
Presiden Donald Trump (kanan) memerintahkan penasihat militernya, Letnan Jenderal H.R. McMaster, untuk siapkan rencana serangan terhadap Korea Utara.
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan penasihat militernya untuk menyiapkan daftar opsi rencana untuk menyerang Korea Utara (Korut) dengan target program nuklirnya. Salah satu penasihat militer Trump, Letnan Jenderal H.R. McMaster, mengonfirmasi perintah itu.
Salah satu opsi yang kemungkinan diambil militer AS adalah mengombinasikan aksi penggerebekan pasukan khusus dan serangan rudal pre-emptive.
Salah satu masalah yang dihadapi dalam operasi militer yang dipimpin Amerika untuk menghantam pemimpin Pyongyang Kim Jong-Un adalah jaringan terowongan yang rumit di bawah ibu kota Pyongyang.
Para perencana perang AS dilaporkan mengalami kesulitan memetakan kompleks bawah tanah rezim Korut. Mereka percaya ada ratusan situs artileri dan pesawat di bawah tanah.
Berbicara kepada Fox News, McMaster mengatakan; “Ini bijaksana untuk melakukannya, bukan?”.
”Presiden sebelumnya dan Presiden Trump sepakat bahwa ini tidak dapat diterima, bahwa apa yang harus terjadi adalah denuklirisasi semenanjung (Korea),” ujar McMaster.
”Presiden telah meminta (kami) harus siap untuk memberikan berbagai macam pilihan untuk menghapus ancaman (nuklir) itu,” katanya, yang dilansir Selasa (11/4/2017).
Laporan ini muncul setelah militer AS meluncurkan rudal-rudal jelajah Tomahawk terhadap pangkalan udara rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad pekan lalu. Penargetan militer rezim Assad oleh AS ini merupakan yang pertama kali sepanjang konflik Suriah.
**************
Donald Trump: Korea Utara Mencari Masalah

Presiden AS, Donald Trump
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan, Korea Utara (Korut) mencari masalah. Ia pun menyatakan AS akan menawarkan China kesepakatan perdagangan lebih baik jika membantu memecahkan krisis yang sedang berlangsung dengan Pyongyang.
"Korut mencari masalah. Jika China memutuskan untuk membantu, yang akan menjadi besar. Jika tidak, kita akan memecahkan masalah tanpa mereka..!" cuit Trump di akun Twitternya seperti dikutip dari Independent, Rabu (12/4/2017).
"Saya menjelaskan kepada Presiden China bahwa kesepakatan perdagangan dengan AS akan jauh lebih baik bagi mereka jika mereka memecahkan masalah Korut!" cuit Trump lagi.
Cuitan Trump ini muncul setelah China memerintahkan untuk mengembalikan batu bara dari Korut ke negara terisolasi itu. Berdasarkan perintah itu, armada kapal kargo Korut kembali menuju ke pelabuhan Nampo.
Ketegangan telah meningkat di Semenanjung Korea di tengah kekhawatiran Korut bakal segera melakukan uji coba nuklir keenam. Eskalasi meningkat setelah Washington mengatakan mengalihkan kelompok kapal induk Carl Vinson menuju wilayah itu dalam rangka unjuk kekuatan.
AS mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson dan sekelompok kapal perang ke perairan lepas pantai Semenanjung Korea untuk melakukan latihan bersama dengan Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel).
Didekati kapal perang AS, Korut pun mengatakan mereka siap perang.
reuters
************
SINYAL BAHAYA, KAPAL AS BERUDAL TOMAHAWK DEKATI SITUS NUKLIR KORUT
Kapal induk bertenaga nuklir AS, USS Carl Vinson, yang dikerahkan ke Semenanjung Korea di dekat perairan Korea Utara. AS akan luncurkan serangan jika Korut menguji coba senjata nuklir keenam kalinya.
WASHINGTON - Sinyal bahaya ditunjukkan militer Amerika Serikat (AS) yang menggerakkan kapal perang dengan rudal jelajah Tomahawk ke dekat situs nuklir Korea Utara (Korut). Sepak terjang militer AS ini memicu spekulasi bahwa Washington akan meluncurkan serangan pre-emptive terhadap Pyongyang.
