Rusia Kerahkan Kapal Perang Usai Serangan Rudal AS ke Suriah
kapal perang Rusia menuju Mediterania (Foto: Reuters)
Marah atas serangan rudal Amerika Serikat ke Suriah, pemerintah Rusia menyatakan aksi militer tersebut telah merusak hubungan Rusia-AS. Rusia bahkan telah mengerahkan kapal perang tercanggihnya ke perairan Mediterania usai serangan rudal AS tersebut.
Kapal perang Black Sea milik Rusia dikerahkan ke perairan Mediterania timur pada Jumat (7/4) malam waktu setempat, untuk berhadapan langsung dengan dua kapal perang jenis penghancur milik Angkatan Laut AS, USS Porter dan USS Ross yang juga berada di perairan Mediterania timur. Kedua kapal perang AS itulah yang melancarkan serangan rudal Tomahawk ke pangkalan udara Suriah pada Jumat (7/4) subuh waktu setempat.
Kapal bersenjatakan rudal tersebut telah meninggalkan basisnya di Sevastopol, Crimea dan berlayar menuju pangkalan Angkatan Laut Rusia di kota Tartus, Suriah di wilayah perairan Mediterania. Kapal bernama Laksamana Grigorovich tersebut berbobot 4 ribu ton.
"Kapal Rusia yang dilengkapi dengan rudal jelajah Kalibr akan berkunjung ke basis logistik di Tartus," ujar sumber seperti diberitakan kantor berita Rusia, TASS dan dilansir News.com.au, Sabtu (8/4/2017).
Dikatakan sumber tersebut, keberadaan kapal perang Rusia di wilayah lepas pantai Suriah tersebut akan bergantung pada situasi. "Namun bagaimanapun, itu (kapal) akan berada di sana lebih dari sebulan," ujar sumber Rusia tersebut.
Sebelumnya, dalam serangannya pada Jumat (7/4) subuh waktu Suriah, militer AS menembakkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang AS, USS Porter dan USS Ross, yang siaga di Laut Mediterania bagian timur. Rudal-rudal itu ditembakkan secara terarah pada pesawat tempur, landasan udara dan pusat pengisian bahan bakar di pangkalan udara Shayrat, dekat kota Homs, Suriah.
Kepada Reuters, seorang pejabat Pertahanan AS menyebut serangan itu jenis 'one-off', yang artinya hanya serangan tunggal tanpa rencana lanjutan.
detik.com
***********
Balas serangan rudal AS, Rusia terjunkan kapal perang ke Suriah
Kapal Rusia Admiral Grigorovich. ©2017 military-today.com
Merdeka.com - Serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap pangkalan militer Suriah bikin geram Rusia. Sebagai tanggapan atas tindakan itu, negara Beruang Merah itu mengirimkan sebuah kapal perang modern mereka ke perairan Suriah.
Dilansir the Independent, Sabtu (8/4), kapal perang bernama Admiral Grigorovich ini juga dilengkapi rudal jelajah. Kapal tersebut selama ini ditempatkan di Laut Hitam.
"Kapal ini akan beroperasi di kawasan tersebut untuk menghadapi perubahan situasi militer," lapor media pelat perah Rusia, sembari menambahkan kapal itu dilengkapi rudal jelajah, sistem pertahanan rudal, artileri, senjata anti-pesawat, torpedo dan sebuah dok helikopter.
Admiral Grigorovich juga sebelumnya pernah melintasi Selat Inggris saat melakukan perjalanan untuk membombardir Aleppo, kapal ini merupakan satyu dari enam kapal Rusia dan empat kapal pendukung lainnya di timur Mediterania.
Pangkalan Udara Shayrat di dekat Homs, Suriah, dihantam 59 rudal jelajah jenis Tomahawk yang diluncurkan dari dua kapal perang AS, Jumat (7/4) dini hari. Serangan itu menewaskan enam tentara loyalis Assad, pesawat-pesawat, penyimpanan amunisi dan sejumlah bangunan.
Rusia merupakan salah satu negara yang menggunakan pangkalan itu, namun AS memperingati pasukan Rusia untuk menjauh. Tidak ada satupun tentara Kremlin yang terbunuh.
Moskow telah menyatakan kecamannya terhadap pengeboman yang dilakukan AS, dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Meski demikian, Rusia berencana memperkuat pertahanan udara Suriah untuk menghadapi agresi AS.
"Untuk melindungi objek infrastruktur Suriah yang paling sensitif sebagai langkah yang segera diimplementasikan untuk memperkuat dan meningkatkan keefektifan sistem pertahanan udara atas angkatan bersenjata Suriah," papar Kementerian Pertahanan Rusia.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan tentaranya untuk meluncurkan serangan langsung terhadap Suriah. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas serangan gas beracun yang menewaskan sekaligus melukai ratusan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
"Ini adalah kepentingan vital keamanan nasional bagi Amerika Serikat untuk mencegah dan menghalangi penyebaran dan penggunaan senjata kimia mematikan. Malam ini saya serukan kepada bangsa-bangsa bermartabat untuk bergabung dan mengakhiri pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah," tegasnya, seperti dilansir USA Today, Jumat (7/4).
Gubernur Provinsi Homs, Talal Barazi, menyebut serangan itu tidak membuat pemerintah Suriah takut. Dia juga menuding AS dan Israel memberi dukungan atas terorisme di Suriah.
"Serangan ini tidak akan menghalangi kami untuk melanjutkan perang terhadap terorisme. Kami tidak terkejut melihat Amerika dan Israel mendukung terorisme," ujar Talal dalam sambungan telepon saat diwawancara stasiun televisi Al-Ikhbariah milik pemerintah Suriah.
merdeka.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.