
Pada tanggal 1 Juni 2016, seluruh dunia disuguhkan tayangan misterius dan menyeramkan dari Upacara Pembukaan Terowongan Bawah Tanah Gotthard (GBT) di Switzerland, di dekat instalasi raksasa Large Hadron Collider (LHC: Mesin Akselerasi dan Tumbukan Partikel) CERN yang kontroversial itu. Keduanya ternyata memiliki hubungan yang sangat terkait. Apa sesungguhnya yang berusaha “dibangunkan” oleh para “elite dunia” ini di Switzerland dan CERN? Dan apa dampaknya bagi umat manusia di bumi?
Berikut ini video tayangan lengkap ritual Upacara Pembukaan Gothard Base Tunnel jika Anda ingin menyaksikannya:
Bab 4 – Apa Yang Berusaha Mereka Bangunkan di Switzerland dan CERN?
Sketsa di bawah nampaknya menunjukkan beberapa lingkaran, mengingatkan kita pada Large Hadron Collider (Mesin Akselerasi dan Tumbukan Partikel) Raksasa di CERN, Geneva (Jenewa), Switzerland.

Terowongan Bawah Tanah Gotthard dimulai desainnya pada tahun 1947 dengan sketsa misterius oleh insinyur Swiss Carl Eduard Gruner (atas).
Selama Perang Dunia II, Gruner Group (sebelumnya Gruner Brothers) membangun jalur-jalur kereta api, pembangkit listrik, dan sistem irigasi. Tapi yang akan menjadi bukti desain terbesar perusahaan tersebut adalah jalur terobosan yang dibayangkan Gruner melewati kaki Pegunungan Alpen, yang menghubungkan kota-kota Swiss, Erstfeld dan Bodio, dengan menggali terowongan di bawah St. Gotthard Massif di Pegunungan Alpen Swiss Tengah.
Terowongan Bawah Tanah Gotthard (GBT: Gotthard Base Tunnel) adalah terowongan terdalam di dunia (1,42 mil) dan terowongan terpanjang (panjang rute 35,5 mil dengan total 94,3 mil jika seluruh terowongan dan jalan lintasan disertakan). Terowongan ini terdiri dari dua lintasan paralel, masing-masing bergerak dalam satu arah di jalur tunggal.
Terowongan Bawah Tanah Gotthard (GBT: Gotthard Base Tunnel) melintas langsung di bawah St. Gotthard Pass, sebuah koridor strategis utara/selatan yang menghubungkan utara dan selatan Switzerland. Sebelum pembangunan terowongan modern ini, termasuk Terowongan Kereta Api Gotthard yang dibangun pada tahun 1880-an, satu-satunya cara untuk melewati daerah berbahaya ini adalah dengan menyeberangi Devil’s Bridge (die Teufelsbrücke, Jembatan Iblis), nama yang sesuai, mengingat ritual aneh yang menyertai peresmian terowongan terbaru di bawah St. Gotthard Massif. Sebuah legenda mengenai Devil’s Bridge ini (menurut sejarah lisan yang dikutip Wikipedia [i]) mengatakan:
Legenda itu sendiri terkait dengan Johann Jakob Scheuchzer (1716). Menurut Scheuchzer, ia diberitahu legenda lokal di mana orang-orang Uri meminta kepada Iblis untuk melaksanakan tugas sulit pembangunan jembatan. Iblis meminta kurban berupa apa pun yang pertama kali melewati jembatan itu sebagai harga untuk pertolongannya. Untuk mengelabuhi Iblis, yang berharap memperoleh jiwa manusia pertama yang melintasi jembatan, orang-orang Uri melepaskan seekor anjing dengan melemparkan umpan sepotong roti, dan anjing itu segera tercabik-cabik diterkam Iblis. Murka karena merasa telah ditipu, Iblis pergi mengambil sebuah batu besar untuk menghancurkan jembatan itu, namun, ketika sedang membawa batu kembali ke jembatan, ia berpapasan dengan orang suci yang “memarahinya” (der ihn bescholten) dan memaksanya menjatuhkan batu, yang keberadaannya masih bisa disaksikan di jalur bawah Göschenen. Sebuah cerita yang dipermodern diterbitkan oleh Meinrad Lienert, Schweizer Sagen und Heldengeschichten (1915). Menurut versi Lienert ini, bukan anjing melainkan seekor kambing yang dikirimkan melintasi jembatan ini, dan bukan berpapasan dengan orang suci, melainkan Iblis, ketika ia beristirahat karena kelelahan membawa batu, berpapasan dengan seorang wanita tua yang menandai batu itu dengan tanda salib, memaksa Iblis untuk meninggalkannya dan melarikan diri. [ii]
