Dilahirkan di Skopje, Yugoslavia, dengan nama Agnes Boyakhul, 26 Agustus 1910. la masuk Biara 1oretto di Irlandia 1928. Setahun sesudahnya dikirim ke India untuk menjalankan novisiatnya di sana dan memulai karya sebagai guru, mengajar di
SMP St.Mary Calcuta.
Ia mengajar di situ hampir 20 tahun. Pada tahun 1946 dalam perjalanan menuju retret tahunannya, ia berkata: "Aku mendengar panggilan untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti DIA ke lorong-lorong kumuh untuk melayani orang-orang miskin dan teriantar.
la mengajukan permohonan kepada pimpinan Biara Loretto dan pada tahun 1984 ia meninggalkan biara Lorreto. Dalam ketaatan kepada Uskup Agung Calcuta, ia memulai hidup di tengah orang-orang miskin. Ia mendirikan sekolah di daerah kumuh dan mulai mengajar anak-anak miskin di situ. la juga belajar obat-obatan sederhana dari para suster BKK (Biarawati Karya Kesehatan) dan mulai mengunjungi rumah-rumah orang sakit dan merawat mereka. Tidak lama banyak gadis alumni Sekolah St. Mary bergabung dengan dengan dia dan melayani orang-orang menderita itu.
Tahun 1952 ia bertemu seorang wanita yang dibuang, sedang dalam keadaan hampir mati di jalan. Badannya penuh dengan tikus-tikus dan semut. Ia mengangkat wanita itu dan membawanya ke Rumah Sakit, tetapi Rumah Sakit tidak melayani. Teresa Ialu membawa ibu itu ke Wahkota dan meminta pertolongan untuk melayani orang-orang miskin, agar mereka boleh mendapat tempat perlindungan yang layak.
Petugas kesehatan membawa dia ke sebuah gedung di dekat kuil Hindu. Gedung itu tidak dipakai, kecuali sebagai penginapan bagi para pengunjung kuil. Petugas kesehatan itu menawarkan rumah itu kepada Ibu Teresa untuk digunakan. Dalam sehari ia menampung banyak orang sakit di situ dan memulai di rumah itu tempat untuk orang sakit payah - yang sekarang terkenal dengan nama: Kalighat.
Bertahun-tahun ia mengembangkan karya pelayanannya ini secara subur. la melayani hampir setiap penderita yang ia jumpai untuk dilayani; memberi perlindungan, memelihara anak-anak yatim-piatu, memberi makan yang lapar dan memberi pakaian kepada yang telanjang, membuka klinik untuk keluarga berencana, pelayanan perawatan jalan, dan perawatan orang-orang lepra.
Ia mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih, yang sekarang sudah lebih dari 3000 anggotanya, yang bekerja di 52 negara di manca negara seperti di Roma, Addis Ababa, Bronx, Jenkins, Kentucky. Para suster menjalankan hidup bakti dengan mengikrarkan kaul ke-empat yakni "Dengan Segenap Hati Dan Seluruh Diri. Memberikan Pelayanan Bebas Kepada Mereka Yang Paling Miskin". Dalam situasi dunia di mana panggilan hidup religius berkurang, suster Misionaris Cintakasih ini malah bertumbuh amat subur. Penjelasan untuk ini sangat sederhana, kata Ibu Teresa: "Ada banyak wanita data pekerjaan seperti ini yang masih tetap mencari suatu kehidupan doa, kemiskinan dan pengorbanan."
Pekerjaan Ibu Teresa diakui di seluruh dunia. Ia terkenal sebagai wanita yang diakui di mata dunia dan pada tahun 1979 ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian.
Kemasyhuran nama seperti itu tidak memudarkan cara hidqpnya yanq luqu yanq bersinarkan cinta-kasih Kristus kepada orang-orang miskin. la berjalan dengan kaki telanjang ke mana saja bila perlu dan tidur di tantai rumah-rumah penampungan orang miskin bersama suster-suster dan novis-novisnya. la makan makanan orang sederhana dan minum air putih. Seperti semua susternya, ia pun mempunyai hanya dua buah baju putih sari dan sendiri mencuci pakaian.
