animasi-bergerak-bunga-mawar-0017animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0152animasi-bergerak-bunga-mawar-0149animasi-bergerak-bunga-mawar-0017

Kamis, 02 Maret 2017

DR EBEN ALEXANDER MENDAPAT PENGLIHATAN SURGA ITU NYATA DARI ROH-ROH PENYESAT, (BERHATI-HATILAH ATAS PENGLIHATAN DR EBEN ! INJIL TIPU MUSLIHAT DARI IBLIS LUCIFER/ULAR NAGA TUA, BAPA SEGALA PENDUSTAS)




Manusia pada dasarnya diciptakan sebagai mahkluk berpengertian, berkesadaran diri dan berkehendak bebas. Dengan demikian manusia bukan hanya bisa menyembah apa saja yang disukainya, bahkan bisa menciptakan sesuatu untuk disembah dirinya dan manusia lain. Dan manusia bukan hanya bisa percaya kepada ajaran yang salah,bahkan juga mampu membelokkan ajaran yang benar atau menciptakan ajaran yang sesat untuk diikuti manusia lain.

Ketika murid-murid Tuhan ingin tahu tanda-tanda kedatangan Sang Guru, Tuhan Yesus menjawab dengan menempatkan intensitas penyesatan sebagai tanda utama kedatanganNya, dengan berkata “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Matius 24:4-5).

Pertama, Tuhan mengingatkan agar murid-muridNya yang hidup pada periode waktu menjelang kedatanganNya, hidup sebagai orang percaya yang penuh waspada. Jangan tertidur bahkan jangan bodoh karena menjelang kedatanganNya intensitas penyesatan akan semakin tinggi, dan akan muncul berbagai pengajaran yang aneh-aneh.

Tentu ajaran kekristenan tidak terlepas dari jamahan Lucifer. Celakalah orang yang tidak waspada yang tidak menaruh curiga pada setiap pengajaran dan yang tidak berusaha mempelajari dan mencermati berbagai ajaran.

Kedua, Tuhan memberitahukan kita bahwa penyesat akan memakai namaNya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak boleh asal percaya kepada ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Yesus/Yeshua Hamasiah atau dengan kata lain, urusan nama atau sebutan sudah diberitahu oleh Tuhan bahwa itu akan dibajak. Jadi tidak boleh didasarkan pada sebutan atau penamaan melainkan harus memperhatikan isi ajarannya.

Ketiga, penyesat itu akan berkata “akulah mesias.” Arti kata mesias sama dengan kristus atau orang yang diurapi. Jadi penyesat itu akan berkata, atau orang lain akan mengatakan, dia orang yang diurapi. Menjelang kedatangan Tuhan, ketika intensitas penyesatan semakin tinggi, penyebutan orang yang diurapi akan semakin marak sebagai bentuk penyamaran atau pembiasaan istilah orang yang diurapi sehingga orang-orang tak berhikmat semakin bingung tentang tanda-tanda kedatangan Sang Yang Diurapi yang asli.

Anti Kristus/Mesias,yaitu penentang Kristus/Mesias yang menyamar sebagai Kristus/Mesias. Banyak orang tidak menyadari arti kata “anti”, dalam bahasa Yunani itu selain menentang juga artinya menggantikan. Jadi anti-Kristus atau anti-Mesias adalah orang yang menentang Kristus dengan menyatakan bahwa dirinya adalah Kristus, atau orang yang diurapi.

Sederhananya demikian, misalnya kalau Benny Hinn berkata bahwa dirinya adalah orang yang diurapi itu sama dengan berkata bahwa dirinya adalah Mesias atau Kristus. Melalui pernyataannya atau pernyataan orang lain kepadanya yang disetujuinya dapat kita simpulkan bahwa ia adalah anti-Kristus. Karena pada saat mendekatnya kedatangan Yesus Kristus yang asli akan muncul banyak Yesus Kristus palsu terlebih dulu (I Yoh.2:18-19).

Pemakaian istilah “orang yang diurapi” akhir-akhir ini yang semakin marak tentu bukan kebetulan. Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa akan datang banyak mesias palsu. Bahkan Tuhan berkata, “apabila Anak Manusia datang adakah Ia mendapati iman dibumi?” Dalam ayat ini terlihat Tuhan sendiri pesimis tentang jumlah pengikutNya pada saat kedatangan-Nya.

Banyak orang memakai patokan yang salah untuk menilai pengajaran. Bahkan ada yang berpatokan pada jumlah orang, yaitu bahwa yang ramai itulah yang benar. Kedengarannya agak konyol, namun cukup banyak yang berpikiran demikian. Ada juga yang berpatokan pada kerapian organisasi, misalnya seorang Saksi Jehovah berkata kepada penulis bahwa ia menilai Saksi Jehovah benar karena organisasinya yang sangat rapi.


Cara Menilai Pengajaran

Lalu bagaimanakah cara kita menilai sebuah pengajaran? Allah memberikan kita dua alat yang telah baku, pertama adalah akal budi, dan kedua adalah firmanNya yang tertulis. Alat pertama, akal budi. Tuhan menciptakan akal-budi bagi manusia agar ia bisa berpikir, bisa menilai segala sesuatu dan bisa memilih di antara yang benar dan yang salah. Alkitab selalu memperingatkan agar jangan bodoh. Itu artinya kita harus memakai akal budi yang diberikan kepada kita dengan sebaik mungkin. Pemakaian akal budi yang paling menyenangkan hati Tuhan bukanlah untuk mencari uang tetapi untuk mencari kebenaran, karena Allah sendiri adalah kebenaran. Mendapatkan kebenaran itu sama dengan mendapatkan Sang Pencipta sendiri.

Ada kelompok yang mengharamkan pemakaian akal budi dalam urusan rohani. Sudah pasti kelompok iniakan berakhir dalam iman yang penuh mistik dan takhayul. Binatang tidak bisa memahami Penciptanya karena tidak diberi cukup akal budi. Mereka hanya diberi akal budi untuk bertahan hidup yaitu kepintaran untuk menemukan makanan dan melangsungkan hidup sesuai insting yang diberikan kepada masing-masing jenis binatang. Tetapi manusia diberikan akal budi untuk mencari Penciptanya. Bahkan manusia diberi akal budi untuk menciptakan pesawat dengan berat ratusan ton untuk terbang di udara.

