Dalam suatu perpaduan sains dengan agama yang kuat, seorang rabbi telah berpaling kepada ilmu genetika untuk menegakkan kembali pelayanan imamat untuk Bait Suci Ketiga. Rabbi Yaakov Kleiman percaya bahwa sains telah membuktikan bahwa kedudukan imamat itu persis seperti yang digambarkan dalam Alkitab: Sebuah perjanjian kekal yang akan bangkit kembali di dalam ibadah di Bait Suci Ketiga.
Rabbi Yaakov Kleiman menyatakan, “Genetika menghubungkan Yudaisme modern dengan Alkitab, mengkonfirmasi tradisi Yahudi berumur 3000 tahun. Ini adalah kesaksian yang menakjubkan akan perjanjian Elohim dengan orang-orang Yahudi. Meskipun telah dibuang dan diserakkan ke segala bangsa lebih dari 2000 tahun, kami mempertahankan agama kami, tradisi kami, Torah kami, dan identitas genetika kami.”
Memanifestasikan nubuatan adalah pekerjaan harian Rabbi Kleiman. Dia membuka Pusat Kohanim (Imam) di Yerusalem sembilan tahun yang lalu, dan telah menulis buku tentang bukti DNA dari imamat. Kohanim, atau imam-imam, adalah orang-orang Yahudi yang diyakini sebagai keturunan langsung Harun, imam besar Israel pertama. Pelayanan di Bait Suci hanya boleh dilakukan oleh kohanim.
Dalam usahanya untuk menentukan para calon imam, Rabbi Kleiman telah menggunakan metode genetika sebagai bantuan. Peralatan ini pertama kali tersedia 20 tahun yang lalu ketika para peneliti genetik di Haifa menemukan sebuah kromosom Y, sebuah penanda genetik yang diturunkan dari ayah kepada anak laki-laki, yang mengindikasikan leluhur yang sama bagi orang-orang Yahudi yang dalam tradisi keluarganya berpedoman bahwa mereka adalah keturunan dari golongan imam-imam di Alkitab.
Rabbi Kleiman menggunakan teknologi ini untuk tujuan yang mungkin tidak diharapkan oleh para peneliti: untuk membantu persiapan Bait Suci Ketiga.
Rabbi Kleiman menjelaskan, “Menurut nubuatan, akan ada Bait Suci Ketiga, dan bila itu sudah ada, kita perlu mengidentifikasi para imam. Kohanim adalah para pelayan di Bait Suci. Tanpa keberadaan mereka, Bait Suci hanyalah bangunan kosong.”
Yehezkiel 44:15 (ILT) Sebaliknya, para imam orang Lewi dari keturunan Zadok yang memelihara tanggung jawab tempat kudus-Ku ketika bani Israel sesat dari pada-Ku, mereka boleh mendekat kepada-Ku untuk melayani Aku dan berdiri di hadapan-Ku untuk mempersembahkan bagi-Ku lemak dan darah, firman Tuhan YAHWEH.
Rabbi Kleiman yang juga adalah seorang kohen, memiliki kepentingan pribadi dalam usaha ini. Pada dasarnya dia menelusuri pohon silsilah keluarganya sendiri hingga mundur sampai kepada 106 generasi ke belakang. Bagi dirinya dan kohanim lainnya, hasilnya memiliki implikasi profetik.
Rabbi mengungkapkan bahwa fenomena genetika ini merupakan bukti ilmiah dari tradisi tak terputus yang paling lama yang dikenal oleh manusia modern. Dia menghubungkan hal ini sebagai perjanjian imamat kekal seperti yang dijelaskan dalam Alkitab.
“Bukti ilmiah ini adalah penegasan bahwa, seperti yang dikatakan Torah, perjanjian imamat itu kekal,” kata rabbi sambil mengutip Kitab Bilangan.
Bilangan 25:13 (ILT) dan hal itu akan menjadi perjanjian imamat selamanya bagi dia dan bagi keturunannya sesudah dia…
Imam-imam adalah bagian dari Suku Lewi, namun peralatan genetika ini terbukti tidak efektif dalam mengidentifikasi orang-orang Lewi, yang juga memiliki peranan di Bait Suci.
“Suku Lewi punya konsep yang sama dan Anda tentu menduga adanya penanda-penanda genetik yang sama, tapi tidak dalam persentase yang sama dengan grup J, penanda genetik yang menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi berasal dari Timur Tengah. Ini mengindikasikan bahwa tradisi menjadi orang-orang Lewi tidak sekuat kohanim,” jelas Rabbi Kleiman.
Rabbi berspekulasi bahwa ritual-ritual dan ketatnya peraturan yang berhubungan dengan menjadi seorang kohen (imam) telah memperkuat tradisi tersebut. Kohanim dilarang menikahi orang yang baru bertobat atau perempuan yang diceraikan. Demikian juga, sifat alami dan kehormatan publik yang berhubungan dengan berkat imam (“birkat kohanim“) di sinagoga menjadikan identifikasi kohanim sebagai bagian penting dari komunitas Yahudi.

Birkat Kohanim pada Hari Raya Sukkot
Demikian pula, metode genetika tidak dapat menemukan penanda-penanda terhadap masing-masing suku Israel.
Rabbi Kleiman menjelaskan, “Orang-orang Yahudi memiliki penanda-penanda genetik yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Timur Tengah. Ada banyak bangsa-bangsa berbeda yang tinggal di wilayah tersebut. Bahkan jika kita bisa mengungkapkan leluhur yang sama sampai Abraham, ia memiliki dua orang anak laki-laki. Kita bisa mengungkapkan leluhur yang sama, namun tidak berhasil menemukan penanda-penanda untuk haplotipe (gen yang diturunkan dari ayah ke anak laki-laki) spesifik suku tertentu.”
Rabbi mencatat bahwa genetika bukanlah keputusan final. Menurut tradisi Yahudi, nabi Elia akan muncul di hadapan Messias untuk menyelesaikan secara tepat masalah ini: siapa yang imam dan siapa yang bukan, dan suku asal-usul dari masing-masing orang Yahudi.
Maleakhi 4:5-6 (ILT) “Lihatlah Aku mengutus Nabi Elia kepadamu sebelum datangnya Hari YAHWEH yang besar dan mengerikan itu. Dan dia akan mengubah hati bapak-bapak berbalik kepada anak-anak, dan hati anak-anak terhadap bapak-bapaknya, sehingga Aku tidak datang memukul bumi sampai musnah.”
Meskipun demikian, rabbi tidak merasa bahwa klarifikasi terakhir ini akan membuat pekerjaannya sia-sia. Dia berharap bahwa ketika nabi Elia tiba, kohanim yang telah diverifikasi secara genetik, akan sudah bekerja keras di Bait Suci Ketiga.
“Ketika Elia tiba, jika dia menginginkan informasi DNA, kami dengan senang hati akan memberikannya kepadanya,” kata Rabbi Kleiman bercanda. “Tapi nampaknya dia akan membuat keputusan-keputusannya berdasarkan sumber yang lebih tinggi.”
Baca:
Referensi:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.