Kota Erstfeld terletak 186 mil berkelok-kelok atau lebih dari Geneva (lokasi CERN-LHC), dan Bodio (portal pintu gerbang selatan terowongan baru) hanya sejauh (atau lebih jauh, jika seseorang memilih untuk pergi melalui kota Erstfeld terlebih dahulu – ini perjalanan yang sulit, tapi merupakan salah satu yang nampaknya dianjurkan oleh Google Maps). Kita harus menghubungankan antara Gotthard Base Tunnel (GBT) ini dengan Large Hadron Collider (LHC) di Geneva, karena upacara peresmian yang ganjil dan menyeramkan yang disiarkan langsung ke seluruh dunia pada tanggal 1 Juni 2016. Jadi, sekarang mari kita membongkar gambaran-gambaran di dalam tari-tarian okultisme, yang dimulai dengan seruan untuk penyatuan agama-agama di dunia dengan melaksanakan pemberkatan “antar kepercayaan” terhadap terowongan di samping patung St. Barbara (santa pelindung para penambang). St. Barbara merupakan salah satu komponen lain yang menimbulkan rasa penasaran dalam pelaksanaan ritual aneh ini. Secara tradisional, pemujaan dan penyembahan terhadap St. Barbara dikatakan berawal di Bohemia. Menurut C. E. Gregory:
Katedral Barbara di Kuttenberg (Bohemia) dibangun antara tahun 1388 dan 1518 di kota pertambangan perak yang sudah tua. Hal ini dianggap sebagai asal-usul yang paling mungkin dari pemujaan Barbara. Katedral ini dibangun di sekitar altar Barbara yang sudah ada di area tersebut bersamaan dengan banyak altar Barbara lainnya yang sekarang ada. Kuttenberg selama berabad-abad memiliki simbol St. Barbara di atas palu yang menyilang pahat [Schlaegel und Eisen – simbol klasik dari pertambangan]. [iii]
Diduga, Barbara hidup pada abad ketiga Masehi di Asia Kecil di Nicromedia (dekat Baalbeck, Libanon). Meskipun ayahnya berencana menikahkannya dengan seorang temannya yang kaya dan berpengaruh, yang melayani “dewa-dewa kuno” Paganisme (jika mereka tinggal di dekat Baalbeck, Anda tentu sudah bisa menebak entitas Dewa siapa yang dilayani ayahnya), tapi Barbara lebih memilih iman Kristen – mati sekarat sebagai martir dalam penderitaan ketika disiksa oleh pro-konsul Roma dan kemudian dipenggal oleh ayahnya. Menurut Wikipedia, Barbara juga dianggap sebagai salah satu dari “Empat belas Penolong Suci,” sekelompok orang-orang kudus super yang anggota intinya terdiri dari tiga martir perawan: St. Catherine, St. Margaret, dan, tentu saja, St. Barbara. Barbara dikaitkan dengan “menara,” karena ayahnya mengurungnya dalam satu menara, untuk menjauhkannya dari dunia sementara ia mengatur pernikahannya dengan seorang kawan pagannya. Catherine dikaitkan dengan “roda,” alat penyiksaan yang dikenal sebagai “roda penghancur,” yang (ketika Catherine ditempatkan di atasnya) tubuhnya hancur tercabik-cabik, membuat sang penyiksa, Maxentius, tidak punya pilihan lain selain memenggal kepalanya. Dan Margaret dikaitkan dengan “Naga,” karena Satan dalam wujud naga telah mencoba untuk memakannya, tetapi salib yang dipakai Margaret mengganggu perutnya, sehingga Satan memuntahkannya dan Margaret dihukum mati.
Tiga gadis perawan, yang menjadi orang kudus super, dan sebuah menara, sebuah roda, dan naga. Kedengarannya seperti tangan di atas kemasan kartu tarot. Ini juga merupakan gema kegelapan dari tiga wajah Dewi Bulan Pagan: perawan/gadis (berpakaian putih), pelacur/ibu (berpakaian merah dan seringkali hamil), dan nenek tua/janda (seorang wanita tua berpakaian hitam) .
Berhubungan dengan “Tiga Dewi” ini ada legenda yang disebut “The Three Bethan” (Tiga Bethan), dewi Tritunggal yang disembah di seluruh Bavaria, yang secara menakutkan sangat mirip dengan konsep tentang tiga orang perawan kudus super ini. Menurut sebuah artikel dari druidry.org, tiga perawan yang dianggap Kristiani ini memberikan semua uang mereka untuk membangun sebuah kapel, tapi sebenarnya asal-usulnya Pagan:
“Beten” dalam bahasa Jerman modern artinya “berdoa.” Kemungkinan tindakan penyembahan kepada Bethen begitu penting dan menyebar luas sehingga nama mereka meninggalkan jejak pada kata Jerman untuk berdoa kepada mereka ini. Firpet atau Firbet, nama wanita ketiga pada patung Leutstetten, dalam bahasa Jerman modern kedengarannya sangat mirip dengan “Fürbitte” (artinya doa syafaat).