Sebagaimana manusia memakai akal budinya untuk menyelidiki sebuah kasus pembunuhan hingga terungkap pembunuh-nya, menyelidiki fosil-fosil, menyelidiki dan merangkai peristiwa sejarah lampau, demikianlah seharusnya manusia memakai akal budinya untuk menyelidiki segala sesuatu untuk mengenal Penciptanya.

Sang Pencipta mau kita memakai akal budi kita semaksimal mungkin, yang akhirnya akan sampai pada DiriNya. Batasan maksimal pemakaian akal budi kita yang terakhir adalah Sang Pencipta. Tentu manusia tidak boleh malas berpikir dan segera lari pada kesimpulan akhir. Karena Ia yang memberikan kita akal-budi, maka akal budi kita tidak mungkin bertentangan dengan firmanNya.

Alat kedua ialah firman tertulis, yaitu Alkitab. Hanya dengan akal-budi manusia tidak bisa sampai kepada kebenaran ilahi karena sesungguhnya tidak ada satu manusia pun yang dapat mengenal Sang Pencipta jika bukan Sang Pencipta memperkenalkandiriNya. Manusia tidak mungkin bisa mengenal Sang Pencipta yang maha kuasa, maha suci dan maha benar.

Alkitab adalah wahyu dari Sang Pencipta untuk menyingkapkan Diri Sang Pencipta beserta rencana-rencanaNya. Konsekuensinya, jika Alkitab salah, maka salahlah seluruh pengenalan yang didasarkan pada Alkitab, demikian juga dengan umat agama lain yang mendasarkan iman mereka pada kitab suci mereka.

Apakah iman kekristenan adalah iman yang benar, sepenuhnya tergantung pada kredibilitas Alkitab. Bukan hanya Alkitab, tetapi kitab manapun yang mengklaim dirinya firman dari Allah yang maha benar, maha suci, dan maha tahu harus dapat membuktikan dirinya.

Firman dari Allah yang maha benar seharusnya tidak mengandung kesalahan. Apakah Alkitab memenuhi persyaratan yang satu ini? Tentu! Siapa saja yang menemukan dugaan kesalahan pada Alkitab, silakan konfirmasikan kepada kami karena kami telah membacanya berulang-ulang namun tidak menemukan kesalahannya.

Firman dari Allah yang maha suci juga seharusnya mengajarkan tingkat moral yang tertinggi. Apakah Alkitab memenuhi syarat sebagai firman dari Allah yang maha bermoral? Tentu! Hanya di dalam Alkitab kita menemukan perintah untuk mengasihi musuh, untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Perintah untuk melakukan apa yang kita ingin orang lakukan kepada kita (Mat.7:12).

Firman dari Allahyang maha tahu sepatutnya sanggup memberitahukan hal-hal yang lama telah berlalu dan hal-hal yang masih jauh di depan. Siapapun yang tulus mencari kebenaran sepatutnya terpukau oleh nubuatan Alkitab. Hal-hal yang ratusan bahkan ribuan tahun di depan sanggup diungkap dengan jelas. Ini adalah bukti otentik bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Allah yang maha tahu.

Alkitab adalahf irman tertulis (written revelation) yang sudah pasti (definite) artinya tidak boleh ditambah atau dikurang. Jadi, tidak bisa untuk tidak menganut konsep KANON TERTUTUP, yaitu bahwa Alkitab adalah firman Allah yang sudah fixed, dan memang sepatutnya demikian. Kalau tidak, maka semua doktrin yang disimpulkan dari Alkitab bukan doktrin yang sudah fixed. Oleh sebab itu tidak ada pilihan bagi yang berakal sehat untuk menyimpulkan bahwa proses pewahyuan telah dihentikan sejak wahyu terakhir, ketika sampai kitab Wahyu 22:21. Kesimpulan akhirnya ialah bahwa siapapun yang kemudian menyatakan menerima wahyu atau bernubuat, maka seratus persen bukan dari Allah. Hanya di atas firman tertulis yang pasti, yang tidak ditambah-kurang lagi, maka doktrin yang dihasilkan akan pasti pula.

Pembaca yang terkasih, dengan akal budi yang diberikan Tuhan untuk merenungkan firman tertulisNya yang definite maka seseorang akan mendapatkan doktrin yang pasti. Salah satu aturan yang harus diperhatikan adalah dukungan ayat-ayat Alkitab dan tidak boleh ada satu ayatpun yang bertentangan dengan kesimpulan yang diambil. Prinsip inilah yang tidak diperhatikan oleh semua aliran sesat, termasuk Saksi Jehovah. Misalnya mereka ngotot bahwa Yesus bukan Allah sambil mengabaikan I Yohanes 5:20, dan banyak ayat lain lagi. Bahkan demi memenuhi keyakinan yang telah terbentuk terlebih dulu di otak mereka, ayat tersebut diubah dalam Alkitab terjemahan mereka. Tetapi tentu mereka tidak bisa menghapus fakta dalam bahasa aslinya. 


Menghasilkan Injil Yang Benar

Dengan cara penafsiran yang benar, yaitu yang dilakukan dengan akal sehat dan mempertimbangkan semua ayat Alkitab, dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, maka akan menghasilkan Injil yang benar. Dan dengan Injil yang benar jemaat yang adalah tiang penopang dan dasar kebenaran(I Tim 3:15) akan dapat menyelamatkan manusia berdosa.

Injil yang benar menyatakan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak mungkin kembali berkumpul bersama Allah atau masuk Sorga dengan posisinya yang berdosa. Untuk menghampiri Allah yang mahakudus dosa harus diselesaikan.

Berbagai agama mengajarkan cara penyelesaian dosa yang sifatnya adalah usaha manusia (amal,ibadah, asketikisme, dll). Namun Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa dosa hanya terselesaikan dengan penghukuman (Rom.6:23). Inilah titik perbedaan antara kekristenan dengan semua agama di muka bumi. Agama lain mengajarkan penyelesaian dosa melalui usaha manusia, kekristenan mengajarkan penyelesaian dosa melalui penghukuman.

