Riwayat Hidup seorang pekabar Injil yang bernama John Sung
Nama besarnya John Sung sang pengabar Injil dari Tiongkok yang sangat dikenal dalam kalangan gereja-gereja di Jawa, terutama di kalangan gereja-gereja Tionghoa, termasuk juga di kota Surabaya. John Sung diberi gelar Obor Allah di Asia, karena beliau merupakan seorang penginjil yang luar biasa pada abad 20, khususnya dalam acara-acara Kebaktian Kebangunan Rohani yang dipimpinnya. John Sung juga seorang pengkhotbah yang memulai pelayannya awal tahun 1933 di propinsi Shantung. Ia pernah juga bergabung satu tim dengan Dr. Andrew Gih, pendiri Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang. John Sung lahir di desa Hong Chek, wilayah Hing Hwa di propinsi Fukien, Tiongkok Tenggara, pada tanggal 27 September 1901.
John merupakan anak ke-6 dari pendeta Sung, seorang hamba Tuhan di Gereja Methodist. Ia juga disebut anak pertama dari keluarga Sung, dihitung setelah pertobatan Nyonya Sung. Sebelum lahir, ia sudah diserahkan kepada Tuhan untuk dijadikan pelayan-Nya. Nama kecil yang diberikan keluarganya adalah Ju Un, artinya Kasih karunia Allah. Ayah John sebenarnya gembala sidang di Gereja Methodist Hong Chek, tetapi pada tahun 1907 ia pindah pelayanan ke Hing Hwa sebagai Wakil Kepala Sekolah pada sebuah Sekolah Alkitab Methodist di sana, waktu itu Ju Un berumur 6 tahun. Ayah Ju Un, yakni pendeta Sung sering bepergian dan waktunya cukup banyak tersita untuk pelayanan sebagai hamba Tuhan. Sementara itu Nyonya Sung harus bekerja keras di sawah untuk menambah penghasilan keluarga itu.
Timbul banyak pergumulan berat, terutama dalam bidang ekonomi, tatkala keluarga itu bertambah besar. Pendeta Sung sendiri hampir-hampir meninggalkan panggilannya sebagai hamba Tuhan, tatkala menghadapi kesulitan keuangan yang cukup berat. Namun ketika ia berlutut berdoa, Tuhan secara pribadi berbicara kepadanya. “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). Kemudian ada suara yang seakan-akan berkata kepadanya “Hamba-Ku janganlah takut, engkau ada dalam tangan-KU. Aku tahu kebutuhan keluargamu.” Pengalaman inilah yang menguatkan tugas panggilannya, dan mulai saat itu ia tidak pernah lagi menoleh ke belakang atau meinggalkan penggilan Tuhan.
Karakter pendeta Sung seorang yang cepat marah, dan rupanya Ju Un mewarisi tabiat itu. Oleh sebab itu, ketika Ju Un bertambah besar, selalu terjadi kesulitan komunikasi dengan ayahnya; sebab wataknya sama keras. Tongkat bambu ayahnya sering dipakai untuk menghajar Ju Un, dan herannya Ju Un selalu mencari cara-cara yang licik untuk membalas. Suatu hari Ju Un marah, ia menubrukkan kepalanya menghantam buyung tanah, sehingga buyung itu hancur. Pada peristiwa yang lain, ia pernah melemparkan sebuah mangkuk berisi nasi panas ke wajah adiknya. Karena takut akan hukuman yang segera akan diberikan, maka Ju Un memutuskan utnuk melompat ke dalam sumur; suatu cara yang tepat di Tiongkok pada waktu itu untuk menjengkelkan keluarga. Tetapi Ju Un kalah cepat mengangkat tutup sumur itu dan akhirnya ia dihukum dengan hukuman yang cukup berat.
Suatu kali sesudah dipukuli ayahnya, ia mengintip dari celah-celah kamar kerja ayahnya. Ia heran melihat ayahnya menangis. Lalu ia berlari dan menabrak pintuk mendapatkan ayahnya. Ju Un berteriak, “Apa yang terjadi, Ayah? Ayah menghukum aku, tetapi aku tidak menangis. Mengapa justru ayah yang menangis?” Jawab ayahnya, “Ini adalah pelajaran mengenai kasih sayang Allah.” Di Sekolah Kristen, Ju Un mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi dan luar biasa. Hal ini menyenangkan hati ayahnya. Ia mempunyai nama sindiran (ejekan), yakni si “Kepala Besar”. Pada tahun 1913, dalam sebuah Kebangunan Rohani di Hing Hwa ia mengalami pertobatan. Sejak itu, Ju Un mulai terlibat dalam pelayanan. Ia juga sering berkhotbah, sering ia digelari si “Pengkhotbah Cilik”. Ia juga sering menggantikan ayahnya untuk berkhotbah.
John juga senang membagi-bagi traktat di Alun-alun, menjual Alkitab, memimpin puji-pujian; sekalipun waktu itu ia masih sekolah lanjutan. Sifat-sifat jeleknya rupanya masih sukar ia lenyapkan, kadang-kadang emosinya suka tidak terkendalikan (ia sering marah), sombong. Hal ini yang membuat ayahnya berkesimpulan bahwa Ju Un tidak layak menjadi hamba Tuhan, lebih baik ia kuliah disiplin pendidikan yang lain saja. Karena itu, Ju Un dikirim ke Sekolah Menengah Angkatan Laut, fukien. Jarak perjalanan unuk tes masuk itu 643 km, di kota Foo Chow. Ju Un tidak pernah gentar menghadapi ujian ini, biasanya ia selalu mendapat hasil yang gemilang.