Tiga Bethen ini dipuja terutama di depan pepohonan, sumur-sumur dan bebatuan. Ini ditemukan ekspresinya dalam istilah “Bethelbäume” (pohon-pohon Bethen), “Bethenbrunnen” (sumur-sumur Bethen) dan “Bethensteine” (batu-batu Bethen). Seperti kita ketahui, penyembahan di sumur-sumur, di hutan-hutan belukar dan di dekat bebatuan yang unik adalah karakteristik yang menyebar luas di dalam kepercayaan Celtic dan Germanic, jadi kita bisa berasumsi bahwa sekte Bethen memiliki akar pra-Kristiani. [iv]
Lalu, kenapa kita musti perduli dengan Tiga Dewi Pagan ini, jika topik yang kita bahas dalam artikel ini adalah tentang sebuah terowongan di bawah tanah lintasan Alpine? Ini dikarenakan ritual tidak lazim yang dilakukan untuk meresmikan sistem terowongan ganda ini, dan panggilan penyembahan antar kepercayaan yang dilakukan di hadapan St. Barbara (dimana identitas “Tiga Dewi” ini diperjelas di dalam ritual itu sendiri). Tiga wanita dengan tiga aspek dari Dewi Bulan/Dewi Kesuburan yang sama.
“Tiga Dewi” ini tidak terbatas di dalam mitologi Alpine saja, namun di dalam mitologi-mitologi dunia kuno lainnya, antara lain:
- Yunani: Hebe / Hera / Hecate (juga Artemis / Selene / Hecate); Aphrodite Urania / Aphrodite Pontia / Aphrodite Pandemos
- Roma: Luna / Diana / Proserpina; Phoebe / Diana / Hecate; Juventas / Juno / Minerva
- Mesir: Hathor / Bast / Sekhmet; Hathor / Nephthys / Isis
- Hindu: Parvati / Lakshmi / Saraswati
- Irlandia: Badb / Macha / Morrígu
- Mesopotamia: Inanna / Ishtar / Astarte; Asherah / Astarte / Anat
- Arab (pra-Islam): Al-Lat / Al-Uzza / Manat
- Norse: Freyja / Frigg / Skaði [v]
Hecate, seperti disebutkan di atas, adalah Titan ibu-bumi dari para penyihir, dan menggambarkan hubungan tiga serangkai antara langit, bumi, dan dunia bawah tanah supernatural yang jahat. Sebagai putri dari Perses dan Asteria, Hecate (Hekate) adalah satu-satunya Titan (raksasa) yang tetap bebas di bawah kekuasaan Zeus. Dia adalah ibu dari penyihir pria Circe dan penyihir wanita Medea. Hecate dikarakterisasi oleh sesuatu yang tidak dikenal dan oleh teror-teror kengerian malam yang berkeliaran di jalanan-jalanan raya yang ditinggalkan dan sunyi.
Hecate
Fakta-fakta lain yang mengungkapkan tentang Hecate meliputi:
- Hecate sering digambarkan sebagai gadis muda dengan tiga wajah, masing-masing mengarah ke arah berbeda – sebuah peranan di mana dia adalah roh-bumi yang menghantui di mana pun tiga jalur bergabung menjadi satu. Sebagai “Dewi Tiga Wujud,” dia adalah Luna (bulan) di langit, Diana (Artemis) di muka bumi, dan Hecate di dunia bawah tanah/dunia orang mati.
- Pada tengah malam, para pengikut Hecate ini akan meninggalkan persembahan makanan di persimpangan-persimpangan jalan bagi dewi ini (Jamuan Makan Malam Hecate) yang, satu kali diletakkan, bersegera pergi tanpa memutar atau menoleh ke belakang. Kadang-kadang persembahannya terdiri dari kue-kue madu dan jantung ayam, sementara di lain waktu, anak-anak anjing dan anak-anak domba betina hitam yang disembelih dan dicampur madu untuk sang dewi dan Strigae-nya. (Strigae adalah makhluk seperti burung hantu cacat, yang bergabung bersama Hecate, yang terbang melintasi malam, menyantap tubuh-tubuh bayi yang tidak dirawat. Pada siang hari, mereka tampil sebagai perempuan tua sederhana – kisah-kisah rakyat yang dapat menjelaskan sejarah tentang para penyihir terbang. Strigae menyembunyikan diri di antara dedaunan pohon selama perayaan tahunan Hecate, yang dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus, ketika para pengikut Hecate ini mempersembahkan puji-pujian tertinggi kepada sang dewi). Strigae dijelaskan dalam buku “The Gods Who Walk Among Us” (Dewa-dewa Yang Hidup di Antara Kita) tulisan Thomas Horn, yang kemudian diambil menjadi salah satu episode serial program TV yang sudah lama tayang, Supernatural, produksi Warner Brothers.
- Para pengikut Hecate merayakan festival-festival di dekat Danau Averna di Campania, di mana hutan-hutan willow suci dari dewi ini berada, dan mereka bersekutu dengan roh-roh pohon (roh-roh bumi, termasuk Hecate, dianggap menghuni pepohonan) dan memanggil jiwa-jiwa orang mati dari mulut-mulut gua yang ada di dekatnya. Di sinilah Hecate dikenal sebagai Hecate-Chthonia, (Hecate bumi), sebuah penggambaran di mana dia paling jelas dirasuki roh-ibu-bumi yang berbicara melalui batu-batu gua dan pohon-pohon willow suci.