Seorang pejabat senior intelijen AS kepada NBC News mengatakan Presiden Donald Trump siap untuk meluncurkan serangan pre-emptive atau serangan pendahuluan terhadap rezim Kim Jong-un jika Pyongyang mempersiapkan uji coba senjata nuklir untuk keenam kalinya.
Posisi kapal perang AS yang dilengkapi dengan rudal Tomahawk AS saat ini berada di perairan yang berjarak 300 mil dari lokasi uji coba senjata nuklir Korut. Menurut pejabat itu, kapal perang tersebut mirip dengan kapal yang digunakan untuk meluncurkan rudal-rudal jelajah Tomahawk ke Suriah pada pekan lalu.
Pentagon juga memiliki pesawat pengebom yang berbasis di Guam. Pesawat ini siaga untuk menyerang Korut jika diperlukan.
Meski demikian, Pentagon menolak untuk berspekulasi tentang kemungkinan skenario aksi militer terhadap Korut. Pentagon, tidak mengonfirmasikan maupun menyangkal laporan bahwa Angkatan Laut AS diposisikan dalam jarak dekat Korut untuk mengantisipasi jika Pyongyang mencoba untuk melakukan uji coba nuklir.
”Komandan selalu mempertimbangkan berbagai pilihan untuk melindungi (diri) terhadap kontinjensi,” kata juru bicara Pentagon, Dana White, kepada Reuters dalam sebuah pernyataan yang dilansir Jumat (14/4/2017).
”Komitmen kami untuk pertahanan sekutu kami, termasuk Republik Korea (Korea Selatan) dan Jepang, dalam menghadapi potensi ancaman, tetap teguh,” ujar White.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Korut Han Lagu Ryol dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press di Pyongyang, memperingatkan AS jika berani memprovokasi Korut dengan aksi militer. ”Kami akan pergi berperang jika mereka memilih,” ujarnya.
”Jika AS dilengkapi dengan manuver militer yang sembrono, maka kami akan menghadapinya dengan serangan pendahuluan DPRK,” ujar Han, merujuk pada nama resmi Korut yakni Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK).
”Kami punya penangkal nuklir kuat sudah di tangan kami, dan kami pasti tidak akan menjaga lengan kami dalam menghadapi serangan pendahuluan AS.”
reuters
*******************
KAPAL INDUK BERTENAGA NUKLIR USS CARL VINSON TELAH TIBA DI SEMENANJUNG KOREA
Kapal Induk USS Carl Vinson
Upaya militer AS untuk menghadapi gempuran rudal Korut rupanya ditanggapi serius.
Tidak hanya pasukan tempur elit dan kekuatan darat serta udara, kapal induk bertenaga nuklir USS Carl Vinson (CVN 70) pun telah dikerahkan.
USS Carl Vinson hadir pada hari Rabu lalu (15/3/2017) dalam latihan militer AS-Korsel selama kurang lebih satu bulan. Kehadirannya otomatis meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Pentagon sendiri secara terus terang menyatakan, USS Carl Vinson hadir untuk menghadapi serangan militer dari Korut.
Kapal induk USS Carl Vinson saat ini telah bersandar di pelabuhan Busan, Korsel setelah Korut mengancam akan menyerang AS menggunakan rudal nuklirnya.
Sebanyak 80 pesawat tempur yang terdiri dari F/A-18 F Super Hornet, E-2C Hawkeye, dan EA-18G Growler sudah dalam kondisi siaga di geladak USS Carl Vinson.
Latihan tempur dalam skala besar bersandi Foal Eagle dan Key Resolve itu juga melibatkan kapal-kapal destroyer AL AS dan diikuti oleh 17.000 pasukan AS serta 300.000 pasukan Korsel.
dailymail
*************
PRESIDEN DONALD TRUMP MEMPERINGATKAN AGAR KOREA UTARA MUNDUR

Seorang pria menyaksikan televisi yang menayangkan berita tentang pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, di Seoul Korea Selatan, April 5, 2017.
