Acara Annual Public Forum IABIE
JAKARTA - Pengamat dari Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE), Ono Bintaro memprediksi, di bawah pimpinan Donald Trump, ketegangan antara China dan Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan masih akan tinggi. Dia bahkan memprediksi, ketegangan itu akan meningkat.
"Saat ini Amerika ingin mundur (sebagai pimpinan dunia) dan China mau maju. Tapi rasanya juga tidak seperti itu, Amerika ingin tetap menjadi pemimpin dunia, tapi tidak mau mengeluarkan banyak uang. China banyak uang, tapi tidak mau mengambil posisi pimpinan dunia, mengingat tanggung jawab yang besar," kata Ono pada Sabtu (21/1).
"Apakah akan ada konflik? mungkin tidak, tapi akan saling mengancam, akan ada ketegangan yang sangat tinggi di Laut China Selatan. Makin lama mungkin akan ada eskalasi yang meningkat, tapi tidak akan terjadi apa-apa, karena untuk perang mereka juga harus minta izin pada masing-masing kongres," sambungnya.
Sementara itu, ketika disinggung mengenai bagaiama dampaknya, dan apa yang harus dilakukan Indonesia. Dia mengatakan untuk dampak, Indonesia masih harus melihat bagaimana hal ini akan berlangsung. Namun, dia menyebut Indonesia harus mempersiapkan diri dengan memperkuat kekuatan di sekitar Laut China Selatan.
"Pemerintah mau tidak mau harus mengerahkan lebih banyak armada, kita harus bersiap-siap," tukasnya.
Hubungan AS dan China sendiri dalam beberapa pekan terakhir ini memang sedikit menegang. Ini dikarenakan sikap acuh Trump terhadap kebijakan satu China, yang ditujukan dengan melakukan pembicaraan dengan Presiden Taiwan, tidak lama setelah dia dipastikan menang dalam pemilu AS akhir tahun lalu.
http://international.sindonews.com/read/1173021/40/pengamat-di-masa-trump-ketegangan-as-china-di-lcs-masih-tinggi-1485023673
*********************
Calon Menlu AS Rex Tillerson, sebelum rapat dengan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS di Capitol Hill, Washington, Rabu (11/1/2017). Dia menentang akses China ke pulau sengketa di Laut China Selatan
*************************
CALON MENLU AS: CHINA HARUS TOLAK KE PULAU SENGKETA LAUT CHINA SELATAN
Calon Menlu AS Rex Tillerson, sebelum rapat dengan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS di Capitol Hill, Washington, Rabu (11/1/2017). Dia menentang akses China ke pulau sengketa di Laut China Selatan
WASHINGTON - Calon Menteri Luar Negeri (Menlu) AS yang dipilih Donald Trump, Rex Tillerson, menentang China untuk mengakses pulau-pulau buatan yang dibangun di kawasan sengketa di Laut China Selatan. Tillerson menyamakan tindakan China seperti Rusia saat menganeksasi Crimea dari Ukraina.
Komentar Tillerson ini bisa membuat Beijing marah pada Washington. China yang mengklaim hampir seluruh kawasan Laut China Selatan menganggap wilayah maritim itu sebagai bagian dari kedaulatannya. Kawasan itu juga diklaim oleh Malaysia, Filipina, Brunei, Vietnam dan Taiwan.
China sudah bergerak cepat dengan membangun pulau-pulau buatan dan menempatkan peralatan militer canggih di kawasan sengketa itu.
AS yang tidak terlibat sengketa menjadi negara paling vokal yang menentang pengerahan peralatan militer China di Laut China Selatan. Washington berpendapat kawasan Laut China Selatan sebagai kawasan internasional.
Calon Menlu AS itu ditanya wartawan, apakah dia mendukung sikap yang lebih agresif terhadap China. Dia menjawab; ”Kami harus mengirim China sinyal jelas bahwa, pertama, pembanguna pulau buatan harus berhenti, dan kedua, akses Anda ke pulau-pulau juga tidak akan diperkenankan.”
Mantan chairman and chief executive Exxon Mobil Corp (XOM.N) ini tidak merinci apa yang akan dilakukan AS untuk menentang akses China di kawasan sengketa Laut China Selatan. China sendiri sudah membangun landasan raksasa yang dilengkapi senjata canggih di kawasan itu.
Tillerson juga ditanya sikap AS soal posisi Taiwan yang sampai saat ini dianggap China sebagai provinsinya yang membangkang. Presiden terpilih Donald Trump sebelumnya memberi isyarat untuk mengakhiri kebijakan “satu-China” terkait posisi Taiwan.