Rupanya jalan Tuhan itu lain dari apa yang dikehendaki oleh manusia. Penyakit kaki yang bengkak menyerang Ju Un, sehingga ia tidak sanggup menempuh perjalanan yang jauh untuk ujian tes masuk. Ju Un tidak peduli dengan kakinya, ia tetap berjalan sekuat tenaga, sehingga tatkala ia tiba di Foo Chow, kesehatannya sangat buruk; ia harus gagal mengikuti ujian dalam pemeriksaan kesehatan. Allah menutup pintu baginya. Suatu hari, Ju Un datang menyampaikan keinginannya kepada ayahnya, bahwa ia hendak sekolah ke luar negeri. Ayahnya, yang waktu itu sudah berumur, sangat marah, “Engkau kira kita punya uang untuk perjalananmu dan belanjamu dengan makan tinta asing dan mengisi kepalamu dengan angin? Ayahmu bukanlah Mandarin Hing Hwa, melainkan pendeta yang miskin!” Ju Un yang pada saat itu berusia 18 tahun sangat sadar bahwa tidak banyak yang dapat dipelajari di Tiongkok, apalagi dengan situasi politik saat itu. Selama kurang lebih seminggu lamanya, ia harus menjerit kepada Allah, supaya membuka jalan baginya. Beberapa hari kemudian datang surat dari Beijing yang menawarkan secara cuma-cuma untuk kuliah di Universitas Wesley di Ohio. Biaya makan dan tempat tinggal disediakan. Dengan berdasarkan informasi ini, ia datang kembali kepada ayahnya, tetapi pendeta tua Sung tetap tidak mengizinkan Ju Un pergi; sebab ia tidak ada uang untuk dipakai sebagai ongkos perjalanan. Namun berkat doa yang tekun dari Ju Un, jemaat ayahnya tergerak untuk mendukung. Melihat kenyataan ini, akhirnya Pendeta Sung mengizinkan Ju Un pergi walaupun masih setengah hati.
Tanggal 2 Maret 1920 merupakan hari bersejarah bagi Ju Un, sebab hari itu merupakan hari pemberangkatannya dan perpisahan dengan orang tuanya. Di dalam perjalanan itu, hanya dia sendiri yang Kristen, sehingga ia merasa sedih, tatkala teman-temannya berperilaku jelek. Ju Un mendaftarkan diri masuk Universitas. Beasiswa yang dia terima hanya cukup untuk membayar uang kuliahnya. Janji untuk mendapatkan uang konsumsi dan akomodasi tidak dipenuhi. Dengan uang enam dolar di kantong, ia menghadapi pergumulan iman yang dangat berat. Ia putuskan untuk mencari pekerjaan. Yang pertama dilakukan adalah membersihkan toko, dengan upah 25 sen per jam. Kemudian ia bekerja keras di sebuah hotel. Dengan cara demikian, ia mendapat upah selama musim panas untuk membiayai ongkos hidup di musim dingin.
Selama empat tahun ia berada di Amerika Serikat merupakan tahun-tahun perjuangannya melawan kemiskinan dan kesehatan. Sebagai seorang mahasiswa John Sung ternyata cukup istimewa dan luar biasa. Ia masuk jurusan Fisika dengan eksakta dan kimia sebagai pelajaran utamanya. Tahun kuliahnya yang terakhir merupakan beban berat baginya. Otak Ju Un cukup tegang. Waktu yang dia perlukan untuk belajar mulai menyita waktu yang dia perlukan untuk menelaah Alkitab dan berdoa secara pribadi. Kemunduran rohaninya cukup berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Ia menjadi orang yang sombong dan tidak sabar. Di pabrik tempat ia bekerja, ia mencatat sebagai jam kerja, padahal ia tidak bekerja, sehingga ia mempunyai waktu untuk lebih banyak belajar. Kemudian yang cukup disayangkan, ia bekerja sama dengan mahasiswa yang lain menipu dalam ujian.
Tahun 1923, ia mendapat ijazah B.A dengan penghormatan tertinggi. Ia juga terpilih menjadi anggota perkumpulan yang sangat eksklusif, yang hanya terbuka bagi sarjana terkemuka saja. Ia menjadi tersohor, banyak tawaran untuknya, mulai dari kedudukan tertinggi sampai gaji yang besar. Namun, dalam hati sanubarinya tidak ada damai sejahtera. Pada musim gugur, ia masuk Universitas Negeri di Ohio, yang mempunyai lebih 10.000 orang mahasiswa. Tetapi di sana kehidupan rohaninya semakin mundur, sebab kegiatan organisasinya cukup banyak, misalnya kampanye melawan diskriminasi rasial. Walaupun ia cukup sibuk, tetapi dalam kuliahnya ia tetap nomor satu. Dalam waktu sembilan bulan, ia telah meraih ijazah Sainsnya. Pemerintah Tiongkok mulai mencurahkan perhatian kepadanya dan memberinya beasiswa. Pemikirannya dapat terfokus pada pendidikan, sehingga ia berhasil meraih gelar Ph.D.-nya dalam jangka waktu satu tahun.
