Dan akan terjadi … gempa bumi di berbagai tempat.Mat 24:7 (ILT)
Setidaknya 272 orang tewas dalam gempa bumi terbesar di Ecuador dalam beberapa dekade terakhir, dengan Magnitude 7,8 yang mengguncang lepas pantai Pasifik pada hari Sabtu dan dirasakan 16 juta orang di sekitar negara-negara Andes, Amerika Selatan, dan menyebabkan kepanikan mencapai dataran tinggi ibu kota Quito.
Wakil Presiden Ecuador, Jorge Glas mengatakan selain menyebabkan ratusan korban tewas, lebih dari 2500 orang terluka. Gempa bumi di Ecuador terjadi menyusul gempa dahsyat yang mengguncang Jepang akhir pekan lalu, dengan kekuatan 7,3 SR, melukai lebih dari 1000 orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang roboh hanya satu hari sesudah gempa sebelumnya yang menewaskan 9 orang di wilayah yang sama.
Tim SAR mencari korban selamat dari gempa Magnitude 7,3 yang mengguncang Pulau Kyushu Jepang, yang dua hari sebelumnya diguncang gempa berkekuatan 6,2 SR.
Sekitar 20.000 pasukan sudah diturunkan menyusul gempa 7,3 SR pada hari Sabtu pukul 1.25 dini hari waktu setempat.
Jalan-jalan mengalami kerusakan dan longsoran-longsoran berukuran besar telah dilaporkan, selain terputusnya aliran listrik untuk lebih dari 200.000 rumah tinggal.
7 Gempa Bumi Besar dalam 98 jam: Vanuatu, Indonesia, dan "Penyesatan Data" Yellowstone
Terjadi beberapa gempa bumi besar yang tercatat dalam beberapa hari terakhir, termasuk yang mengguncang Jepang Selatan yang menghancurkan bangunan-bangunan dan melukai setidaknya 45 orang. Sebelumnya, Myanmar juga diguncang gempa bumi Magnitude 6,9 pada hari Rabu, 13 April 2016. Getaran dirasakan hingga 500 mil jauhnya di taman nasional India dimana pasangan kerajaan Inggris Kate dan William sedang berkunjung.
Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang mengatakan 7.262 orang mengungsi di 375 pusat pengungsian pada hari Jumat di Prefektur Kumamoto.
Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji melakukan apa pun yang dapat dia lakukan untuk menyelamatkan orang-orang menyusul bencana gempa yang terjadi. Dia berkata, "Tidak ada yang lebih penting dari nyawa manusia dan ini perlombaan melawan waktu."
Hari Kamis 14 April 2016, Palang Merah Rumah Sakit Kumamoto mengkonfirmasi 45 orang terluka, termasuk 5 luka berat setelah gempa berkekuatan Magnitude 6,2 dan 6,5 dan serangkaian gempa susulan mengguncang kota Kumamoto.
Beberapa bangunan mengalami kerusakan atau hancur dan setidaknya enam orang diperkirakan terjebak di bawah rumah-rumah di Mashiki.
Ilmuwan mengatakan telah terjadi peningkatan jumlah gempa bumi signifikan di atas rata-rata di seluruh wilayah Asia dan Pasifik sejak awal tahun 2016 ini.
Meningkatnya frekuensi gempa bumi ini menimbulkan ketakutan terulangnya kejadian gempa bumi Nepal 2015 yang menewaskan lebih dari 8.000 orang, atau gempa bumi yang lebih buruk lagi.
Roger Bilham, seismolog dari Universitas Colorado mengatakan, "Kondisi sekarang ini mungkin akan memicu setidaknya 4 gempa bumi dengan Magnitude di atas 8."
"Dan jika itu tertunda, tekanan yang terakumulasi selama berabad-abad dapat memicu gempa bumi raksasa yang lebih menghancurkan."
Tonga Diguncang Gempa Magnitude 6,1
Gempa bumi hari Kamis di Jepang disusul dengan gempa bumi Magnitude 5,9 yang mengguncang lepas pantai Filipina Selatan. Gempa bumi terjadi pukul 2.20 dini hari (waktu Singapura) di lepas pantai kepulauan Mindanao.
Otoritas lokal mengatakan tidak ada resiko tsunami dan mereka belum menerima laporan korban jiwa maupun kerusakan.
Di Jepang, sejumlah bangunan hancur karena gempa kuat Magnitude 6,4.