Presiden Amerika Donald Trump hari Kamis mengirim peringatan baru kepada Korea Utara agar tidak melakukan uji coba nuklir baru selagi laporan meningkat mengenai Korea Utara yang bersiap-siap merayakan hari besar nasionalnya kemungkinan dengan uji coba nuklir.
“Korea Utara adalah masalah” kata Trump di Gedung Putih. “Masalah itu akan diatasi”. Sementara komentarnya langsung dianggap sebagai ancaman tindakan militer terhadap Korea Utara, Trump menambahkan bahwa Tiongkok “bekerja keras” untuk meredakan ketegangan internasional terkait Korea Utara dan berharap diplomasi Tiongkok akan berhasil. Meski demikian dalam komentar terpisah Kamis pagi, Trump mengatakan Amerika siap mengatasi krisis Korea Utara tanpa Tiongkok jika diperlukan. Kapal induk Amerika dan kapal-kapal perang lainnya menuju Semenanjung Korea untuk menunjukkan kekuatan minggu ini meskipun belum ada ancaman Amerika sebagai tindakan balasan jika Korea Utara melakukan uji coba nuklir lainnya atau meluncurkan misil misil lagi bertentangan dengan sanksi-sanksi PBB. Di Pentagon Menteri Pertahanan James Mattis mengatakan Amerika “bekerja sama dengan mitra-mitra internasional untuk meredakan ketegangan itu tapi intinya adalah, Korea Utara harus mengubah prilakunya.”
voa
*****************
JIKA BANDEL KORUT JUGA AKAN HADAPI SERANGAN YANG SAMA SEPERTI SURIAH
Amerika Tembakkan 59 Rudal Tomahawk Serang Suriah Balas Serangan Senjata Kimia
WASHINGTON - Penembakan 60-an tomahawk Amerika Serikat ke Suriah, yang diduga melakukan serangan senjata kimia kepada warga sipil, merupakan pesan kepada bangsa-bangsa lain, termasuk Korea Utara.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, Minggu (9/4/2017). Menurut dia, pihak mana pun akan mendapat "respons serupa" jika tindakan mereka menimbulkan bahaya bagi yang lain, seperti dilaporkan Reuters, Senin (10/4/2017).
Angkatan Laut AS telah bertolak ke Semenanjung Korea. Tillerson menegaskan, tindakan itu telah disetujui China dalam kaitannya untuk mengatasi program nuklir Korut.
Persetujuan itu terjadi pada pertemuan antara Presiden Donald Trumpdan Presiden Xi Jinping, pekan lalu.
Tillerson dimintai komentarnya oleh ABC, apakah serangan dari kapal laut AS di Laut Mediterania pada Jumat (7/4/2017) dini hari yang menyasar pangkalan udara militer Suriah di dekat kota Homs juga merupakan pesan bagi Korut.
"Itu merupakan pesan untuk setiap bangsa. Jika Anda melanggar norma-norma internasional, jika Anda melanggar perjanjian internasional, jika Anda gagal untuk memegang komitmen, dan jika Anda menjadi ancaman bagi orang lain, di beberapa titik respons kemungkinan akan dilakukan hal yang sama," kata Tillerson.
"Mengenai Korut, tujuan kami sudah sangat jelas, yaitu untuk memastikan Semenanjung Korea bebas dari senjata nuklir," tambahnya.
"Presiden Xi jelas mengerti, dan saya setuju, situasi telah meningkat dan ketika telah mencapai tingkat ancaman tertentu, maka tindakan harus diambil," kata Tillerson dalam wawancara terpisah dalam tayangan di CBS.
Trump akan segera meninjau pilihan untuk menghilangkan "ancaman" yang ditimbulkan oleh program rudal balistik dan nuklir Korut, kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih, HR McMaster, Minggu (9/4/2017).
Para petinggi Korut, termasuk pemimpin Kim Jong Un, telah berulang kali melakukan uji coba rudal balistik antarbenua.
Hal serupa akan mungkin terjadi lagi pada 15 April mendatang, bertepatan dengan ulang tahun ke-105 pendiri Korut yang dirayakan setiap tahun sebagai "Hari Matahari".