Tanggal 10 Februari 1926, Dr. John Sung, M.Sc, Ph.D. telah memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan dan ia telah mendaftarkan diri di Union Theological Seminary. Tanggal 4 Oktober 1926, John Sung kembali ke Tiongkok. Pada waktu kapal hendak merapat di dermaga pelabuhan Shang Hai, John Sung membuang ijazah sarjananya serta tanda-tanda penghargaan yang diperolehnya di Amerika Serikat ke dalam laut, kecuali ijazah doktornya untuk diperlihatkan dan menyenangkan hati ayahnya. Ia menganggap bahwa penghargaan-penghargaan dan ijazahnya dapat mengoda dia meninggalkan pekerjaannya sebagai penginjil. Kemajuan kerohaniannya semakin terlihat, Sung menanggalkan semua kemuliaan dunia untuk mendapatkan yang lebih berharga, yakni kemuliaan Allah. Tahun 1927, John Sung mulai mengadakan Kebangunan Rohani di Hing Hwa.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri John Sung sangat mengagetkan ayah dan ibunya. Tawaran pekerjaan dari pemerintah Tiongkok ditolaknya. Ia mengadakan perjalanan keliling untuk penginjilan di seluruh Tiongkok (Hing Hwa: 1927-1930; Foo Chow, Shang Hai, 1930; Nan Chang, Tiongkok Utara, Mancuria: 1931; Tiongkok Selatan: 1923; dan Tiongkok Utara lagi: 1933-1934). John Sung mendapat karunia penyembuhan dari Tuhan, ia selalu mendoakan orang-orang yang sakit, mujizat terjadi, banyak yang disembuhkan oleh Tuhan. John Sung mengutip beberapa ayat Alkitab atau berkata “Dengan Nama Tuhan Yesus”.
John Sung sadar bahwa dengan cara ini, orang-orang yang disembuhkan nantinya akan salah pengertian, mengaggapnya sebagai dukun. Namun, ia selalu memberi penjelasan, bahwa yang menyembuhkan mereka adalah Tuhan. Memang tidak semua orang yang didoakan John Sung mengalami kesembuhan, tetapi itu tidak menjadi soal, baginya yang terpenting jiwa orang tersebut diselamatkan; kesembuhan jasmani sifatnya hanya sementara saja. Undangan yang pertama kali diterima oleh John Sung untuk melayani di luar negeri datangnya dari negara Philipina, yakni di kota Manila. Seperti biasanya, khotbah Dr. Sung berbicara sekitar dosa, penyesalan, kelahiran kembali dan masalah kesucian hidup. Kutukannya terhadap dosa jelas dan sangat gamblang, tanpa ada rasa takut. Kadangkala ia menuding ke arah seorang pendeta di tengah pertemuan itu dan berteriak, “Hatimu bergelimangan dosa.” Dan tudingannya selalu tepat. Salah seorang yang datang ke pertemuan yang diadakan di Manila itu ialah Konsul Jendral Tiongkok, yang hidup risau dan penuh dosa. Ia dibujuk menghadiri rangkaian pertemuan itu oleh calon istrinya, tetapi ia tidak bertobat. Di sana, ia meneruskan hidupnya yang jahat itu, tetapi Tuhan mengirim John Sung ke sana juga.
Melalui pelayanan penginjilan safari ini, Konsul itu berobat dan sungguh-sungguh lahir kembali. Di kemudian hari ia menjadi Kepala Sekolah Alkitab di Pulau Jawa. Sebelum John Sung kembali ke Tiongkok, ia sempat berkunjung ke Cebu, sebuah pulau yang terletak di gugusan kepulauan Filipina. Di Cebu, seorang wanita yang telah bertekad tidak akan memandang sorotan mata Dr. John Sung, sebab dia takut terpengaruh olehnya. Seperti biasanya, Dr. Sung berkotbah penuh semangat, sehingga pakaiannya basah penuh keringat. Tetapi perempuan itu melihat sesuatu yang mengherankan, tatkala seorang redaktur surat kabar disembuhkan seketika. Redaktur yang tadinya bungkuk, menjadi tegak berdiri berkat doa John Sung. Di kemudian hari, redaktur ini terjun aktif dalam pelayanan penginjilan; sementara perempuan itu menjadi anggota Majelis Gereja Cebu. Dari pulau Cebu, ia ke Singapura, di sana ia berkhotbah sebanyak 40 kali dalam 14 hari. Sejumlah 1.300 orang bertobat dan 111 regu penginjil dibentuk dengan 503 orang anggotanya. Lebih dari 80 orang pemuda menyerahkan diri secara “fulltime” menjadi hamba Tuhan.
