animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Selasa, 23 Agustus 2016

KESAKSIAN BAPAK YEHEZKIEL IMMANUEL - MUJIZAT YANG DIA ALAMI SELAMA KERUSUHAN SAMPIT YANG MENELAN BANYAK KORBAN JIWA, TRAGEDI KERUSUHAN SAMPIT (KALIMANTAN, INDONESIA) - MENELAN RATUSAN KORBAN JIWA



KESAKSIAN BAPAK YEHEZKIEL IMMANUEL - MUJIZAT YANG DIA ALAMI SELAMA KERUSUHAN SAMPIT YANG MENELAN BANYAK KORBAN JIWA 


Bpk. Yehezkiel ini (sekitar usia 30th an) asli Madura, alias Madura asli beristrikan seorang turunan Dayak asli. Beliau memulai ceritanya bahwa dari lahir adalah keturunan 'sepupu', usia17 thn masuk sekolah 'teologianya sepupu', sewaktu dewasa hijrah ke Sampit, Kalimantan. Di sana kerjanya adalah "ngerjain" orang-orang Kristen yang amat ia dan kelompoknya benci. Setiap Hari Minggu mereka sengaja mengangkat penutup 'pengontrol got' supaya orang2 Kristen yang mau ke gereja yang melewati trotoar terjebak jatuh ke dalam got! Tidak sedikit korban yang keseleo dan luka. Hampir setiap subuh ia mengantongi batu-batu khusus melempari gereja-gereja, pokoknya benci banget dah!

Bpk. Yehezkiel ini kemudian berkenalan dengan seorang perempuan asli suku Dayak di sana, yang mana sama sekali tidak memakai atribut Kristiani sehingga ia tidak tau kalau wanita ini orang Kristen. Namun setelah wanita ini mengaku jatuh hati padanya, dan ketahuan bahwa ia seorang nasrani tentulah ditolak mentah-mentah. Tapi karena sang wanita berjanji mau pindah kepercayaan dan bersedia menikah secara hukum agamanya, maka merekapun singkatnya menikah. Ternyata sang istri sesudah menikah tetap berdoa dengan cara 'lama', bukannya belajar Al Quran, melainkan terus membaca kitab sucinya sendiri. Pertikaian sering terjadi, dan Bpk.Yehezkiel ini tidak tanggung-tanggung, bukan menampar saja, melainkan amarahnya bisa sampai memukul, menganiaya bahkan menginjak istrinya! Sudahpun demikian, sang istri hanya berkata, "dibunuhpun saya tidak apa-apa, asal jangan engkau suruh saya menyembah Tuhanmu, dan jangan bakar Alkitab saya ini. Saya sudah siap membayar harga sejak saya menikah denganmu." Istrinya tetap mendoakan dia.

Suatu kali (th 2001 - edited) terjadi kerusuhan besar di Sampit, dimana orang Dayak membantai orang-orang Madura, memenggal kepala mereka dan memakan daging mereka! Bpk. Yehezkiel sangatlah ketakutan! Betapa tidak, orang Dayak yang memiliki kuasa gelap ini bisa "mencium" bau orang Madura dari jarak 500 meter! Beliaupun meminta tolong istrinya bagaimana caranya melindungi dia. Istrinya berkali-kali menjawab, "Saya tidak bisa melindungimu. Yang bisa menolong kamu adalah Tuhan Yesus, IA Tuhan yang hidup, yang menolong anak-anakNya tepat pada waktunya. Tidak ada yang mustahil bagi DIA, jadi minta tolonglah padaNya."

Tentu saja Bpk. Yehezkiel jadi marah, "ngapain minta tolong sama Tuhan mu yang gondrong, Tuhannya orang barat!". Tapi ketika ketakutan menghantuinya kembali dia minta tolong istrinya,"kan kamu orang Dayak, gimana lah caranya ngomong sama mereka! Kalau aku mati, gimana? "Istrinya berkata, "kalau kamu mati, ya kehendak Tuhan... Hanya Tuhan Yesus yang bisa menolong kamu, bukan saya." Karena buntu, ia pun terpaksa memutuskan ikut ke pengungsian, tetapi istri tidak bersedia ikut, anak mereka waktu itu baru beberapa bulan usianya. Karena truk sudah datang, istrinya membawakan beliau sebuah tas kecil, sambil berpesan, "semua yang kamu perlukan Ada dalam tas itu." Bpk.Yehezkiel tidak sempat membuka apa isinya, pokoknya dia percaya saja, lalu naik ke truk dan duduk paling pojok, penuh dengan rasa takut. Truk tersebut dikawal oleh 4 orang tentara, di dalamnya Ada sekitar 20 orang. Tiba2 di tengah jalan mereka bertemu dengan segerombolan orang Dayak yang jumlahnya hampir seratus, berteriak agar diserahkan orang-orang Madura yang di dalam truk. Merasa bertanggung jawab, seorang tentara berkata, "tidak bisa! Langkahi dulu kami!" Tentara tersebut menembak, tetapi sebuah 'sumpit beracun' menghujam dadanya, tentara itu tewas seketika!

Teman-temannya berlari dan meninggalkan ke 20 orang Madura di dalamnya. Wah, mereka tentu takut setengah mati! Semua sembahyang dan komat-kamit, hanya Bpk. Yehezkiel yang 'kelu', ketakutan menyergap dia sehingga tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba seorang ibu muda berdiri, sambil membopong bayinya, mungkin bermaksud meminta belas kasihan.......namun hanya dalam hitungan detik, kepalanya sudah jatuh ke tanah, dengan darah yang tersembur dari batang leher yang putus! Suaminya reflek berdiri menangkap bayinya, segera sebuah tombak menembus perutnya!

Saat itulah, Bpk. Yehezkiel"coba-coba" (siapa tahu benar kata istrinya) berseru dalam hati,"Tuhannya istriku... Kalau benar Engkau Tuhan yang hidup dan tidak Ada yang mustahil bagiMu, maka permintaanku sangatlah mustahil : aku ingin selamat! Dan kalau aku selamat maka seumur hidupku sampai selama-lamanya aku akan menyembah Engkau." Dalam sekejab, ia merasakan ada sesuatu yang membungkus tubuhnya. Segera satu persatu orang-orang dalam truk itu dibantai, Dan iapun harus berdiri...... tetapi aneh sekali, sekian banyak orang Dayak itu tidak ada yang melihatnya! Ia berjalan di antara orang-orang Dayak dengan penuh keheranan, lalu berlari terus menuju sungai yang di pinggir jalan. Di belakangnya ia melihat 3 orang mengejar, ia kira mengejar dirinya, ternyata........mereka 'membaui' ada orang Madura yang bersembunyi dalam sungai, orang itupun mati ditombak! Tetapi tetap saja mereka tidak melihat dan 'membaui' Bpk.Yehezkiel yang ada di seberang sungai yang sama........sesuatu yang "mustahil" sudah Tuhan lakukan. 

Apa yang ia harus lakukan sekarang? Sesudah peristiwa itu berakhir, ia kembali ke jalan raya dan berdoa (kali ini bersuara). "Tuhannya istriku, kamp penampungan masih 8.5 km dari sini, saya tidak tahu harus bagaimana...bukankah tidak ada yang mustahil bagiMu, dan Engkau menolong anak-anakMu tepat pada waktunya?"Seketika itu, sebuah mobil tentara lewat dan berhenti di depannya! "Bapak orang Madura kan ? Ayo cepat naik, kami mau ke penampungan, hari ini penyisiran terakhir orang-orang Madura harus keluar dari Sampit!" Terheran-heran ia melihat pekerjaan 'Tuhan istrinya'... Sampai di kamp, puluhan ribu orang-orang Madura di sana berkumpul. Karena sangat lapar, ia mencoba membeli makanan, ternyata uang nya yang banyak itu tidak laku! Saat itu, sebuah sepeda motor hanya ditukar dengan 1 dus supermi dan 1 karton aqua. Untuk 3 dus supermi + 3 karton aqua ditukar dengan sebuah mobil L300, harta tidak lagi berharga! Ia sangat kelaparan, dibukanya tas kecil mengingat pesan istrinya, "apa saja yang kamu butuhkan ada di situ" - ternyata... isinya "hanya" sebuah Alkitab!

Maka sekali lagi ia berdoa, "Tuhan istriku... Engkau sudah menyelamatkan aku sejauh ini, pastilah tidak membiarkan aku mati kelaparan. "Mustahil" rasanya mendapatkan makanan di tengah situasi begini, tetapi bukankah tidak ada perkara yang mustahil bagiMu?" Lalu ia beranjak keluar, berjalan saja mengitari pinggiran camp, ternyata seorang teman melihat dia dan memanggil namanya lalu membagikannya makanan, GRATIS! Bukan hanya cukup untuk dirinya, ia juga bahkan bisa membagikan pada beberapa orang lain. Luar biasa! 

Sesudah itu tiba2 terdengar suara speaker, diumumkan ada truk2 yang siap mengangkut 3.000 orang ke Surabaya subuh nanti (12 jam dari waktu itu), jadi yang mau ikut diharapkan naik ke truk. Maka mengerikan sekali, orang-orang berhamburan berebutan naik ke atas truk, bahkan bergelantungan di badan truk, yang penting bisa ikut terangkut ke pelabuhan. Ketakutan membuat orang-orang ini kehilangan akal, betapa tidak... di dalam kamp pun kadang-kadang ada yang bisa tertombak mati. Tidak sedikit yang mati terinjak-injak saat itu!

Bpk. Yehezkiel 'bengong' melihat truk2 yang 'diselimuti' manusia, dan ia berdoa, "Tuhannya istriku... aku ingin ke Surabaya, tapi tidak bisa dan tidak mau naik truk yang seperti itu... " Tiba-tiba ketika ia sedang berdiri di pinggir kamp, sebuah truk lewat, isinya hanya beberapa orang! Truk itu ternyata milik ipar pamannya, dan iapun naik ke truk itu. Sampai di pelabuhan, begitu truk mereka naik ke kapal, pintu kapalpun ditutup. Masih ratusan orang yang tidak terangkut, seorang ibu tampak meratap, memohon belas kasihan, "suami dan bayi saya sudah naik Pak, tolong saya bisa ikut... kasihan bayi saya bisa mati kalau tidak ada yang menyusui...tolonglah saya, Pak..." Tetapi tanpa belas kasihan petugas berkata, "Gak bisa ! Kalau diijinkan pada naik akan melebihi kapasitas!" Tali dilepas dari darmaga, hati Bpk. Yehezkiel terenyuh melihat ibu itu. Kapal sudah mulai berjalan perlahan, ia kembali berdoa, "Tuhannya istriku... kalaupun saya tidak ikut, saya ingin ibu itu bisa naik menggantikan saya..." Ternyata kapal merapat kembali, terdengar suara kapten dari speaker, "Semua penumpang yang masih ada di dermaga pelabuhan cepat naik!"

Sungguh, semua yang "mustahil" dan "pertolongan yang tepat waktu" terus terjadi sepanjang hari, membuat Bpk. Yehezkiel 'melihat' betapa Tuhan istrinya itu, Tuhan Yesus, adalah Tuhan yang hidup! Melewati 7 thn berlalu, Bpk. Yehezkiel menyadari, karena seorang istri yang bersedia membayar harga, ia saat ini mengenal dan melayani Tuhan Yesus. Dalam perjalanan pulang di mobil, kami ber-3, rekan saya bilang, 'istrinya luar biasa!'. Bener, tapi memang untuk menyelamatkan seorang Yehezkiel (Arifin), istrinya itu ditempatkan dan dilengkapi dengan karunia tersebut, maka ia siap membayar harga. Kalo enggak, ampun deh...tolooonggg....mana tahan.


"Love your enemies and pray for those who persecute you" Mat 5:44) "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya - Yoh 20:29" )


Sumber : Milis
(Kesaksian diatas benar adanya, saat saya beribadah di GBI Sudirman 2 pada tanggal 5 Agustus 2007, saya mendengar langsung kesaksiannya dari Bp. Yehezkiel Imanuel (Nurul Arifin) tersebut - Daniel)

****************************************************************


Tribuntime.com – Kerusuhan Sampit dengan korban beberapa ratus jiwa nyatanya cuma berawal dari perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak warga Dayak serta Madura.



Perkelahian siswa tersebut, yang lalu menyebabkan perseteruan antarkeluarga, antaretnis, sampai pembantaian hingga pengusiran beberapa puluh ribu warga Madura. Anak polah, bapa kepradah.

Pepatah Jawa yang bermakna anak berbuat, orangtua turut ikut serta ini berlangsung atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura yang telah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tidak terima anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Namun, keterlibatan Matayo atas perkelahian anaknya ini jadi menyebabkan kegeraman warga dayak. Lantas, dibuatlah perhitungan.

Minggu awal hari sekitaran jam 03. 00 (18 Februari) sekumpulan pemuda Dayak menyerang serta membunuh Matayo. Tiga orang anggota keluarganya turut tewas. Itu versus warga Madura. Versus warga Dayak agak tidak sama lagi.

Dia katakan, eksekusi pada Matayo serta keluarganya berlangsung lantaran yang berkaitan kerap lakukan tindak kriminil. Warga setempat juga kesal lantaran kerap dirugikan. Cuma empat jam, eksekusi Dayak pada Matayo ini menebar.

Warga Madura tidak dapat terima. Beberapa warga pendatang ini lalu menyatroni Ketua Instansi Musyawarah Orang-orang Dayak, Seruyan Tengah, untuk membalas dendam. Komplit dengan beragam senjata, warga Madura ini minta Iniel menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di tempat tinggalnya. Mereka meneror bakal membakar bila pelaku tak diserahkan.

Namun, 39 orang didalam tempat tinggal Iniel tak keluar. Warga Madura mulai tak sabar. Mereka melemparkan apa sajakah ke pagar serta kaca tempat tinggal. Bahkan juga, ada yang berupaya membakar tempat tinggal. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lantas mengamankan 39 orang yang ada dirumah Iniel. Beberapa memanglah mengakui membunuh Matayo.

Namun, warga Madura tak senang serta mengarahkan amarahnya ke warga Dayak yang lain. Sebagian tempat tinggal warga Dayak dibakar. Nasib tragis dihadapi Jihan atau Seyan, seseorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta ketujuh anak serta cucunya yang beritanya masihlah kerabat Iniel dibakar hidup-hidup dalam tempat tinggalnya.

Mulai sejak hari itu, warga Madura kuasai Sampit. Dengan mengacung-acungkan senjata, beberapa puluh warga Madura pawai keliling kota. Mereka memakai beragam kendaraan, mulai roda dua hingga roda empat. Mereka tidak cuma berpawai. Tiap-tiap berjumpa warga Dayak, mereka menguber serta membunuhnya. Sekurang-kurangnya, sepuluh tempat tinggal dibakar.

Tujuh orang tewas waktu warga Madura kuasai Sampit. Bahkan juga, seseorang ibu muda hamil tujuh bln. turut dibunuh dengan dirobek perutnya. ” Itu kenyataan, ” kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal Sungai Samba. Kondisi itu bikin Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam keseluruhan. Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berjalan sporadis. Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan tempat tinggal jabatan bupati sampit. Namun, lalu diarahkan ke kantor bupati.

Yang mengungsi tidak cuma warga Madura. Juga Dayak serta Cina. Mereka berdesak-desakan mengungsi. Ini berlangsung lantaran mereka belum tahu benar siapa yang kuasai jalanan di Sampit malam itu, Madura atau Dayak.

Di pengungsian, Madura serta Dayak jadi rukun. ”Saya waktu itu turut mengungsi” tutur seseorang wartawan lokal. Untuk menghadang orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura lakukan penjagaan di pertigaan Desa Bajarum yang menghadap kota Kecamatan Kota Besi.

Penjagaan juga berlangsung di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, serta desa-desa pedalaman Hilir Mentayan. Sepanjang berpawai itu, warga Madura selalu berteriak-teriak mencari tokoh Dayak.

” Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak? ” tantang mereka. Tidak cuma itu, seseorang tokoh Madura lakukan orasi melalui pengeras nada, ” Sampit bakal jadi Sampang ke-2, Sampit jadi Sampang Ke-2 “.

Mereka juga menempatkan spanduk : Selamat datang orang Dayak di kota Sampang, Serambi Mekkah. ” Spanduk itu yang kami mencari saat ini, ” kata Bambang Sakti.

