William Tyndale
William Tyndale adalah seorang reformator dan sekaligus pemimpin rohani Inggris. Tyndale adalah seorang teolog dan sarjana sejati. Ia juga seorang yang sangat jenius. Ia sangat fasih dalam delapan bahasa, termasuk Ibrani dan Yunani Kuno, sehingga ada orang yang beranggapan bahwa bahasa mana pun di antara delapan bahasa tersebut merupakan bahasa ibunya. Bahkan, ia sering kali disebut sebagai "Arsitek bahasa Inggris", (bahkan lebih dari William Shakespeare) karena banyaknya frasa yang diciptakan olehnya, yang masih digunakan hingga saat ini.
Tyndale berasal dari Gloucester dan mulai mengenyam pendidikan di Oxford pada tahun 1510, kemudian dia melanjutkan kuliahnya di Cambridge. Tyndale adalah orang yang memiliki karunia kecerdasan dan kedisiplinan hidup yang luar biasa, namun dia tidak menggunakannya untuk mengembangkan kariernya di dalam gedung gereja. Dia lebih memprioritaskan semangat untuk mengajarkan kabar baik tentang pembenaran oleh iman kepada orang-orang Inggris. Setelah membaca edisi Perjanjian Baru dalam Bahasa Yunani yang disalin oleh Erasmus, timbul pertanyaan dalam benaknya: cara apakah yang lebih baik untuk membagikan pesan ini kepada saudara-saudara sebangsaku, selain dengan memberi mereka Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris? Inilah sesungguhnya yang menjadi pemicu semangat hidup Tyndale, semangat yang terangkum dalam kata-kata mentornya, Erasmus, "Kristus menghendaki agar misteri-misteri-Nya dipublikasikan ke semua orang seluas mungkin. Saya ingin misteri-misteri tersebut [Injil dan surat-surat rasul] diterjemahkan ke dalam semua bahasa, bagi semua umat Kristen, dan agar Injil dan surat-surat itu dibaca dan dikenal." Hal ini telah dibayar dengan sangat mahal oleh Tyndale.
Pada tahun 1523, semangatnya itu semakin menyala-nyala. Pada tahun itulah, dia mencari izin dan dana dari uskup London untuk menerjemahkan Perjanjian Baru. Sayangnya, para uskup menolak permintaannya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang semakin meyakinkan Tyndale bahwa proyek tersebut tidak akan disambut dengan baik di mana pun di Inggris. Untuk menemukan lingkungan yang ramah, Tyndale pergi ke kota-kota bebas di Eropa -- Hamburg, Wittenberg, Cologne, dan akhirnya di kota para penganut Lutheran, Worms. Di sana, Tyndale mendapatkan kehormatan untuk menjadi orang pertama yang mencetak Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris (1525 -- 1526), sekaligus menjadi orang pertama yang memanfaatkan mesin cetak Gutenberg untuk mencetaknya.
Sampai sekarang masih ada satu jilid edisi pertama Perjanjian Baru yang lengkap milik Tyndale dan telah dibeli oleh Museum Britania dengan harga 2 juta dolar pada tahun 1948! Sementara itu, pada tahun 1530-an kitab Perjanjian Baru yang diilustrasikan oleh Tyndale dengan sangat indah telah diterbitkan dalam beberapa edisi dan cetakan. Setahun setelah eksekusi Tyndale pada bulan Oktober 1536, teman Tyndale -- John Rogers, menggunakan nama samaran "Thomas Matthew" mencetak "Alkitab Matthew-Tyndale 1537". Alkitab ini merupakan cetakan paling pertama dari Alkitab lengkap berbahasa Inggris yang diterjemahkan secara langsung dari bahasa aslinya -- Bahasa Yunani dan Ibrani. Alkitab ini juga telah dicetak ulang dengan ukuran yang lebih praktis pada tahun 1549. Alkitab-Alkitab ini (baik keseluruhan kitab dan lembaran-lembarannya) dan reproduksi faksimile dari karya tersebut saat ini sudah tersedia.
Terjemahan Perjanjian Baru yang dikerjakan Tyndale dengan cepat diselundupkan ke Inggris. Di sana, terjemahan tersebut diterima dengan tanggapan yang kurang antusias dari pihak-pihak yang berkuasa. Raja Henry VIII, Cardinal Wolsey, dan Sir Thomas More misalnya, sangat marah. Sir Thomas More menyatakan, "[Karya itu] tidak pantas disebut sebagai Perjanjian Kristus, tetapi Perjanjian Tyndale sendiri atau Perjanjian tuannya, si Antikristus." Pihak pemerintah pun membeli salinan-salinan terjemahan tersebut (yang ironisnya, justru membiayai karya Tyndale selanjutnya) dan menyiapkan rencana untuk membungkam Tyndale.
Sementara itu, Tyndale pindah ke Antwerp, sebuah kota yang secara relatif bebas dari agen-agen pemerintah Inggris maupun Kekaisaran Romawi Suci (dan Katolik). Selama 9 tahun ia berhasil menghindari pihak yang berwenang, merevisi terjemahan Perjanjian Barunya, dan mulai menerjemahkan Perjanjian Lama dengan bantuan teman-temannya.
Pada akhirnya, hasil terjemahan Tyndale menjadi sebuah penentu sejarah Alkitab berbahasa Inggris dan bahasa Inggris itu sendiri. Hampir seabad kemudian, ketika para penerjemah Alkitab versi King James memperdebatkan tentang cara menerjemahkan Alkitab dari bahasa asli, dalam delapan dari sepuluh kali perdebatan tersebut, mereka setuju bahwa karya Tyndale adalah titik tolak yang terbaik untuk memulai penerjemahan.
Selain menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris, Tyndale juga menghasilkan dan menerbitkan beberapa pandangan yang saat itu dianggap sebagai bidah, pertama-tama oleh Gereja Katolik dan selanjutnya oleh Gereja (Anglikan) Inggris yang didirikan oleh Raja Henry VIII. Penerjemahan Alkitabnya juga dilengkapi dengan catatan dan tafsiran yang mendukung pandangan-pandangannya tersebut.
