kalian mengenali} heautous {diri kalian sendiri} hoti {bahwa} iêsous {Yesus} khristos {Kristus} en {di dalam} humin {kalian} estin {adalah} ei mê {kecuali} ti {apakah} adokimoi {orang-orang yg yang ditolak (tidak tahan uji/ memenuhi syarat), adjective - nominative plural masculine} este {(kalian) adalah}


Rasul Paulus tidak semata-mata menunjuk kepada hilangnya pahala pelayanan. Yang disadarinya ialah kemungkinan bahwa dia juga bisa gagal untuk memperoleh hadiah (yaitu, warisan) keselamatan yang terakhir (ayat 1 Korintus 9:24-25) jika dia berhenti hidup kudus, melaksanakan penguasaan diri dan bertahan dalam kesukaran-kesukaran bagi Kristus (ayat 1 Korintus 9:25-27).

Kata "ditolak" dalam 1 Korintus 9:27 adalah suatu "batalnya keselamatan".
Coba kaji ayat ini yang menulis ada suatu keadaan di penghakiman nanti, dimana Tuhan Yesus menolak orang-orang yang sebelumnya menjadi pelayan-pelayan-Nya di dunia ini, karena mereka melakukan kejahatan-kejahatan mereka itu "ditolak":

* Matius 7:21-23
7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"


Ditolak Tuhan Yesus itu adalah sanksi terberat, "Enyahlah dari pada-Ku" itu adalah batalnya keselamatan!

[ur=http://www.sarapanpagi.org/paulus-vt274.html#p21838]Rasul Paulus[/url] tentu tahu tentang apa yang pernah diucapkan Tuhan Yesus ini. Dan perkataan ini ditujukan kepada orang-orang yang justru sudah menjadi Kristen. Peringatan dari Tuhan Yesus ini ia terapkan kedalam kehidupan pelayanan pribadinya, dan ia bertekat dalam perbuatan yang dia lakukan sampai akhir-hayatnya: "aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Jelas bahwa pemikiran akan OSAS tentunya jauh dari benak Rasul Paulus (lihat penjelasan bagian akhir pada artikel di paulus-vt274.html#p21838 ). Apakah Anda mau menjadi pengikut theolog abad 16 dengan ajaran baru-nya? No way! Saya berharap Anda memilih mengikut ajaran Sang Rasul yang sudah difondasikan sejak abad pertama Masehi, yang menulis setiap ayat yang ditulisnya dalam ilham Roh Kudus.

Terakhir, mari membaca ayat ini:

* Wahyu 2:4-5
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.


Peringatan ini ditujukan kepada umat Gereja Efesus. Mereka telah jatuh dari kasih mereka (diantara iman, harapan dan kasih, kasih adalah kebajikan yang utama [1 Korintus 13:13]). Tuhan Yesus menyerukan agar mereka bertobat dan kembali kepada kasih mereka yang semula. Kemungkinan orang mempunyai kasih pada awalnya dan kemudian jatuh sudah jelas tertulis ayat ini. Marilah kita menjaga keimanan kita agar kita jangan kita jatuh dalam dosa, jangan terus menerus jatuh dalam dosa yang nantinya akan menyeret kita kepada kemurtadan dan kita akan kehilangan anugerah yang sudah diberikan yaitu Keselamatan. Mari kita tetap waspada, marilah kita tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar!

Kiranya penjelasan dengan disertai ayat-ayat ini dapat mememberikan pengertian kepada kita terhadap suatu doktrin yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah: OSAS.

Pembahasan ini membuktikan bahwa 5 konsep TULIP yang menjadi konsep Calvinisme yang baru muncul di dunia pada abad 16, memang tidak Alkitabiah. Konsep abad 16 itu terbukti merupakan penyimpangan dari pengajaran dasar yang telah difondasikan para Rasul dan para Bapa Gereja sejak abad Pertama Masehi.

Calvinisme adalah faham "sempalan ajaran baru" yang melanda gereja Kristus dan masih dipertahankan oleh pengikutnya hingga sekarang.



Blessings in Christ,
BP

=======================================================
IBRANI 6:4-8 SEBAGAI PERINGATAN NYATA TENTANG MURTAD

BAB I
PENDAHULUAN


Dalam dunia kekristenan ada isu penting yang terus berkembang sampai pada saat ini yaitu, masalah murtad. Memang bagi orang kristen awam tidak menyadari dan memahami akan bahaya murtad. Tentunya perlu pengetahuan yang baik tentang Alkitab, supaya bisa mengetahui isu-isu yang berkembang dalam dunia kekristenan. Bahkan ketika berbicara tentang murtad, ada berbagai pandangan akan muncul. Ada yang berkata bahwa murtad tidak akan membawah manusia ke dalam neraka, ada juga yang berkata bahwa orang percaya tidak mungkin murtad, ada juga yang berpendapat bahwa kalau ada orang murtad, berarti belum diselamatkan, dan ada juga yang berkata bahwa ketika manusia percaya, dan melepaskan iman, maka orang tersebut bisa saja murtad. Dengan semua argumen ini, tentunya kita harus kembali lagi ke Alkitab. Apa yang Alkitab katakan mengenai posisi murtad. Adakah di Alkitab memberikan jawaban kepada manuisa mengenai murtad?
Berbicara mengenai murtad, sebenarnya ada banyak sekali ayat yang membahas akan hal ini, khususnya dalam kitab Ibrani yang penuh sekali dengan ayat tentang murtad. Ada banyak sekali ayat yang mengajarkan kepada setiap pembaca, bahwa ketika orang percaya kepada Yesus Kristus, dan kemudian melepaskan iman tersebut, maka tidak ada pengampunan bagi orang tersebut, dan hal inilah yang disebut dengan murtad. Murtad merupakan pilihan individu, mengingat bahwa manusia diberikan kehendak bebas oleh Tuhan. Sehingga dengan kehendak bebas manusia sanggup untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, demikian juga pilihan bagi orang percaya untuk bisa murtad.
Sehingga dalam karya tulis ini, penulis akan mencoba menjelaskan tentang bahaya murtad atau peringatan murtad yang nyata dalam Alkitab khsususnya dalam kitab Ibrani 6:4-8. Adapun poin-poin yang akan dibahas adalah, posisi manusia sebelum murtad, hal ini melingkupi posisi manusia berdosa, dan posisi manusia ketikan dosa sudah diselesaikan atau berada di dalam Kristus. Selanjutnya akan dibahas juga mengenai proses manusia menuju kepada murtad, dan posisi manusia ketika murtad. Jika terdapat kesalahan dalam karya tulis ini, penulis mohon kritik dan saran untuk kemajuan penulis dalam menulis karya tulis selanjutnya. Terimakasih, Tuhan Yesus memberkati dan Maranatha.