Bambang juga katakan sudah temukan beberapa bom di beberapa tempat tinggal warga Madura. ” Ini bukanlah isapan jempol, ” katanya. Sekurang-kurangnya, pasukan Dayak telah menyerahkan 300 bom yang diketemukan dirumah warga Madura. Demikian halnya sebagian pucuk pistol.

” Tidak paham bagaimana tindak lanjutnya, ” tuturnya. Beritanya, bom-bom itu dirakit di Jawa, lantas diantar ke Sampit. Namun, sumber Jawa Pos mengatakan, bom rakitan di buat di Sampit. Lantas, didistribusikan ke beragam warga Madura di kecamatan.

Mereka katakan bom itu untuk menjaga diri bila setiap saat terserang warga Dayak. Namun, lantaran bom itu juga, 112 warga Madura di Kecamatan Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini sesudah warga Dayak temukan bom dirumah seseorang warga Madura.

Lihat tindakan penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tidak tinggal diam. Mereka lalu membawa bala pertolongan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga Dayak yang tiba lebih dahulu lakukan perlawanan sporadis. Selasa malam (20 Februari), peta kemampuan mulai berbalik.

Warga Dayak pedalaman dari beragam tempat daerah aliran sungai (DAS) Mentaya, seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan juga Barito berdatangan ke kota Sampit lewat hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan Dayak pedalaman yang rata-rata berumur muda tidak lebih 25 th. membekali diri dengan beragam pengetahuan kebal. Jumlahnya sekitaran sekitar 320 orang.

Pasukan itu lantas menyusup ke daerah Baamang serta sekitarnya, pusat permukiman warga Madura. Walau dalam jumlah kecil, kekuatan bertempur pasukan spesial Dayak begitu teruji. Buktinya, mereka dapat memukul balik warga Madura yang terkosentrasi di beberapa pojok jalan Sampit.

Dengan pengetahuan kebal, mereka melawan beberapa ribu warga Madura. Bahkan juga, mereka mampu hadapi bom yang banyak dipakai warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seseorang warga Madura melemparkan bom ke arah pasukan Dayak.

Namun, bom bisa di tangkap serta dilemparkan kembali pada arah kerumunan Madura. Meledak. Beberapa puluh warga Madura tewas saat itu juga. Terkecuali kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tak mempan ditembak. Mereka malah memunguti peluru untuk dikantongi. Karenanya, polisi juga keder.

Mulai sejak itu, mental Madura juga segera down. Kiat yang diaplikasikan warga Dayak dalam serangan balik cukup tepat. Terkecuali masuk melalui Baamang, sekitaran empat perahu penuh pasukan dayak tak segera merapat ke bibir sungai.

Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota tepi sungai di tepian kota Sampit. Kiat ini untuk hindari pengawasan orang Madura. Lalu, dengan cara mendadak, mereka nampak serta menyerang permukiman Madura. Madura juga di buat kocar-kacir.

Pasukan Dayak pedalaman selalu bergerak ke kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau di kenal Jalan Gatot Subroto, serta S. Parman. Tempat tinggal tokoh Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan tidak luput dari tujuan. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang terbunuh. Beberapa lari. Beberapa becak sisa dibakar berantakan di halaman tempat tinggal yang hancur.

Tempat tinggal tokoh Madura lain seperti Haji Satiman serta Haji Ismail juga dihancurkan. Tak kecuali tempat tinggal Mat Nabi yang di kenal sebagai jagonya Sampit.

Sebenarnya, tempat tinggal tokoh-tokoh Madura yang ada di Sampit, Samuda, ataupun Palangkaraya termasuk cukup elegan. Serangan pasukan inti Dayak lalu diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari tempat tinggal serta warga di selama kota Sampit. Beberapa ratus warga Madura dibunuh dengan cara mengenaskan, lantas dipenggal kepalanya.

Hari-hari selanjutnya gelombang serangan suku Dayak selalu berdatangan. Bahkan juga, sebelumnya menyerang, seseorang tokoh atau panglima Dayak lebih dahulu membekali pengetahuan kebal pada pasukannya.

Karena, waktu dilakukan serangan, umumnya mereka ada dalam alam bawah sadar.
Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan orang Madura serta non-Madura. ” Dari jarak sekitaran 200 mtr., baunya telah tercium, ” tuturnya.

Itu tidak terlalu berlebih. Waktu ada evakuasi, di dalam jalan seseorang warga Madura disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelumnya masuk ke tempat penampungan, mereka terkena sweeping Dayak. Walau orang itu ada di dalam pengungsi, masihlah tercium serta diminta turun. Tanpa ada ampun, lelaki tadi dibantai.

Supaya serangan ke perkampungan Madura teratasi, beberapa komando warga Dayak memakai Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan juga, di hotel tersebut pasukan di beri ramuan pengetahuan kekebalan oleh beberapa panglima. Waktu digerebek, aparat temukan sebagian kepala manusia. Namun, beberapa tokohnya pernah melepaskan diri. Saat ini, di depan hotel bertingkat dua itu dibentangkan police line.

Ada diatas angin, pasukan Dayak lantas memperlebar serangan ke beragam kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Tujuan pertama, Samuda, ibu kota Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, serta Parebok yang banyak ditempati warga Madura. Samuda serta Parebok jadi tujuan sesudah Sampit lantaran banyak tokoh Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok ada juga Ponpes Libasu Taqwa.
Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini dapat jadikan tempat berlindung banyak warga Madura.

Warga Madura di kecamatan lain juga tak terlepas dari buruan. Umpamanya, Kuala Kuayan. Beberapa ratus korban jatuh dengan kepala terpenggal. Saat ini, warga Dayak praktis kuasai nyaris semua lokasi Kalimantan Tengah. Terkecuali Pangkalan Bun. Kota ini aman lantaran nyaris tidak ada warga Madura yang tinggal di semuanya kota kecamatan. Penghuninya, waktu itu, banyak yang lari menyelamatkan diri ke rimba, baik Palangkaraya, Sampit, ataupun Samuda.

Bohong, bila Gubernur Kalimantan tengah Asnawi Agani menyampaikan orang Madura yang tewas 200 orang, walau itu info yang datang dari Posko Sampit. Hal semacam ini disebutkan beberapa orang Madura yang turut naik KRI Teluk Ende 517. Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK serta pengungsi dapat lihat beberapa puluh mayat yang mengapung di selama sungai, serta beberapa bangunan tempat tinggal warga Madura serta Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus.

Disebutkan seseorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), kalau yang terlihat di sungai saja ada beberapa puluh yang mengapung serta tersangkut di tepi. Sesaat yang tenggelam serta terbenam kian lebih 200 warga etnis Madura. ” Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di tepi selama Jl. Masjid Nur Agung saja tak kurang dari 200 mayat, ” tuturnya.

Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur.

Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong.

Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas.

Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk, sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura. Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk…, kuluk…, sambug-menyambung muncul dari segala penjuru.

Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. “Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak,” kata Sopian.

Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat.

Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. “Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja,” kata Sopian.

Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.

Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman. Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian.

Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.

Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. “Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai,” kata Choiri.

Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak. Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta.

Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang.

Berawal suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh.

Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak.

Analisa

Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini sebagai Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang merugikan harta dan nyawa orang Dayak.

Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian. Tapi, setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. “Paling tidak sudah ada 15 kali perdamaian.

Tapi, hasilnya sama selalu dilanggar warga Madura,” kata Usop saat pertemuan tokoh masyarakat Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit Batu tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh Dayak dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu.

Yakni, Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali ada pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak berdatangan ke Kalimantan. “Dokumen itu yang kini sedang kami cari,” tambha Usop.

Menurut Dr Thamrin Amal Tomagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, ada empat faktor utama akar konflik di Kalimantan, yaitu;

1. Terjadinya proses marginalisasi suku Dayak. Pendidikan yang minim dan sedikitnya warga Dayak yang bisa menikmati pendidikan mengakibatkan sedikitnya warga Dayak yang duduk di pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah lebih banyak di pegang oleh warga pendatang.

2. Penempatan transmigran di pedalaman Kalimantan yang mengakibatkan singgungan hutan. Hutan bagi masyarakat Dayak adalah tempat tinggal dan hidup mereka. Ketika transmigran ditempatkan di pedalaman Kalimantan, dan mereka melakukan penebangan hutan, kehidupan masyarakat Dayak terganggu. Sejak tahun 1995 para transmigran di tempatkan di pedalaman Kalimantan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menempatkan transmigran di pesisir. Para pendatang baru inilah, yang dikenal keras dan pembuat masalah, tidak seperti pendatang-pendatang sebelumnya. Selain soal transmigrasi, pemerintah juga telah memberikan keleluasaan bagi para pengusaha untuk membuka hutan melalui HPH.

3. Masyarakat Dayak kehilangan pijakan, terganggunya harmoni kehidupan masyarakat Dayak mengakibatkan masyarakat Dayak kehilangan pijakan. Kekuatan adat menjadi berkurang. Kebijakan-kebijakan pemerintah telang menghilangkan/mengurangi identitas mereka sebagai masyarakat adat.

4. Hukum yang tidak dijalankan dengan baik mengakibatkan banyaknya terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dibiarkan. Proses pembiaran ini berakibat pada lemahnya hukum dimata masyarakat, sehingga masyarakat menggunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan, diantaranya dengan menggunakan kekerasan.

Sumber :sumber dari :archive.kaskus.co.id

http://www.tribuntime.com/2016/02/21/teragedi-kerusuhan-sampit-vs-madura-mengerikan-potong-kepala/


****************************************************************

Lolos dari Kerusuhan Sampit 

Pemuda ini adalah seorang guru agama, sebut saja namanya Nur, tinggal 17 km dari Sampit, Kalimantan Tengah. Dia adalah seorang pendatang dari sebuah pulau di Jawa Timur. Pada waktu itu dia sangat benci orang Kristen. Dia sering mengerjai orang-orang yang akan berangkat beribadah pada hari Minggu. Lubang-lubang got dibuka dan ditutupi dengan rumput kering atau jerami, sehingga orang yang menginjak lubang itu akan terperosok, memar-memar, keseleo, atau bisa-bisa patah tulang. Kalau melihat orang-orang celaka yang terjebak lubang sehingga tidak jadi beribadah, ia dan teman-temannya sangat puas dan senang sekali. Tidak jarang ia dan teman-teman mengumpulkan batu-batu dan mereka melempari gedung-gedung gereja. Saking fanatiknya, apabila ia tanpa sengaja berkunjung ke rumah seorang kristen, maka ia akan mandi kembang di rumah untuk menyucikan diri. 

Nur ini rupanya ingin belajar gitar. Di desa itu ada seorang pria yang mahir sekali bermain dan mengajarkan gitar. Ia berguru gitar sekitar sebulan lamanya dan ia juga mengenal puteri gurunya, Eva. Selama belajar gitar di rumah gurunya, Nur tak menduga bahwa keluarga Eva adalah orang Kristen, karena di rumah itu tak ada tanda salib, atau kalender kristiani yang memuat gambar Tuhan Yesus.

Pada suatu hari Eva, puteri gurunya, mengajak ngobrol serius. Setelah berbasa-basi ngalor ngidul, Eva memberanikan diri bilang, "Mas, saya ini senang sama mas Nur. Eva cinta sama sampean." Nur kaget sekali mendengar pengakuan polos dan spontan dari gadis Dayak ini. Nur tersanjung. Wah, selama ini tak ada gadis yang berani lebih dahulu menyatakan cinta kepada dirinya. Namun, karena gengsi, Nur cuma berkata, "Yah,lihat nanti deh..." Dia tidak berani menanggapi cinta Eva karena ia belum mengenal gadis manis ini. 

Beberapa hari kemudian Nur bertemu dengan seorang gadis, yang rupanya adalah kenalan Eva juga. Mereka mengobrol, dan Nur yang ingin kenal Eva lebih lanjut bilang kepada gadis teman Eva ini, "Gimana ya kalo Eva naksir saya?" Temannya kaget, "Lho, 'kan kalian beda agama?" Nur juga kaget karena baru tahu bahwa Eva adalah orang Kristen. Padahal selama ini ia sangat fanatik dan tidak mau berkunjung ke rumah mereka.

Pada kesempatan berikutnya Nur latihan main gitar lagi. Eva juga mencoba mendekati Nur. Ia mencoba meyakinkan Nur bahwa cintanya itu sungguh-sungguh, sehingga ia bilang, "Mas, kalau saya harus meninggalkan iman saya, saya rela asal bisa bersatu dengan mas Nur..." Dengan perkataan Eva ini, Nur mulai luluh hatinya karena ia juga mulai jatuh cinta pada gadis berkulit kuning langsat ini. 

Akhirnya mereka menikah di depan penghulu. Eva menyatakan diri memeluk agama suaminya. Mereka membina rumah tangga yang baru dengan penuh harapan dan impian sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Namun kebahagiaan dan bulan madu itu tidaklah berlangsung lama, karena pada suatu hari Nur memergoki Eva menyenandungkan lagu kristiani dan membaca Alkitab. 

Nur marah sekali. Nur merasa ditipu. Eva dihajar. Eva dipukuli. Eva ditendangi. Wajah Eva berdarah-darah, sekujur tubuhnya memar. Lehernya sampai kaku dihajar Nur, sehingga kalau Eva mau menengok, ia harus menggerakkan seluruh tubuhnya. Pada hari pertama Nur menghajar Eva dari pukul 12 siang sampai pukul 12 malam. Tiada hari tanpa siksaan. Nur ingin membakar Alkitab yang dibaca Eva, tapi Eva mempertahankan buku itu. Eva bilang, "Eva boleh dihajar, Eva boleh dipukuli, tapi jangan bakar Alkitab ini. Eva boleh disiksa, tapi jangan pisahkan Eva dari Tuhan Yesus. Eva boleh diapain aja, tapi jangan ceraikan Eva...." Eva memang rela membayar harga apapun untuk mempertahankan imannya. 

Hari-hari Eva dilalui dalam siksaan dan layaknya rumah tangga itu seperti neraka. Selama 11 bulan kemudian Eva harus menanggung amarah dan kebencian Nur yang merasa tertipu Eva. Keadaan itu berlangsung terus hingga suatu hari di tahun 2001 terjadi kerusuhan etnis di Sampit dan seluruh Kalimantan Selatan. Apa yang terjadi setelah itu? 

Kerusuhan Sampit dan di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 merupakan kerusuhan yang paling sadis di dunia. Mayat-mayat tanpa kepala berserakan di jalan-jalan. Kepala-kepala manusia diperlakukan tidak manusiawi, ditancapkan di pagar, dijadikan tontonan. Banyak tengkorak kepala sudah tidak ada otaknya lagi karena bagian itu dimakan orang-orang yang sudah kerasukan iblis. Kengerian menyebar kemana-mana, khususnya bagi saudara-saudara suku pendatang tertentu. 

Nur yang menikahi gadis Dayak tetap terancam jiwanya, karena keluarga Dayak inipun tidak dapat melindungi Nur dari ancaman suku Dayak yang baru turun dari gunung dan hutan belantara. Rupanya suku Dayak itu beraneka ragam, ada clan atau keluarga-keluarga yang berbeda-beda. Orang-orang sesama suku Nur dari pulau di Jawa Timur itu sudah pada mati dibantai. Yang dibantai bukan hanya pria dewasa, tetapi kakek-kakek, perempuan, anak-anak, bayi-bayi. Bau kematian ada dimana-mana. 

Nur minta tolong kepada isterinya, sebagai sesama orang Dayak, apakah dapat menolong Nur? Eva katakan, "Kami tidak dapat menolong mas, yang dapat menolong hanya Tuhan Yesus!" Kalau dalam keadaan normal, perkataan isterinya itu pasti mengundang amuk dan amarah Nur. Tapi pada saat itu Nur sudah ketakutan sekali. Kematian nampaknya sudah di depan mata. Tinggal menunggu giliran saja. Bahkan orang-orang Dayak keluarga Eva menganjurkan Nur untuk memakai mandau (pedang) mereka. Artinya, kalau Nur diserang, daripada tidak membela diri sama sekali, lebih baik bertahan atau menyerang dengan mandau itu. Tapi Nur tidak tertarik dengan ide ini.

Orang Dayak dari pedalaman mempunyai keistimewaan tertentu. Kalau hidung mereka sudah diolesi minyak tertentu yang sudah diberi mantera, maka mereka dapat mengendus dan melacak orang-orang dari suku seberang yang diburu mereka dari jarak 500 meter. Nur sebagai orang seberang yang sedang diburu tidak dapat bersembunyi. Pasti keberadaan Nur mudah dilacak mereka. 