Akan tetapi, pemerintah pada saat itu melarang peredaran hasil terjemahan Alkitab Tyndale. Bahkan, ada juga seorang biarawan yang tergila-gila pada doktrin Katolik Roma, mengejek William Tyndale dengan berkata, "Kita lebih baik hidup tanpa hukum Allah daripada tanpa hukum Paus." Tyndale dibuat sangat geram dengan bidah Katolik Roma semacam itu dan menjawab, "Aku menentang Paus dan semua hukum-hukumnya. Jika Allah memberiku umur panjang, aku akan membuat bocah yang mengarahkan bajak itu mengenal Kitab Suci lebih banyak daripada engkau!"
Orang-orang yang tidak setuju dengan pandangan dan tindakan Tyndale semakin mencari cara untuk menyingkirkannya. Tidak ada yang tahu siapa yang merencanakan dan membiayai pemufakatan untuk mengakhiri hidup Tyndale (entah pemerintah ataupun penguasa Eropa daratan), tetapi selanjutnya diketahui bahwa rencana tersebut dilaksanakan oleh Henry Phillips, seorang laki-laki yang dituduh merampok ayahnya sendiri dan menjadi miskin karena menghabiskan harta itu di meja judi. Phillips menjadi tamu Tyndale dalam perjamuan yang diadakannya untuk orang miskin. Setelah itu, dia menjadi salah satu orang yang mendapat hak istimewa untuk melihat buku-buku dan tulisan-tulisan Tyndale.
Pada bulan Mei 1535, Phillips memancing Tyndale untuk keluar dari tempat perlindungannya menuju tangan para serdadu. Tyndale segera dibawa ke Kastel Vilvoorde, penjara negara yang sangat besar di Low Countries [sebutan untuk wilayah Belgia, Belanda, Luksemburg, Perancis bagian Utara serta Jerman bagian Barat-Red] dan dituduh telah melakukan bidah.
Pengadilan untuk kasus bidah di Belanda saat itu dipegang oleh komisionaris khusus dari Kekaisaran Romawi Suci. Untuk menyelesaikan kasus ini membutuhkan waktu berbulan-bulan. Pada waktu ini, Tyndale memiliki banyak waktu untuk merefleksikan pengajarannya, seperti bagian dari salah satu traktatnya di bawah ini.
"Janganlah kiranya hal ini menjadikan Anda putus asa atau patah semangat, wahai Pembaca, bahwa apa yang kita lakukan ini menjauhkan kita dari pedihnya hidup dan memunyai hak milik, atau yang kita lakukan ini merusak kedamaian yang didirikan oleh sang raja, atau mengkhianatinya. Kita membaca Firman yang baik bagi kesehatan jiwa kita -- sebab jika Allah ada di pihak kita, maka tidak penting siapa yang akan menjadi lawan kita, entah itu uskup, kardinal maupun paus."
Akhirnya, pada awal Agustus tahun 1536, Tyndale ditetapkan sebagai seorang bidah, diturunkan dari jabatan kependetaan, dan diserahkan kepada otoritas sekuler untuk mendapatkan hukuman. Bulan Oktober, setelah pemerintah lokal melakukan rapat, Tyndale dibawa ke tengah-tengah alun-alun kota dan diberi kesempatan untuk mengaku bersalah. Kesempatan itu ditolaknya, lalu dia diberi kesempatan untuk berdoa. Seorang sejarawan Inggris, John Foxe, mengatakan bahwa Tyndale berseru, "Tuhan, bukalah mata Raja Inggris!"
Pada tahun 1536, atas hasutan para agen Raja Henry VIII dan Gereja Anglikan, Tyndale dibawa menuju sebuah tiang, rantai besi dan tali dililitkan ke lehernya. Kemudian, ia dibakar di atas tumpukan kayu di hadapan banyak orang dan anggota pemerintah.
Beberapa karya William Tyndale adalah "The New Testament", "Five Books of Moses -- Called the Pentateuch", "A Prologue Unto the Epistle of Paul to the Romans", "The Parable of the Wicked Mammon", "The Practice of Prelates", "An Answer Unto Sir Thomas More`s Dialogue", "The Prophet Jonas", "The Exposition of the First Epistle of St. John", "An Exposition Upon the V. VI. VII. Chapters of Matthew", "The Supper of the Lord", "A Brief Declaration of the Sacraments", "The Testament of Master William Tracy Esquire" expounded by William Tindall and Jho[n] Frith, dan "Tyndale`s Letter from Prison". (t/Setya)
Diterjemahkan dan dirangkum dari:
1. ________. "William Tyndale Bible History". Dalam http://www.william-tyndale.com/tyndale-bible-history.html
2. Jokinen, Anniina. "The Works of William Tyndale". Dalam http://www.luminarium.org/renlit/tyndalebib.htm
3. ________. "William Tyndale". Dalam http://www.christianitytoday.com/ch/131christians/scholarsandscientists/tyndale.html?start=1
=========================================
William Tyndale, God's Outlaw
The Bible continues to be the best-selling book in English year after year and we have literally dozens of versions readily available to us. But did you know that some Christians suffered horrible deaths to make it possible for us to have the Bible in the English language?
"Lord, open the King of England's eyes"-- many in the crowd heard William Tyndale's loud and earnest prayer just before the authorities strangled him and burned him to ashes. As the flames licked Tyndale's broken body it seemed his lifelong dream and dying prayer would die with him. But, as we will see, both were amazingly fulfilled only two years after he died.