”Saya tidak tahu tentang rencana untuk mengubah kebijakan 'satu China',” kata Tillerson, seperti dikutip Reuters, Kamis (12/1/2017).
http://international.sindonews.com/read/1170247/42/calon-menlu-as-china-harus-ditolak-ke-pulau-sengketa-laut-china-selatan-1484187606
*************************
GEDUNG PUTIH AS BAKAL PERTAHANKAN KEPENTINGANNYA DI LCS

Gedung Putih menyatakan Amerika Serikat akan mempertahankan kepentingannya di Laut China Selatan. Foto/IstimewaWASHINGTON - Sekretaris pers Gedung Putih, Sean Spicer mengatakan Amerika Serikat (AS) akan mempertahankan kepentingannya di Laut China Selatan (LCS). Seperti diketahui, China membangun sejumlah pulau di perairan internasional itu dalam upaya untuk mengontrol jalur pelayaran utama.
"Saya pikir AS akan memastikan bahwa kami melindungi kepentingan kami di sana (LCS)," kata Spicer dalam briefing pers pertamanya seperti dikutip dari CNN, Selasa (24/1/2017).
"Jika pulau-pulau, pada kenyataannya, di perairan internasional dan bukan bagian dari China yang tepat, ya, kami akan memastikan bahwa kami membela kepentingan internasional yang diambil alih oleh suatu negara," sambungnya.
China menegaskan bahwa hampir semua Laut Cina Selatan adalah wilayahnya, tetapi putusan pengadilan internasional pada bulan Juli membatalkan klaim tersebut. Cina telah mengabaikan putusan itu.
Kawasan Laut China Selatan adalah kawasan yang kaya gas dan jadi sumber uang dari lalu lintas kapal perdagangan dunia. Kawasan itu telah diperebutkan oleh China, Filipina, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Taiwan.
http://babe.news/id-id/read/10479931
*********************
CINA MINTA AS JAGA MULUT SOAL LAUT CINA SELATAN
Laut Cina Selatan
REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Cina pada Selasa meminta Amerika Serikat berhati-hati dalam tindakan atau bicara terkait persoalan Laut Cina Selatan karena Beijing mempunyai kadaulatan tidak terbantahkan di wilayah tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, menyampaikan hal tersebut sebagai tanggapan atas pernyataan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengaku akan berupaya mencegah Beijing menguasai perairan internasional di Laut Cina Selatan.
Pada Senin, juru bicara Gedung Putih Sean Spicer mengatakan bahwa Amerika Serikat akan berupaya melindungi kepentingannya di laut tersebut, yang diklaim sedikit-dikitnya lima negara.
"Amerika Serikat akan memastikan bahwa kami akan memperjuangkan kepentingan di sana," kata Spicer saat menjawab pertanyaan apakah Trump setuju dengan calon menteri luar negeri pilihannya, Rex Tillerson.
Tillerson berpendapat Cina tidak berhak atas pulau buatan yang mereka bangun di wilayah sengketa Laut Cina Selatan. Dalam menanggapi pernyataan dua tokoh Washington itu, Hua menegaskan bahwa "Amerika Serikat bukan merupakan pihak yang turut dalam sengketa di Laut Cina Selatan".
Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah laut strategis itu dan harus bersengketa dengan Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei. Di sisi lain, Hua mengaku bahwa pihaknya akan tetap melindungi hak kebebasan berlayar dan tengah merundingkan resolusi damai bersama negara terkait.
"Kami mendesak Amerika Serikat menghormati fakta yang ada. Kami meminta mereka berhati-hati saat berbicara maupun bertindak untuk mencegah terguncangnya perdamaian dan stabilitas kawasan Laut Cina Selatan," kata Hua.
"Tindakan kami di Laut Cina Selatan selama ini sudah masuk akal. Apapun yang terjadi, pendirian kami untuk melindungi kedaulatan dan hak laut di wilayah ini tidak akan berubah," kata dia.
Media di Cina sebelumnya sempat bereaksi keras atas pernyataan Tillerson. Mereka mengatakan bahwa Amerika Serikat harus berperang dengan Cina jika ingin menghalangi akses negara tersebut ke pulau buatan di perairan sengketa.
Sejumlah pengamat menyatakan bahwa pernyataan Tillerson dan Spicer memang menunjukkan niat pemerintahan baru Trump untuk menggunakan kekuatan militer untuk memblokade akses Cina ke pulau buatan mereka.