Pada suatu pagi ada pengumuman dari aparat negara (TNI) yang mengumumkan bahwa pagi itu akan ada pengungsian terakhir dari desa itu ke Sampit. Empat anggota TNI akan mengawal mereka menempuh jarak 17 km ke Sampit. Mereka semua harus tiarap di bak truk untuk menghindari serangan dalam bentuk tembakan sumpit. Di Kalimantan, kalau ada orang disumpit, tergores sedikit saja, tidak usah tembus ke jantung, maka racun dari sumpit itu akan cepat bekerja dan membunuhnya. 

Dalam keadaan tergesa-gesa Nur mengajak anak dan isterinya untuk pergi mengungsi. Isterinya menolak. Nur tidak berdaya. Ia merasa dibiarkan sendirian. Dengan segera Nur hendak pergi, tapi ia ingat bahwa ia belum membawa bekal pakaian atau makanan. Ia meminta Eva, isterinya, menyiapkan segala keperluannya. "Ini, mas! Semua kebutuhan mas ada di dalam tas ini!" kata Eva sembari menyodorkan sebuah tas tenteng kecil. Dalam keadaan darurat dan sangat menegangkan, tanpa berpikir panjang Nur segera meraih tas kecil itu lalu meninggalkan anak dan isteri yang dicintainya di desa itu. 

Di dalam truk itu ada sekitar 20 orang pengungsi yang berasal dari suku yang sama dengan Nur, yang menjadi korban dan incaran suku setempat. Ada diantara mereka sepasang suami isteri yang membawa seorang bayi. Aparat TNI mengingatkan mereka semua agar tidak memunculkan kepala atau anggota badan, semua harus tiarap selama perjalanan karena bisa-bisa tembakan sumpit mengenai mereka dan fatal akibatnya. 

Di tengah jalan truk itu dicegat ratusan orang Dayak yang baru keluar dari hutan. Anggota TNI mengatakan, "Jangan ganggu, pengungsi ini sudah menyerah, mau diungsikan!"
"Tidak bisa, kami belum dapat jatah makan orang!"
"Jangan ganggu, nanti kami tembak!"

Orang-orang Dayak itu kebal dari tembakan senjata api. Mereka tidak takut, mereka maju merangsek mengepung truk itu. 
"Berhenti!" kata anggota TNI yang gagah berani itu yang siap menembakkan senapannya.

Gedebuk! Itu bunyi sesosok tubuh yang jatuh. Bukan orang Dayak yang jatuh, tapi anggota TNI itu jatuh, mati disumpit. Tiga anggota TNI yang lain segera lari tunggang langgang meninggalkan truk itu, lari ke hutan. Para pengungsi ditinggalkan. Para pengungsi yang berjumlah 20 orang, termasuk Nur, menunggu apa yang akan terjadi. Kematian sudah di depan mata. Orang-orang itu mengepung truk, mereka mengitari truk itu sambil meneriakkan pekik peperangan. Mereka mengelilingi truk itu dengan kepastian bahwa mereka pasti akan membantai habis semua orang yang ada di bak truk itu. Mereka menikmati ketegangan yang dialami korban mereka. 

Sepasang suami isteri itu mulai gelisah sekali. Isterinya berkata, "Mas, ayo kita lari ke luar! Kalau kita lari, masih ada kesempatan. Kalaupun mati, kita sudah berusaha, tidak pasrah dipenggal di sini. Ayo!" Isterinya secepat kilat bangkit, hendak turun dari bak truk itu. Secepat itu pula berkelebat mandau menebas leher perempuan itu. Kepala perempuan ini jatuh menggelinding di bak truk, lehernya memancarkan darah kemana-mana. Suaminya juga bangkit hendak melarikan diri. Kali ini sebatang tombak menembus dadanya, mati seketika. Lalu bayi yang digendongnya diambil. Para pengungsi ini mengira orang-orang ini akan berbelas kasihan kepada bayi yang tak berdaya. Namun apa yang terjadi? Bayi itu dilempar keatas setingggi-tingginya dan dibiarkan jatuh membentur tanah atau bebatuan. Kepala bayi yang masih lembut itu pecah berantakan. 

Semua pengungsi berdoa menurut keyakinan agama mereka. Semua tegang. Semua ketakutan. Semua menunggu nasib. Nur tiarap di pojokkan bak truk, tak berdaya. Ia juga tak dapat berdoa. Mulutnya terkunci melihat pemandangan mengerikan di depan mereka. Kematian tinggal selangkah di depan hidungnya. Satu persatu pengungsi dipenggal. Satu per satu otak mereka dimakan. Banjir darah ada di truk itu. Nur tinggal menunggu giliran.

Nur sangat ketakutan sekali. Ia lihat teman-teman sedaerahnya satu per satu dibunuh. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh menurut keyakinan mereka. Apakah ia harus mengaku orang Kristen yang kawin dengan orang Dayak agar diselamatkan? Nur tidak mau murtad. Nur tidak mau mengingkari imannya. Lagi pula tak ada jaminan, kalau ia mengaku Kristen dan kawin dengan orang Dayak, tidak akan dipenggal lehernya. Orang-orang Dayak yang dihadapinya saat ini lain dengan orang Dayak yang sudah bersosialisasi dengan peradaban modern. Mereka yang ada di hadapannya adalah orang-orang yang baru keluar hutan, yang tidak peduli soal-soal agama. 

Pada saat terpojok itu Nur sepertinya mendengar suatu suara di hatinya. "Tuhan Yesus itu hidup." Nur ingat apa yang dikatakan isterinya, "Mas, kalau mas kesulitan dan tidak berdaya, minta tolonglah kepada Tuhan Yesus. Ia adalah Pembuat Mukjizat. Ia memberi jalan keluar di saat tiada jalan. Ia senang melakukan perkara-perkara yang mustahil!" Nur melihat, meskipun teman-temannya sudah berdoa menurut keyakinan mereka, mereka tidak tertolong. Kalau Nur berdoa yang sama, pasti nasibnya akan sama seperti teman-temannya. Ia mulai berdoa sesuai dengan nasihat isterinya, namun ia tidak mau memanggil 'Tuhan Yesus!". Ia berdoa begini, "Tuhannya isteri saya! Engkau adalah Tuhan yang membuat mukjizat, Engkau senang melakukan perkara-perkara mustahil. Tolong saya! Kalau Engkau benar-benar Tuhan, selamatkan saya!"

Tiba-tiba, hati Nur diliputi dengan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Ia tenang sekali. Badannya terasa ringan. Badannya terasa ada yang menyelimuti. Ia bangkit. Tak ada tebasan mandau memotong lehernya, padahal orang-orang Dayak masih mengepung truk itu. Ia dengan tenang turun dari truk, berjalan ke arah hutan. Ia tergesa-gesa lari. Ajaib sekali, tak ada seorangpun dari mereka yang melihat kehadirannya. Ia seperti hilang dari pandangan mereka. Dari kejauhan tampak tiga orang Dayak berlari ke arahnya. Wah, gawat! 

Di jalan setapak menuju hutan itu dikiri kanannya dilalui sungai kecil. Ia cepat-cepat menceburkan diri ke sungai yang di sebelah kiri. Ia menyelam untuk beberapa saat. Ketika ia tak tahan menahan nafas, ia menyembulkan kepalanya sedikit. Ia melihat dari jarak yang cukup jauh, ketiga orang Dayak itu rupanya menemukan teman sesukunya di sungai sebelahnya. Mereka memotong-motong orang itu di depan matanya. Tragis sekali. Mengerikan sekali. Lalu ketiga orang itu berlalu, menuju truk tadi. Nur menunggu sampai semua orang-orang Dayak itu pergi. 

Nur berfikir, "Kalaupun aku lolos dari mereka sekarang, bagaimana caranya pergi dengan selamat ke Sampit?" Perjalanan masih sekitar delapan kilometer lagi. Kalau ia berjalan kaki, di sepanjang jalan itu bahaya mengancam dimana-mana. Kalau ia lewat hutan, sama saja, bahaya juga ada di sana. Akhirnya Nur memutuskan untuk berdoa lagi. "Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan perkara-perkara mustahil. Saat ini mustahil bagi saya untuk pergi dan sampai di Sampit dengan selamat. Bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Tolong saya!"

Nur keluar dari sungai itu setelah keadaan sepi. Ia menuju jalan raya. Bekas-bekas keganasan orang-orang Dayak itu masih ada di sana. Mayat-mayat tanpa kepala bergelimpangan. Darah berceceran di mana-mana. Bau amis dan bau anyir memenuhi udara di sana. Namun di hati Nur sekarang sudah ada damai. Hatinya dikuasai damai yang datang dari tempat mahatinggi. Begitu ia menjejakkan kaki di jalan raya, dari kejauhan tampak sebuah truk TNI melintas di tempat itu. Nur melambaikan tangan, minta tumpangan. Truk itu berhenti. 

"Pengungsi?"
"Ya, pak!"
"Ayo, naik cepat!"
Nur sangat bersyukur kepada Tuhannya Eva. Untuk kedua kalinya ia ditolong dan diselamatkan Tuhannya Eva. Akhirnya Nur dan teman-teman di truk itu sampai dengan selamat di Sampit. Apakah perjalanan Nur sudah aman? 

Ternyata kehidupan di tempat pengungsian Sampit tidaklah aman. Ada orang-orang sesukunya yang sudah tinggal di pengungsian ini diculik, diserang, dan menderita kelaparan. Pada saat kerusuhan semua toko, warung, restoran, warung nasi tutup. Bahan makanan menjadi sangat mahal. Satu dus mie instan dan satu dus air mineral harus ditukar dengan satu buah sepeda motor! Tiga dus mie instan dan tiga dus air mineral berani ditukar dengan satu mobil minibus! Mereka punya uang, tapi tidak ada barang. Semua orang berpikir bagaimana untuk bertahan hidup. Uang sepertinya tiada arti lagi kalau mereka mati kelaparan. 

Nur ingat, sebelum berangkat isterinya membekali dirinya dengan satu tas kecil. Ia berharap isterinya ingat memasukkan makanan ke dalam tas itu. Dengan gemetar karena lapar ia membuka tas kecil itu. Astaga! Ia marah dan kecewa berat karena di dalam tas itu ia hanya mendapati satu buah Alkitab! Ia ingat Eva, isterinya, berkata, "Apa yang mas butuhkan ada di dalam tas ini!" Apaan? Tak ada makanan di tas ini. Tak ada pakaian di tas ini. Sekarang ia membutuhkan makanan, minuman, dan pakaian. Gimana sih? 

Dalam keadaan lapar dan mendongkol di Pengungsian Sampit, Nur berdoa lagi. “Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan perkara-perkara mustahil! Saat ini saya kelaparan dan kehausan. Kalau Engkau benar-benar Tuhan, tolong saya!” Setelah berdoa, hatinya tenang lagi. Di hatinya penuh damai, walaupun perutnya lapar. 

“Eh, Nur! Nur! Sampean kemana saja? Saya cari-cari kemana-mana, gak tahunya ada di sini!” demikian kata-kata dari seseorang. Ternyata orang itu adalah teman lamanya, teman satu daerah. Mereka ngobrol mengisahkan perjalanan masing-masing, betapa bersyukurnya mereka. Tapi Nur tidak cerita-cerita tentang mukjizat yang diterima dari Tuhannya Eva, Tuhan isterinya, kepada teman lama ini. 

“Nur, ayo makan, ayo minum nih!” kata temannya sambil mengulurkan makanan kering dan botol air mineral. Nur, kaget sekali. Di tempat pengungsian yang langka bahan makanan dan minuman ini ia mendapatkan makanan dan minuman yang tak terduga. Ia makan dan minum sepuasnya. Padahal ia tidak mempunyai uang sepeserpun. Juga tidak ada bekal makanan dan minuman, namun ia dipelihara sempurna tangan kasih-Nya. Ia tidak kekurangan sesuatu apapun. Sejak ia berdoa kepada Tuhannya Eva, Tuhan isterinya, ia menerima mukjizat demi mukjizat.

Hari itu juga diumumkan bahwa nanti malamnya akan diberangkatkan para pengungsi ke pelabuhan untuk dipulangkan ke Jawa Timur dengan kapal TNI AL – Teluk Ende. Karena kapal itu hanya memuat 3000 orang penumpang, maka para pengungsi yang jumlahnya ribuan di tempat itu berebutan menaiki truk-truk yang akan membawa mereka keluar dari neraka kerusuhan ini. Yang ada di situ sekitar 7000 orang pengungsi, rombongan malam ini hanya berangkat 3000 orang. Semua orang ingin diberangkatkan malam ini. Semua orang mencari selamat sendiri-sendiri. Mereka berebutan menaiki truk. Namun Nur tenang saja. Di hatinya ada damai yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Ia tidak panik. Ia tidak khawatir. Orang-orang berebutan, ia tinggal tenang. Orang-orang memenuhi truk itu sehingga bak truk sepenuhnya tertutup tubuh orang-orang yang bergelayutan. 

Nur berdiri melihat-lihat saja. Ia berdoa lagi di dalam hati. “Tuhannya isteri saya, Engkau adalah Tuhan yang senang melakukan mukjizat, senang melakukan perkara-perkara mustahil. Bagi saya mustahil mendapatkan angkutan ke pelabuhan, tapi bagi Engkau tidak ada yang mustahil. Kalau Engkau benar-benar Tuhan, tolong saya!” Ketika ia masih di situ melintaslah sebuah truk yang kosong. 
“Eh, Nur! Nur!” Terdengar teriakan dari dalam truk.
Nur mendekat ke arah truk itu. Dilihatnya penumpang dan sopir truk itu. Ternyata di dalamnya ada adik ayahnya dan saudara-saudara lain. 
“Ayo, naik!” 

Nur tidak perlu berdesak-desakkan naik truk menuju pelabuhan. Di sepanjang jalan yang dilalui, Nur melihat banyak teman-teman sedaerahnya yang menumpang truk di depannya berjatuhan, mati disumpit penembak gelap. Mereka yang berjejalan dan bergelayutan di bak truk itu menjadi sasaran empuk sumpit-sumpit beracun dan banyak jatuh korban di sepanjang jalan menuju ke pelabuhan.

Akhirnya Nur dan saudara-saudaranya selamat sampai di pelabuhan. Di dermaga tampak kapal Teluk Ende sedang menaikkan para penumpang yang berebutan. Begitu mereka tiba, pintu kapal ditutup karena jumlah 3000 orang sudah terpenuhi. Banyak orang-orang yang tidak dapat terangkut malam itu harus kembali lagi ke camp pengungsian.

Nur melihat pemandangan yang sangat memilukan. Seorang ibu meminta dengan sangat kepada penjaga yang akan menutup pintu kapal agar ia diizinkan naik. Ibu itu menangis meraung-raung karena suami dan anak-anaknya sudah naik, tapi dirinya sendiri ketinggalan. Petugas tetap berkeras melarang ibu ini naik. Meskipun ibu ini bersimpuh dan memohon-mohon, petugas kapal dengan tegas menolak permintaan ibu ini.

Saat itu juga Nur iba. Ia berdoa, “Tuhannya isteri saya, kalau Engkau memang benar-benar Tuhan, izinkan ibu ini naik, juga kami yang tertinggal boleh naik.” Sementara itu tambang kapal mulai dilepas dan pintu sudah ditutup. 

Jika mereka pulang kembali ke camp pengungsian, jiwa mereka belum tentu selamat. Di perjalanan bahaya maut mengintai setiap saat. Kalau ada penghadangan, aparat militer sekalipun tidak dapat melindungi mereka. Andaikan mereka selamat sampai di camp lagi, mereka juga belum tentu selamat, karena di camp sering terjadi penculikan dan pembunuhan secara gerilya. 

Tiba-tiba dari dalam kapal terdengar pengumuman, “Semua pengungsi yang ada di dermaga boleh naik kapal. Segera!” Pintu kapalpun dibuka kembali. Ibu yang tadi menangis meraung-raung segera melompat ke jembatan yang menghubungkan dermaga dengan kapal Teluk Ende. Nur dan kerabatnyapun masuk kapal dengan tenang. Doanya sekali lagi dijawab Tuhan secara ajaib. 

Saat ini Nur berkeliling menyaksikan keajaiban yang dialaminya bersama Tuhan. Ia sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Ia belum menceritakan bagaimana pertobatannya dan bagaimana ia diadili di kampung halamannya karena iman kepada Tuhan Yesus. Saat ini ia telah berkumpul kembali dengan keluarganya di Sampit. 

