https://youtu.be/xLBtEBetUx4
Sebuah gerbang lengkung kuil pagan didirikan di Taormina, Sisilia, Italia satu bulan sebelum pertemuan para pemimpin dunia terkuat yang diselenggarakan di negara tersebut. Seorang rabbi Yahudi terkemuka mengatakan, gerbang lengkung ini bisa jadi portal yang pembukaannya bisa mengantarkan kedatangan zaman Messias (atau zaman Anti-Kristus?) – dan New World Order (Tata Dunia Baru) yang menakutkan.
Rabbi Daniel Assur meyakini bahwa kedua peristiwa tersebut – pembukaan replika Gerbang Lengkung Palmyra, simbol paganisme dan penyembahan berhala, dan pertemuan puncak G7 yang mewakili gabungan kekuatan-kekuatan dunia – terhubung secara mendalam dan menakutkan.

Rabbi Daniel Assur yang juga adalah salah seorang anggota Sanhedrin menyatakan, “Gerbang lengkung ini menyatukan semua elemen-elemen yang dibutuhkan bagi New World Order (Tata Dunia Baru). Jika Anda melihat di mana gerbang lengkung ini muncul, sudah jelas ada pola yang bergerak menuju ke suatutujuan spesifik: Messias. Pertanyaannya adalah, Messias yang mana?”
Bangunan ini merupakan reproduksi dari sebuah gerbang lengkung kemenangan Romawi yang dibangun di Palmyra, Syria pada akhir abad kedua Masehi. Awalnya berdiri di depan sebuah kuil Romawi di mana orang-orang pagan menyembah dewa Mesopotamia, Bel, juga dikenal sebagai Ba’al (artinya Tuan atau Tuhan), dalam bentuk pemujaan berhala yang figurnya sangat menonjol dalam Alkitab. Nama Bel dan Ba’al dapat dilacak kembali asal usulnya dari Babilonia kuno dan penguasanya, Nimrod, Anti-Kritus pertama di dunia.
Gerbang lengkung yang asli sudah dihancurkan oleh Negara Islam (ISIS) pada tahun 2015, namun satu tahun kemudian, Institute for Digital Archaeology menggunakan teknologi cetak 3-D mereproduksi replika skala penuh setinggi 20 kaki.

2 Raja-Raja 21:3 (ILT3) Dan dia mendirikan kembali tempat-tempat pemujaan yang Hizkia, ayahnya, telah musnahkan, dan dia membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan membuat patung Ashera sebagaimana Ahab, raja Israel, lakukan, dan dia menyembah segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.
Bangunan reproduksi pintu gerbang Ba’al yang telah berkeliling ke seluruh dunia untuk “memberkati” sejumlah peristiwa – yang masing-masing berhubungan dengan pemusatan kekuasaan global dunia– didirikan kembali di Florence, Italia, satu bulan yang lalu sebagai bagian dari KTT Kebudayaan G7 yang pertama. Pertemuan ini merupakan awal dari pertemuan puncak tahunan yang mempertemukan para pemimpin tujuh negara maju di dunia. Tujuh entitas, mewakili lebih dari 64 persen kekayaan global dunia, berkumpul pada hari Jumat, 26 Mei 2017, di Taormina, Italia.
Rabbi Assur menjelaskan bahwa hubungan dengan Ba’al ini sangat penting bagi New World Order (Tata Dunia Baru), dan oleh karena itu dibutuhkan sebagai unsur-unsur bagi G7 yang berusaha mendominasi dunia.
“New World Order bukanlah pergerakan sekuler dan atheis. Mereka menggabungkan pemujaan Ba’al dengan penyembahan dewa Mesir, Isis, dan juga nama sesungguhnya dari Elohim. Mereka perlu menggabungkan semua elemen-elemen ini.”
Rabbi Assur menambahkan bahwa perubahan yang terjadi di dalam Kekristenan, secara khusus Katholik, adalah bagian dari peperangan terhadap New World Order. Ini adalah salah satu motifnya untuk berpartisipasi dalam sidang Sanhedrin melawan Paus Fransiskus pada tahun 2015.
