Sesuatu yang besar nampaknya akan terjadi, tepat 5 hari sebelum Presiden AS terpilih, Donald Trump, dilantik menduduki kursi kepresidenan pada 20 Januari 2017.
Pertemuan “70 bangsa-bangsa” akan diselenggarakan di Paris, untuk mengatur draf final “Solusi Dua Negara” – membagi-bagi Tanah Israel.
Hal yang aneh tentang konvensi ini adalah, baik Israel maupun Palestina, tidak diundang. Konvensi ini terlaksana karena Barack Obama, yang memilih untuk abstain dalam voting Resolusi “anti-Israel” 2334 di DK PBB.
Meskipun belum jelas apakah Barack Obama akan memimpin pertemuan Paris ini, namun yang pasti delegasi AS yang terdiri dari Menlu John Kerry akan terlibat untuk membentuk Solusi Dua Negara.
Tanpa diragukan, tanggal 15 Januari 2017 dipilih secara sengaja untuk menjegal Trump, yang secara nyata tidak mendukung terbentuknya Negara Palestina dan pembagian Yerusalem.
Mereka yang berkumpul dalam Konvensi Paris itu harus menandatangani Pakta Perjanjian sebelum tanggal 19 Januari. Jika tidak, Pakta itu tidak akan mendapatkan dukungan penting Amerika Serikat di belakangnya.
Dalam novel “Lord of The World” (Penguasa/Raja Dunia) yang ditulis tahun 1907 oleh “manusia sakit jiwa” bernama Robert Hugh Benson, Paus Benediktus XVI menyebut bukunya “profetik,” dan Paus Fransiskus dalam dua kesempatan terpisah, mendorong orang-orang untuk setidaknya membacanya. Dalam salah satu khotbahnya, Paus Fransiskus mengklaim buku ini menggambarkan transisi dunia menuju kepada “globalisasi kesatuan hegemonik” (New World Order).
Dia benar. Meskipun dia mengabaikan untuk menyampaikan kepada Anda bahwa “Globalisasi Kesatuan Hegemonik” ini diraih dengan cara kekerasan, pembunuhan, dan penghancuran.
The Lord of The World
Buku ini menyebutkan beberapa “nama-nama” dan “peristiwa-peristiwa” yang sedang terjadi dalam “hari-hari ini” di panggung dunia. Novel ini alur ceritanya diatur, dan melibatkan tokoh penuh teka-teki, Julian Felsenburgh, 33 tahun, seorang senator Amerika yang misterius, anggota Freemason derajat Grand Master, ahli pidato yang berkharismatik, yang mengambil alih seluruh dunia dengan serangan “kilat.”
Dia adalah karakter tokoh Anti-Kristus dalam Alkitab, yang menjanjikan “zaman keemasan umat manusia“, namun pada akhirnya mendatangkan kematian kepada semua orang yang menentangnya. Setiap perlawanan kepada Felsenburgh dan Pemerintahan Dunia yang dia pimpin akan hancur: bangsa-bangsa memohon Felsenburgh untuk menjadi pemimpin mereka, dan orang-orang menerima dia secara aklamasi penuh.
Kebencian terbesarnya secara khusus ditujukan kepada orang-orang Kristen, yang dia perintahkan untuk dibunuh jika mereka tidak bersedia menyangkali imannya terhadap Elohim Kitab Suci.
Agama Dunia Baru Felsenburgh merupakan kombinasi aneh antara penyembahan Dewi Ibu (Ratu Surga: Maria, Semiramis, Isis, Ishtar, Innana, Astarte, Ashtoret, Tanith, Artemis, Diana, Columbia) dan Freemasonry.
Dalam salah satu perikop, dia menyingkapkan patung Dewi Ibu kepada para hadirin. Mereka kerasukan dan mulai menyembahnya.
Seorang karakter bernama Pastur Francis (Fransiskus), mantan pejabat dalam Gereja Roma Katholik, dialah yang memperkenalkan Felsenburgh kepada para hadirin dalam seremoni itu. Francis menjadi salah satu pemimpin terkemuka dalam Agama Dunia Baru Felsenburgh.