Badan Meteorologi Jepang mengatakan pusat gempa berada di kota Mashiki di Prefektur Kumamoto.
Pejabat setempat mengatakan fasilitas nuklir di wilayah itu tidak terdampak.
Gempa bumi Magnitude 6,4 pada hari Kamis juga mengguncang lepas pantai di Kepulauan Vanuatu, Pasifik, menurut United States Geological Survey (USGS).
Itu berada 53 mil dari kota Pelabuhan Orly dan merupakan gempa bumi keempat dalam minggu kemarin di wilayah yang sama, sesudah guncangan Magnitude 6,9 terjadi minggu sebelumnya, 3 April 2016.
Vanuatu berada pada "Cincin Api Pasifik," bagian paling seismik di bumi yang dikenal karena gempa-gempa bumi dan gunung-gunung apinya.
Para seismolog mengatakan wilayah Himalaya sudah melewati batas waktu untuk terjadinya guncangan yang lebih kuat daripada gempa bumi Nepal skala 7,9 SR tahun lalu.
Gempa bumi hari Jumat, 15 April, menambah jumlah total menjadi 9 kejadian di seluruh Asia dalam periode tiga setengah bulan – dengan tiga gempa rata-rata setiap bulan.
Beberapa hari yang lalu, 10 April 2016, enam orang tewas di Pakistan ketika gempa Magnitude 6,6 mengguncang Kabul, dengan gempa-gempa susulan di India.
Dua hari sebelumnya, 8 April 2016, terjadi gempa bumi Magnitude 4,2 di Nepal.
Sebelumnya Nepal sudah diguncang gempa Magnitude 5,5 pada 22 Februari.
Satu bulan sebelumnya, 20 Januari 2016, terjadi gempa bumi Magnitude 6,1 di China, dan 16 hari sebelumnya 11 orang tewas ketika gempa bumi Magnitude 6,7 mengguncang Manipur di India.
Ahli penanggulangan bencana India dari Kementerian Dalam Negeri mengatakan pada bulan Januari 2016, gempa bumi Magnitude 8,2 sudah waktunya terjadi di wilayah patahan Himalaya.
Tahun 2011, gempa bumi Sikkim menciptakan lebih banyak patahan di Himalaya, di atas yang disebabkan oleh gempa-gempa sebelumnya, dan para ahli khawatir wilayah itu terus melemah dengan terjadinya setiap gempa bumi baru.
Institute Nasional Manajemen Bencana India mengatakan, tekanan di pegunungan bagian barat laut dan tumbukan lempeng Himalaya dengan lempeng Indo-Burma menyebabkan seluruh wilayah itu dalam kondisi bahaya.
Lempeng tektonik di sebelah barat gempa Nepal masih terkunci, dan para ahli khawatir hal ini merupakan pemicu lain yang menunggu untuk terlepas.
Penyelidikan ilmiah dalam Nature Geoscience mengatakan tentang gempa bumi Nepal, "Gagalnya patahan di bagian yang terkunci di bawah tekanan Himalaya dan di barat cekungan Kathmandu karena beberapa penahan mekanik yang konsisten dan asal-usul struktural."
Tekanan yang terkunci di wilayah ini dapat terlepas, dan secara potensial menyebabkan gempa bumi besar.
BK Rastogi, direktur jenderal Institut Riset Seismologi Ahmedabad, mengatakan, "Gempa bumi dengan Magnitude yang sama sudah melewati batas waktu. Itu dapat terjadi entah hari ini atau 50 tahun lagi dari sekarang di wilayah Kashmir, Himachal, Punjab dan Uttrakhand Himalaya." Celah seismik sudah diidentifikasi di wilayah-wilayah ini.
"Akumulasi tekanan ini akan melebar kemana-mana. Tapi dimana itu akan mencapai batas elastis, kita tidak tahu ataupun kapan terjadinya. Tapi apa yang kita tahu adalah bahwa itu terjadi di mana-mana."
Russia Bersiap Menghadapi Malapetaka Gempa Bumi, namun Memperingatkan bahwa Amerika Ada Dalam Bahaya yang Paling Buruk
Laporan terbaru Kementerian Pertahanan yang beredar di Kremlin beberapa hari ini menyatakan bahwa Presiden Putin menyetujui segera diterjunkannya pasukan di Distrik Militer Timur sebagai persiapan dari hal yang disebutkan dapat menjadi serangkaian gempa bumi besar-besaran dan tsunami yang menghantam Semenanjung Kamchatka dalam waktu yang akan datang – dan lebih jauh memperingatkan bahwa Amerika Serikat-Kanada-Alaska wilayah barat laut Samudera Pasifik kemungkinan berada dalam bahaya yang lebih buruk dibandingkan Russia.