BAB II
IBRANI 6:4-8 SEBAGAI PERINGATAN TERHADAP BAHAYA
KEMURTADAN YANG NAYATA


A. POSISI MANUSIA SEBELUM MURTAD (IBRANI 6:4-5)
Penting sekali untuk membahas masalah ini, karena bertujuan untuk menilai dan memahami bahwa dalam posisi manusia seperti apa yang dikatakan murtad dalam Alkitab. Sebenarnya secara umum ada dua posisi manusia sebelum murtad, yaitu posisi yang pertama adalah posisi sebagai orang berdosa, dan posisi yang kedua adalah posisi orang kudus, yaitu orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus.
1. POSISI SEBAGAI MANUSIA BERDOSA
Memang dalam kitab Ibrani 6:4-8 tidak secara eksplisit membahas mengenai posisi manusia yang berdosa. Akan tetapi satu hal yang perlu dipahami dalam konteks Ibrani pasal enam ini adalah sebelum orang tersebut “diterangi hatinya, mengecap karunia surgawi dan mendapat bagian dalam Roh Kudus” (istilah yang dipakai oleh kitab Ibrani untuk menjelaskan posisi orang yang sudah diselamatkan), maka dapat disimpulkan bahwa dulunya ataus sebelumnya orang tersebut belum berada dalam posisi tersebut, atau dengan kata lain orang tersebut belum diselamatkan. inilah posisi manusia sebelum diselamatkan yaitu manusia berdosa. Memang ketika manusia diciptakan, manusia dalam posisi kudus dan diberikan kehendak bebas dan akal budi oleh Allah. Dengan kehendak bebas yang manusia miliki, manusia bisa memilih untuk tunduk kepada Allah, bahkan bisa menentang Allah. akhirnya dalam kitab Kejadian pasal 3 menjelaskan kepada pembaca tentang proses manusia jatuh dalam dosa, dan semua manusia yang merupakan keturunan Adam dan Hawa memiliki posisi yang sama yaitu manusia berdosa(Roma 6:23, 3:23). Manusia yangi berdosa tidak mungkin bisa pergi ke Sorga, karena Sorga merupakan tempat Yang Maha Kudus, dan Allah Yang Maha Kudus bersemayam di sana. Akan tetapi sebaliknya manusia berdosa akan dihukum di neraka(Mat 5:28-30, Mat 10:28 Mat 23:23). Dalam Ibrani 12:14 menjelaskan bahwa tanpa kekudusan manusia bahkan tidak bisa melihat Allah. Sehingga perlu jalan untuk menyelesaikan dosa tersebut. Oleh sebab itu dalam Roma 6:23 berkata bahwa “sebab upah dosa ialah maut”. Jadi maut merupakan upah dari dosa manusia.
Manusia berodsa tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, dan juga manusia berdosa tidak bisa menebus dosa manusia yang lain. Sehingga Allah yang Maha Kudus menunjukkan Kasih kepada manusia dengan kerelaan Allah menjadi manusia untuk menjadi penebus dosa manusia (Yoh 3:16). Yesus merupakan jalan keselamatan bagi semua manusia berdosa, dan tidak ada jalan lain selain Yesus Kristus (Yoh 14:6, Kpr 4:12).
2. Posisi Manusia Yang Sudah Diselamatkan
Pada poin sebelumnya sudah dibahas dengan singkat bahwa semua manusia sudah berdosa. Dan setiap manusia berdosa harus dihukum di neraka yang kekal. Akan tetapi Tuhan menunjukan kasih kepada manusia yaitu lewat Yesus Kristus yang menanggung dosa seluruh manusia. Bagi yang ingin selamat, haruslah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, sehingga mendapatkan posisi yang kudus dihadapan Allah, dan posisi sebagai orang yang sudah diterangi hatinya. Mendapat bagian dalam Roh kudus, dan yang sudah mengecap karunia sorgawi menurut penulis kitab Ibrani yang kita percaya adalah Paulus sebagai penulis kitab. Sehingga pada poin ini akan dibahas sekaligus membuktikan ciri-ciri orang yang sudah diselamatkan menurut Ibrani 6:4-8 yang menjadi dasar bagi penulis untuk menjelaskan bahaya murtad bagi orang percaya. Karena ada juga orang-orang tertentu yang ingin membangun argumentasi bahwa dalam Ibrani 6 tidak menunjuk kepada kondisi orang yang sudah diselamatkan, tentunya hal ini dilakukan untuk mendukung doktrin yang berkata bahwa tidak ada kata “murtad” bagi orang yang sudah percaya. Akan tetapi sebaliknya penulis akan mencoba membuktikan bahwa konteks dalam Ibrani pasal 6 adalah kondisi orang sudah diselamatkan. Demikian kutipan dari Ibrani 6:4-8:
(Hebrews 6:4-8 [ITB]) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus.(Hebrews 6:5 [ITB]) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,(Hebrews 6:6 [ITB]) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. (Hebrews 6:7 [ITB]) Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah;(Hebrews 6:8 [ITB]) tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran.


a. “yang pernah diterangi hatinya”
Sesuatu yang tidak masuk akal jika pernyataan ini menunjuk kepada orang belum diselamatkan. Mengingat posisi manusia yang awalnya adalah manusia yang hidup dalam kegelapan dan setelah percaya setiap manusia akan melihat terang. Dulunya manusia memiliki hati yang gelap karena dosa, akan tetapi setelah menerima Yesus, maka hati setiap manusia menjadi terang. Yesus Kristus selalu di gambarkan dengan terang. Contoh adalah dalam Yohanes 1:4-5 berkata bahwa: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”, demikian juga lewat pernyataan Yesus sendiri bahwa Dia adalah terang, yaitu dalam kitab Yohanes 12:46 berkata: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan”. Sehigga kalau Yesus merupakan sumber terang, maka setiap orang percaya adalah disebut sebagai “anak-anak terang” (Yohanes 12:36,Efesus 5:8, I Tes 5:5 ). Kata “pernah diterangi” dalam bahasa Yunani adalah “φωτισθεντας” yang berarti bahwa “yang sudah pernah menerima terang”. Jadi konteks ini sangat kuat mendukung bahwa hal ini menunjuk kepada orang yang sudah diselamatkan (I Yoh 1:7-8). Dave Hagelberg dalam buku “Tafsiran Ibrani” juga menjelaskan bahwa kondisi orang dalam Ibrani 6:4 adalah orang yang sudah diselamatkan, yaitu:
Salah satu dari empat unsur yang dikatakan dalam ayat ini sehubungan dengan “mereka” sudah cukup untuk menegaskan bahwa penulis surat Ibrani ini membicarakan keadaan orang yang pernah percaya kepada Tuhan Yesus.
Mereka “yang pernah di terangi hatinya”. Istilah “diterangi” juga dipakai dalam Ibrani 10:32, dimana adakaitannya dengan orang-orang percaya. II Korintus 4:3-6 memakai gagasan ini untuk menceritakan keadaan orang yang sudah diselamatkan. [1]


b. “yang pernah mengecap karunia surgawi”
Pada poin sebelumnya sudah dibahas mengenai penyataan “yang pernah diterangi hatinya” menunjuk kepada kondisi orang yang sudah diselamatkan. demikian juga pada frase berikutnya masih dalam kitab Ibrani 6:4, mengatakan bahwa “yang pernah mengecap karunia surgawi” juga pasti mengacu kepada orang yang sudah diselamatkan. Dalam kitab Filipi 3:20 menjelaskan bahwa semua orang percaya merupakan kewargaan sorga. Hal ini membuktikan bahwa hanya orang percayalah yang bisa merasakan karunia surgawi. Karena kalau orang yang belum percaya atau orang kristen KTP, tidak mungkin merasakan karunia sorgawi. Hal ini tentu bertentangan denga sifat Allah yang Maha Kudus, bahwa dosa tidak mungkin menghampiri kekudusan Allah (Ibrani 12:14). Demikian kutipan dari penyataan sanggahan J. Wesley Brill kepada orang-orang yang berpendapat bahwa konteks dalam Ibrani 6:4-6 merupakan orang-orang yang belum diselamatkan,yaitu:
Rupanya orang-orang yang berpendapat bahwa mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dipaksa berkata demikian oleh Teologi mereka (Teologi Calvin). Pembahasan itu sangat lemah sebab apa yang sudah dikatakan tentang mereka dalam ayat 4 hingga 6, hanya dapat dikenakan kepada orang-orang yang sungguh percaya dan mengalami kelahiran kembali. [2]
Memang ada teolog-teolog tertentu yang berpendapat bahwa kasus ini hanyalah sampai kepada mengecap Firman Tuhan tetapi tidak mengimaninya. Akan tetapi hal ini tentu bertabrakan dengan pemakaian bahasa Yunani pada kata”mengecap” yaitu “γευσαμενους (geusamenous)” yang berasal dari kata “γεύομαι (geomai)” yang memiliki pengertian bukan hanya “mengecap” saja, akan tetapi memilki pengertian “mengalami” (bandingkan dalam Ibrani 2:9, memakai kata yang sama yaitu “geomai” pada kematian). Dave Hagelberg dalam buku Tafsiran Ibrani juga bependapat yang sama, bahwa:
Mereka “yang pernah mengecap karunia surgawi”. Penafsir-penafsir tertentu mengatakan bahwa mereka hanya menegcap karunia keselamatan tetapi mereka tidak memilikinya. Pernyataan ini harus ditolak, mengingat pemakaian kata mengecap oleh penulis surab Ibrani ini, adalah kata yang sama dipakai untuk mengatakan bahwa Yesus sudah “mengecap kematian” (Ibrani 2:9). Tidak ada penafsir yang akan berkata bahwa “mengecap kematian” berarti Ia tidak sungguh-sungguh mati sehingga tidak dapat dikatakan bahwa “mengecap karunia surgawi” tidak berarti “memiliki karunia surgawi”. (I Petrus 2:3, dikutip dari Mazmur 34:9 ).[3]