Pada bulan Desember 2015 kita melihat konvensi penting terjadi di Paris, mengenai penciptaan Hoax Global, yang juga dikenal dengan sebutan “Perubahan Iklim” – buatan manusia. Hampir setiap negara di dunia menandatangani Pakta mengikat yang mengharuskan setiap partisipan untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca, karbon dioksida. Namun ada sebagian yang mempercayai bahwa Pakta ini punya motif tersembunyi.
Seperti yang kita ketahui, Paus Fransiskus adalah partisipan terkuat di belakang inisiatif ini, meskipun fakta bahwa Vatican tidak punya status voting sama sekali dalam konvensi ini.
Dan sekarang, kita melihat Pakta sejenis akan segera terjadi kembali di Paris, dengan dukungan 70 negara. Kali ini nampaknya Obama yang akan menarik tali-talinya pada menit-menit terakhir. Ini tidak ada bandingannya dari antara presiden-presiden AS sebelumnya, dalam hari-hari terakhirnya, untuk melakukan usaha sedemikian besar. Namun Obama melakukannya.
Dalam novel “Lord of The World“, Felsenburgh memimpin delegasi Amerika ke Paris untuk meletakkan dasar “kesepakatan damai.” Pada saat itu Eropa dipenuhi kekerasan, demonstrasi, kerusuhan, dan pembantaian, seperti yang sedang terjadi di Eropa hari-hari ini. Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di Barat menyebar ke setiap negara di Eropa.
Felsenburgh memediasi perdamaian, membuat kesepakatan dengan banyak bangsa, namun semua ini hanyalah kepalsuan. Hanyalah alat yang memungkinkan dia memusatkan seluruh kekuasaan di dalam genggaman tangannya.
Dia mentarget Gereja Roma Katholik yang merupakan penghalang terbesarnya untuk merebut kekuasaan. Satu-satunya yang tetap menentang Felsenburgh adalah sisa-sisa gereja yang dipimpin Pastor Percy Franklin. Dia akhirnya terpilih menjadi Paus Terakhir, Sylvester III, yang dijadikan Paus sesudah Roma dihancurkan, dan “College of Carthos” hampir runtuh. Sisa-sisa anggota Gereja Katholik melarikan diri ke satu tempat di bumi, yang tidak berada di bawah kontrol kediktatoran Senator Amerika, Presiden Dunia Julian Felsenburgh, dan itu adalah Tanah Israel.
Paus Sylvester III dan sekelompok kecil loyalisnya bersembunyi di Nazareth berusaha menghindari penganiayaan, tapi tidak berhasil.
Presiden Dunia menginvasi Israel dengan dukungan bangsa-bangsa Eropa. Sementara itu Eropa dilanda perubahan iklim, gempa bumi dan cuaca panas ekstrem.
Novel ini diakhiri dengan Perang Harmageddon dan pemboman serta penghancuran Nazareth, yang akhirnya menewaskan Paus.
Namun, Konvensi Paris itulah yang membawa Julian Felsenburgh ke panggung kontrol totaliterian dunia. Felsenburgh, adalah sang “mediator perdamaian” dengan banyak negara-negara di tengah-tengah rumor peperangan dan kekacauan yang melanda Eropa.
Sekarang ini, kita sedang melihat peristiwa-peristiwa yang sama persis sedang terjadi di Paris yang melibatkan banyak negara untuk berkumpul bersama-sama untuk mendiskusikan Tanah Suci, dengan perkecualian baik Israel maupun Palestina tidak akan hadir di sana. Dan Obama akan memiliki peranan integral memimpin delegasi Amerika, termasuk Menlu John Kerry dan Samantha Power, duta besar AS untuk PBB.

Obama, Kerry, dan Samantha Power
Kita akan melihat bagaimana situasi ini berkembang. Tapi sangatlah aneh bahwa Konvensi Pemimpin Dunia sebesar ini diorganisir hanya 5 hari sebelum Donald Trump menduduki kursi kepresidenan, sebagai usaha jelas untuk menyingkirkannya.
Ini nampaknya juga akan menjadi sebuah resolusi mengikat yang tidak bisa diubah, bahkan oleh Amerika Serikat.
Apakah Obama sedang menggenapi ramalan “Lord of The World” dan akan mengambil posisi menjadi Presiden Dunia?
Referensi:
Is a Scary Prophecy Written in 1907 About Obama Coming True 5 Days Before Trump Inauguration?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.