Para pengunjung merasa terharu oleh kesederhanaan hidupnya. Mereka menyaksikan ia sedang menyisir rambut seorang anak gadis India. Ia memadamkan listrik kalau ekaristi atau doa di kapel sudah tidak lagi butuh terang lampu untuk membaca. Hal-hal itu lebih menunjuk kepada cara hidup dan semangatnya. "Tak ada uang yang diberikan kepada orang miskin." .a menjelaskan: "Adalah suatu pemborosan kalau kita membiarkan listrik bernyala tanpa diperlukan. Kta hanya boleh menggunakan kalau itu perlu sekali".
Ibu Teresa pergi ke mana-mana untuk berbicara tentang pelayanan kasih. Ia tidak menumpuk uang untuk tarekatnya. Uang-uang yang aiperolehnya semuanya dipakai untuk pelayanan orang-orang kecil itu. la berbicara sederhana dan gamblang, tepat sasaran. Ia menggambarkan dengan jelas warta cinta kasih Yesus bagi orang-orang miskin dan teriantar. Pewartaannya merupakan pancaran nyala cinta seperti yang digambarkannya dalam ungkapan-ungkapan yang terus-menerus diulanginya: "Kami buat karena Yesus, untuk Yesus dan bersama Yesus". "Sesuatu yang indah untuk Tuhan", "memberi sampai diri sendiri menderita karena memberi", "layanilah Yesus dalam orang-orang yang menderita dan terbuang".
Terbukti orang-orang yang tersentuh pelayanan Ibu Teresa akan bertanya: "Apa yang dapat saya lakukan?"; jawabannya selalu sama; yakni, suatu jawaban yang memperjelas visinya. Jawaban diberikan secara pribadi, sesuai tempat di mana kita berada: "Mulai saja, ...satu, satu, satu", ujarnya. "Mulai di rumah dengan mengatakan sesuatu yang baik kepada anakanakmu, kepada suamimu, atau kepada istrimu. Mulai dengan melakukan apa saja yang dapat kau lakukan, sesuatu yang indah untuk Allah". Sebagai suatu kritik sosial, ia mengganti kebiasaan memerintah dengan pelayanan. Selama tahun-tahun pelayanannya ia tidak nampak jera atau lelah. la selatu tampak gembira, ceria, yang merupakan unsur paling penting dalam hidup para suster Misionaris Cintakasih.
la menghayati kegembiraan kebangkitan. Kegembiraan dan sukacita adatah pusat karya pelayanannya. "Buatiah apa yang kau mau buat dengan gembira dan dengan suatu hati penuh bahagia", ia menasehati suster-susternya. Orang-orang yang sakit payah adalah tubuk hati Yesus yang bersengsara. "Kapan saja engkau menjumpai Yesus, tersenyumlah kepada-Nya". la mengatakan kepada suster-susternya, 'Uikalau kamu tidak mau tersenyum kepada Yesus, maka lebih baik bungkusla pakaianmu dan pulang saja ke rumah".
Pada suatu kesempatan konferensi pers di USA, ia ditanyakan hal-hal sekitar perubahan dan perkembangan di dalam Gereja, masalah emansipasi wanita, kerohanian dunia Barat, ekonomi dan penggunaan media untuk pewartaan Injil.
la mengatakan: "Saya tidak tahu apa-apa tentanq hal itu." Atau bahkan ia balik bertanya yang ada kaitannya dengan visinya: "Kalau anda melakukan pekerjaan ini untuk kemuliaan diri, Anda hanya lakukan itu untuk satu tahun, dan tidak lebih. Hanya kalau engkau melakukan itu untuk Yesus maka engkau akan terus maju." Ibu Teresa dan suster-susternya menghayati Injil secara harafiah dan amat radikal.