c. Mendapat Bagian Dalam Roh Kudus.
Poin ini sebenarnya sangat tepat sekali untuk menggambarkan situasi orang yang sudah diselamatkan. sesutu yang mustahil jika penyataan ini menunjuk kepada orang yang belum diselamatkan. Dalam Kitab Efesus 1:13 berkata bahwa ketika seseorang percaya, orang tersebut akan dimateraikan oleh Roh Kudus. Jadi Firman Tuhan tidak mungkin saling bertabrakan satu dengan yang lain, akan tetapi setiap orang percaya harus yakin bahwa Firman Tuhan saling melengkapi. Termasuk pada poin ini bahwa orang yang mendapat bagian dalam Roh Kudus adalah orang yang sudah diselamatkan. Demikian kutipan dari penyataan Dave Hagelberg terhadap orang-orang yang tidak percaya bahwa Ibrani 6:4-6 menunjuk kepada orang yang sudah percaya masih dalam buku Tafsiran Ibrani, bahwa:
Mereka juga “pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus”. Apakah mungkin bagian ini dimaksudkan mengenai orang yang tidak sungguh-sungguh selamat?[4]

d. “dan yang mengecap firman yang baik dari Allah”
Pada poin ini, kembali dikataka bahwa, “mengecap Firman yang baik dari Allah”. Kata mengecap dalam ayat lima ini, memakai kata yang sama pada ayat empat yaitu“γεύομαι” yang memiliki pengertian “pernah mengalami”. Jadi sangat jelas bahwa poin ini mengacu kepada orang yang sudah diselamatkan yaitu orang yang sudah pernah mengalami Firman yang baik dari Tuhan. Bahkan dalam frase berikutnya dikatakan bahwa “dan karunia-karunia dunia yang akan datang”. Apakah orang yang belum diselamatkan bisa merasakan karunia-karunia yang akan datang? Tentu tidak, karena hanya orang percaya yang bisa merasakan karunia-karunia yang akan datang datang.
Sangat jelas bahwa dalam kitab Ibrani 6:4-5 ini menunjuk kepada kondisi orang yang sudah diselamatkan lewat pemaparan beberapa poin diatas. Demikian rangkuman dari J Wesley Brill dalam buku Tafsiran Surat Ibrani berkaitan dengan keseluruhan poin dalam Ibrani 6:4-5 yang membuktikan bahwa hal ini menunjuk pada kondisi orang yang sudah diselamatkan, yaitu:
1. “pernah diterangi hatinya.” Itulah pekerjaan Roh Kudus dalam hati orang-orang yang mendengar Injil Kristus. Hatinya diterangi mengenai tebusan dan keselamatan yang ada di dalam Yesus Kristus. Hati mereka ditempelak karena dosa dan perlunya keselamatan dinyatakan. (lihat Yohanes 16:8).
2. “pernah mengecap karunia sorgawi.” Istilah Yunani berarti “sudah merasa”. kata Yunani “geomai”bukan hanya berarti merasai tetapi juga berarti “mengalami” (Lihat Matius 16:28). Kata dasar Yunani yang sama digunakan juga dalam Ibrani 2:9, di mana dikatakan dari hal Kristus bahwa “Ia mengalami maut” yang tentu berarti merasai dengan sepenuhnya, yakni merasai mati. Ahli-ahli bahasa Yunani, yaitu Alford, Grimin, Westcott, Adam Clark, dan Cremer berkata bahwa kata “geomai” berarti“sungguh-sungguh merasai”. Karena itu janganlah kita mengurangi Firman Allah.
3. “pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus” istilah itu berarti menerima pribadi Roh Kudus sebagai janji dan sebagai karunia dari Kristus yang telah dibangkitkan. Hal ini tidak boleh diasingkan dari kedua hal yang dikatakan di atas.
4. “dan yang mengecap firman yang baik dari Allah”.” Firman Allah yang baik itu” menegnain janji-janji Allah. Allah, melalui Roh Kudus berkata kepada kita dengan Firman-Nya dan menjadikan janji-janji itu kenyataan dan dengan demikian kita “mengecap” Firman Allah yang baik itu. Firman Allah yang ditanamkan di dalam hati kita mengasilkan hidup suci.
5. “dan merasai “karunia-karunia dunia yang akan datang”. Karunia-karunia itu berarti segala kuasa Roh Kudus yang dinyatakan oleh sebab iman. Kepada orang-orang Yahudi istilah “dunia yang akan datang” berarti “zaman Mesias”, tetapi kepada kita berarti zaman atau masa kerajaan seribu tahun dan masa-masa selanjutnya. [5]
Jadi sangat jelas bahwa dalam Ibrani pasal enam mengacu pada kondisi orang yang sudah lahir baru. Dengan demikian poin ini akan menghantar kepada pusat permaslahan yaitu, peringatan terhadap bahaya kemurtadan yang nyata kepada semua orang percaya dalam konteks Ibrani 6:4-8.
B. ORANG PERCAYA YANG MURTAD TIDAK ADA PENGAMPUNAN LAGI
Pada poin-poin sebelumnya, telah didapatkan bahwa posisi atau konteks yang sedang dibicarakan oleh rasul Paulus adalah mengenai kondisi atau ciri-ciri orang yang sudah diselamatkan. Sehingga dengan dasar konteks tersebut, akan menghantar kepada pembahasan bahwa adanya bahaya dan teguran yang serius kepada setiap orang percaya yang bisa murtad. Mengingat bahwa ada banyak sekali teolog-teolog yang tidak setuju dengan pengajaran ini.
Berbicara mengenai murtad, ada beberapa pandangan akan masalah ini. dr Andrew M.Liauw dalam pelajaran Eksegesis kitab Ibrani menjelaskan ada 7 posisi dalam penafsiran ini, yaitu:
1. Orang yang dimaksud dalam pasal ini , mereka hanya mengaku di mulut bukan di hati. Dengan kata lain mengacu kepada orang yang belum diselamatkan
2. Ada juga yang berkata bahwa, mereka lahir baru tapi bukan orang pilihan. Ini termotivasi oleh doktrin kalvinis. Yaitu “Eternal security” yang berarti keselamatan kita aman. Dalam poin ini juga mengatakan bahwa orang yang lahir baru tetapi tidak setia, berarti bukan pilihan Tuhan. Dalam poin ini juga diajarkan bahwa poin untuk tidak setia adalah tindakan dari Tuhan.
3. Mereka benar-benar orang lahir baru, tapi peringatan itu bersifat hipotetis, atau berandai-andai. Menurut pndapat pada poin ini bahwa ini hanyalah suatu pernyataan kosong, dan tidak mungkin terjadi. Bahkan menurut mereka, orang yang hampir murtad pasti selalu batal murtad.
4. Mereka benar-benar orang lahir baru tapi hanya kehilangan pahala, bukan keselamatan.
5. Peringatan ini adalah hal kondisi spesial, yang hari ini tidak mungki terjadi lagi. Jadi menurut pandanga ini hal ini terjadi hanya untuk orang-orang percaya yang hidup saat itu saja. Yaitu menunjuk kepada orang-orang yang menyalibkan Kristus dan yang menghujat Yesus ketika melakukan mujizat.
6. Mereka benar-benar orang yang lahir baru tetapi bukan hilang keselamatan secara final. Menurut poin ini kata “tidak mungkin dibaharui lagi” itu hanya secara manusia. Karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.
7. Ini adalah orang yang lahir baru, dan jika murtad, dia tidak bisa bertobat lagi. Dan ini adalah peringatan yang nyata.[6]