Namun Hecate memiliki gelar-gelar lain, yang lebih jelas mengungkapkan siapa dia sesungguhnya, dan nama-nama ini merupakan subyek menarik untuk dipelajari saat ini:
1.Hecate-Phosphoros (“Pembawa Terang” [berhubungan dengan roh kegelapan dunia bawah tanah yang berkuasa lainnya, yang bernama asli Lucifer, “Pembawa Terang“]); dan
2. Hecate-Propylaia (“Dia Yang Menjaga Pintu Gerbang”).
Konsep bahwa dewa-dewa mitologi dianggap sebagai penjaga-penjaga pintu gerbang (dan dalam beberapa kasus: dipenjarakan di baliknya), dan bahwa seringkali dewa-dewa dan dewi-dewi ini dikenal oleh peradaban purbakala sebagai “Pembawa Terang” sangatlah menarik dipandang dari sudut pandang Alkitab.
Yesaya 14:12 (ILT3) Betapa engkau telah jatuh dari surga, hai Heilel ben-Sakhar! (artinya: Lucifer Putera Fajar) Engkau telah dihempaskan ke bumi, hai yang melemahkan bangsa-bangsa.
Kata Ibrani yang diterjemahkan “Lucifer” adalah “heylel” yang artinya “Pembawa Terang,” dan Perjanjian Baru berbicara tentang Satan yang “bertransformasi menjadi Malaikat Terang” (2 Korintus 11:14).
2 Korintus 11:14 (ILT) Dan tidak heran, karena Satan sendiri menyamar (Yunani: metaschematizo; berubah wujud, berubah figur, bertransformasi) menjadi malaikat terang.
Penyelidikan lebih mendalam dari Kitab Suci mengungkapkan pengertian bahwa kekuatan-kekuatan spiritual yang ada di balik penghalang-penghalang atau “pintu-pintu gerbang” ini berlokasi di angkasa/langit, lautan, dan bumi secara fisik.
Sebagai contoh, kitab Efesus menyebutkan tentang pemerintah-pemerintah dan kuasa-kuasa di “tempat-tempat tinggi” dan “kuasa-kuasa angkasa/langit/udara.”
Efesus 6:12 (ILT3) Sebab, bagi kita pertarungan itu bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan penguasa-penguasa (Yunani: arche; pertama, kerajaan, pemerintahan, hakim, para malaikat dan setan), melawan otoritas-otoritas (Yunani: exousia; otoritas), melawan penghulu-penghulu (Yunani: kosmokrator; penguasa dunia, penguasa zaman ini, Satan dan iblis-iblisnya) dunia kegelapan zaman ini, melawan hal-hal spiritual yang jahat di alam surgawi.
Dalam Nehemia 9:6, nabi berbicara tentang lebih dari satu surga: Dia melihat langit-langit dan “surga dari surga-surga.”
Nehemia 9:6 (ILT3) Engkau sendirilah, ya YAHWEH, hanya Engkau! Engkau yang telah menjadikan langit (Ibrani: shamayim), langit segala langit (Ibrani: shemei hashamayim) dengan segala bala tentaranya, …
Kata “langit” di sini menggunakan bahasa Ibrani “shamayim” (H8064; jamak), yang artinya: surga, surga-surga, langit, angkasa yang kelihatan, tempat kedudukan bintang-bintang, alam semesta yang kelihatan, atmosfer, Surga (tempat kediaman Elohim).
Ini semuanya adalah tepian-tepian sekeliling Surga, atau tingkatan-tingkatan surga, seperti yang disebutkan Paulus dalam 2 Korintus 12:2, yang mengatakan,”Aku tahu seseorang di dalam Kristus di atas sana empat belas tahun yang lalu… [yang] diangkat ke surga tingkat ketiga.”
2 Korintus 12:2 (ILT) Aku mengetahui seseorang di dalam Kristus empat belas tahun yang lalu, entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Elohim mengetahuinya. Orang itu diangkat sampai ke surga yang ketiga.
Sebagai orang Farisi, Paulus mengenal tiga “surga-surga” utama, yang mencakup wilayah angkasa (kosmos), atau ketinggian, yang dikuasai dan dikendalikan Satan. Dalam pemikiran Farisi, langit/surga tingkat pertama hanyalah wilayah di mana burung-burung terbang, apa pun yang terangkat dan tidak menempel pada permukaan bumi. Di ujung lain dari spektrum dan terbuat dari substansi yang berbeda adalah surga tingkat ketiga – tempat kediaman Elohim.