Kebijakan itu dapat meningkatkan ketegangan kawasan dengan Cina, yang mempunyai kekuatan militer besar lengkap bersenjatakan nuklir.
http://tz.ucweb.com/1_1Ms0Z
*********************
CHINA TINGKATKAN ANCAMAN TERHADAP TAIWAN

Lidah api (suar) terlihat disemburkan dari kapal pengangkut rudal milik angkatan laut Taiwan dalam latihan militer di luar pangkalan angkatan laut di pelabuhan Kaohsiung, Taiwan selatan, 27 Januari 2016. (Foto: dok).
Teruskan
Para pengamat politik di Taiwan yakin, China sedang meningkatkan tekanan terhadap negara pulau itu, yang dianggap China wilayahnya, walaupun kedua negara telah mempunyai pemerintah yang terpisah sejak akhir perang saudara tahun 1949.
Menteri Pertahanan Taiwan memperingatkan mengenai peningkatan ancaman dari China, Selasa (27/12), setelah sekelompok kapal perang yang dipimpin oleh kapal induk pertama China berlayar di selatan negara pulau itu di Laut China Selatan dalam latihan militer rutin.
Latihan tersebut dilakukan hari Senin (26/12), lebih dari tiga minggu setelah Presiden terpilih Amerika Donald Trump menerima telepon yang tidak biasa dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, yang mendatangkan protes diplomatik dari China.
Karena tindakan Trump itu, para pengamat politik di Taiwan yakin China sedang meningkatkan tekanan terhadap negara pulau itu, yang dianggap China wilayahnya, walaupun kedua negara telah mempunyai pemerintah yang terpisah sejak akhir perang saudara tahun 1949.
“Saya ingin mengingatkan semua orang bahwa ancaman musuh kami sedang meningkat setiap hari,” kata Menteri Pertahanan Taiwan, Feng Shih-kuan, Selasa (27/12) dalam pidatonya dalam satu acara militer.
“Kita perlu memperkuat latihan tentara kita supaya mereka dapat bukan hanya bertahan hidup dalam pertempuran tetapi juga menghancurkan musuh dan mencapai misi,” katanya.
Hari Senin, kapal-kapal angkatan laut China berlayar kira-kira 167 kilometer dari pantai Taiwan. Ini adalah yang terbaru dalam rentetan latihan militer China baru-baru ini, termasuk satu pesawat pembom China yang mampu membawa senjata nuklir yang terbang dekat pinggir wilayah Taiwan.
Ketegangan antara Taiwan dan China telah meningkat tajam sejak kemenangan presiden Tsai bulan Januari. China telah memutuskan hubungan komunikasi resmi dengan pemerintahan Tsai, yang telah berkeras agar Taiwan mempertahankan kemerdekaan pemerintahannya dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada China. [
http://www.voaindonesia.com/a/3652550.html
*********************
TAIWAN WASPADAI MENDEKATNYA KAPAL, PESAWAT CINA

Presiden Tsai Ing-wen (tengah), mengkaji bagan-bagan kelautan di atas kapal Angkatan Laut Taiwan di kota pelabuhan Khaohsiung, Taiwan,
Taiwan meningkatkan kewaspadaannya tetapi menghindari setiap tindakan yang bisa memancing reaksi China.
Sejak Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menjabat bulan Mei, pemerintah di Taipei telah mencatat ada empat penerobosan ke wilayah perairanya.
Dua dari aksi militer terbaru terjadi menyusul pembicaraan telepon pemimpin Taiwan itu dengan Presiden AS terpilih Donald Trump, menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan tindakan China terhadap pulau yang diklaim oleh Beijing itu.
Sejak 20 Mei, pesawat Angkatan Udara dan kapal-kapal Angkatan Laut China telah mendekati zona identifikasi yang ditandai oleh Taiwan, kata juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan kepada VOA.
Juru bicara itu mengatakan, China menggerakkan armada itu, yang merupakan bagian dari kekuatan militer terbesar ketiga di dunia, untuk memperingatkan Taiwan.
Beijing telah mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya sejak perang saudara China pada tahun 1940-an, serta menegaskan pada akhirnya harus ada unifikasi, meskipun jajak pendapat di Taiwan menghendaki status otonomi.
Juru bicara itu mengatakan, Taipei mengantisipasi China akan meneruskan provokasi di wilayah udara dan perairannya. Taiwan meningkatkan kewaspadaannya tetapi menghindari setiap tindakan yang bisa memancing reaksi China, kata juru bicara Kementerian Pertahanan.
http://www.voaindonesia.com/a/3655153.html
**********************
ARMADA KAPAL PERANG CHINA TUR KE NEGARA - NEGARA TELUK

Kapal perang China melakukan tur ke negara-negara Teluk sebagai bagian dari diplomasi luar negeri
BEIJING - Armada kapal perang China melakukan tur ke negara-negara Teluk sebagai upaya untuk menonjolkan kekuatan ekonomi dan peran internasionalnya. Setidaknya tiga kapal militer China telah berlabuh di Doha, Qatar, pada akhir pekan lalu.
