Meskipun hubungan antara Presiden Russia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kelihatannya hangat, sepotong bagian dari nubuat Rabbi Yahudi berumur 400 tahun yang hilang dan baru-baru ini ditemukan memperingatkan akan niat pra-Messianik Russia terhadap Israel mungkin jauh lebih agresif daripada yang disangka banyak orang.
Nubuat yang diucapkan Elijah ben Solomon Zalman, ahli Torah terkemuka abad ke-18 yang sangat terkenal dengan nama Vilna Gaon (si jenius Vilna), menyatakan,
“Ketika kamu mendengar bahwa Russia telah merebut kota Krimea, kamu harus tahu bahwa waktunya Messias telah dimulai, dan langkah-langkahnya akan terdengar. Dan ketika kamu mendengar Russia telah mencapai kota Konstantinopel, kamu harus mengenakan pakaian Shabbatmu dan jangan menanggalkannya, karena itu artinya Messias segera datang setiap saat.”
Dalam ramalan ini, Vilna Gaon menyebutkan dua tanda kedatangan segera dari Messias – Russia merebut Krimea dan Russia menduduki kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) di Turki. Ramalan pertama sudah digenapi tahun 2014 ketika Russia menduduki wilayah Krimea di Ukrania.
Hubungan antara Russia dan Turki ada di ambang konflik sejak November 2016 ketika Turki menembak jatuh pesawat tempur Russia yang melintasi wilayah udara Turki ketika menjalankan operasi militer di Syria. Dua pilot Russia tewas dalam insiden ini, yang membuat Russia memberlakukan sanksi ekonomi secara keras terhadap Turki. Insiden ini hampir memicu perang antara kedua negara, dan nubuat ini tampaknya akan segera terwujud.
Hari Senin 19 Desember 2016, duta besar Russia untuk Turki Andrey Karlov ditembak mati pada saat acara terbuka di Ankara, Turki. Insiden ini membuat hubungan Russia-Turki yang sudah buruk menjadi semakin buruk. Dalam rekaman video tampak si penyerang menembaki duta besar Russia sambil berteriak, “Allahu Akbar! Jangan lupakan Aleppo! Jangan lupakan Syria!”
WARNING: GRAPHIC VIDEO
Turki adalah anggota NATO dan sekutu AS dalam koalisi memerangi ISIS, mendukung kelompok-kelompok pemberontak yang menjalankan perang sipil melawan Presiden Syria Bashar al-Assad. Sementara Russia memiliki kedudukan militer kuat di Syria untuk mendukung Assad.
Dua bulan lalu, Angkatan Laut Russia berlayar ke Mediterania, memperkuat kehadiran militer mereka yang sudah tangguh di wilayah tersebut dan menyiapkan panggung untuk terjadinya konfrontasi setiap saat seperti yang dinubuatkan.
Rabbi Yekutiel Fisch, penulis buku Kabbalistik Sod Hachashmal (“Rahasia Listrik”), menyampaikan bahwa kebanyakan orang mengenal baik nubuatan yang dianggap diucapkan oleh Vilna Gaon, tetapi ia mengklaim bahwa ajaran itu memiliki akar yang bahkan lebih kuno lagi.
Rabbi Fisch mengaitkan asal-usul nubuat ini dengan Rabbi Samson ben Pesah Ostropoli, rabbi Kabbalistik yang tewas dalam pogrom (kerusuhan anti Yahudi) di Polandia pada tahun 1648. Dalam bukunya Mahaneh Dan (“Pekembahan Dan”), yang sejak saat itu hilang, Rabbi Ostropoli membuat pernyataan yang sama bahwa Russia akan menaklukkan Turki. Tapi tidak seperti nubuat yang disebutkan Vilna Gaon, nubuat asli Rabbi Ostropoli ini menambahkan bahwa Russia akan melakukan itu dengan niat sesungguhnya: yaitu menaklukkan Israel.
Sejauh ini, Israel tampaknya seperti biasanya belum terjerat dalam konflik yang bertumbuh di Timur Tengah yang berpusat di sekitar Syria, dan gesekan antara Russia dan Turki tampaknya tidak melibatkan Israel sama sekali. Tapi Russia tidak pernah netral di wilayah tersebut dan semua musuh-musuh di sekitar Israel menggunakan senjata buatan Russia.
