Apakah Yahudi sekarang menggenapi Nubuatan?
Nubuatan apa yang sedang digenapi orang-orang Yahudi dalam kepulangan mereka ke Palestina sejak tahun 1948? Mari kita ikuti dari kitab Zefanya mengenai hal ini.
Zefanya 2:1,2 -- “Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang tidak diinginkan sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN.”
Perhatikanlah bahwa bangsa yang disebut mengumpulkan dirinya sendiri itu memberikan kesan bahwa ia itu tercerai-berai. Ia tidak diinginkan; amarah Tuhan tertimpa atas dia; dan bahwa dia harus mengumpulkan dirinya sendiri bersama-sama sebelum perintah dikeluarkan dan sebelum amarah Tuhan jatuh atas dia.
Apa yang membuat bangsa ini berkumpul bersama? – Tentu saja bukan karena perintah dan bukan karena amarah Tuhan, sebab hal-hal ini akan menimpa dia setelah dia berkumpul bersama. “Perintah” itu tentu saja bukan perintah yang dikeluarkan oleh binatang bertanduk dua itu, sebab tidak ada satu pemikiran di dalam alkitab yang mengindikasikan demikian; tetapi hal itu tentunya menunjukkan bahwa perintah itu tidak lain daripada perintah milik Tuhan -- amarah yang menyala-nyala dalam hari itu yang berlalu bagaikan sekam yang tertiup.
Menurut ayat berikut, perkumpulan bersama bangsa yang tidak diinginkan ini, adalah sebuah pertanda bagi umat Allah yang mendesak mereka untuk terus mencari Dia dengan lebih giat lagi :
Zefanya 2:3 – “Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.”
Tatkala bangsa yang terikat penghakiman ini mulai berkumpul bersama, maka sekaranglah, jika belum pernah sebelumnya, bahwa orang-orang yang rendah hati di negeri itu perlu mencari kerendahan hati.
Orang-orang yang rendah hati di negeri itu adalah mereka yang telah mempersiapkan diri bagi penghakiman-penghakiman Tuhan, yang telah mengabarkan pekabaran akan hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu. Mereka adalah umat-Nya, gereja-Nya. Bangsa yang tidak dikehendaki, dengan demikian, adalah sebuah bangsa, dan orang-orang yang rendah hati di negeri itu, gereja, mereka yang disembunyikan dalam hari murka Tuhan itu adalah umat yang lain. Yang satu sedang berkumpul bersama, sedangkan yang lain sedang mengusahakan kerendahan hati. Oleh karena itu, sudah barang tentu, bahwa “bangsa” yang disebut dalam ayat 1 dan 2 itu bukanlah gereja-Nya, tetapi orang-orang yang disebutkan di ayat 3 adalah umat-Nya, gereja-Nya.
Sekarang mari kita membaca ayat 1 dan 2 dalam hubungannya dengan ayat 4 dan 5, dengan mengabaikan ayat 3, yaitu ayat yang mengacu kepada gereja.
Zefanya 2:1,2,4,5 -- “Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang tidak diinginkan sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN…... Sebab Gaza akan ditinggalkan orang dan Askelon akan menjadi sunyi;Asdod akan dihalau penduduknya pada rembang tengah hari dan Ekron akan dibongkar-bangkirkan. Celakalah kamu penduduk Daerah Tepi Laut, kamu bangsa Kreti! Terhadap kamulah firman TUHAN ini: Hai Kanaan, tanah orang Filistin! Aku akan membinasakan engkau, sehingga tidak ada lagi i pendudukmu.”
Ayat keempat secara jelas menyiratkan bahwa “bangsa” itu berkumpul bersama di kota-kota Gaza, Ashkelon, Ashdod, dan Ekron, di negeri orang-orang Palestina, di tanah Kanaan – di Palestina.
Dalam melihat kenyataan bahwa Alkitab ini sekarang sedang dibukakan, dan juga kenyataan bahwa hanya ada satu kaum, satu bangsa (yaitu para keturunan dari ahli-ahli taurat, imam-imam, dan orang-orang Farisi yang menolak Tuhan dan yang bahkan sampai saat ini menolak Dia, yang hampir tidak diharapkan di manapun di dunia ini) yang sekarang ini sedang melakukan semua yang bisa dia lakukan untuk berkumpul bersama di Palestina – dalam melihat semua ini, maka orang-orang Yahudi masa kini adalah bangsa yang tidak diinginkan. Dengan demikian, terhadap dirinya, amarah Tuhan akan tumpah jika dia terus menyangkal Kristus. Ya, bangsa Yahudi yang dibenci secara universal adalah satu-satunya bangsa yang tercerai-berai ke seluruh dunia Kapir, dan satu-satunya yang sekarang sedang berkumpul bersama di Palestina.
“Pada masa ketika Yerusalem dihancurkan dan bait suci itu runtuh, ribuan orang Yahudi dijual sebagai budak di negeri-negeri kapir. Seperti tenggelam di pantai padang pasir, mereka tercerai berai di antara bangsa-bangsa. Selama seribu delapan ratus tahun orang-orang Yahudi mengembara dari negeri yang satu ke negeri yang lain di seluruh dunia, dan tak ada satu pun tempat di mana pernah diberikan kepada mereka keistimewaan untuk memperoleh kembali pamor mereka yang mula-mula sebagai sebuah bangsa. Difitnah, dibenci, dianiaya, dari abad ke abad pamor mereka telah menjadi sebuah penderitaan yang turun-temurun.” {Gospel Workers, p. 397}.
Matius 27:20,23-25 – “Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri! " Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami! “
Lebih lanjut, dalam ayat-ayat ini, dua kebenaran muncul dengan jelas, yaitu: (1) bahwa dalam kesia-siaan orang-orang Yahudi berusaha menegakkan diri mereka sendiri di Tanah Terjanji; (2) bahwa kita yang mengabarkan pekabaran akan hari Tuhan yang besar dan mengerikan itu harus mengupayakan kerendahan hati dan kesalehan, sebab hanya dengan demikian kita akan “disembunyikan dalam hari murka Tuhan itu,” jadi, sekadar memiliki pengetahuan akan pekabaran itu saja tidak akan menyelamatkan kita, harus ada perbuatan-perbuatan yang selaras dengan itu.
Sekarang mari kita hubungkan ayat 3 dengan ayat 6 dan 7, dan ayat-ayat yang dapat diterapkan kepada umat Allah, yaitu umat yang lemah lembut.
Zefanya 2:3,6,7 – “Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN…… Daerah Tepi Laut akan menjadi tempat kediaman bagi gembala-gembala dan kandang berpagar bagi kambing domba. Daerah Pinggir Laut akan menjadi kepunyaan sisa-sisa kaum Yehuda. Mereka akan merumput di sana dan berbaring di rumah-rumah Askelon pada malam hari; sebab TUHAN, Allah mereka, akan memperhatikan mereka dan akan memulihkan keadaan mereka.”
Sekarang, fakta bahwa Tuhan menghancurkan semua penduduk di tanah Palestina(Zefanya 2:5), dan pada saat yang sama menjadikannya sebagai tempat tinggal bagi “gembala-gembala dan kandang berpagar bagi kawanan kambing domba,” menunjukkan bahwa Dia pertama-tama harus mengenyahkan semua orang jahat dari tanah itu dan semua orang yang tidak mencari kerendahan hati, kemudian Dia akan mendirikan “Rumah Yehuda” di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.