Itulah sebabnya sejak kejatuhan manusia, Allah segera berjanji untuk mengirim Juruselamat. Sang Juruselamat akan dihukumkan untuk menggantikan manusia yang telah berdosa. Agar dosa mereka terhitung ditanggungkan kepada Sang Juruselamat yang akan datang, mereka harus bertobat dan percaya akan janji Allah tersebut. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena tidak percaya kepada Allah.

Maka selanjutnya jika dosa mereka mau diselesaikan, maka mereka harus mengaku salah dan menyesal(bertobat), dan percaya pada Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk dihukumkan menggantikan mereka. Kemudian Allah memerintahkan mereka melaksanakan ibadah simbolik sederhana, yaitu menyembelih domba di atas mezbah, agar janji Allah tetap diingat melalui ibadah simbolik itu dan generasi berikut bisa diberitahukan sehingga mereka juga diselamatkan oleh iman kepada Sang Juruselamat yang akan datang.

Dengan berbagai cara dan peristiwa Allah mengingatkan manusia pada janji-Nya bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk menyelamatkan manusia. Ular tembaga yang didirikan Musa di padang gurun jelas-jelas menunjuk kepada Sang Kristus (Yoh 3:14-15). Mengapa dilambangkan dengan ular? Karena ketika Kristus di atas salib, Dia adalah manusia paling berdosa karena sedang menanggung dosa seisi dunia. Ia adalah Allah sendiri (Yes.9:5, 45:15,. Hos.13:4, I Yoh.5:20), yang menghampakan diri menjadi manusia (Fil.2:5). Umat Islam dan kelompok Saksi Jehovah hanya sanggup melihat sisi kemanusiaanNya saja, dan memang Ia adalah manusia, karena kalau tidak menjadi manusia Ia tidak mungkin bisa dihukum mati. Tetapi Ia adalah Allah yang benar (I Yoh.5:20).

Sesudah penyalibanNya, yang bagaikan domba yang disembelih di atas mezbah (IPet.1:18-19), maka dosa seisi dunia terhukumkan atas dirinya (Yoh.1:29, I Yoh.2:2), bukan hanya dosa orang pilihan sebagaimana disangka oleh John Calvin. Selanjutnya setiap orang yang bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang SUDAH menggantikannya dihukumkan, akan dihitung sebagai orang kudus, yaitu orang yang semua dosanya telah terselesaikan melalui penghukuman.

Jadi, orang-orang yang hidup sebelum penyalibanNya, misalnya Adam, Abraham, Musa, akan selamat melalui bertobat dan percaya kepada Juruselamat YANG AKAN menggantikan mereka dihukumkan. Sedangkan orang-orang yang hidup sesudah penyalibanNya harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat YANG SUDAH menggantikan mereka dihukumkan. Benarlah pernyataan bahwa tidak ada seorang pun akan sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Sang Juruselamat.

Injil, yang artinya kabar baik, harus diberitakan kepada semua manusia. Bahwa Sang Juruselamat telah dihukumkan untuk menanggung dosa SEISI DUNIA, sehingga posisi orang berdosa yang disebabkan oleh Adam telah diselesaikanNya (Rom.5:18). Setiap bayi dan orang yang cacat mental sejak lahir atau yang idiot, kalau mati pasti masuk Sorga. Sedangkan yang sehat dan bertumbuh mencapai umur akil balik (accountable) harus bertobat dan percaya bahwa Sang Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya.


Masih Bisa Jatuh Ke Dalam Dosa

Selama masih hidup di dalam daging, walaupun telah bertobat dan percaya, tetap masih bisa jatuh ke dalam dosa. Tetapi selama yang bersangkutan tidak menyangkali Juruselamatnya, semua dosa yang terjadi sebelum dan sesudah pertobatannya telah tertanggungkan pada Sang Juruselamat. Namun jika ia menyangkali Juruselamatnya, atau meninggalkan imannya (Ibrani 10:35,38), maka selanjutnya tidak ada pengampunan lagi (Ibrani 10:26). Dosa meninggalkan iman akan dilihat sebagai dosa menyalibkan Kristus kedua kali (Ibrani 6:6).

Lalu bolehkah orang yang sudah bertobat dan percaya melakukan dosa-dosa dengan sesukanya? Tentu tidak, bukankah dia telah bertobat? Tidak boleh melakukan dosa sesukanya, yang ada hanyalah jatuh ke dalam dosa. Bukan seperti bebek yang berenang di dalam air (dosa) melainkan seperti ayam yang jatuh ke dalam air. Orang yang telah bertobat dan percaya bahwa Sang Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan adalah orang-orang yang telah melakukan transaksi rohani dengan Sang Juruselamat, bahwa Juruselamat menggantikannya dihukumkan dan ia tahu bahwa ia sedang menggantikan Sang Juruselamat hidup atau hidup bagi Sang Juruselamat. Juruselamat menjadi orang berdosa sehingga dihukumkan baginya, dan ia menjadi orang kudus, atau salah satu anak Allah (Yohanes 1:12, I Kor.1:2). Itulah sebabnya kita disebut anak-anak Allah, dan orang di Korintus disapa orang-orang kudus.

Inilah Injil yang benar, yang sesuai dengan nalar akal sehat dan disimpulkan dari seluruh ayat Alkitab, serta tidak bertentangan dengan satu ayat pun. Injil ini harus dikumandangkan kepada segala makhluk (Mrk.16:15). Jika pembaca mau bertanya lebih banyak tentang Injil ini lebih banyak lagi, silakan melalui email di <gits@graphe-ministry.org>. Waspadailah injil-injil yang menyesatkan, karena resikonya tidak ringan melainkan akan berakhir di neraka selamanya.Waspadalah terhadap Injil tipu muslihat.


***************


Kesaksian Dokter yang Telah Pergi ke Surga



Ini adalah pengalaman Dr Eben Alexander, Guru Besar yang mengajar di Harvard Medical School; ia juga seorang dokter ahli bedah syaraf.