Ini adalah wilayah yang dari padanya kubah ilahi tersebar keluar. Di antara langit/surga tingkat pertama di mana burung-burung terbang dan surga tingkat ketiga “di mana berdiam ruangan takhta Elohim” adalah zona perang yang disebut surga/langit tingkat kedua. Ini adalah tempat pintu-pintu gerbang kuningan (lihat Wahyu Zefanya) – kosmos atau equivalensi Ibrani dari “Ahriman-abad” dalam bahasa Persia – tempat di mana Satan atau Beelzebul (“Tuhan/Penguasa Tempat Tinggi“) berdiam sebagai Pangeran Penguasa “Angkasa/udara” (aer, udara bawah, yang mengelilingi). Zona perang ini merupakan semacam selubung angkasa, domain Satan yang meliputi seluruh permukaan bumi. Dipercayai bahwa dari sini para kosmokrator bisa membayangi kota-kota, menerobos ke dalam, dan berusaha mempengaruhi urusan-urusan dan pemerintahan-pemerintahan manusia. Juga diyakini bahwa dari kosmos ini, antek-antek Satan juga berusaha untuk menutup pintu-pintu gerbang di atas kota-kota sehingga berkat Elohim tidak bisa mengalir kepada mereka. Selanjutnya, diyakini bahwa ketika orang-orang kudus berlutut dalam doa, mereka harus berdoa menerobos tembok-tembok/pintu-pintu gerbang oposisi yang ada di dalam selubung angkasa ini.
Selain pintu-pintu gerbang surgawi yang di belakangnya roh-roh yang jatuh berdiam, Yunus 2:6 bercerita tentang Yunus yang pergi turun ke dasar samudera ke dalam “kota pintu-pintu gerbang” (Ibrani: Beriyach, sebuah benteng di dalam bumi, penjara) yang dari padanya Elohim membebaskannya.
Yunus 2:6 (ILT) Aku telah turun ke dasar gunung-gunung, perut bumi dengan palang-palangnya (Ibrani: beriyach) telah melingkupiku selamanya, tetapi Engkau mengangkat nyawaku dari lubang (Ibrani: shachath; sumur, jurang, kehancuran, kuburan), ya YAHWEH, Elohimku.
Tidak ada keraguan tentang di mana Yunus berada pada saat ia berdoa kepada Elohim dalam Yunus 2:2 “dari dalam perut neraka” (Ibrani: Sheol, penjara bawah bumi bagi orang-orang mati).
Yunus 2:2 (ILT) Ia berkata, “Aku berseru dari kesukaranku kepada YAHWEH, dan Dia menjawab aku; dari tengah-tengah (Ibrani: beten; perut, rahim) alam maut (Ibrani: sheol; neraka, dunia orang mati) aku menjerit, dan Engkau mendengar suaraku.
Teks ini sangat menarik dan memberikan pencerahan bila dibandingkan dengan kata-kata Yeshua dalam Matius 16:17-18: “Diberkatilah engkau, Simon Barjona [ben Yunus] … engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku; dan pintu-pintu gerbang neraka tidak akan menguasainya.”
Matius 16:17-18 (ILT3) Dan seraya menanggapi, YESHUA berkata kepada-Nya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus, sebab daging dan darah tidak menyingkapkan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. 18. Dan Aku pun berkata kepadamu, bahwa engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan membangun gereja-Ku dan gerbang-gerbang alam maut (Yunani: hades; neraka) tidak akan kuat menahannya.
Matius tidak secara sembarangan memilih kata-kata yang tidak biasa, yang menghubungkan antara Batu Karang di mana Gereja akan dibangun, nama Yunus, dan pintu-pintu gerbang neraka. Yeshua menghubungkan hal-hal yang sama antara pintu-pintu gerbang neraka, Yunus, dan misi-Nya bagi Gereja dalam Matius 12:40: “Sebab sama seperti Yunus tiga hari dan tiga malam berada di dalam perut ikan paus; demikian juga Anak Manusia berada tiga hari dan tiga malam di dalam jantung bumi.”
Matius 12:40 (ILT) Sebab, sebagaimana Yunus berada di dalam perut ikan (Yunani: ketos; monster laut, ikan besar, ikan paus) tiga hari dan tiga malam, demikianlah Anak Manusia akan berada di dalam rahim (Yunani: kardia; jantung) bumi tiga hari dan tiga malam.
Selain kisah-kisah Yunus dan Yeshua, Alkitab juga merujuk kepada entitas-entitas non-manusia di dalam lokasi-lokasi subteran (di bawah bumi), seperti “empat malaikat yang terikat di sungai besar Efrat” (Wahyu 9:14). Tentara Amerika Serikat yang bertugas menjaga para tawanan yang ada di penjara di bawah Bendungan Hadifa, Sungai Efrat, Iraq, merasakan sendiri bayangan kegelapan yang begitu kuat mencekam, sehingga para tawanan tentara Iraq itu berteriak-teriak histeris dan mereka merasakan ketakutan yang luar biasa di bawah Bendungan. Mereka berkata bahwa mereka dapat merasakannya. Bahkan tentara AS yang akan bertugas menjaga mereka akan membuang undi, untuk memilih siapa yang harus berjaga. Tidak ada yang ingin turun ke sana. Belakangan mereka mengetahui dari Kitab Wahyu bahwa di bawah Sungai besar Efrat itu terikat entitas-entitas kegelapan yang akan dilepaskan pada Akhir Zaman.
Wahyu 9:14 (ILT3) yang berkata kepada malaikat keenam yang memegang sangkakala itu, “Lepaskanlah keempat malaikat yang telah diikat di Sungai Efrat yang besar.”
Kesaksian mereka bisa dibaca di sini.
