Untuk menandai Hari Yerusalem (28 Iyyar 5777; 24 Mei 2017) dan peringatan 50 tahun penyatuan kembali kota tersebut (Yobel Yerusalem), Otoritas Kepurbakalaan Israel dan Otoritas Alam dan Taman mengumumkan pada hari Kamis, 25 Mei 2017, bukti berusia 2.000 tahun tentang peperangan Yerusalem yang terjadi pada waktu penghancuran Bait Suci Kedua, tahun 70 M.
Berbicara di konferensi pers di Kota Daud di Taman Nasional Tembok Yerusalem, arkeolog Otoritas Kepurbakalaan Israel (IAA) Nahshon Szanton dan Moran Hagbi menunjukkan koleksi mata panah dan bola-bola batu umban yang mereka temukan di jalanan utama yang naik dari pintu gerbang kota dan Kolam Siloam ke Bait Suci. Mereka mengatakan bahwa temuan tersebut menceritakan tentang pertempuran terakhir antara pasukan Romawi melawan pemberontak Yahudi yang telah berhasil membentengi diri mereka sendiri di kota tersebut, sebuah pertempuran yang mengakibatkan penghancuran Yerusalem.
Batu-batu ballista (umban) dan mata panah Scytho-Iran yang terungkap dalam ekskavasi arkeologi merupakan bukti pertempuran Yerusalem yang terjadi 2000 tahun lalu. Foto: Clara Amit, IAA.
Pertempuran tersebut digambarkan oleh sejarawan Yahudi-Romawi abad pertama, Flavius Josephus:
“Keesokan harinya orang-orang Romawi, yang telah mengusir para perampok dari kota, membakar semuanya dengan api sampai ke Siloam”. (Josephus, Peperangan Orang Yahudi, Buku 6:363)
Deskripsi Josephus tentang pertempuran di kota bagian bawah diperhadapkan langsung untuk pertama kalinya dengan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan dengan cara yang jelas dan menggetarkan,” kata Stanton dan Hagbi, direktur penggalian tersebut. Bola-bola batu umban yang ditembakkan dari katapel yang digunakan untuk membombardir Yerusalem pada saat pengepungan Romawi di kota tersebut, ditemukan dalam penggalian.
Batu-batu ballista
Kepala-kepala panah, yang digunakan oleh para pemberontak Yahudi dalam pertempuran sengit melawan legiun Romawi ditemukan persis seperti yang dijelaskan oleh Josephus.
“Kesimpulan ini sesungguhnya menerangi kembali sejarah Yerusalem pada akhir Periode Bait Suci Kedua, dan mengokohkan pengakuan akan pentingnya para prokurator Romawi dalam membentuk karakteristik Yerusalem,” kata mereka menambahkan.

Nahshon Szanton memegang sebuah batu ballista yang nampaknya dilontarkan pada waktu pengepungan kota Yerusalem. Foto: Shai Halevy, IAA.
Jalanan kuno itu panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 7,5 meter, dilapisi lempengan-lempengan batu besar sama seperti dalam tradisi pembangunan konstruksi monumental di seluruh Kekaisaran Romawi. Penggalian-penggalian arkeologi di jalanan menggunakan kombinasi metode-metode perintis dan penelitian lanjutan, yang hasilnya sejauh ini memperkuat pemahaman bahwa Herodes Agung tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas proyek-proyek konstruksi besar di Yerusalem pada akhir periode Bait Suci Kedua.
Bagian dari jalanan bertingkat yang berasal dari periode Bait Suci Kedua. Foto: Shai Halevy, IAA.
Penelitian terbaru memberikan indikasi bahwa jalanan itu dibangun sesudah pemerintahan Herodes, di bawah naungan para prokurator Romawi di Yerusalem, dan mungkin bahkan selama masa jabatan gubernur Romawi Pontius Pilatus, yang juga dikenal karena menjatuhkan hukuman mati kepada Yeshua melalui penyaliban.
Menurut Dr. Yuval Baruch, arkeolog wilayah Yerusalem untuk IAA, penggalian situs ini akan berlanjut sampai seluruh jalanan terungkap, proses yang diperkirakan akan memakan waktu hingga lima tahun.
“Jika penggalian telah selesai, sisa-sisa jalanan kemudian akan dilestarikan dan dikembangkan dan dipersiapkan bisa untuk menampung puluhan ribu pengunjung yang akan berjalan menyusurinya,” kata Barukh.
Baca:
Referensi:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.