Di Syria, militer Russia saat ini membantu sekutunya, Presiden Syria Bashar al-Assad, musuh bebuyutan Israel sejak lama, untuk mengatasi pasukan pemberontak dalam perang saudara paling berdarah. Dan Iran (dahulu Persia) yang ada di dekatnya, yang telah bersumpah untuk menghapuskan Israel dari peta dunia, Russia baru-baru ini memasok Tentara Pengawal Revolusi Iran dengan sistem senjata canggih S-300 anti serangan udara.
Sementara tentang hubungan diplomatik antara Israel dan Russia, menurut Profesor Efraim Inbar dari Begin-Sadat Center for Strategic Studies, mengatakan bahwa hubungan itu tidaklah sehangat seperti kelihatannya.
“Hubungan ini didasarkan pada pemahaman sempit tertentu untuk mencegah konfrontasi,” Profesor Inbar menjelaskan. “Hal ini diperlukan berkenaan dengan pesawat-pesawat tempur Russia yang beroperasi sangat dekat dengan perbatasan Israel, dan ini adalah demi kepentingan Israel untuk tidak memiliki konflik dengan Russia. Tapi tidak ada penandatangan perjanjian atau kesepakatan formal.”
“Harus diingat bahwa Russia bersekutu dengan Iran, mendukung Hezbollah, dan bahkan memiliki hubungan dengan Hamas,” Profesor Inbar memperingatkan.
Rabbi Moshe Sternbuch, hakim ketua dari Edah HaChareidis di Yerusalem, cicit dari Vilna Gaon, pada bulan Desember 2015 kemarin mengatakan, “Kita telah menerima pengajaran langsung, diturunkan dari generasi ke generasi, dari Vilna Gaon, bahwa ketika Russia pergi dan menaklukkan Istanbul, ibukota Turki, ini merupakan waktunya untuk segera mengenakan pakaian-pakaian Shabbatmu dan mengharapkan Messias.”
Nubuatan Vilna Gaon diperkuat oleh nubuat senada, yang berasal dari orang Rabbi Yahudi terkenal bernama Ba’al Shem Tov, pendiri Yudaisme Hasidic. Seperti Vilna Gaon, Ba’al Shem Tov hidup pada abad ke-18.
Rabbi Kloisenberger, rabbi Hasidic abad ke-20, menyuarakan kembali nubuat Vilna Gaon ketika dia mengutip nubuat Ba’al Shem Tov,
“Ketika kamu melihat kuda Russia berada di Konstantinopel (sekarang Istanbul), kota di Turki, kamu harus tahu bahwa Moshiach (Messiah) akan segera datang.”
Menurut Kloisenberger Rebbe, sebagai tambahan kehadiran militer Rusia di kota Istanbul, Turki, tanda lain yang disebutkan Ba’al Shem Tov mengenai kedatangan segera Messiah adalah, “Russia akan datang, mereka akan datang dan bersama-sama dengan anak-anak Ishmael.” Yaitu, ketika Russia menggabungkan kekuatannya dengan keturunan spiritual Ishmael, yang hari ini diidentifikasi sebagai keturunan Muslim, itu tanda lain kedatangan Messias.
Rabbi Moshe Sternbuch membahas ajaran profetik ini, mempertanyakan kenapa Turki akan memusuhi Russia, walaupun Russia jauh lebih unggul secara militer.
“Kita melihat dalam peristiwa-peristiwa ini penggenapan ajaran para Rabbi-rabbi Besar kita, bahwa ketika Moshiach akan datang, Elohim membuat kerajaan-kerajaan saling bermusuhan satu sama lain dan mereka mulai berperang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri,” jelas Rabbi Sternbuch.
Versi asli dari nubuat yang ditulis Rabbi Ostropoli mencatat bahwa Israel akan mengalami banyak proses. Pada awalnya, Israel akan berada di bawah kekuasaan Turki, sesudah itu akan berada di bawah kekuasaan Inggris, dan, pada akhirnya, Israel akan berada di bawah kekuasaan Russia.
Kekaisaran Ottoman memerintah di Israel pada saat Rabbi Ostropoli menulis bukunya. Namun Mandat Inggris atas Tanah Palestina baru digenapi hampir 300 tahun sesudah ia menubuatkan bahwa Inggris akan memerintah atas Israel. Russia tidak pernah menguasai Israel, namun tentara Russia tidak pernah berada begitu dekat dengan Yerusalem seperti halnya hari-hari ini.
Dalam pandangan profetik tradisional, Russia diasosiasikan dengan Magog, yang bersama-sama dengan sekutu-sekutunya (Persia, Kush, Put, Gomer, Meshek, Tubal, Bet-togarma) akan menyerang Israel pada Hari-hari Akhir.
Baca:

Referensi:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.