animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Selasa, 16 Februari 2016

KESAKSIAN ACTOR JIM CAVIEZEL - PAMERAN FILM THE PASSION OF THE CHRIST








Kesaksian dari seorang aktor Jim Caviezel, dia menceritakan saat pengambilang gambar terakhirnya dia hampir saja mati, seorang berkata dia bisa mati kalau memaksakan diri, setan tidak tinggal diam untuk membiarkan film ini bisa berhasil. Tetapi setan tidak dapat mengalakan Kuasa dari Tuhan, asal kita sebagai orang Percaya mau Bersesar kepada Tuhan. Biarpun kalau kita harus mati dalam pekerjaan Tuhan, itu adalah sesuatu yang Mulia. Dia adalah aktor Jim Caviezel pemeran sebagai Yesus dalam Passion of the Christ.


Kesaksian Jim Caviezel

Seorang teman Mell Gibson datang dan saya mulai mengenalnya, saya tahu sudah 15 tahun, Tuhan menaruh dihatinya untuk membuat film ini. Keesokan harinya, ia menelepon kerumah untuk membujuk saya untuk keluar dari film ini. Ketika kau berkomitmen pada Kristus, iblis mulai menyusup padamu. Tiba-tiba Mel Gibson berkata: “aku tak seharusnya mengadakan pertemuan ini, aku telah melakukan banyak kesalahan dan orang-orang akan tahu orang seperti apa aku ini sebenarnya, aku orang yang salah, tidak seharusnya aku menyutradarai film ini.

Ditelpon, dia berkata kalau aku memerankan film ini, aku mungkin tak akan mendapatkan pekerjaan dikota ini lagi, dia tidak mau bertanggung jawab akan hal itu. Ketika dia berkata demikian, lalu membuat saya ketakutan.

Lalu saya mulai mengingat hal yang baik dalam hidupku dan menyadari, Tuhanlah yang menempatkanku di dunia peran, talentaku berasal dari Tuhan bukan manusia, lalu aku berkata padanya: “Kita semua dipanggil untuk Memikul Salib, jika kita tidak mengambil dan memikulnya, kau akan disalibkan dengan beban itu” lalu dia terdiam.


Pembuatan Film











Ketika melakukan film ini, kita berpikir kalau kita mau melakukan film ini sesui dengan pengaturan yang sebenarnya. Kau takkan melihat “peperangan”, tapi lahir dari sakit ketika itu juga menimpaku, pas baru mulai, lenganku terpisah dari bahuku. Pada saat film akan berakhir iblis mencoba menghancurkan kami. Dalam pembuatan film kami mendapat telpon dari salah satu media besar yang menggambarkan bahwa Mel Gibson sebagai pembenci Yahudi dan semuanya menumpuk, kutukan yang terus menerus. Saya ingat suatu saat, Mel menyalahgunakan nama Tuhan dan aku berkata “hei...” sebagai Yesus (kostum & meke-up) “jangan menyebut nama Bapa-ku sembarangan”.


Keinginan Terbesarku

Yang aku mau dalam peran sebagai Yesus adalah mereka jangan melihat aku, melainkan mereka harus dapat melihat Yesus dan saat orang datang ke bioskop, yang mereka alami adalah dapat melihat siapa diri mreka dengan caranya Tuhan, bukan dengan cara kita melihat diri kita sendiri, tapi caranya Tuhan. Karena itulah kita yang sebenarnya di dalam Tuhan. Anda dapat Download atau melihat Vidio ini teks indonesia durasi 2 menit dengan kata-kata Kebenaran yang dapat memberkati Anda. Kalau Anda ingin mendapatkan kesaksian ini dengan durasi 22 menit, Download paling bawah kesaksian ini.


Kejadian-Kejadian saat Syuting

Saat syuting aku “di lemah kan”, tak segaja aku terkena cambuk dan saat memikul salib tanganku begeser dari bahu. Selama penyaliban, berat badanku menurun dari 95 kg ke 76 kg. Aku merasa sakit dan muntah. Kedua paru-paruku penuh dengan cairan, aku terkena pheumonia. Setelah film selesai, banyak yang tidak tahu dan aku jarang menceritakan ini, aku harus menjalani operasi hati, aku juga tersambar petir saat syuting terakhir. Jadi yang aku mau katakan adalah jika kamu menjadi Kristen, kamu sudah siap untuk semua itu


Saat Cambuk mengenai badang saya

Celakanya saat pengambilan gambar penyiksaan kami tidak latihan dulu. Benda yang digunakan dalam adegan penyiksaan adalah lempengan besi sekitar 30 cm dibelakangku, mereka akan memukul lempengan metal, mereka juga tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik karena mereka orang Italia, jadi sulit untuk berkomunikasi. Ketika Mel meminta penerjemah untuk menyuruh mereka melontarkan pukulan seperti pelempar dalam permainan basket. Tapi mereka tidak tahu Basket, lalu Mel berkata:’oh.. seperti Cricket”. lalu mereka mundur, berlari dan melempar seperti Cricket, ketika mereka memukul lempengan, namun cambuknya melingkar dan mengenaiku dan badangku tersobek 5,5 cm di pungguku dan aku langsung terjatuh.