Kepada anggota-anggota pers, paling sedikit waktu ia berbicara pada kesempatan itu, ia sangat berbeda pengalaman dengan semua yang lain. Mereka tidak biasa mendengar seseorang berkata bahwa ia mencintai Yesus dan didorong oleh Yesus, atau didukung oleh Ekaristi dan doa. Ada beberapa orang yang terharu, yang dapat kita saksikan dengan melihat mata mereka. Kebanyakan orang kehilangan warta kasih yang sebenarnya dan memandang dia sebagai wanita naif yang coba mempengaruhi dunia yang tidak dapat lagi berubah situasi sosiainya ini. Mereka memuji dia dan pekerjaannya, sambil kehilangan kesederhanaan dan 'Keluguan motivasinya.
Beberapa orang yang mengenal Ibu Teresa, yang menggunakan waktu berbincang - bincang dengan dia, merasakan bahwa beliau sungguh satu karunia Tuhan bagi jaman kita. Barangkali ia juga salah satu dari tokoh-tokoh historis yang muncul sebagai nabi yang datang untuk memperingatkan kita akan warta gembira Injil, mengingatkan kita akan apa yang Allah Bapa harapkan dari kita. Agnes Boyaxhui mengeluh tentang kata-kata dan mengatakan: "Terlalu banyak kata-kata". "Biarkan mereka melihat saja apa yang kita buat". Tetapi ia terus berbicara, dengan sabar mengulangi hal-hal pokok dari cita-cita dan visinya. Beberapa ungkapan yang mengikuti - pembicaraannya - semoga dapat menjadi inspirasi dan pemahaman tentang wanita itu dan karyanya.
Sumber : Mutiara Cinta, Muder Teresa
****************************************************************
Kerabat Kerja Ibu Teresa
Apakah Kerabat Kerja itu?
Seorang Kerabat Kerja Ibu Teresa adalah seorang yang melihat kehadiran Tuhan di dalam diri setiap orang dan memilih untuk mengambil bagian dalam pelayanan nyata bagi kaum miskin dengan menggunakan tangan mereka untuk melayani dan menyerahkan hati mereka untuk mencintai.
Ibu Teresa menginginkan agar para Kerabat Kerjanya memelihara ikatan cinta kasih yang mendalam di dalam rumah mereka, di samping itu juga mencari orang-orang yang membutuhkan bantuan di tetangga, kota dan negara mereka sendiri serta di dunia.
Jbu Teresa meminta agar kami mencari orang-orang yang membutuhkan diri kami dan mengenal mereka secara pribadi. Hanya dengan berkenalan secara pribadi kami dapat mengerti dan mencintai mereka. Ibu Teresa meminta para Kerabat Kerja untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan kecil, di mana orang lain tidak mempunyai waktu untuk melakukannya.
Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makanan,
Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum,
Ketika Aku seorang asing, kamu menyambut Aku,
Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian,
Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku,
Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku........
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kainu lakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
(Matius 25:35 - 36, 40)
Saudaraku Yang Paling Hina
SaudaraKu yang paling hina (yang termiskin di antara kaum miskin) ialah mereka
yang lapar dan kesepian - tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga akan Sabda Allah.
yang haus dan disingkirkan - tidak hanya untuk segelas air tetapi juga untuk pengetahuan, perdamaian dan kebenaran serta keadilan dan cinta.
yang telanjang dan tak dicintai - tidak hanya untuk pakaian, melainkan juga untuk harga diri.
yang tak dikehendaki, bayi-bayi yang digugurkan, korban diskriminasi, tuna wisma bukan hanya membutuhkan sebuah rumah dari bata, tetapi juga sebuah hati yang penuh pengertian, melindungi dan mencintai.
orang miskin yang sakit, sekarat dan para tahanan, juga yang sakit jiwanya, tak bersemangat hidup.
semua yang telah kehilangan harapan dan iman.
pecandu obat bius dan minuman keras.
dan mereka semua yang telah kehilangan Tuhannya (bagi mereka Tuhan adalah masa lampau, padahal Tuhan selalu ada) dan mereka yang telah kehilangan harapan akan kekuatan Roh.
Pedoman Kerabat Kerja Ibu Teresa
Bawalah doa kedalam keluargamu. Cinta kasih dimulai di rumah. Anda harus memulainya di sana dengan melayani keluarga sendiri dan para tetangga.
