
Beberapa wilayah perairan di seluruh dunia dilaporkan berubah menjadi merah darah, dan ini memicu sejumlah orang menjadi takut bahwa Akhir Zaman sudah dekat. Mulai dari lautan hingga sungai-sungai, sejumlah wilayah perairan nampaknya berubah menjadi darah hanya dalam waktu semalam. Dengan gambar-gambar menakjubkan bermunculan secara online tentang peristiwa-peristiwa ini, sejumlah kelompok berbeda menunjukkan nubuat Alkitab dalam Kitab Wahyu 16:4, yang menggambarkan seorang Malaikat menuangkan cawannya ke atas laut, dan itu menjadi darah – sebagai bukti bahwa kiamat sudah dekat. Namun, adakah penjelasan lain disamping tanda-tanda Akhir Zaman, yang bisa menjelaskan fenomena misterius ini?
Akhir-akhir ini, sejumlah posting bermunculan di media sosial yang menyebutkan bahwa Akhir Zaman sudah dekat, berkat foto-foto lautan darah di berbagai tempat di bumi. The Washington Post melaporkan salah satu peristiwa di China yang membuat sungai di kota Wenzhou benar-benar merah seperti darah. Penduduk setempat mengatakan mereka bangun pagi-pagi dan menyaksikan pemandangan itu, tanpa penjelasan kenapa airnya berwarna merah darah.
“Beberapa orang yang bangun pagi kira-kira pukul 5.00 mengatakan semuanya normal, tapi tiba-tiba hanya dalam hitungan beberapa menit air berubah menjadi gelap dan akhirnya menjadi merah sepenuhnya.”
Wenzhou yang menjadi basis iman Kristen, banyak yang menyebutnya Yerusalem China, sebagian penduduk di daerah itu menunjukkan nubuat Alkitab mengenai peristiwa air berubah menjadi darah. Kitab Wahyu menuliskan tentang seorang Malaikat yang menuangkan cawannya ke atas lautan dan itu menjadi darah.
Wahyu 16:3 (AYT) Malaikat kedua menumpahkan cawannya ke laut, maka laut berubah menjadi darah, seperti darah orang mati; dan semua yang hidup di dalamnya pun mati.
Meskipun banyak yang percaya lautan merah ini sebagai tanda-tanda dari Surga, pemerintah China mengatakan ada penjelasan sederhana untuk air merah ini. Badan Perlindungan Lingkungan Wenzhou mengatakan, pengujian mengindikasikan air berubah menjadi merah menakutkan karena pembuangan limbah ilegal, sepertinya pewarna buatan dari industri kain.

Penduduk desa China tercengang sementara sungai berubah menjadi darah dalam semalam. Air menjadi anggur.

Penduduk memandangi sungai yang berubah merah dalam semalam di desa Cangnan, China Timur, provinsi Zhejiang, 24 Juli.

Sungai dengan air berubah merah di Wenzhou, China Timur, provinsi Zhejiang.
The Telegraph melaporkan insiden misterius lain yang mengakibatkan ditutupnya pantai-pantai di Sydney, Australia. Para turis di wilayah tersebut takut bahwa darah ini akibat serangan ikan hiu, namun tidak ada dilaporkan serangan seperti itu terjadi. Faktanya, pejabat setempat menyatakan bahwa warna merah darah itu akibat perkembangbiakan alga merah secara tak terkendali di wilayah tersebut. Pantai-pantai ditutup, dan beberapa foto air laut misterius ini mulai beredar luas secara online.

