Saya seorang mantan Presiden Direktur PT. Compaq Indonesia yang sekarang telah berwiraswasta. begini kisah kehidupan yang saya alami. Dahulu saya adalah seorang eksekutif puncak yang berhasil di bidangnya dan sekarang menjadi seorang pengusaha yang melayani di Market Place. Pada pertengahan tahun 1980-an ia dinobatkan sebagai "CEO of The Year" dan diberi kesempatan berbicara dalam sebuah forum ASEAN Business Meeting, dimana pembicaranya adalah : PM Singapura Lee Kuan Yew, PM Malaysia DR. Mahathir Mohamad, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, PM Thailand, dan satu-satunya pembicara dari kalangan bisnis adalah dirinya sebagai CEO of The Year. Keesokan harinya berbagai ucapan selamat muncul melalui telpon dan email dari rekan-rekan sejawat dan dari kalangan bisnis yang kagum atas terpilihnya sebagai CEO of The Year dan atas kesempatan sebagai pembicara utama dalam pertemuan bisnis tingkat ASEAN tersebut. "Bangga!" itulah yang saya rasakan pada waktu itu katanya mengaku. Saya merasa menjadi orang "super".
Ketika ia membalas telpon dan email dari rekan-rekan yang memberi selamat itu, dengan perasaan yang sangat "excited" tiba-tiba terdengar bisikan di hatinya, "Jangan merasa bangga begitu. Kalau bukan karena Aku, kamu ini tidak ada artinya apa-apa! Apa yang ada padamu, itu semua dari-Ku. Apa sih yang ada padamu yang tidak berasal dari-Ku?" Mendapat tegoran keras di hatinya, ia sangat kaget dan tersadar. "Betul, ya? Saya ini tidak ada apa-apanya. Semua karena anugerah-Nya!" Ia menangis tersedu-sedu di muka komputer itu. Padahal sebagai seorang Presdir, pantang bagi seorang lelaki menangis. Ketika itulah jamahan kasih Tuhan sangat kuat menguasai hatinya. Sejak saat itu ia tidak mengeraskan hatinya apabila diajak isterinya ke Gereja. Telah bertahun-tahun isterinya berdoa baginya agar mau percaya kepada Tuhan. Namun karena ia memiliki otak yang cemerlang, dan selalu mengandalkan logika, maka semua hal tentang kekristenan yang diceritakan isterinya bagaikan bualan dongeng dan tahayul saja. Apa yang tidak bisa dicerna oleh daya analisisnya yang tajam, takkan diterima begitu saja atas dasar : percaya atau iman. Namun sejak hatinya dijamah Tuhan, ia mulai menyelidiki perkara-perkara rohani.
Pada suatu hari isterinya mengajaknya ke Doa Malam. Pada waktu itu ia masih merokok dan bergaya bak pria metroseksual: Ia datangi rumah doa dengan sepatu boot yang keren dan masih merokok! Ia lepaskan sepatu boot itu karena acara doa malam diadakan sambil duduk di lantai. Ia tak melihat sepatu "sekeren" sepatunya diantara deretan sepatu yang terkumpul di muka pintu gedung itu. Ketika pujian dan penyembahan mulai dinaikkan, hatinya mulai menangkap sesuatu getaran rohani yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya ada damai dan sejahtera serta sukacita yang menyelimuti hatinya yang selama ini selalu dingin terhadap perkara-perkara rohani. Namun ia mulai diganggu dengan suara-suara asing yang menjadi 'distraction' dan ingin mengajaknya kembali pada kehidupan yang lama. Selama kurang lebih tiga bulan ia diganggu suara-suara itu, sehingga isterinya mengajak dirinya untuk dilayani "pelepasan" oleh Pdt. John Ng. Isterinya memaksa ia datang ke tempat John Ng melayani pada jam 11 malam. Meskipun tadinya ia segan, ia kemudian ingin tahu apa sih yang dapat dilakukan oleh pendeta ini. Mereka mulai memuji dan menyembah Tuhan, ia kembali merasa damai sejahtera yang melampaui segala akal. Kemudian John Ng menumpangkan tangannya dan mendoakan dirinya.
"Tidak ada kelainan apa-apa!" kata John Ng "Kalau bapak mau belajar kepada saya, bapak akan menjadi seperti saya atau bahkan lebih hebat. Mau?"
"Tidak, ah!" katanya tidak mengerti tentang ajakan John Ng ini.
Sejak kasih dan hadirat Tuhan menjamah kehidupannya, ia mulai bersemangat memberikan kesaksian kepada para direktur, teman-teman di PT. Compaq Indonesia (kini telah merger dengan Hewlett Packard). Pada waktu itu para anak buahnya selalu bertanya, "Apakah ceritanya sudah selesai, pak?" sambil menguap ngantuk. Tetapi ia sungguh bersyukur sekarang, dari semua kolega para Direktur yang Kristen, semuanya aktif melayani sekarang. Bahkan salah seorang rekan Direkturnya, seorang Ibu, kini sangat giat dan berapi-api melayani di ladang Tuhan.