Semua Kerabat Kerja bekerja bersama dengan para Suster, Pastor, Bruder Misionaris Cinta Kasih yang paling dekat dengan rumah anda. Bila tidak ada yang dekat, tetap lakukan aksi cinta kasihmu dan selalu berhubungan dengan Regional Superior Misionaris Cinta Kasih.
3. Para Kerabat Kerja harus berusaha berkumpul bersama di lingkungannya untuk berdoa, melayani dan berbagi rasa bersama dengan para Misionaris Cinta Kasih.
Tidak ada pengurus di semua tingkatan. Tidak ada rekening koran atas nama Kerabat Kerja untuk keperluan apapun. Semua sumbangan harus diserahkan langsung kepada Misionaris Cinta Kasih.
Tidak ada newsletter atau "family" letters. Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih akan berkomunikasi dengan para Kerabat Kerja diia kali dalam setahun.
Doa Harian Kerabat Kerja
Ya Tuhan, JADIKANLAH KAMI berguna untuk melayani sesama manusia di seluruh dunia, yang hidup dan mati dalam kemiskinan dan kelaparan.
BERIKANLAH KEPADA MEREKA melalui tangan-tangan kami rejeki pada hari ini dan melalui cinta kasih kami yang penuh pengertian, berikanlah kepada mereka rasa damai dan gembira di hati.
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI. Bila terjadi kebencian,.jadikanlah akupembawa Cinta Kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa kegembiraan.
Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur.
Memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni.
Dengan mati suci, kami akan bangkit lagi untuk selama-lamanya, AMIN.
Pancaran Cinta Kasih Tuhan
Ya Allah Tuhanku, tolonglah aku menyebarka keharumanMu kemana saja aku pergi. Penuhilah jiwaku dengan semangat dan hidupMu.
Resapilah dan kuasailah seluruh pribadik sedemikian rupa sehingga seluruh hidupk hanyalah merupakan Pancaran Cinta KasihMu Bersinarlah sepenuhnya dalam diriku sedemikia rupa sehing-a setiap jiwa yang berhubunga
Semoga mereka tidak melihat diriku lagi, melainkan menengadah memandang Engkau sendiri oh Tuhanku! Tinggallah selalu dalam jiwaku sehingga Engkau sendiri yang memancarkan sinarmu melalui diriku, sedemikian rupa sehingga memancarkan sinarmu menerangi sesamaku. Sinar itu, oh Tuhan akan datang seluruhnya daripadamu, tak satupun milikku, hanya Dikaulah saja yang memancarkan sinarmu menembusiku menerangi sekelilingku.
Biarkan aku memujimu dengan cara yang paling berkenan di hatimu, dengan membawa sinarmu menerangi orang-orang di lingkunganku.
Biarkan aku mewartakanmu tanpa mengkhotbahi, bukan dengan kata-kata melainkan dengan suri teladanku, dengan daya tarik dan pengaruh yang lembut dari apa yang kulakukan, yang menjadi bukti nyata kebulatan cinta kasihku kepadamu. Amin.
Kardinal Newman
****************************************************************
****************************************************************
Kerabat Kerja Ibu Teresa
Apakah Kerabat Kerja itu?
Seorang Kerabat Kerja Ibu Teresa adalah seorang yang melihat kehadiran Tuhan di dalam diri setiap orang dan memilih untuk mengambil bagian dalam pelayanan nyata bagi kaum miskin dengan menggunakan tangan mereka untuk melayani dan menyerahkan hati mereka untuk mencintai.
Ibu Teresa menginginkan agar para Kerabat Kerjanya memelihara ikatan cinta kasih yang mendalam di dalam rumah mereka, di samping itu juga mencari orang-orang yang membutuhkan bantuan di tetangga, kota dan negara mereka sendiri serta di dunia.
Jbu Teresa meminta agar kami mencari orang-orang yang membutuhkan diri kami dan mengenal mereka secara pribadi. Hanya dengan berkenalan secara pribadi kami dapat mengerti dan mencintai mereka. Ibu Teresa meminta para Kerabat Kerja untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan kecil, di mana orang lain tidak mempunyai waktu untuk melakukannya.
Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makanan,
Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum,
Ketika Aku seorang asing, kamu menyambut Aku,
Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian,
Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku,
Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku........