Ayub juga berbicara tentang Rapha (Rephaim, para Malaikat yang Jatuh atau semacam keturunan mereka) yang menggeliat-geliat “di bawah perairan” (Terjemahan Interlinear Ibrani dan Terjemahan Literal Young).
Ayub 26:5 (ILT3) Roh-roh yang mati (Ibrani: rephaim; roh-roh, hantu dari mereka yang mati, bayangan) akan menggeliat dari bawah lautan, dan penghuni-penghuninya.
2 Petrus 2:4 dan Yudas 6 mengindikasikan bahwa di bawah permukaan bumi adalah penjara atau tangki penyimpanan di mana Elohim mengikat entitas-entitas yang jatuh.
2 Petrus 2:4 (ILT3) Sebab, jika Elohim tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang telah berdosa, sebaliknya, Dia telah menyerahkan ke dalam belenggu-belenggu kegelapan dengan melemparkannya ke dalam Tartarus untuk ditahan sampai penghakiman;
Yudas 1:6 (ILT3) Juga para malaikat, mereka yang tidak menjaga asal-usul mereka sendiri, malah telah meninggalkan kediamannya sendiri, Dia telah menahan mereka dengan belenggu abadi di bawah kekelaman (Yunani: zophos; kegelapan, kehitaman, kegelapan dunia bawah tanah, halimun, kekelaman), sampai pada penghakiman pada hari yang besar.
Kitab Torah memperingatkan bahwa roh-roh semacam itu mungkin berusaha keluar dari tahanan mereka melalui campur tangan atau undangan manusia.
Ulangan 18:11 (ILT3) atau seorang pengucap mantera, atau seorang yang bertanya kepada arwah atau seorang ahli nujum atau seorang yang mencari petunjuk kepada yang mati.
Orang-orang Ibrani diperingatkan untuk tidak berkomunikasi dengan roh-roh ini, dan ketika penyihir dari Endor itu melakukannya, mereka (Ibrani: elohim; yang ilahi) naik keluar dari “dalam bumi” (1 Samuel 28:13).
1 Samuel 28:13 (ILT3) Dan raja berkata kepada wanita itu, “Jangan takut. Sebab, apakah yang telah engkau lihat?” Dan wanita itu berkata kepada Saul, “Aku melihat ilah-ilah (Ibrani: elohim; yang ilahi, dewa-dewa, para malaikat) muncul dari dalam bumi.”
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, sangat masuk akal untuk percaya bahwa makhluk-makhluk dengan inteligensia super ini kadang-kadang disebut sebagai “dewa-dewa” atau Dewi Tritunggal seperti yang disebutkan di atas, equivalen dengan mereka yang oleh Alkitab digambarkan bergerak melintasi bukaan-bukaan di langit, bumi, dan lautan pada waktu berinteraksi dengan makhluk-makhluk planet ini. Sebagian dari makhluk-makhluk multidimensional ini lebih terbatas dibandingkan yang lain-lainnya, namun dalam banyak kasus, oleh undangan tertentu mereka dapat “naik” atau melewati pintu-pintu gerbang ini, menampilkan wujud mereka sebagai “Pembawa Terang” atau “Malaikat Terang.”
Kembali ke CERN, Switzerland, dan ritual-ritual mengerikan di Terowongan Gotthard Base (GBT), penyembahan Dewi Tritunggal di sana dilakukan dalam lingkup universal, mewakili penggabungan “antar kepercayaan/agama” yang bahkan kita lihat di dalam Katholikisme sampai tingkatan tertentu (kepercayaan yang mendominasi sebagian besar Eropa pada suatu waktu). Ibu Perawan yang kemudian menjadi janda atau sedang meratap ini sejajar dengan pemahaman Paganisme tentang keperawanan, kesuburan, dan kematian.
Menyusul “pemberkatan” di patung St. Barbara, anggota keluarga yang masih hidup dan wartawan, bersama-sama dengan para pejabat undangan terhormat, juga memberikan penghormatan kepada SEMBILAN orang penambang yang tewas selama pembangunan terowongan. Sembilan merupakan tanda angka penting okultisme lainnya. 9 adalah 3 kuadrat, yang merupakan angka 3ˆ2 tersembunyi, dan itu adalah 3 x 3, memberikan kepada kita bilangan 33 tersembunyi, 3 + 3 = 6, bilangan manusia, dan jumlah ini ditambahkan kepada 3 (6 + 3) menghasilkan 6 terbalik, membalik ciptaan Elohim pada kepalanya, sebuah tindakan dan pusat filosofi “seperti di atas, demikian di bawah,” doktrin tentang pohon kehidupan terbalik (yang disembah pada akhir ritual ini).
600 penari, diselenggarakan pada bulan ke-6, pada tahun 2016 (666)
“Portal pintu gerbang selatan” kota Bodio ini menampilkan kepada para pejabat dan pengunjung, suatu parade menyeramkan dari para penambang, penari erotis, zombie, para Malaikat yang Jatuh, dan pesta-cinta kaum gay, kesemuanya mematuhi panggilan “gembala,” dengan nyanyian yodel memanggil kemunculan Penguasa Neraka pemimpin ritual, “Manusia Kambing.” Digambarkan oleh seorang penari pria muda yang energik, makhluk ini menampilkan hiasan kepala Baphomet (kepala kambing Iblis) dan kostum tubuh kambing (kulit berbulu) dengan tuksedo formal di bagian atas. Ini merupakan gambaran sangat kuat yang berasal dari Iblis Natal Jerman dan Bavarian: Krampus.