Eben Alexander mengakui bahwa dirinya adalah umat Kristen (tak ada info tentang aliran atau mazhab gerejanya), namun meragukan adanya kehidupan setelah kematian - kehidupan di alam lain setelah hidup dan kehidupan sekarang. 10 Nopember 2008, Eben Alexander gangguan medis (akibat meningitis); neokorteksnya berhenti berfungsi; selama seminggu ia berada dalam keadaan koma. Dalamkeadaan itu, Alexander diangkat - dipindahkan - di bawa (saya tidak tahu istilah yang tepat untuk itu) oleh Makhluk Surgawi ke ke Alam Lain - Akherat, dan juga Surga. Menurut Dr. Eben Alexander,

“… menemukan diriku mengambang di antara awan-awan sebelum menyaksikan, mahluk transparan yang berkilat terbang menembus langit, meninggalkan jejak garis seperti bekas jejak pesawat di belakangnya.

… melakukan perjalanan menuju “sebuah kekosongan, sangat gelap, ukurannya tak terbatas, tapi juga sangat membuat nyaman; kekosongan itu adalah rumah Tuhan

Ku dikawal oleh sosok perempuan dan berkomunikasi dengan mahluk-mahluk ini dengan metode korespondensi di atas bahasa.

Ia berpesan adalah, “Anda dicintai dan dihargai, disayangi, selamanya.” “Anda tak perlu takut.” “Tak ada hal salah yang Anda lakukan.”

Menurut pemahaman medis otak dan pikiran, saya tak mungkin mengalami pengalaman apapun saat koma, apalagi perjalanan yang sangat jelas dan koheren seperti yang saya alami, ..”

Perjalanan Spritual itulah yang akan kita baca dalamProof of Heaven: A neurosurgeon’s journey into the afterlife. Kita tunggu saja bukunya Sang Dokter Eben Alexander.

doc lifebeyonddeath.net

Ribuan orang telah pengalaman mendekati kematian, tetapi para ilmuwan telah menyatakan bahwa itu tak mungkin. Dr Eben Alexander adalah salah satu ilmuwan, yang tak percaya hal tersebut. Seorang ahli bedah saraf yang sangat terlatih, Alexander yakin bahwa (Atranscendental) Near-Death Experience (NDE), hanya merupakan fantasi atau hayalan, hasil kerja otak.

Dr Alexander diserang penyakit langka. Penyakit tersebut menyerang bagian dari otak yang mengontrol pikiran dan emosi, atau pun yang menjadikan manusia menyadari sebagai manusia yang seutuhnya. Selama 7 hari, dalam keadaan koma, dan para dokter telah mengambil keputusan untuk menghentikan upaya medis terhadapnya.

Ajaib, mata Alexander terbuka; ia kembali, ia sadar dari koma. Pemulihan Alexander adalah keajaiban medis.

Tapi keajaiban sesungguhnya adalah sementara tubuhnya terbaring dalam keadaan koma, Alexander melakukan perjalanan (ke)luar dunia, dan Malaikat yang membimbingnya ke alam lain, dalam keadaan super-physical existence. Di sana ia bertemu, dan berbicara dengan Sang Ilahi, Sumber dari Alam Semesta.

Kisah Alexander bukanlah hayalan; sebelummengalami perjalanan ke Surga, ia tak bisa menunjukan adanya hubungan antara ilmu (bedah) saraf dengan keyakinan tentang Surga, Tuhan, atau pun Jjiwa.

Saat ini Alexander adalah dokter yang percaya bahwa kesehatan yang sesungguhnya, hanya bisa dicapai ketika menyadari bahwa Tuhan dan jiwa adalah nyata, dan kematian bukanlah akhir dari eksistensi pribadi tetapi hanya transisi.

Dr. Eben Aleksander/doc.yahoo.com/Near Death Experience. As astonishing as his journey in coma was, even more awesome has been his realization of the logical conclusions, based on “The Hard Problem of Consciousness” and the enigma of quantum mechanics. Dr. Eben Alexander lll had a near death experience.

Dr. Alexander has been an academic neurosurgeon for the last 25 years, including 15 years at the Brigham & Women’s Hospital and Harvard Medical School in Boston, Massachusetts. Over those years he personally dealt with hundreds of patients suffering from severe alterations in their level of consciousness. Many of those patients were rendered comatose by trauma, brain tumors, ruptured aneurysms, infections, or stroke. While many comatose patients died, there were occasional ones who recovered. None of them was able to provide much insight concerning their experience..

In the predawn hours of November 10, 2008, Dr. Alexander himself became a comatose patient. For reasons that remain obscure, he was overcome by a fulminant bacterial meningitis and was comatose on a ventilator in the Intensive Care Unit within hours. His physicians were stunned to find that the culprit was a bacteria that almost never causes spontaneous meningitis in adults! After six days on triple antibiotics, showing no response and with little neurological function remaining, his physicians had few words of encouragement for his family.

On day seven he said “Thank you” when the breathing tube was removed! However, his earliest recollections were strange and involved no recall of his life before coma. Like a newborn, he had no functioning language, nor knowledge of this world, our culture, or the loved ones surrounding him. Foggy-minded for several days, he steadily improved and began writing and organizing his recollections of the experience..

Memories from the time in coma were inexplicable. They were like a patchwork quilt, with no apparent sequence, nor temporal relationship to one another. The purest and most extraordinary part of his journey happened deep in coma. How, then, was it possible for that rich experience to originate in his badly infected brain?.

Reports of “Near Death Experiences” (NDEs) have been limited in their value of elucidating what occurs after actual death. The treasure trove is in teasing out what death is like, not near-death. The discussions many scientists have about “Near Death Experiences” still conclude that “when the brain actually dies, so does the mind/soul/self etc.” That is why Dr. Alexander’s experience is so important. In the midst of his week in coma, he had a remarkable spiritual experience. His will be a key addition to the NDE literature! That is why he is writing the book.

The ramifications of his quest were life-changing! He has spent the last two years trying to solve the riddles from his journey. In analyzing his experience, including the scientific possibilities and grand implications, he envisions a profound reconciliation of modern science and spirituality as a natural product.