“Kebudayaan Roma pagan sedang menguasai Kekristenan. Kekristenan harus direbut kembali dari budaya Romawi, yakni paganisme.”
“Gerbang lengkung tersebut, yang awal mulanya direkonstruksi kembali untuk Pekan Warisan Budaya UNESCO di Inggris, juga berhubungan dengan rancangan New World Order untuk Bait Suci dan nama Elohim Yahudi,” kata rabbi tersebut.
“UNESCO, sebagai bagian dari New World Order, harus merampas kuasa nama sesungguhnya dari Elohim. Untuk tujuan akhir inilah UNESCO sedang bekerja untuk mengubah nama dan sejarah Bukit Bait Suci, dengan maksud untuk menguasai nama asli dari Elohim Yahudi. Itulah sebabnya mereka membuat klaim-klaim yang paling absurd tentang tempat-tempat suci di Israel. Namun kekuasaan New World Order itu nyata, jadi mereka berhasil, terlepas dari kebohongan yang terang-terangan.”
Rabbi Assur mengatakan bahwa peranan gerbang lengkung dalam mendatangkan Messias secara eksplisit dijelaskan dalam Talmud, Traktat Sanhedrin (78a).
Murid-murid Rabbi Yossi ben Kisma menanyai dia, bertanya kapan Anak Daud (Messias) akan muncul. Dan dia menjawab: “Aku takut kamu juga akan meminta dari padaku sebuah tanda.” Dan mereka meyakinkan dia bahwa mereka tidak akan melakukannya. Dia kemudian berkata kepada mereka: “Ketika gerbang ini runtuh, dibangun kembali dan runtuh kembali, dibangun kembali dan runtuh lagi. Dan sebelum itu dibangun kembali untuk yang ketiga kalinya, Messias akan muncul.”
Sarjana Yahudi yang terhormat, Rashi, seorang rabbi abad pertengahan yang menulis tafsir kanonik tentang Torah, menulis bahwa gerbang lengkung yang disebutkan oleh Rabbi Yossi adalah “sebuah gerbang lengkung Romawi di sebuah kota Romawi”.
Gerbang Lengkung Kuil Palmyra di Syria
Rabbi Assur menjelaskan bahwa ketika Talmud menggambarkan gerbang ini runtuh, itu bukan mengacu kepada tindakan dekonstruksi secara sengaja, tapi pada kekuatan-kekuatan kejahatan yang mengalahkan orang-orang yang melayani Elohim yang benar, yang dilambangkan oleh Gerbang Lengkung Palmyra.
“Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa gerbang lengkung ini adalah portal untuk Dunia Baru yang dibicarakan Talmud. Jika New World Order berhasil, maka mereka akan memerintah, kiranya Elohim menghalangi,” kata Rabbi Assur. “Tetapi jika Moshiach ben David (Messias Anak Daud) datang melalui portal tersebut, Dia akan menaklukkan mereka, menaklukkan New World Order.”
Kemunculan kembali Gerbang Lengkung Palmyra yang pertama terjadi di Trafalgar Square London pada bulan April 2016, ketika itu didirikan untuk Pekan Warisan Dunia (UNESCO). Pembukaan Gerbang Lengkung Palmyra ini bertepatan dengan dimulainya periode 13 hari yang dikenal dalam dunia okultisme sebagai “Korban Darah bagi Sang Binatang“, hari raya paling penting bagi orang-orang pagan yang menyembah dewa Ba’al, yang dirayakan dengan mengurbankan anak-anak dan pesta biseksual.
Pada bulan Februari 2017, gerbang lengkung ini dibangun kembali sebagai pusat dari KTT Pemerintah Dunia di Dubai, sebuah pertemuan internasional para pemimpin global untuk membahas arah kebijakan-kebijakan mereka.
Baca:
Referensi:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.