Apakah ini pemalsuan abad pertengahan ataukah barang peninggalan Yesus Kristus yang asli? Analisa terbaru DNA Kain Kafan Turin mengungkapkan berbagai manusia dari seluruh dunia telah menyentuh kain yang dihormati itu.
"Individu dari berbagai kelompok etnis dan lokasi geografis pernah melakukan kontak dengan Kain Kafan (Turin) entahkah di Eropa (Perancis dan Turin) atau langsung dari tanah asalnya (Eropa, Timur Laut Afrika, Kaukasus, Anatolia, Timur Tengah dan India)," sebuah penelitian yang dipimpin Gianni Barcaccia, seorang genetikawan dari Universitas Padua di Italia dan pimpinan penelitian baru yang menggambarkan hasil analisa DNA tersebut, dia katakan dalam sebuah email, "Kami tidak dapat mengatakan lebih lanjut mengenai asalnya."
"Penemuan terbaru ini tidaklah menggugurkan klaim bahwa kain lenan panjang ini merupakan pemalsuan abad pertengahan ataukah ini benar-benar kain kafan penguburuan Yesus Kristus," demikian dikatakan para peneliti.
Perdebatan yang lama
Pada permukaannya, Kain Kafan Turin merupakan sepotong kain lenan sederhana yang mengandung jejak aliran darah dan bekas cetakan tubuh seorang manusia. Walaupun gereja Katholik tidak pernah mengambil posisi resmi mengenai keaslian benda ini, puluhan ribu orang datang ke Turin, Italia, setiap tahun untuk melihat sekilas benda ini, yang dipercayai sebagai kain yang digunakan untuk membalut tubuh Yesus Kristus yang hancur karena bilur-bilur dan berdarah setelah penyaliban-Nya.
Menurut kepercayaan, kain kafan ini secara rahasia dibawa dari Yudea pada sekitar tahun 30-33 M, dan ditempatkan di Edessa, Turki, dan Konstantinopel (nama kota Istanbul sebelum diambil alih kesultanan Ottoman) selama berabad-abad. Setelah para tentara salib menjarah Konstantinopel di tahun 1204 M, kain ini diselundupkan secara rahasia ke Athena, Yunani, dan tetap di sana hingga tahun 1225 M.
Namun, gereja Katholik secara resmi hanya mencatat keberadaannya di tahun 1353 M, ketika itu muncul di gereja kecil di Lirey, Perancis. Berabad-abad kemudian, tahun 1980, penanggalan radio karbon, yang mengukur tingkat peluruhan berbagai isotop atom karbon, menunjukkan bahwa kain kafan ini dibuat antara tahun 1260-1390 M, mendukung pendapat bahwa kain kafan ini merupakan penipuan tingkat tinggi yang dilakukan pada Abad Pertengahan. (Isotop adalah salah satu unsur dengan jumlah neutron yang berbeda.)
Namun para kritikus menyanggah bahwa para peneliti telah menggunakan bagian tambalan kain kafan ketika menentukan penanggalan sampelnya, yang menyebabkan hasil penanggalan jauh lebih muda dibandingkan dengan bagian kain lainnya.
Lebih lanjut, Injil Matius menyatakan bahwa,"bumi berguncang, gunung-gunung batu terbelah dan kuburan-kuburan terbuka" setelah Yesus disalibkan. Jadi para geolog berpendapat bahwa sebuah gempa bumi pada waktu kematian dan kebangkitan Yesus dapat melepaskan semburan neutron. Semburan neutron tidak hanya akan mengacaukan hasil penanggalan radio karbon tapi juga akan menyebabkan timbulnya cetakan gelap dari tubuh Yesus di kain kafan.
Pengembara global?
Dalam penyelidikan terbaru, Barcaccia dan kawan-kawannya menganalisa debu yang mereka sedot dari kain kafan yang mengandung jejak tanaman dan DNA manusia.
DNA tanaman yang berasal dari seluruh dunia, menurut laporan para peneliti pada 5 Oktober dalam jurnal Scientific Reports: pohon cemara Eropa, cengkeh, rerumputan dan pisang raja Mediterania, pohon belalang hitam Amerika Utara, dan pohon pear dan plum Asia Timur, semuanya meninggalkan jejak di kain tersebut.
Tim tersebut menyusun mitokondria DNA manusia (DNA yang diturunkan dari ibu ke anak) ditemukan dalam debu yang berasal dari kain kafan. Keturunan genetik, atau haplotype, dari potongan DNA menunjukkan orang-orang mulai dari orang Berber Afrika Utara sampai Afrika Timur hingga penduduk China telah menjamah kain tersebut.
Namun tetap, sinyal genetik yang paling kuat nampaknya berasal dari daerah di dan sekitar Timur Tengah dan Kaukasus – tidak jauh dari tempat dimana Yesus dikuburkan, dan sesuai dengan cerita rakyat mula-mula yang mengiringi keberadaan kain kafan ini.