Demikianlah pelayanan Dr. Sung yang membawa hampir 5.000 orang bertobat. Dari Singapura, kemudian John Sung kembali ke Tiongkok dan menjalankan misi penginjilan keliling dengan hasil yang cukup memuaskan. Antara tahun 1938-1939, ia mengadakan penginjilan ke Muangthai dan Serawak. Akhir tahun 1938, Dr. Sung mengadakan serangkaian-serangkaian perjalanan penginjilan ke Indonesia atas undangan jemaat-jemaat Tionghoa di Surabaya. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk memberitakan Injil di beberapa kota besar di Indonesia. Di Surabaya tatkala diadakan pertemuan, walaupun pada hari-hari kerja; pengunjungnya tetap penuh sesak. Dr. Sung tampil dengan sosok tubuh yang kurus tidak memberi kesan apa-apa. Ia mengenakan baju putih Tiongjoa yang sederhana dan rambutnya jatuh menutupi dahinya. Di Surabaya, Dr. Sung didampingi dua penerjemah, yakni yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dari Surabaya, beliau melanjutkan perjalanan ke Madiun, Solo, Jakarta, Bogor, Cirebon, Semarang, Magelang, Purworejo, Yogyakarta dan kembali ke Solo; kemudian masuk lagi ke Surabaya. Selain itu, ia juga masuk ke Makasar (Ujung Pandang) dan Ambon. Dr. Sung berada di Indonesia kurang lebih 3 bulan. Pekerjaannya cukup melelahkan, sakitnya mulai kambuh (TBC, pinggul dan jantung lemah). Peranan John Sung bagi jemaat-jemaat Tionghoa di pulau Jawa sangat besar. Ia berhasil membakar semangat orang-orang Tionghoa, baik yang belum maupun yang sudah percaya; menjadi percaya dan lebih semangat melayani. Di Ambon, telah berhasil dibangun sebuah jemaat Tionghoa, hasil pekerjaan John Sung. Jemaat tersebut diberi nama Gereja Kristen Tionghoa (Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee).
John Sung adalah seorang pengkhotbah yang bersemangat, kadang-kadang ia turun dari mimbar dan berdiri di tengah-tengah hadirin sambil menunjuk dengan jarinya ke muka seseorang pendengarnya sambil berkhotbah. Kotbahnya sungguh menusuk perasaan, sehingga dengan spontan banyak pendengarnya yang bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Di dalam kesibukan pelayanan John Sung, ia masih sempat menulis buku yang diberi judul Alegori-alegori (cerita-cerita kiasan). Dalam buku itu, ia merangkaikan cerita untuk setiap kitab dalam gaya bahasa kiasan. Pokok pikirannya berisi tema tentang gereja dan pekerja gereja. Bagaimana membangun sebuah jemaat? Bagaimana seterusnya memimpin jemaat itu, khususnya dalam bidang kerohaniannya? Pekerja-pekerja model apa yang diperlukan Allah untuk mengumpulkan panenNya? Watak dan hidup seorang hamba Tuhan. Ia mendesak semua orang mengenai Allah dan menuruti sepenuhnya kehendak Allah. Salib merupakan pusat pemberitaannya. Di kota Shang Hai, John Sung muncul untuk kali yang terakhir. Orang-orang berjubel-jubel, dan sementara menunggu pengkhotbah mereka asyik bercakap-cakap. Dr. Sung muncul, tiba-tiba dengan tinjunya ia memukul meja sekeras-kerasnya sambil berteriak, “Apakah ini gedung untuk berkomedi atau untuk kebaktian?” Semua terdiam, lalu ia mulai berkhotbah. Alkitab yang dikutip hari itu adalah dari 1 Tesalonika 5:2, “Hari Tuhan datang seperti pencuri waktu malam.” Tubuh John Sung makin lemah; hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa ia menderita kanker dan TBC.
Dalam keadaan sakit, ia mendapat kabar Yosua anaknya meninggal di Shang Hai. Kelihatannya hal ini menjadi pukulan yang sangat berat. Namun Dr. Sung telah mengenal Tuhan begitu baik, oleh sebab itu ia menerima kejadian itu dengan pasrah, imannya tidak goyah. Tahun 1943 merupakan tahun yang paling sulit bagi John Sung. 16 Agustus 1943, John Sung begitu jelas mengetahui bahwa ia akan meninggal. Malam itu pula ia tidak sadar, tetapi besoknya ia pulih kembali dan sempat menyanyikan tiga lagu rohani. Tidak lama kemudian tubuhnya kembali lemah. Pukul 07.07 waktu setempat, tepatnya tanggal 18 Agustus 1943, dalam usia 42 tahun; John Sung dipanggil Tuhan saat sahabat-sahabatnya berdoa di samping tempat tidurnya. Penguburan almarhum John Sung dilakukan tanggal 22 Agustus 1943. “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Hadir pada waktu itu semua utusan dari semua bagian negeri. Pemberi amanat firman Tuhan adalah Pendeta Wang Ming Tao dari Beijing. Beliau mengutip Yeremia 1:4-9. Pendeta Wang mengatakan John Sung dipanggil seperti Yeremia untuk menebus dosa gereja dan masyarakat, untuk menjadi seperti “Tiang Besi” tidak takut kepada manusia dan setia sampai mati. Apa yang bisa kita pelajari dari kehidupan Dr John Sung ini? Kehidupan yang bernilai ganda, obor Tuhan dari Asia.
“Masih banyak orang yang lebih baik dari aku!
Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabatan seperti Alfred Chow! Sebagai figure public, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih.
Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu dalam melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku”
(John Sung)
Disadur dan disunting dari : http://www.kompasiana.com/saumiman/john-sung-obor-tuhan-dari-asia_55d49f53a2afbd640b140826
*********************************************************************************
Forbid it, Lor, that I should boast
*********************************************************************************
John Sung
Pendeta ini berpenampilan unik. Ia kurus kecil. Rambutnya pendek dan selalu terurai di dahi. Mukanya pucat dan selalu menunduk. Ia selalu berpakaian kemeja putih sederhana model Tiongkok kuno. Ia tidak suka tersenyum sana-sini atau berbasa-basi. Sifatnya ketus dan menyendiri. Ia pemalu. Tapi kalau berkotbah, tiba-tiba ia menjelma menjadi nabi yang berapi-api. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus.