****************


Dokter Eben Alexander Promosikan Meditasi New Age


Eben Alexander, penulis dari buku Proof of Heaven (Bukti Surga) yang sebentar lagi akan diterbitkan, adalah seorang pendukung berat meditasi New Age. Pengalaman “surga” yang dirasakan oleh Alexander ketika dia hampir mati menjadi cerita utama di majalah Newsweek di awal bulan ini. Ketika dalam kondisi koma karena infeksi meningitis bakterial pada tahun 2008, Alexander, seorang dokter bedah saraf lulusan Harvard, mengaku merasakan surga, lengkap dengan awan-awan, kaum keluarga yang sudah meninggal, jutaan kupu-kupu, “gerombolan makhluk-makhluk yang transparan dan berkilau-kilau,” dan perempuan-perempuan cantik dalam busana-busana menarik. Walaupun Alexander mengaku bahwa dia bukanlah seorang Kristen lahir baru dan tidak percaya Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamat atau bahwa Alkitab diilhamkan secara ilahi, perempuan yang menjadi pemandu surgawinya memberitahu dia, “Kamu tidak perlu takut apa-apa,” dan “Kamu tidak bisa berbuat salah.”

Dia mengatakan bahwa pesan ini “membanjiri saya dengan sensasi lega yang luas dan gila.” Sepertinya Alexander telah menemukan surga versi The Shack, di mana “Allah” tidak menghakimi atau menuntut apa-apa dari manusia. Alexander adalah seorang pendukung berat praktek-praktek meditasi The Monroe Institute (TMI). Ini meliputi yoga, pengalaman luar tubuh, Reiki, dan Kundalini. TMI terhubung sebagai sahabat dengan Asosiasi Edgar Cayce yang okultik.

Lighthouse Trails (16 Okt. 2012) membuat pengamatan berikut: “Dr. Alexander percaya bahwa ‘malaikat terang’ yang dia lihat pada saat pengalaman hampir matinya adalah dari Surga, padahal Alkitab memperingatkan kita bahwa Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang, menyesatkan banyak orang. Dan di hari-hari gelap dan okultik menjelang kedatangan Kristus ini, panggung-nya sudah siap untuk menghantarkan munculnya seorang pemimpin dunia yang akan pada akhirnya menuntut umat manusia untuk menyembahnya. [Iblis menggunakan meditasi untuk menarik umat manusia menuju anti-kristus ini,] karena dalam posisi meditasi-lah manusia menjadi percaya bahwa Allah berada dalam segala sesuatu dan dalam semua orang (tidak perlu seorang Juruselamat, dan Yesus diubah dari Juruselamat menjadi teladan). Karena meditasi dengan cepat menjadi sesuatu yang normal di seluruh dunia, bahkan gereja-gereja Kristen kini ikut-ikutan [melalui praktek-praktek doa kontemplatif], “hari Tuhan” sungguh mendekat, dan kebanyakan orang sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

EDITOR: Ini juga mengingatkan kita untuk tidak percaya pewahyuan apa pun di luar Alkitab setelah kanon selesai. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa kesaksian-kesaksian tentang Surga atau neraka dari berbagai tokoh adalah hal yang baik, padahal semua itu adalah palsu dan usaha Iblis untuk membuat manusia teralihkan dari Alkitab kepada cerita-cerita.

Sumber: Way of Life / Graphe Ministry



**************

Dokter Ahli Bedah Saraf : Surga Itu Nyata



Dr Eben Alexander adalah seorang ahli bedah saraf generasi kedua yang telah mengajar di Harvard Medical School. Dia tidak percaya pada fenomena pengalaman menjelang kematian sampai ia mengalaminya sendiri. Sekarang dia percaya bahwa surga memang nyata.

Dalam cerita sampul Newsweek, Alexander menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen yang taat - "tetapi “hanya sekedar nama tanpa keyakinan yang sebenarnya ". Sebagai ilmuwan, ia tidak bisa percaya hal-hal tertentu, dan menganggap Yesus tidak lebih dari seorang pria yang baik.

Tapi setelah tujuh hari dalam keadaan koma beberapa tahun yang lalu, pandangannya berubah. Saat itu pada 2008 ketika ia tertular penyakit meningitis, yang disebabkan bakteri yang sangat langka yang sebagian besar menyerang bayi yang baru lahir. Dengan kata lain, bakteri E. coli sedang memakan otaknya.
Peluangnya untuk bertahan hidup sangat tipis, ia mengalamie koma dan selama tujuh hari fungsi otaknya adalah "benar-benar offline."


Lalu terjadilah pada hari yang ketujuh

"Tidak ada penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa sementara tubuhku terbaring dalam keadaan koma, pikiran saya – kesadaran saya, dalam diri – masih dalam keadaan hidup dan baik Ketika neuron dari korteks saya sedang dalam keadaan tidak aktif karena terserang bakteri, otak bebas kesadaran saya berangkat ke tempat yang lain, dimensi yang lebih besar dari alam semesta: suatu dimensi yang saya tidak pernah mimpikan sebelumnya, suatu keadaan pra-koma saya akan lebih senang untuk menjelaskan bahwa hal itu adalah sebuah kemustahilan , "katanya pada Newsweek.

Ahli bedah saraf sekarang percaya dengan yakin bahwa "dimensi" lain itu ada. Ahli bedah saraf sekarang percaya diri percaya bahwa yang lain "dimensi" ada. Dia menggambarkannya sebagai "sebuah dunia di mana kita melampaui otak dan tubuh, dan di mana kematian bukanlah akhir dari kesadaran."
Itu adalah tempat awan"besar, bengkak, merah muda-putih" dan di atasnya adalah "kawanan transparan, makhluk berkilauan melengkung di langit, meninggalkan lintasan garis yang panjang di belakang mereka."

Dia mendengar suara menggelegar "seperti nyanyian mulia" dari atas yang kemudian dia simpulkan sebagai suatu ekspresi sukacita yang dimiliki makhluk-makhluk ini. "Tampaknya bahwa Anda tidak bisa melihat atau mendengarkan apa pun di dunia ini tanpa menjadi bagian dari itu-tanpa bergabung dengannya dalam beberapa cara yang misterius," katanya.

