Ini kisah tentang Ibu Lydia Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono lagi, yang terambil dari buku "Tuhan Itu Nyata":
Suatu hari saya naik Ferry dari Surabaya ke Banjarmasin berempat, bersama ipar, sepupu, dan anak saya yang perempuan. Setelah naik kapal dan duduk, saya mencari tas saya tetapi tidak ada. Di dalam tas saya ada dompet, uang, KTP, dan surat-surat berharga lainnya. Tas itu lumayan besar. Saya pikir tas itu masih di luar. Lalu saya berkata kepada pramugari kapal Ferry, "Mbak, bolehkah saya turun sebentar, mau cari tas saya." Pramugarinya berkata, "Ibu duduk saja. Ferry ini sudah mau berjalan. Kalau tas itu ketinggalan di luar, mungkin tas itu sudah tidak ada karena sudah lebih dari setengah jam Ibu di sini. Lagian banyak copet dan penipu di luar sana. Tidak usah dicari lagi, Bu. Sudah pasti hilang." Dengan yakin dan percaya saya berkata kepada pramugari itu. "Mbak tahu tidak? Tuhan itu melindungi saya 24 jam. Di dalam tas itu banyak surat-surat penting. Ketika saya lengah dan tidak melindungi tas itu, saya percaya Tuhan akan melindunginya. Saya sungguh percaya ketika saya keluar dari Ferry ini saya pasti akan menemukannya."
Ketika saya katakan hal itu, semua penumpang yang ada di dalam Ferry tertawa. "Silakan saja kalau Ibu mau cari. Satu hal yang Ibu harus tahu, mungkin tas Ibu masih ada, tetapi dompet dan isinya pasti sudah hilang karena tas itu disilet orang. Kalau Ibu mau coba, silakan." Saya dan anak saya, Widi keluar dari Ferry. Pertama saya ke ruang dalam pelabuhan, tempat mengambil nomor bangku saya. Saya tanya kepada petugas di situ apakah dia melihat tas saya. Semua orang yang saya tanya tidak melihat tas saya. Lalu saya keluar lagi menuju ruang timbangan bagasi dimana banyak sekali kuli atau portir. Ruang itu adalah ruang terbuka. "Mam, kalau di situ mana mungkin ada?" tanya anak saya. "Mami percaya Tuhan pasti melindungi karena di dalam tas itu ada paspor mami. Semua yang penting ada di situ."
Di luar ada meja yang sangat panjang dimana orang duduk-duduk untuk mengantri timbangan bagasi. Di situ juga banyak kuli yang mengangkut barang. Saya berkata kepada anak saya, "Lihat tidak di atas meja itu ada tas mami di sampingnya?" Banyak orang berdiri di tengah-tengah meja itu. Saya permisi kepada mereka untuk mengambil tas saya. Di situ ada puluhan orang. Ternyata mereka semua tidak ada yang melihat tas itu. Mereka bilang bahwa dari tadi tidak melihat ada tas. Itu suatu pertanda bahwa ketika saya lengah, ketika saya tidak menjaga tas itu dengan baik, kalau kita memercayakan keberadaan kita kepada Tuhan, maka Tuhan melindungi. Tuhan membuat semua mata yang ada di situ buta dan tak melihat tas itu. Itu merupakan suatu pertanda betapa hebatnya penyertaan dan perlindungan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.