Siapakah John Sung? Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Mereka sekeluarga bertubuh lemah dan sering sakit.
Sejak kecil Sung sudah berwatak unik. Ia gesit dalam segala hal. Ia keras kepala dan tidak bisa sabar. Ia mudah marah. Ia sering memberontak kepada ayahnya. Ia pernah menjatuhkan diri ke sumur. Ia pernah menabrakkan diri ke buyung besar sehingga buyung itu hancur. Setiap kali ia dicemeti ayahnya ia tidak pernah menangis, ia malah heran bahwa justru ayahnya yang menangis setelah itu.
Sung tampak lebih unik lagi di sekolah. Kecedasannya melewati batas wajar. Ia bisa mengingat tiap kata dari tiap buku yang dibacanya. Ia sudah hafal kitab Mazmur, Amsal, dan kitab kitab Injil. Ia suka menulis karangan yang menentang penjajah Jepang. Ia suka ikut ayahnya melayani kebaktian di desa desa lain. Kalau ayahnya sakit, Sung yang baru berusia 12 tahun sudah bisa menggantikan ayahnya menjelaskan Alkitab dari atas mimbar.
Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa bintang pelajar di seluruh provinsi. Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Untuk ongkos hidup ia bekerja sebagai pembersih sampah dan pembersih mesin pabrik. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu. Surat kabar di Amerika dan Eropa melaporkan prestasi jenius ini.
Namun, Sung tetap gelisah mencari arti hidup. Apa faedah hidupku bagi orang lain? Apa kehendak Tuhan dalam hidupku? Ia bangun pukul 4 setiap pagi untuk mencari kedekatan dengan Tuhan. Ia sering merenungkan cinta Tuhan Yesus memberi makan ribuan orang menurut Matius 14: 13-21. Anak kecil dalam cerita itu memberi lima roti dan dua ikan. Apa yang aku punya untuk diberikan kepada TUHAN? Aku punya sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki. Itu bisa aku berikan! tetapi bagaimana caranya? Sung termenung memikirkan nasihat Rasul Paulus: "supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Roma 12:1).
Sementara itu, studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan, padahal ia bersekolah sambil bekerja sebagai pemotong rumput di jalan dan aktif dalam gerakan mahasiswa menentang diskriminasi rasial.
Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Persyaratan bahasa Prancis dan Jerman dipenuhinya dengan belajar sendiri cukup dalam satu bulan. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini. Banyak perusahaan raksasa menawarkan lowongan kepada Sung. Bahkan pemerintah Jerman membujuk dia untukmengembangkan riset teknologi roket.
Sung menolak semua tawaran itu. Lalu ia masuk sekolah teologi. Program tiga tahun di Union Theological Seminary di New York ditempuhnya dalam waktu satu tahun. Namun, sementara itu tubuhnya semakin lemah dengan penyakit asma, paru-paru, jantung. dan khususnya mata.
Pada suatu siang Sung mengalami gangguan mental. Ia dirawat di rumah sakit jiwa. Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan mandarin.
Di sekolah teologi Sung membuat keputusan untuk mengkristalkan pergumulan spiritualitasnya dalam bentuk meninggalkan ilmu kimia lalu menyerahkan jari tangan dan kaki, serta kedua telinga, mata, tangan dan kakinya untuk memperkenalkan Injil di Asia. Ia tahu bahwa sebagai kimiawan pun bisa menjadi saksi Kristus, namun ia memilih jalan lain.
Tahun 1927 Sung pulang ke Tiongkok. Ia langsung bergiat dalam perkabaran Injil dan pembinaan kader kader awam sebagai pemberita Injil. Sepanjang tahun ia terus berpergian. Sebab itu, ia tidak mau menikah. Namun, adat kuno keluarga mewajibkan dia menikah dengan seseorang yang belum dikenalnya sama sekali. Dari pernikahan ini lahir lima orang anak, namun Sung hampir tidak mengenal anak-anaknya ini. Kemudian Sung mulai mengabarkan Injil ke negara negara Asia.
Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Acara pemberitaan Injil ini disebut "Serie Meeting" yang terdiri dari 22 pemahaman Alkitab atau khotbah tiap pagi, petang, dan malam selama tujuh hari. "Serie Meeting" ini diadakan di Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makasar, Ambon, dan Medan. Khotbahnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokok pembahasannnya bersambung. Cara penyampaiannya jelas, sederhana, dan memikat. Ia sering menggunakan papan tulis dan alat peraga. Sasarannya adalah orang-orang yang belum pernah mendengar berita Injil.
Hasilnya memang luar biasa. Ribuan orang dengan setia mengikuti 22 pertemuan itu. Pada tiap pertemuan ribuan Alkitab, nyanyian rohani, dan buku renungan terjual habis. Di tiap kota, gereja-gereja membentuk komite tindak lanjut karena ribuan orang mendaftar untuk mengikuti katekese.