Suatu saat ia bertugas ke Singapura dan menginap di suatu hotel. Ketika ia mulai membuka pintu hotel itu, saya sangat peka atas kehadiran para makhluk halus, mulai waspada. saya masuk, namun tidak menaruh kartu kunci kamar hotel di tempatnya agar aliran listrik tetap tidak menyala. Ia masuk dan merasakan pekatnya kehadiran roh jahat di ruang itu. Apa yang harus ia lakukan? Minta ganti kamar? Kalau ganti kamar, berarti ia dikalahkan para roh-roh jahat itu. Mengadakan peperangan rohani? Sadar bahwa di ruang hotel ini banyak penghuni makhluk halusnya, ia mempersiapkan diri untuk melakukan peperangan rohani. Tanpa menyalakan lampu kamar, ia langsung bertelut di kakinya dan mulai memuji dan menyembah Tuhan. Anehnya, waktu itu sepertinya kuasa kegelapan memblokir pikirannya dengan suara-suara aneh, sehingga banyak syair-syair lagu yang ia lupa. Tak kalah akal, ia nyanyikan lagu pujian penyembahan itu dengan kata-kata baru. Ia naikkan pujian: "Oleh Darah Anak Domba", "Sgala Puji Syukur" dll. Ketika pujian dan penyembahannya naik ke langit, ia merasakan bahwa ada sinar kemuliaan yang seperti sinar laser dari langit turun menyerang kuasa kegelapan itu. Jendela kaca di ruangan ini bergetar hebat, bbbbrrrrrrr rrrrrrrrr, bunyinya terdengar keras. Suhu ruangan itu panas bukan hanya karena AC tidak dihidupkan, tetapi karena peperangan rohani ini hebat. Dalam beberapa menit tiba-tiba bunyi kaca bergetar berhenti dengan sendirinya dan terasa ada kepergian para makhluk halus dari kamar itu. Sekarang atmosfir di ruangan itu bersih, plong, dan penuh damai sejahtera. Puji Tuhan! Ketika Tuhan bertahta di atas puji-pujian orang-orang yang takut akan Tuhan, ada kuasa dilepaskan dari Sorga untuk menghancurkan pekerjaan iblis di muka bumi ini. Karena pujian dan penyembahan telah menjadi gaya hidupnya, tanpa sadar suara-suara yang sering mengganggu selama tiga bulan itu lenyap dengan sendirinya.
Penyertaan Tuhan kepadanya terbukti lagi ketika ia bersama-sama teman-teman para eksekutif puncak yang sama-sama hobby menyelam. Kejadiannya di sekitar perairan Timor. Mereka tahu bahwa arus bawah di perairan ini sangat kuat. Namun karena pemandangan bawah laut di situ sangat indah, mereka menyelam juga. Ketika mereka mulai turun perlahan-lahan, karena jika tubuh ini menerima tekanan udara yang tiba-tiba meningkat, maka pembuluh darah bisa pada pecah dengan tiba-tiba pula. Sambil menikmati gugusan karang beraneka warna dan ikan-ikan serta makhluk bawah laut yang beraneka keindahannya, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan tarikan arus ke bawah yang dahsyat. Ia segera melihat di pergelangan tangannya alat untuk memonitor kedalaman laut dan tekanan udara. Dalam hitungan detik ia turun dengan drastis. Menurut perhitungan normal, saat itu ia dan kawan-kawannya pasti celaka bahkan meninggal karena tubuh dan pembuluh darah menerima tekanan udara yang meningkat dengan seketika. Mereka semua mencari-cari pegangan ke arah dinding curam di bawah laut. Beruntunglah ia bisa menggapai tonjolan dinding karang dan bertahan sebentar sebelum pelan-pelan naik ke atas. Ia kaget dan takjub sekali. Ia tahu, seharusnya dalam keadaan wajar, ia dan teman-temannya pasti mati. Kalau bukan karena pertolongan dan perlindungan Tuhan, mereka tidak bakal selamat melalui tarikan arus bawah laut yang dahsyat itu. Kekagumannya akan Tuhan makin mendalam sejak saat itu. Betapa Tuhan tidak pernah lepas pandangan-Nya dari anak-anak-Nya yang takut dan hormat akan Dia.
Kini ia banyak berkiprah di Market Place dan dunia pendidikan dan bisnis. Melalui kerinduannya untuk menjadi garam dan terang dunia, ia selalu ingin mewarnai dunia melalui perilaku Kristus. Ia banyak berinteraksi dengan para cendekiawan dan mahasiswa muslim. Ia dapat diterima dan bergaul dengan para cendekiawan Paramadina atau IAIN. Melalui program radio The Waves ia memperkenalkan nilai-nilai kristiani tanpa menyebut ayat-ayat Alkitab untuk memajukan pemikiran masyarakat. Saya pernah ditunjukkan SMS dari seorang mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang menyebut dirinya: "ayah". Ia berhasil 'membapaki' banyak mahasiswa yang terbuka pada pemikiran dan ide-idenya yang tulus untuk membawa kemajuan bangsa ini.
(Tamat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.