Aku seorang tidak layak dalam peran sebagai Yesus

Saat itu aku memikirkan dosa-dosaku, intinya aku tidak layak memerankan peran ini, karena itu adalah tempat yang terbaik. Temanku berkata “Tuhan tidak selalu pilih yang terbaik” Tapi Dia memilihmu, apa yang kau lakukan? Jadi aku benar berada di area rohani yang begitu dalam. Disepanjang pembuatan film, aku selalu berdiam dan berdoa, ibaratnya “menjaga untuk tetap bekarakter” dan ini sangat penting karena aku tahu bahwa kau bisa melihat Yesus melalui doa setiap hari dan puasa. Puasa waktu itu jadi otomatis, karena sakit yang saya derita. Diakhir film, saat saya di atas salib, badan saya membiru, itu bukan meke-up, tubuh saya benar-benar membiru.


Waktu-waktu terasa mau mati

Diantara pengambilan gambar, mereka menempatkanku di kayu salib dan mengunci bahuku, di sana ada jurang setinggi 300 meter yang membentur salib itu dan memisahkan bahuku dari persendiannya. Saat itu, aku sudah tidak bisa apa-apa lagi, sangkin sakitnya aku tidak dapat merasakannya lagi, aku sempat tidak sadarkan diri, ada yang salah dengan hatiku. Ada orang yang memerikasaku dan berkata: “Mel, dia bisa mati”. Salah satu yang baik dari Mel Gibson adalah dia mengambil resiko, ketika aku sadar dia bertaya kepaku, bagaimana menurutmu?” Dan aku berkarta “ini antara aku dan Tuhan” karena aku tak pernah berpikir bahwa aku cukup baik. Saat itu aku siap untuk “pulang”, Tuhan bisa mengambil nyawaku sekarang, itu tidak masalah, tapi aku tahu, jika aku mati saat mengerjakan film ini, akan banyak orang diselamatkan.


Kilat datang dari langit, menyambarku

Diakhir film, aku menaiki pinggir gunung, semua orang berada pada posisinya. Ada 250 orang, ditengah perjalanan, ada kuasa gelap yang menyelimutiku dan berkata “kau akan mati”, aku ingat dan berpikir. Itu adalah berita terbaik yang kudengar, jika aku mati sekarang, aku akan masuk surga.

Aku sampai kepuncak, kira-kira pengambilan gambar yang ke lima. Awan begitu rendah, kilat dan petir begitu menggelegar dan aku melihat ada 2 orang berdiri didepanku, mendekat mereka ini, mata mereka berair seperti hendak menangis, aku tak dapat merasakan lambaian rambutku, aku mendengar suara kencang penontong yang kaget, karena mereka melihat sesuatu, tapi aku tak dapat mendengar yang lain. Seperti mata badai, rambutmu bisa dihembuskan angin 30meter/detik, tapi kau tidak dapat mendengarnya, 5 detik, kilat datang dari langit, menyambarku, yang orang saksikan adalah mereka melihat cahaya meyelimutiku dan api disebelah kanan dan kiri di depanku, untuk 1 detik aku melihat diriku, diluar tubuhku. Ketika aku tersambar petir, semua orang tiarap dan tanah bergetar. Itu adalah syuting terakhir kami. Saat itu aku selamat.


Memberikan hidupku kepada Yesus Kristus

Aku juga sempat tidak dapat bernafas dengan lancar, jelas sekali aku merasa kesulitan, tapi Tuhan membiarkanku merasakan sebagian yang di alami saat itu. Dia menguatkanku, sampai di titik dimana Dia bertanya “sampai sejauh mana kau ingin dunia melihat penderitaan-Ku? semuanya Tuhan.. berarti kamu siap, bisakah kamu meminum cawan-Ku? yah kita bisa, seperti permintaan Yakobus dan Yohanes ketika mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan. Tidak mungkin kamu bisa melewatinya. Kalau kamu tidak dapat berkata “sampai matipun, aku bersedia” karena aku ingin memberikan hidupku dan tak ada yang terlebih baik dari memberikan hidupku kepada Yesus Kristus.


Saat aku diatas kayu Salib

Aku mulai teringat akan dosa-dosaku, aku hanya berkata “berserah” aku melihat bukan saja kematian Tuhan kita untuk semua, sekali untuk selamanya, Kristen juga berkata demikian. Itu benar Yesus telah melakukannya agar kita tidak usah mengalaminya.

