Filipi 2:12b
Kesaksian oleh : Mutiara NG
Saya kembali teringat sebuah mimpi yang harus saya share. Jangan abaikan peringatan sebelum menjadi penyesalan. Sirine akhir zaman sudah bersuara lama tetapi belum semua merespon sirine tsb.
Dalam mimpi saya berada dalam sebuah gedung yang mirip dengan sebuah perguruan tinggi. Ada banyak para pelayan Tuhan yang saya kenal. Banyak yang saya tahu mereka adalah pelayan Tuhan yang top. Kami semua berada dalam sebuah ruangan yang bisa disebut ruang antri. Karena semuanya berdiri berbaris pada sebuah pintu.
Banyak yang tertawa dan terlihat senang. Saya hanya terdiam dan bercampur heran. Mengapa mereka sangat yakin bisa diterima? (Padahal saya belum tau antrian apa yang sedang terjadi) Tetapi didalam roh saya merasa itu antrian apakah kita yang terpanggil ini lolos untuk masuk jenjang berikutnya (next level).
Sementara itu, saya berdoa ditempat. Saya melihat orang yang sudah masuk, keluar dengan kepala tertunduk. Dan saya perhatikan itu seperti mimik wajah malu dan kecewa. Semakin hati saya berdegup tidak karuan. Mereka yang termasuk pelayan terkenal saja bisa tidak lulus ke next level, bagaimana dengan saya? Saya kembali INTROPEKSI diri, bahwa saya hanya pelayan Tuhan yang sederhana. Saya bukan artis yang terkenal dan juga tidak semua orang kenal saya. Hati saya berdebar - debar.
Lalu ada dua orang yang didepan saya dipanggil masuk. Mereka masuk dengan gembira. Saya berpikir sebentar lagi giliran saya. Saya mencoba melihat sekeliling, ada banyak petugas yang menjaga. Ada banyak box yang berisi kertas - kertas dan sangat tebal. Tiba - tiba pintu seperti dibanting! Saya melihat kedua orang tadi keluar dengan buru - buru. Saya menghampiri mereka dan bertanya,
"Ada apa didalam? Koq kalian cepat sekali keluarnya?" "Iya, kami ga bisa. Kami disuruh keluar. Katanya kami gagal". "Gagal kenapa?"
"Katanya masih banyak yang belum bisa kami lakukan dan belum kami jalankan" "Lho? Bukankah kalian sudah terkenal? Kalian kan pintar. Koq bisa gagal?" "Iya tapi hati kami belum bisa melepas dunia. Kami masih ingin hidup seperti normal, kami masih harus belajar menyangkal daging".
Tidak lama kemudian, saya melihat seorang lagi menyusul keluar. "Bagaimana denganmu? Kamu kan punya banyak karunia. Kamu hebat, apakah kamu ditolak didalam?" "Iya. Aku sering tergoda. Itu kesalahanku" "Tergoda dalam hal apa?" "Aku sombong dengan karunia yang aku miliki. Aku sering tergoda dan sering aku ingin berpaling dari Tuhan." "Bagaimana mungkin?" "Iya aku akui lemah dalam perasaan terutama dalam hal cinta. Aku pernah mencintai orang lain yang tidak seiman"
(Tidak dipungkiri banyak yang meninggalkan imannya
karena tertawan cinta beda iman yang pada akhirnya
jiwa_mereka dimenangkan iblis)
Saya langsung lemas dan terpaku. Tiba - tiba nama saya dipanggil dan dengan lekas saya masuk kedalam. Sampai ke dalam, mereka langsung berdiri dan berjabat tangan dengan saya. Saya tidak bisa melihat wajah mereka, semuanya berjubah panjang dan ditangan mereka punya senjata pedang. Saya belum sempat berbicara, mereka merangkul saya dan berkata "Jaga dan pertahankan_kesucian hati, jangan ikut tercemar"
Percaya atau tidak, ini fakta. Beberapa lama saya meninjau problem yang dihadapi dalam keimanan sesama saudara kita. Mengapa awalnya sangat berkobar - kobar tetapi pada hujungnya melepaskan imannya?
Iblis tengah bekerja menghancurkan iman orang yang melayani Tuhan! Melalui hati yaitu perasaan manusiawi dan nafsu kedagingan. Hati - hati untuk para pemegang lima jawatan, kini iblis sedang menggoncang iman para lima jawatan! Orang - orang yang dianggap punya peran penting dalam pekerjaan Tuhan juga berpotensi dalam kejatuhan. Maka dari itu, ada pepatah kuno berkata : jadilah seperti teratai, walaupun hidup disekitar lumpur tetapi ia tetap tidak tercemar oleh kekotoran lumpur tsb.
Kejatuhan itu setiap detik mengancam setiap pelayan Tuhan. Hiduplah lebih intim didalam Tuhan. Harus berani berkata tidak kepada pelanggaran. Waspada, ujilah segala sesuatu. Iblis juga lihai bersiasat dalam pikiran dan mimpi. Semua itu untuk membentengi diri, agar tidak terlena dengan karunia kita dan tetap menghasilkan buah roh yang manis.
Indahnya merenungkan firman Tuhan, ia adalah pelita dan terang bagi jalanku. Amin...
*Hanya khusus bagi teman seiman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.