Dari penguraian beberapa poin di atas, tentunya tidak semuanya panadanga yang benar, tetapi hanya ada satu pandangan yang benar yang sesuai dengan Alkitab. Penulis sendiri berada pada posisi bahwa dalam konteks Ibrani 6:4-8 berbicara kepada orang-orang yang sudah diselamatkan, dan ada peringatan yang nyata dari bahaya murtad.
Dengan kehendak bebas yang manusia miliki, manusia bisa menetukan pilihan-pilihan dalam sepanjang kehidupan, termasuk pilihan mau setia kepada Tuhan atau berbalik meninggalkan Tuhan. Dan dalam Ibrani pasal enam sudah sangan jelas berbacara mengenai hal ini. Kata “murtad” dalam bahaya Yunani yang dipakai dalam konteks ini adalah “παραπεσοντας” yang berasal dari kata “παραπίπτω” yang berarti “jatuh kesamping”. Dalam hal ini bisa juga diartikan dengan “jatuh dari iman yang sebelumnya”. Demikian penjelasan dr. Andrew M. Liauw dalam pelajaran Eksegesis Kitab Ibrani mengenai kata “murtad” bahwa:
Kata “murtad” yang dipakai berasal dari kata “parapipto” dalam bahasa Yunani, yang memilki pengertian “jatuh dari iman sebelumnya”, atau peristiwa yang bersifat final dan fatal, sehingga tidak dapat dibaharui sekali lagi.[7]
Memang posisi ini, merupakan posisi yang minim dari kalangan teolog-teolog yang ada. Akan tetapi penilaian bukan dari berapa banyak yang mendukung posisi ini, melainkan penilaian haruslah didasarkan oleh pemahaman Alkitab yang benar. Demikian penyataan dari Warren Wiersbe dalam buku Yakin Di dalam Kristus, yang intinya bahwa Warren sendiri kurang setuju bahwa orang percaya bisa murtad, yaitu:
menghadapi beberapa masalah karena tafsiran ini. Pertama, kata Yunani apostasia tidak dipergunakan di dalam bagian ini. Kata yang diterjemahkan menjadi “murtad” (6:6) adalah kataparapipto yang secara harafiah artinya “jatuh kesamping”. Kedua, kita selalu menafsirkan yang tidak jelas dengan yang sudah jelas. Percaya yang sejati bahwa tidak akan binasa. Bahkan salah satu argumentasi yang terbesar yang menjamin keselamataqn kita terdapat dalam bagian terakhir dari pasal ini (6:13-20). Lihat juga Yohanes 5:24, 10:26-30, Roma 8:28-39.[8]
Tentu ini merupakan pernyataan yang tidak konssiten dengan konteks yang ada. Kalau diperhatikan dalam ayat 6 bahwa orang yang murtad adalah orang yang “menyalibkan lagi Anak Allah baginya”. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana frase “menyalibkan lagi anak Allah baginya” bisa dijelaskan kalau bukan kepada orang yang kembali menyangkal iman. Pemahaman yang benar mengenai keselamatan adalah ketika orang berdosa bertobat dan percaya, maka hal itu sama dengan orang tersebut telah menyalibkan Yesus untuk yang pertama kali. Sehingga konteks Ibrani 6 ini berbicara mengenai menyalibkan lagi atau menyalibkan yang kedua kali,ini menunjuk kepada posisi seseorang yang dulunya beriman kepada Yesus dan kemudian melepaskan iman dengan menyangka atau menolakl kematian Yesus yang pertama karena dosa manusia.
Bahkan dalam bagian-bagian lain terdapat banyak sekali ayat yang berkata bahwa setiap orang percaya dihimbau untuk tetap menjaga iman. Misalnya dalam Ibrani 10:38 berkata bahwa, Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya" dan pada bagian sebelumnya yaitu dalam Ibrani 10:26 dan 29 menjelaskan bahwa orang yang sudah memeproleh pengetahuan kebenaran dan sengaja berbuat dosa, maka tidak ada korban lagi untuk penghapus dosa, hal ini dijelaskan Paulus dalam ayat 29 bahwa dosa tersebut adalah dosa dimana orang tersebut “menginjak-injak Anak Allah,menganggap najis darah perjanjian yang menguduskan,dan menghina Roh Kasih karunia.” Jelas ini menunjuk kepada dosa murtad. Dibandingkan dengan I Korintus 15:2 berkata bahwa, “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.”Dari beberapa ayat ini, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang percaya akan diselamatkan, dan keselamatan itu akan tetap ada jika setiap orang berpegang teguh kepada iman. Dengan kata lain, bagi orang yang melepaskan iman tersebut, maka orang tersebut tidak akan memiliki keselamatan yang kekal. Bahkan sangat jelas dalam Ibrani 15:2 menjelaskan bahwa kalau seorang yang percaya mengundurkan diri, maka Tuhan tidak akan berkenan. Hal ini sangat jelas berbicara mengenai satu kondisi seorang yang sudah percaya bisa menjadi murtad, dan ini merupakan teguran yang nyata dari Tuhan. Masih ada banyak lagi ayat yang memberikan himbauan kepada orang percaya supaya tetap menjaga atau berpegang teguh kepada iman (lih Kol 1:23, II Tes 2:15, Ibrani 3:6, Ibrani 3:14, Ibrani 4:14, 10:23). Oleh sebab itu, dalam konteks Ibrani 6 ini, Paulus memberikan penjelasan lebih lanjut pada ayat 7-8 lewat suatu perumpamaan yang mengibaratkan manusia dengan tanah. Khsusnya dalam ayat 8, Paulus berkata bahwa “ jika tanah menhgasilkan semak duri dan rumput duri, maka tanah tersebut tidak berguna dan yang berakhir pada pembakaran”. Selain itu, Paulus yang selain menulis kitab Ibrani, juga menulis kitab kitab I Timotius, memberikan contoh langsung bahwa ada orang murtad. Demikian kutipan dari I Timotius 1:19-20, yaitu:
(1 Timothy 1:19-20 [ITB])
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,(20) di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.
Oleh sebab itu tidak dapat disangkal lagi bahwa, Alkitab dengan jelas memberikan penjelasan kepada semua orang percaya, khususnya dalam kitab Ibrani 6:4-8 akan peringatan yang nyata mengenai kemurtadan. Menurut J Wesley Brill dalam buku Tafsiran Surat Ibrani, diA menjelaskan bahwa ada 4 tingkatan kepada seseorang yang menuju kepada murtad, yaitu:
1. Mula-mula ia tidak maju kepada kesempurnaan, tidak maju jadi dewasa, tidak maju berserta Kristus
2. Ia melalaikan keselamatan dengan tidak peduli akan Firman Allah, hal-hal rohani dan rumah Allah.
3. Ia meragukan Firman Allah dan tidak percaya kebenaran di dalam Firman Allah, lalu mulai menolak beberapa pengajaran Kristen yang penting.
4. Lalu ia murtad dari Kristus.[9]
Penulis setuju denga pendapat Wesley, bahwa kemurtadan itu tidak jadi secara langsung akan tetapi secara bertahap. Dengan demikian hal ini bukan sebagai hipotetis saja, dan juga bukan hanya sebagai alat supaya orang kristen takut, akan tetapi ini merupakan peringatan nyata yang Tuhan ajarkan. Sehingga hal ini dapat mematahkan argumen dari orang-orang yang percaya setiap orang percaya tidak mungkin kehilangan keselamatan (pengajaran OSAS) dan kalvinisme yang mengajarkan bahwa orang pilihan tidak mungkin murtad. Amin.
====================================================================