***************
KOREA UTARA TERUS UJI COBA MISIL AMERIKA KIRIM ARMADA PERANG
WASHINGTON - Situasi di semenanjung Korea memanas. Amerika Serikat mengirimkan armada kapal perangnya di kawasan pasifik barat, guna mengantisipasi potensi uji coba rudal nuklir militer Korea Utara (Korut) yang ke 6.
Terlebih lagi Korea Utara menemukan pembenaran untuk mengembangkan senjata nuklirnya, setelah melihat serangan Amerika Serikat ke Suriah pekan lalu.
Perlu diketahui Amerika Serikat (AS), terlibat dalam perang saudara antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara, setelah mengikat aliansi dengan Korsel.
Dalam perkembangan terakhir armada kapal perang Amerika Serikat mengarah ke semenanjung Korea.
Kawasan Pasifik barat dinilai dalam kondisi genting karena ulah Korut yang terus menerus melakukan uji coba misil.
Amerika Serikat menilai uji misil dan pengembangan senjata nuklir Korea Utara adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.
*******************
SEMENANJUNG KOREA MEMANAS !!! KAPAL - KAPAL PERANG AS BERGERAK KE UTARA
Peluru kendali Korea Utara jarak menengah
Rencana gugus tempur kapal induk USS Carl Vinson yang akan melakukan muhibah (port visit) ke Australia mendadak dibatalkan.
Seluruh kapal diperintahkan lego jangkar dan berlayar ke Semenanjung Korea.
Perintah yang dikeluarkan oleh Laksamana Harry Harris selaku Panglima US PACOM (Pacific Command) ini memang tidak biasa karena diumumkan kepada pers.
Pengumuman mengenai pergerakan gugus tempur kapal induk ini jelas dimaksudkan untuk mengirimkan pesan yang tegas dan jelas terhadap Korea Utara (Korut).
Korut semakin tak terkontrol dalam pengembangan senjata nuklirnya, termasuk uji coba peluncuran rudal balistik nuklir dari kapal selam.
Perintah ini menyebabkan seluruh gugus tugas yang terdiri dari kapal induk kelas Nimitz USS Carl Vinson (CVN 70) yang membawa Carrier Air Wing 2, kapal destroyer dari kelas Arleigh Burke USS Wayne E. Meyer (DDG 108) dan USS Michael Murphy (DDG 112), kapal penjelajah kelas Ticonderoga USS Lake Champlain (CG 57) berbalik arah dari perhentian mereka di Singapura dan melaju dengan kecepatan penuh ke arah Utara.
Padahal sebenarnya USS Carl Vinson juga baru tiba di Singapura setelah melaksanakan latihan gabungan bersandi Foal Eagle bersama dengan AL Korea Selatan (Korsel).
Tindakan AL AS ini dimaksudkan untuk memberikan sinyal dukungan kepada Jepang dan Korsel yang terlihat tidak berdaya menghadapi provokasi Korut.
Setiap pengujian menunjukkan Korut selangkah semakin maju untuk mampu menyiapkan rudal balistik dengan hululedak nuklir. Skenario ini amat ditakuti negara-negara tetangganya.
Langkah internasional termasuk PBB yang berupaya menukar senjata dengan bantuan pangan tidak berhasil. Korut bersikeras menghidupkan program senjata nuklirnya.
Namun begitu, ketibaan USS Carl Vinson dan segenap gugus tugasnya hanya dipandang sebagai show of force belaka. Kemungkinan penyerangan fasilitas pengembangan senjata nuklir, seperti YongByon juga nyaris mustahil karena lokasinya jauh tersembunyi di bawah tanah.
Eskalasi tak terukur juga akan menyulitkan posisi Korea Selatan yang ekonominya bisa terancam akibat serangan dari Korut.
Para politisi Korsel sendiri meminta agar AS tidak gegabah dalam mengambil tindakan yang justru dapat menjerumuskan situasi Semenanjung Korea dalam perang berkepanjangan.
Dengan rumitnya situasi dan sulitnya Korut ditebak, kehadiran armada AL AS tersebut juga tidak akan banyak merubah perimbangan kekuatan. Apalagi Korut juga masih menerima dukungan dari Tiongkok.