Setelah Nur menceritakan kesaksiannya, Eva – isterinya, menyanyikan lagu “Mukjizat Itu Nyata” dengan merdu dan penuh penghayatan karena mereka mengalami sendiri betapa tidak terbatas kuasa Tuhan, semua dapat Dia lakukan, apa yang kelihatan mustahil bagi kita, itu sangat mungkin bagi Tuhan. Di saat Nur dan Eva tidak berdaya, kuasa Tuhan yang sempurna menolong mereka. Ketika Nur berdoa, mukjizat itu nyata. Ketika Nur percaya, mukjizat itu nyata.


http://pentas-kesaksian.blogspot.co.id/2007/05/lolos-dari-kerusuhan-sampit.html


****************************************************************


Sampit Berdarah: Pertempuran Dayak & Madura


CATATAN PERJALANAN: Kalimantan siri 10

SAMPIT Berdarah, beginilah ceritanya.. Awal kerusuhan:

Kerusuhan bernuansa etnis di Sampit meletus semenjak peristiwa pembunuhan terhadap beberapa warga Madura di komplek perumahan yang terletak di sebelah utara pinggiran kota Sampit yang dilakukan oleh sekelompok orang yang dibayar oleh dua provokator masing-masing pegawai PEMDA dan Dinas Kehutanan Sampit. Peristiwa itu terjadi tengah malam minggu (Sabtu malam 17/2/2001) sekitar pukul 23.00 WIB disaat korban sedang tidur lelap.


Warga Madura yang berada di sekitar kejadian terkejut dan emosi mereka terpancing karena merasa dalam keadaan bahaya dan sedang diaserang oleh sekelompok suku Dayak, dan merekapun melakukan pembalasan hingga trerjadilah bentrokan yang menelan belasan korban jiwa. Dengan peristiwa ini warga dayak tidak tinggal diam mereka langsung menghadakan pembunuhan dan pembakaran terhadap rumah-rumah warga Madura.

Pada hari minggu pagi saya kontak melalui telpon kepada bibi dan paman yang bertempat tinggal di jalan S. Parman Sampit menanyakan tentang peristiwa tersebut dan pengaruhnya terhadap masyarakat kota Sampit pada umumnya. Bibi malah biasa-biasa saja dan tidak mempunyai perkiraan bahwa bentrok akan meluas, bahkan ia mengatakan “tidak apa-apa dan aman-aman saja, karena peristiwanya ada di pinggiran” tegasnya.

Pada hari yang sama yang menghubungi teman dekat yang ada di jalan Sampit Samuda menanyakan tentang peristiwa tersebut. Ia pun menjawab senada dengan jawaban bibi. Keesukan harinya saya lakukan kontak lagi kepada paman dan jawbannya tidak jauh berbeda dengan jawaban kemarin. Berbeda dengan jwaban teman yang saya kontak pada hari itu, ia mengatakan keadaan gawat dan kerusuhan meluas dan terjadi penambahan korban dari dua belah pihak. Pada hari Selasa, saya lakukan kontak kembali, akan tetapi telpon sudah tidak ada yang mengangkat.

Lalu saya menghubingi teman di rumah mertuanya dan kebetulan ia telah sembunyi di sana dan ia mengatakatan bahwa keadaan sangat mencekam karena orang-orang Dayak dengan seketika berdatangan dari berbagai penjuru dan pedalaman Kalimantan Tengah dan aparat kewalahan tidak dapat membendung arus kedangan mereka. Orang-orang Madura yang memang tidak sadar dan tidak menduga bahwa mereka akan dibersihkan dari Sampit akhirnya kalang kabut dan panik, karena diserang oleh Dayak yang lengkap dengan berbagai senjata tajamnya.

Maka korbanpun berjatuhan tergeletak tanpa kepala di rumah-rumah dan di jalan-jalan setiap sudut kota Sampit. Orang-orang Dayak melakukan swepping besar-besaran ke seluruh rumah-rumah penduduk tanpa terkecuali dan membunuh setiap orang yang dicurigai dari suku Madura tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Maka warga dari suku Madura yang terjebak kepungan orang-orang Dayak dan tidak sempat mengungsikan diri menjadi sasaran empuk terjangan tobak dan mandau.

Sebelum etnis Dayak melakukan serangan mereka berkumpul bersama untuk membulatkan tekad dan bersumpah untuk mengikis habis etnis Madura dari Kal-Teng yang dimulai dari Sampit. Untuk mengobar semangat juang Dayak, Para provokator Dayak menebarkan kebencian dikalangan mereka terhadap warga Madura. Kata mereka :

”Warga Madura harus dikikis habis dari Kal-Teng, supaya etnis Madura tidak berkuasa di Kal-Teng”.

Informasi terakhir (dini hari Senin 25/2) yang saya terima dari Kec. Samuda (40 km dari Sampit) mengatakan bahwa pengikisan warga Madura sekarang juga sedang terjadi di ibu kota Palangkaraya dan sekitarnya. Orang-orang Dayak dalam melakukan kebiadabannya tidak cukup dengan menghabiskan nyawa suku Madura yang tidak berdosa, tetapi membakar rumah-rumah, tempat-tempat usaha, masid-masjid, lembaga-lembaga pendidikan, pesanteren-pesantren dan lain-lainnya yang dibangun oleh suku Madura.



Rujuk Dari Sanggau Ledo hingga Sampit. HAJI Abdullah (53), tokoh masyarakat Madura ...
zkarnain.tripod.com

shilahudinpunya.blogspot.com

Tragedi Sampit berdarah adalah buntut dari Tragedi Sambas dengan perencanaan yang matang.


Semenjak Sambas meletus masyarakat Dayak pedalaman telah mengadakan pembicaraan untuk melakukan serangan terhadap etnis Madura. Hal itu terungkap dari keterangan adik ipar saya yang - kebetulan berdarah Dayak tetapi leluhurnya telah memeluk Islam – bekerja sebagai pedagang sembako yang setiap hari hilir-mudik ke pedalaman Kalimantan Tengah (Rantau Pulut dan sekitarnya). Adik ipar tersebut sering mengemukakan alasan-alasan bahwa rencana tersebut sebaiknya diurungkan, karena menurutnya, orang-orang Madura adalah orang yang baik-baik dan sedikit diantara mereka yang berbuat jahat seperti suku-suku lainnya, ujarnya.

Bahkan, ia sendiri mengakui bahwa istrinya berasal dari keluarga yang baik dari suku Madura. Akan tetapi orang-orang Dayak tersebut tetap pada pendiriannya dan mengatakan bahwa mereka tidak akan mengganggu istrinya. Tentang rencana jahat Dayak tersebut sering diutarakan oleh adik ipar saya kepada keluarga kami. Beberapa hari sebelum Kerusuhan Sampit meletus adik ipar saya segera pulang dari pedalaman Kal-Teng dengan menyarter speedboard dan meninggalkan klotoknya di pedalaman untuk memberitakan akan rencana jahat Suku Dayak dan ipar saya menyerankan kepada seluruh keluarga segera menjual harta yang dapat dijual sebelum peristiwa terjadi, akan tetapi keluarga tidak mengindahkan saran tersebut.

Sebelum peristiwa Kerengpangi meletus (bebera[pa minggu sebelum peristiwa Sampit) sudah santar isu bahwa orang-orang Dayak akan menyerang suku Madura, dan kerana santarnya isu tersebut teman akrab ayah saya yang juga mantan anggota DPRD Tingkat I Palangkaraya sering berpesan dan menyarankan apabila nanti ada serangan Dayak maka sebaiknya keluarga saya berlindung di rumahnya di Palangkaraya. Ini juga memperkuat adanya perencenaan sebelum tragedi Sampit meletus.

Dua hari setalah Tragedi Sampit meletus orang-orang Dayak dari berbagai penjuru dan pelosok pedalaman Kalimantan –Tengah secara bergelombang dan berbondong-bondong membanjiri kota Sampit untuk melakukan memusnahan terhadap etnis Madura. Ini adalah suatu indikasi nyata dari perencaan jahat tersebut. Dan ketika berita Tragedi Sampit menyebar ke berbagai pelosok, penyerangan terhadap etnis Madura di pelosok-pelosok pun mereka lancarkan, hingga ratusan korban berjatuhan.

Maka dari itu sangat tidak salah kalau berbagai madia masa menyebutkan korban tewas lebih dari 200 orang. Adapun sebenarnya korban tewas jauh lebih besar dari yang diperkirakan, sebab suku Madura tersebar banyak di berbagai kecamatan dan pelosok yang terpencil di Kab. Kotawaringin Timur sebagai petani dan bercocok tanam, dan mereka tidak luput dari sasaran amukan orang-orang Dayak. Satu hari setelah meletusnya Sampit Berdarah masyarakat Dayak di Palangkaraya berdemontrasi menuntut kepada Pemerintah setempat agar mengusir seluruh etnis Madura dari propinsi Kal-Teng.


Aparat tidak bertindak tegas terhadap perusuh

Pasukan Kepolisian dan Tentara yang disiagakan di Sampit bersikap pengecut bahkan tidak memberikan perlindungan kepada suku Madura. Hal itu terlihat dari ketidak mampuan mereka dalam membendung arus perusuh Dayak yang datang membanjiri kota Sampit dan membiarkan mereka melakukan swepping kerumah-rumah dan menghabisi jiwa setiap orang yang diduga dari etnis Madura, dengan tidak memandang apakah itu bayi, orang jumpo, laki-laki atau perempuan.

Bahkan serangan serangan yang merembak ke berbagai kecamatan dan pelosok dengan sangat mudah dilakukan oleh para perusuh Dayak tanpa ada usaha pencegahan atau sikap tegas dari aparat. Seharusnya aparat beritindak tegas terhadap setiap perusuh yang memasuki wilayah tugasnya tanpa pandang bulu. Bahkan ketidak tegasan aparat itupun tampak dengan dilepasnya puluhan tahanan etnis Dayak perusuh dan membiarkan mereka bergabung dengan para perusuh lainnya untuk melakukan pembunuhan.

Dan Penyerangan dan pembunuhan tidak hanya dikosentrasikan di kota Sampit saja, bahkan semenjak kerusuhan di kota Sampit meletus secara serempak di Kecamatan-kecamatan lain dilakukan penyerangan yang sama, dan dengan leluasa tanpa pencegahan dan tidakan tegas dari aparat mereka membunuh dan mengahncurkan segala harta dan rumah penduduk etnis Madura. Kemarin (Minggu 25/2/2001) saya kontak telpon dengan salah satu penduduk dari etnis Banjar di Sampit untuk mendapat imformasi terakhir tentang kota Sampit, orang itu mengimformasikan bahwa sampit makin mencekam para pengungsi yang berlindung di sekitar kantor PEMDA sedah kekurangan bahan pangan dan sudah banyak korban yang jatuh tewas kelaparan.

Sementara arus perusuh terus membanjiri Sampit dan mereka mengadakan serangan ke Kec. Samuda 40 km. Dari Sampit yang disana terdapat penduduk etnis Madura yang terpencar-pencar dalam jumlah yang sangat banyak diperkirakan lebih dari 1000 KK. Sedangkan tempat pengfungsian atrau persembunyian di sana tidak ada. Dan perusuh telah melakukan pemusnahan di sana tanpa ada aparat yang menghalangi atau bertindak tegas terhadap mereka. Bahkan pesanteren terbesar di Kec. Ini –yang juga tempat saya nyantri dahulu- telah luluh lantak. Tidak ada satupun rumapenduduk etnis Madura melainkan digempur habis-habisan.

Dan dari imformasi yang saya terima dari etnis Banjar di Kecamatan ini (dini hari ini –Senin 26/2) para perusuh dayak sudah sampai desa Parebok (Kec. Samuda) dan di situ mereka mendapat perlawanan dan terjadi korban dari dua belah pihak. Karena pihak perusuh tidak mampu, maka Dayak mengirimkan lagi 2 truk ke desa ini, dan akhirnya mereka dapat menghancurkan perlawanan etnis Madura. Para perusuh dari etnis Dayak tersebut menggunakan tanda pengenal merah di kepala, tangan dan tombak yang mereka bawa.


Evakuasi atau pengusiran?

Desakan etnis Dayak agar Pemerintah setempat mengusir etnis Madura dari Kal-Teng terus mereka lakukan sambil menyuarakan tuntutan agar Kapolda Kal-Teng mundur dan diganti dengan yang lain, akhirnya Kapolda menginstruksikan kepada segenap jajarannya di Sampit dan Kecamatan agar mendesak etnis Madura segera mengungsi ke Madura dengan alasan keselamatan. Bahkan Kapolsek di Kuala Pembuang sangat ketakuatan ketika mendengar perintah dari atasannya sehingga membuatnya segera melakukan evakuasi dan mengungsikan etnis Madura dari Kuala Pembuang (ibu kota kec. Seruyan Hilir 150 km dari Sampit) ke jawa. Bahkan di Palangkaraya sendiri dilakukan pengungsian etnis Madura ke Banjarmasin setelah menakut-nakuti mereka.

Kerusuhan Sampit bernuansa sentimen agama dan Masyarakat Dayak sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Suku Madura tinggal di Kal-Teng semenjak lima puluh tahun yang lalu dan hidup berdampingan secara damai dengan etnis-etnis setempat (Banjar dan Dayak), tidak ada perselisahan diantara sesama mereka sehingga mereka hidup sebagaimana layaknya warga setempat. Keharmunisan hubungan dua belah pihak itu tampak dan makin jelas dengan makin banyaknya nikah silang (Dayak-Madura, Madura-Banjar) diantara mereka. Maka tidak heran jika lelaki muslim dari etnis Dayak nikah dengan perempuan asal etnis Madura atau sebaliknya.

Kriminalitas berupa pembunuhan, perjudian dan pencurian dilakukan oleh berbagai etnis bukan hanya dari etnis Madura, bahkan yang sering terjadi adalah pembunuhan antara etnis Madura itu sendiri bukan antar etnis Madura dengan etnis lainnya. Lalu kenapa Kerusuhan itu terjadi dan bahkan kerusuhan di Sampit diprovokasi oleh dua orang pegawai negeri sipil yang beragama non Islam? Lalu kenapa pembakaran dan pembunuhan dilakukan kepada semua warga etnis Madura tanpa pandang bulu?

Kenapa masjid-masjid, pesantren-pesantren, rumah-rumah warga madura yang tidak berdosa bahkan Kia asal Madura dihabisin? Tidakkah kita ketahui bahwa sebagian besar pesantren di Kal-Teng itu didirikan oleh suku Madura, bahkan pesantren terbesarpun adalah milik warga Madura? Kenapa etnis Madura jadi sasaran? Seorang Doter –sekarang bertugas di salah satu Rumah Sakit terkenal di Jakarta- yang juga berperan sebagai da`I selama masa tugasnya di Kalimantan Tengah (Kuala Pembuang dan Pangkalanbun) dalam beberapa tahun yang lalu, mengatakan bahwa suku Madura adalah merupakan suku yang paling lemah di Kal-Teng.

Secara organisatoris mereka tidak mempunyai ikatan atau wadah persekutuan etnis Madura, karena mereka sudah merasa menjadi bagian dari penduduk asli Kalimantan sehingga mereka melebur dengan meluruh komponen masyarakan di sana. Di sisi lain mereka merupakan komonitas yang memperbengkak jumlah komonitas umat Islam Kal-Teng, sehingga jumlah umat Islam Kal-Teng mencapai lebih 80 % . Namun imej yang dilontarkan kepermukaan adalah bahwa orang Islam di Kal-Teng merupakan penduduk menoritas, karena instansi-instansi penting di Pemerintahan setempat banyak dikuasai non muslim (Kristen Dayak).

Usaha kristenisasi di Kalimantan sangat berjalan lamban dan boleh dikatakan gagal. Para mesionaris akhirnya memilih Dayak sebagai sasaran dan alat untuk mencapai tujuan. Orang Dayak yang berhasil dikristenkan dikader untuk memainkan peran dalam proses kristenisasi dan menyingkirkan orang-orang Islam atau paling tidak, menjauhkan generasi Islam dari nilai-nilai ajaran islam. Sebagai contoh, Kec. Seruyan Hilir (Kuala Pembuang) mayoritas 96 % penduduknya adalah Muslim, yang terdiri dari berbagai etnis Banjar, Madura, Dayak dan Bugis.