Manusia Kambing, Baphomet
Menurut tradisi, Iblis Krampus menyertai St. Nicholas (Santa Claus; Sinterklas) pada sekitar pertengahan musim dingin dengan tujuan menculik anak laki-laki dan perempuan (memasukkan mereka ke dalam keranjang yang dipikul di punggungnya), atau ia mungkin memutuskan untuk memukuli mereka dengan ranting-ranting pohon karena nakal. Maurice Bruce menerbitkan buku tentang tradisi pra-Kristen Alpine pada tahun 1958, dan ia menuliskan hal ini tentang makhluk setengah kambing, setengah Iblis:
Hanya ada sedikit keraguan tentang identitas sesungguhnya bagi – tidak ada bentuk lain – keagungan Dewa Bertanduk dari para Penyihir yang dilestarikan sangat baik. Pohon Birch – selain dari arti pentingnya phallus (alat kelamin laki-laki) – mungkin berhubungan dengan ritual inisiasi coven-coven (perkumpulan) penyihir tertentu; ritual-ritual yang mensyaratkan pengikatan dan pencambukan sebagai bentuk cemooh kematian. Rantai-rantai bisa dianggap sebagai upaya Kekristenan untuk “mengikat Iblis” tapi sekali lagi, mereka bisa jadi sisa-sisa ritual-ritual inisiasi Pagan. [vi]
Krampus, meskipun dengan kecenderungan-kecenderungan gambaran negatif, sangatlah populer selama hari raya-hari raya di negara-negara Jerman dan Alpine, begitu luasnya sehingga segala jenis kartu ucapan yang dikenal dengan sebutan Krampus Grüsskarten dibuat (yang kurang lebih selalu menyebutkan “Grüss vom Krampus,” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Salam dari Krampus“). Akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20, kartu-kartu seringkali menampilkan Krampus bersama anak-anak, tetapi juga dengan wanita-wanita montok (jika cabang-cabang pohon Birch ini secara natural menggambarkan phallus (alat kelamin laki-laki), maka hal ini sangat berhubungan). Banyak yang menampilkan Manusia Kambing dalam pakaian formal (jas tuksedo formal dengan potongan lancip ke belakang dan celana panjang) namun dengan wajah kambing bertanduknya, dan selalu dengan lidahnya dijulurkan.

Krampus
Pose “lidah menjulur” ini tampaknya populer di kalangan dewa-dewa kuno, antara lain Maya, Hindu, Babilonia, Mesir, Yunani, atau bahkan Inggris (untuk alasan tertentu, lambang Prince of Wales menampilkan singa dan unicorn dengan lidah terjulur). Kemungkinan besar, lidah terjulur ini menggambarkan hawa nafsu seksual (di luar desain Elohim) dan sex-magick (percabulan dengan Malaikat yang Jatuh), yang mungkin menjadi alasan sebenarnya kenapa Iblis Krampus tua tidak bisa menjaga lidahnya tetap berada di dalam kepalanya. Simbol kuno “Dewa Bertanduk” yang disebutkan Maurice Bruce dalam kutipan di atas memungkinkan kita untuk menghubungkan Kambing Iblis dalam ritual Pembukaan Terowongan Gotthard Base (GBT) ini dengan CERN – LCH, di Switzerland. Terlepas dari kenyataan bahwa LHC (Large Hadron Collider) berada sekitar 3 – 4 jam menyusuri jalanan berkelok-kelok dari kota Erstfeld dan Bodio, Dewa Bertanduk Melingkar dengan gairah untuk merusakkan moralitas manusia, Hernunnos (kadang-kadang disebut Cernunnos), “Manusia Hijau” yang disebutkan kisah-kisah rakyat Inggris, sangatlah berhubungan.
Banyak dari antara para peneliti yang telah mengungkapkan secara panjang lebar mengenai rencana Akhir Zaman untuk membuka terowongan di bawah bumi dengan usaha LHC untuk menabrakkan atom-atom hingga hancur berkeping-keping sebagai tidak lebih dari upaya terselubung untuk membuka portal-portal pintu gerbang dimensi supernatural. Namun ritual pembukaan Terowongan Gotthard Base (GBT) memperjelas maksud dan tujuan mereka bahwa portal-portal pintu gerbang ini dimaksudkan untuk melepaskan entitas-entitas Iblisi dari penjara mereka!
