
Pada hari Kamis, 1 Juni 2017, sehari sesudah Hari Raya Shavuot (Pentakosta), ratusan orang berkumpul di Kota Kuno Yerusalem untuk menjalankan kembali ibadah Bait Suci yang dikenal sebagai bikurim, yakni “membawa buah sulung.” Upacara itu mencakup persembahan ucapan syukur khusus yang memeteraikan keputusan Sanhedrin baru-baru ini, yang menetapkan batas-batas Yerusalem untuk Bait Suci Ketiga.
Prosesi di sepanjang tembok kota Yerusalem sampai ke Taman Tekuma diiringi alat-alat musik yang secara khusus dibuat untuk digunakan di Bait Suci Ketiga, dengan peniupan shofarot (sangkakala tanduk domba), seperti yang digambarkan Talmud pada zaman Bait Suci.

Shofarot (sangkakala tanduk domba) dan sangkakala perak Bait Suci dibunyikan. (Sanhedrin)
Upacara ini dilakukan oleh Kohanim (orang-orang dari golongan imam) yang mengenakan pakaian otentik seperti yang digambarkan dalam Alkitab, yang dipimpin oleh Rabbi Baruch Kahane, yang memainkan peranan penting dalam pelaksanaan kembali pelayanan-pelayanan Bait Suci.

Kohanhim (para imam) dalam pakaian otentik mereka. (Sanhedrin)
Pada zaman Bait Suci Pertama, buah sulung hasil panen tahunan dibawa ke Yerusalem sebagai persembahan di antara Hari Raya Shavuot (Hari Raya Tujuh Minggu atau Pentakosta) dan Hari Raya Sukkot (Hari Raya Pondok Daun). Buah-buahan dibawa dalam keranjang, dihiasi dengan indah, dan diberikan kepada para imam. Untuk upacara ini, anak-anak dari seluruh Israel mempersembahkan kepada Rabbi Yisrael Ariel, anggota Sanhedrin, dengan buah-buah pertama yang mereka kumpulkan dari kebun-kebun pribadi mereka.

Rabbi Hillel Weiss, juru bicara Sanhedrin, mengatakan, “Bikurim adalah memberikan kembali kepada Elohim apa yang terbaik dari yang telah Dia berikan kepada kita: Tanah Israel.” Rabbi Weiss mengutip ayat dari Kitab Ulangan, yang menjelaskan bahwa buah sulung hanya boleh dibawa dari tanah Israel; perintah ini tidak bisa dijalankan di luar tanah Israel.

Anak-anak mempersembahkan bikurim. (Sanhedrin)
Ulangan 26:2 (ILT) maka engkau harus mengambil yang sulung dari semua buah-buahan hasil tanah, yang harus engkau bawa dari tanahmu yang YAHWEH, Elohimmu, berikan kepadamu, dan harus menaruhnya dalam keranjang, dan harus pergi ke tempat yang akan YAHWEH, Elohimmu, pilih untuk membuat Nama-Nya diam di sana.
Bikurim terdiri dari tujuh spesies yang memiliki arti penting bagi Israel: gandum, jelai, anggur, buah ara, delima, minyak zaitun, dan kurma (atau madu).
Ulangan 8:8 (ILT) sebuah negeri gandum, dan jelai, dan pohon anggur, dan pohon ara, dan delima; sebuah negeri minyak zaitun dan madu;

Buah-buah ini diberikan kepada para imam sesudah orang-orang yang mempersembahkan mengucapkan pengakuan, yang tercatat dalam Ulangan 26:1-11, mengakui Elohim sebagai Penebus bangsa Israel dari perbudakan Mesir, dan mengungkapkan rasa syukur kepada Elohim karena telah membawa mereka ke Tanah Perjanjian:
Bapakku dahulu adalah seorang Aram yang hendak binasa. Dan dia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja, dan tinggal di sana dan menjadi bangsa yang besar, kuat, dan banyak jumlahnya. Dan orang Mesir menindas kami, menganiaya kami, dan memberi pekerjaan budak yang berat kepada kami.
Kemudian kami menangis kepada YAHWEH, Elohim leluhur kami, dan YAHWEH mendengar suara kami, melihat kesengsaraan kami, pekerjaan kami yang berat, dan penindasan terhadap kami. Lalu, YAHWEH membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dan dengan ancaman yang dahsyat, dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. Dan Dia telah membawa kami ke tempat ini, dan telah memberikan negeri ini, suatu negeri yang berlimpah dengan susu dan madu.
Dan sekarang, lihatlah, aku telah membawa buah sulung dari hasil tanah yang telah Kauberikan kepadaku, ya, YAHWEH. Dan engkau harus menempatkannya di hadapan YAHWEH, Elohimmu, dan engkau harus sujud di hadapan YAHWEH, Elohimmu. Ulangan 26:5-11 (ILT)
Domba dipersembahkan oleh Kohanim, tapi penyembelihan sesungguhnya dilakukan di lokasi yang berbeda.