Menurut laporan ini, pergerakan pasukan Federasi yang tidak ada bandingannya dalam masa damai ini ke wilayah penugasan di "koridor pertahanan" didasarkan atas komunikasi "peringatan bahaya" yang dikirim kepada Dewan Keamanan, 17 April 2016 pagi hari oleh Doktor-Ilmuwan Mehran Keshe yang mengatakan bahwa petang hari ini gempa bumi kuat Magnitude 5,8 yang mengguncang Kerajaan Tonga merupakan "pasak terakhir yang patah" sementara Lempeng Pasifik bersiap untuk melakukan "penyesuaian baru" yang akan menimbulkan malapetaka.
Doktor-Ilmuwan Keshe, yang sebelumnya dikenal sebagai pencipta "teknologi magrav" (yang diberi kode "Khibiny" oleh Barat) yang digunakan oleh pasukan militer Federasi Russia sebagai senjata pertahanan rahasia untuk melumpuhkan kapal perang Amerika seperti yang telah dilakukan kepada USS Donald Cook awal bulan ini.
Metode penggunaan dalam "aspek berbeda" dari "teknologi magrav" ini, dikatakan dalam laporan itu, Doktor-Ilmuwan Keshe pada bulan Oktober 2015 lalu mengeluarkan pernyataan penting pertama yang menakutkan, mengenai bahaya Lempeng Pasifik bahwa "guncangan raksasa yang mengubah peta dunia dengan kekuatan yang sanggup untuk membelah benua akan segera terjadi."
Tiga bulan sesudah peringatan Doktor-Ilmuwan Keshe bulan Oktober 2015, Semenanjung Kamchatka dan Alaska Selatan diguncang gempa kuat dengan Magnitude 7,1 dan 7,3 yang membuat Presiden Putin mulai membentuk pasukan Distrik Militer Timur pertama dalam menghadapi ancaman yang mengintai ini.
Dalam minggu ketiga April 2016, laporan ini menyatakan, digunakannya "teknologi magrav" oleh Doktor-Ilmuwan Keshe untuk "memprediksi pengukuran" kecepatan pergerakan Lempeng Pasifik terbukti akurat dimana tidak kurang dari 7 gempa bumi kuat (gempa bumi Tonga menjadikannya 8) telah mengguncang wilayah ini – yang terparah di negara Ecuador, Amerika Selatan, dimana setidaknya 272 orang tewas, dan di Jepang dimana setidaknya 45 orang tewas, ribuan masih hilang, dan 250.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.
Melengkapi peringatan menakutkan dari Doktor-Ilmuwan Keshe mengenai Lempeng Pasifik, laporan ini menambahkan, Doktor-Ilmuwan Amerika Roger Bilham dari University of Colorado Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) yang kemarin memperingatkan juga bahwa "kondisi sekarang ini kemungkinan akan memicu setidaknya empat gempa bumi dengan Magnitude lebih besar dari 8,0, dan jika itu terlambat terjadi, tegangan yang terakumulasi selama berabad-abad akan menyebabkan malapetaka gempa bumi raksasa."
Dan jika gempa bumi raksasa yang dikhawatirkan Doktor-Ilmuwan Bilham ini benar-benar terealisasi, laporan itu menyimpulkan, prakiraan Doktor-Ilmuwan Keshe ini mempunyai arti tidak lain dari malapetaka besar dimana Amerika Utara dan Selatan akan "terbelah" dan tsunami raksasa akan "menyapu Amerika dan Asia membunuh 40 juta orang."
Meskipun laporan ini tidak menentukan tanggal terjadinya gempa bumi, tsunami maupun letusan gunung berapi yang diperkirakan, sains yang digunakan dalam pengukuran ini jauh lebih dari memadai. Adalah lebih dari sekedar penasaran untuk memperhatikan bahwa Kementerian Pertahanan Russia telah memerintahkan seluruh komandan-komandan utama dan para pemegang jabatan politik dari wilayah Lautan Pasifik Timur Jauh untuk berada di Moscow pada tanggal 27 April 2016 untuk suatu "konferensi kesiapan", demikian dicantumkan dalam laporan tersebut.
…dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.Lukas 21:25 (TB)
Baca juga:
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.