William Tyndale was born near the Welsh border of England in 1494. Forty years earlier, two important events occurred in Europe which would have a great impact on Tyndale's life and work. In May, 1453, the Turks had stormed Constantinople, and the capital of the Eastern Roman Empire fell to the Moslem invaders. Greek scholars fled westward and brought with them a scholarship which had been almost forgotten in the West. Greek language studies of the classics increased, and the Scriptures began to be studied in the original Greek, rather than the Latin Vulgate. The invention of the printing press in 1454 was a second important development. The printing press would eliminate copyist errors and make the Scriptures more easily available in quantity editions. But to have the Bible in English was illegal. In an attempt to restrain the influence of Wycliffe's followers, in 1408 Parliament had passed the "Constitutions of Oxford" which forbade anyone translating or reading a part of the Bible in the language of the people without permission of the ecclesiastical authorities. Men and women were even burned for teaching their children the Apostles' Creed, the Lord's Prayer, and the Ten Commandments in English. William Tyndale, however, had an unquenchable passion to make the Bible available to every Englishman.
Even the Plowboy Should Have Bible
Tyndale studied at the universities of Oxford and Cambridge, could speak seven languages, and became skilled in Hebrew and Greek. When the Renaissance scholar Erasmus published a Greek edition of the New Testament, Tyndale discovered the truths of justification by faith and the priesthood of all believers. He realized that the English people were in darkness, following errors and superstition, because of their ignorance of the Scriptures. Tyndale found his own purpose in life expressed in Erasmus' preface to his New Testament:
Christ wishes his mysteries to be published as widely as possible. I would wish even all women to read the gospel and the epistles of St. Paul, and I wish that they were translated into all languages of all Christian people, and that they might be read and known, not merely by the Scotch and the Irish, but even by the Turks and the Saracens. Tyndale exhorted that it was in the language of Israel that the Psalms were sung in the temple of Jehovah; and shall not the gospel speak the language of England among us?... Ought the church to have less light at noonday than at dawn?... Christians must read the New Testament in their mother tongue. Tyndale determined to give the English people a translation of the Bible that even a plowboy could understand.
Permission Denied
Tyndale went to the Bishop of London, Cuthbert Tunstall, to seek permission to translate the Bible into English. Tunstall refused. But while in London Tyndale came into contact with several merchants who were smuggling into England some of Martin Luther's writings from Germany. They encouraged Tyndale to go to Europe to translate. They would help smuggle the Bibles back into England.
On Press, On the Run
Tyndale fled England to translate the Bible on the Continent. Even there he had to be careful to avoid English spies and informers, as well as European opponents of the Reformation. His whereabouts are often difficult to determine, but he spent time in Hamburg, Wittenberg, Cologne, Worms, and Antwerp. In 1525 his New Testament was printed and smuggled back into England. It was the first translation of the Bible from the original Greek into English --indeed, it was the first translation of a Greek book into English.
King Henry VIII, Cardinal Wolsey, and Sir Thomas More were furious at this unlicensed translation. Thomas More wrote a work attacking Tyndale's translation as a mistranslation full of heresy. However, the King's wife, Anne Boleyn, was an admirer of Tyndale (her copy of Tyndale's testament is now in the British Museum). She she was not able to persuade the King to approve such translation of the Scripture.
The King, Wolsey, and More all had agents on the Continent hoping to find and arrest Tyndale. In 1534 Tyndale was betrayed by a false friend near Brussels, arrested by imperial forces, and thrown into prison. He was accused of maintaining that faith alone justifies. He was found guilty and in 1536 was executed.
Opponents Finance Work
Tyndale's work received an amazing unintended boost when bishops bought as many copies of his translation as possible to destroy them. The price they paid provided Tyndale the desperately needed money to print even more improved and corrected editions.
=================================================
William Tyndale (±1494 – 1536) adalah seorang pembaharu dalam kalangan Kristen Protestan pada abad ke-16 dan cendekiawan yang menerjemahkan Alkitab ke Bahasa Inggris (dalam bentuk baru periode awal) pada masanya. Walaupun ada beberapa kitab dalam Alkitab yang telah diterjemahkan sebagian atau lengkap dalam bahasa Inggris Kuno pada sekitar abad ke-14, terjemahan Tyndale adalah yang pertama yang diterjemahkan langsung dari naskah dalam bahasa Ibrani dan Yunani, dan yang pertama kalinya dalam sejarah sebagai terjemahan yang diperbanyak menggunakan mesin cetak sehingga dapat dibagikan secara luas. Terjemahan ini berperan penting dalam perkembangan Reformasi Protestan. Pada tahun 1535, Tyndale ditangkap, dipenjarakan di kastil Vilvoorde, di luar Brussel (sekarang ibukota Belgia) selama lebih dari setahun, diadili atas tuduhan ajaran sesat, dan dieksekusi dengan cara dibakar.
Sebagian besar karya Tyndale pada akhirnya menjadi bagian dari Alkitab Versi Raja James (atau "Versi Resmi") yang dipublikasikan pada tahun 1611. Alkitab Versi Raja James ini dikerjakan oleh 54 cendekiawan independen, ditujukan untuk merevisi edisi bahasa Inggris yang ada pada saat itu, dan naskahnya diambil sebagian besar dari terjemahan Tyndale.
Tyndale dilahirkan sekitar tahun 1494, diduga di salah satu desa dekat Dursley, Gloucestershire. Di kalangan kerabat dekatnya, keluarga Tyndale saat itu dikenal sebagaiHychyns (Hitchins), dan William Tyndale menggunakan nama William Hychyns sewaktu bersekolah di Magdalen Hall, Oxford (sekarang bagian dari Hertford College, Oxford). Keluarga Tyndale pindah ke Gloucestershire di sekitar masa kelahirannya, kemungkinan akibat Wars of the Roses (Perang Antar Agama), dan diketahui bahwa keluarganya berasal dari Northumberland tetapi baru pindah ke East Anglia. Pamannya, Edward, adalah penerima tanah dari Lord Berkeley dan inilah fakta yang membuktikan asal usul keluarga ini. Edward Tyndale dicatat dalam dua silsilah[1] sebagai saudara laki-laki dari Sir William Tyndale, KB (Order of the Bath), dari Deane, Northumberland, dan Hockwald,Norfolk, yang diangkat menjadi bangsawan (knighted) pada pernikahan Arthur, Prince of Wales dengan Katherine of Aragon. Jadi keluarga Tyndale adalah keturunan Baron Adam de Tyndale, seorang penyewa tanah utama (tenant-in-chief) dari Raja Henry I of England (dan yang sejarah keluarganya berhubungan dengan Tyndall). Keponakan perempuan William Tyndale, Margaret Tyndale, menikah dengan Rowland Taylor yang dikenal sebagai "The Martyr".
