
Langkah penting telah dilakukan menjelang pelaksanaan kembali pelayanan-pelayanan Bait Suci ketika Sanhedrin yang baru memilih Rabbi Baruch Kahanesebagai Kohen Gadol (Imam Besar). Pemilihan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk Yom Kippur (Hari Raya Pendamaian), yang tahun ini diperingati pada hari ke-10 bulan Tishrei 5777, yang dalam kalender Barat jatuh pada tanggal 12 Oktober 2016. Tahun baru Yahudi, Rosh Hashana 5777 (Hari Raya Peniupan Sangkakala), jatuh pada tanggal 3 Oktober 2016 (1 Tishrei 5777). Jika kondisi politik berubah, yang memungkinkan orang-orang Yahudi memasuki Bukit Bait Suci, mereka diwajibkan oleh Torah untuk membawa kurban-kurban. Rabbi Kahane meyakini jika hal itu terjadi, pelayanan-pelayanan di Bait Suci dapat dijalankan kembali dalam waktu kurang dari satu minggu.
Imamat 23:27 Demikian pula, pada tanggal sepuluh pada bulan ketujuh, itulah hari penebusan (Ibr: Yom Kippur; hari Pendamaian, penebusan, pertobatan); itu harus menjadi pertemuan kudus bagimu, dan kamu harus merendahkan dirimu, dan mempersembahkan persembahan api-apian kepada YAHWEH. [“Bulan pertama” dari kalender Yahudi adalah bulan Nissan, waktu musim semi, ketika Paskah terjadi. Namun, Tahun Baru Yahudi terjadi dalam bulan Tishrei, bulan ketujuh.]
Rabbi Kahane adalah seorang sarjana terkemuka, memahami hukum-hukum yang rumit yang berhubungan dengan masalah-masalah pelayanan Bait Suci. Dia adalah bagian dari Halacha Berurah Institute, yang didirikan oleh Rabbi Avraham Isaac HaCohen Kook, Kepala Rabbi pertama di Israel, yang berurusan dengan uraian-uraian hukum Yahudi dari sumber-sumber Talmud (Hukum Lisan) dan penjelasan-penjelasannya. Dia memainkan peranan penting dalam seluruh pelaksanaan kembali pelayanan-pelayanan Bait Suci yang dijalankan sekarang ini.
Tahun ini sudah banyak aktivitas yang dilakukan berkenaan dengan Bait Suci: Temple Institute sudah membuka pendaftaran kohanim (imam-imam); mendirikan sekolah untuk mengedukasi orang-orang dari golongan imam tentang hal-hal mendetail pelayanan Bait Suci; dan dijalankannya kembali seluruh hari raya-hari raya, termasuk kurban-kurban Paskah yang sangat khusus.

Kohanim membawa anak-anak domba untuk kurban Paskah. (The Temple Institute)
Rabbi Hillel Weiss, juru bicara Sanhedrin baru, menjelaskan perlunya pemilihan seorang Imam Besar, meskipun tanpa keberadaan Bait Suci.