Menariknya, dia berjumpa dengan seorang wanita muda dengan -mata biru.
Wanita itu berbicara kepadanya, tetapi tanpa menggunakan kata-kata, ia ingat. Dia mengatakan (jika diterjemahkan ke bahasa duniawi), "Anda dicintai dan dihargai, mahal, selamanya Anda tidak perlu takut.. Kamu tidak berbuat salah."

"Pesan itu melewati saya seperti angin, dan saya langsung mengerti bahwa itu benar saya tahu begitu dengan cara yang sama yang saya tahu bahwa dunia di sekitar kita adalah nyata -. bukan fantasi, sekedar lewat dan tidak substansial,".

Alexander sangat yakin bahwa apa yang ia alami itu nyata dan telah mendirikan Eternea untuk memajukan penelitian pada fisika kesadaran dan meningkatkan pemahaman tentang pengalaman spiritual transformatif.

"Menurut pemahaman medis saat ini tentang otak dan pikiran, hal ini tidak memungkinkan saya bisa mengalami bahkan kesadaran redup dan terbatas selama waktu saya dalam keadaan koma, apalagi pengembaraan yang melampaui-hidup dan benar-benar koheren yang saya jalani," katanya."

Dia menambahkan, "Fisika modern memberitahu kita bahwa alam semesta adalah satu kesatuan -.. Bahwa itu terbagi ... Sebelum pengalaman saya ide-ide ini adalah abstraksi . Hari ini mereka adalah realitas Tidak hanya alam semesta ditentukan oleh kesatuan, juga - saya sekarang tahu -. didefinisikan oleh cinta "

Setelah pengalamannya, Alexander kembali ke gereja yang telah ia tinggalkan sebelumnya. "Saya masih seorang dokter, dan masih seorang ilmuwan. Tapi pada tingkat yang mendalam saya sangat berbeda dari saya sebelumnya,. Karena telah menangkap gambaran yang telah menjelma menjadi realita (yaitu surga). "

Meskipun saat ini banyak yang percaya bahwa ilmu pengetahuan, bukan iman, adalah "jalan menuju kebenaran," Alexander sekarang mengerti bahwa "pandangan seperti ini terlalu sederhana." Pandangan ilmiah dan spiritual dalam ukuran yang sama akan menilai bahwa apa yang paling dihargai para ilmuwan terbesar dalam sejarah di atas semuanya adalah:. kebenaran "
cp/thedailybeast


************************

 Dr Eben Alexander : Surga itu Nyata


Dr Eben Alexander mengajar di Harvard Medical School dan memiliki reputasi yang baik sebagai seorang ahli bedah saraf. Meski dia menyebut dirinya menganut agama Kristen, namun ia tak pernah benar-benar mempercayai adanya kehidupan setelah kematian.

Namun setelah sepekan koma pada musim gugur 2008, ketika neokorteksnya berhenti berfungsi, Alexander mengklaim bahwa ia mengalami kunjungan ke alam baka, terutama surga.

“Menurut pemahaman medis otak dan pikiran, saya tak mungkin mengalami pengalaman apapun saat koma, apalagi perjalanan yang sangat jelas dan koheren seperti yang saya alami,” tulis Alexander dalam laporan utama Newsweek edisi pekan ini. Jadi seperti apa surga?

Menurut Alexander, ia pertama menemukan dirinya mengambang di antara awan-awan sebelum menyaksikan, “mahluk transparan yang berkilat terbang menembus langit, meninggalkan jejak garis seperti bekas jejak pesawat di belakangnya.”

Ia kemudian dikawal oleh sosok perempuan dan berkomunikasi dengan mahluk-mahluk ini dengan metode korespondensi di atas bahasa. Pesan yang ia terima adalah,
“Anda dicintai dan dihargai, disayangi, selamanya.”
“Anda tak perlu takut.”
“Tak ada hal salah yang Anda lakukan.”

Dari situ, Alexander mengklaim ia melakukan perjalanan menuju “sebuah kekosongan, sangat gelap, ukurannya tak terbatas, tapi juga sangat membuat nyaman.” Dia percaya kekosongan ini adalah rumah Tuhan.

Setelah pulih dari koma akibat meningitis, Alexander merasa ragu untuk berbagi pengalamannya ini dengan para koleganya, namun ia menemukan rasa aman di gereja. Ia pun menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku, “Proof of Heaven: A neurosurgeon’s journey into the afterlife,” yang akan diterbitkan akhir Oktober 2012 ini.

“Saya masih seorang dokter, dan masih sama percayanya pada ilmu pengetahuan seperti sebelum pengalaman saya itu,” tulis Alexander. “Namun dalam tingkatan yang lebih dalam, saya adalah orang yang sangat berbeda dari saya dulu, karena saya menangkap sekilas dari gambaran realita ini. Dan Anda bisa percaya pada saya jika saya bilang semuanya akan terbayar, dan buat mereka yang hidup sesudah kita, untuk melakukan hal yang benar.” Demikian tulis Eric Pfeiffex di YahooNews.


Ilmuwan dan Kebedadaan Tuhan

Natalie Wolchover menulis di LiveScience.com, bahwa selama beberapa abad terakhir, ilmu pengetahuan dapat dikatakan telah menjauhkan orang dari pemikiran tradisional tentang kepercayaan terhadap Tuhan secara bertahap. Hal-hal yang dulu tampak misterius, seperti keberadaan manusia, kesempurnaan kehidupan di bumi, cara kerja alam semesta, sekarang dapat dijelaskan oleh ilmu biologi, astronomi, fisika dan ilmu pengetahuan lainnya.

Meski masih banyak misteri alam semesta yang belum terungkap, Sean Carroll, seorang kosmolog teoritis dari California Institute of Technology, mengatakan bahwa ada alasan yang cukup baik untuk berpikir bahwa ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mengungkap secara lengkap tentang alam semesta — yang juga akan menjelaskan keberadaan Tuhan.