Tyndale meraih gelar Bachelor of Arts dari Oxford University pada tahun 1512 dan tahun itu juga ia menjadi subdeacon. Ia menjadi Master of Arts (Oxbridge and Dublin) pada bulan Juli 1515, 3 bulan setelah diangkat menjadi pendeta. Gelar M.A. memungkinkannya mulai belajar teologi, tetapi pelajaran resminya tidak termasuk studi Alkitab. Hal ini mengejutkan Tyndale, sehingga ia mengorganisir kelompok privat untuk mengajar dan mendiskusikan Alkitab.
Ia berbakat dalam bidang bahasa (fasih dalam bahasa Perancis, bahasa Yunani, bahasa Ibrani, bahasa Jerman, bahasa Italia, bahasa Latin, bahasa Spanyol ditambah bahasa ibunya, bahasa Inggris). Ia kemudian kuliah di University of Cambridge (kemungkinan belajar kepada Desiderius Erasmus, yang karyanya Enchiridion Militis Christiani — "Panduang untuk Pejuang Kristen" (tahun 1503) diterjemahkan oleh Tyndale ke dalam bahasa Inggris). Diyakini bahwa Tyndale berjumpa Thomas Bilney dan John Frith di Cambridge.
Tyndale menjadi pendeta di rumah Sir John Walsh di Little Sodbury sekitar tahun 1521, dan menjadi tutor untuk anak-anak tuan rumah. Sejumlah pendapatnya membuatnya terlibat dalam kontroversi dengan pendeta-pendeta sejawatnya, dan sekitar tahun 1522 ia dipanggil di hadapan Kanselir (Chancellor) Anglican Diocese of Worcester dengan tuduhan "sesat" (heresy).
Segera sesudah itu, ia memutuskan untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Ia yakin bahwa jalan kepada Allah adalah melalui Firman-Nya dan Alkitab seharusnya tersedia juga untuk orang-orang biasa. John Foxe melukiskan sebuah argumen dengan seorang pendeta yang "terpelajar" tetapi "penghujat", yang mengatakan kepada Tyndale bahwa, "Lebih baik kita tanpa hukum Allah daripada tanpa hukum Paus." Dengan emosi yang meluap, Tyndale menyampaikan jawabannya: "Aku menantang Paus, dan semua hukum-hukumnya; dan jika Allah memberikan usia kepadaku, sebelum banyak tahun aku akan menyebabkan seorang anak yang membajak ladang untuk tahu lebih banyak tentang Alkitab daripada Paus sendiri!"
Tyndale meninggalkan London pada tahun 1523 untuk meminta izin menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan untuk meminta bantuan lain dari Gereja. Khususnya, ia mengharapkan dukungan dari Uskup Cuthbert Tunstall, ahli klasik (classicist) terkenal, yang dipuji oleh Erasmus setelah bekerja sama dengannya dalam hal Perjanjian Barubahasa Yunani. Namun uskup ini memandang rendah kredensial ilmiah Tyndale, curiga akan teologinya dan sebagaimana pejabat gereja berkedudukan tinggi, merasa kurang suka dengan gagasan adanya Alkitab dalam bahasa daerah. Saat itu Gereja tidak menganggap Alkitab terjemahan bahasa Inggris akan membantu. Tunstall mengatakan kepada Tyndale bahwa ia tidak mempunyai tempat untuknya di rumahnya.[4] Tyndale berkhotbah dan mempelajari "bukunya" di London selama beberapa waktu, menggantungkan bantuan pedagang kain, Humphrey Monmouth. Kemudian ia meninggalkan Inggris dengan nama samaran dan mendarat di Hamburg pada tahun 1524 dengan karya Perjanjian Barunya sejauh itu. Ia melengkapi terjemahannya pada tahun 1525, dengan bantuan biarawan Franciscan, William Roy.
Pada tahun 1525, penerbitan karyanya oleh Peter Quentell di Cologne diinterupsi oleh pengaruh anti-Lutheran, dan baru pada tahun 1526 edisi lengkap Perjanjian Barudiproduksi oleh percetakan milik Peter Schoeffer di Worms, Jerman, kota imperial merdeka yang sedang dalam proses menganut Lutheranisme.[5] Kemudian, lebih banyak lagi dicetak di Antwerpen. Buku itu diselundupkan ke Inggris dan Skotlandia, dan dicela pada bulan Oktober 1526 oleh Tunstall, yang mengeluarkan peringatan kepada para penjual buku serta membakar buku-buku itu di depan umum.
Dengan terbitnya Perjanjian Baru karya Tyndale, Kardinal Thomas Wolsey mengutuk Tyndale sebagai "heretik" (kaum sesat) dan meminta agar Tyndale ditangkap..
Tyndale bersembunyi di Hamburg dan terus bekerja. Ia merevisi terjemahan Perjanjian Barunya dan mulai menterjemahkan Perjanjian Lama serta menulis sejumlah artikel lain. Pada tahun 1530, ia menulis The Practyse of Prelates, menentang perceraian Henry VIII of England dengan alasan tidak alkitabiah dan suatu taktik dari Kardinal Wolsey untuk mengikat Raja Henry di pengadilan paus. Hal ini menyebabkan kemarahan raja kepadanya dan meminta kaisar Charles V, Holy Roman Emperor untuk menyerahkan Tyndale dan mengembalikannya ke Inggris.
Akhirnya, Tyndale dikhianati dan dilaporkan kepada penguasa. Ia ditangkap di Antwerpen pada tahun 1535, dikhianati oleh Henry Phillips, dan ditahan di kastil Vilvoorde dekat Brussels.