MURTAD MENURUT IMAN KRISTEN


I. PENDAHULUAN
Ada orang yang berpandangan bahwa orang beriman (orang Kristen) tidak bisa murtad. Benarkah demikian? Lalu untuk apa ada begitu banyak peringatan dalam Alkitab kepada orang beriman supaya jangan murtad? Hanya orang beriman yang bisa murtad, yaitu orang yang pernah mengenal kebenaran, yang pernah tinggal Roh Kudus dalam hatinya sebagai meterai keselamatan. Alkitab dengan keras memperingatkan supaya orang beriman tidak murtad. Untuk apa diperingatkan? Tentu saja karena ada resiko orang beriman untuk murtad bila tidak waspada. Alkitab dengan tegas memperingatkan bahwa orang beriman supaya jangan murtad. Karena Alkitab mengajarkan bila tidak waspada dan tetap tekun berbuat dosa maka orang Kristen (orang beriman) bisa saja murtad. Orang yang tidak memelihara imannya dan yang tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar akan hidup sembarang, maka lambat laun keinginan dunia ini akan memikat hatinya, sehingga “menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa” (Ibrani 3:13). Roh Kudus yang ada dalam hatinya terus menerus berduka-cita, berbicara melalui hati nuraninya untuk menginsafkan orang itu dari dosanya, namun karena mengeraskan hati, hati nurani nya menjadi tegar dan tumpul / bebal, sehingga bila ada pencobaan, ada kemungkinan orang ini menjadi murtad atau melepaskan imannya (I Timotius 1:19).Semoga Allah yang telah mengaruniakan anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus, mendapati kita tetap setia hingga akhir hidup kita masing-masing. Untuk itu, penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:


I. Pendahuluan
II. Pengertian Murtad
III. Murtad menurut agama Islam
IV. Murtad Menurut Iman Kristen
4.1. Murtad dalam Perjanjian Lama
4.2. Murtad dalam Perjanjian Baru
4.3. Murtad menurut bapa-bapa Gereja
4.4. Murtad menurut Reformator
4.5. Murtad menurut HKBP
V. Analisa
VI. Relevansi
VII.Kesimpulan


II. PENGERTIAN MURTAD
Kata murtad merupakan kata serapan bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia. Yang dalam bahasa Indonesia kata serapan ini diartikan sebagai orang yang meninggalkan agamanya dan berpindah ke agama lain. Dapat juga diartikan orang yang tersesat karena berpaling dari ajaran agama yang benar.[1] Dalam kamus Alkitab, murtad diartikan sebagai pengingkaran terhadap iman kepada Allah, yang dikemukakan baik dalam Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Lebih jelas lagi Paulus menegaskan murtad merupakan pemberontakan yang besar. Dalam Alkitab Apostasy merupakan kata yang dipakai untuk menyebut orang yang meninggalkan iman serta meninggalkan juga komunitas orang-orang beriman (band. Yer. 2:19). Dalam Iman Kristen, seseorang yang dibabtis, dikatakan murtad kalau ia dengan bebas dan seutuhnya meninggalkan iman. Dengan demikian, murtad bukan hanya terkait berbalik dari satu ke yang lain, namun mencakup hal-hal yang tercakup di dalamnya termasuk komunitas atau perkumpulan orang-orang beriman. [2]
Konsekuensi murtad agama dan moral muncul dan ini dikatakan sebagai dosa. Dalam Yunani klasik, pemberontakan ditandai murtad dari seorang komandan militer. Dalam Gereja Katolik Roma, itu menandakan meninggalkan perintah agama; penolakan otoritas gerejawi; pembelotan dari iman. Penganiayaan dari abad Kristen awal banyak dipaksa untuk menyangkal pemuridan Kristen dan untuk menunjukkan kemurtadan mereka dengan menawarkan dupa bagi dewa kafir atau menghujat nama Kristus. Dan pembelotan murtad dari iman mungkin intelektual atau mungkin moral dan spiritual.[3]


III. MURTAD MENURUT AGAMA ISLAM
Menurut islam, orang murtad orang yang beriman kepada Allah dan kemudian kafir dengan sukarela. Atau dengan kata lain dia menjadi Kafir sesuai dengan pilihannya sendiri. Dia yakin, meninggalkan imannya.[4] Murtad Dalam agama Islam merupakan masalah yang besar dan sensitif. Murtad boleh berlaku tidak hanya mengucapkan kalimat kufur saja tetapi dengan berbagai cara yang kadangkala tanpa disadari oleh pelakunya. Menurut agama Islam, ada empat hal yang dapat menyebabkan Murtad. Pertama, disebabkan kepercayaan (murtad I’tiqadi), yang artinya adalah apabila seseorang itu mempercayai sesuatu dengan ia membenarkan kepercayaan tersebut dalam hatinya, selain itu murtad yang disebabkan kepercayaan adalah karena mempercayai alam yang bersifat azali dan alam maya tanpa wujud pencipta, yang mengaku ada tuhan selain Allah atau Allah mempunyai pembantu di dalam kekuasaan-Nya, mengambil perantara dirinya dengan Allah dan berdoa kepadanya, mempercayai orang yang mengaku dirinya nabi setelah nabi Muhammad S.A.W. Kedua, disebabkan perkataan (murtad qwli), yang dikatakan murtad karena perkataan adalah; perkataan yang menyebabkan orang kafir, perkataan yang mengandung celaan dan hinaan terhadap Allah, semua perkataan yang tidak sepatutnya diucapkan kepada Allah atau agamanya atau rasulnya. Ketiga, disebabkan perbuatan (murtad fi’li) yaitu, pemujaan terhadap sesuatu seperti pantai, pohon, kubur, bukit, dll. Selain itu, seseorang yang sengaja melalui perbuatan mengaku hendak keluar dari Islam, dengan perbuatan mencela agama Islam, serta siapa dengan perbuatan mencela Qur’an. Dan keempat, karena meninggalkan sesuatu. Yaitu, mereka yang meninggalkan sesuatu perbuatan yang pada akhirnya menyebabkan pengingkaran atau penolakan secara nyata untuk tidak mempercayai Islam lagi. [5]


IV. MURTAD MENURUT IMAN KRISTEN
Berbicara tentang murtad menurut Kristen, tentu muncul pertanyaan apakah orang beriman dapat Murtad? Di dalam perumpamaan pokok anggur Tuhan Yesus senantiasa mengingatkan kepada muridNya, supaya mereka tetap di dalam Tuhan. Hal itu perlu sekali agar supaya mereka tidak dibuang keluar dan menjadi kering. Mereka hanya dapat tetap di dalam Kristus, jikalau mereka menuruti segala perintahNya (Yoh. 15:6,7,14). Demikian juga halnya dengan Rasul Paulus, yang memberikan peringatan, supaya siapa yang menyangka dirinya teguh berdiri, berhati-hati jangan sampai jatuh (1 Kor. 10:1,6,11). Demikian juga di dalam suratnya yang kepada jemaat di Roma Paulus mengingatkan para orang beriman supaya janganlah mereka bermegah, supaya janganlah mereka dibuang oleh Tuhan Allah, seperti halnya dengan Israel (Rm. 11: 18,20,21). Alkitab juga menunjukkan adanya orang beriman yang jatuh, seperti Pilatus, Demas, dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah peringatan supaya orang beriman tetap berada dalam keselamatan dan hidup dari keselamatan itu. Dengan mengingat akan segala peringatan itu orang beriman akan dapat berjalan dekat dengan Tuhan Allah. Beriman berarti, bahwa setiap hidup orang harus diarahkan kepada keselamatan pemberian Tuhan Allah. Keselamatan itulah yang tetap, pasti, tidak berubah, tidak goyah. Maka orang beriman diperingatkan supaya tetap tetap berada di dalam keselamatan. Ada beberapa godaan yang akan berusaha menjatuhkan orang beriman.[6]


