SEKUTU ASSAD: Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Presiden Iran Hassan Rouhani di Moskow, Rusia, pada 28 Maret lalu. (Zuma press via daily mail)
Aksi koboi Donald Trump dengan mengirimkan rudal Tomahawk ke pangkalan militer Syria berlanjut dengan ancaman sekutu Syria, Rusia dan Iran.
Kedua negara tersebut mengancam akan membalas Trump dengan aksi militer bila Trump melanjutkan serangan udara ke Syria. Dalam ancaman yang memicu risiko perang, mereka mengatakan Presiden AS sudah melanggar garis merah saat menyerang pasukan militer rezim berkuasa Syria, Presiden Bashar al -Assad.
”Mulai sekarang kami akan merespons dengan kekuatan jika ada pelanggaran garis merah lagi. Dan, Amerika tahu kemampuan kami untuk membalas dengan baik,” ujar kepala militer Rusia dalam pernyataan gabungan dengan kelompok militan Hisbulah.
Kedutaan besar Rusia di London mengatakan pada Minggu (9/4) kalau bakal ada perang asli bila Moskow merasa ada pihak yang menggangu Syria. Namun, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson akan meminta dunia memberikan sangsi yang lebih berat kepada Rusia kecuali mereka menarik dukungan kepada Assad.
Berita Terkait
Permintaan itu akan dipaparkan dalam pertemuan negara-negara G7 di Italia pada Mei mendatang.(BBC/dailymail/CNN/tia)
**********
Serang Suriah, AS Akan Berhadapan dengan Rusia dan Iran
Ilustrasi kapal perang meluncurkan rudal tomahawk
Kapal perang Amerika Serikat menembakkan puluhan rudal ke pangkalan udara Suriah. Serangan yang pertama kali dilakukan AS ini adalah respons dari tembakan senjata kimia rezim Bashar al-Assad yang menewaskan puluhan rakyat sipil, termasuk anak-anak.
Agresi militer sebelumnya pernah juga akan dilakukan oleh Barack Obama tahun 2013, setelah Assad menembak senjata kimia ke Ghouta yang menewaskan sedikit 1.500 orang. Namun Obama urung menyerang Suriah setelah Assad yang dibekingi Rusia berjanji memusnahkan senjata kimia mereka, sebanyak 1.300 ton.
Walau berjanji tidak akan mengulangi serangan serupa lagi, namun beberapa kali muncul laporan bahwa Assad masih gunakan senjata kimia, termasuk racun syaraf yang dilarang dalam hukum internasional.
Baca juga: Amerika Serikat Serang Suriah
Presiden AS Donald Trump. (Foto:Reuters)
Dalam pidatonya pada Kamis (6/3) usai kapal perang AS di Mediterania menembakkan sekitar 60 rudal tomahawk ke pangkalan udara Suriah, Presiden Donald Trump mementahkan bantahan Rusia dan Suriah soal penggunaan senjata kimia itu.
"Tidak diragukan lagi Suriah menggunakan senjata kimia terlarang, melanggar kewajiban di bawah konvensi senjata kimia dan mengabaikan desakan Dewan Keamanan PBB," kata Trump dikutip Reuters.
Dengan menyerang Suriah, AS sebenarnya tidak hanya berhadapan dengan Assad semata, tapi juga negara-negara di belakangnya, yaitu Rusia dan Iran. Sejak tahun 2015, Vladimir Putin membantu perjuangan Suriah dengan dalih memberantas ISIS, salah satunya dengan merebut Aleppo.
Rusia adalah negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang kerap melancarkan veto setiap kali Suriah coba dikecam. Dengan bantuan pasukan Rusia juga, Suriah berhasil memperoleh kemenangan di beberapa kota, di saat tentara mereka kewalahan menghadapi perlawanan kubu oposisi bersenjata.
Korban serangan kimia di Suriah. (Foto:AP)
Selain Rusia, Suriah juga dibekingi oleh Iran. Sejak awal perang sipil pecah di Suriah pada 2011, Iran mengirim banyak bantuan, termasuk militan Syiah dan persenjataan.
Sejak berita ini diturunkan, belum ada respons dari Rusia dan Iran terkait serangan AS. Tapi sudah bisa dipastikan Rusia dan Iran akan berang.
Sebagai catatan, AS dan Rusia adalah negara nomor satu dan dua dengan militer terkuat di dunia. Sedangkan Iran, diduga memiliki senjata nuklir dan memang sejak lama berseteru dengan AS.
kumparan.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.