Armada kapal perang China itu terdiri dari kapal Harbin, kapal Handan dan kapal Dongpinghu. Kedatangan kapal-kapal militer China itu disambut dengan upacara kehormatan di Ibu Kota Qatar pada hari Sabtu lalu.
”Selama kunjungan, perwira angkatan laut dari kedua negara bertukar pandangan untuk meningkatkan persahabatan dan selanjutnya belajar dari satu sama lain,” kata Bai Yaoping, seorang komandan armada kapal perang China kepada stasiun televisi CCTV, yang dikutip Selasa (24/1/2017).
Dalam perjalanan yang telah dipublikasikan di media-media China, armada kapal perang Beijing itu telah mengunjungi Arab Saudi, dan selanjutnya menuju Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait.
Beijing mengklaim kapal-kapal perangnya telah memainkan peran penting dalam mengatasi bajak laut di kawasan Teluk, terutama di Teluk Aden. Tiga kapal militer China yang melakukan tur ke negara-negara Teluk itu sebelumnya juga dioperasikan di Teluk Aden.
China berharap, para pelaut dari negara-negara tuan rumah yang disambangi akan membalas dengan berkunjung ke Beijing.
Tur armada kapal perang China ke Teluk ini berlangsung saat Beijing bersitegang dengan Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Diplomat senior China kemarin mengklaim, Beijing bisa saja menggantikan peran AS dalam kepemimpinan dunia jika China mau.
“Jika ada orang yang mengatakan China memainkan peran kepemimpinan di dunia, saya akan mengatakan itu China tidak bergegas melangkah ke depan, melainkan para kandidat telah melangkah kembali, meninggalkan tempat menuju China,” kata Zhang Juni, Direktur Jenderal Bidang Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri China kepada wartawan di Beijing.
http://international.sindonews.com/read/1173602/40/armada-kapal-perang-china-tur-ke-negara-negara-teluk-1485219747
*********************
JIN, KAPAL SELAM CINA YANG 12 RUDAL NUKLIRNYA BISA JANGKAU AS
Kapal selam nuklir (SBBN) Jin-class Type 094A milik China yang membawa 12 rudal nuklir dan bisa ditembakkan ke daratan AS
BEIJING - China diam-diam memiliki kapal selam siluman baru yang jadi senjata rahasia jika perang nuklir dengan Amerika Serikat (AS) pecah. Kapal selam yang diberi nama “Jin” ini membawa 12 rudal nuklir di punuknya, yang semuanya mampu menjangkau daratan AS.
Kapal selam nuklir (SBBN) Jin-class Type 094A memiliki bentuk khas yang membuatnya lebih aerodinamis di dalam air. Rudal-rudal nuklir yang dibawanya dikenal sebagai “big waves”, yang memiliki jangkauan tembak lebih dari 11.000km.
Kapal selam siluman yang dirahasiakan China ini pertama kali terlihat akhir tahun lalu. Kapal ini memiliki menara komando melengkung dan basis depan yang bersatu di dalam lambung kapal selam. Desain seperti ini memungkinkan kapal selam Jin mengurangi drag hidrodinamik.
Popular Science melaporkan kapal selam Type 094A juga memiliki berbagai sonar yang akan membuat lebih mudah untuk "mendengarkan" untuk ancaman dan menghindarinya.
”Rudal baru bisa mencapai hampir seluruh Amerika Serikat tanpa meninggalkan basis yang dipertahankan, Yulin Naval Base (pangkalan yang jadi tempat penampungan bawah tanah dan dermaga untuk kapal selam) di Hainan Island,” tulis situs itu dalam laporannya.
”Kemampuan kapal untuk mencapai target global sembari bersembunyi di perairan pesisir sangat dipertahankan secara signifikan akan meningkatkan kemampuan serangan kedua China (yaitu, kemampuan untuk meluncurkan serangan nuklir balasan bahkan setelah menderita akibat serangan konvensional atau nuklir yang menghancurkan),” lanjut laporan Popular Science, yang dikutip Jumat (13/1/2017).
