Semasa saya sekolah di SD dulu, salah satu semboyan bangsa Indonesia yang selalu diajarkan oleh guru-guru saya adalah “Bhinneka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Ya, Indonesia sungguh kaya karena terdiri dari berbagai suku bangsa, budaya, dan juga agama. Salah satu agama yang diakui di tanah air tercinta ini adalah agama Katolik. Uniknya, kala agama katolik berinkulturasi dengan budaya setempat, lahirlah berbagai gereja yang memiliki bentuk unik. Sekilas, beberapa gereja ini memiliki bentuk yang mirip dengan rumah adat! Berikut 10 gereja terunik di Indonesia:
1. Gereja Palasari (Paroki Hati Kudus Yesus)
Gereja Palasari, Bali
Gereja Palasari menjadi simbol inkulturasi agama Katolik dan budaya Bali di kawasan Jembrana. Pada tahun 1940, seorang imam bernama Pater Simon Buis SVD membuka hutan pala yang kemudian diberi nama Palasari. Di tempat inilah Pater Simon bersama 24 orang warga mendirikan sebuah komunitas katolik di wilayah Palasari. Pada tahun 1947, ketika komunitas katolik semakin berkembang, dimulailah pembangunan Gereja Palasari. Gereja Palasari ini memiliki bentuk bangunan yang memiliki perpaduan arsitektur Belanda dan Bali. Di pintu masuknya pun terdapat gapura seperti yang biasa kita jumpai di pura atau rumah adat masyarakat Bali. Gereja Palasari ini terletak di Dusun Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali
2. Gereja Yesus Gembala Baik, Ubung Kaja, Bali
Gereja Yesus Gembala Baik, Ubung Kaja
Gereja Yesus Gembala Baik yang terletak di Ubung Kaja, Bali memiliki arsitektur bangunan yang sangat kental dengan nuansa Bali. Gereja ini bahkan dibangun dengan filosofi hindu Asta Kosala Kosali dan filosofi Tri Mandala (tiga konsep tata letak bangunan Bali). Di gereja ini bahkan terdapat kulkul (kentongan) yang biasanya hanya terdapat di pura dan banjar-banjar di Bali. Gereja Yesus Gembala Baik yang mulai dibangun pada tahun 2003 berdiri di lahan seluas 3.700 meter persegi. Gereja ini diberkati pada 11 September 2011 oleh Mgr. Dr. Silvester San Pr dalam sebuah misa meriah dan acara peresmian yang juga kental dengan budaya Bali.
3. Gereja St Fransiskus Asisi, Brastagi
Gereja St Fransiskus Asisi, Brastagi
bagian dalam Gereja St Fransiskus Asisi
Salah satu gereja terunik di Indonesia lainnya adalah Gereja Katolik Inkulturatif St Fransiskus Asisi di Brastagi. Arsitektur dan ornamennya diadaptasi dari rumah adat Batak Karo dengan dominasi warna hitam, putih, dan merah. Selain dari arsitekturnya yang unik, gereja ini pun memiliki keunikan lain, yaitu adanya berbagai hewan peliharaan seperti ayam, angsa, dan anjing serta berbagai tanaman hias dan tanaman buah di pekarangan kompleks gereja. Hal ini terinspirasi dari St Fransiskus Asisi yang adalah seorang pecinta alam. Gereja St Fransiskus Asisi ini diresmikan oleh Mgr. Pius Datubara (Uskup Agung Medan) dan Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM Cap (Uskup Padang) pada 20 Februari 2005 dalam sebuah misa agung yang dihadiri ribuan orang. Gereja ini berlokasi di Desa Sempa Jaya.
4. Gereja St Yoseph, Denpasar
Gereja Katolik St Yoseph, Denpasar
bagian dalam Gereja St Yoseph, Denpasar
Gereja terunik di Indonesia lainnya adalah Gereja St Yoseph di Denpasar. Gereja ini diarsiteki oleh Bruder Ignatius De Vriese SVD yang bekerja sama dengan konsultan ahli arsitektur tradisional Bali (undagi) Ida Bagus Tugur. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1947 dan diresmikan pada 8 Desember 1955. Eksteriornya mengadaptasi konsep arsitektur tradisional untuk bangunan peribadatan di Bali. Bangunan-bangunan seperti bale kul-kul, candi bentar, kori agung dan lain-lain dibuat dan ditempatkan sesuai dengan pedoman adaptasi dari bangunan Pura. Sementara penempatan altar, ruang pengakuan dosa, tabernakel, ruang umat, ruang sakristi, ruang koor dan lain-lain sama sekali tidak memasukkan pola ruang yang diadaptasi dari arsitektur tradisional Bali. Unsur tradisi yang dipakai dalam interior gereja hanyalah ornamen dekoratif seperti dedaunan dan bunga.
5. Gereja St Maria de Fatima, Jakarta
Gereja St Maria de Fatima
Bagian dalam Gereja St Maria de Fatima
Jika kebanyakan gereja memiliki arsitektur khas Eropa, maka Gereja St Maria de Fatima (Gereja Toasebio) memiliki arsitektur khas Tionghoa. Awalnya, gereja ini merupakan rumah seorang Tionghoa. Bangunannya sendiri diperkirakan sudah berusia 200 tahun. Pada tahun 1950, seorang pastor lalu membeli rumah tersebut dan menjadikannya sebuah gereja. Gereja ini didirikan untuk mengajarkan agama Katolik pada orang-orang cina perantauan. Nuansa Tionghoa yang begitu kental sudah terlihat sejak di muka bangunan. Di pintu masuknya ada dua patung singa sebagai lambang penjaga gereja, atapnya berbentuk seperti wuwungan yang mencuat ke atas, dan adanya konstruksi kolom dan balok kayu yang dihiasi dengan ornamen kepala naga, teratai, dan awan. Warna merah dan emas pun mendominasi bangunan gereja. Gereja St Maria de Fatima ini berada di Jl Kemenangan III, Jakarta Barat.