Ia diadili dengan tuduhan "sesat" pada tahun 1536 dan dijatuhi hukuman mati, meskipun Thomas Cromwell berupaya campur tangan untuk menghalangi. Dia "dicekik sampai mati sementara diikat pada tiang kayu, dan kemudian mayatnya dibakar". Foxe mencatat 6 Oktober sebagai tanggal peringatan kematian (kolom tanggal sebelah kiri), tetapi tidak menulis tanggal kematiannya (di kolom tanggal sebelah kanan). Tradisi peringatannya jatuh pada tanggal 6 Oktober, tetapi catatan penjaranya memberi kesan bahwa kematiannya mungkin beberapa minggu sebelum tanggal itu.
Kata-kata terakhir Tyndale yang diucapkannya "pada tiang dengan semangat sungguh-sungguh dan suara yang keras", dilaporkan adalah "Tuhan! Bukalah mata Raja Inggris!"
Tyndale adalah penulis dan penterjemah yang aktif, meskipun yang paling terkenal dari karyanya adalah Alkitab terjemahannya. Karya-karya Tyndale tidak hanya berfokus pada kehidupan beragama, melainkan juga diarahkan ke arena politik.
"Mereka telah menetapkan bahwa tidak seorangpun boleh melihat Alkitab, sebelum orang itu belajar ilmu kafir 8 atau 9 tahun lamanya dan diperlengkapi dengan prinsip-prinsip yang salah, dengan demikian orang itu akan ditutup sama sekali dari pemahaman Alkitab."
Menjawab kritik dari John Bell, uskup Worcester, Tyndale menyuarakan lagi sentimen ini
"Jika Allah memberikan usia kepadaku, sebelum banyak tahun aku akan menyebabkan seorang anak yang membajak ladang untuk tahu lebih banyak tentang Alkitab daripada engkau."
Tahun cetakanNama KaryaTempat PenerbitanPenerbit
1525 Terjemahan Perjanjian Baru (Translation) (tidak lengkap) Cologne
1526* Terjemahan Perjanjian Baru (Translation) (edisi cetak lengkap pertama dalam bahasa Inggris) Worms
1526 A compendious introduccion, prologe or preface vnto the pistle off Paul to the Romayns
("Pendahuluan, Prolog atau Pengantar lengkap untuk surat Paulus kepada jemaat di Roma")
1528 The parable of the wicked mammon Antwerpen
1528 The Obedience of a Christen Man (and how Christen rulers ought to govern...) Antwerp Merten de Keyser
1530* The five books of Moses [the Pentateuch] Translation (each book with individual title page) Antwerp Merten de Keyser
1530 The practyse of prelates Antwerp Merten de Keyser
1531 The exposition of the fyrste epistle of seynt Jhon with a prologge before it Antwerp Merten de Keyser
1531? The prophete Jonas Translation (Terjemahan kitab nabi Yunus) Antwerp Merten de Keyser
1531 An answere vnto sir Thomas Mores dialoge (Jawaban terhadap dialog Sir Thomas More)
1533? An exposicion vppon the. v. vi. vii. chapters of Mathew (Eksposisi Injil Matius pasal 5, 6 dan 7)
1533 Enchiridion militis Christiani Translation (Terjemahan "Panduan Pejuang Kristen")
1534 The New Testament Translation (direvisi seluruhnya, dengan kata pengantar kedua yang menentang perubahan tanpa izin olehGeorge Joye atas edisi Perjanjian Baru Tyndale yang diterbitkan lebih awal pada tahun yang sama) Antwerp Merten de Keyser
1535 The testament of master Wylliam Tracie esquier, expounded both by W. Tindall and J. Frith
1536? A path way into the holy scripture (Jalan menuju kitab suci)
1537 The byble, which is all the holy scripture Translation (hanya sebagian oleh Tyndale)
1548? A briefe declaration of the sacraments (Deklarasi singkat tentang sakramen)
1573 The whole workes of W. Tyndall, John Frith, and Doct. Barnes, edited by John Foxe
1848* Doctrinal Treatises and Introductions to Different Portions of the Holy Scriptures
1849* Expositions and Notes on Sundry Portions of the Holy Scriptures Together with the Practice of Prelates
1850* An Answer to Sir Thomas More's Dialogue, The Supper of the Lord after the True Meaning of John VI. and I Cor. XI., and William Tracy's Testament Expounded
1964* The Work of William Tyndale (Karya-karya William Tyndale)
1989** Tyndale's New Testament (Perjanjian Baru Tyndale)
1992** Tyndale's Old Testament (Perjanjian Lama Tyndale)
Forthcoming The Independent Works of William Tyndale
* Karya-karya ini dicetak lebih dari sekali, biasanya ditandai oleh revisi atau cetak-ulang. Namun, edisi tahun 1525 dicetak sebagai quarto yang tidak lengkap dan kemudian dicetak pada tahun 1526 lengkap sebagai octavo.
** Karya-karya ini adalah cetakan ulang dari terjemahan Tyndale yang mula-mula, direvisi dengan ejaan modern.
Dalam terjemahan Alkitabnya, Tyndale memperkenalkan kosa kata baru ke dalam bahasa Inggris, dan banyak yang kemudian dipakai dalam Alkitab Versi Raja James:
Jehovah (transliterasi dari konstruksi bahasa Ibrani di Perjanjian Lama; yang terdiri dari Tetragrammaton YHWH dan huruf-huruf hidup dari kata adonai: YaHoWaH)
Passover (nama hari Raya Yahudi, Pesakh atau Pesah),
Atonement (= at + onement), yang lebih dari sekadar "rekonsiliasi" untuk bermakna "menyatukan" atau "menutupi", yang muncul dari hari raya Yahudi Yom Kippur; dalamPerjanjian Lama kippur berarti menutupi palang pintu dengan darah, atau "Day of Atonement" (Hari Penebusan).
scapegoat (kambing yang menanggung dosa dan kesalahan umat dalam Kitab Imamat pasal 16)
Ia juga memperkenalkan banyak frasa bahasa Inggris terkenal yaitu:
let there be light
the powers that be
my brother's keeper
the salt of the earth
a law unto themselves
filthy lucre
it came to pass
gave up the ghost
the signs of the times
the spirit is willing
live and move and have our being
fight the good fight
Sejumlah kata-kata dan frasa baru yang diperkenalkan Tyndale kurang menyenangkan kepemimpinan Gereja Katolik Roma, karena menggunakan, misalnya 'Overseer' (penilik jemaat) bukan 'Bishop' (uskup), dan 'Elder' (penatua) bukan 'Priest' (pendeta), juga yang paling kontroversial, 'congregation' (jemaat) bukan 'Church' (Gereja), serta 'love' (kasih) bukan 'charity'. Tyndale berpendapat (dengan mengutip Erasmus) bahwa Perjanjian Baru bahasa Yunani tidak mendukung pembacaan tradisional Gereja Katolik Roma.