Pemerintah maupun militer China tidak mengonfirmasi laporan perihal kapal selam siluman terbarunya itu. Beijing terus meningkatkan kemampun militernya setelah berseteru dengan AS dalam berbagai isu, termasuk krisis Laut China Selatan.
http://international.sindonews.com/read/1170545/40/jin-kapal-selam-china-yang-12-rudal-nuklirnya-bisa-jangkau-as-1484274924
******************
LARANG BEIJING KE LAUT CHINA SELATAN, AS HARUS PERANG

Kawasan Laut China Selatan yang jadi sengketa. Media China pada Jumat (13/1/2017) mengecam ide calon Menlu AS untuk melarang Beijing mengakses kawasan Laut China Selatan
BEIJING - Media China mengumbar retorika berbahaya dengan menantang Amerika Serikat (AS) perang dengan China. Retorika itu muncul sebagai reaksi atas sikap Washington yang akan melarang Beijing mengkases pulau-pulau sengketa di Laut China Selatan.
Dalam editorialnya hari Jumat (13/1/2017), media China Global Times mengecam ide calon Menteri Luar Negeri AS pilihan Donald Trump, Rex Tillerson. Mantan chairman and chief executive Exxon Mobil Corp ini dalam paparannya di depan Kongres AS hari Rabu lalu menyatakan bahwa Washington harus melarang Beijing mengakses kawasan sengketa di Laut China Selatan.
”Tillerson memiliki tulang yang lebih baik untuk strategi kekuatan nuklir jika dia ingin memaksa kekuatan nuklir besar ini menarik diri dari wilayahnya sendiri,” bunyi editorial itu mengasumsikan AS harus perang nuklir dengan China jika melarang akses ke kawasan Laut China Selatan.
Baca:
Editorial itu memprediksi Tillerson akan diveto oleh Kongres sebagai kandidat Menlu AS. ”Hal ini diduga bahwa dia hanya ingin menjilat senator dan meningkatkan peluangnya untuk dikonfirmasi dengan sengaja menunjukkan sikap keras terhadap China,” lanjut editorial tersebut.
China telah mengklaim sebagian besar perairan kaya energi dari kawasan Laut China Selatan. Namun, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga mengklaim hak atas perairan tersebut.
Editorial itu juga bertanya-tanya apakah Vietnam dan Filipina juga akan ditolak masuk oleh AS ke wilayah Laut China Selatan yang mereka klaim. Pada bulan Desember 2016, Beijing telah jengkel terhadap patroli angkatan laut Washington di dekat kawasan yang diklaim Beijing di Laut China Selatan.
Tapi, Pentagon tidak peduli dengan kemarahan China. Alasannya, Pentagon hanya menjalankan hak kebebasan navigasi di kawasan internasional.
http://international.sindonews.com/read/1170654/40/koran-china-larang-beijing-ke-laut-china-selatan-as-harus-perang-1484297258
CHINA LUNCURKAN PENERBANGAN CHARTER SIPIL KE LCS
Anggota Penjaga Pantai China (memakai topi hitam dan vest oranye) mendatangi kapal nelayan Filipina di dekat Scarborough Shoal, Laut China Selatan, 23 September 2015
Peluncuran penerbangan dari Haikou di China selatan ke Pulau Woody di Laut China Selatan, memperpanjang usaha Beijing yang lebih luas untuk meningkatkan kehadiran militer dan sipil lain di kepulauan Paracel di sekitarnya.
Pernyataan China bahwa akan melayani penerbangan charter sipil setiap hari melintasi lepas pantai laut selatannya, menimbulkan kemungkinan peningkatan penggunaan sipil sebagai alat pemerintah untuk memperkuat klaimnya dalam sengketa kedaulatan yang paling luas di Asia itu.
Peluncuran penerbangan dari Haikou di China selatan ke Pulau Woody di Laut China Selatan, hari Kamis, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Xinhua, memperpanjang usaha Beijing yang lebih luas untuk meningkatkan kehadiran militer dan sipil lain di kepulauan Paracel di sekitarnya.
Perluasan itu telah menimbulkan kemarahan negara yang mengklaim Paracel, Vietnam.
Tetapi penerbangan itu hanya merupakan langkah yang terbaru di antara lima negara untuk menempatkan sipil di laut yang disengketakan yang luasnya ksekitar 3,5 juta kilometer persegi itu. China, Malaysia, Taiwan, Vietnam dan Filipina telah menggunakan sipil untuk menempati sebagian dari kira-kira 500 pulau kecil di laut tersebut.
Penempatan sipil menambah kekuatan klaim kedaulatan dan mencegah keinginan negara-negara yang turut mengklaim untuk saling menyerang, kata para analis.
http://www.voaindonesia.com/a/3650935.html
*********************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.