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kainu lakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
(Matius 25:35 - 36, 40)
Saudaraku Yang Paling Hina
SaudaraKu yang paling hina (yang termiskin di antara kaum miskin) ialah mereka
yang lapar dan kesepian - tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga akan Sabda Allah.
yang haus dan disingkirkan - tidak hanya untuk segelas air tetapi juga untuk pengetahuan, perdamaian dan kebenaran serta keadilan dan cinta.
yang telanjang dan tak dicintai - tidak hanya untuk pakaian, melainkan juga untuk harga diri.
yang tak dikehendaki, bayi-bayi yang digugurkan, korban diskriminasi, tuna wisma bukan hanya membutuhkan sebuah rumah dari bata, tetapi juga sebuah hati yang penuh pengertian, melindungi dan mencintai.
orang miskin yang sakit, sekarat dan para tahanan, juga yang sakit jiwanya, tak bersemangat hidup.
semua yang telah kehilangan harapan dan iman.
pecandu obat bius dan minuman keras.
dan mereka semua yang telah kehilangan Tuhannya (bagi mereka Tuhan adalah masa lampau, padahal Tuhan selalu ada) dan mereka yang telah kehilangan harapan akan kekuatan Roh.
Pedoman Kerabat Kerja Ibu Teresa
Bawalah doa kedalam keluargamu. Cinta kasih dimulai di rumah. Anda harus memulainya di sana dengan melayani keluarga sendiri dan para tetangga.
Semua Kerabat Kerja bekerja bersama dengan para Suster, Pastor, Bruder Misionaris Cinta Kasih yang paling dekat dengan rumah anda. Bila tidak ada yang dekat, tetap lakukan aksi cinta kasihmu dan selalu berhubungan dengan Regional Superior Misionaris Cinta Kasih.
3. Para Kerabat Kerja harus berusaha berkumpul bersama di lingkungannya untuk berdoa, melayani dan berbagi rasa bersama dengan para Misionaris Cinta Kasih.
Tidak ada pengurus di semua tingkatan. Tidak ada rekening koran atas nama Kerabat Kerja untuk keperluan apapun. Semua sumbangan harus diserahkan langsung kepada Misionaris Cinta Kasih.
Tidak ada newsletter atau "family" letters. Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih akan berkomunikasi dengan para Kerabat Kerja diia kali dalam setahun.
Doa Harian Kerabat Kerja
Ya Tuhan, JADIKANLAH KAMI berguna untuk melayani sesama manusia di seluruh dunia, yang hidup dan mati dalam kemiskinan dan kelaparan.
BERIKANLAH KEPADA MEREKA melalui tangan-tangan kami rejeki pada hari ini dan melalui cinta kasih kami yang penuh pengertian, berikanlah kepada mereka rasa damai dan gembira di hati.
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI. Bila terjadi kebencian,.jadikanlah akupembawa Cinta Kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa kegembiraan.
Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur.
Memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni.
Dengan mati suci, kami akan bangkit lagi untuk selama-lamanya, AMIN.
Pancaran Cinta Kasih Tuhan
Ya Allah Tuhanku, tolonglah aku menyebarka keharumanMu kemana saja aku pergi. Penuhilah jiwaku dengan semangat dan hidupMu.
Resapilah dan kuasailah seluruh pribadik sedemikian rupa sehingga seluruh hidupk hanyalah merupakan Pancaran Cinta KasihMu Bersinarlah sepenuhnya dalam diriku sedemikia rupa sehing-a setiap jiwa yang berhubunga
Semoga mereka tidak melihat diriku lagi, melainkan menengadah memandang Engkau sendiri oh Tuhanku! Tinggallah selalu dalam jiwaku sehingga Engkau sendiri yang memancarkan sinarmu melalui diriku, sedemikian rupa sehingga memancarkan sinarmu menerangi sesamaku. Sinar itu, oh Tuhan akan datang seluruhnya daripadamu, tak satupun milikku, hanya Dikaulah saja yang memancarkan sinarmu menembusiku menerangi sekelilingku.
Biarkan aku memujimu dengan cara yang paling berkenan di hatimu, dengan membawa sinarmu menerangi orang-orang di lingkunganku.