6. Gereja Poh Sarang, Kediri
Gereja Poh Sarang
Gua Maria Poh Sarang
Berikutnya, salah satu gereja terunik di Indonesia ada di Kediri. Gereja Puh Sarang atau Poh Sarang terletak di desa Pohsarang, Kecamatan Semen, Jawa Timur, tepatnya di kaki Gunung Wilis. Gereja ini didirikan pada tahun 1936 oleh Romo Jan Waolters CM dengan arsiteknya Henri Mclaine Pont. Gereja Poh Sarang ini memiliki perpaduan arsitektur budaya kolonial Belanda dan budaya Jawa. Uniknya, gereja ini dibangun dengan bahan bangunan yang sebagian besar adalah batu-batu sungai yang disusun sedemikian rupa. Di dalam kompleks gereja, terdapat replika Patung Bunda Maria dan Goa Lourdes. Untuk memasuki bangunan Gereja, pengunjung harus melewati anak-anak tangga yang terbuat dari batu di antara lengkungan gapura yang mirip candi. Terdapat pula tembok keliling dari batu yang merupakan ciri khas Kerajaan Majapahit dan keratin di Jawa dan Bali.
7. Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran
Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran
Candi dan Arca Hati Kudus Yesus
Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran ini mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa Joseph Smutzer dan Julius Smutzer, dua bersaudara keturunan Belanda. Gereja Hati Kudus Yesus ini dibangun dengan perpaduan arsitektur gaya Eropa, Hindu, dan Jawa. Gaya Eropa nampak dalam bangunan yang berbentuk salib bila dilihat dari atas. Sementara gaya Jawa nampak pada atap yang berbentuk tajug yang disokong empat buah tiang kayu jati. Empat tiang ini melambangkan empat penulis Injil, yaitu: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Sementara nuansa Jawa nampak pada altar, sakristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis). Di gereja ini pun kita dapat menjumpai patung Yesus dan Bunda Maria yang mengenakan pakaian Jawa. Di kompleks gereja ini pun terdapat Candi Hati Kudus Yesus yang sudah dibangun sejak tahun 1927. Di Gereja Ganjuran ini pun, Anda dapat mengikuti misa dalam bahasa Jawa dan diiringi gamelan. Gereja ini beralamat di Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta.
8. Gereja Reinha Rosari, Larantuka
Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka
Patung Tuan Ma
Jika kita mengenal Aceh sebagai Serambi Mekah, maka Larantuka adalah Serambi Roma. Julukan itu tak aneh mengingat Larantuka merupakan salah satu tempat masuknya agama Katolik ke Indonesia yang dibawa oleh orang Portugis. Bahkan Gereja Katedral Reinha Rosari pun memiliki arsitektur Portugis. Menara-menaranya berbentuk kerucut dan memiliki gedung sayap kiri dan kanan. Gereja Katedral Larantuka ini hanya berjarak 150 m dari Pelabuhan Larantuka. Adapun hal yang paling terkenal dari Larantuka adalah Prosesi Semana Santa (bahasa Portugis, artinya Minggu Kudus) yang dilakukan tiap tahun saat Paskah. Dalam prosesi Semana Santa ini diadakan perarakan Patung Tuan Ma (Bunda Maria) dari Kapela Tuan Ma di Kampung Batu Mea dan perarakan Tuan Ana (Tuhan Yesus) dari Kapela Tuan Ana di Kampung Lohayong. Patung Tuan Ma yang terbuat dari kayu ini sudah berusia 5 abad.
9. Gereja Katolik St Dionysius, Sumbul
Gereja St Dionysius Dairi, Sumbul
Bagian dalam Gereja St Dionysius Dairi, Sumbul
Gereja St Dionysius ini merupakan gereja pertama yang memiliki bangunan yang mirip dengan rumah adat Pakpak Dairi. Gereja ini dibangun oleh seorang pastor misionaris dari Australia. Seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan atapnya dari ijuk. Keunikan lainnya, tidak ada tempat duduk di dalamnya sehingga jemaat harus duduk di atas tikar, sebagaimana dalam budaya pakpak. Bagian bawah gereja, yang disebut tongkarang, dipergunakan sebagai aula. Gereja Sumbul ini dibangun pada masa kepenggembalaan P. Anthony Scherri, O.Carm (1973-1982) tahun 1976 serta diresmikan oleh Mgr. Van den Hurk, OFMCap. Gereja ini beralamat di Jl. Sisingamangaraja Atas No. 37, Sumbul, Sumatra Utara.
10. Gereja St Pio Purba Hinalang, Simalungun
Gereja St Pio Purba Hinalang, Simalungun
Makam di sisi gereja
Gereja Katolik St Pio ini terletak di Desa Simp. Haranggaol, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Gereja ini dibangun dengan arsitektur yang sesuai dengan rumah adat Simalungun. Persis di samping Gereja St Pio ini terdapat makam Pastur Van Duynhoven, OFM Cap. Pastur Van Duynhoven ini sangat berjasa dalam membangun pendidikan di wilayah Simalungun. Adapun gereja ini diresmikan oleh Uskup Agung Medan, Mgr Pius Datubara OFM Cap.
Klikers, itulah 10 gereja terunik di Indonesia. Sungguh mengagumkan bagaimana budaya dan agama berpadu menghasilkan tempat ibadah yang begitu indah. Apapun agamamu, apapun suku bangsamu, namun kita tetaplah satu Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.