"Salah satu haplotype mitokondria manusia yang paling melimpah, yang ditemukan pada kain kafan, sangat jarang ditemui di Eropa barat, dan itu ciri khusus komunitas Druze, sebuah kelompok etnis yang berasal dari Mesir dan yang tinggal khususnya di daerah terpencil diantara Syria, Yordania, Libanon, Israel dan Palestina," kata Barcaccia.
"Potongan DNA tertua (yang cenderung lebih pendek karena DNA semakin hancur seiring waktu) ditemukan di berbagai tempat pada kain kafan tersebut, dan berasal dari keturunan genetik yang secara umum dijumpai hanya di India," kata Barcaccia. Penemuan ini mengindikasikan bahwa kain kafan ini diproduksi di India sebelum, dan entah bagaimana, terbawa dalam perjalanan ke Eropa, sebab India hanya memiliki sedikit hubungan dengan Eropa pada waktu itu.
"Menurut pendapat saya, sulit dipercaya bahwa dalam beberapa abad lalu, dalam rentang waktu historis periode abad pertengahan, berbagai kalangan – seperti imam, pendeta atau suster, seperti juga umat dan pihak-pihak lain dari leluhur India – memiliki kemungkinan untuk melakukan kontak dengan kain kafan di Perancis dan atau di Turin," kata Barcaccia.
Pertanyaan tak terjawab
"Namun hasil terbaru tidak menjawab pertanyaan mengenai keaslian kain kafan ini," kata Hugh Farey, editor newsletter British Society of the Turin Shroud.
Demikian juga penelitian DNA tanaman, "Mereka telah melakukan pekerjaan yang bagus, dan mereka telah mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan, yang secara garis besar, tidak menunjukkan apa-apa," kata Farey.
"Penyelidikan terbaru mengalami masalah yang sama, yang menyebabkan penyelidikan-penyelidikan masa lalu mengenai serbuk sari pada kain kafan menjadi tidak dapat diandalkan," kata Renée Enevold, ahli ilmu bumi di Museum Moesgaard Denmark yang pernah menganalisa serbuk sari kuno dari masa lalu.
"DNA tumbuhan mungkin berasal dari berbagai sumber, dan tidak mungkin menemukan sumber yang benar," kata Enevold. "Juga, tingkat sub-genus dari taxon yang telah dicapai tidak cukup mendekati tingkatan spesies yang diperlukan untuk menentukan wilayah asal dari setiap tumbuhan."
"Para peneliti juga secara keliru berpegang pada metode interpretasi yang digunakan untuk menganalisa ribuan butir serbuk sari di sebuah danau," katanya. Dalam lingkungan itu, kondisi diketahui akan mempengaruhi endapan serbuk sari – hujan dan angin, contohnya. Sebaliknya, ada banyak hal yang tidak diketahui pada saat menjelaskan bagaimana debu bisa melekat pada kain kafan tersebut.
"Itu sangat berani dan benar-benar keliru untuk menggunakan pendekatan interpretasi yang sama terhadap keberadaan DNA – atau hanya beberapa butir serbuk sari – pada kain kafan yang telah berpindah-pindah dari tangan ke tangan selama berpuluh-puluh tahun," kata Enevold.
"Fakta bahwa kain itu dipamerkan secara umum selama berabad-abad, tidak mengherankan bahwa begitu banyak orang yang menjamahnya," tambah Farey.
"Lalu mengenai kemungkinan diproduksi di India, itu hampir sama seperti bagaimana DNA India bisa menempel pada obyek itu selama pengujian pada abad ke-20," katanya. "Untuk benar-benar menentukan dimana kain kafan itu diproduksi, para peneliti perlu menganalisa DNA dari biji rami yang digunakan untuk membuat kain kafan linen itu, yang belum pernah dilakukan," tambahnya.
Namun tetap, Farey mengatakan dia yakin 40% bahwa kain kafan itu asli dan sekitar 60% cenderung percaya bahwa itu hasil pemalsuan.
"Ada sejumlah besar bukti dari kedua pihak," kata Farey, "Jadi hal yang tepat untuk dilakukan adalah menjaga pikiran tetap terbuka pada saat ini."
"Namun, menggunakan analisa DNA dan teknik ilmiah yang lebih canggih mungkin dapat menjawab pertanyaan," kata Farey. Contohnya, para geolog sekarang dapat menentukan asal bebatuan dengan ketepatan yang menakjubkan, dengan menganalisa rasio isotop dari unsur tertentu. Jika para peneliti suatu hari dapat menyelesaikan bagaimana menguji isotop dalam debu batu kapur yang ditemukan pada kain kafan, mereka dapat mengatakan dengan tingkat kepastian lebih tinggi apakah kain kafan ini pernah berada di Yerusalem," katanya.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.