Program senjata nuklir Korut juga tidak akan tiba-tiba berhenti atau dihentikan, kecuali Presiden Trump memberikan perintah untuk menembak jatuh setiap ujicoba rudal balistik yang diluncurkan Korut begitu gugus tugas kembali ke Semenanjung Korea.
Sehari sebelum pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di AS, Presiden Trump menyatakan bahwa AS siap bertindak sendirian untuk menghentikan ambisi nuklir Korut.
Terutama bila dalam pertemuan itu keduanya gagal mencapai kesepakatan mengenai langkah yang harus diambil untuk menjinakkan Korea Utara.
Serangan Tomahawk atas pangkalan udara Al-Shayrat yang telah berhasil meluluh-lantakkan 20% kekuatan AU Suriah nampaknya memberikan modal keberanian kepada Presiden Trump yang memang terkenal nekat.
Sampai tulisan ini naik tayang, Korut telah mengambil tindakan dengan mengeluarkan peringatan bahwa mereka akan membalas tindakan AS dengan tindakan membela diri. Korut akan menggelar serangan preemtif dengan serangan nuklir sebagai intinya.
Bagi beberapa pihak, ini adalah gertakan yang memang sudah biasa dilancarkan oleh Korut. Akankah gertakan ini berujung menjadi eskalasi? Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya.
*******************
ARMADA AS UNTUK LENYAPKAN NUKLIR KORUT LEBIH KUAT DARI KAPAL INDUK
Kapal induk bertenaga nuklir AS, USS Carl Vinson, yang dikerahkan ke Semenanjung Korea di dekat perairan Korea Utara. Presiden Donald Trump klaim armada tempur yang dikirim AS jauh lebih kuat dari kapal induk
WASHINGTON - Presiden Donald Trump menegaskan komitmennya untuk melenyapkan nuklir Korea Utara (Korut) yang jadi ancaman bagi Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya. Trump mengklaim, armada perang AS yang dikerahkan ke Semenanjung Korea untuk misi pelenyapan nuklir Korut jauh lebih kuat dari kapal induk.
Klaim Presiden AS itu muncul usai konferensi pers bersam Sekjen NATO Jens Stoltenberg, pada hari Rabu waktu Washington. AS seperti diketahui sudah mengirim kapal induk USS Carl Vinson dan armada tempurnya ke dekat perairan Korut di Semenanjung Korea sejak pekan lalu.
”Kami mengirimkan armada. Sangat kuat,” kata Trump dalam wawancaranya dengan Fox News. ”Kami memiliki kapal selam. Sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada kapal induk. Itu saya dapat beritahukan kepada Anda,” ujarnya, yang dilansir Kamis (13/4/2017).
Trump mengatakan pemimpin Korut Kim Jong-un, telah melakukan hal yang salah. Presiden AS ini juga siap melenyapkan ancaman nuklir rezim Pyongyang dengan atau tanpa dibantu China.
Presiden China Xi Jinping setuju dengan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Namun, dia lebih memilih cara damai, bukan aksi militer.
”Presiden Xi ingin melakukan hal yang benar. Kami memiliki ikatan yang sangat baik, saya pikir kami memiliki chemistry yang sangat baik, saya pikir dia ingin membantu kami dengan (mengatasi) Korut,” kata Trump ketika konferensi pers dengan Sekjen NATO.
Sementara itu, Jepang sebagaimana dilaporkan kantor berita Kyodo, sedang mempersiapkan diri untuk mengirim beberapa kapal perangnya guna bergabung dengan armada perang AS. Belum jelas berapa kapal perang yang akan dikirim Jepang.
reuters
*************
KORSEL JUGA PUNYA RUDAL PAMUNGKAS YANG SIAP DI LUNCURKAN JIKA PERANG DENGAN KORUT
SEOUL - Jika selama ini program rudal-rudal balistik yang diklaim mampu membawa hululedak nuklir lebih lekat dengan nama Korut, sesungguhnya Korsel pun juga mengembangkan teknologi senjata serupa.