Watak Sung sejak masa kecilnya tetap tampak. Ia serba cepat dan tidak sabar. Ketika memasuki ruang yang gaduh ia langsung menggebrak meja sambil berteriak, "Apa ini ruang ibadah atau gedung komedi?" Di tempat ia menginap, dituntutnya suasana sunyi. Ia meminta seisi rumah itu bangun pukul 4 pagi dan berdoa untuk pertemuan "Serie Meeting" hari itu. Ia menolak pemberian atau hadiah dalam bentuk apa pun. Kalau diajak mengobrol atau berbasa basi ia langsung menegur dengan ketus, "Jangan ganggu pikiran saya!"
Kekuatan tubuh Sung semakin rapuh. Perang dunia dan kemiskinan yang melanda Tiongkok menekan dia. Berkali-kali ia masuk rumah sakit untuk pengobatan dan pembedahan. Pada tahun 1944 dalam usia 42 tahun Sung meninggal dunia. Di kalangan akademik ia dikenang sebagai kimiawan jenius calon pemenang hadiah Nobel untuk ilamu kimia. Namun, di hati banyak orang lain, ia dikenang sebagai pembawa berita Injil.
Generasi masa kini gereja di Indonesia tidak mengenal John Sung. Tetapi sebenarnya banyak di antara kita merupakan buah dari benih Injil yang ditaburkan Sung kepada generasi-generasi pendahulu kita. Ayah dan ibu saya pertama kali mendengar berita Injil pada "Serie Meeting" John Sung di Bandung pada tahun 1939. Ketika itu, saya masih berada dalam kandungan lima bulan. Kemudian ketika masa remaja saya diberi buku oleh seorang "zendeling" yang pulang ke Belanda, yaitu Cornela Baarbe. Buku itu adalah karangannya sendiri. Isinya tentang John Sung. Judulnya, "Dr. Sung Een Reveil op Java" terbitan Voorhoeve Den Haag. Zendeling ini dulunya adalah komite penyelenggara "Serie Meeting" John Sung. Lalu zendeling itu dengan perasaan haru memberikan kepada saya sehelai potret John Sung yang ditandatangani sendiri oleh John Sung. Karangan ini saya tulis sambil memandangi potret itu.
****************************************************************
John Sung ( Obor Allah di Asia)
sebuah biografi yang sempat saya baca dari buku "John Sung: Obor Allah di Asia" tentang seorang pengkabar injil.Menceritakan tentang bagaimana setiap kebangkitan rohaninya yang berkali-kali jatuh dan mendengarkan panggilan untuk menginjili walau ada kesuksesan dunia yang ada di depan matanya.
John Sung lahir di Hinghwa, Fukien tanggal 27 September 1901. Dalam 42 tahun perjalanan hidupnya, dia merupakan salah satu penginjil yang paling memberikan dampak bagi kekristenan di China maupun sekitarnya. Mengenal kekristenan dari kecil memberikan dampak bagi John Sung untuk selalu berdoa dan percaya akan jawaban Tuhan akan doanya. Dia adalah anak seorang penginjil juga yang mana sedari kecil sudah membantu ayahnya dalam penginjilan. Hidup seorang penginjil masa itu sangat tidak menyenangkan karena kemiskinan yang menghimpit keluarga mereka. John Sung yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata membuat dia cukup pandai dalam memimpin jemaat pada usia semuda itu.Kehidupan yang berpindah-pindah juga sempat dialami oleh John Sung sehingga semakin menyesakan nafas mereka dalam usaha mengabarkan injil. walaupun kejatuhan berkali-kali dirasakan Allah selalu hadir dalam hidup John Sung untuk memapahnya lagi untuk berdiri dan berjalan. Pada umur 19 tahun, dia pergi ke Amerika untuk menempuh studinya dalam bidang kimia dimana dia mendapatkan beasiswa karena kecerdasaan John Sung yang Luar biasa. Di Amerika John Sung menunjukan kecerdasaannya di Wesleyan University dan Ohio State University sehingga dalam 6 tahun, dia menyelesaikan studi S1, S2 dan S3-nya serta memperoleh gelar doctor di bidang Kimia sebagai lulusan terbaik pula. Namun ia justru berada di dalam krisis rohani. Pengaruh liberal menyerangnya membuat dia meragukan imannya. Sampai-sampai dia berhenti ke Gereja dan tidak percaya lagi akan Tuhan. Namun dalam kesesatan hatinaya kasih Tuhan kepada dia sekali lagi membawa dia untuk bangkit kembali dari kejatuhannya . Dia kembali bertobat dan mulai menentang pengaruh liberal yang ada di kampusnya. Dia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa selama 193 hari. Namun di sinilah titik tolak kehidupan dia. Selama 193 hari, dia membaca Alkitab sebanyak 40 kali, masing-masing menggunakan metode yang berbeda!! Hal-hal yang ia temui, ia catat dalam bukunya. Inilah “Sekolah Alkitab” yang sebenarnya bagi pemuda ini. Hal tersebut yang membuat John Sung semakin tertarik untuk mengkabarkan injil. Selepas dari rumah sakit jiwa (1927), ia kembali ke Cina. Dalam kapal perjalanannya ke Cina, kejadian yang terkenal itu terjadi yaitu dimana ia yang tidak merasakan ketenangan dari jiwanya lagi, berjalan bimbang di atas kapal dan akhirnya memutuskan membuang hampir semua penghargaan yang diterimanya kecuali ijazah PhDnya untuk menyenangkan ayahnnya. hal tersebut John Sung lakukan sebagai bentuk kematiaannya pada dunia walaupun kenikmatan dan kemegahan dunia akan mudah didapat dari pengharagaan dan ijazahnya.