Biarkan aku mewartakanmu tanpa mengkhotbahi, bukan dengan kata-kata melainkan dengan suri teladanku, dengan daya tarik dan pengaruh yang lembut dari apa yang kulakukan, yang menjadi bukti nyata kebulatan cinta kasihku kepadamu. Amin.
Kardinal Newman
****************************************************************
Kerabat Kerja Ibu Teresa Di Indonesia
Yayasan Dunia Baru
Didirikan tahun 1987, adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pelayanan pada orang miskin, terutama yang termiskin diantara yang miskin. Yayasan Dunia Baru tidak mencari keuntungan. Kami pengurusnya membaktikan diri secara sukarela tanpa mendapat imbalan.
Pelayanan Yayasan Dunia baru antara lain :
Mengunjungi dan membantu orang-orang kesepian, yang sakit dan terlantar.
Memberikan tambahan gizi bagi yang memerlukan baik di Wisa Sahabat Baru maupun di luar Wisma.
Warung sehat, dimana secara rutin kami melayani makanan sehat dan obat-obatan praktis secara cuma-cuma di daerah kumuh.
Wisma Sahabat Baru
Pada tahun 1992, Yayasan Dunia Baru membangun sebuah rumah untuk kaum miskin yang sakit dan terlantar yang dinamakan “Wisma Sahabat Baru”
Dasar Pemikiran didirikannya Wisma Sahabat Baru :
Jakarta, kota metropolitan dengan segala situasi dan kondisinya sering menyebabkan seseorang kekurangan waktu baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Orang miskin yang sakit dan terlantar sering tidak mempunyai tempat bernaung, tidak mempunyai seseorang yang merawat mereka.
Mengingat hal-hal diatas dan dari pengalaman kami melayani kaum miskin di Jakarta, kami melihat adanya sesuatu kebutuhan kaum miskin yang sakit untuk :
Suatu tempat penampungan sementara
Seseorang yang mau memberikan waktu untuk merawat dan mencintai mereka
Maka timbulah gagasan untuk mendirikan Wisma Sahabat Baru yang dapat melayani kaum miskin.
Corak Pelayanan
Tempat perawatan sementara
Menyelenggarakan kebutuhan sehari-hari berupa pakaian dan makanan serta minuman secara layak selama tinggal di Wisma
Memberikan perawatan sebatas kemampuan, serta memberikan pengobatan untuk mengurangi penderitaan penghuni Wisma. Jika memerlukan perawatan rumah sakit, maka biaya rumah sakit tidak menjadi tanggung jawab yayasan.
Pada akhirnya mengembalikan saudara-saudara kami ke keluarganya, masyarakat atau panti-panti sosial lainnya. Untuk ini Yayasan berusaha untuk mengadakan kerjasama dengan Rumah Sakit dan Yayasan sosial lainnya.
Mengingat keterbatasan kami, maka kami tidak dapat menerima pasien sakit syaraf.
Kebutuhan tempat perawatan sementara. Setelah mendengar kabar tentang seseorang yang sakit dan memerlukan pelayanan, beberapa anggota kami mencari dan mengunjunginya. Kami menemukan seorang ibu terbaring lemah di sebuah kamar di gubug dekat salah satu hotel besar di Ibu Kota. Kakinya bengkak dan tidak dapat turun dari tempat tidur. Kami membawa ibu M ke rumah sakit untuk di rawat. Dari pemerikasaan diketahui dia menderita sakit lever (hati). Setelah dirawat dirumah sakit beberapa lama dan boleh pulang, kami mengantar ibu M pulang ke gubugnya. Setelah tinggal di rumah selama seminggu kami melihat ibu ini dengan badannya yang masih lemah tidak mungkin merawat dirinya sendiri dalam gubugnya itu. Dia membutuhkan suatu tempat tinggal sementara, dia membutuhkan seseorang yang dapat merawat dan mencintainya. Pengalaman semacam ini merupakan pemicu kami untuk memulai Wisma Sahabat Baru sebagai tempat perawatan sementara bagi kaum miskin yang sakit. Kami memindahkan ibu M ke salah satu rumah jompo, Setelah beberapa bulan keadaannya membaik dan ingin pulang ke keluarganya di Jawa Tengah. Tetapi akhirnya karena penyakitnya ibu M meninggal di rumah jompo tersebut dan dimakamkan di perkuburan di dekat rumah jompo itu karena kami tidak bisa mengetahui siapa saudaranya dan dimana harus menghubungi mereka.
