Sebuah peristiwa yang mencengangkan dan menakutkan telah terjadi di angkasa sekeliling planet Bumi; selama dua jam pada hari Sabtu, 23 April 2016, medan "Magnetosfer" Bumi runtuh di seluruh planet. Magnetosfer adalah medan magnet yang melindungi Bumi dari angin matahari dan berbagai radiasi.
Magnetosfer Bumi
Jauh di dalam Bumi, suatu cairan inti panas membangkitkan suatu medan magnet yang mampu melindungi planet Bumi terhadap angin matahari yang berdampak menghancurkan. Medan pelindung ini, yang disebut "magnetosfer" lebarnya mencapai ribuan kilometer ke angkasa dan sifat magnetnya mempengaruhi segala sesuatu mulai dari komunikasi global hingga migrasi hewan-hewan dan pola-pola cuaca. Magnetosfer adalah daerah angkasa di sekeliling Bumi dimana medan magnet yang dominan adalah medan magnet Bumi, dan bukanlah medan magnet dari ruang angkasa antar planet. Magnetosfer terbentuk oleh interaksi angin matahari dengan medan magnet Bumi. Diagram ini mengilustrasikan bentuk dan ukuran medan magnet Bumi yang secara terus-menerus berubah-ubah karena diterpa oleh angin matahari.
Sudah ribuan tahun sejak bangsa China menemukan bahwa mineral magnetik tertentu, yang disebut loadstones (batu-batu beban), akan mensearahkan dirinya dengan arah utara-selatan. Alasan dari efek ini tidak dipahami, hingga kira-kira tahun 1600-an, ketika William Gilbert mempublikasikan De Magnete dan mendemonstrasikan bahwa Bumi kita bertingkah seperti sebuah magnet raksasa dan batu-batu beban (loadstones) mensejajarkan dirinya dengan medan magnet Bumi.
Sesudah beberapa abad penyelidikan, sekarang diketahui bahwa medan magnet Bumi itu sangat kompleks, namun tetap, secara garis besar dapat dilihat sebagai dipole magnet, dengan kutub utara dan selatan seperti batang magnet sederhana. Sumbu magnet Bumi, dipole, mempunyi kemiringan kira-kira 11 derajat dari sumbu rotasi Bumi. Jika ruang angkasa itu hampa, medan magnet Bumi akan meluas hingga tak terbatas, namun semakin lemah dengan bertambahnya jarak. Tapi tahun 1951, sementara mempelajari mengapa ekor komet selalu menjauhi matahari, Ludwig Biermann menemukan bahwa matahari memancarkan apa yang sekarang ini disebut angin matahari. Aliran kontinyu plasma ini, terdiri dari sebagian besar elektron-elektron dan proton-proton, ditambah dengan medan magnet, berinteraksi dengan Bumi dan benda-benda angkasa lainnya di tata surya.
Tekanan angin matahari pada medan magnet Bumi menekan medan pada sisi Bumi yang sedang mengalami siang hari dan meregangkan medan magnet ini menjadi suatu ekor yang panjang pada sisi Bumi malam hari. Bentuk medan yang terdistorsi ini dapat dibandingkan dengan penampakan air yang mengalir di sekeliling sebuah batu dalam suatu aliran sungai. Pada sisi Bumi siang hari, bukannya meluas hingga tak terbatas, medan magnet ini terbungkus dalam kira-kira 10 jari-jari Bumi dari pusat Bumi dan pada sisi malam hari, medan ini terentang hingga mencapai ratusan kali jari-jari Bumi, jauh melebihi orbit Bulan yaitu 60 jari-jari Bumi.
Pelemahan Medan Dideteksi Tahun 2014
Medan magnet yang sangat penting bagi kehidupan di Bumi ini, telah melemah sekitar 15% sepanjang 200 tahun terakhir. Dan ini, menurut para ahli, mungkin adalah tanda bahwa kutub-kutub Bumi akan segera berbalik.
Para ahli percaya kita sekarang ini sudah terlambat untuk mengalami pembalikan, namun mereka tidak tahu pasti kapan hal ini akan terjadi.
Jika pembalikan terjadi, kita akan terekspos terhadap angin matahari yang sanggup melubangi lapisan-lapsan ozone.