Kurban domba yang dipersembahkan. (Sanhedrin)
Bagian depan dan dada dipersembahkan kepada Rabbi Kahane sebagai perwakilan para imam. Sisa domba itu kemudian dipanggang, sebagaimana diamanatkan dalam Alkitab.
Upacara tersebut meliputi membawa persembahan ucapan syukur roti khusus yang dipersiapkan untuk upacara tersebut. Sanhedrin telah menjalankan penelitian tentang perbatasan-perbatasan Yerusalem, yang puncaknya sampai pada keputusan resmi mereka. Sama seperti pada zaman Bait Suci dan Sanhedrin yang asli, mereka memeteraikan keputusan ini dengan persembahan ucapan syukur, menetapkan batas-batas Yerusalem yang lebih luas untuk era Bait Suci Ketiga.

Yerikho, perbatasan timur Yerusalem yang lebih besar. (Sanhedrin)
“Peristiwa ini, tiba segera sesudah peringatan Yobel Yerusalem, adalah waktu yang tepat untuk menetapkan Yerusalem yang lebih besar,” kata Rabbi Weiss. “Dan Shavuot adalah hari raya yang merayakan Elohim memberi Israel Tanah Israel.”
Sanhedrin melaksanakan keputusan mereka berdasarkan tindakan yang sama yang dilakukan oleh Ezra dan Nehemia, yang memetakan batas-batas kota Yerusalem ketika mereka kembali untuk membangun kembali Bait Suci pada abad kelima SM.
Perbatasan-perbatasan Yerusalem yang lebih besar yang didirikan oleh Sanhedrin membentang mulai dari titik selatan yang ditandai oleh Karmei Tzur di Gush Etzion ke selatan, kota Ofra di Samaria sebagai titik utara, Yerikho sebagai titik timur, dan kota Beit Shemesh di Barat. Sanhedrin melakukan beberapa perjalanan keliling perbatasan, mendirikan rambu-rambu untuk menandai daerah tersebut.

Bet Shemesh, perbatasan barat Yerusalem yang lebih besar. (Sanhedrin)
Rabbi menjelaskan bahwa sebagai kota suci dan lokasi Bait Suci, batas-batas Yerusalem memiliki implikasi Alkitabiah dan bukan persoalan yang diputuskan oleh otoritas sekuler maupun politik, “Ini adalah batas-batas yang dikuduskan untuk tujuan Bait Suci Ketiga, yang di dalamnya orang-orang Yahudi diizinkan untuk makan kurban Paskah mereka dan tujuan-tujuan Bait Suci lainnya yang hanya boleh dijalankan di dalam batas-batas Kota Suci.”
Rabbi Weiss, mengutip Nabi Zakharia untuk menunjukkan konsekuensi yang menyangkut batas-batas kota yang dikuduskan.
Zakharia 2:8 (ILT2) Karena beginilah YAHWEH Tsebaot berfirman -Dia telah mengutus aku, di belakang kemuliaan, kepada bangsa-bangsa lain (Ibrani: goyim; non Yahudi) yang menjarah kamu; sebab, siapa yang menjamah kamu, ia menjamah biji mata-Nya-
“Dunia sedang memperdebatkan tentang sejarah Yerusalem, sedangkan semua itu telah tertulis di dalam Alkitab,” kata Rabbi Weiss. “Sementara mereka berusaha menulis ulang Alkitab, di Yerusalem sini kami membawa firman itu menjadi hidup. Tepat sebagaimana itu tertulis.”
Baca:
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.