WASHINGTON – Pihak Gedung Putih merespons komentar Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menyatakan bahwa dia akan putus dengan Amerika Serikat (AS). Gedung Putih mengaku belum menerima komunikasi apapun dari Pemerintah Filipina terkait retorika Duterte.
Pidato Duterte itu dibuat dalam kondisi kesal, di mana dia tidak terima AS terus-menerus mengkritik perang narkoba di Filipina yang merenggut ribuan pecandu dan gembong narkoba. Kekesalan Duterte memuncak setelah AS menolak menjual senjata kepada Filipina.
Puncaknya, Duterte berujar; “Alih-alih membantu kami, yang pertama memukul adalah Departemen Luar Negeri (AS). Jadi, Anda bisa pergi ke neraka, Obama, pergilah ke neraka.”
Meski retorika Duterte itu rawan bagi hubungan AS dan Filipina, Gedung Putih mengklaim hubungan kedua negara tetap normal. ”Garis-garis komunikasi diplomatik antara AS dan Filipina tetap terbuka,” kata juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, seperti dikutip Reuters, Rabu (5/10/2016).
Earnest mencatat latihan militer bersama AS dan Filipina juga sudah dimulai pada hari Selasa kemarin. “Kami belum menerima komunikasi formal apapun yang menggunakan saluran-saluran dari Pemerintah Filipina tentang perubahan besar untuk hubungan bilateral kami,” ujarnya.
sindonews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.