Letaknya sangat stategis, karena merupakan kota transit bagi wilayah-wilayah pedalaman. Di Kec. Ini dahulunya tidak ada tempat lokalisasi pelacuran, tidak ada tempat perjudian, tidak ada tempat penjualan minuman keras dan tidak ada gereja. Akan tetapi, setelah jabatan pembantu Bupati dipegang oleh seorang dari etnis Dayak Kristen yang istrinya adalah seorang misionaris, maka gereja didirkan, tempat pelacuran dan perjudian diadakan, izin penjualan minuman keras diberikan (kepada orang keturunan cina ) yang mengakibatkan hancurnya akhlak generasi setempat sekalipun telah banyak mengundang berbagai protes dari tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Bahkan, setelah masa tugasnya berakhir ia memilih menjadi stap dari pada dipindah dari Kuala Pembuang dan menjadi pelindung tempat-tempat kemaksiatan tersebut. Yang lebih parah lagi, ketika jalan Sampit-Kuala Pembuang dapat dioprasikan, orang tersebut berusaha untuk membuka lokalisasi pelacuran baru di km. 7 dekat perkampungan etnis Madura sekalipun protes keras dilancarkan oleh kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Bahkan ia menawarkan sebuah mobil Kijang kepada kepala Desa asal dizinkan rencananya.

Dengan sinis ia mengatakan “Orang Madura orang suci tidak menyukai keramaian!!”

Ketika SMU N I Kuala Pembuang dikepalai oleh orang Kristen Dayak, banyak anak SMU yang masuk sekolah dalam keadaan teler (mabuk). Mereka pun akhirnya diusir oleh guru-guru Muslim. Namun Kep. Sek. Melarang tindakan guru-guru tersebut dan ia mengatakan kepada mereka “biarkan mereka mabuk asal sekolah!”.

Etnis Madura yang tinggal di Kalimantan-Tengah (begitu juga di wilayah lainnya) tidak satupun dari mereka yang tidak muslim dan mereka mempunyai peran penting dalam memperkuat posisi Islam di Kalimantan. Hal itu terbukti dengan masjid-masjid dan pesantren serta Madrasah-madrasah yang mereka dirikan. Bahkan, untuk wilayah Kal-Teng mayoritas pesantren didirkan oleh etnis Madura, bahkan yang terbesar di Sampit dan di Palangkaraya pun pesantren yang dipimpin oleh etnis Madura, yang sekarang ludes diamuk etnis Dayak.

Bagi Masyarakat Dayak yang masih menganut kepercayaan Kaharingan (19 %) (Animesme) perbedaan agama sebenarnya tidak menjadi masalah dan mereka tidak pernah diresahkan dengan berkembangnya agama Islam di Kalimantan, karena memang etnis Madura dan etnis lainnya tidak pernah mengusik mereka, dan bila mereka memeluk Islam itupun karena kerelaan mereka. Tetapi berbeda dengan etnis Dayak yang sudah dikader menjadi misionaris oleh para Zending Batak di pedalaman.

Dayak Kristen inilah yang dijadikan alat oleh mereka untuk mencapai sasaran mereka. Untuk mencapai tujuan, maka Ikatan Mastyarakat Dayak pun dibentuk sebagai wadah kekuatan masyarakat Dayak. Sehingga apabila timeng waktu untuk merencanakan makar, masyarakat dayak Animesme dan Dayak Kristen menghimpun menjadi suatu kekuatan.


Otonomi Daerah Menimbukan kekhatiran Kristen Dayak.

Baru saja saya dihubungi teman dari Samuda (dini hari Senin 25/2) bahwa isu yang mereka sebar luaskan dikalangan etnis Dayak dan untuk memperteguh jiw a juang dan menanamkan kebencian mendalam terhadap etnis Madura adalah “kekhawatiran mereka kalau otonomi daerah sudah berjalan, maka yang berkuasa adalah etnis Madura”. “Kalau kita tidak menghabisi etnis Madura maka kita akan dilkuasi mereka”.

Maka di Palangkaraya sekarang sudah terjadi apa yang terjadi di Sampit dan sekarang mereka mulai bergerak ke Kab. Kotawaringin Barat (Pangkalanbun dan sekitarnya). Dan mereka menginstruksikan kepada perusuh Dayak agar membakar setiap rumah dan bangunan-bangunan lainnya yang diduga milik etnis Madura yang telah ditinggalkan penduduknya mengungsi. Padahal etnis Madura di sana mayoritasnya adalah petani dan tukang kebun, dan amat sedikit dari mereka yang di Pemerintahan dan yang menjadi pengusaha.


SERUAN DAN AJAKAN :

Melalu tulisan ini kami masyarakat Kalimantan Tengah menyerukan :

Pemerintah harus segera menghentikan pembunuhan dan pembasmian terhadap muslim Madura di Kal-Teng. Menyerukan agar aparat bertindak tegas jangan berat sebelah atau menjadi pengecut. Menyerukan kepada Pemerintah untuk memberikan bantuan makanan dan kesehatan kepada para pengungsi yang hampir puluhan ribu jiwa. Menyerukan kepada LSM HAM untuk segera mengadakan infestigasi terhadap pelanggaran HAM di Sampit. Mendesak Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum untuk segera mengadili Provokator yang mendalangi kerusuhan Sampit. Menyerukan kepada tokoh-tokoh partai politik dan pimpinan-pimpinan organisasi Islam untuk mendesakPemerintah agar menghentikan kerusuhan di Kal-Teng dan bertindak tegas. Mengajak kaum Muslimin di mana saja agar segera melakukan pembelaan kepada saudara-saudara yang beriman yang sekarang sedang dibasmi oleh Dayak Kristen dan para pendukungnya. Menyerukan agar diadakan Tabligh Akbar untuk memberitakan apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadap muslimin Madura di Kal-Teng.Tulisan ini di tulis dengan sejujur-jujurnya oleh:

H. Musthofa Aini. Lc. Mahasiswa Pascasarjana di salah satu Unv. Islam di Jakarta. Warga asli Sampit dari suku Madura. Penulis terus mengadakan kontak langsung setiap hari kepada berbagai etis (Banjar dan Jawa) di Sampit untuk menanyakan informasi terbaru tentang kerusuhan. Penulis juga kembali dari Sampit beberapa minggu yang lalu sebelum tragedi Sampit meletus. Pusat Informasi & Komunikasi Islam Indonesia Al-Islam

Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430
Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712
2001

Aku cuma sampaikan berita, walaupun satu ayat (bukti) yang aku tahu...

http://www.ibnuhasyim.com/2012/03/sampit-berdarah-pertempuran-dayak.html

****************************************************************

MISTERI PERANG SAMPIT


Peristiwa Sampit ini menjadi sebuah kota yang digambarkan begitu menakutkan karena pertikaian etnis. Masyarakat Dayak adalah masyarakat tradisional yang memegang teguh harkat dan harga diri.Sejak "peradaban" masuk ke dalam kehidupan mereka, budaya "kekerasan"yang dahulu secara turun-temurun mulai ditinggalkan. Gambaran kasar tentang orang dayak secara umum, Orang Dayak adalah masyarakat tradisional dan mempunyai sifat pemalu terhadap pendatang.Namun, masyarakat Dayak mempunyai sistem kekerabatan dan persatuan yang kuat antar masyarakat Dayak di seluruh pulau Kalimantan (termasuk Dayak di wilayah Malaysia).

Banyak sebab yang membuat mereka seakan melupakan asazi manusia, baik sebab langsung maupun tidak langsung.Masyarakat Dayak di Sampit seperti selalu "terdesak" dan selalu mengalah dan memang mereka lebih suka memilih mengalah.Dari kasus pelarangan menambang intan di atas "tanah adat" mereka sendiri karena dituduh tidak memiliki izin penambangan, sampai kampung mereka harus berkali-kali berpindah karena harus mengalah dari para penebang kayu yang terus mendesak mereka makin ke dalam hutan. Sayangnya, kondisi ini diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang seakan tidak mampu menjerat pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat Dayak menjadi korban kasus tersebut. Tidak sedikit kasus pembunuhan orang dayak (sebagian besar disebabkan oleh aksi premanisme Dayak-Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap oleh aparat yang penegak hukum.

Dalam keseharian Masyarakat Dayak, kehidupan mereka ternyata jauh dari anggapan kita yang mengira bahwa mereka itu beringas. Mereka ternyata sangat pemalu, menerima para pendatang, dan tetap menjaga keutuhan masyarakatnya baik religi dan ritual mereka. Mereka tidak pernah mengganggu para penebang kayu yang mendesak mereka untuk terus mengalah. Mereka tidak pernah menentang anggota masyarakatnya yang ingin masuk agama yang dibawa oleh orang-orang pendatang.

Mereka dengan ringan-tangan membantu masyarakat sekitarnya. Mereka tidak pernah membawa mandau, sumpit, ataupun panah ke dalam kota Sampit untuk "petantang-petenteng".Etnis madura yang juga punya latar belakang budaya "kekerasan" ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai"pendatang"). Sering terjadi kasus pelanggaran "tanah larangan" orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu "perang antar etnis Dayak-Madura".

Dayak dikenal berilmu tinggi hingga bisa membedakan suku Madura dengan suku-suku lainnya, yang jelas suku-suku lainnya luput dari "serangan beringas" orang Dayak. Banyak yang mengaitkan peristiwa-peristiwa aneh selama "perang" tersebut dengan kepercayaan animisme Dayak (Kaharingan). Banyak bukan saja masyarakat dayak Sampit yang berada di sana, tetapi juga ada 5 suku besar Dayak lainnya dari beberapa propinsi di pulau Kalimantan . Bayangkan, masyarakat Dayak yang sebelumnya bukan masyarakat mayoritas di sana, saat terjadi "perang" jumlah mereka berlipat ganda.

Pengungsian besar-besaran masyarakat suku lain (selain Dayak dan Madura) hanya dikarenakan rasa ngeri melihat "perang" dan lumpuhnya perekonomian Sampit.(Dayak) tidak menyerang orang (madura) yang sempat bersembunyi di dalam Masjid atau Gereja.meski pada intinya suku Madura seperti sangat merasa berkuasa di sana..dan sempat ingin mengganti nama menjadi Sampang 2 (salah satu kota besar di Madura)

Seorang pemuda bersenjata mandau duduk tepekur di trotoar jalan, di Depan Hotel Putra Sampit, Kotawaringain Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng). Mandau di tangannya masih meneteskan darah. Matanya tampak berkaca-kaca, dan sesekali ia sesenggukan. Ahmad, pemuda beretnis

Banjar yang kebetulan rumahnya dekat dengan trotoar jalan itu, memberanikan diri menghampiri.Ahmad bertanya dalam bahasa Melayu, ternyata pemuda yang sedang menangis itu tidak mengerti. Ia tak lain adalah warga Dayak pedalaman. Lalu, terjadilah dialog dalam bahasa daerah. "Kenapa Anda menangis," tanya Ahmad. "Bagaimana tidak, saya telah melakukan pembunuhan," jawab pemuda Dayak itu. Pemuda Dayak itu lantas nyerocos, kalau mengingat pembunuhan yang dilakukannya, ia merasa kasihan pada warga Madura.

Tapi jika mengingat kelakuan etnis asal pulau garam itu, akunya, rasa kasihannya menjadi hilang.Pemuda itu hanyalah salah satu dari ratusan pemuda Dayak yang melakukan penyerangan ke Sampit. Menurut budayawan Dayak Kalteng,Gimong Awan, memang banyak di antara warga Dayak yang mengikuti'peperangan' itu adalah pemuda berusia di bawah 30 tahun. Penyesalan setelah membunuh itu muncul, duga Gimong, karena telah habisnya pengaruh 'isian' yang dilakukan oleh orang sakti Suku Dayak 

Seperti disaksikan oleh banyak warga Sampit, sebelum melakukanpenyerangan, beberapa subsuku Dayak memang malakukan ritual. WargaDayak yang ikut ritual itu setelah diisi, kulitnya dicoba disayat satu per satu. Apabila ada yang luka, berarti ia tidak berbakat untuk mendapatkan 'kekebalan'. Bagi yang digores tidak berdarah, maka ia lulus sebagai inti dari pasukan perang Dayak."Isian itu dilakukan seperti di Pencak Silat semacam Satria Nusantara," ujarnya. Selepas 'isian' habis, tambahnya, mungkin mereka baru menyadari bahwa pembunuhan yang dilakukannya itu dilarang oleh agama yang mereka anut.

Tapi, apa yang membuat suku Dayak di Kalteng begitu kalap dalam menghadapi warga Madura? Hampir semua warga dan tokoh Dayak yang ditemui Republika menunjuk perilaku kebanyakan etnis Madura sebagai penyebabnya. H Charles Badarudin, seorang tokoh Dayak di Palangkaraya menceritakan kelakuan warga Madura banyak yang tidak mencerminkan peribahasa "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Ia mencontohkan salah satunya dalam soal tanah.

Banyak warga Madura yang baru datang ke Kalteng meminjam tanah kepada warga Dayak. Di atas tanah itu kemudian dibangun rumah, atau kadang ditanami sayur mayur. Status tanah itu sebenarnya tetap pinjaman,warga Dayak tak menarik sewa. Setelah beberapa tahun, tanah itu pun diminta karena suatu keperluan. Tapi, bukan tanah yang dikembalikan,namun celurit yang justru dikeluarkan. "Ketika ditunjukkan surat kepemilikan tanah, orang Madura bilang, kamu punya suratnya, saya punya tanahnya," ujar Charles, yang mengaku kemenakan pahlawan Kalteng, Tjilik Riwut.Kasus seperti itu dinilai warga Dayak terlalu sering terjadi. 

Bukan hanya itu, tak jarang terjadi pembunuhan yang dilakukan warga Madura,namun aparat hanya menangkap sebentar kemudian melepasnya. 'Kenakalan'semacam itu tidak hanya terjadi di perkotaan. Sebagai pendatang, warga Madura juga berani masuk ke daerah pedalaman, seperti wilayah pertambangan. "Ada untungnya orang Madura mengungsi. Saya jadi aman dari perampokan," tutur Surti, pendatang dari Jawa yang tinggal didaerah pertambangan bersama suaminya.Di bidang ekonomi, warga Madura pun menguasai hampir semua sektor.Warga lokal hampir selalu kalah bersaing dalam memperebutkan lahan usaha. Di pelabuhan misalnya, sulit bagi etnis lain untuk menjadi buruh kasar sekalipun, tanpa restu orang Madura. 

Konon, yang masuk kelahan mereka tanpa restu, bisa dibunuh.Dominasi di bidang ekonomi itu tampak jelas, karena setelah orang Madura dipaksa mengungsi, warga Sampit dan Palangkaraya kesulitan mencari sembilan kebutuhan pokok (sembako). Pasalnya, tak ada lagi pedagang eceran, karena semuanya mengungsi.Akumulasi permasalahan itu menjadikan warga Dayak sakit hati.Kejadian, 18 Februari 2001 hanyalah pemicu terjadinya perang besar-besaran. Pada hari itu terjadi pembunuhan terhadap empat orang keluarga Matayo di Sampit. Itu membuat marah warga Madura. Mereka mencari pembunuhnya yang diduga bersembunyi di rumah Timil, seorang warga Dayak. Mereka mengepung rumah keluarga Timil itu. Dalam situasi panas itu, apalagi warga Dayak dari rumah Timil keluar juga memegang mandau, aparat kepolisian datang. Mereka kemudian menangkap 38 tersangka dari suku Dayak yang diduga melakukan pembunuhan terhadap keluarga Matayo.Puas? Ternyata belum. 

Warga Madura tetap melampiaskan kemarahannya.Mereka mendatangi rumah Sengan, warga Dayak yang masih ada hubungan darah dengan Timil. Mereka bahkan membakar rumah itu. Naas bagi Timil.Dia bersama anak dan cucunya tewas terpanggang. Kemarahan warga Madura belum berhenti. Hari itu, mereka setidaknya melakukan pembakaran terhadap 14 rumah dan 10 kendaraan bermotor. Sampai esok harinya>(19/02), warga Madura menguasai kota Sampit. Mereka memburu warga Dayak. Mereka keliling kota dengan membawa clurit, baik dengan jalan kaki maupun memakai kendaraan bermotor. Ada beberapa spanduk yang dipasang, di antaranya "Sampit, kota Sampang II".Tiga orang Dayak tewas dalam insiden ini. Pengungsian warga Dayak,Jawa, Banjar, dan Tionghoa mulai terjadi. Rumah jabatan bupati Kotawaringin Timur mulai dipadati pengungsi. Ribuan orang mengungsi ke Jawa dengan KM Binaiya. Entah siapa yang mengontak, mulai 20 Februari 2001, warga Dayak dari luar kota Sampit, termasuk dari pedalaman,menyerbu Sampit. 