Pernyataan dari Katolik Roma mendasarkan pada kesalahan yang nyata maupun yang diduga dari terjemahan. Thomas More berkomentar bahwa mencari kesalahan dalam Alkitab terjemahan Tyndale adalah seperti mencari air di dalam laut, dan menuduh terjemahan Tyndale Obedience of a Christian Man (Kepatuhan orang Kristen) mengandung lebih dari 1000 kesalahan terjemahan.[12] Uskup Cuthbert Tunstall dari London menyatakan ada lebih dari 2000 kesalahan dalam Alkitab Tyndale. Tunstall pada tahun 1523 menolak memberi izin yang diperlukan menurut Constitutions of (Perundangan) Oxford tahun 1409 kepada Tyndale untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris dan larangan itu masih berlaku.
Menjawab tuduhan ketidak akuratan terjemahannya, Tyndale menulis bahwa ia tidak pernah sengaja mengubah atau menyalahartikan bagian Alkitab manapun dalam penerjemahannya dan tidak akan pernah melakukan hal itu.
Dalam menterjemahkan, Tyndale secara kontroversial mengikuti Perjanjian Baru edisi bahasa Yunani karya Erasmus (1522). Di kata pengantar edisi Perjanjian Barunya tahun 1534 ("WT unto the Reader" = WT, yaitu William Tyndale, untuk para Pembaca) ia tidak hanya menguraikan dengan teliti sejumlah aturan tatabahasa Yunani, tetapi juga menunjukkan bahwa sering terkandung pepatah Ibrani di dalam bahasa Yunani itu. Yayasan Tyndale (The Tyndale Society) mengumpulkan lebih banyak bukti bahwa terjemahan yang dibuat itu didasarkan langsung dari bahan-bahan bahasa asli Ibrani dan Yunani yang dimiliki Tyndale saat itu. Misalnya, Prolegomena dalam William Tyndale's Five Books of Moses karya Mombert menunjukkan bahwa Pentateukh terjemahan Tyndale adalah langsung diterjemahkan dari bahasa asli Ibrani.
Hanya ada 3 buku edisi pertama (1526) yang selamat sampai sekarang. Yang paling lengkap adalah bagian dari koleksi Alkitab Württembergische Landesbibliothek, Stuttgart,Jerman. Buku yang dimiliki British Library hampir lengkap, hanya kurang halaman sampul dan daftar isi. Di samping itu hanya ada 9 buku Pentateukh karya Tyndale yang tersisa.
Dampak kepada Alkitab bahasa Inggris
Templat:Sejarah Alkitab Para penterjemah Revised Standard Version pada tahun 1940-an mencatat bahwa terjemahan Tyndale memberi ilham kepada berbagai terjemahan penting selanjutnya, termasuk "Alkitab Besar" (Great Bible) tahun 1539, Geneva Bible tahun 1560, Bishops' Bible tahun 1568, Douay-Rheims Bible tahun 1582–1609, dan Alkitab Versi Raja James tahun 1611, yang mana para penterjemah RSV menulis: "[Alkitab versi Raja James/KJV] mempertahankan kept frasa yang baik dan ekspresi yang tepat, dari sumber manapun, yang mampu tahan uji dalam penggunaan umum. Hutang budi terbanyak, khususnya Perjanjian Baru, adalah kepada Tyndale." Faktanya banyak pakar sekarang percaya demikian, sebagaimana Joan Bridgman yang menulis komentar dalam Contemporary Review "Ia [Tyndale] adalah penterjemah utama yang tidak dikenal dari buku yang paling berpengaruh di dunia. Sekalipun Versi Raja James yang diakui merupakan hasil karya sekelompok orang-orang gereja yang terpelajar, sebenarnya sebagian besar diambil dari karya Tyndale dengan sejumlah perbaikan terjemahannya."
Banyak versi bahasa Inggris yang terkenal sejak itu mengambil inspirasi dari Tyndale, seperti the Revised Standard Version, the New American Standard Bible, dan the English Standard Version. Sekalipun parafrase seperti the Living Bible dan the New Living Translation diilhami oleh keinginan yang sama untuk membuat Alkitab dapat dimengerti oleh "pemuda pembajak ladang" yang diumpamakan oleh Tyndale.[13][14]
George Steiner dalam bukunya tentang terjemahan After Babel mengacu kepada "pengaruh jenius Tyndale, penterjemah terbesar Alkitab bahasa Inggris..." [After Babel halaman 366]
Memorial[sunting | sunting sumber]
Ada tempat peringatan untuk Tyndale di Vilvoorde, di mana ia dihukum mati. Didirikan pada tahun 1913 oleh Friends of the Trinitarian Bible Society of London dan the Belgian Bible Society.[15] Juga terdapat William Tyndale Museum kecil di kota itu, bersebelahan dengan gereja Protestan.[16]
Patung tembaga karya Sir Joseph Boehm untuk memperingati hidup dan karya Tyndale didirikan di Victoria Embankment Gardens di tepi sungai Thames (Thames Embankment), London pada tahun 1884. Digambarkan tangan kanannya pada Alkitab yang terbuka, yang terletak di atas mesin percetakan kuno.
Tyndale Monument (monumen Tyndale) dibangun tahun 1866 di sebuah bukit di dekat tempat kelahirannya, North Nibley.