Forbid it, Lor, that I should boast
Save in the Cross of Christ my Lord:
All the vain things that charm me most
I sacrifice them to His BloodMulai lah dia bekerja bagi perkejaan Tuhan. Namun baru tahun 1931, penginjilannya mulai efektif. Dia mulai bisa menemukan cara bagaimana dia bisa dipakai dia bisa dipakai Tuhan begitu hebatnya. Dan inilah yang terus ia tekankan kepada penginjil-penginjil lainnya sepanjang kotbahnya.
Doa. Pekerjaan Tuhan haruslah selalu diiringi dengan doa. Bukan hanya sebagai embel-embel rohani, namun di dalam doalah kekuatan untuk melakukan pekerjaan Tuhan berasal. “I talked least and I preached more. But I pray most!”. Satu hal yang patut diteladani oleh semua gembala adalah bagaimana dia menyimpan nama-nama orang yang menerima Kristus karena pelayanannya, dan dia mendoakannya setiap hari!
Kesucian diri. Bertobat, pengakuan akan pelanggaran dosa, dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Inilah bagaimana orang mempersiapkan dirinya untuk dipakai Tuhan. Bagaimana kita orang-orang bisa bersikap munafik untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan sementara diri kita kotor!
Pimpinan Roh Kudus. John Sung merupakan orang yang peka terhadap pimpinan ke Roh Kudus. Pimpinan inilah yang membantu John Sunga dalam segala perjalanan penginjilannya. Begitu juga dalam kotbahnya, John Sung mampu menghadirkan kuasa Roh Kudus untuk bekerja dalam diri setiap mereka yang belum percaya. Roh Kudus menyatakan kepada mereka pelanggaran mereka, dan membawa mereka dalam pertobatan.Perjalanan penginjilannya hampir selalu dikatakan berhasil. Ribuan orang bertobat dari dosanya, bahkan orang Kristen nominal pun mengalami kebangungan rohani yang luar biasa. Ketika ia pergi ke daerah-daerah, hampir tidak pernah ia datang membawa nama gerejannya sendiri. Namun justru dia mengadakan kebaktian penginjilan di gereja-gereja setempat. Tidak hanya mempertobatkan mereka yang belum percaya, namun dia juga memberkati para pemimpin gereja, sehingga domba-domba baru itupun dapat terurus dengan baik. Sungguh suatu system penginjilan yang baik. Tahun 1934, ayahnya meninggal dunia. Di dalam mimpinya, John Sung bertemu dengan ayahnya yang berkata,“Sung, aku telah pergi ke Surga. Tapi kau masih punya 7 tahun lagi untuk bekerja. Jadi bekerjalah yang giat untuk Tuhan”. Pemberitahuan ini membuat dia semakin giat melayani Tuhan. Hari demi hari dia lalui tanpa istirahat untuk berkotbah. Sungguh hanya kekuatan Roh Kudus yang memampukan dia seperti itu. Bahkan para penerjemahnya pun tidak sanggup mengikuti semua kegiatan dia. Pertobatan-pertobatan terjadi, kesaksian-kesaksian terus mengalir. Tanah Cina kembali menjadi suatu ladang yang siap dituainya. Lahan-lahan yang dipersiapkan misionari-misionari sebelumnya memperlihatkan hasil.
Dia pernah berkata, “Masih banyak orang yang lebih baik dari aku! Untuk pembelajaran Alkitab, aku tidak sebanding dengan Watchman Nee! Sebagai pengkotbah, aku tidak sebanding dengan Wang Ming-tao! Sebagai penulis, aku tidak dapat dibandingkan dengan Marcus Cheng! Sebagai musisi, aku jauh di bawah Timothy Chao. Aku tidak memiliki kesabatan seperti Alfred Chow! Sebagai figure public, aku tidak memiliki sopan santun seperti Andrew Gih. Hanya ada satu hal di mana aku melebihi mereka: yaitu dalam melayani Tuhan dalam setiap kekuatanku”

Inilah John Sung, seorang Yohanes Pembaptis bagi China untuk memanggil para pendosa, mengingatkan mereka bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Dialah suara dari padang gurun yang memanggil orang ke dalam pertobatan.
Sumber:Teoblogi. martinus raditya
biografi John Sung ( Obor Allah di Asia)
http://id.wikipedia.org/wiki/John_Sung
*********************************************************************************
*********************************************************************************
John Sung: Si Pemberani yang Gila
Kekristenan di Cina, sebuah negara komunis yang sering menekan umat beragamanya, berutang besar pada keberanian dan karya besar seorang pendeta yang pernah masuk rumah sakit jiwa, John Sung. Tanpa John Sung udah pasti wajah Kekristenan di Negeri Tirai Bambu itu bakal beda banget ama yang sekarang. Bisa dibilang, John Sung adalah salah satu misionaris Kristen terdahsyat di abad XX yang pernah dilahirkan di tanah Cina dan berhasil menggerakkan bangsanya, dan juga bangsa Asia lainnya, melalui kiprahnya. (cs)
John Sung Si Pemberani yang Gila
Sejak dilahirkan di Fukien, Cina, tahun 1901, John Sung dibesarkan dengan ajaran-ajaran Kristen yang dianut ayahnya, anggota Gereja Metodis Wesleyan Amerika. Ia sering membantu tugas-tugas gerejawi di lingkungan tempatnya tinggal, karena ayahnya juga menjabat sebagai pastor di gereja setempat. Ia dikenal sebagai “Pastor Kecil,” karena saat ayahnya jatuh sakit atau sedang berhalangan, John Sung berani naik ke mimbar dan bicara di depan jemaatnya.