Dampaknya dapat menghancurkan bagi umat manusia, mematikan jaringan listrik, secara radikal akan mengubah iklim Bumi dan memicu naiknya tingkat penyakit kanker.
"Ini masalah serius," kata Richard Holme, Profesor Ilmu Bumi, Laut dan Ekologi di Universitas Liverpool. "Bayangkan sejenak suplai aliran listrik mati kira-kira untuk beberapa bulan - sangat sedikit pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa listrik hari-hari ini."
Iklim Bumi akan berubah drastis. Bahkan, bulan Januari 2014 penyelidikan dari Denmark menunjukkan pemanasan global berhubungan langsung dengan medan magnet, dibandingkan dengan emisi karbon dioksida.
Keruntuhan Total Selama 2 Jam Lebih
Hari Sabtu, 23 April 2016 pukul 05:37:05 UTC/GMT, satelit-satelit Pusat Prakiraan Cuaca Luar Angkasa NASA mendeteksi keruntuhan total magnetosfer Bumi! Itu tiba-tiba lenyap selama kira-kira dua jam, dan kembali normal sekitar pukul 07:39:51 UTC/GMT.
Beginilah bagaimana Satelit-satelit Cuaca Luar Angkasa NASA merekam peristiwa ini:
SEBELUM keruntuhan:
SELAMA keruntuhan:
Perhatikan area warna Hitam, MagnetoPAUSE adalah satu-satunya yang tersisa. Perbatasan antara angin matahari dan medan magnet Bumi disebut magnetopause. Perbatasan ini bergerak secara konstan sementara Bumi diterpa angin matahari yang terus-menerus berubah. Sementara magnetopause melindungi kita sampai tingkat tertentu dari angin matahari, itu jauh dari kata tidak mungkin bisa ditembus, sedangkan energi, massa, dan momentum ditransfer dari angin matahari ke area-area di dalam magnetosfer Bumi.
Interaksi antara angin matahari dan medan magnet Bumi, dan pengaruh lapisan-lapisan atmosfer dan ionosfer, menciptakan berbagai wilayah-wilayah medan, plasma, dan aliran-aliran di dalam magnetosfer seperti plasmafer, aliran cincin, dan sabuk-sabuk radiasi.
Konsekuensinya adalah kondisi-kondisi di dalam magnetosfer sangatlah dinamis dan menciptakan apa yang disebut cuaca angkasa yang dapat mempengaruhi sistem-sistem teknologi dan aktivitas manusia. Contohnya, sabuk-sabuk radiasi dapat berdampak terhadap operasi satelit-satelit, dan aliran partikel-partikel dari magnetosfer dapat memanaskan atmosfer atas dan berdampak menyeret satelit-satelit Bumi yang ada di ketinggian orbit rendah. Pengaruh dari magnetosfer terhadap ionosfer juga dapat mempengaruhi sistem komunikasi dan navigasi.
Lebih buruk lagi, selama hilangnya magnetosfer ini, panah-panah dalam diagram ini menunjukkan pembalikan total dari aliran magnetik antar bintang di sekeliling Bumi; panah-panah menunjukkan seluruh energi magnetik dari ruang angkasa antar bintang bergerak kembali ke arah Matahari.
SESUDAH keruntuhan:
Sesudah lebih dua jam kemudian, magnetosfer kembali dan seluruh energi magnetik angin matahari sekali lagi mengalir menjauhi Matahari.
Dampak Menghancurkan Terhadap Bumi
Kelakuan magnetik yang naik turun ini dapat menyebabkan dampak menghancurkan terhadap Bumi. Ini bukan situasi magnetik yang kecil; ini luar biasa BESAR... ukurannya skala PLANET. Ketika sesuatu sebesar ini terjadi terhadap medan magnetik Bumi, itu dapat memicu gempa bumi besar, gunung meletus, arus lautan yang tidak dapat diprediksi dan ombak besar.
Hembusan energi panas yang berhasil menembus magnetopause selama waktu ini pada sisi Bumi siang hari, akan mengirimkan lonjakan besar energi panas ke dalam wilayah lautan yang terekspos, meningkatkan temperatur air laut sehingga menimbulkan badai yang dahsyat.
Kejadian tidak wajar ini berbarengan dengan peristiwa-peristiwa cuaca Bumi dan aktivitas gempa yang semakin melonjak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.