Menurut BBC, penduduk Kepulauan Pasifik, Tonga, juga dikejutkan oleh lautan merah darah. Seperti di China, banyak orang di wilayah tersebut menjadi ketakutan bahwa ‘gelombang merah’ merupakan tanda-tanda Akhir Zaman. Namun, sama seperti pantai-pantai di Australia, gelombang merah ini diakibatkan oleh perkembangbiakan alga merah. Bahkan, perkembangbiakan alga merah ini sekarang menjadi peristiwa tahunan di Pantai Teluk Mexico, Florida.
Gelombang merah disebabkan oleh ledakan perkembangbiakan dan akumulasi sejenis alga mikroskopis tertentu, utamanya dinoflagellata, di perairan pantai. Beberapa spesies dinoflagellata memproduksi racun-racun yang termasuk diantara yang paling berbahaya dari yang dikenal manusia. Perkembangbiakan alga yang membahayakan ini, menjadi ancaman serius dan berulang terhadap kesehatan manusia, satwa liar, ekosistem laut, perikanan, keindahan pantai dan ekonomi.
Spesies yang paling mengganggu di Teluk Mexico dinamai Karenia Brevis. Seperti jenis dinoflagellata lainnya, organisme mikro bersel tunggal ini berfotosintesis menggunakan khlorofil seperti tumbuhan, namun mereka bergerak kemana-mana dengan menggunakan dua flagella (ekornya) yang mendorong mereka melalui perairan.
Cara reproduksi mereka adalah pembelahan sel aseksual – satu sel membelah menjadi dua sel, dua menjadi empat sel, dan seterusnya. Dengan kondisi yang tepat, ukuran populasi ini bisa meledak dengan cepat. Ada tiga faktor penentu terjadinya ledakan perkembangbiakan ini dan daya tahan keberadaan mereka sepanjang waktu:
Keberadaan organisme Karenia Brevis di wilayah perairan
Sumber nutrisi utama
Pergerakan arus angin atau air yang memampatkan populasi Karenia Brevis menjadi kerumunan yang semakin padat.
Meskipun pembuangan limbah ilegal dan perkembangbiakan alga merah secara luar biasa telah dinyatakan sebagai penyebab semua peristiwa lautan merah darah, berita semakin dekatnya Akhir Zaman ini semakin santer beredar secara online.

Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. Wahyu 16:4
Halaman Facebook Karen Foxx menuliskan,
“Lautan Menjadi Merah Darah – Bangun kawan-kawan! Kita sedang menyaksikan bayangan penghakiman Kitab Wahyu atas seluruh Bumi! Lautan di seluruh dunia berubah merah darah – SELURUH DUNIA!!!