4.1. Murtad dalam Perjanjian Lama
Sejarah Perjanjian Lama adalah sejarah tentang jatuh bangunnya umat Allah. Israel sering murtad dan dihukum Tuhan, lalu bertobat dan diselamatkan oleh-Nya. Kemuadian Israel kembali murtad dan kembali di hukum, demikian seterusnya. Dengan kata lain dapat dikatakan dalam perjalanan Israel yang digambarkan dalam Perjanjian Lama mengalami kegagalan dalam panggilan serta tugas yang dipercayakan Allah kepadanya, itulah yang dikatakan Murtad. Namun, dari semuanya itu, terdapat juga pribadi-pribadi dalam diri umat Israel yang setia melakukan pekerjaan Allah.[7] Dalam perjalanan bangsa Israel dalam perjanjiannya dengan Allah, dapat dilukiskan terdapat ketidak setiaan Israel terhadap panggilan Allah, yang berulang-ulang Allah jalankan untuk memimpin umat. Dalam Perjanjian Lama, murtad sangatlah jelas digambarkan melalui sebuah konsep, yaitu Israel murtad- Israel dihukum – Israel bertobat- Israel diselamatkan, dimana siklus itu berulang-ulang. Dalam Perjanjian Lama, murtad itu dipandang sebagai orang yang menjual dirinya, kepada ilah-ilah kafir. Menurut kitab para Nabi, Allah adalah kasih dan setia. Menurut kitab Nabi, kelak Allah akan mengaruniakan kepada umat-Nya yang tidak setia dan yang murtad suatu hati dan batin yang baru (Yer. 31:33; band. Mzm. 51:12) dengan tujuan supaya tidak ada lagi murtad dalam perjalanan Israel, atau untuk menobatkan yang akan bertobat dan kembali kepada-Nya.[8]


4.2. Murtad dalam Perjanjian Baru
Kemurtadan (Yunani: "apostasia") dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda dalam 2 Tesalonika 2:3 dan di dalam Ibrani 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yunani: aphistemi; dalam versi lain diterjemahkan sebagai "berbalik dari"). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti. Dalam Perjanjian Baru, murtad lebih jelas dibahas dalam surat Ibrani. Dimana dikatakan bahwa murtad merupakan dosa yang sangat serius. keyakinan penulis surat Ibrani ialah, jika menurut Perjanjian Lama murtad merupakan suatu hal yang terkutuk, maka kini karena Yesus Kristus telah datang maka murtad dipandang sebagai hal yang sangat mengerikan. Alasannya, murtad menginjak-injak Kristus di bawah kaki. Murtad tidak hanya pemberontakan melawan hukum, tetapi juga tindakan melukai kasih.[9]
Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya. Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru, dan pembaharuan melalui Roh Kudus (bandingkan dengan Lukas 8:13; Ibrani 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin Perjanjian Baru oleh mereka yang belum diselamatkan di dalam jemaat. Kemurtadan mungkin meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan:
· Kemurtadan teologis, yaitu: menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan para rasul (1 Timotius 4:1; 2 Timotius 4:3), dan
· Kemurtadan moral, yaitu: seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak
dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (Yesaya 29:13; Matius 23:25-28; Roma 6:15-23; 8:6-13).[10]
4.3. Murtad menurut Bapa-bapa Gereja
Tertulianus, yang dikenal dengan Bapa Teolog Latin. Karya Tertulianus yang terbesar dan terpanjang adalah kelima jilid bukunya yang berjudul adversus Marcionem (melawan Marcion). Dimana Marcion adalah orang murtad terbesar pada abad ke-2. Marcion murtad karena memadukan Gnostisisme dengan kekristenan menurut Rasul Paulus. Yang dianggap membuat orang murtad menurut Tertulianus adalah filsafat Yunani, yang pada akhirnya disebut sebagai sumber ajaran sesat. Ia menekankan sifat paradoksial dari iman dan kontras antara agama dan filsafat. Namun hal ini jangan disalah tafsirkan. Di sisi lain, ia dapat mendasarkan diri pada unsur-unsur filsafat Yunani yang sesuai dengan agama Kristen. Senada dengan Tertulianus, Clemens menunjukkan, bahwa orang dapat saja menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan filsafat dan intelek tanpa menjadi seorang yang murtad.[11]
Pada pertengahan abad ke-3 Cyprianus meninggalkan pola hidup lamanya setelah masuk menjadi Kristen. Dengan semboyannya, “dengan kelahiran kedua ini telah menciptakan manusia baru dalam diri saya, dengan hembusan roh dari surga”. Sebagai mantan guru retorika ia mampu menanjak karir sampai menjadi Uskup Kartago sekitar tahun 248. Hal yang paling ditekankan Cyprianus adalah kesatuan gereja. Pada saat itu, banyak Kristen yang murtad akibat tindakan Kaisar Romawi Decius yang menganiaya orang-orang Kristen, sehingga muncul penyangkalan iman oleh orang-orang kristen. Kaisar tidak menginginkan mereka untuk mati martir, karena hal itu akan menarik perhatian semua dunia Kristen. Tetapi, ia menyiksa orang Kristen dengan harapan bahwa mereka akan mengakui bahwa Kaisarlah Tuhan. Itulah orang-orang yang Murtad. Namun, orang-orang yang tetap bertahan merupakan pengikut setia, dimana pengikut setia ini memandang rendah orang-orang murtad. Itulah perpecahan yang dimaksudkan oleh Cyprianus. Walaupun Cyprianus tidak mengalami penyiksaan karena imannya, ia tidak setuju akan perpisahan yang terjadi diantara orang-orang Kristen. Pada tahun 251 Cyprianus mengadakan konsili di Kartago dan di situlah ia membacakan naskah Persatuan di dalam Gereja, yang terkenal dan berpengaruh dalam sejarah gereja. Pada tahun 258 ia harus meninggal untuk mempertahankan imannya. Diamana, pada saat itu ia mengalami penyiksaan dari Kaisar velerianus karena tidak mau melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepalanya dipenggal. Namun, gereja tetap berpegang pada kesatuan gereja yang ia cetuskan.[12]
Sementara itu, pada tahun 249 dalam pemerintahan Decius merupakan tahun bertuah untuk Romawi, dimana itulah ulang tahun ke seribu bagi kota itu. Decius memandang kemerosotan dalam pemerintahan ada hubungannya dengan gereja. Oleh karena itu, Decius melakukan serangan terhadap gereja. Tujuan utamanya adalah bukan untuk membunuh orang, melainkan untuk membuat warga gereja murtad. Oleh karena itulah cara kekerasan digunakannya. Akibatnya terjadi perpecahan dalam gereja.[13]
4.4. Murtad menurut Reformator
Untuk Marthin Luther, jaminan keselamatan pribadi dapat diketahui oleh setiap orang percaya melalui sidang Allah. Luther telah mengambil sikap yang kuat terhadap kehendak bebas, namun kedua,Luther dan penerusnya berpendapat bahwa adalah mungkin bagi seorang Kristen untuk jatuh jauh melalui ketidakpercayaan. Dia mengakui bahwa bahaya kemurtadan mempengaruhi perjalanan Kristen dan bahwa tidak ada ruang untuk rasa percaya diri. Orang-orang percaya dibenarkan oleh iman saja (sola fide), dan mereka diakui sebagai Justus Simul et peccator (orang yang adil dan orang berdosa), namun orang murtad mampu sepenuhnya tidak memikirkan keadaan orang benar. Luther menulis tentang orang percaya, "bahkan jika ia mau, dia tidak bisa kehilangan keselamatan, namun banyak ia berdosa, kecuali ia menolak untuk percaya. Untuk dosa tidak dapat condemm dia menyimpan ketidakpercayaan sendirian. "Tetap preseverance Final-orang Kristen pasti aman di dalam Kristus tetapi mereka tidak aman dalam diri mereka sendiri.[14]
Yohanes Calvin mengatakan Allah menilai persekutuan gereja begitu tinggi, sehingga orang yang menghindari dari suatu perkumpulan orang Kristen, yaitu yang memelihara pelayanan Firman dan Sakramen-sakramen yang benar, dianggap sebagai orang yang pelarian atau dikenal dengan Murtad. Persekutuan gereja tidaklah boleh ditolak. Jangan karena ada perbedaan kecil saja dalam gereja menyebabkan murtad. Dengan memperbaiki yang salah, maka kita bertindak sebagai kewajiban kita terhadap Allah. Menjalankan sejarah gereja haruslah dengan aman dan tertib. Janganlah sampai murtad (meninggalkan gereja) namun tinggallah di dalamnya dengan tertib dan damai.[15] Yohanes Calvin melihat reformasi sebagai suatupembenaran dan pengetahuan tentang keselamatan pribadi, tetapi ia juga berpendapat bahwa mereka yang percaya dan terpilih akhirnya akan melestarikan dan bisa diselamatkan. Pada akhirnya didasarkan pada predistinasi dan pemilihan. Dalam keputusan kekal Allah, Tuhanmemberikan pengertian untuk hidup kekal dan orang lain untuk hukuman kekal. Bagi Calvin, ayat-ayat Alkitab pada kemurtadan ditemukan dalam Ibrani (6:4-6, 10:26-29) yang diterapkan pada subjek berdosa terhadap Roh Kudus. Dosa yang tak terampunkan bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu di dalam gereja dan dengan demikian mengekspos mereka sebagai orang murtad dan memiliki iman palsu. Tuhan menggunakan rasa takut murtad pada akhirnya agar dapat melindungi orang percaya sejati menentangnya. Hanya orang-orang yang mengabaikan ancaman tersebut berada dalam bahaya nyata murtad. Hal ini dimungkinkan untuk orang percaya memilih untuk jatuh jauh dari rahmat Allah sementara, tetapi jika orang itu benar-benar terpilih, dia akhirnya akan dikembalikan.[16]
4.5. Murtad menurut HKBP
Dalam perangkat HKBP tidak ada secara jelas yang membahas tentang murtad. Namun, dalam RPP HKBP penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut; seseorang dalam HKBP yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah, tidaklah dikatakan langsung murtad. Namun, orang yang demikian terlebih dahulu ada langkah-langkah, seperti mengingatkan, membimbing, dan lainnya. Namun, jika hal itu tidak didengarkan lagi, maka dapat disimpulkan bahwa dia tidak lagi teman persekutuan di dalam gereja atau dengan kata lain murtad berbalik dari Allah. Segala yang berkaitan dengannya dalam gereja tidak akan dilayani lagi. Dalam Konfessi HKBP juga ditegaskan, bahwa HKBP hanya mempercayai Allah yang maha kuasa, yang keberadaannya tidak terselami, dan tidak berubah. Dengan demikian Allah senantiasa dekat, campur tangan, bekerja, mengatur dan menghakimi kehidupan orang di seluruh dunia. Karena itu, hanya Allah saja yang disembah, yang dipercayai, yang dituruti. Orang yang berpaling dari keyakinan itu, merupakan orang yang murtad.[17]