Dikenal dengan nama program Hyunmoo (Malaikat Penjaga Langit Utara), Korea Selatan (Korsel) menugaskan ADD (Agency for Defense Development) untuk mengembangkan rudal balistik yang mampu menjangkau seluruh wilayah Korut.
Program ini dijadikan kartu truf apabila perang kembali pecah dan kedua negara akhirnya beradu. ADD mengembangkan Hyunmoo sejak 1982, tetapi AS mengontrol pengembangan rudal balistik tersebut dengan sangat ketat. Pasalnya, sebagian besar komponen dan teknologi yang digunakan untuk membuat Hyunmoo berasal dari AS.
Akibatnya, selama dekade 1980-an Korsel harus puas dengan rudal Hyunmoo yang punya jarak jangkau hanya 180 km.Namun begitu, ketika Korut mengakselerasi program senjatanya, Korsel pun akhirnya mendorong agar mereka juga mampu mengimbangi Korut.
ADD merilis Hyunmoo-2, rudal balistik yang punya jarak jangkau sampai 500 km. Pengembangan dilakukan secara rahasia. Kali ini dengan mendekati sebuah negara Eropa yang tidak disebutkan namanya.
AS justru baru tahu pengembangan rudal ini ketika foto satelit mata-matanya menangkap fasilitas pengujian mesin roket. Korsel pun sukses mendorong batasan jarak rudalnya menjadi 300 km.
Dengan keefektifan Hyunmoo-2, maka rudal balistik inipun dijadikan elemen strategis dari sistem deterens Korsel apabila Korut hendak menyerang. Hyunmoo-2 adalah kunci dari Kill Chain Preemptive Strike System.
Sistem ini memungkinkan Korsel lebih dulu menyerang dengan meluncurkan rudal balistik ke fasilitas-fasilitas silo peluncuran rudal dan reaktor nuklir Korut.
Serangan itu akan didasarkan pada data intelijen dari pengintaian satelit yang memberikan informasi bahwa Korut sudah dalam detik-detik final untuk melancarkan serangan ke arah Korsel. Elemen Kill Chain ini juga didukung dua elemen lainnya, yaitu Korean Air & Missile Defense serta Korea Massive Punishment & Retaliation Plan. Baru-baru ini, ADD menyelesaikan ujicoba Hyunmoo-2C yang memiliki jarak jangkau mencapai 800 km.
Kemampuan ini dipercaya dapat menghantam seluruh sasaran di Korea Utara. Uji coba yang dilakukan di pusat pengujian Anheung dilaporkan berhasil memenuhi kriteria peluncuran, penerbangan, dan juga akurasi perkenaan. Hululedak yang mampu dibawa Hyunmoo-2C seberat 500 kg. Ini sesuai dengan arahan dan kesepakatan pengembangan rudal balistik yang diteken Korsel dan AS pada tahun 2012.
Generasi Hyunmoo-2 sendiri tidak membutuhkan sistem yang ribet dalam penggelarannya. Satu baterai rudal terdiri dari beberapa kendaraan TEL (Transport, Erector, Launcher) dan sebuah kendaraan pos pengendali. Karena sistem pemandunya yang menggunakan GPS/INS, maka koordinat peluncuran diinput sebelum sekuensial peluncuran dimulai. Rudal pun meluncur tanpa membutuhkan sistem pemanduan yang aktif. Kabarnya saat ini Hyunmoo-2 juga tengah dikembangkan untuk varian yang dapat diluncurkan dari kapal selam. Tujuannya agar Hyunmoo-2 mampu diluncurkan secara senyap dari titik yang tidak terduga.
******************
KOREA SELATAN DAN AS LATIHAN TANGKAL SERANGAN DARI LAUT
POHANG - Banyaknya teror yang terjadi di berbagai belahan dunia, membuat negara-negara meningkatkan pertahanan militer mereka untuk menjaga keamanan nasional.
Termasuk yang dilakukan korea selatan, yang menggelar latihan Angkatan Laut bersama.
Pasukan Angkatan Laut, juga sudah bersiap dengan senjata mereka di pantai berjaga ketika musuh datang.
Kendaraan-kendaraan amfibi juga disiagakan. Inilah latihan militer bersama yang merupakan kegiatan rutin tahunan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.