Florida
Kematian massal ikan-ikan dan hewan-hewan laut terjadi di seluruh dunia, salah satunya disebabkan “Gelombang merah”.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda khawatir mengenai lautan berubah menjadi darah di seluruh dunia?
Catatan Kuno tentang Air Menjadi Darah
Peristiwa air menjadi darah ini tidak hanya akan terjadi pada Akhir Zaman, seperti yang ada tertulis dalam Kitab Wahyu. Namun peristiwa yang seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada waktu peristiwa Eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir.
Papyrus Ipuwer (Leiden I 344 recto) merupakan satu lembar papyrus yang ada di Dutch National Museum of Antiquities di Leiden, Netherlands. Papyrus ini, juga dinamakan “Ratapan Ipuwer” atau “Peringatan Ipuwer” yang berasal dari kira-kira tahun 1250 SM dan merupakan salinan dari teks yang jauh lebih kuno lagi. Disalin oleh juru tulis Dinasti ke-19 (1292-1187 SM), kira-kira 1 abad sesudah peristiwa tulah-tulah Mesir yang mengawali peristiwa Eksodus bangsa Israel. Papyrus Ipuwer menuliskan terjadinya peristiwa air menjadi darah, yang merupakan tanda-tanda awal tulah-tulah Mesir.
Papyrus Ipuwer
Papyrus Ipuwer
Dokumen Mesir kuno lainnya yang menuliskan tentang peristiwa ini adalah Kitab Kolbrin.
Selain itu juga ada catatan dari Artapanus dari Alexandria, yang dikutip oleh Eusebius di dalam bukunya Praeparatio Evanelica.
Artapanus adalah seorang sejarawan asal Mesir yang dipercayai hidup di Alexandria selama abad ke-3 atau ke-2 SM. Dia menulis sejarah yang berjudul “Mengenai orang Yahudi” di dalam bahasa Yunani, kira-kira antara tahun 250-100 SM, yang sekarang ini sudah hilang, kecuali beberapa kutipan yang ditemukan di dalam tulisan-tulisan kuno lain, seperti oleh Eusebius dari Kaisarea, seorang sejarawan Romawi abad ke-3 akhir hingga awal abad ke-4, dan seorang pembela iman Kristiani keturunan Yunani.
Berikut kutipan dari tulisan-tulisan kuno tentang peristiwa air berubah menjadi darah, dengan perbandingan Kitab Keluaran dan Kitab Yashar, tulisan kuno bangsa Ibrani:
Kitab Kolbrin: Debu dan awan asap menggelapkan langit dan mewarnai air yang ke atasnya mereka jatuh dengan corak warna darah. Wabah ada di seluruh negeri,sungai menjadi berdarah dan darah ada di mana-mana. Air itu busuk dan perut manusia menciut dari meminumnya. Mereka yang minum dari sungai memuntahkannya, karena itu telah tercemar. Debu menorehkan luka-luka di kulit manusia dan binatang di dalam nyala pijar Sang Penghancur, Bumi dipenuhi dengan kemerahan. Kutu-kutu berkembang biak dan memenuhi udara dan permukaan Bumi dengan kejijikan. Binatang-binatang liar, menderita dengan siksaan-siksaan karena hempasan pasir dan abu, keluar dari sarang-sarang mereka di padang gurun dan tempat-tempat gua dan mengintai tempat kediaman manusia. Semua hewan-hewan jinak merintih dan negeri dipenuhi suara embikan domba dan lenguhan lembu sapi.
Papyrus Ipuwer: Wabah ada di seluruh negeri, darah ada di mana-mana. Sungguh,sungai adalah darah, namun manusia meminum dari padanya. Sungguh, seluruh binatang, hati mereka meratap; lembu sapi melenguh karena kondisi negeri.
Artapanus Alexandria: Air menjadi genangan, dan berbau busuk, dan membunuh semua makhluk yang hidup di dalam air, dan orang-orang binasa karena kehausan.
Kitab Keluaran 7:
17 Sebab itu YAHWEH berfirman: Dengan ini engkau akan mengetahui bahwa Akulah YAHWEH. Lihatlah aku, dengan memukulkan tongkat yang ada di tanganku ke atas air yang ada di Sungai Nil ini, maka ia akan berubah menjadi darah.
18 Dan ikan yang ada di dalam sungai itu akan mati, dan sungai itu akan berbau busuk, dan orang-orang Mesir akan menjadi jijik meminum air dari sungai itu.”
19 YAHWEH berfirman kepada Musa: “Katakanlah kepada Harun: Ambillah tongkatmu, ulurkanlah tanganmu ke atas segala air orang Mesir, ke atas sungai, selokan, kolam dan ke atas segala kumpulan air yang ada pada mereka, supayasemuanya menjadi darah, dan akan ada darah di seluruh tanah Mesir, bahkan dalam wadah kayu dan wadah batu.”
20 Dan Musa serta Harun berbuat demikian, seperti yang telah YAHWEH perintahkan. Dan dia mengangkat tongkat itu dan memukul air yang ada di sungai, di depan mata Firaun, dan di depan mata para hambanya. Dan seluruh air yang ada di sungai berubah menjadi darah.
21 Dan matilah ikan di sungai, lalu sungai itu berbau busuk, dan orang-orang Mesir tidak dapat meminum air dari Sungai Nil. Dan darah ada di seluruh Tanah Mesir.
Kitab Yashar 80:
Pada akhir tahun kedua, Yahweh kembali lagi mengutus Mosheh kepada Par’oh untuk membawa bani Yisrael, dan menyuruh mereka pergi dari tanah Mesir.
Mosheh pergi dan mendatangi rumah Par’oh. Dia mengucapkan kepadanya firman Yahweh yang telah mengutusnya, namun Par’oh tidak mau mendengarkan suara Yahweh. Dan Elohim membangkitkan keperkasaan-Nya di Mesir ke atas Par’oh dan rakyatnya. Elohim memukul Par’oh dan orang-orangnya dengan tulah-tulah yang sangat dahsyat dan menyakitkan.
Yahweh mengirim melalui tangan Aharon dan mengubah seluruh air di Mesir menjadi darah, dengan seluruh mata air dan sungai-sungai mereka.
Dan ketika seorang Mesir datang untuk minum dan menimba air, dia melihat ke dalam buyungnya, dan lihatlah, seluruh air berubah menjadi darah. Dan ketika dia datang untuk minum dari pialanya, air di dalam piala itu menjadi darah.
Dan ketika seorang perempuan meremas adonannya dan memasak makanannya, bentuknya berubah menjadi seperti dari darah.
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.