Sejak kecil, kecerdasannya sangat terlihat sehingga ayahnya mengirim John ke AS buat kuliah. Sambil bekerja membiayai hidupnya sendiri di sana, John berhasil ngedapatin langsung gelar sampai doktor (S3 bidang Kimia) hanya dalam waktu lima taon. Tentu aja apapun yang dia pengen bisa dia dapetin. Posisi yang bergengsi dalam pekerjaan bisa diraihnya dengan gampang. Gaji besar pun siap menunggunya. Popularitas pasti ngikutin dia kemana-mana dengan gelar doktor kimia itu.
Tapi, dia terhenyak waktu baca sebuah ayat, Markus 8:36, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” Dia jadi sangat gundah memikirkan ayat tersebut. Saat itu, kebetulan seorang pendeta Metodis menghampirinya dan mengajaknya belajar teologi di Union Theological Seminary di New York. Namun justru masa ini menghancurkan semangatnya. Di Union ini, John Sung justru diajarkan banyak hal tentang teologia modern (gagasan bahwa Tuhan sudah mati), bukan ajaran-ajaran yang jelas yang berasal dari Alkitab. John mulai meragukan segala hal yang telah diserapnya sejak dia kecil.
John berkesimpulan kalo emang Tuhan udah mati dan Kristus nggak bangkit, maka nggak ada gunanyadia belajar tentang Kekristenan. Nggak ada gunanya buat siapapun mengikuti Kristus. Dia mulai beralih ke ajaran-ajaran lain dalam kegundahannya itu. Dia terus mencari apa itu kebenaran.
Masa pencarian dalam krisisnya itu berlangsung selama empat puluh hari. Di hari yang ke-40, tanggal 10 Februari 1927, John Sung mengalami suatu keajaiban. Pada hari itu, keinginannya buat hidup udah benar-benar hilang lenyap. Dalam batinnya terjadi kecamuk besar antara mendengarkan yang mana Roh Allah dan yang mana Roh Setan. Tapi di tengah kegalauannya itu, ia bertekun berdoa dan mengakui segala dosa-dosanya.
Mendekati tengah malam, tiba-tiba dia melihat Kristus yang disalib hadir di depan matanya. Kristus berkata langsung padanya, “Dosamu diampuni, dan sekarang namamu adalah John.” Jiwanya diubahkan oleh pengalaman ini. Dia merasa diurapi di atas kepalanya ama Roh Kudus, terus-menerus, dalam gelombang demi gelombang. Di tengah malam itu, dari kamar asramanya yang ada di lantai empat, ia berlari keluar dan berteriak-teriak, “Haleluya! Haleluya!” kayak orang gila.
Selama seminggu berikutnya, dia bicara di depan umum tentang Juruselamat-nya itu. Dia juga nggaksungkan-sungkan nunjuk orang-orang yang berposisi tinggi di Union Theological Seminary dan menuduh mereka berdosa besar karena udah menyesatkan ajaran Tuhan. Karena keberaniannya ini, dia ditangkap dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Menghabiskan 193 hari di RSJ ini justru menjadi sekolah teologi yang sesungguhnya bagi John. Dia menghabiskan waktunya buat membaca satu buku, yaitu Alkitab, sebanyak 40 kali berulang-ulang, dari awal sampai akhir.
John keluar dari RSJ buat dipulangkan ke Cina, tanpa lulus dari Union. Di tengah perjalanannya, di atas kapal besar yang ditumpanginya, John benar-benar ngerasain kalo dia dipanggil buat melayani Tuhan sebagai pendeta, bukan sebagai yang lain. Kemudian dia membuang seluruh ijazah yang diperolehnya selama bersekolah di Cina, dan cuman menyimpan ijazah doktornya buat dikasihin ke ayahnya. Buat dia, semua itu sudah nggak ada artinya.
Sesampainya di Cina, dia langsung memulai karyanya. Dia berceramah dari kota ke kota tentang Kekristenan, terutama tentang bagaimana manusia telah berdosa dan perlu pengampunan dari Tuhan. Ajarannya keras; baginya, sekedar mengaku dosa dan bertobat saja nggak cukup. Orang harus membayar ganti akibat dosa-dosa yang udah diperbuatnya.
Jemaat yang dilayani oleh Sung selalu merasa tergerak dan banyak yang menangis di tempat kapanpun ia bicara tentang kasih Allah. Namun demikian, John juga dikenal nggak punya rasa takut. Dia berani menunjuk orang-orang besar dan mengatakan kalo mereka salah dan perlu Tuhan, bahkan para pastor sekalipun. Di seluruh Cina, orang-orang membicarakan betapa besar kuasa Tuhan yang dinyatakan pada mereka lewat sosok pendeta yang kurus kecil tapi tegar ini. Dalam waktu kurang dari 10 taon, sekitar 100 ribu orang Cina bertobat karena denger khotbah-khotbahnya. Dia meninggal pada usia yang masih sangat produktif, 43 taon, karena TBC, sebagai penginjil Cina paling berpengaruh pada masanya. [cs]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.