Bersama-sama kita dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Tuhan. Dalam perjalanan ke pekerjaan pagi itu teman saya melihat seorang gelandangan tergeletak di pinggir jalan dan memberitahu saya. Kemudian saya bersama teman-teman yang lain memutuskan untuk melihat dan menjemput gelandangan itu. Setelah berdoa kami pergi ke lokasi, Kami melihat seorang pemuda kira-kira berumur 30 tahun, tergeletak di pinggir jalan di bawah jalan tol dalam keadaan setengah telanjang dan tidak dapat bergerak. Setelah mendapat keterangan dari RW setempat kami membawa dia ke Wisma Sahabat Baru. Setelah dirawat beberapa hari kami baru menyadari bahwa dia seorang yang terganggu syarafnya. Dia mulai sering berteriak dan mengembik (seperti suara kambing) dan pembicaraannya sering kacau. Dai dapat mengatakan nama dan dimana dia tinggal yang kami anggap belum tentu benar. Pasien lain mulai terganggu. Kami putuskan untuk memindahkan ke Panti Laras, suatu penampungan orang yang terganggu jiwanya milik pemerintah. Pagi itu sebelum berangkat ke panti laras, pemuda itu masih menyebutkan namanya Suradi, juga alamat dimana dia tinggal. Karena pembicaraanya sering kacau dan sikapnya yang tidak menentu, kami tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan, tapi pada saat itu timbul juga keragu-raguan di hati kami, jangan-jangan yang dikatakan benar. Kami berdoa bersama dan memutuskan untuk mencoba mencari alamat yang dikatakan. Sebelum meninggalkan wisma, karena takut mengamuk di jalan, Suradi diberi obat yang membuat dia mengantuk di dalam mobil. Tapi sekalipun dia mengantuk, di tengah perjalanan dia dapat melihat seorang pria berbaju batik berdiri di pinggir jalan dan mengenalinya sebagai pamannya dan ia berkata: ‘Itu paman saya’. Mobil berhenti dan setelah menanyakan ke bapak tersebut memang ada keponakannya yang hilang dan belum ketemu. Begitu melihat Suradi, bapak itu begitu girang dan memeluk dia. Bersama-sama dengan paman Suradi kami mengantarkan Suradi ke rumahnya. Yang ternyata alamatnya berbeda dengan yang disebutkan Suradi. Suradi diangkat masuk ke rumah orang tuanya. Begitu gembira mereka, banyak sekali tetangga datang menyambut suradi. Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan kami dengan paman Suradi, karena kalau tidak tentu kami tidak dapat menemukan rumahnya dan mengantar Suradi ke panti laras, tempat penampungan orang yang terganggu jiwanya. Kami pulang dengan hati penuh sukacita, bernyanyi memuji Tuhan untuk semua bimbinganNya.
Dari kejadian diatas kami dapat melihat :
bagaimana Tuhan mencintai setiap orang, Tuhan mencintai kita satu-satu, juga Suradi, seorang gelandangan yang oleh banyak orang tidak diperhatikan
Kita tidak dapat melayani dengan mengandalkan kekuatan sendiri, kita harus berpegang pada kebesaran dan kekuatan Tuhan
Dengan memberikan diri dan mengatakan ‘Ya’ kepada Tuhan, kita bersama-sama dapat melakukan sesuatu yang indah bagi Tuhan
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Kerabat Kerja, hubungi :
Wisma Sahabat Baru
jl. Sahabat Baru 39, Jakarta 11510
021 - 565-2594
Dan bagi anda yang tegerak untuk menyalurkan kasih
berupa uang bisa ditranfer ke :
Yayasan Dunia Baru
ABN AMRO Bank
No. Rekening : 11.02.923
Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.