Lalu aku berkata “kenapa Petrus harus mengalaminya? kenapa Yohanes dan semua rasul mengalaminya? mengapa mereka harus mengorbankan diri mereka padahal Yesus sudah melakukannya. Bagaimana dengan para martir di abab 21? Bagaimana dengan orang-orang Kristen yang disiksa dan dieksekusi ketika membuat film dokumenter, oleh orang-orang yang tidak percaya Yesus, mereka mengeksekusi saudaramu laki-laki dan perempuan sekarang. Kemana Tuhan kita? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Kita tidak bisa menjadi Kristen jika hanya duduk dan berkata “saya jadi Kristen selama itu mengenai berkat”. Kita bisa berdoa buat mereka, karena itulah yang harus terjadi.

Tapi mengertilah bahwa sebagian orang akan tetap memilih yang jahat. Tapi kamu tidak! Iblis juga akan berusaha mengambilmu, ia akan mencari kelemahan kita dan berkata aku bisa mendapat orang ini dengan 10 juta, 50 juta, semuakan baik. Mereka semua bilang itu pilihan, hak bebas ku untuk memilih. Kebebasan itu bukan kebebasan melakukan kau mau, tapi hak untuk bebas melakukan apa yang benar.


Banyak orang Kristen hidupnya senyerupai orang tidak percaya

Kita semua bisa lihat apa yang aku lihat saat ini, fakta banyak sekali orang Kristen yang hidupnya menyerupai oran-orang tidak percaya. Mereka ingin tampak keren dimata orang-orang yang tidak percaya dengan mengikuti gaya hidup mereka ini adalah sesuatu yang tidak benar yang dibuat jadi benar oleh mereka.

Yang sangat kurang darimu adalah keinginanmu untuk hidup kudus. Inilah yang terjadi, kita semua akan diuji suatu hari dimana kamu harus memilih untuk berserah kepada Yesus atau meyangkalnya. Akan adatang masa sperti ini di generasi ini, ada banyak hal sedang terjadi disekeliling kita, dimana kita harus menentukan pilihan.

Jangan kita samakan diri kita dengan dunia ini, kita lahir untuk menjadi berbeda, mengertilah bahwa Yesus akan mengampuni, Dia memiliki belas kasiahan. Saya rasa kita tidak begitu mengerti apa itu belas kasihan atau kemurahan.


Seorang Pemenang

Kau tak dapat menjadi olahragawan di olimpic games atau pemenan dunia dengan latihan 1x seminggu. Kau harus membawa Yesus Kristus dalam hidupmu, setiap hari, ini adalah hidupmu, ia ingin bersama-Mu setiap saat. Dia Tuhan adalah seorang pelatih terbaik sepanjang masa. Dia akan melatih dimana saat engkau terjatuh, dan Dia berkata “ayo bangun dan pergilah!” Dan apakah ia akan mendorongmu, tentu saja. Ia menginginkan banyak hal darimu. Dia yang mendukungmu untuk berpuasa, bukan hanya berdoa 1x seminggu, tapi setiap hari dan ketika kita berdoa setiap hari, maka kita telah melatih diri kita, seperti yang Dia mau. Karena kita bisa melakukan lebih dari itu, Ya dan Dia mau lebih, kaupun meningikan supaya dapat berhasil maka kau bisa mencapainya. Lebih, lebih dan lebih lagi, terus menerus. Bahkan dibumi ini seperti di surga.


Membaca Firman

Teman-teman, Bapa kita itu Nyata, Firman Tuhan juga Nyata, bukan sesuatu yang kita buang, ketika kau membaca Alkitab, ini adalah kabar baik! Berapa dari kita akan belajar dari tokoh-tokoh alkitab, kita akan menerapkan hidup kita seperti Yesus, kita juga bisa di ingatkan tetang tetang seorang penghianat yaitu Yudas, dan sekarang siapa engkau? Tuhan akan memberitahumu. Lalu kamu akan mengalami apa itu pengudusan setiap hari.

Saat ini kita akan mengalami dimana semua akan dirampas dari kita, tapi itu baik karena kita akan tahu bahwa kau tak membutuhkan semuanya itu. Itu bukan hakmu, dunia ini akan semakin buruk, tetapi semua akan menjadi baik karena dunia ini akan melihat Tuhan dalam dirimu. Kita harus menjadi terang bagi mereka.

Sebelum itu kita harus selalu merasakan jamahan Roh Kudus, Melalui Firman Tuhan menjadi gaya Hidup kita. Maka setiap orang akan melihatmu akan berkata kamu dalam pengaruh apa? Kamu dalam pengaruh Yesus Kristus.