Satu catatan lain di sini: Di sebuah turunan di Dorset, Inggris, dikenal apa yang disebut sebagai sosok “Rude Man Giant” (Manusia Raksasa Primitif) yang dibentuk/digambar dengan kapur, dan telah diidentifikasi sebagai Hercules/Melkart, [vii] Dewa “Baal” yang disembah di Gunung Karmel. Figur raksasa kapur (dengan alat kelamin ereksi) ini membawa gada pemukul di tangan kanannya, dan lengan kirinya diulurkan seakan-akan membawa sesuatu. Seiring waktu, garis-garis tua di sekitar lengan kirinya itu kini telah memudar, namun pada tahun 1996, sebuah penelitian ilmiah tentang sosok raksasa ini mengungkapkan bahwa ia memang benar memegang sesuatu pada lengannya yang terulur. Penelitian ini dikuatkan pada tahun 2008, ketika para arkeolog menggunakan peralatan khusus untuk menemukan garis-garis kapur asli membuktikan bahwa sebuah “mantel” atau mungkin sebuah kulit singa dulunya digantungkan pada lengan bawah. [viii]

CERNE Abbas Giant, Dorset, Inggris
Rude Man Giant atau CERNE Abbas Giant, Dorset, Inggris
Jika benar, maka figur laki-laki raksasa yang terangsang ini mungkin merupakan pemujaan kepada Hercules, yang sering digambarkan dengan gada besar dan kulit singa Nemean disampirkan di lengannya. Siapakah nama raksasa ini? Raksasa CERNE Abbas, karena terletak di dekat sebuah desa kecil bernama Cerne Abbas. Namun hubungan antara Cernunnos dan CERN benar-benar tidak bisa diabaikan, dan arti kata “abbas” adalah “singa” – yang sekali lagi menghubungkan “Manusia Hijau” Cernunnos dengan Hercules/Melkart. Akhirnya, lereng di mana sosok raksasa ini berbaring disebut Bukit Trendle. “Trendle” adalah kata dalam bahasa Anglo-Saxon tua yang artinya “lingkaran” (menggambarkan bangunan lingkaran-lingkaran Large Hadron Collider CERN di bawah bumi). Meskipun tidak berbentuk bundar, sebuah gundukan tanah besar terletak di dekat sosok raksasa ini. Dikenal dengan sebutan “trendle” atau “penggorengan,” itu kira-kira berbentuk bujur sangkar, dan mungkin merupakan Tanah Pekuburan dari Zaman Besi.
Terowongan kembar Gotthard Base diawali dengan portal pintu gerbang kembar, masing-masing mengarah ke terowongan satu arah di jalur tunggal. Perjalanan ke arah utara dan selatan ini melambangkan siklus kematian / kelahiran / kematian “Manusia Hijau,” yang mati pada musim gugur / musim dingin dan bangkit kembali pada musim semi / musim panas. Upacara pembukaan Terowongan Gotthard Base sepenuhnya adalah tentang ritual-ritual seks dan kelahiran kembali, yang mengarah kepada New World Order (Tatanan Dunia Baru) yang merupakan pembalikan sepenuhnya dari tatanan Yudeo-Kristiani. Dewi Tritunggal dan Dewa Bertanduk, diiringi kurban-kurban manusia dan kembalinya penyembahan Pagan, terletak di tengah-tengah ritual memuakkan ini. Tanduk-tanduk dan Dewi Bulan berjalan beriringan. Memutar bulan sabit pada sisinya dengan ujung-ujung menghadap ke atas, dan Anda akan mendapatkan tanduk. Bulan sabit hanyalah salah satu “wajah” dari Dewi Tritunggal yang disebutkan di atas. Dan percayalah, dia adalah pemain utama dalam ritual ini.
Dengan perkenalan singkat dari para pemain kunci dalam pertunjukan Upacara Pembukaan Terowongan Bawah Tanah Gotthard ini, selanjutnya kita akan memeriksa setiap fase dari ritual “Pemanggilan Dewa-dewa Iblisi Purbakala” yang ditayangkan live-streaming ke seluruh dunia ini.
Next: Memanggil Keluar Para Iblis Purbakala dari Perut Bumi
Baca:
Referensi:
[i] https://en.wikipedia.org/wiki/Schöllenen_Gorge (accessed August 24, 2016)
[ii] Ibid.
[iii] C. E. Gregory, “The Legend of St. Barbara, the Patron Saint of Mines”, available online at http://technology.infomine.com/articles/1/136/barbara.saint.mines/the.legend.of.aspx(accessed August 24, 2016).
[iv] Eilthireach, “The Bavarian Triple Goddess: A Study of the Cult of the Three Betan,” posted online at http://www.druidry.org/library/gods-goddesses/bavarian-triple-goddess-study-cult-three-bethan (accessed August 24, 2016).
[v] Triple Deity Entry: https://en.wikipedia.org/wiki/Triple_deity (accessed August 29, 2016).
[vi] Maurice Bruce, (March 1958), “The Krampus in Styria,” Folklore. 69 (1): 44–47. doi:10.1080/0015587X.1958.9717121. (accessed via Wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Krampus#cite_note-Bruce-3, August 24, 2016).
[vii] Mark Cartwright, Entry on Melqart at “Ancient History Encyclopedia,” http://www.ancient.eu/Melqart/ (accessed August 29, 2016).
[viii] Cerne Giant Entry: https://en.wikipedia.org/wiki/Cerne_Abbas_Giant (accessed August 29, 2016).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.