Rabbi Hillel Weiss
“Kita tidak membutuhkan peristiwa mujizat seperti kemunculan Bait Suci secara tiba-tiba turun dari surga ke Bukit Bait Suci untuk melaksanakan keputusan ini,” kata Rabbi Weiss. “Satu-satunya rintangan yang menghalangi pelayanan Bait Suci sekarang ini adalah masalah politik. Jika itu tiba-tiba berubah, dan itu sangat mungkin, kita diharuskan memulai pelayanan Bait Suci sesegera mungkin. Karena itu diperlukan bahwa kita sudah punya seorang kandidat yang dipersiapkan untuk mengisi jabatan Imam Besar, khususnya sekarang ini dimana kita telah mempersiapkan kohanim untuk pelayanan di Bait Suci.”
Rabbi Yisrael Ariel, pendiri dan kepala Temple Institute, adalah anggota Sanhedrin namun tidak memutuskan dalam pemilihan ini. Dia mengatakan bahwa adalah suatu kebutuhan bagi Sanhedrin untuk memilih seorang Kohen Gadol.
“Ini sesuatu yang harus kita lakukan sekarang ini sebagai orang Yahudi yang religius. Memilih seorang imam besar dan seluruh persiapan untuk pelayanan Bait Suci adalah mitzvot (perintah) yang diwajibkan atas kita menurut Torah,” kata Rabbi Ariel.
“Ini bukan persoalan pendapat. Ini tertulis secara eksplisit dalam Torah dan, sama seperti mitzvot lain yang tertulis dalam Torah, kita harus memilih seorang Kohen Gadol, dan melakukan seluruh persiapan, tidak perduli apakah sekarang ini Bait Suci sudah berdiri atau belum.”
Rabbi Kahane enggan mendiskusikan keputusan Sanhedrin. “Ini mungkin bukan waktunya untuk memilih Kohen Gadol. Belum ada kurban-kurban yang diperlukan,” katanya. Namun, dia menambahkan, “Itu bisa berubah dalam semalam. Bagaimana pun, sudah jelas bahwa kita perlu bersiap, untuk mempersiapkan imam-imam, untuk menyiapkan segala sesuatu.”
Ketika ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai kurban-kurban jika tiba-tiba kondisi mengijinkan, dia berpikir baik-baik sebelum menjawab, “Jika pemerintah memutuskan untuk mengijinkan itu, itu hanya butuh beberapa minggu untuk melakukan persiapan, bahkan untuk melaksanakan pelayanan Yom Kippur,” katanya.
“Bangunan-bangunan sementara dapat dipersiapkan hanya dalam semalam. Rintangan terbesar adalah mendidik kohanim, yang sudah kami laksanakan sekarang ini. Satu kali imam-imam sudah diajar secara menyeluruh, memilih seorang Kohen Gadol dan mengajar dia apa yang perlu dia ketahui tentang pelayanan Yom Kippur relatif mudah dan hanya perlu satu minggu. Pelayanan Bait Suci yang dilakukan oleh Kohen Gadol sangat dibutuhkan, namun bagi kohen (imam) yang sudah terdidik, itu tidak terlalu sulit untuk mempelajari pelayanan sebagai Kohen Gadol.”

Mezbah yang dibangun Temple Institute yang akan digunakan untuk pelayanan dalam pembangunan kembali Bait Suci ke-3 Yahudi. (The Temple Institute)
Rabbi Weiss menjelaskan pentingnya menjalankan terus usaha penatalayanan Bait Suci meskipun kelihatannya pelayanan-pelayanan itu tidaklah urgen.
“Ada banyak hukum-hukum Torah yang bukan kurban-kurban atau pelayanan Bait Suci, namun demikian bergantung kepada Bait Suci dan kohanim. Kami baru-baru ini menjalankan kembali persembahan ayunan Omer, yang merupakan hasil ketika Israel dapat memakan tuaian gandum terbaru. Selain itu, kami juga menjalankan pemberian bahu, kedua pipi, dan perut lembu kepada imam-imam.”
Imamat 23:20 (ILT) Dan imam harus mengayunkan semuanya bersama roti hasil pertama itu sebagai persembahan ayunan di hadapan YAHWEH, bersama dua ekor anak domba itu. Semuanya itu harus kudus bagi YAHWEH, untuk imam.
Ulangan 18:3 (AYT) Dan, inilah yang menjadi hak para imam dan para umat, dari orang yang mempersembahkan kurban sembelihan, baik seekor lembu atau domba. Mereka harus memberikan kepada para imam (Ibr: kohen) itu bahu, kedua pipinya, dan perut.

Rabbi Baruch Kahane, yang mempersembahkan persembahan Omer (roti jelai) kepada Elohim di tengah-tengah Kota Tua Yerusalem, telah ditunjuk sebagai Imam Besar oleh Sanhedrin baru. (Photo: Abba Richman)
“Ini bukan hanya bagian dari kurban, tapi ini juga mengenai hal kashrut (hukum kosher – halal Yahudi), yang harus kita lakukan sekarang ini,” kata Rabbi Weiss menjelaskan.
Meskipun kelihatannya iklim politik belum akan berubah dalam beberapa minggu ke depan untuk mencapai perubahan yang dibutuhkan bagi bangsa Yahudi untuk mendirikan mezbah dan memulai persiapan kurban-kurban di Bukit Bait Suci pada waktunya untuk Yom Kippur, dunia boleh meyakini bahwa saat perubahan-perubahan itu terjadi, bangsa Yahudi sudah mempersiapkan diri.
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.