Carroll berpendapat, teori keberadaan Tuhan telah berkurang drastis di zaman modern, seperti misalnya, fisika dan kosmologi telah berkembang dalam menjelaskan asal-usul dan evolusi alam semesta. “Ketika kita mempelajari lebih dalam tentang alam semesta, selalu ada rasa haus untuk lebih dalam menelitinya,” katanya kepada Life’s Little Mysteries.

Ia berpendapat bahwa pengaruh supranatural pada akhirnya akan menyusut dan menghilang. Tapi dapatkah ilmu pengetahuan pada akhirnya menjelaskan semuanya?


Permulaan waktu

Sekumpulan bukti telah dikumpulkan untuk mendukung model kosmologi Big Bang, atau gagasan yang menjelaskan bahwa alam semesta mengembang dari keadaan panas, kemudian memadat hingga akhirnya ke kondisi seperti saat ini yang lebih dingin, lebih berkembang dan membesar selama 13,7 miliar tahun. Para kosmolog dapat membuat model tentang apa yang terjadi dari 10^-43 detik setelah Big Bang terjadi sampai sekarang, namun dalam sepersekian detik sebelum menjadi gelap.

Beberapa teolog telah mencoba untuk mengaitkan teori Big Bang dengan deskripsi penciptaan dunia yang dapat ditemukan dalam Alkitab dan teks-teks agama lainnya. Mereka berpendapat bahwa sesuatu (yaitu, Tuhan) pasti telah merencanakan peledakan alam semesta tersebut.

Namun, menurut Carroll, kemajuan dalam ilmu kosmologi akhirnya akan menghilangkan siapa pemicu teori Big Bang tersebut.

Seperti yang ia jelaskan dalam sebuah artikel yang ditulis baru-baru ini yang berjudul “Blackwell Companion to Science and Christianity” (Wiley-Blackwell, 2012), bahwa tujuan utama dari ilmu fisika adalah untuk membuat teori yang menjelaskan tentang seluruh alam semesta, mulai dari skala sub-atomik hingga astronomik, dalam satu kerangka kerja.

Teori seperti itu disebut “gravitasi kuantum,” yang akan menjelaskan tentang apa yang terjadi pada saat Big Bang terjadi. Beberapa versi lain teori gravitasi kuantum yang telah dibuat oleh para ahli kosmologi lebih menjelaskan pada prediksi Big Bang, daripada penjelasan tentang permulaan waktu yang Carrol sebut sebagai “sebuah tahap transisi dalam keberadaan alam semesta yang kekal.”

Contohnya seperti, sebuah model yang dianalogikan seperti sebuah balon yang kembang kempis di dalam uap. Jika, kenyataannya, waktu tidak punya permulaan, maka hal itu akan mengakhiri kitab Kejadian.

Versi lain teori gravitasi kuantum, saat ini sedang didalami oleh para ahli kosmologi yang memprediksi bahwa waktu memang dimulai dari kejadian Big Bang. Namun versi kejadian tersebut tidak melibatkan peran Tuhan. Mereka tidak hanya menggambarkan evolusi alam semesta sejak kejadian Big Bang, tetapi mereka juga menjelaskan bagaimana waktu bisa berlangsung di tempat yang paling awal.

Dengan demikian, teori-teori gravitasi kuantum masih perlu disempurnakan, untuk menjelaskan sejarah alam semesta. “Tidak ada fakta yang menjelaskan bahwa ada permulaan waktu, dengan kata lain, harus ada campur tangan dari faktor lain dalam penciptaan alam semesta pada saat itu,” tulis Carroll.

Cara lain untuk menempatkan itu adalah dengan teori-teori fisika kontemporer, meskipun masih dalam pengembangan dan pengujian eksperimental di masa depan, yang akhirnya mampu menjelaskan mengapa Big Bang terjadi, tanpa perlu untuk melibatkan teori supranatural.

Seperti Alex Filippenko, astrofisikawan dari University of California, Berkeley, mengatakan dalam pidatonya di sebuah konferensi sebelumnya pada tahun ini, “Big Bang bisa saja terjadi sebagai akibat dari hukum fisika. Dengan hukum fisika, Anda bisa mengetahui alam semesta.”


Alam semesta paralel

Namun ada alasan lain yang berdasar tentang keberadaan Tuhan. Fisikawan telah mengamati bahwa banyak dari konstanta fisika yang menjelaskan tentang alam semesta kita, dari massa elektron hingga kepadatan energi gelap, yang sangat sempurna untuk mendukung kehidupan.

Mengubah salah satu konstanta sedikit saja, maka alam semesta tidak akan dipahami. “Misalnya, jika massa neutron yang sedikit lebih besar (dibandingkan dengan massa proton) dari nilai sebenarnya, hidrogen tidak akan melebur menjadi deuterium dan bintang konvensional tidak mungkin ada,” kata Carroll. Dan dengan demikian, maka akan muncul kehidupan seperti yang kita kenal sekarang.

Para teolog sering mengembangkan atas apa yang disebut “fine tuning” dari konstanta fisika sebagai bukti bahwa Tuhan pasti punya andil di dalamnya, tampaknya ia memilih konstanta tersebut untuk kita. Namun fisika kontemporer menjelaskan bahwa supranatural punya caranya sendiri.

Beberapa versi teori gravitasi kuantum, termasuk teori string, memperkirakan bahwa kehidupan kita di alam semesta ini hanyalah salah satu dari jumlah yang  tak terbatas dari alam semesta akhirnya membentuk banyak alam semesta. Di antara alam semesta yang tak terbatas itu, berbagai macam nilai dari semua konstanta fisika yang diwakili, dan hanya beberapa alam semesta yang memiliki nilai konstanta yang memungkinkan pembentukan bintang, planet dan kehidupan seperti yang kita kenal sekarang. Kita beruntung dapat hidup di salah satu alam semesta yang dapat ditinggali (karena di mana lagi?).