Pertempuran sengit pun terjadi. Warga Madura keteter.Warga Dayak membakar dan merusak rumah warga Madura. Penghuninya pun diburu. Pemenggalan kepala mulai banyak terjadi. Warga Dayak ganti menguasai kota.Esoknya (21/2), perburuan Dayak masih terjadi. Malah wilayah pencarian kian meluas, keluar dari kota Sampit. Sementara perlawanan warga keturunan Madura kian melemah. Mereka lebih memilih mengungsi, atau lari ke hutan. Kantor Pemda setempat menjadi pilihan pengungsian yang dipandang paling aman. Hari-hari berikutnya, langkah 'pembersihan'masih terjadi. Baru pada Rabu (28/2) situasi berangsur tenang, meski tetap saja ada aksi pembakaran di sana sini. Pun, jejak kerusuhan berupa mayat --sebagian besar tanpa kepala-- masih berserakan disungai-sungai. Bau anyir mayat menyengat hidung.

Warga Sampit meyakini korban tewas tanpa kepala mencapai lebih dari 1.000 orang. Dalam budaya Dayak memang dikenal istilah ngayau,eksekusi dengan memenggal kepala lawan. "Budaya itu sebenarnya telah dihentikan dengan adanya perjanjian Tumbang Anoy (letaknya kira-kira 300 KM timur Palangkaraya) pada 1884," ungkap Gimong.Dalam sejarah Dayak pun, kata dia, jarang sekali ada ngayau yang mencapai angka ratusan atau bahkan ribuan. Tapi, ujar Gimong, pernah ada satu ngayau besar-besaran sebelum peradaban Islam menyentuh Kalimantan. "Kejadian itu disebut Asang Paking Pakang," tuturnya.Dalam kejadian itu, warga Dayak di hulu sungai-sungai besar menyerang secara besar-besaran warga Dayak di hilir sungai. "Beribu-ribu pasukan Dayak hulu, seperti tikus, melakukan penyerangan," kisah Gimong."Dayak hulu merasa kelakuan Dayak hilir sudah keterlaluan. 

Mereka sakit hati karena banyak anggota kelompok mereka yang dikayau."Dalam penyerangan itu, tak peduli anak-anak atau perempuan, di- kayau.Asang memang berarti pembunuhan berskala besar. Ketemu perahu,dihancurkan. Dapat ternak juga di sikat. Bahkan, dapat kuburan pun mereka bongkar dan hancurkan. Melihat pola dan jumlah korban dalam tragedi terakhir di Sampit, Gimong menilai mirip dengan Asang Paking Pakang. "Tragedi Sampit adalah Asang Paking Pakang jilid dua,"katanya. Tapi, dalam pandangannya, kejadian itu adalah kemunduran 100 tahun bagi suku Dayak.


DASAR PENYEBAB PERANG

Tahun 1972 di Palangka Raya, seorang gadis Dayak digodai dan diperkosa, terhadap kejadian itu diadakan penyelesaian dengan mengadakan perdamaian menurut hukum adat.

Tahun 1982, terjadi pembunuhan oleh orang Madura atas seorang suku Dayak, pelakunya tidak tertangkap, pengusutan / penyelesaian secara hukum tidak ada.

Tahun 1983, di Kecamatan Bukit Batu, Kasongan, seorang warga Kasongan etnis Dayak di bunuh (perkelahian 1 (satu) orang Dayak dikeroyok oleh 30 (tigapuluh) orang madura). Terhadap pembunuhan atas warga Kasongan bernama Pulai yang beragama Kaharingan tersebut, oleh tokoh suku Dayak dan Madura diadakan perdamaian: dilakukan peniwahan Pulai itu dibebankan kepada pelaku pembunuhan, yang kemudian diadakan perdamaian ditanda tangani oleh ke dua belah pihak, isinya antara lain menyatakan apabila orang Madura mengulangi perbuatan jahatnya, mereka siap untuk keluar dari Kalteng.

Tahun 1996, di Palangka Raya, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop Panala dan di bunuh dengan kejam (sadis) oleh orang Madura, ternyata hukumannya sangat ringan.

Tahun 1997, di Desa Karang Langit, Barito Selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40 orang, dengan skor orang Madura mati semua, tindakan hukum terhadap orang

Dayak: dihukum berat. Orang Dayak tersebut diserang dan mempertahankan diri menggunakan ilmu bela diri? dimana penyerang berhasil dikalahkan semuanya.

Tahun 1997, di Tumbang Samba, ibukota Kecamatan Katingan Tengah, seorang anak laki-laki bernama Waldi mati terbunuh oleh seorang suku Madura yang ?tukang jualan sate?. Si belia Dayak mati secara mengenaskan, ditubuhnya terdapat lebih dari 30 (tigapuluh) bekas tusukan. Anak muda itu tidak tahu menahu persoalannya, sedangkan para anak muda yang bertikai dengan si tukang sate telah lari kabur ?.Yang tidak dapat dikejar oleh si tukang sate itu, si korban Waldi hanya kebetulan lewat di tempat kejadian.

Tahun 1998, di Palangka Raya, orang Dayak dikeroyok oleh 4 (empat) orang Madura, pelakunya belum dapat ditangkap karena melarikan diri dan korbannya meninggal, tidak ada penyelesaian secara hukum.

Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang petugas Tibum (ketertiban umum) dibacok oleh orang Madura, pelakunya di tahan di Polresta Palangka Raya, namun besok harinya datang sekelompok suku Madura menuntuttemannya tersebut dibebaskan tanpa tuntutan; ternyata pihak Polresta Palangka Raya membebaskannya tanpa tuntutan hukum;

Tahun 1999, di Palangka Raya, seorang Dayak dikeroyok oleh beberapa orang suku Madura --- masalah sengketa tanah ---; 2 (dua) orang Dayak dalam perkelahian tidak seimbang itu mati semua, sedangkan pembunuh lolos, malah orang Jawa yang bersaksi dihukum 1,5 tahun karena dianggap membuat kesaksian fitnah terhadap pelaku pembunuhan yang melarikan diri itu.

Tahun 1999, di Pangkut, ibukota Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, terjadi perkelahian massal dengan suku Madura, gara-gara suku Madura memaksa mengambil emas pada saat suku Dayak menambang emas. Perkelahian itu banyak menimbulkan korban pada ke dua belah pihak, tanpa penyelesaian hukum.

Tahun 1999, di Tumbang Samba, terjadi penikaman terhadap suami-isteri bernama IBA oleh 3 (tiga) orang Madura; pasangan itu luka berat. Dirawat di RSUD Dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya, biaya operasi /perawatan ditanggung oleh Pemda Kalteng. Para pembacok / pelaku tidak ditangkap, katanya? sudah pulang ke pulau Madura sana!. (Tiga orang Madura memasuki rumah keluarga IBA dengan dalih minta diberi minuman air putih, karena katanya mereka haus, sewaktu IBA menuangkan air di gelas, mereka

membacoknya, isteri IBA mau membela, juga di tikam. Tindakan itu dilakukan mereka menurut cerita mau membalas dendam, tapi salah alamat).

Tahun 2000, di Pangkut, Kotawaringin Barat, 1 (satu) keluarga Dayak mati dibantai oleh orang Madura, pelaku pembantaian lari, tanpa penyelesaian hukum. Tahun 2000, di Palangka Raya, 1 (satu) orang suku Dayak di bunuh / mati oleh pengeroyok suku Madura di depan gedung Gereja Imanuel, Jalan Bangka. Para pelaku lari, tanpa proses hukum.

Tahun 2000, di Kereng Pangi, Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur, terjadi pembunuhan terhadap SENDUNG (nama kecil). Sendung mati dikeroyok oleh suku Madura, para pelaku kabur / lari, tidak tertangkap, karena lagi-lagi ?katanya? sudah lari ke Pulau Madura, proses hukum tidak ada karena pihak berwenang tampaknya?belum mampu? menyelesaikannya (tidak tuntas).

Tahun 2001, di Sampit (17 s/d 20 Februari 2001) warga Dayak banyak terbunuh / dibantai. Suku Madura terlebih dahulu menyerang warga Dayak.

Tahun 2001, di Palangka Raya (25 Februari 2001) seorang warga Dayak terbunuh / mati diserang oleh suku Madura. Belum terhitung masalah warga Madura di bagian Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan

Selatan. Suku Dayak hidup berdampingan dengan damai dengan Suku Lainnya di Kalimantan Tengah, kecuali dengan Suku Madura. Lanjutan kerusuhan tersebut adalah peristiwa Sampit yang mencekam itu.


KRONOLOGIS 

1. Tanggal 18 Februari 2001.
a. Pkl.01.00 WIB terjadi peristiwa pertikaian antar etnis diawali dengan terjadinya perkelahian antara Suku Madura dengan kelompok Suku Dayak di Jalan Padat Karya, yang mengakibatkan 5 (lima) orang meninggal dunia dan 1 (satu) orang luka berat semuanya dari Suku Madura.

b. Pkl. 08.00 WIB terjadi pembakaran rumah Suku Dayak sebanyak 2 (dua) buah rumah yang dilakukan oleh kelompok Suku Madura dan 1 (satu) buah rumah Suku Dayak dirusak dan dijarah oleh kelompok Suku madura. Kejadian ini mengakibatkan 3 (tiga) orang meninggal semuanya dari Suku Dayak.

c. Pkl. 09.30 WIB pengiriman Pasukan Brimob Polda dari Kalimantan Selatan sebanyak 103 personil dengan kendali BKO Polda Kaliteng untuk pengamanan di Sampit dan tiba Pkl. 12.00 WIB

d. Pkl. 10.00 WIB sebanyak 38 (tiga puluh delapan) orang tersangka dari kelompok Suku Dayak atas kejadian tersebut di atas diamankan ke MAPOLDA Kalteng di Palangka Raya dan menyita beberapa macam senjata tajam sebanyak 62 buah.

e Pkl. 20.30 WIB ditemukan 1 (satu) orang mayat dari kelompok Suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit.

2. Tanggal 19 Februari 2001
a. Pkl. 02.00 WIB terjadi pembakaran 1 (satu) buah mobil Kijang milik Suku Madura di Jalan Suwikto, Sampit.

b. Pkl. 16.00 WIB ditemukan mayat sebanyak 4 (empat) orang dan 1 (satu) orang luka bakar semuanya dari Suku Dayak di Jalan Karya Baru, Sampit.

c. Pkl. 17.00 WIB diadakan sweeping oleh Petugas aparat keamanan terhadap kelompok Suku Madura dan kelompok Suku Dayak di Sampit.

d. Penangkapan 6 (enam) orang Suku Dayak tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka yang telah ditahan sebelumnya, dan diamankan di Polres Kotim.

e. Pkl. 22.00 WIB Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dan DANREM 102/PP bersama pasukan dari Yonif 631/ATG sebanyak 276 orang menuju Sampit dan tiba Pkl. 03.00 WIB.

f. Pada tanggal 18 dan 19 Februari 2001 kota Sampit sepenuhnya dikuasai oleh Suku Madura yang menggunakan senjata tajam dan bom molotov.

3. Tanggal 20 Februari 2001.
a Pkl. 08.30 WIB diadakan pertemuan antara DANREM 102/PP, KAPOLDA dan Wakil Gubernur dan MUSPIDA Kabupaten Kotawaringin Timur dengan tokoh masyarakat di Sampit ( Tokoh Dayak, Madura dan Tokoh Masyarakat

Sampit) untuk mengupayakan penghentian pertikaian dan dilanjutkan dengan pemantauan ke lokasi pertikaian dengan mengadakan dialog dengan warga yang bertikai.

b. Warga yang ketakutan karena kerusuhan dan sweeping disertai pembakaran rumah yang dilakukan oleh Suku Madura terhadap Suku Dayak mengungsi ke Gedung Balai Budaya Sampit, Gedung DPRD Kotawaringin Timur dan Rumah Jabatan Bupati Kotawaringin Timur sebanyak 702 KK (2.850 orang) bukan Suku Madura dan sebagian warga non Madura mengungsi ke Palangka Raya.

c. Terjadi perkelahian dan kerusuhan massal terbuka antara Suku Madura dan Suku Dayak yang datang membantu dari pedalaman.

4. Tanggal 21 Februari 2001.
a. Pkl. 09.00 WIB di Sampit diadakan pertemuan Wakil Gubernur, DANREM 102 / PP dan KAPOLDA Kalimantan Tengah dengan MUSPIDA Kabupaten Kotawaringin Timur.

b. Pkl. 09.00 WIB di Palangka Raya ada Unjuk Rasa oleh masyarakat Suku Dayak, Suku Jawa, Suku Batak dan masyarakat lainnya ke DPRD Propinsi Kalimantan Tengah menyampaikan tuntutan sebagaimana pada Lampiran 07.

c. Pkl. 12.15 WIB para pengunjuk rasa menuju MAPOLDA Kalimantan Tengah untuk menjemput 38 tahanan yang diminta penangguhan penahanannya.

5. Tanggal 22 Februari 2001.
a. Pkl. 08.00 WIB diadakan Rapat Satkorlak PB di ruang kerja Wakil Gubernur Kalimatan Tengah untuk mengantisipasi menanggulangi kerusuhan di Sampit.

b. Pkl. 08.30 WIB berangkat ke Jakarta rombongan dari LMMDDKT sebanyak 3 orang didampingi oleh KAJATI Kalimantan Tengah, Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Tengah, Ketua DPRD Propinsi Kalimantan Tengah dan Kepala Direktorat Sosial Politik Propinsi Kalimantan Tengah menghadap KAPOLRI untuk menyampaikan usul supaya KAPOLDA Kalimantan Tengah diganti.

c. Pkl. 10.30 WIB Wakil Gubernur Kalteng menghubungi Wakil Gubernur Jawa Timur per telepon untuk koordinasi dalam rangka penanganan evakuasi pengungsi ke Surabaya.

d. Ditemukan 14 buah Bom Rakitan di rumah Suku Madura di Sampit.

e.Menghubungi Dirjen Perhubungan Laut untuk koordinasi angkutan Kapal dan merubah rute pelayaran Kapal Pelni yang ke Kumai untuk membawa pengungsi dari Sampit ke Surabaya.

6. Tanggal 23 Februari 2001.
a. Pkl. 08.30 WIB Tim Investigasi MABES POLRI berangkat ke Palangka Raya dibawah Pimpinan Brigjen Pol. MUJI HARTAJI beserta 2 anggota untuk mengadakan pengecekan di lapangan.

b. Pkl. 15.00 WIB diadakan Rapat Satkorlak PB Kalimantan Tengah untuk membahas bantuan Kapal, membentuk Tim Sukarelawan untuk dikirim ke Sampit untuk membentuk dan memperkuat Satlak PB di Sampit.

c. Melakukan evakuasi pengungsi Suku Madura dari Kuala Pembuang ke Gresik sebanyak 205 orang dengan KLM Bintang Selatan dan sebanyak 1.027 orang dengan KM Anugrah Samudra.

7.Tanggal 24 Februari 2001.
a.Ditemukan 4 (empat) mayat Suku Madura di Sampit.

b.Ditemukan 6 (enam) bahan peledak bom rakitan di Komplek IKAMA Palangka Raya.

c.Pkl. 10.00 WIB melakukan evakuasi Suku Madura sebanyak 2.100 orang dari Sampit ke Surabaya dengan KRI Teluk Sampit

d. Pkl. 23.45 WIB melakukan Evakuasi Suku Madura sebanyak 3.000 orang dengan KRI Teluk Ende.

8. Tanggal 25 Februari 2001.
a. Pkl. 09.30 WIB melakukan Evakuasi pengungsi dari Kumai ke Semarang sebanyak 2.139 orang dengan KM Leuser.

b.Pkl. 11.30 WIB Menkopolsoskam beserta rombongan tiba di Palangka Raya dan langsung meninjau lokasikerusuhan di Kota Sampit dan Kota Palangka Raya.

c. Pkl. 18.30 WIB kerusuhan dari Sampit meluas ke Kota Palangka Raya, mulai terjadi pembakaran rumah-rumah Suku Madura sebanyak 20 buah oleh warga masyarakat non Madura yang datang dari berbagai tempat di pedalaman.

9. Tanggal 26 Februari 2001.
a.Satkorlak Pengendalian Bencana (PB) Kalteng menerima bantuan dari Depkes dan Kessos, Dinas PU Kalimantan Tengah, Bakornas Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP) PMI Pusat lihat Lampiran 06.

b.Terjadi pembakaran 3 (tiga) buah rumah Suku Madura di Kota Palangka Raya oleh masyarakat setempat non Madura.