V. ANALISA
Sekarang ini, banyak orang Kristen yang ditekan, ditindas, difitnah. Tentu sakit rasanya mengalami hal tersebut. Namun, perlu diketahui hal tersebut tidak mampu mengalahkan orang beriman dengan membuatnya menderita. Di satu sisi, untuk membuat iman orang lemah adalah dengan cara dibuai, terleda dan sebagainya. Tetapi berbeda dengan penderitaan. Contoh nyata adalah Ayub, pengalaman gereja di mula-mula pun bisa menjadi contoh. Mereka menderita, dikejar, dianiaya bahkan sampai dibunuh. Ada sebagian yang pada akhirnya kalah dan menjadi murtad. Penderitaan tidak pernah mampu mengalahkan iman.[18] Seluruh Alkitab beridiri di atas satu dasar yang kokoh: bahwa hanya ada satu Allah. Orang yang murtad percaya kepada allah-allah lain, dimana allah lain itu diakui sungguh ada dan disembah. Tidak ada satupun di dalam Alkitab diluar pemeliharaan Allah. Dapat ditegaskan, bahwa tidak ada pemeliharaan yang lain, kecuali Allah.[19]
Murtad sulit dibedakan dengan pemberontakan. Namun yangpasti, dan pernyataan bahwa hal ini terjadi harus menunjukkan bahwa apa yang diperkirakan di sini adalah murtad yang mengarah kepada Parousia. Akhir klimaks sebelum akhir zaman. Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa kemurtadan ini akan menjadi intensifikasi dan puncak dari pemberontakan yang sudah dimulai. Fakta Tanda disebut murtad menyiratkan bahwa ini akan menjadi pemberontakan terhadap iman Kristen seperti yang telah mendengar atau dianut. Karena itu kita dapat berasumsi bahwa mereka yang murtad akan setidaknya luar yang terkait dengan umat Allah. kemurtadan akan terjadi dalam jajaran anggota gereja yang kelihatan.[20]
Dalam perjalanan sejarah gereja di Indonesia, seperti di Ternate 1557, terdapat juga upaya untuk membuat penganut Kristen murtad. Orang-orang Hitu yang diperkuat pasukan dari Jawa membakar kampung-kampung Kristen dan memaksa penduduknya untuk murtad. Namun, dibalik itu, bukanlah pertentangan Islam dan Kristen namun sebagai perselisihan politik antar daerah itu. Walaupun demikian, orang-orang Kristen ketika itu berhasil mempertahankan diri.[21]
Analisa pribadi penulis, dalam perjalanan sejarah gereja sekarang, jika dibandingkan ke dalam perjalanan sejarah gereja sebelumnya, murtad tidak lagi merupakan permasalahan yang dihadapi agama-agama, terkhusus orang Kristen. Namun, walaupun demikian tetap juga terjadi murtad dalam sejarah gereja sekarang ini. Hanya saja perlu diketahui, jika dahulu seseorang murtad adalah karena orang lain (misalnya karena penindasan, ajaran, dll), sekarang ini murtad itu lahir dari diri sendiri (misalnya karena pernikahan). Menurut penulis, hal ini karena pluralitas yang sudah dijunjung tinggi oleh masing-masing agama.