Beberapa teolog mengatakan bahwa akan jauh lebih sederhana untuk menyebut campur tangan Tuhan daripada mencari tahu teori keberadaan alam semesta yang tak terhingga banyaknya untuk menjelaskan bagaimana alam semesta memberikan kehidupan bagi kita. Carroll mengatakan bahwa multiverse tidak didalilkan sebagai cara yang rumit untuk menjelaskan fine-tuning. Sebaliknya, hal tersebut berperan sebagai konsekuensi alami dari yang terbaik, teori yang paling elegan.

Sekali lagi, jika atau ketika teori itu terbukti benar, “multiverse (multi alam semesta/multi universe) terjadi, tidak peduli apakah Anda suka atau tidak,” tulisnya. Dan ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatu.

Alasan
Tuhan berperan sebagai alasan keberadaan alam semesta. Bahkan jika kosmolog berhasil menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk, dan mengapa tampak seperti dibuat untuk menyokong kehidupan, pertanyaan yang mungkin akan tersisa adalah mengapa ada sesuatu yang bertentangan dengan segala sesuatu.

Bagi kebanyakan orang, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Tuhan. Menurut Carroll, jawaban itu berarti jika di bawah pengawasan. Tidak akan ada jawaban untuk pertanyaan seperti itu, katanya.

“Kebanyakan ilmuwan … menduga bahwa pencarian penjelasan yang tepat akhirnya akan berakhir dengan teori berakhirnya dunia, bersama dengan frase ‘memang seperti itu,’” tulis Carroll. Orang yang tidak puas cenderung gagal untuk menemukan bahwa seluruh alam semesta merupakan sesuatu yang unik — “sesuatu yang yang berbeda dari biasanya.”

Sebuah teori ilmiah lengkap yang bertanggung jawab atas segala sesuatu di alam semesta yang tidak perlu penjelasan eksternal dengan cara yang sama, bahwa segala sesuatu yang spesifik dalam alam semesta memerlukan penjelasan eksternal. Bahkan, Carroll berpendapat, penjelasan yang menutup penjelasan lainnya (contohnya Tuhan) pada sebuah teori mandiri dari segala sesuatu yang hanya akan menjadi komplikasi yang tidak perlu. (Teori tersebut sudah bekerja tanpa Tuhan.)

Dinilai berdasarkan standar dari setiap teori ilmiah lainnya, “hipotesis Tuhan” tidak bekerja dengan sangat baik, Carroll berpendapat. Namun ia memberikan gagasan bahwa “teori tentang Tuhan memiliki fungsi lain dibandingkan suatu hipotesis ilmiah.”

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kepercayaan dalam supranatural, berperan sebagai perekat sosial dan memotivasi orang untuk mengikuti aturan. Lebih lanjut, kepercayaan akan akhirat membantu manusia untuk berduka dan mencegah orang dari ketakutan akan kematian.

“Kita tidak dirancang pada tingkat teori fisika,” kata Daniel Kruger, seorang psikolog evolusi di University of Michigan, yang mengatakan kepada LiveScience tahun lalu. Apa yang penting bagi kebanyakan orang “adalah apa yang terjadi pada skala manusia, hubungan dengan orang lain, hal-hal yang kita alami dalam hidup kita.”

Dari teori ilmuwan di atas, dikaitkan dengan pengalaman Dr Eben Alexander saat mengalami mati suri dan melihat surga, sebetulnya adalah isyarat dari Tuhan bahwa alam semesta beserta segala isinya, adalah ciptaan Tuhan. Dalam agama Islam, melalui Al Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya telah sangat jelas bagaimana proses penciptaan alam semesta beserta segala isinya. Dan bagaimana dunia ini pada akhirnya akan bermuara pada adanya Surga dan Neraka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Artikel ini boleh dipakai, namun sertakan alamat situsnya. Hargailah karya tulis orang lain

The Life Of Jesus Christ Full Movie (English Version)

David and Goliath 1960 Biblical Story Of David Biblical Movies Full Movies

https://www.youtube.com/watch?v=xMWb0Et8Ht8

The Kingdom of Solomon - English Subtitle - full movie

https://www.youtube.com/watch?v=ODb7EO_Mjmk https://www.youtube.com/watch?v=w7Y-UqJD1Zg&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=4

KING SOLOMON - HOLY BIBLE

ESTHER AND THE KING (1960)

https://www.youtube.com/watch?v=0uJbO34xjkM https://www.youtube.com/watch?v=SQ6qYypfmIo

Greatest Heroes of the Bible The Story of Moses

https://www.youtube.com/watch?v=Q1nUIA2uGMI

Sodom & Gomorrah FULL VIDEO

https://www.youtube.com/watch?v=WWpknxvxLpk https://www.youtube.com/watch?v=Uo82q6ki3bk

THE STORY OF RUTH

JUDAS

https://www.youtube.com/watch?v=r5GUbOadJfQ

Thomas

https://www.youtube.com/watch?v=fwPw3r5D1PY

Mary Mother of Jesus

https://www.youtube.com/watch?v=jHOBYnzIfNY

Mary Magdalene

https://www.youtube.com/watch?v=Gpcja7XIZQQ

The Kingdom of God & The New Jerusalem

https://www.youtube.com/watch?v=zO8t2L9TcAU

Moses - The 10 Comadments

https://www.youtube.com/watch?v=dPIkZ0thPvs&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=58

The Book Of Revelation Full Film

https://www.youtube.com/watch?v=Oco6Jiqh4Eo&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=46

Trip to Heaven

Heaven pictures_A Trip to Heaven(Full version (Full version)

ASTEROID JATUH DAN MENGHANGUSKAN 1/3 BUMI TERJADI PADA SAAT PENGANGKATAN DI AKHIR JAMAN

https://www.youtube.com/watch?v=XksXhuvwC84

World WATERS TURN BLOOD Apocalypse - Australia DUST STORM, FIRE; Russia COLD; China 1.19.13

https://www.youtube.com/watch?v=8A34mJKVATE&list=PLKsHsLV9Ub9EozV-JIc6FV7T-2gD42gs-&index=42

PENGLIHATAN YESUS MENGALAHKAN DOSA, MAUT, PENYAKIT, DLL

PENGANGKATAN/ RAPTURE APAKAH ANDA SUDAH SIAP?