10. Tanggal 27 Februari 2001.
a. Pukul 08.30 WIB tiba di Palangka Raya Tim KOMNAS HAM Pusat di bawah Pimpinan Sdr. Bambang W. Suharto.

b.Pukul 07.38 WIB tiba di Palangka Raya rombongan PMI Pusat di bawah pimpinan Sdr. Mar'ie Muhammad beserta rombongan dengan membawa bahan makanan dan obat-obatan.

c. Meninggal dunia sebanyak 7 orang terdiri dari 5 (lima) orang Suku Madura dan 2 (dua) orang yang tidak diketahui identitas Sukunya akibat kerusuhan di kota Palangka Raya.

d.Evakuasi Suku Madura sebanyak 2.269 orang dari Pegatan Mendawai Kotawaringin Timur ke Banjarmasin dengan Speed Boat.

e.Rombongan petugas Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB sebanyak 4 (empat) orang tiba di palangka Raya meminta informasi berkenaan jumlah pengungsi dan penangananya serta upaya penanggulangan kerusuhan.

f.Pukul 13.45 WIB di Sampit terjadi kesalah-pahaman antara aparat keamanan di Pelabuhan Sampit sehingga menimbulkan korban dari POLRI 3 orang luka tembak, dari TNI-AD 1 (satu) orang meninggal dunia dan dua orang luka tembak. Kerugian material 1 (satu) buah Jeep PM, 1 (satu) buah Suzuki Vitara dan 6 (enam) buah truk TNI-AD rusak berat.


11. Tanggal 28 Februari 2001.

a.Jumlah pengungsi yang dievakuasi dengan Kapal Laut secara keseluruhan sejak tanggal 18 Pebruari 2001 sebanyak 57.492 (lima puluh tujuh ribu empat ratus sembilan puluh dua) orang dengan perincian pada Lampiran 02.

b.Terjadi kebakaran di Pasar Sampit, Jalan Iskandar pada pukul 18.45 WIB. Besarnya kerugian belum bisa dihitung dan akan dilaporkan kemudian.

c.Jumlah korban sejak tanggal 18 Pebruari 2001 terdiri dari korban jiwa sebanyak 383 (tiga ratus delapan puluh tiga) orang dan luka-luka sebanyak 38 (tiga puluh delapan orang). Korban materil berupa rumah terbakar sebanyak 793 (tujuh ratus sembilan puluh tiga buah) dan rumah yang rusak sebanyak 48(empat puluh delapan). Kendaraan roda empat dan roda dua sebanyak 13 (tiga belas) buah, serta Becak sebanyak 206 (dua ratus enam) buah lihat Lampiran 01.

d.Jumlah satuan pengamanan untuk wilayah Sampit yang sudah dikerahkan sampai saat ini sejak tanggal 18 Pebruari 2001 sebanyak 3.129 (tiga ribu seratus dua puluh sembilan) personil lihat Lampiran 03.

12. Tanggal 01 Maret 2001.
a. Kunjungan Wakil Presiden beserta rombongan dan pengarahan kepada Gubernur dan Muspida dalam rangka peninjauan ke Sampit dan Palangkaraya.

b. Menyampaikan pernyataan sikap oleh Forum Komunikasi Umat beragama Kabupaten KOTIM tentang jaminan keamanan untuk masyarakat Sampit yang dihadiri oleh Tokoh masyarakat dan tokoh agama ( Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu).

c.Menerima pengungsi di Palangkaraya sebanyak 174 orang

13. Tanggal 02 Maret 2001.
a.Memberangkatkan 6 dokter dari RSCM Jakarta dan 10 orang Kelompok Sukarelawan (KSRL) ke Sampit.

b.Pemberangkatan pengungsi dari Sampit dengan menggunakan KRI Teluk Bone sebanyak 3.019 orang dan KRI Teluk Saleh sebanyak 3.156 orang ke Surabaya.

c.Menyerahkan bantuan beras dari Wakil Presiden sebanyak 20 ton ke Sampit.

d.Rapat koordinasi yang dipimpin oleh Gubernur mengenai solusi penanganan pertikaian antar etnis oleh tokoh masyarakat dan dihadiri unsur Muspida Tk. I Propinsi Kalteng.

14. Tanggal 03 Maret 2001.
a. Pengiriman Aqua oleh pengurus Daerah PMI Propinsi Kalimantan Tengah sebanyak 9000 botol = 750 dos.

b.Pengiriman 100 kantong darah dan 100 kantong darah segar bantuan dari PMI Pusat ke Sampit.

c. Memberangkatkan Sekretaris Daerah, Kadit Sospol dan Wakil Ketua DPRD Kalimantan Tengah ke Surabaya dalam rangka pertemuan dengan Tokoh Madura dan Kapolri.



****************************************************************

Kerusuhan Sampit


untuk perspektif yg berbeda lihat 

Kerusuhan Sampit dengan korban ratusan jiwa ternyata hanya bermula dari perkelahian siswa SMK di Baamang. Perkelahian itu melibatkan anak warga Dayak dan Madura.

Perkelahian siswa itulah, yang kemudian memicu konflik antarkeluarga, antaretnis, hingga pembantaian sampai pengusiran puluhan ribu warga Madura. Anak polah, bapa kepradah. Pepatah Jawa yang berarti anak berbuat, orang tua ikut terlibat ini terjadi atas diri keluarga Matayo. Warga asal Madura yang sudah lama tinggal di Baamang, Sampit, ini tak terima anaknya berkelahi dengan anak warga Dayak. Tapi, keterlibatan Matayo atas perkelahian anaknya ini malah memicu kegeraman warga dayak. Lalu, dibuatlah perhitungan. 
Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 (18 Februari) sekelompok pemuda Dayak menyerang dan membunuh Matayo. Tiga orang anggota keluarganya ikut tewas. Itu versi warga Madura. Versi warga Dayak agak berbeda lagi. Mereka bilang, eksekusi terhadap Matayo dan keluarganya terjadi karena yang bersangkutan sering melakukan tindak kriminal. Warga setempat pun jengkel karena sering dirugikan. Hanya empat jam, eksekusi Dayak terhadap Matayo ini menyebar.
Warga Madura tak bisa menerima. Sejumlah warga pendatang ini lantas menyatroni Ketua Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak, Seruyan Tengah, untuk membalas dendam. Lengkap dengan berbagai senjata, warga Madura ini minta Iniel menyerahkan pembunuh Matayo yang bersembunyi di rumahnya. Mereka mengancam akan membakar kalau pelaku tidak diserahkan. 

Tapi, 39 orang di dalam rumah Iniel tidak keluar. Warga Madura mulai tidak sabar. Mereka melemparkan apa saja ke pagar dan kaca rumah. Bahkan, ada yang berusaha membakar rumah. Mendengar ribut-ribut, polisi datang, lalu mengamankan 39 orang yang ada di rumah Iniel. Sebagian memang mengaku membunuh Matayo. Tapi, warga Madura tidak puas dan mengarahkan amarahnya ke warga Dayak yang lain. Beberapa rumah warga Dayak dibakar. Nasib tragis dialami Jihan atau Seyan, seorang purnawirawan TNI AD. Seyan beserta ketujuh anak dan cucunya yang kabarnya masih kerabat Iniel dibakar hidup-hidup dalam rumahnya. Sejak hari itu, warga Madura menguasai Sampit. Dengan mengacung-acungkan senjata, puluhan warga Madura pawai keliling kota. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai roda dua sampai roda empat. Mereka tak hanya berpawai. Setiap bertemu warga Dayak, mereka mengejar dan membunuhnya. Sedikitnya, sepuluh rumah dibakar. 

Tujuh orang tewas saat warga Madura menguasai Sampit. Bahkan, seorang ibu muda hamil tujuh bulan ikut dibunuh dengan dirobek perutnya. "Itu fakta," kata Bambang Sakti, tokoh muda Dayak asal Sungai Samba. Situasi itu membuat Sampit Minggu malam mencekam. Listrik padam total. Pembakaran di perkampungan warga di Jalan Baamang berlangsung sporadis. Pengungsi mulai membanjiri gedung pertemuan di depan rumah jabatan bupati sampit. Tapi, kemudian dialihkan ke kantor bupati. Yang mengungsi bukan hanya warga Madura. Juga Dayak dan Cina. Mereka berdesak-desakan mengungsi. Ini terjadi karena mereka belum tahu betul siapa yang menguasai jalanan di Sampit malam itu, Madura atau Dayak. Di pengungsian, Madura dan Dayak malah rukun.”Saya saat itu ikut mengungsi” ujar seorang wartawan lokal. Untuk menghadang orang Dayak keluar-masuk Sampit, warga Madura melakukan penjagaan di pertigaan Desa Bajarum yang mengarah kota Kecamatan Kota Besi. Penjagaan juga terjadi di Perenggean, Kecamatan Kuala Kuayan, dan desa-desa pedalaman Hilir Mentayan. Selama berpawai itu, warga Madura terus berteriak-teriak mencari tokoh Dayak. "Mana Panglima Burung? Mana tokoh Dayak?" tantang mereka. Tak hanya itu, seorang tokoh Madura melakukan orasi lewat pengeras suara, "Sampit akan jadi Sampang kedua, Sampit jadi Sampang Kedua". Mereka juga memasang spanduk: Selamat datang orang Dayak di kota Sampang, Serambi Mekkah. "Spanduk itu yang kami cari sekarang," kata Bambang Sakti. Bambang juga bilang telah menemukan sejumlah bom di rumah-rumah warga Madura. "Ini bukan isapan jempol," tuturnya. Sedikitnya, pasukan Dayak sudah menyerahkan 300 bom yang ditemukan di rumah warga Madura. Begitu juga beberapa pucuk pistol. "Tidak tahu bagaimana tindak lanjutnya," jelasnya. Kabarnya, bom-bom itu dirakit di Jawa, lalu dikirimkan ke Sampit. Tapi, sumber Jawa Pos menyebutkan, bom rakitan dibuat di Sampit. Lalu, didistribusikan ke berbagai warga Madura di kecamatan. Mereka bilang bom itu untuk mempertahankan diri jika sewaktu-waktu diserang warga Dayak. Tapi, karena bom itu pula, 112 warga Madura di Kecamatan Perenggean dibantai di lapangan kecamatan. Ini setelah warga Dayak menemukan bom di rumah seorang warga Madura. Melihat aksi penguasaan warga pendatang itu, warga Dayak tak tinggal diam. Mereka lantas membawa bala bantuan pasukan dari Dayak pedalaman. Warga Dayak yang tiba lebih dulu melakukan perlawanan sporadis. Selasa malam (20 Februari), peta kekuatan mulai berbalik.

Warga Dayak pedalaman dari berbagai lokasi daerah aliran sungai (DAS) Mentaya, seperti Seruyan, Ratua Pulut, Perenggean, Katingan Hilir, bahkan Barito berdatangan ke kota Sampit melalui hilir Sungai Mentaya dekat pelabuhan. Pasukan Dayak pedalaman yang rata-rata berusia muda tak lebih 25 tahun membekali diri dengan berbagai ilmu kebal. Jumlahnya sekitar sekitar 320 orang.

Pasukan itu lalu menyusup ke daerah Baamang dan sekitarnya, pusat permukiman warga Madura. Meski dalam jumlah kecil, kemampuan bertempur pasukan khusus Dayak sangat teruji. Buktinya, mereka mampu memukul balik warga Madura yang terkosentrasi di berbagai sudut jalan Sampit. Dengan ilmu kebal, mereka melawan ribuan warga Madura. Bahkan, mereka sanggup menghadapi bom yang banyak digunakan warga Madura. Dalam bentrok terbuka, seorang warga Madura melemparkan bom ke arah pasukan Dayak. Tapi, bom dapat ditangkap dan dilemparkan kembali ke arah kerumunan Madura. Meledak. Puluhan warga Madura tewas seketika. Selain kebal senjata, pasukan Dayak pedalaman tidak mempan ditembak. Mereka justru memunguti peluru untuk dikantongi. Karena itu, polisi juga keder.  Sejak itu, mental Madura pun langsung down. Strategi yang diterapkan warga Dayak dalam serangan balik cukup jitu. Selain masuk lewat Baamang, sekitar empat perahu penuh pasukan dayak tidak langsung merapat ke bibir sungai. Mereka berhenti di seberang sungai Mentaya. Baru berenang menuju kota pinggir sungai di tepian kota Sampit. Strategi ini untuk menghindari pengawasan orang Madura. Lantas, secara tiba-tiba, mereka muncul dan menyerang permukiman Madura. Madura pun dibuat kocar-kacir. Pasukan Dayak pedalaman terus bergerak ke kantong-kantong tokoh Madura. Seperti, Jalan Baamang III, Simpong atau dikenal Jalan Gatot Subroto, dan S. Parman. Rumah tokoh Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Haji Marlinggi yang cukup megah di Jalan DI Panjaitan tak luput dari sasaran. Banyak pengawal penguasa Pelabuhan Sampit itu yang terbunuh. Sebagian lari. Sejumlah becak bekas dibakar berserakan di halaman rumah yang hancur.
Rumah tokoh Madura lain seperti Haji Satiman dan Haji Ismail juga dihancurkan. Tidak terkecuali rumah Mat Nabi yang dikenal sebagai jagonya Sampit. Padahal, rumah tokoh-tokoh Madura yang berada di Sampit, Samuda, maupun Palangkaraya tergolong cukup mewah. Serangan pasukan inti Dayak kemudian diikuti warga Dayak lain. Mereka mencari rumah dan warga di sepanjang kota Sampit. Ratusan warga Madura dibunuh secara mengenaskan, lalu dipenggal kepalanya.

Spoiler for warning DP pict:

Hari-hari berikutnya gelombang serangan suku Dayak terus berdatangan. Bahkan, sebelum menyerang, seorang tokoh atau panglima Dayak lebih dulu membekali ilmu kebal kepada pasukannya. Karena itu, saat melakukan serangan, biasanya mereka berada dalam alam bawah sadar.
Uniknya, mereka juga dibekali indera penciuman tajam untuk membedakan orang Madura dan non-Madura. "Dari jarak sekitar 200 meter, baunya sudah tercium," ujar. Itu tak berlebihan. Saat ada evakuasi, di tengah jalan seorang warga Madura disusupkan. Dia dikelilingi warga non-Madura. Sebelum masuk ke lokasi penampungan, mereka kena sweeping Dayak. Meski orang itu ada di tengah pengungsi, masih juga tercium dan disuruh turun. Tanpa ampun, laki-laki tadi dibantai.


Spoiler for warning DP pict:

[
Agar serangan ke perkampungan Madura terkendali, para komando warga Dayak menggunakan Hotel Rama sebagai pusat komando penyerangan. Bahkan, di hotel itulah pasukan diberi ramuan ilmu kekebalan oleh para panglima. Saat digerebek, aparat menemukan beberapa kepala manusia. Tapi, para tokohnya sempat meloloskan diri. Kini, di depan hotel bertingkat dua itu dibentangkan police line.

Berada di atas angin, pasukan Dayak lalu melebarkan serangan ke berbagai kota Kecamatan Kotawaringin Timur. Sasaran pertama, Samuda, ibu kota Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, dan Parebok yang banyak dihuni warga Madura. Samuda dan Parebok jadi sasaran setelah Sampit karena banyak tokoh Madura tinggal di daerah itu. Di Parebok juga ada Ponpes Libasu Taqwa. Ponpes yang diasuh Haji Mat Lurah ini juga dijadikan tempat berlindung banyak warga Madura. Warga Madura di kecamatan lain pun tidak lepas dari buruan. Misalnya, Kuala Kuayan. Ratusan korban jatuh dengan kepala terpenggal. Kini, warga Dayak praktis menguasai hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Kecuali Pangkalan Bun. Kota ini aman karena hampir tak ada warga Madura yang tinggal di semua kota kecamatan. Penghuninya, saat itu, banyak yang lari menyelamatkan diri ke hutan, baik Palangkaraya, Sampit, maupun Samuda.

Bohong, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura yang tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit. Hal ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517. Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa melihat puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah bangunan rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus.
Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada puluhan yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. "Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak kurang dari 200 mayat," katanya.

Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur. Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong. Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk,... kuluk,... kuluk,... sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura. Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk..., kuluk..., sambug-menyambung muncul dari segala penjuru.

Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. "Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak," kata Sopian. Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. "Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja," kata Sopian. Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi.

Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman. Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya.

Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. "Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai," kata Choiri. Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak-anak. Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta. Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang. Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak.


Analisa

Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini sebagai Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang merugikan harta dan nyawa orang Dayak. Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian. Tapi, setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. "Paling tidak sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama selalu dilanggar warga Madura," kata Usop saat pertemuan tokoh masyarakat Dayak dengan DPRD Kalteng. Bahkan, saat pembuatan jalan Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit Batu tahun 1983. Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh Dayak dengan tokoh Madura. Ada satu poin penting dalam perjanjian itu. Yakni, Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali ada pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak berdatangan ke Kalimantan. "Dokumen itu yang kini sedang kami cari," tambha Usop.


Menurut Dr Thamrin Amal Tomagola, sosiolog dari Universitas Indonesia, ada empat faktor utama akar konflik di Kalimantan, yaitu;

1. Terjadinya proses marginalisasi suku Dayak. Pendidikan yang minim dan sedikitnya warga Dayak yang bisa menikmati pendidikan mengakibatkan sedikitnya warga Dayak yang duduk di pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah lebih banyak di pegang oleh warga pendatang.

2. Penempatan transmigran di pedalaman Kalimantan yang mengakibatkan singgungan hutan. Hutan bagi masyarakat Dayak adalah tempat tinggal dan hidup mereka. Ketika transmigran ditempatkan di pedalaman Kalimantan, dan mereka melakukan penebangan hutan, kehidupan masyarakat Dayak terganggu. Sejak tahun 1995 para transmigran di tempatkan di pedalaman Kalimantan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menempatkan transmigran di pesisir. Para pendatang baru inilah, yang dikenal keras dan pembuat masalah, tidak seperti pendatang-pendatang sebelumnya. Selain soal transmigrasi, pemerintah juga telah memberikan keleluasaan bagi para pengusaha untuk membuka hutan melalui HPH.

3. Masyarakat Dayak kehilangan pijakan, terganggunya harmoni kehidupan masyarakat Dayak mengakibatkan masyarakat Dayak kehilangan pijakan. Kekuatan adat menjadi berkurang. Kebijakan-kebijakan pemerintah telang menghilangkan/mengurangi identitas mereka sebagai masyarakat adat.

4. Hukum yang tidak dijalankan dengan baik mengakibatkan banyaknya terjadi tindak kekerasan dan kriminal yang dibiarkan. Proses pembiaran ini berakibat pada lemahnya hukum dimata masyarakat, sehingga masyarakat menggunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan, diantaranya dengan menggunakan kekerasan.

Di kutif dari : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2208967


*********************************************************************************


Menjadi Saksi Tragedi Sampit 18 Februari 2001


Dok: Tedy, teman dari temannya teman saya M. Syaiful F. *hehehe (Selamat Datang di Sampit)

Tragedi yang tak telah merenggut lebih dari 200 nyawa manusia telah terjadi di kotaku. Sampit nama kotaku, sebuah kota yang menjadi ibukota dari Kabupaten Kotawaringin Timur, salah satu dari 14 kabupaen/kota yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Siapa pun tak ada yang menginginkan tragedi ini terjadi di kotaku yang dulunya indah dan bersih karena sempat meraih penghargaan adipura.

Saat itu aku baru berumur 8 tahun 2 bulan, tepatnya masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Tahun 2001 baru saja melewati bulan pertamanya Januari dan semua masih sedia kala. Namun, semua berubah ketika Minggu, 18 Februari 2001 menjadi awal saat dimana kotaku memilki sejarah yang kelam. Bukan maksudku untuk memicu kembali tragedi tersebut, hanya ingin berbagai pengalaman. Berharap pengalaman ini nantinya menjadi pelajaran berharga anak cucu agar tidak akan pernah lagi terjadi tragedi semacam ini, baik di Sampit maupun di wilayah lainnya. Aamiin

*** Minggu, 18 Februari 2001 aku bersama ayahku saat itu sedang melakukan kerja bakti memberihkan pekarangan rumah. Kebetulan rumput dihalaman depan rumah sudah mulai tinggi. Kemudian kerja bakti terhenti ketika ayahku melihat kepulan asap hitam dari arah selatan yang tak terlalu jauh dari rumahku. Ku perkirakan jaraknya antara 1-2 km dan kalau menggunakan motor dalam waktu 5 menit dengan kecepatan 40 km/jam pun pasti sudah sampai.

"bremm.. bremm.. "

Ayahku berusaha menghidupkan motor tuanya. Kemudian aku bantu dorong barulah motor itu benar-benar hidup. Ayahku kala itu mengajakku untuk melihat lokasi kebakaran tersebut. Ya, akhirnya kami berdua pergi dengan segera bahkan karena buru-buru ayahku tidak sempat lagi memakai alas kaki. Belum sampai di lokasi kebakaran, kami sudah di minta berbelok oleh orang-orang bersenjata tajam.

"BELOK PAK, BELOK PAK, ADA KERUSUHAN" teriak orang itu kearah kami.

Dengan sigap, ayahku langsung berbelok dan kembali tancap gas. Untungnya kami di minta berbelok, coba kalau sudah sampai tempat kebakaran, bisa dibayangkan mungkin tulisan ini tak akan pernah rekan-rekan baca.

Ternyata yang terbakar itu adalah rumah dari orang tua tetanggaku dari suku dayak. Aku sering berlatih bermain badminton di jalan depan rumah beliau. Ya, beliaulah yang mengajariku bermain badminton setiap sore hari jika tidak ada kegiatan lain. Menurut kabar yang saya peroleh, dirumah orang tua pelatihku ada sedikit konflik antara suku dayak dan Madura yang menyebabkan rumahnya menjadi korban amukan yang berujung pada aksi pembakaran. Untuk kronolgisnya bisa kalian baca di berbagai artikel yang pada umumnya kontennta sama dan entah awalmula artikel darimana? Dan saya memberikan link ini.

***

Senin, 19 Februari 2001 kejadian memang belum memanas namun hari itu aku tidak pergi ke sekolah, hanya Ayahku yang pergi ke kantor. Kebetulan Ayahku setiap pagi memang harus ke kantor karena ayahku yang pegang kunci kantor. Baru jam 09.00 WIB ayahku sudah kembali ke rumah, dan bilang kalau di kota sepi. Ada juga cerita dari Bapak Yunius Linga, guru bahasa Indonesiaku saat di SMA yang bercerita pengalaman beliau saat pergi mengajar saat hari Senin.

Ketika itu beliau berangkat dengan menggunakan sepeda motor Alfa.Motor keluaran lama yang tarikannya sangat lemah. Senin, 19 Februari 2001 ternyata dari jl. Jend Sudirman km 5 beliau berangkat ke sekolah hendak mengajar. Setiba di km 1 tiba-tiba saja beliau di stop oleh orang.

"Pak mau kemana?" kata orang itu

"Mau ngajar" kata guruku dengan logat maduranya padahal bukan orang Madura.

Seketika bicara seperti itu, langsung ada banyak orang keluar dari semak-semak dan orang yang ditemui guruku langsung menyuruh untuk putar baliL. Menurut guruku perasaan saat itu sudah campur aduk karena dengan mata kepala sendiri menyaksikan tombak melesat kesamping tubuhnya, dan senjata-senjata lainnya yang berusaha mengenai tubuh beliau. Wah, pengalaman yang tak pernah terlupakan bersama alfa tutur beliau. Bisa dibayangkan saja ketika tombak yang dilemparkan mengenai tubuh beliau, maka cerita ini pun tak akan pernah tersampaikan. Alhamdulillah

***

Selasa, 20 Februari 2001 suasana di Sampit semakin mencekam. Toko-toko tutup, tak ada lagi bibi/paman sayur berjualan keliling seperti biasanya. Menurut pejualan sayur didekat rumahku pasar sepi dan tidak ada orang jualan. Tapi kalau tidak salah, ayahku membawa banyak bahan makanan saat itu untuk persediaan nantinya kalau sewaktu-waktu konflik ini akan lama. Kebetulan Ayahku ada kenalan dengan sebuah toko langganan, walau tutup bisalah ketok-ketok kedalam rumah untuk belanja. Oh iya, warga Madura yang berada di sekitar rumahku mulai mengungsi ke kantor PEMDA, rumah jabatan Bupati dan sekitar POLRES Kotim. Kami yang menjadi tetangga hanya bisa bersalaman dengan mereka dan sedikit memberikan bantuan dana kepada mereka dalam bentuk uang. Tak banyak, tapi berharap dapat membantu nantinya.

Mulai saat itu, Sampit benar-benar seperti menjadi kota mati, listrik mulai sering padam. Selain itu, orang-orang dewasa mulai melakukan jaga malam lagi. Mungkin diluar komplek perumahan ku seperti kota mati, namun di dalam komplek perumahanku aku merasakan keramaian. Ya, beberapa mala mini aku makan jagung bakar, singking bakar dan tidur pun larut malam, serta yang paling disukai tidak ada belajar malam. hehehehe

***

Rabu, 21 Februari 2001 aku bersama keluarga besarku akhirnya juga pergi mengungi. Walau kami bukan dari suku yang secara langsung bertikai (dayak dan Madura) karena orang tuaku asli orang Malang, Jawa Timur. Kami pergi ke rumah kerabat ayahku yang berada di sekitar kantor PEMDA juga rumahnya. Selama dalam perjalanan menuju tempat mengungsi aku selalu membaca surat Al Fatihah dan yang pasti selalu memegang leher.*takut karena cerita orang-orang tentang pemenggalan kepala

***

Kamis, 22 Februari 2011 akhirnya kami kembali ke rumah lagi. Dan saat itu sudah mulai terjadi kebakaran berbagai fasilitas baik milik orang Dayak atau Madura. Kebakaran rumah orang dayak pada umumnya terjadi pada hari awal dan setelah tanggal 20 Februari 2001 kebakaran mulai banyak pada rumah orang-orang Madura. Mulai saat itu juga aku mendengar bahwa orang dayak pedalaman kelua dan datang ke Sampit. Sedikit bocoran, yang ku tahu orang-orang tersebut kebal dengan senjata tajam. Bahkan sering disebut-sebut Panglima Burung sebagai pemimpin pasukan mereka bisa terbang dan sebagainya. Mulai saat itu, nama Panglima Burung mulai dikenal oleh masyarakat Sampit sebagai seorang yang sakti. Ada juga panglima kumbang dan panglima-panglima lainnya.

Kebakaran , pengrusakan rumah, dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Tak heran, hampir setiap hari aku melihat bara api dan kepulan asap yang melambung ke udara. Hari-hari yang ku dengar adalah adanya bunyi sirene ambulans dan police serta suara khas panggilan suku dayak. "Wo...wo...wo...wo..." membunyikan mulut dengan suara Wo kemudian menepuk-nepuk bibir dengan telapak tangan. Mulai saat itu, masyarakat Sampit pun tak heran dengan kebakaran bahkan kebakaran menjadi tontonan layaknya menonton kembang api saat pergantian tahun. Usiaku yang masih kecil membuatku hanya bisa mendengar dari cerita orang dewasa dan melihat tapi tak dapat mendekat dengan para pejuang suku dayak. Kurang lebih dua hari sejak tanggal 18 Februari suku Madura menguasai Sampit dan selanjutnya Sampit dikuasai kembali oleh suku Dayak.

Kantor PEMDA yang menjadi tempat pengungsian sudah tak berbentuk lagi rasanya, dihalaman, didalam kantor dan selagi ada ruang kosong sudah di jejali oleh pengungsi. Listrik pun akhirnya benar-benar padam, Air Pam warnanya mulai kemerahan yang menurut kabar ada sebagai mayat di lemparkan kedalam tangki. Akhirnya masyarakat kembali ke air sumur lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Kasihannya lagi pengungsi mengalami kehausan dan kelaparan. Barang-barang yang miliki pun dengan berat hati dijual dan tentunya berapapun harganya mereka bersedia melepasnya. Ayahku pun mendapatkan dua sepeda , satu untukku dan yang satu lagi untuk kakakku. Sebaliknya, pengungsi tercekik karena ada sebagian penjual makanan dan minuman menjatuhkan harga yang cukup tinggi kepada pengungsi. Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah mungkin kata yang tepat untuk pengungsi. Bayangkan saja, air minum yang dibungkus dengan plastik dengan volume mungkin tak sampai 1 liter dihargai Rp5000 dan makanan bungkus yang lauknya tempe dan tahu diharga Rp10.000.

***

Selama tragedi itu, ada beberapa keunikan yang masih saya ingat.

1. Menurut cerita, suku dayak dapat mencium bau badan suku Madura, sehingga tidak salah sasaran dalam penyerangan.

2. Warga non Madura yang tidak mengungsi diminta untuk memasangkan tali/kain berwarna merah dan kuning di tiang-tiang rumahnya yang ditambah juga dengan daun sawang, dengan tanda bahwa itu rumah bukan dari suku Madura.

3. Wah, dirumah-rumah lain pun mulai banyak tulisan "ULUH ITAH DAYAK" atau artinya saya orang dayak dan ada juga "ULUH ITAH JAWA" serta tulisan-tulisan sejenisnya di dinding-dinding rumah mereka karena khawatir jadi sasaran pembakaran rumah.

4. Orang tua diminta untuk mengoleskan kapur sirih ke dahi anak-anaknya tujuannya saya kurang tahu.

5. Ketika malam, orang tua juga diminta untuk memberikan gula merah kepada anak-anaknya agar di emut si anak tujuannya saya juga kurang tahu.

6. Anehnya, api yang membakar rumah orang Madura oleh suku dayak tidak mengenail rumah dari suku lain walau jaraknya berdekatan.

7. Menurut cerita, Mandau (senjata suku dayak) bisa terbang dan memangsa orang Madura yang melakukan perlawanan

8. Menurut cerita, jika orang dayak sudah meniupkan sumpitnya, PINTU pun akan tembus

9. Suku dayak banyak yang kebal dengan senjata tajam atau api

Selama tragedi itu sungguh aku tidak pernah menonton tv, dan tidur rata-rata hanya 3 saja, padahal aku masih duduk di kelas 3 SD. Itu karena kau berbaur dengan bapak-bapak yang ikut berjaga malam sambil menikmati jagung dan singkong bakar hasil mencabut dari lading suku Madura.*gak baik Tapi ya, ditempat orang Madura yang sudah dekat dengan kami-kami warga tadi. Seluruh ladangnya sudah ditinggalkan, dan menyisakan hasil tanaman-tanaman yang bisa dijadikan untuk bahan makanan berjaga malam.

Tragedi itu pun berakhir, orang-orang Madura kembali ke Pulau Madura dan suku dayak yang sering disebut orang pedalaman kembali ke daerahnya masing-masing. Tiba saatnya masuk sekolah. Semigga masih di antar orang tua dan untuk selanjtunya saya pun ke sekolah dengan bersepada, kebetulan ada beli sepeda dengan orang Madura kala itu. Hehehe... Ketika masuk sekolah, sepiiiiiiiiiii, teman-teman tersisa 14 siswa saja rasanya. Bahkan SD tetangga hanya tersisa 7 siswa. Wow, hingga akhirnya sekolah kami digabung menjadi satu. Cukup signifikan, peringkat kelas saya langsung melejit ke tiga besar. Hehehe

Untuk mengenang peristiwa tersebut sebagai bentuk perdamaian, Menurut guru sejarah saya di SMAN 1 Sampit dibuatlah Tugu Perdamaian sebagai tanda perdamaian antara kedua suku. Ya, tugu tersebut ditempatkan di bundaran Jl. Jend Sudirman Sampit-Pangkalan bun km 3. Ada pula Makam Korban Tragedi Sampit yang mungkin sudah tak ada lagi keluarga-keluarganya. Sampit menjadi kota mati untuk beberapa saat. Saya bersama orang-orang yang berada di Sampit saat itu hanya bisa menjadi saksi tragedi berdarah tersebut dan berharap tak akan pernah ada lagi tragedi semacam itu. Sekarang tragedi itu tepat 11 tahun dan senang rasanya bisa melihat SAMPIT aman kembali.



1329529613711217940
Dok :Kelana Nusantara (Tugu Perdamaian Tragedi Sampit)


Di zaman pembangunan bangsa-bangsa ini telah muncul kemungkinannya, keharusan akan suatu "Dunia" yang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan-penindasan Nasional. [Membangun Dunia Kembali To Build The World a New, 30 September 1960] - BUNG KARNO


http://www.kompasiana.com/kajok/menjadi-saksi-tragedi-sampit-18-februari-2001_5520c6e0813311f77319fb52



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?