VI. RELEVANSI
Dalam perjalanan kehidupan sejarah gereja, tentunya banyak pergumulan dan tantangan yang dihadapi. Gereja mengalami penindasan, supaya umat tidak lagi percaya kepada Tuhan, dan menyangkal imannya sendiri. Tidak hanya sekedar penindasan, tetapi juga sampai kepada tindakan fisik yang menciderai serta melukai umat Tuhan untuk murtad. Demikian juga yang kita alami baru-baru ini, terjadi penindasan kepada jemaat HKBP dalam bentuk penyangkalan akan kebebasan umat beragama, dengan dilarangnya beribadah. Apakah dibalik semuanya itu, pihak-pihak tertentu menginginkan supaya jemaat itu berpaling dari Tuhan? Atau ada hal apa dibalik itu semua. Sementara pluralitas katanya dijunjung tinggi di negeri ini. Namun, walaupun seperti itu jemaat HKBP haruslah tetap teguh dalam pendiriannya, tanpa perduli akan tindangan orang lain yang ingin memiliki kepntingan tersendiri. Terlebih HKBP yang akan mencapai Jubileum 150 Tahun, supaya menjadi gereja yang menjadi berkat bagi semua orang dan semua bangsa serta menjadi gereja yang Inklusif, dialogis serta terbuka.
Disisi lain, pembahasan tentang Murtad akan mengarah kepada dialog antar umat beragama atau pluralitas. Setiap agama percaya bahwa Allah adalah Maha Kuasa, Maha Murah, dan Maha Pengasih. Artinya, bahwa Ia adalah Allah yang tidak menghendaki kebinasaan manusia. Maka Allah senantiasa member kesempatan kepada manusia supaya bertobat. Hamper setiap agama mengajarkan bahwa Allah menghendaki keselamatan manusia hanya dapat diketahui jika Allah sendiri memberitahukannya kepada manusia. Pemberitahuan ini dalam agama Kristen disebut penyataan (Revelation) sedangkan dalam agama Islam disebut Wahyu. Dari diskusi tersebut yang hendak dicapai adalah sikap mawas diri agama-agama. Artinya, kita menjauhkan diri dari suatu sikap fanatisme, yang tidak melihat bahwa ada kekuarangan pada agama kita dan ada kelebihan pada agama yang lain. Kita harus waspada agar kita tidak terjerumus ke dalam upaya-upaya rekayasa dangkal, yang akhirnya akan merugikan integritas agama, dan memperlemah kesatuan umat manusia. Sebab hanya orang-orang yang mempunyai keprihatinan, pengharapan, dan beriman yang akan saling bertemu dengan agama lain. Yang mana, pertemuan tersebut yang akan memperkokoh kesatuan umat manusia.[22]


VII.KESIMPULAN
· Murtad adalah orang yang meninggalkan agamanya dan berpindah ke agama lain. Dapat juga diartikan orang yang tersesat karena berpaling dari ajaran agama yang benar
· Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya.
· Murtad Dalam agama Islam merupakan masalah yang besar dan sensitif.
· Dalam perangkat HKBP tidak ada secara jelas yang membahas tentang murtad.
· Murtad ada dua jenis : kemurtadan teologis, kemurtadan moral
· Murtad akan mengarah kepada dialog antar umat beragama atau pluralitas.


=====================================================================

Hukuman Murtad dalam Alkitab


Kristen, selama ini menuduh Islam sebagai agama yang tidak beradab dan tidak memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk bebas berakidah. Salah satunya dengan menuding bahwa hukuman murtad dalam Islam sangat tidak berprikemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia.
Dan masalah tersebut sudah kami jawab pada pembahasan sebelumnya. Dan sepertinya, Kristen pura-pura tidak tahu menahu bahwa hukuman murtad dalam agama mereka jauh lebi sadis dan mengerikan.
Sebelum orang yang murtad itu menjalani hukuman rajam (dilempari batu sampai mati), terlebih dahulu, dihajar ramai-ramai oleh seluruh rakyat sekitarnya. Tidak cukup dengan itu, akan tetapi pemusnahan total bangsa-bangsa yang musyrik dan murtad dengan pembakaran kota dan segala isinya, termasuk binatang, pepohonan  dll.
Ulangan:  13:6Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu,13:7salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi,13:8maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya,13:9tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruhrakyat.13:10Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.
Ulangan: 17:2″Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, dengan melangkahi perjanjian-Nya,17:3dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu;17:4dan apabila hal itu diberitahukan atau terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di antara orang Israel,17:5maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati.
Ulangan: 13:12Apabila di salah satu kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diam di sana, kaudengar orang berkata:13:13Ada orang-orang dursila tampil dari tengah-tengahmu, yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal,13:14maka haruslah engkau memeriksa, menyelidiki dan menanyakan baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di tengah-tengahmu,13:15maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya.13:16Seluruh jarahan harus kaukumpulkan di tengah-tengah lapangan dan harus kaubakar habis kota dengan seluruh jarahan itu sebagai korban bakaran yang lengkap bagi TUHAN, Allahmu. Semuanya itu akan tetap menjadi timbunan puing untuk selamanya dan tidak akan dibangun kembali.
====================================================

Lahir Baru, Lalu Murtad?


Bisakah seorang yang sudah lahir baru murtad kembali kepada kehidupan yang lama dan jika tidak mengapa; jika bisa mengapa dan apa akibatnya?.

a.       Seseorang yang sudah benar-benar lahir baru tidak mungkin murtad :
Seseorang yang sudah benar-benar lahir baru, yang diberikan sebagai "kasih karunia" (anugerah) dari Tuhan tidak dapat menahan kuasa kasih karunia Tuhan untuk menyelamatkannya. Dan Tuhan akan menyelamatkan semua orang-orang pilihan yang ingin Ia selamatkan, dan tidak satu orangpun yang dapat menghalangi rencana Tuhan.
Sebagaimana Yesus berkata di dalam Yohanes 10:27-29 seolah-olah sudah memberi kepastian bahwa orang yang sudah benar-benar lahir baru tidak mungkin murtad atau pasti bertahan sampai kesudahan.

Membaca : Yohanes 10:28 
dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Dari satu ayat ini nampak Tuhan Yesus memberi jaminan akan keselamatan, Ia memberi hidup kekal. Apa artinya kekal?  ya selama-lamanya, bukan temporer.
Kalau orang-orang yang benar-benar lahir baru bisa murtad dan binasa, maka Tuhan Yesus pasti tidak bilang "hidup kekal" tetapi "hidup sementara" Orang yang benar-benar lahir baru pasti tidak binasa selama-lamanya.

  1. Alkitab menyatakan bahwa orang yang "murtad" bukan orang-orang yang benar-benar lahir baru dan tidak pernah jadi orang pilihan.
 Membaca : I Yohanes 2:19
Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. 

Jadi, pandangan yang menyatakan bahwa kalau ada orang-orang yang benar-benar lahir baru bias murtad, itu hanya membuktikan bahwa ia memang bukan orang yang benar-benar lahir baru, itu bukan hanya pandangan tanpa dasar, tetapi pandangan yang sesuai dengan Alkitab, atau Alkitabiah. 

Tuhan Yesus sudah menyatakan bahwa di dalam gereja akan ada dua golongan yaitu Kristen Gandum (Kristen sejati) dan Kristen Ilalang (Kristen palsu). Sebelum hari penghakiman kita tidak bisa membedakan mana orang kristen gandum dan mana yang kristen ilalang. Jadi kalau sebelum hari penghakiman saja sudah murtad, jelas dia adalah kristen ilalang.

Akibat dari kemurtadan : Ibrani 6:4-6

6:4 Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,
6:5 dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang,
6:6 namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ada empat tafsiran untuk ayat ini, yaitu :
  •  Keselamatan mereka hilang, sehingga mereka ke nereka, meskipun mereka pernah percaya dan seolah-olah lahir baru.
  •  Ada sesuatu yang tidak beres dari segi iman mereka, sehingga mereka tidak pernah selamat, mereka hanya "mengecap" tetapi tidak "makan."
  • Ayat ini hanya menceritakan suatu pengandaian saja, yaitu seandainya keselamatan mereka hilang, maka orang itu tak tertolong lagi.
  •  Mereka adalah orang selamat yang menjauhkan diri dari persekutuan yang hidup dengan Tuhan Yesus, sehingga pahala mereka terancam.
Akhirnya dikatakan bahwa mereka yang "murtad," atau "jatuh dari (Allah)." (Dari segi tata bahasa, kalimat ini adalah sebuah mata rantai yang terdiri dari lima aorist participle: diterangi, mengecap, menjadi, sekali lagi mengecap, dan akhirnya murtad.)

================================================================


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?