Sejumlah college, sekolah dan pusat studi menggunakan namanya sebagai penghormatan, termasuk Tyndale House di Cambridge, Tyndale University College and Seminary diToronto, the Tyndale-Carey Graduate School yang berhubungan dengan the Bible College of New Zealand, Selandia Baru; William Tyndale College (Farmington Hills, Michigan), dan Tyndale Theological Seminary (Shreveport, Louisiana, dan Fort Worth, Texas), juga Tyndale Theological Seminary independen di Badhoevedorp, dekat Amsterdam, Belanda.[17]
Penerbitan Kristen di Amerika Serikat, juga bernama Tyndale House, untuk menghormati Tyndale.
Sesuai tradisi, kematian Tyndale diperingati setiap tanggal 6 Oktober.[18] Ada sejumlah acara peringatan pada hari itu di kalender gereja anggota Anglican Communion, mulanya sebagai satu dari "hari-hari ibadah tambahan" dalam American Book of Common Prayer (1979)[19], dan "black-letter day" (hari surat hitam) dalam Alternative Service Bookterbitan Church of England.[20] The Common Worship yang dipakai oleh Church of England pada tahun 2000 menyediakan collect proper untuk tanggal 6 Oktober, dimulai dengan kata-kata:
"Tuhan, berilah umatmu rahmat untuk mendengar dan menyimpan Firman-Mu agar, mengikuti teladan hamba-Mu William Tyndale, kami tidak hanya mengakui Injil-Mu, tetapi juga sedia menderita dan mati untuknya, untuk memuliakan Nama-Mu; …"
Tyndale juga dihormati dalam Calendar of Saints di gereja Lutheran dari Evangelical Lutheran Church in America sebagai penterjemah dan martir pada hari yang sama. Berintegritas Seperti Kristus
Selama tahun-tahun tersebut, Tyndale juga memberi diri untuk melakukan pekerjaan baik secara nyata dan berkata, "Bagianku bukan di dalam Kristus jika hatiku tidak mengikuti dan hidup sesuai dengan apa yang kuajarkan." Setiap hari Senin, Tyndale mengunjungi orang-orang yang mengungsi dari Inggris karena faktor agama, seperti dirinya. Setiap hari Sabtu, dia menelusuri jalanan Antwerp sambil melayani orang-orang miskin. Setiap hari Minggu, dia makan malam di rumah para pedagang serta membacakan Kitab Suci sebelum dan sesudah makan malam. Sisa hari dalam seminggu, dia dedikasikan untuk menulis traktat-traktat dan buku-buku serta menerjemahkan Alkitab. (t/Setya)
================================================
William Tyndale
Born c. 1494
Died c. 6 October 1536
Cause of death Executed by strangling, then burnt at the stake
Alma mater Magdalen Hall, University of Oxford
Known for Tyndale Bible
William Tyndale (/ˈtɪndÉ™l/;[1] sometimes spelled Tynsdale, Tindall, Tindill, Tyndall; c. 1494–1536) was an English scholar who became a leading figure in Protestant reform in the years leading up to his execution. He is well known for his translation of the Bibleinto English. He was influenced by the work of Desiderius Erasmus, who made the Greek New Testament available in Europe, and byMartin Luther.[2] While a number of partial translations had been made from the seventh century onward, the spread of Wycliffe's Bible resulted in a death sentence for any unlicensed possession of Scripture in English—even though translations in all other major European languages had been accomplished and made available.[3][4] Tyndale's translation was the first English Bible to draw directly from Hebrew and Greek texts, the first English one to take advantage of the printing press, and first of the new English Bibles of the Reformation. It was taken to be a direct challenge to the hegemony of both the Church of England and the laws of England to maintain the church's position. In 1530, Tyndale also wrote The Practyse of Prelates, opposing Henry VIII's divorce from Catherine of Aragon on the grounds that it contravened Scripture.
Reuchlin's Hebrew grammar was published in 1506. Tyndale worked in an age in which Greek was available to the European scholarly community for the first time in centuries. Erasmus compiled and edited Greek Scriptures into the Textus Receptus—ironically, to improve upon the Latin Vulgate—following the Renaissance-fueling Fall of Constantinople in 1453 and the dispersion of Greek-speaking intellectuals and texts into a Europe which previously had no access to them. When a copy of The Obedience of a Christian Man fell into the hands of Henry VIII, the king found the rationale to break the Church in England from the Roman Catholic Church in 1534.[5][6][page needed]
In 1535 Tyndale was arrested and jailed in the castle of Vilvoorde (Filford) outside Brussels for over a year. In 1536 he was convicted of heresy and executed by strangulation, after which his body was burnt at the stake. His dying prayer that the King of England's eyes would be opened seemed to find its fulfillment just two years later with Henry's authorization of the Great Bible for the Church of England—which was largely Tyndale's own work. Hence, the Tyndale Bible, as it was known, continued to play a key role in spreading Reformation ideas across the English-speaking world and, eventually, to the British Empire.
In 1611 the 54 scholars who produced the King James Bible drew significantly from Tyndale, as well as from translations that descended from his. One estimate suggests the New Testament in the King James Version is 83% Tyndale's and the Old Testament 76%.[7] With his translation of the Bible the first to be printed in English, and a model for subsequent English translations, in 2002, Tyndale was placed at number 26 in the BBC's poll of the 100 Greatest Britons.