Meminta pengampunan dari Tuhan

45 juta orang meninggal di setiap tahunnya di dunia, semua adalah orang-orang percaya, Tuhan membawa mereka pulang, sekarang Ia ingin membawamu pulang, saat ini juga, ini adalah kesempatanmu untuk masuk surga, kau tak harus mati untuk masuk surga, ketika kamu berbuat dosa, melanggar hukum taurat. Dan ketika kamu melakukan kesalahan tersebut, kamu datang kepada temanmu untuk menceritakan persoalanmu, sekarang aku tanya, menurutmu apakah Tuhan tidak memiliki belas kasihan yang lebih besar dari temanmu.

Menurutmu, temanmu memiliki kemurahan yang lebih besar dari Tuhan? Apakah temanmu memiliki kasih yang lebih besar dari Sang Pencipta? Tidak mungkin, jadi Tuhan mengampunimu dan sekarang Dia ingin kau memulai lagi untuk menerima pengampunan.

Sebelumnya aku katakan “Tuhan tak pernah mengirim orang ke neraka” orang yang memilih tempat itu. Pilihanmu! Tuhan menciptakanmu dan mencintaimu, tidak ada sepertimu. Dia merindukanmu untuk datang, ke Hadirat-Nya, banyak hal yanag terjadi akan menghalangimu datang kepada Tuhan. Tetapi kita tetap mau datang kepada Tuhan, Tuhan tetap akan selalu mengingat pengorbananmu.

Apa menurutmu Dia Tuhan yang hanya duduk, menanti untuk membuangmu. Kau adalah sempurna, tak ada sepertimu. Tanpa kau di dalam rumah Tuhan, Dia menangis, jadi Dia datang padamu sekarang saat ini juga.

Yang Ia harapkan untuk didenagar adalah “iya, saya menerima Yesus”. Buat yang sudah tetap menerima-Nya, setiap kali kita berbuat dosa, kita telah menyangkal-Nya. Jadilah Kudus, jadilah sempurna seperti Bapaku adalah sempurna.


Lebih baik tidak di kenal orang, asal nama saya ada di buku Kehidupan

Perintah Tuhan kepada kita, Kasihilah Manusia seperti Tuhan mengasihimu, jika hal ini tidak kita lakukan maka Nama Kita Tidak tertulis di dalam Buku Kehidupan di Surga. Mungkin kamu tidak terkenal dan tidak banyak orang yang mengetahui namamu. Penghargaan-penghargaan tidak pernah datang dalam hidupmu, tetapi Tuhan akan selalu Menghargai kita dan Memperhatikan kita. Orang – orang didunia ini hanya mengingat kita ketika kita di atas, mereka akan memeberi pujian tetapi ketika kau di bawah tidak ada pujian buatmu. Tetapi Tuhan tidak pernah melupakanmu di dalam Buku Kehidupan-Nya. Hanya dengan percaya Yesus Sebagai Tuhan maka namamu sudah tertulis dalam Buku Kehidupan di Surga. Saya lebih baik tidak di kenal orang yang penting nama saya ada dalam Buku Kehidupan di Surga. Amin


Download Kesaksian ini durasi 22 menit “Teks Indonesia”



Lihat di YouTobe Passion of the Christ:


=================================================


Kesaksian Pemeran Yesus



Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film "ThePassion of the Christ". Berikut refleksi atas perannya di film itu.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL "THE THIN RED LINE". ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah..., Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?" Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red Line". Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlet bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai di sini. Engkau yang mengalihkanku dari karier di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apa pun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang bisa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga sering kali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekadar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia sadar!" (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hantaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini).

"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu sering kali saya bertanya, "Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan... tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda.

Yesus telah mati bagi dosa-dosa saudara. karena saudara tidak dapat menebus dosa saudara sendiri.Yesus bangkit dari kematian supaya kita juga bangkit. Kematian tidak berkuasa atas Yesus, supaya orang yang menerima Yesus dan percaya kepadaNya tidak akan mati tapi bangkit dan hidup selama-lamanya di Surga. 

Apakah Anda belum yakin akan keselamatan anda? Anda ingin diselamatkan? Ikuti doa di bawah ini :



Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku seorang berdosa. Aku bertobat dan menyesali segala dosaku. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Saat ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!

=================================================


Mukjizat Aktor Jim Caviezel Pemeran Tuhan Yesus Dalam Film The Passion of The Christ


Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film2 yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum the passion) adalah sebuah film perang yang berjudul “ the thin red line”. Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu.







Jim Caviezel


Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan.

Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya.

Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu.

Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan.

Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya.

Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya.

Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa.

Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan.

Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya.

Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.


Tonton Video Kesaksian Jim Caviezel dibawah ini dengan teks bahasa Indonesia





The making of "The Passion of The Christ" Part 1








The making of "The Passion of The Christ" Part 2






The making of "The Passion of The Christ" Part 4






The making of "The Passion of The Christ" Part 5






Semoga Pos ini bisa menjadi berkat untuk orang banyak. Amin.


Tuhan Yesus Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?