Tyndale was born at some time in the period 1484–1496 in Melksham Court, Stinchcombe, a village near Dursley, Gloucestershire. The Tyndale family also went by the name Hychyns (Hitchins), and it was as William Hychyns that Tyndale was enrolled at Magdalen Hall, Oxford. Tyndale's family had moved to Gloucestershire at some point in the 15th century, probably as a result of the Wars of the Roses. The family derived from Northumberland via East Anglia. Tyndale's brother, Edward, was receiver to the lands of Lord Berkeley as attested to in a letter by Bishop Stokesley of London.[10] Tyndale is recorded in two genealogies[11][12] as having been the brother of Sir William Tyndale, of Deane, Northumberland, and Hockwald, Norfolk, who was knighted at the marriage of Arthur, Prince of Wales to Catherine of Aragon. Tyndale's family was thus derived from Baron Adam de Tyndale, a tenant-in-chief of Henry I (see Tyndall). William Tyndale's niece, Margaret Tyndale, was married to the Protestant martyr Rowland Taylor, burnt during the Marian Persecutions.[citation needed]
At Oxford[edit]
Tyndale began a Bachelor of Arts degree at Magdalen Hall (later Hertford College) of Oxford University in 1506 and received his B.A. in 1512; the same year becoming asubdeacon. He was made Master of Arts in July 1515 and was held to be a man of virtuous disposition, leading an unblemished life.[13] The M.A. allowed him to start studyingtheology, but the official course did not include the systematic study of Scripture. As Tyndale later complained:
They have ordained that no man shall look on the Scripture, until he be noselled in heathen learning eight or nine years and armed with false principles, with which he is clean shut out of the understanding of the Scripture.
A gifted linguist, over the years he became fluent in French, Greek, Hebrew, German, Italian, Latin, and Spanish, in addition to English.[14] Between 1517 and 1521, he went to the University of Cambridge. Erasmus had been the leading teacher of Greek there from August 1511 to January 1512, but not during Tyndale's time at the university.[15]
Tyndale became chaplain at the home of Sir John Walsh at Little Sodbury and tutor to his children around 1521. His opinions proved controversial to fellow clergymen, and the next year he was summoned before John Bell, the Chancellor of the Diocese of Worcester, although no formal charges were laid at the time.[16] After the harsh meeting with Bell and other church leaders, and near the end of Tyndale's time at Little Sodbury, John Foxedescribes an argument with a "learned" but "blasphemous" clergyman, who had asserted to Tyndale that, "We had better be without God's laws than the Pope's." Tyndale responded: "I defy the Pope, and all his laws; and if God spares my life, ere many years, I will cause the boy that driveth the plow to know more of the Scriptures than thou dost!"[17][18]
Tyndale left for London in 1523 to seek permission to translate the Bible into English. He requested help from Bishop Cuthbert Tunstall, a well-known classicist who had praised Erasmus after working together with him on a Greek New Testament. The bishop, however, declined to extend his patronage, telling Tyndale he had no room for him in his household.[19] Tyndale preached and studied "at his book" in London for some time, relying on the help of a cloth merchant, Humphrey Monmouth. During this time he lectured widely, including at St Dunstan-in-the-West.
In Europe[edit]
Tyndale left England and landed on continental Europe, perhaps at Hamburg, in the spring of 1524, possibly traveling on to Wittenberg. The entry of the name "Guillelmus Daltici ex Anglia" in the matriculation registers of the University of Wittenberg has been taken to be a Latinization of "William Tyndale from England".[20] At this time, possibly in Wittenberg, he began translating the New Testament, completing it in 1525 with assistance from Observant friar William Roy.
The beginning of the Gospel of John, from Tyndale's 1525 translation of the New Testament.
In 1525 publication of the work by Peter Quentell, in Cologne, was interrupted by the impact of anti-Lutheranism. A full edition of the New Testament was produced in 1526 by the printer Peter Schoeffer in Worms, a free imperial city then in the process of adopting Lutheranism.[21]More copies were soon printed in Antwerp. The book was smuggled into England and Scotland; it was condemned in October 1526 by Bishop Tunstall, who issued warnings to booksellers and had copies burned in public.[22] Marius notes that the "spectacle of the scriptures being put to the torch. . .provoked controversy even amongst the faithful."[22] Cardinal Wolsey condemned Tyndale as a heretic, first stated in open court in January 1529.[23]
From an entry in George Spalatin's Diary, for 11 August 1526, Tyndale apparently remained at Worms for about a year. It is not clear exactly when he moved to Antwerp. The colophon to Tyndale's translation of Genesis and the title pages of several pamphlets from this time purported to have been printed by Hans Luft at Marburg, but this is a false address: Hans Luft, the printer of Luther's books, never had a printing press at Marburg.
William Tyndale, before being strangled and burned at the stake, cries out, "Lord, open the King of England's eyes". woodcut from Foxe's Book of Martyrs (1563).
It is possible that Tyndale intended to carry on his work from Hamburg in about 1529. He revised his New Testament and began translating the Old Testament and writing various treatises.[citation needed]
Opposition to Henry VIII's divorce[edit]
In 1530 he wrote The Practyse of Prelates, opposing Henry VIII's planned divorce from Catherine of Aragon in favour of Anne Boleyn on the grounds that it was unscriptural, and was a plot by Cardinal Wolsey to get Henry entangled in the papal courts of Pope Clement VII.[25] The king's wrath was aimed at Tyndale: Henry asked the Emperor Charles V to have the writer apprehended and returned to England under the terms of the Treaty of Cambrai; however, the Emperor responded that formal evidence was required before extradition.Tyndale developed his case inAn Answer unto Sir Thomas More's Dialogue.
Betrayal and death
Memorial to William Tyndale in a Vilvoorde public garden
Eventually, Tyndale was betrayed by Henry Phillips [28] to the imperial authorities,[29] seized in Antwerp in 1535, and held in the castle of Vilvoorde (Filford) near Brussels.[30] He was tried on a charge of heresy in 1536 and was condemned to be burned to death, despite Thomas Cromwell's intercession on his behalf. Tyndale "was strangled to death while tied at the stake, and then his dead body was burned".[31] His final words, spoken "at the stake with a fervent zeal, and a loud voice", were reported as "Lord! Open the King of England's eyes."[32] The traditional date of commemoration is 6 October, but records of Tyndale's imprisonment suggest the actual date of his execution might have been some weeks earlier.[33] Foxe gives 6 October as the date of commemoration (left-hand date column), but gives no date of death (right-hand date column).[30]
Within four years four English translations of the Bible were published in England at the King's behest,[a] including Henry's official Great Bible. All were based on Tyndale's work.
Theological views[edit]
Tyndale denounced the practice of prayer to saints.[34] He taught justification by faith, the return of Christ, and mortality of the soul.[35]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.